- Beranda
- Stories from the Heart
Petaka Tambang Emas Berdarah
...
TS
benbela
Petaka Tambang Emas Berdarah

Salam lekum agan sista semua.
Ane balik lagi dengan cerita baru masih dengan latar, mitos, budaya, urban legen maupun folklore Kalimantan.
Thread kali ini kayaknya lebih ancur dari cerita sebelumnya 🤣🤣🤣. Genrenya juga gak jelas. Entah horor, thriler, misteri, drama atau komedi 🤣
Semoga thread kali ini bisa menghibur gansis semua yang terdampak PKKM, terutama yang isoman moga cepat sehat.
Ane juga mohon maaf apabila dalam cerita ini ada pihak yang tersinggung. Cerita ini tidak bermaksud untuk mendeskreditkan suku, agama, kelompok atau instansi manapun. Karena semua tokoh dan pihak yang terlibat adalah murni karena plot cerita, bukan bermaksud menyinggung.
Quote:
beberapa gambar ane comot dari google sebagai ilustrasi, bukan dokumentasi pribadi.
Quote:
Update teratur tiap malam Senen dan malam Jumat pukul 19.00. wib
Quote:
Dilarang keras untuk memproduksi ulang cerita ini baik dalam bentuk tulisan, audio, visual, atau gabungan salah satu atau semua di antaranya tanpa perjanjian tertulis. Terima kasih
Quote:
Diubah oleh benbela 16-01-2022 19:25
bruno95 dan 141 lainnya memberi reputasi
138
92.3K
Kutip
2.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
benbela
#63
Quote:
Original Posted By benbela►
"Kita tak usah ikut campur. Biar koramil yang dihilir sana yang mengurus."
Kami sepakat dengan ucapan kapten. Hanya Dayat yang tampak resah, terlalu percaya pada takhayul yang tak berguna. Kacamata yang hampir lepas kembali ia benarkan.
Malam buta itu kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah hulu. Dua mayat kami biarkan mengambang di tengah sungai, hanyut terbawa arus dan berharap warga desa di hilir yang mengurusnya.
Malam berganti pagi. Suara monyet dan binatang hutan saling bersahutan dari kiri dan kanan sungai. Melewati beberapa desa, penduduk sudah sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang mandi, ada yang mencuci, ada juga yang menjala ikan.
Kami tak berhenti, tak pula beristirahat. Sarapan kami lakukan di dalam klotok, menikmati bekal nasi bungkus yang kami bawa tadi malam.
Bila tak salah perhitungan, kami akan sampai di tujuan sebelum tengah hari. Kami harus berpacu dengan waktu, sebelum Polair berpatroli mencari mangsa.
Sungai Barito semakin sempit dan surut. Batu-batu besar mulai bermunculan di tengah sungai, menimbulkan pusaran air dan riam ganas.
Kelotok bergerak berhati-hati menyesuaikan arus sungai. Untung saja 3 buah kelotok kami memiliki juru mudi yang berpengalaman. Mereka pandai membaca arus, jago memprediksi dimana celah-celah batu tajam bersembunyi.
Bagi orang kota, bertemu riam ganas seperti ini bisa saja mati terkencing-kecing. Namun bagi kami yang terbiasa, bertemu riam ganas tidaklah terlalu mengkhwatirkan.
Bahkan si Lai yang jauh dari tanah Batak sudah terbiasa. Begitu pula mas Sugang, orang Jawa yang sudah puluhan tahun merantau dan beranak pinak di sini. Sebenarnya nama aslinya adalah Sugeng. Tapi karena 'e' terlalu sulit bagi kami orang Kalimantan untuk mengucapkan, jadilah namanya Sugang. Dan ia adalah satu-satunya yang berambut gondrong di antara kami.
Lolos dari riam, 3 kelotok kembali melaju kencang. 2 jam berlalu, kelotok akhirnya berbelok ke arah kanan, masuk ke dalam anak sungai.
"Lihatlah, kita sudah sampai di sungai Busang."
Duduk di dalam kelotok, mata kapten Anang berbinar melihat sungai Busang, seperti melihat hamparan kilau emas. Sebatang rokok tersemat di jarinya.
"Tahun 90an, daerah ini pernah terjadi skandal besar. Tidak tanggung -tanggung, skandal kelas dunia."
Aku terkejut mendengar ucapan kapten Anang. Baru kudengar ada skandal kelas dunia di tanah kelahiranku.
"Waktu itu, Kopassus sampai turun tangan. Entah apa yang mereka lakukan. Katanya, banyak para petinggi marah. Orang-orang bule, orang-orang penting, orang-orang berduit."
Kapten terlihat gusar. Rokok ia hisap, lalu asap keluar dari mulutnya.
"Hamid...tanah kita ini sangat kaya. Banyak orang luar mengincarnya. Sedangkan kita penduduk asli, diburu bagai binatang. Hanya demi sesuap nasi, kita terpaksa jadi pencuri di tanah sendiri. Dicap ilegal, dibilang merusak lingkungan.
Lihatlah perusahaan-perusahaan itu, tegak berdiri dengan sombong. Lihat jalan kita, tak ada bedanya dengan kubangan babi. Listrik pun tak ada. Cuiih !"
Murka, kapten Anang meludah ke dalam sungai.
...dug...dug...dug...
Aku dan kapten kaget setengah mati ketika terjadi benturan di badan kelotok.
Hampir saja aku memaki, sewaktu kudapati Dayat merangkak terburu-buru ke arah kami. Bercucur peluh, wajah Dayat terlihat panik. Baju hem yang ia kenakan basah karena keringat.
"Ada apa ? " tanyaku gusar. Mataku melotot.
"Ada ular lagi ?" tanya kapten sedikit mengejek.
"Bu-bukan kapten. Tapi pakahan."
"Pakahan? Dimana ?"
"Disana !"
Dayat menunjuk ke sisi kanan sungai. Terlihatlah tiga patung ulin berwujud manusia berdiri tegak di pinggir sungai. Tertutup belukar dan rimbun pakis, berdiri di antara pohon besar menjulang, pakahan itu sepertinya masih baru. Mungkin sekitar 6 bulan atau setahun.
Pakahan adalah patung tanda pernah terjadi kecelakaan. Satu pakahan, artinya satu nyawa melayang. Ada 3 pakahan, berarti ada 3 nyawa yang hilang di sekitar sini.
"Hanya pakahan. Kenapa kau panik ? Bukahkah kau sudah biasa melihat pakahan?"
"Iya kapten...tapi di darat. Dan sekarang kita ada di sungai." jawab Dayat khawatir.
"Memangnya apa yang salah kalau ada pakahan di pinggir sungai. Bukankah sudah biasa ada orang tenggelam di sungai." Aku menyela.
"Buka matamu Hamid. Sungai ini terlalu tenang. Kalau ada pakahan di pinggir riam, aku tak khawatir. Tapi disini, hanya ada ikan sapan dan hutan. Tidakkah kau merasa janggal. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat pakahan di pinggir sungai."
Aku tersentak. Apa yang dikatakan Dayat ada benarnya. Kulirik, kapten Anang sepertinya juga berpikiran sama. Sungai ini terlalu tenang untuk terjadi kecelakaan. Tidak ada riam, tidak ada buaya. Hanya hutan lebat berisi pohon-pohon angker menakutkan.
Belum lagi hilang keheranan kami, kelotok kembali melewati dua buah pakahan yang berdiri tegak di sisi kiri sungai. Dilihat dari bentuknya, sepertinya seorang ibu dan anaknya.
"Jangan terlalu risau. Sebaiknya kita teruskan perjalanan. Pakahan itu hanya penanda supaya kita hati-hati melewati sungai ini."
Meski berusaha tenang, terlihat jelas kalau kapten juga mulai khawatir.
Setelah melewati jeram kecil, kami tiba di bantaran sungai yang agak lebar. Kapten memerintahkan mang Muksin untuk menepi. Aku bergegas melompat ke atas atap, menyilang-nyilangkan tangan, memberi tanda dua kelotok lainnya bahwa kami akan berhenti.
Kelotok bergerak melambat, diikuti dua kelotok lainnya.
Huft !
Aku melompat ke pantai sungai, hamparan pasir kelabu bercampur batu kali dan kerikil.
Dayat dengan cekatan menyeret tali tambatan, mencari batang kayu untuk diikat. Bersama kapten Anang, aku mendorong kelotok agar lebih rapat dengan pinggiran sungai.Hanya dalam hitungan menit, 3 buah kelotok sudah bertambat.
Aku menarik nafas, memandang ke sekeliling sungai dan belantara. Sepi, hening, sekaligus menciutkan nyali. Hanya ada hutan angker dengan akar menggantung. Konon, di hutan ini banyak Raung gantung. Peti mati yang digantung di pohon. Seketika aku bergidik ngeri, takut kalau-kalau ada raung yang mengejar. Apalagi suara gesekan daun dan ranting yang bergoyang tertiup angin membuat jantung melorot.
Dan 10 hari kedepan, kami akan ada disini, berada di tengah belantara yang sunyi. Tidak ada riuh manusia kecuali kami. Selama itu pula, kami tak bisa berkirim kabar berita pada keluarga di rumah. Pahit, getir serta rindu pada anak, istri dan ibu harus ditepis.
Dalam 10 hari, 10 orang penambang emas liar akan jadi keluarga, bekerja keras, bahu-membahu demi mencari makan untuk orang rumah.
"Kapten...yakinkah tempatnya di sini ?" tanya Lai bersemangat.
"Kita coba dulu Lai. Kalau percobaan pertama hasilnya bagus, kita dirikan pondok di sini. Kalau tidak, kita terpaksa pindah, cari lolasi baru"
"Kapten..." ucap Dayat tertahan," di semak-semak, ada yang mengintip."
Sontak kami semua memalingkan wajah, menatap kearah pandangan Dayat. Kedua kaki Dayat gemetar, hidungnya kembang kempis dan nafasnya putus-putus.
"Astagfirullahul azzim..."
"Astagfirullahul azzim..."
Dayat mulai istighfar, membuat kami semua waspada.
...sreekk....sreek....
Belukar tampak bergoyang-goyang. Jelas ada sesuatu yang bersembunyi di situ.
...kretek...kretek...
Terdengar suara ranting patah, membuat degub jantungku semakin tak karuan. Tanpa sadar, aku menahan nafas hingga dadaku terasa sesak.
Deg !
Jantungku rasanya mau copot. Darahku berdesir hebat dan bulu kudukku merinding, ketika kudapati ada sepasang mata yang mengawasi kami dari tadi. Sepasang mata dengan taring panjang dan kuku tajam.
Kami semua terdiam, tak bergerak dan menahan nafas. Salah langkah, kami semua akan celaka.
...krasak...krasak...
Makin ngeri, mahluk itu bergerak perlahan, tertutup belukar dan ilalang.
...braak...
Mahluk itu melompat.
"Huwwaaa...Beruang !"
"Huwwaaa.....!"
"Huwwaaa.....!"
Dayat lari terpontang panting ke arah kelotok. Menapak di atas pasir, Dayat terjerambab, bangkit, lalu kembali terbirit. Tak dipedulikannya kacamata yang terjatuh di pasir.
"Huwahaa...haa...haa...!"
Lai tertawa kencang melihat Dayat lari ketakutan.
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
Kami juga terbahak melihat Dayat terbirit. Beruang tadi bukannya menyerang kami, tapi kabur ke dalam hutan dan hilang di balik pepohonan.
Di haluan kelotok, Dayat masih ketakutan. Badannya tertelungkup menghadap sungai, membelakangi kami.
"Kap...kapten ! " seru Dayat lantang.
"Ada apalagi ? Dasar penakut !" jawab Kapten gusar.
Dayat terdiam beberapa saat, tubuhnya gemetar tidak karuan.
Baru beberapa langkah kami mendekat, tiba-tiba Dayat berbalik sambil memencet hidung. Di tangan kiri, ia menenteng seonggok kepala manusia tanpa badan. Darah segar menetes di potongan leher, dengan mata melotot dan mulut menganga.
"Huwwaaaa....!"
Gantian, kini kami yang menjerit ketakutan.
...bersambung...
Bab 4 : Pakahan
"Kita tak usah ikut campur. Biar koramil yang dihilir sana yang mengurus."
Kami sepakat dengan ucapan kapten. Hanya Dayat yang tampak resah, terlalu percaya pada takhayul yang tak berguna. Kacamata yang hampir lepas kembali ia benarkan.
Malam buta itu kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah hulu. Dua mayat kami biarkan mengambang di tengah sungai, hanyut terbawa arus dan berharap warga desa di hilir yang mengurusnya.
Malam berganti pagi. Suara monyet dan binatang hutan saling bersahutan dari kiri dan kanan sungai. Melewati beberapa desa, penduduk sudah sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang mandi, ada yang mencuci, ada juga yang menjala ikan.
Kami tak berhenti, tak pula beristirahat. Sarapan kami lakukan di dalam klotok, menikmati bekal nasi bungkus yang kami bawa tadi malam.
Bila tak salah perhitungan, kami akan sampai di tujuan sebelum tengah hari. Kami harus berpacu dengan waktu, sebelum Polair berpatroli mencari mangsa.
Sungai Barito semakin sempit dan surut. Batu-batu besar mulai bermunculan di tengah sungai, menimbulkan pusaran air dan riam ganas.
Kelotok bergerak berhati-hati menyesuaikan arus sungai. Untung saja 3 buah kelotok kami memiliki juru mudi yang berpengalaman. Mereka pandai membaca arus, jago memprediksi dimana celah-celah batu tajam bersembunyi.
Bagi orang kota, bertemu riam ganas seperti ini bisa saja mati terkencing-kecing. Namun bagi kami yang terbiasa, bertemu riam ganas tidaklah terlalu mengkhwatirkan.
Bahkan si Lai yang jauh dari tanah Batak sudah terbiasa. Begitu pula mas Sugang, orang Jawa yang sudah puluhan tahun merantau dan beranak pinak di sini. Sebenarnya nama aslinya adalah Sugeng. Tapi karena 'e' terlalu sulit bagi kami orang Kalimantan untuk mengucapkan, jadilah namanya Sugang. Dan ia adalah satu-satunya yang berambut gondrong di antara kami.
Lolos dari riam, 3 kelotok kembali melaju kencang. 2 jam berlalu, kelotok akhirnya berbelok ke arah kanan, masuk ke dalam anak sungai.
"Lihatlah, kita sudah sampai di sungai Busang."
Duduk di dalam kelotok, mata kapten Anang berbinar melihat sungai Busang, seperti melihat hamparan kilau emas. Sebatang rokok tersemat di jarinya.
"Tahun 90an, daerah ini pernah terjadi skandal besar. Tidak tanggung -tanggung, skandal kelas dunia."
Aku terkejut mendengar ucapan kapten Anang. Baru kudengar ada skandal kelas dunia di tanah kelahiranku.
"Waktu itu, Kopassus sampai turun tangan. Entah apa yang mereka lakukan. Katanya, banyak para petinggi marah. Orang-orang bule, orang-orang penting, orang-orang berduit."
Kapten terlihat gusar. Rokok ia hisap, lalu asap keluar dari mulutnya.
"Hamid...tanah kita ini sangat kaya. Banyak orang luar mengincarnya. Sedangkan kita penduduk asli, diburu bagai binatang. Hanya demi sesuap nasi, kita terpaksa jadi pencuri di tanah sendiri. Dicap ilegal, dibilang merusak lingkungan.
Lihatlah perusahaan-perusahaan itu, tegak berdiri dengan sombong. Lihat jalan kita, tak ada bedanya dengan kubangan babi. Listrik pun tak ada. Cuiih !"
Murka, kapten Anang meludah ke dalam sungai.
...dug...dug...dug...
Aku dan kapten kaget setengah mati ketika terjadi benturan di badan kelotok.
Hampir saja aku memaki, sewaktu kudapati Dayat merangkak terburu-buru ke arah kami. Bercucur peluh, wajah Dayat terlihat panik. Baju hem yang ia kenakan basah karena keringat.
"Ada apa ? " tanyaku gusar. Mataku melotot.
"Ada ular lagi ?" tanya kapten sedikit mengejek.
"Bu-bukan kapten. Tapi pakahan."
"Pakahan? Dimana ?"
"Disana !"
Dayat menunjuk ke sisi kanan sungai. Terlihatlah tiga patung ulin berwujud manusia berdiri tegak di pinggir sungai. Tertutup belukar dan rimbun pakis, berdiri di antara pohon besar menjulang, pakahan itu sepertinya masih baru. Mungkin sekitar 6 bulan atau setahun.
Pakahan adalah patung tanda pernah terjadi kecelakaan. Satu pakahan, artinya satu nyawa melayang. Ada 3 pakahan, berarti ada 3 nyawa yang hilang di sekitar sini.
"Hanya pakahan. Kenapa kau panik ? Bukahkah kau sudah biasa melihat pakahan?"
"Iya kapten...tapi di darat. Dan sekarang kita ada di sungai." jawab Dayat khawatir.
"Memangnya apa yang salah kalau ada pakahan di pinggir sungai. Bukankah sudah biasa ada orang tenggelam di sungai." Aku menyela.
"Buka matamu Hamid. Sungai ini terlalu tenang. Kalau ada pakahan di pinggir riam, aku tak khawatir. Tapi disini, hanya ada ikan sapan dan hutan. Tidakkah kau merasa janggal. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat pakahan di pinggir sungai."
Aku tersentak. Apa yang dikatakan Dayat ada benarnya. Kulirik, kapten Anang sepertinya juga berpikiran sama. Sungai ini terlalu tenang untuk terjadi kecelakaan. Tidak ada riam, tidak ada buaya. Hanya hutan lebat berisi pohon-pohon angker menakutkan.
Belum lagi hilang keheranan kami, kelotok kembali melewati dua buah pakahan yang berdiri tegak di sisi kiri sungai. Dilihat dari bentuknya, sepertinya seorang ibu dan anaknya.
"Jangan terlalu risau. Sebaiknya kita teruskan perjalanan. Pakahan itu hanya penanda supaya kita hati-hati melewati sungai ini."
Meski berusaha tenang, terlihat jelas kalau kapten juga mulai khawatir.
*****
Setelah melewati jeram kecil, kami tiba di bantaran sungai yang agak lebar. Kapten memerintahkan mang Muksin untuk menepi. Aku bergegas melompat ke atas atap, menyilang-nyilangkan tangan, memberi tanda dua kelotok lainnya bahwa kami akan berhenti.
Kelotok bergerak melambat, diikuti dua kelotok lainnya.
Huft !
Aku melompat ke pantai sungai, hamparan pasir kelabu bercampur batu kali dan kerikil.
Dayat dengan cekatan menyeret tali tambatan, mencari batang kayu untuk diikat. Bersama kapten Anang, aku mendorong kelotok agar lebih rapat dengan pinggiran sungai.Hanya dalam hitungan menit, 3 buah kelotok sudah bertambat.
Aku menarik nafas, memandang ke sekeliling sungai dan belantara. Sepi, hening, sekaligus menciutkan nyali. Hanya ada hutan angker dengan akar menggantung. Konon, di hutan ini banyak Raung gantung. Peti mati yang digantung di pohon. Seketika aku bergidik ngeri, takut kalau-kalau ada raung yang mengejar. Apalagi suara gesekan daun dan ranting yang bergoyang tertiup angin membuat jantung melorot.
Dan 10 hari kedepan, kami akan ada disini, berada di tengah belantara yang sunyi. Tidak ada riuh manusia kecuali kami. Selama itu pula, kami tak bisa berkirim kabar berita pada keluarga di rumah. Pahit, getir serta rindu pada anak, istri dan ibu harus ditepis.
Dalam 10 hari, 10 orang penambang emas liar akan jadi keluarga, bekerja keras, bahu-membahu demi mencari makan untuk orang rumah.
"Kapten...yakinkah tempatnya di sini ?" tanya Lai bersemangat.
"Kita coba dulu Lai. Kalau percobaan pertama hasilnya bagus, kita dirikan pondok di sini. Kalau tidak, kita terpaksa pindah, cari lolasi baru"
"Kapten..." ucap Dayat tertahan," di semak-semak, ada yang mengintip."
Sontak kami semua memalingkan wajah, menatap kearah pandangan Dayat. Kedua kaki Dayat gemetar, hidungnya kembang kempis dan nafasnya putus-putus.
"Astagfirullahul azzim..."
"Astagfirullahul azzim..."
Dayat mulai istighfar, membuat kami semua waspada.
...sreekk....sreek....
Belukar tampak bergoyang-goyang. Jelas ada sesuatu yang bersembunyi di situ.
...kretek...kretek...
Terdengar suara ranting patah, membuat degub jantungku semakin tak karuan. Tanpa sadar, aku menahan nafas hingga dadaku terasa sesak.
Deg !
Jantungku rasanya mau copot. Darahku berdesir hebat dan bulu kudukku merinding, ketika kudapati ada sepasang mata yang mengawasi kami dari tadi. Sepasang mata dengan taring panjang dan kuku tajam.
Kami semua terdiam, tak bergerak dan menahan nafas. Salah langkah, kami semua akan celaka.
...krasak...krasak...
Makin ngeri, mahluk itu bergerak perlahan, tertutup belukar dan ilalang.
...braak...
Mahluk itu melompat.
"Huwwaaa...Beruang !"
"Huwwaaa.....!"
"Huwwaaa.....!"
Dayat lari terpontang panting ke arah kelotok. Menapak di atas pasir, Dayat terjerambab, bangkit, lalu kembali terbirit. Tak dipedulikannya kacamata yang terjatuh di pasir.
"Huwahaa...haa...haa...!"
Lai tertawa kencang melihat Dayat lari ketakutan.
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
Kami juga terbahak melihat Dayat terbirit. Beruang tadi bukannya menyerang kami, tapi kabur ke dalam hutan dan hilang di balik pepohonan.
Di haluan kelotok, Dayat masih ketakutan. Badannya tertelungkup menghadap sungai, membelakangi kami.
"Kap...kapten ! " seru Dayat lantang.
"Ada apalagi ? Dasar penakut !" jawab Kapten gusar.
Dayat terdiam beberapa saat, tubuhnya gemetar tidak karuan.
Baru beberapa langkah kami mendekat, tiba-tiba Dayat berbalik sambil memencet hidung. Di tangan kiri, ia menenteng seonggok kepala manusia tanpa badan. Darah segar menetes di potongan leher, dengan mata melotot dan mulut menganga.
"Huwwaaaa....!"
Gantian, kini kami yang menjerit ketakutan.
...bersambung...
Sampai jumpa malam Jumat. Moga gak bosen dengan thread ane yang agak kacau. 😁
Jangan lupa sakrep, komeng dan syer ewer-ewer 😁
Diubah oleh benbela 22-08-2021 19:07
bruno95 dan 63 lainnya memberi reputasi
64
Kutip
Balas
Tutup