Kaskus

Story

nyunwieAvatar border
TS
nyunwie
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.

"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.

"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.

"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"

"Haaah!?"

Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta


Quote:



Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.

Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.

"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

emoticon-Blue Guy Bata (L)
Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!

Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.

Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.

Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.

Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...

Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!

Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.

Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.

Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!

Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.

Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.

Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.

Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.

Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.

Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.

Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.

Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.

Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.

Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.

Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!

Spoiler for They don’t give you a right:



Diubah oleh nyunwie 31-10-2020 20:09
frostgeeAvatar border
umbhelijo35Avatar border
idrisefendhi552Avatar border
idrisefendhi552 dan 121 lainnya memberi reputasi
116
250.9K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
nyunwieAvatar border
TS
nyunwie
#410
Part 47-c
Gue memutar-mutar inhaler yang diberikan Elsa saat kereta melaju di antara Stasiun Pasar Senen dan Jatinegara, dan sesekali gue menghisap inhaler tersebut, entah sudah berapa dosisnya. Gue bukan pengidap asma, tapi entah mengapa hal itu sedikit melegakan—menghisap inhaler sambil melihat pemandangan silih berganti dari kota, persawahan, pepohonan—di sepanjang jalan gue menumpangi bus antar kota jurusan Purwokerto-Yogyakarta. 

Dan bersamaan dengan hembusan angin yang masuk dari jendela bus yang sengaja gue buka, gue kembali terngiang-ngiang kejadian sebelumnya; saat bude gue mengatakan if I have a aunt, and she is Elsa! Orang yang selama ini gue merasa adalah orang yang cukup menyebalkan yang terkadang kehadirannya benar-benar membuat gue kesal—sering waktu dia datang dengan gayanya yang menurut gue sedikit tengil dan sok pahlawan. 

"It's unbelievable!" Pikir gue.

Namun jika dipikir lagi, ada sebuah kekorelasian antara fakta yang sejujurnya sulit gue terima dengan segala tindak-tanduk Elsa selama ini. Biar bagaimanapun, Elsa kerap kali menolong gue dalam waktu-waktu genting dan tidak bisa dipungkiri jika semua ini menjawab salah satu tanda tanya besar di dalam kepala gue; tentang bagaimana Elsa bisa mengetahui banyak hal tentang gue yang bahkan sahabat-sahabat gue tidak mengetahuinya. Ternyata dia tidak menguliknya, melainkan dia memang seseorang yang sudah seharusnya mengetahui segalanya tentang siapa gue.

Sejujurnya hal itu membuat gue sedikit lega. Gue lega karena selama ini gue mengetahui jika ada beberapa orang yang terus mengamati gerak-gerik gue. Gue merasa hampir bisa menghindari semuanya kecuali Elsa. Tapi kini gue lega, Elsa tidak mengintai gue sehebat yang gue kira. You know, she is good but I'm better.

Tapi kenapa selama ini dia memberitahu gue jika dia adalah saudara gue? Tante gue? Adik, dari bokap gue?

"Kalau itu Bude juga gak ngertilah. Pas biyungmu meninggal tantemu minta buat kamu gak dikasih tau kalo kamu punya tante terus nyuruh bude ajak kamu ke sini." Gue mengingat perkataan bude gue saat gue menanyakan perihal itu.

Namun semua itu sebentar lagi akan terjawab. Memang menyebalkan mengingat ucapannya, "Saya sedang berada di Jogja, jika kamu sudah bisa bernafas dan ingin menanyakan sesuatu pada saya. Kita bertemu sore ini di depan kantor pos dekat alun-alun." Elsa—Sesaat sebelum akhirnya gue memutuskan untuk berangkat ke Jogja—seperti sudah mengetahui kalau gue akan terkejut lalu akan meminta penjelasan darinya.

Dan bus tiba di terminal Giwangan selepas Ashar—gue mendengar adzan beberapa menit sebelum tiba di Terminal ini. Gue bergegas turun lalu mengeluarkan skill menggocek gue untuk melewati hadangan (entah) supir becak atau tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar gue hingga ke tempat tujuan.

Gue sedikit bingung. Ini pertama kalinya gue menginjakan kaki di Jogja, seorang diri. Sejujurnya gue modal nekat kesini karena sebetulnya Pakde gue menyarankan untuk gue menunggu Wulan pulang agar gue bisa ditemani olehnya. Namun berbohong (sebetulnya tidak juga) pada Pakde dan Bude dengan mengatakan kalau gue pernah ke Jogja sebelumnya.

Di luar terminal mata gue sedikit menjelajah dengan perlahan, gue tidak ingin terlihat seperti seorang yang sedang kebingungan, mata gue menjelajah mencoba menemukan orang yang tepat untuk gue bertanya. Hingga gue melihat di seberang jalan ada sekelompok anak punk lalu gue memutuskan untuk bertanya pada mereka.

Pada kenyataanya, dia yang merampas uangmu adalah dia yang mengenakan pakaian bagus dan mewah bukan mereka yang (menurutmu) terlihat urakan serta tidak ramah.

Gue tersenyum lebar setelah menanyakan bagaimana caranya gue bisa sampai ke tempat tujuan gue pada sekelompok anak punk yang luar biasa ramah. Yap, satu hal "ilmu jalanan" yang (hingga gue menulis ini) selalu gue terapkan dimanapun disaat gue sedang kebingungan mencari arah; gue prefer bertanya pada orang-orang yang terlihat (maaf) urakan seperti anak punk, anak jalanan, atau bahkan orang yang terlihat seperti preman sekalipun. 

Sulit untuk gue menjelaskan alasan mengapa gue memilih bertanya pada orang-orang seperti itu. Mungkin jika gue bahasakan dalam bahasa sarkas gue akan mengatakan, "sesama penjahat bisa saling mencium bau sesamanya." Tapi satu hal yang pasti, orang yang sudah berniat jahat akan membenahi penampilannya hingga ia tidak terlihat jahat. 

Percayalah jika kalian sopan dan ramah, pada model orang seperti apapun kalian bertanya akan mudah. Jadi benahi attitudemu dalam bertanya karena biasanya orang yang sering dijahili di suatu tempat baru ialah orang yang melewati tata krama dalam bertemu orang-orang baru; permisi yang dibarengi dengan senyum.

Oh ya! Seingat gue leluhur dan orang tua kita terdahulu tidak pernah mengajarkan kita cara menyapa dan permisi dengan bunyi klakson! So, don't do that! Apalagi di depan gue.

...



Sekitar lebih dari setengah jam kemudian gue tiba di Jl. Panembahan Senopati. Gue menyebrang ke sisi jalan di seberang Gedung Agung kemudian berbaur dengan keramaian tempat ini sambil mengamati dari kejauhan titik pertemuan yang diberitahu Elsa sebelumnya. Maaf ralat, yang diberitahu TANTE gue sebelumnya.

Gue memberi kabar pada Elsa (Eh, sorry ralat lagi). Gue memberi kabar pada Tante gue, Tante Elsa, kalau gue sudah tiba di tempat yang dia maksud melalui pesan singkat. Setelah memastikan pesan terkirim gue memasukan kembali ponsel ke dalam saku celana lalu mulai berhitung di dalam hati. Berhitung dalam hati adalah metode gue saat menunggu seseorang, jika dalam 180 detik orang itu tidak datang atau setidaknya merespon kedatangan gue, maka gue akan menyingkir. Tidak pergi, hanya berpindah tempat menunggu lebih jauh lagi.

"150...151…152…" Gue berhitung dalam hati. "160… seratus enam satttttt…"

"Masih terus waspada yah biarpun engga di Jakarta." 

"Haaiiiiii tante aaaapaaa kabar tanteeeee…"

"STOP!" Sambar Tante Elsa yang entah dari mana datangnya, seperti biasanya.

"Kenapa sih tante, ponakanmu ini kangen loh udah lama gak ketemu tantenya, dari lahir." Sahut gue.

"Kalau tau semenyebalkan ini rasanya lebih baik selamanya saya rahasiakan saja semuanya." Ucap Elsa.

"Aaaaaa… I think it's better."

"C'mon let's go!"

Lalu kami berjalan membaur dengan para wisatawan yang sangat ramai di kawasan ini, menembus perlahan ramainya Malioboro kemudian masuk ke sebuah hotel diujung jalan ini. "Saya ingin bertanya pada kamu, kenapa kamu masih saja curiga pada saya yang padahal kamu sudah tahu kalau saya adalah tante kamu sendiri?" Tanya Elsa sesaat sebelum dia membuka pintu kamar hotel yang disewanya.

"Kenapa Tante curiga sama saya padahal saya ini keponakan Tante sendiri?" Tanya balik gue.

"Wah saya tidak menyangka kamu secepat itu menerima kenyataan kalau saya ini ternyata tante kamu." Ucap Tante Elsa sambil melepaskan jam tangan yang ia kenakan kemudian meletakkannya di atas meja laci yang ada di kamar hotel yang mewah ini.

"Jadi… seharusnya saya mengelak ini, kah? Tidak… tidak… tidak mungkin itu…" Gue mempraktekan adegan yang sering muncul di sinetron atau juga FTV. 

"Hahaha, that's funny. Coba kamu ikut casting, deh. Pasti lolos."

"NEVER!" 

"Hahahah… well, saya jawab pertanyaan kamu… Damn! It's so weird! Wait!" Tante Elsa menundukan kepalanya sambil memijat keningnya sendiri. Walau entah benar atau tidak namun sepertinya gue tahu mengapa ia seperti itu. "... rasanya aneh, saya ingin diantara kita tidak lagi formal. Kamu sudah tahu kalau saya adalah…"

"Yes Tante. Ini juga aneh buat saya, tapi bagaimana? saya sudah terbiasa dengan keformalan ini." Sambar gue.

"Sssshhhhh. Stop Widi, I'm your aunt not your boss. Saya kemari untuk bertemu keluarga saya bukan untuk bertemu relasi saya." Ucap Tante Elsa lalu menyandarkan badannya.

"Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa selama ini saya. Asshhh… ok, tante coba santai, yah." Ucap Tante Elsa lalu kembali menegakan badannya kemudian mengambil sebungkus rokok dari tas kecil lalu menyulutnya. "Huuuuhh"
Tante Elsa menghembuskan asap dari mulutnya.

"Mungkin kamu bingung, kenapa selama ini tante enggak pernah nemuin kamu dan engga pernah bilang juga kalo aku ini tante kamu."

"Pffttt." Gue menahan tawa karena sungguh rasanya sedikit aneh mendengar Tante Elsa berbicara santai seperti itu. 

"Ahh shit, saya pasti terlihat aneh sekali." Ucap Tante Elsa.

"No, aaa… ya jujur sedikit, sih. Tapi harus dibiasain gak sih, Tant? Malah lebih lucu gak sih kalo kita…"

"Yaa I get it, ya harus dibiasain. Yaudah kamu jangan ketawa."

"Lho, siapa yang ketawa coba."

"Kamu!"

"Belum, tant. Baru hampir. Hahahaha."

"Nahkan sekarang ketawa."

"Oke-oke Widi engga ketawa, nih. Sekarang Widi mau tanya kenapa tante selama ini engga pernah nemuin Widi bahkan saat tante ketemu Widi, tante engga bilang kalo tante ini tantenya widdd…"

"Pfffttt" 

"Nah sekarang tante yang ketawa."

"Lho, siapa yang ketawa coba?"

"Tante, lah. Masa angin."

"Belum, Widi. Tante belum ketawa. Hahahaha."

"Terserah, lah." 

"Hahahahahaha." Tante Elsa makin tertawa terbahak-bahak. "Tante akhirnya ngerti kenapa Gladys anaknya si Han itu tergila-gila banget sama kamu."

"Udahlah, tant. Gak usah bahas itu. Widi udah gak berhubungan sama dia."

"Really? Mau tante bongkar semua disini?"

"Ahh, yayayaya. Oke-okeh. Widi nyerah, yaudah tante lanjutin dong yang tadi. Pertanyaaan Widi. Kenapa?"

"Ssshhhh." Tante Elsa terlihat menghela nafas. "This is a long long long story. Mungkin sebelumnya kamu harus tau tentang kakekmu dulu, ayah Tante, Ayahnya bapak kamu. Kamu tau sesuatu tentang dia?" 

"Sedikit, Widi cuma tau dia meninggal karena petrus." Jawab gue.

"Sebenarnya kenyataanya bukan seperti itu. Kakek kamu meninggal memang ditembak seseorang. Tapi beliau bukan korban petrus seperti kebanyakan orang menganggapnya. Kakek kamu bisa dibilang mafia ulung, beliau memiliki jaringan peredaran narkoba yang cukup luas yang warisannya sampai saat ini kamu sudah ketahui…"

"Jadi…"

"Ya, apa yang kamu temui beberapa waktu lalu, mereka semua adalah sisa-sisa apa yang ditinggalkan kakek kamu."

"Waw, jadi karena itu tante punya porsi besar disana?"

"Enggak juga. Ayah Tante, Kakek kamu dihormati di sana hanya sebagai penghubung orang-orang besar yang salah satunya sudah kamu temui. Dulunya mereka semua adalah rekanan bisnis gelap kakek kamu. Lalu mereka berkumpul menjadi satu dan membuat sebuah kekuatan baru dengan tujuan mengendalikan sepenuhnya apapun bisnis gelap yang dianggap ilegal disini."

"Dan itu berhasil?"

"Belum! Tunggu saja beberapa tahun lagi. Kamu pasti paham apa yang tante maksud, kan?"

Gue menganggukan kepala. "Tapi kenapa harus mengajak instan…"

"Apa kita akan bahas itu, atau kita mau bahas masalah keluarga kita?" Sambar Tante Elsa.

"Ahh, iya maaf, tant. Hehehe."

"Well, balik lagi ke soal kakek kamu. Beliau hanya lelaki biasa, sehebat apapun katanya dia tetap saja bajingan ulung yang sering menggoda perempuan-perempuan lain walaupun sudah memiliki anak dan istri, salah satunya ibu Tante."

"..." Gue terdiam.

"Tante harus akui, baik kakek kamu atau Ibu tante keduanya sudah melakukan kesalahan. Kakek kamu menggoda ibu tante dan ibu tante tidak memperdulikan status kakek kamu yang sudah memiliki istri asalkan hidupnya terjamin. Sampai tante lahir dan hubungan gelap ibu tante dan kakek kamu terdengar oleh nenek kamu. Semuanya sempat cekcok tepat di hadapan tante, usia tante masih sangat kecil saat itu namun memori itu masih sangat terekam jelas di sini." Tante Elsa menunjuk ke matanya. "Dan kejadian itu sehari sebelum kakek kamu ditembak mati oleh saingan bisnisnya."

"..."

"Tante sangat sedih saat itu, begitu juga ibunya tante. Bagaimana tidak disaat terakhir ayah tante berada di dunia tante tidak bisa memeluknya, tante gak bisa mengantarnya hingga ke peristirahatan terakhirnya. Gerak kami dihalangi ayah kamu saat itu. Dan tante masih terlalu kecil untuk memahami maksud tindakan ayahmu yang mencegah kami datang. Hal itu membuat tante marah pada ayah kamu. Dan sialnya hal itu membutakan tante akan apa yang dilakukan ayah kamu selanjutnya."

"What does my father do?"

"Beberapa bulan setelahnya ibunya tante mengajak tante kecil untuk melayat seseorang. Dan orang itu adalah nenek kamu, kedatangan kami disambut baik oleh ayah kamu. Bahkan ayah kamu tidak marah dan malah mengajak saya bercanda saya tante kecil mengatakan, 'rasain!' Di depan jenazah mendiang nenek kamu."

"Serius? Tante ngomong begitu?"

"Yaa, serius! Kamu boleh tanya bude kamu. Bahkan tante meledek ayah kamu saat itu yang sedang berduka. Tante sedikit ingat kalau tidak salah ada seseorang yang ingin memarahi tante saat itu. Tapi orang itu langsung dihadang oleh ayahmu dan meredam marah orang itu. He really a good man!"

"..." gue tersenyum sendiri.

"Semeninggalnya kakek kamu. Hidup keluarga tante benar-benar berubah. Lalu datanglah ayah kamu dihidup tante dan ibunya tante. Dia membiayai segala kebutuhan hidup ibunya tante dan sekolahnya tante, bahkan ayah kamu menganggap ibunya tante seperti ibu kandungnya sendiri. Bodohnya tante yang dibutakan amarah tidak bisa melihat segala kebaikan ayah kamu. Kebencian di hati tante bertahan lama bahkan hingga tante beranjak dewasa." 

"..." Gue terdiam memandangi tante elsa yang perlahan matanya mulai berkaca-kaca.

"Satu waktu seseorang menghampiri tante di sekolah, orang itu adalah orang suruhan ayah kamu. Dia memberi kabar kalau ibu tante sedang berada di rumah sakit lalu mengajak tante segera menyusul kesana…" 

Gue melihat setetes air mata jatuh dari mata Tante Elsa.

"...di rumah sakit, tante melihat ayah kamu yang sedang menggenggam erat tangan ibunya tante yang sudah terbaring lemas. Ayah kamu bilang, 'Ibu kuat bu, Ibu bisa.' Lalu Ibu kamu yang berdiri di belakang ayah kamu juga ikut menyemangati ibu tante. Ibu kamu bilang, 'Ibu harus kuat, ibu sebentar lagi mau punya cucu.'..." Ucapan Tante Elsa terhenti, tangisnya mulai terisak.

"Ya, saat itu ibu kamu sedang mengandung kamu. Dan saat itu adalah saat terakhir ibunya tante ada di dunia ini. Kalimat terakhir yang keluar dari mulut ibunya tante adalah, 'maaf… maaf atas kelakuannya Elsa. Kalau boleh Ibu minta beri nama anak kamu dengan…" Tangis tante Elsa semakin pecah.

Gue berpindah posisi duduk ke sebelah Tante Elsa, mencoba menjadi sesuatu untuk dipeluknya dan seperti memang sedang mencari sesuatu untuk didekap, Tante Elsa langsung memeluk gue sambil mengusap-usap rambut gue dalam tangisnya dia berkata, "Tante baru sadar kalau selama ini tante salah sudah membenci ayah kamu setelah ibu meninggal. Tapi sayangnya semua itu telat. Tante dan ayah kamu belum sepenuhnya merasakan menjadi seorang kakak dan adik semestinya tapi ayah kami sudah menghilang tepat di saat kamu lahir. Dan setahun kemudian…"

"Ya setahun kemudian bapak ditemuin sekarat begitu ajah."

"Karena kebodohan tante, karena itu tante saat ini benci sama diri tante saat masih kecil dan imbasnya tante gak suka sama anak kecil." Ucap Tante Elsa sambil melepaskan pelukannya. "Tante denger kabar, ibumu melahirkan. Melahirkan kamu dan tante dikasih tau kalau nama anaknya adalah seperti yang ibunya tante mau. Tante seneng, sumpah! Ibu kamu nepatin janji ayah kamu. Dan saat ayah kamu meninggal, tante udah bersumpah sama diri tante sendiri bakal balas dendam sama siapapun dalang pembunuhan ayah kamu, itu semua yang membuat akhirnya tante ada di sini. Di dunia ini yang seperti ini. Untuk sumpah tante itu, tante memang engga berhasil merebut nyawanya, tapi setidaknya tante sudah membuat dia tidak lagi berkuasa dan namanya kini sudah tercoreng secoreng-corengnya. Karena itu pula tante meminta pada ibumu, budemu, untuk tidak memberitahu tentang tante. Tante tidak ingin kalian semua terlibat. Lagi pula ibumu itu perempuan hebat, perempuan yang mandiri dan sama seperti ayah kamu, hatinya seperti malaikat. Walau memiliki alasan untuk membenci seseorang yang dilakukan mereka justru sebaliknya, membantu mereka."

"Jadi karena itu tante belum menikah?"

"Heyyyyyy what do you say? Kenapa dari sekian panjang tante cerita kamu nangkep poinnya disitunya, sih?" Sahut Tante Elsa sambil sedikit menjambak rambut gue.

"Hehehe, peace tant. Abisnya Widi bingung mau komen apa. Jujur, Widi seneng tapi diwaktu yang bersamaan Widi juga merasa sebel. Kenapa kalau emang tante tau tante punya keponakan, tante ngebiarin ponakan tante yang ganteng ini jadi gelandangan waktu kecil."

"Ngebiarin? Kamu pikir siapa yang nyuruh bude kamu bawa kamu buat tinggal disana?"

"Siapa emang?"

"Menurut kamu!?" 

"Siapa yah, hemmmmmm."

"Kamu pikir babehmu dan keluarganya itu tulus? Okeh almarhum Babeh memang tulus, tapi anak-anaknya? Oh c'mon! Kamu masih terlalu polos untuk mengetahui liciknya dunia saat itu."

"Maksudnya?"

"Almarhum Babeh bisa dibilang orang terdekat ayahmu, guru atau penasihatnya apapun itu sebutannya. Ayahmu selalu meminta saran dari beliau untuk segala hal. Dan kamu tau, selama itu keluarganya Babeh segala kebutuhan hidup Babeh dan anak-anaknya ditanggung oleh ayahmu. Anak-anaknya babeh tau seberapa kayanya ayah kamu. Babeh sebenarnya engga mau merawatmu kalau tidak dihasut-hasut oleh anak-anaknya. Mereka tau apa yang mereka bisa dapatkan jika kamu dirawat disana…"

"Memangnya apa? Selama ini Widi engga ngerasa kalo Babeh mengambil keuntungan dari itu? Selama ini hidupnya Babeh juga susah selama Widi disana…"

"Tante sudah bilang sama kamu! Babeh memang orang baik. Tapi anak-anaknya? Seberapa banyak anaknya babeh? Berapa yang benar-benar tulus pada kamu? Hampir engga ada, Widi! Bahkan Leha coba paksa dia jujur bagaimana caranya dia bisa lulus kuliah dan menikah!?"

"Engga mungkin!"

"Tantebasihan sebenarnya sama bude kamu, pakde kamu dan keluarga mereka. Mereka orang baik, entahlah semua keluarga kamu itu orang baik! Bahkan sampai detik ini mereka tidak mengambil sepeserpun keuntungan dari lahan yang begitu luas milik ayahmu. Saya rasa kamu menyadarinya."

"Ngggkkk." Gue menelan ludah gue, mencoba menepis apa yang diucapkan Tante Elsa, namun saat gue mencerna semuanya kembali semua ucapan Tante Elsa sama sekali tidak bisa ditepis. Semuanya nampak benar dan nyata. Tapi benarkah semuanya seperti itu? Apa yang diucapkan orang yang baru saja benar-benar gue percayai sebagai tante gue. Gue ingin tidak percaya dengan semua ucapannya. Tapi semua ucapannya begitu sangat related dengan keadaanya. "Ahhh Tuhan." Gumam gue dalam hati.
simounlebon
MFriza85
joyanwoto
joyanwoto dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.