- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.9K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#33
8. Izin
Kanaria
To night we dine in hell, begitulah slogan terkenal yang pernah terlontar dari King Leonidas dalam Film 300. Aku tidak pernah menyangka jika hari di hari pertama diri ini bergabung dengan Spartan, aku akan langsung menjumpai penerapan dari slogan itu.
Sekarang sudah pukul delapan malam dan entah sudah berapa puluh kali aku menyanyikan lagu viva da vila. Kak Leo terus menerus meminta kami mengulang permainan walaupun menurutku apa yang telah kami bawakan sudah cukup bagus.
Awalnya aku memang mengalami kendala terutama dalam hal menyamai tempo, diri ini tidak pernah terbiasa bernyanyi dengan iringan musik. Hal itu jelas membuat nyanyianku kacau karena sering mendahului atau tertinggal oleh musik pengiring. Namun setelah beberapa kali percobaan, aku mulai bisa mengikuti tempo hingga akhirnya terbiasa dan tidak pernah lagi mendahului ataupun tertinggal musik pengiring.
Hal yang membuatku salut pada anak-anak jalanan didikan kak Leo adalah tidak ada satupun dari mereka yang mengeluh walaupun sang pelatih benar-benar menerapkan tonight we dine in hell. Kobaran semangat masih terus terpancar seakan tidak pernah terkikis oleh lelah, semua itu jelas membuatku malu jika sampai mengeluh.
" Ok anak-anak gunung, kita istirahat dulu. Mira sedang ke mari membawa makanan " Ujar Kak Leo.
Aku menarik nafas lega karena akhirnya waktu istirahat tiba terlebih lagi kak Leo berkata jika makanan sedang dalam perjalanan. Perutku sendari tadi sudah keroncongan, sepertinya ini pertama kalinya diriku merasa benar-benar lapar.
" Akhirnya istirahat juga " Ujarku sambil duduk dan meneguk botol air yang di berikan Juna.
" Haha benar-benar makan malam di neraka " Juna langsung merebahkan tubuhnya setelah memastikan semua anggotanya mendapat air.
" Kana, apa kau lelah? " Tanya Dina.
" Haha rasanya bohong jika lisan ini mengatakan tidak lelah. Tapi bagiku entah mengapa rasa lelah ini begitu nikmat " Jawabku sambil merebahkan tubuh juga seperti Juna.
" Kana " Kak Leo memanggilku sambil melangkah menghampiri Section band.
" Ada apa My Lord? " Tanyaku.
" Ambil ini " Kak Leo menyerahkan selembar kertas kepadaku.
" Apa ini? "
" Surat izin, besok kita akan latihan lagi jadi aku berharap kau bersedia untuk izin tidak masuk kelas " Ujarnya.
" Apa punyaku sudah kau buat " Patra dan Ran terlihat menghampiri kami.
" Tentu saja sudah ada " Kak Leo memberikan kertas yang sama kepada Patra dan Ran.
" Hmmm begitu ya, jadi kita benar-benar akan latihan sampai besok ? " Ujarku.
" Haha sekarang bisa di bilang kita sedang ada di kegiatan kamp pelatihan, atau traning center yang biasa di singkat TC. Aku beberapa kali izin tidak masuk sekolah karena mengikuti kegiatan ini " Jelas Patra.
" Sungguh? Bukan kah tim ini baru terbentuk? "
" Spartan memang baru hari ini, namun ekstrakurikuler musik eclair sudah ada dari tahun lalu "
" Oh jadi re branding? "
" Kurang lebih begitu "
" Jadi kau tidak keberatan izin tidak masuk sekolah besok? " Tanya Patra.
" Tentu saja tidak " Jawabku. Sekarang aku memiliki niat untuk membanggakan ayah dengan sesuatu, maka dari itu penampilan lusa nanti bisa jadi salah satu cara mewujudkan hal itu. Tidak apalah aku izin sekolah dulu, lagi pula absensi ku sangat baik.
" Bagus " Ujar kak Leo.
" Bagaimana dengan kau Ran? Ah iya mungkin aku agak telat menanyakan hal ini, sebenarnya dimana kah dirimu tinggal? Saat pertama kali bertemu aku melihatmu menenteng koper besar, jadi diri ini mengira kau bukan orang sini " Tanya kak Leo.
" Sebenarnya aku baru pindah sekolah jadi tidak masalah. Ah mungkin kami belum menceritakannya, tapi sekarang aku tinggal bersama kana " Jawab Ran.
" Hah? Kau numpang? " Jawaban Ran sepertinya membuat kak Leo kaget dan bigung.
" Sebenarnya aku adalah adik angkat Ran "
" Hah? " Sekarang seluruh tim band beserta kak Leo dan Patra yang kaget.
" Haha mengejutkan bukan? " Ujarku.
" Bagaimana bisa? Bukan kah kalian baru saling mengenal kemarin ? "
Akupun menceritakan kisah unik keluarga kami, mulai dari Ran yang nyasar di jakarta, aku yang berusaha membantu Ran padahal sebenarnya diri ini lah yang dia car, hingga ayah yang memutuskan untuk mengasuh dua bersaudara itu.
" Hoi kisah kalian mirip seperti sinetron " Kak Leo memberikan komentar.
" Haha begitulah " Ujar Ran sambil tertawa, mungkin dia setuju dengan ucapan kak Leo. Jika di jadikan sinetron, Kira-kira apa judul yang pas untuk kisah keluargaku ya?
" Tapi baguslah ending dari semua itu adalah ke bahagiaan " Juna mengatakan hal tersebut sambil menepuk bahuku.
" Oh iya. Aku mengajak kalian ke sini secara mendadak, apa sudah izin ke ayah kalian? " Pertanyaan kak Leo membuatku tersadar akan sesuatu yang sangat penting.
Aku belum meminta izin pada ayah, terlebih lagi diri ini tidak meninggalkan apapun untuk mereka makan. Bagaimana jika sekarang mereka kelaparan? Aku segera mengeluarkan HP, sialnya diri ini lupa jika tadi tidak sempat meminta kontak salah satu dari mereka. Akupun melirik ke arah Ran, dan di saat yang bersamaan dia mengacungkan jempol ke arahku.
" Tenang kak, aku sudah meminta izin untuk kita berdua " Ujarnya.
" Tidak bisa begitu, maaf Ran bisa kah kau mengirimuku nomormu? Ayah dan juga aka? Bagaimana pun aku harus meminta izin secara langsung "
Meminta izin atau memberi kabar secara langsung, itu lah hal penting yang ibu selalu ajarkan kepadaku. Apapun yang terjadi walaupun itu hanya sekedar pesan SMS atau WA ibu selalu memintaku untuk memberinya kabar jika pulang telah atau tengah pergi ke suatu tempat.
Dia akan sangat marah jika temanku yang malah mengabarinya lebih dahulu. Bagaimanapun kabar dariku adalah sesuatu yang sangat penting baginya, karena dengan begitu ibu bisa memastikan keadaanku baik-baik saja.
" Aku yang bertanggung jawab atas dirimu, maka dari itu buat benakmu selalu berfikir jika aku senantiasa mengkhawatirkanmu. Bagi seorang ibu, keselamatan anaknya jauh lebih penting dari apapun termasuk nyawanya sendiri. Jadi kabari lah aku, luang waktu sejenak, aku tidak masalah walau pun itu hanya via pesan, percayalah tidak mengetahui keadaanmu ketika pergi bisa membuatku nyaris gila " Itu lah ucapan yang pernah ibu lontarkan kepadaku. Maka dari itu aku selalu mengabarinya, walaupun diri ini telat pulang hanya lima menit.
" Baik lah " Ujar Ran sambil menyebut nomornya. Aku pun menyimpan nomornya, kemudian dia mengirimiku kontak ayah dan Aka.
" Aku ingin minta izin dulu " Ujarku sambil bangun dan beranjak menjauh. Setelah itu, aku mulai menekan layar Hp dan segera menghubungi ayah.
" Halo " Ujar ayah dari sebrang sana.
" Halo, ayah ini aku Kana "
" Ada apa Kana? "
" Aku ingin minta izin pulang telat malam ini "
" Ah baiklah. Sebenarnya kau tidak perlu repot mengabariku, karena tadi Ran sudah mengatakannya juga "
" Tidak bisa. Bagaimanapun ibu mengajarku untuk selalu meminta izin secara langsung. Mulai sekarang kau lah yang akan membesarku, dirimu lah yang bertanggung jawab atas diri ini, jadi Maaf karena telat menghubungimu "
" Begitu ya, ibumu memang luar biasa. Baiklah aku memberimu izin, semangat Kana kau pasti akan mampu menjadi penyanyi yang handal "
" Terima kasih ayah " Ujarku malu karena Ran sudah mengatakan apa yang tengah diri ini lakukan. Penyanyi ya? Tidak buruku juga.
" Kau juga besok akan latihan ya? Kalau begitu tolong pisahkan barang-barang yang ingin kau bawa pindah pagi nanti. Biar aku yang membawanya "
" Terima kasih "
" Sama-sama, Kana izinkan aku menjemputmu nanti malam. Aku tidak mau membiarkan kedua putri kesayanganku berjalan sendirian di malam hari "
" Haha baik lah, maaf karena merepotkanmu. Apa kau sudah makan? " Tanyaku yang ingat jika tidak meninggalkan apapun untuk mereka makan.
" Sudah, aku dan Aka baru saja keluar untuk makan. Sepertinya malam ini aku harus berpuas diri menyantap makanan yang tidak seenak buatan putriku "
" Haha kau berlebihan ayah "
" Aku serius, nanti pagi aku ingin menikmati nasi gorengmu "
" Siap bos "
" Aku menantikannya "
" Ayah, apa kau lusa nanti sibuk? "
" Tidak, bagaimanapun itu hari minggu. Aku libur kerja "
" Mau kah kau menyaksikan penampilanku? Diri ini ingin mempersembahkan prestasiku itu kepadamu "
" Tentu mau, apa perlu aku menyiapkan spanduk untuk mendukungmu dan Ran? "
" Haha kau berlebihan ayah "
" Baik lah, selamat berjuang nak " Ayah pun menutup telepon dariku.
Entah mengapa ada rasa lega yang muncul dan membanjiri hati ini, orang yang dulu aku anggap bajingan ternyata merupakan sosok yang sangat baik hati. Ah andai dulu aku mengizinkannya kembali, membayangkan ibu, ayah dan Aka menyaksikan penampilan kita jelas membuat hati ini berbunga-bunga.
Tapi itu hanya angan semata, bagaimanapun ibu telah tiada. Aku harap dia menyaksikan diri ini dari atas sana bersama para malaikat, semoga dia bangga dan menceritakan prestasiku kepada seluruh penghuni surga. Putrimu akan menjadi Diva bu, menorehkan prestasi di bidang seni, tidak seperi dulu. Saksikan aku yang akan menyindir dengan gaya nanti.
Aku pun memasukan HP ke dalam kantong, kemudian melangkah kembali ke arah kak Leo dan yang lainnya. Setibanya di sana Ran mengukir senyuman untukku, lalu aku membalas senyumannya itu dengan mengacungkan jempol. Mungkin dia merasa jika misinya berhasil, meyakinkan ku jika ayah bukan lah seorang bajingan.
" Kau sudah meminta izin? " Tanya kak Leo.
" Sudah, dia akan menjemputku dan Ran nanti "
" Bagus lah kalau begitu "
" Jadi kapan makanan kita akan datang? Ayolah perut ini sudah benar-benar keroncongan " Gerutu Juna.
" Bersabarlah, kak Mira sudah dalam perjalanan " Ujar Patra.
" Patra, bagaimana dengan gadis barbar ini? Apa dia bisa mengikuti gerakan yang ada? " Kak Leo bertanya kepada patra mengenai kemampuan Ran dalam bermain bendera.
" Sangat baik. Kau tau, aku sampai tidak percaya jika dia baru belajar mengenai color guard tadi. Tiap gerakan yang aku tunjukan kepadanya bisa dia tiru hanya dalam beberapa kali coba " Patra memuji kemampuan Ran.
" Tadi aku memang memperbolehkannya bergabung, tapi aku harus melihat dulu apa dia bisa langsung ikut tampil atau tidak. Posisi Ran berbeda dengan Kana, bermain bendera memerlukan latihan, bukan hanya sekedar pembiasaan, maka dari itu aku belum berniat memasukannya ke dalam tim sebelum mendengar pendapat darimu. Kana memang baru bergabung, namun sepertinya menyanyi sudah jadi kebiasaanya walaupun aku yakin tidak ada yang pernah mendengar suaranya selain benda mati " Ujar kak Leo.
" Hoi bagaimana kau tau aku sering bernyanyi saat menyiram tanaman? " Aku merasa malu karena kak Leo mengetahui rahasiaku.
" Patra, apa menurutmu dia sudah mampu ikut dalam penampilan lusa nanti? " Tanya kak Leo.
" Aku merekomendasikannya " Ujar patra sambil mengacungkan jempol.
" Baik lah kalau begitu, gadis bar-bar kau akan ikut tampil lusa nanti " Kak Leo baru saja membuat sebuah keputusan besar berupa mengikuti sertakan dua anak baru sekaligus dalam sebuah perlombaan. Ok, aku semakin yakin jika melakukan segala sesuatu secara mendadak adalah ciri khasnya.
" Apa benar tidak apa-apa diriku langsung mengikuti sebuah kompetisi? " Tanya Ran.
" Yup, kenapa tidak " Jawab Patra sambil menepuk pelan bahunya.
" Ka.. Kau benar-benar tidak keberatan kan, Patra? " Tanya Ran sekali lagi. Entah mengapa wajah adikku itu mulai menunjukan raut ketakutan ketika menanyakan hal tadi.
" Aku tidak keberatan Ran, bagaimanapun kau memiliki bakat dalam bermain bendera "
" Apa yang lain tidak keberatan juga? Apa tim ini punya pemain cadangan? Kalau memang ada bagaimana jika yang di ikut sertakan mereka dulu baru diriku? Aku masih anak baru, bukan kah keputusanmu agak tidak lazim? " Nada bicara Ran semakin terdengar ketakutan.
" Haha kami jelas tidak memiliki pemain cadangan Ran. Pokoknya kah harus ikut, karena kehadiranmu akan sangat membantu tim ini "
" Ta.. Tapi "
" Apa kau tidak ingin tampil " Tanya kak Leo.
" Bukannya aku tidak mau tampil, tapi bukan kah agak aneh jika langsung mengikuti sertakan diriku? Kau sendirikan yang bilang menjadi color guard bukan hanya membutuhkan pembiasaan? Bagaimana jika saat tampil nanti diri ini membuat kesalahan? "
" Tidak ada yang tidak aneh dalam tim ini gadis bar-bar. Sekolah musik untuk jalanan saja sudah aneh, jadi kau harus mulai mebiasakan diri dengan segala sesuatu yang berunsur tidak lazim " Ujar kak Leo.
" Kak Leo benar, dirinya sendiri pun tidak lazim " Aku melontarkan candaan yang membuat semuanya tertawa, namun jak itu tidak berlaku pada Ran. Dia tetap terlihat ketakutan, apa yang membuatnya jadi seperti itu? Bukan kah tadi dia sangat bersemangat untuk bergabung?.
" Ran, aku tidak tau apa yang membuatmu seolah tidak mau ikut tampil. Tapi percayalah, Kata-kataku tidak mengandung kebohongan atau unsur yang melebih-lebihkan sedikitpun. Kau memang berbakat, percayalah pada hal itu maka dari itu ayo tampil bersama. Jika kau membuat kesalahan, maka aku akan seberusaba mungkin menutupinya, karena bagaimanapun kita ini tim " Patra kembali meyakinkan Ran, namun lisan adikku itu hanya terdiam setelahnya.
Hal itu jelas membuat patra dan yang lainnya bingung. Sejujurnya aku belum mengenal Ran, walaupun ternyata kami adalah keluarga, namun ada begitu banyak hal yang belum diri ini pahami mengenai adikku karena memang takdir baru mempertemukan kemarin malam.
Mengapa seketika dia jadi terlihat tidak percaya diri, padahal kemarin malam aku mendapati dia memiliki sifat itu. Jika tidak percaya diri, mana mungkin dia dengan bodohnya mau ke Jakarta seorang diri, hanya demi menemui kaka ang tanya yang ternyata aku agar bisa memohon untuk memaafkan ayah.
" Ran, kau baik-baik saja? " Tanyaku.
" Apa kau khawatir akan melakukan kesalahan saat tampil nanti? Jika iya, jangan kan dirimu, aku sendiripun selalu merasa takut membuat kesalahan " Ujar Patra.
" Hehe kau benar, aku takut membuat kesalahan saat tampil nanti, bagaimanapun aku masih pemula " Ran terlihat memaksakan sebuah senyuman ketika menanggapi ucapan Patra.
" Tenang saja, tim itu.... "
" Gadis bar-bar, sebaiknya kau jangan berbohong " Kak Leo tiba-tiba memotong ucapan Patra.
" A...apa maksudmu? " Tanya Patra bingung.
" Sungguh, aku hanya takut membuat kesalahan " Ujar Ran.
" Kau sebenarnya bukan takut akan membuat kesalahan saat penampilan nanti. Hal yang sebenarnya kau takutkan justru jika dirimu sukses tampil secara sempurna saat pertama kali tampil sebagai color guard tim ini " Ucapan kak Leo membuat semuanya nampak kebingungan.
" A.. Apa maksudmu? Mana mungkin aku takut melakukan sesuatu yang justru baik untuk tim ini? " Ran terdengar menaikan nada bicara nya.
" Berhentilah berpura-pura menjadi gadis yang tidak percaya pada bakat sendiri "
" Apa maksudmu? Aku baru mengenal color guard sekarang, bukan kah wajar jika diri ini merasa tidak percaya diri? "
" Hoi gadis bar-bar, menurutmu kenapa aku memasukanmu ke dalam section koreografi? Bukan di tim Variasi ataupun band? " Tanya kak Leo.
" Mana aku tau!! " Ran membentak kak Leo.
To night we dine in hell, begitulah slogan terkenal yang pernah terlontar dari King Leonidas dalam Film 300. Aku tidak pernah menyangka jika hari di hari pertama diri ini bergabung dengan Spartan, aku akan langsung menjumpai penerapan dari slogan itu.
Sekarang sudah pukul delapan malam dan entah sudah berapa puluh kali aku menyanyikan lagu viva da vila. Kak Leo terus menerus meminta kami mengulang permainan walaupun menurutku apa yang telah kami bawakan sudah cukup bagus.
Awalnya aku memang mengalami kendala terutama dalam hal menyamai tempo, diri ini tidak pernah terbiasa bernyanyi dengan iringan musik. Hal itu jelas membuat nyanyianku kacau karena sering mendahului atau tertinggal oleh musik pengiring. Namun setelah beberapa kali percobaan, aku mulai bisa mengikuti tempo hingga akhirnya terbiasa dan tidak pernah lagi mendahului ataupun tertinggal musik pengiring.
Hal yang membuatku salut pada anak-anak jalanan didikan kak Leo adalah tidak ada satupun dari mereka yang mengeluh walaupun sang pelatih benar-benar menerapkan tonight we dine in hell. Kobaran semangat masih terus terpancar seakan tidak pernah terkikis oleh lelah, semua itu jelas membuatku malu jika sampai mengeluh.
" Ok anak-anak gunung, kita istirahat dulu. Mira sedang ke mari membawa makanan " Ujar Kak Leo.
Aku menarik nafas lega karena akhirnya waktu istirahat tiba terlebih lagi kak Leo berkata jika makanan sedang dalam perjalanan. Perutku sendari tadi sudah keroncongan, sepertinya ini pertama kalinya diriku merasa benar-benar lapar.
" Akhirnya istirahat juga " Ujarku sambil duduk dan meneguk botol air yang di berikan Juna.
" Haha benar-benar makan malam di neraka " Juna langsung merebahkan tubuhnya setelah memastikan semua anggotanya mendapat air.
" Kana, apa kau lelah? " Tanya Dina.
" Haha rasanya bohong jika lisan ini mengatakan tidak lelah. Tapi bagiku entah mengapa rasa lelah ini begitu nikmat " Jawabku sambil merebahkan tubuh juga seperti Juna.
" Kana " Kak Leo memanggilku sambil melangkah menghampiri Section band.
" Ada apa My Lord? " Tanyaku.
" Ambil ini " Kak Leo menyerahkan selembar kertas kepadaku.
" Apa ini? "
" Surat izin, besok kita akan latihan lagi jadi aku berharap kau bersedia untuk izin tidak masuk kelas " Ujarnya.
" Apa punyaku sudah kau buat " Patra dan Ran terlihat menghampiri kami.
" Tentu saja sudah ada " Kak Leo memberikan kertas yang sama kepada Patra dan Ran.
" Hmmm begitu ya, jadi kita benar-benar akan latihan sampai besok ? " Ujarku.
" Haha sekarang bisa di bilang kita sedang ada di kegiatan kamp pelatihan, atau traning center yang biasa di singkat TC. Aku beberapa kali izin tidak masuk sekolah karena mengikuti kegiatan ini " Jelas Patra.
" Sungguh? Bukan kah tim ini baru terbentuk? "
" Spartan memang baru hari ini, namun ekstrakurikuler musik eclair sudah ada dari tahun lalu "
" Oh jadi re branding? "
" Kurang lebih begitu "
" Jadi kau tidak keberatan izin tidak masuk sekolah besok? " Tanya Patra.
" Tentu saja tidak " Jawabku. Sekarang aku memiliki niat untuk membanggakan ayah dengan sesuatu, maka dari itu penampilan lusa nanti bisa jadi salah satu cara mewujudkan hal itu. Tidak apalah aku izin sekolah dulu, lagi pula absensi ku sangat baik.
" Bagus " Ujar kak Leo.
" Bagaimana dengan kau Ran? Ah iya mungkin aku agak telat menanyakan hal ini, sebenarnya dimana kah dirimu tinggal? Saat pertama kali bertemu aku melihatmu menenteng koper besar, jadi diri ini mengira kau bukan orang sini " Tanya kak Leo.
" Sebenarnya aku baru pindah sekolah jadi tidak masalah. Ah mungkin kami belum menceritakannya, tapi sekarang aku tinggal bersama kana " Jawab Ran.
" Hah? Kau numpang? " Jawaban Ran sepertinya membuat kak Leo kaget dan bigung.
" Sebenarnya aku adalah adik angkat Ran "
" Hah? " Sekarang seluruh tim band beserta kak Leo dan Patra yang kaget.
" Haha mengejutkan bukan? " Ujarku.
" Bagaimana bisa? Bukan kah kalian baru saling mengenal kemarin ? "
Akupun menceritakan kisah unik keluarga kami, mulai dari Ran yang nyasar di jakarta, aku yang berusaha membantu Ran padahal sebenarnya diri ini lah yang dia car, hingga ayah yang memutuskan untuk mengasuh dua bersaudara itu.
" Hoi kisah kalian mirip seperti sinetron " Kak Leo memberikan komentar.
" Haha begitulah " Ujar Ran sambil tertawa, mungkin dia setuju dengan ucapan kak Leo. Jika di jadikan sinetron, Kira-kira apa judul yang pas untuk kisah keluargaku ya?
" Tapi baguslah ending dari semua itu adalah ke bahagiaan " Juna mengatakan hal tersebut sambil menepuk bahuku.
" Oh iya. Aku mengajak kalian ke sini secara mendadak, apa sudah izin ke ayah kalian? " Pertanyaan kak Leo membuatku tersadar akan sesuatu yang sangat penting.
Aku belum meminta izin pada ayah, terlebih lagi diri ini tidak meninggalkan apapun untuk mereka makan. Bagaimana jika sekarang mereka kelaparan? Aku segera mengeluarkan HP, sialnya diri ini lupa jika tadi tidak sempat meminta kontak salah satu dari mereka. Akupun melirik ke arah Ran, dan di saat yang bersamaan dia mengacungkan jempol ke arahku.
" Tenang kak, aku sudah meminta izin untuk kita berdua " Ujarnya.
" Tidak bisa begitu, maaf Ran bisa kah kau mengirimuku nomormu? Ayah dan juga aka? Bagaimana pun aku harus meminta izin secara langsung "
Meminta izin atau memberi kabar secara langsung, itu lah hal penting yang ibu selalu ajarkan kepadaku. Apapun yang terjadi walaupun itu hanya sekedar pesan SMS atau WA ibu selalu memintaku untuk memberinya kabar jika pulang telah atau tengah pergi ke suatu tempat.
Dia akan sangat marah jika temanku yang malah mengabarinya lebih dahulu. Bagaimanapun kabar dariku adalah sesuatu yang sangat penting baginya, karena dengan begitu ibu bisa memastikan keadaanku baik-baik saja.
" Aku yang bertanggung jawab atas dirimu, maka dari itu buat benakmu selalu berfikir jika aku senantiasa mengkhawatirkanmu. Bagi seorang ibu, keselamatan anaknya jauh lebih penting dari apapun termasuk nyawanya sendiri. Jadi kabari lah aku, luang waktu sejenak, aku tidak masalah walau pun itu hanya via pesan, percayalah tidak mengetahui keadaanmu ketika pergi bisa membuatku nyaris gila " Itu lah ucapan yang pernah ibu lontarkan kepadaku. Maka dari itu aku selalu mengabarinya, walaupun diri ini telat pulang hanya lima menit.
" Baik lah " Ujar Ran sambil menyebut nomornya. Aku pun menyimpan nomornya, kemudian dia mengirimiku kontak ayah dan Aka.
" Aku ingin minta izin dulu " Ujarku sambil bangun dan beranjak menjauh. Setelah itu, aku mulai menekan layar Hp dan segera menghubungi ayah.
" Halo " Ujar ayah dari sebrang sana.
" Halo, ayah ini aku Kana "
" Ada apa Kana? "
" Aku ingin minta izin pulang telat malam ini "
" Ah baiklah. Sebenarnya kau tidak perlu repot mengabariku, karena tadi Ran sudah mengatakannya juga "
" Tidak bisa. Bagaimanapun ibu mengajarku untuk selalu meminta izin secara langsung. Mulai sekarang kau lah yang akan membesarku, dirimu lah yang bertanggung jawab atas diri ini, jadi Maaf karena telat menghubungimu "
" Begitu ya, ibumu memang luar biasa. Baiklah aku memberimu izin, semangat Kana kau pasti akan mampu menjadi penyanyi yang handal "
" Terima kasih ayah " Ujarku malu karena Ran sudah mengatakan apa yang tengah diri ini lakukan. Penyanyi ya? Tidak buruku juga.
" Kau juga besok akan latihan ya? Kalau begitu tolong pisahkan barang-barang yang ingin kau bawa pindah pagi nanti. Biar aku yang membawanya "
" Terima kasih "
" Sama-sama, Kana izinkan aku menjemputmu nanti malam. Aku tidak mau membiarkan kedua putri kesayanganku berjalan sendirian di malam hari "
" Haha baik lah, maaf karena merepotkanmu. Apa kau sudah makan? " Tanyaku yang ingat jika tidak meninggalkan apapun untuk mereka makan.
" Sudah, aku dan Aka baru saja keluar untuk makan. Sepertinya malam ini aku harus berpuas diri menyantap makanan yang tidak seenak buatan putriku "
" Haha kau berlebihan ayah "
" Aku serius, nanti pagi aku ingin menikmati nasi gorengmu "
" Siap bos "
" Aku menantikannya "
" Ayah, apa kau lusa nanti sibuk? "
" Tidak, bagaimanapun itu hari minggu. Aku libur kerja "
" Mau kah kau menyaksikan penampilanku? Diri ini ingin mempersembahkan prestasiku itu kepadamu "
" Tentu mau, apa perlu aku menyiapkan spanduk untuk mendukungmu dan Ran? "
" Haha kau berlebihan ayah "
" Baik lah, selamat berjuang nak " Ayah pun menutup telepon dariku.
Entah mengapa ada rasa lega yang muncul dan membanjiri hati ini, orang yang dulu aku anggap bajingan ternyata merupakan sosok yang sangat baik hati. Ah andai dulu aku mengizinkannya kembali, membayangkan ibu, ayah dan Aka menyaksikan penampilan kita jelas membuat hati ini berbunga-bunga.
Tapi itu hanya angan semata, bagaimanapun ibu telah tiada. Aku harap dia menyaksikan diri ini dari atas sana bersama para malaikat, semoga dia bangga dan menceritakan prestasiku kepada seluruh penghuni surga. Putrimu akan menjadi Diva bu, menorehkan prestasi di bidang seni, tidak seperi dulu. Saksikan aku yang akan menyindir dengan gaya nanti.
Aku pun memasukan HP ke dalam kantong, kemudian melangkah kembali ke arah kak Leo dan yang lainnya. Setibanya di sana Ran mengukir senyuman untukku, lalu aku membalas senyumannya itu dengan mengacungkan jempol. Mungkin dia merasa jika misinya berhasil, meyakinkan ku jika ayah bukan lah seorang bajingan.
" Kau sudah meminta izin? " Tanya kak Leo.
" Sudah, dia akan menjemputku dan Ran nanti "
" Bagus lah kalau begitu "
" Jadi kapan makanan kita akan datang? Ayolah perut ini sudah benar-benar keroncongan " Gerutu Juna.
" Bersabarlah, kak Mira sudah dalam perjalanan " Ujar Patra.
" Patra, bagaimana dengan gadis barbar ini? Apa dia bisa mengikuti gerakan yang ada? " Kak Leo bertanya kepada patra mengenai kemampuan Ran dalam bermain bendera.
" Sangat baik. Kau tau, aku sampai tidak percaya jika dia baru belajar mengenai color guard tadi. Tiap gerakan yang aku tunjukan kepadanya bisa dia tiru hanya dalam beberapa kali coba " Patra memuji kemampuan Ran.
" Tadi aku memang memperbolehkannya bergabung, tapi aku harus melihat dulu apa dia bisa langsung ikut tampil atau tidak. Posisi Ran berbeda dengan Kana, bermain bendera memerlukan latihan, bukan hanya sekedar pembiasaan, maka dari itu aku belum berniat memasukannya ke dalam tim sebelum mendengar pendapat darimu. Kana memang baru bergabung, namun sepertinya menyanyi sudah jadi kebiasaanya walaupun aku yakin tidak ada yang pernah mendengar suaranya selain benda mati " Ujar kak Leo.
" Hoi bagaimana kau tau aku sering bernyanyi saat menyiram tanaman? " Aku merasa malu karena kak Leo mengetahui rahasiaku.
" Patra, apa menurutmu dia sudah mampu ikut dalam penampilan lusa nanti? " Tanya kak Leo.
" Aku merekomendasikannya " Ujar patra sambil mengacungkan jempol.
" Baik lah kalau begitu, gadis bar-bar kau akan ikut tampil lusa nanti " Kak Leo baru saja membuat sebuah keputusan besar berupa mengikuti sertakan dua anak baru sekaligus dalam sebuah perlombaan. Ok, aku semakin yakin jika melakukan segala sesuatu secara mendadak adalah ciri khasnya.
" Apa benar tidak apa-apa diriku langsung mengikuti sebuah kompetisi? " Tanya Ran.
" Yup, kenapa tidak " Jawab Patra sambil menepuk pelan bahunya.
" Ka.. Kau benar-benar tidak keberatan kan, Patra? " Tanya Ran sekali lagi. Entah mengapa wajah adikku itu mulai menunjukan raut ketakutan ketika menanyakan hal tadi.
" Aku tidak keberatan Ran, bagaimanapun kau memiliki bakat dalam bermain bendera "
" Apa yang lain tidak keberatan juga? Apa tim ini punya pemain cadangan? Kalau memang ada bagaimana jika yang di ikut sertakan mereka dulu baru diriku? Aku masih anak baru, bukan kah keputusanmu agak tidak lazim? " Nada bicara Ran semakin terdengar ketakutan.
" Haha kami jelas tidak memiliki pemain cadangan Ran. Pokoknya kah harus ikut, karena kehadiranmu akan sangat membantu tim ini "
" Ta.. Tapi "
" Apa kau tidak ingin tampil " Tanya kak Leo.
" Bukannya aku tidak mau tampil, tapi bukan kah agak aneh jika langsung mengikuti sertakan diriku? Kau sendirikan yang bilang menjadi color guard bukan hanya membutuhkan pembiasaan? Bagaimana jika saat tampil nanti diri ini membuat kesalahan? "
" Tidak ada yang tidak aneh dalam tim ini gadis bar-bar. Sekolah musik untuk jalanan saja sudah aneh, jadi kau harus mulai mebiasakan diri dengan segala sesuatu yang berunsur tidak lazim " Ujar kak Leo.
" Kak Leo benar, dirinya sendiri pun tidak lazim " Aku melontarkan candaan yang membuat semuanya tertawa, namun jak itu tidak berlaku pada Ran. Dia tetap terlihat ketakutan, apa yang membuatnya jadi seperti itu? Bukan kah tadi dia sangat bersemangat untuk bergabung?.
" Ran, aku tidak tau apa yang membuatmu seolah tidak mau ikut tampil. Tapi percayalah, Kata-kataku tidak mengandung kebohongan atau unsur yang melebih-lebihkan sedikitpun. Kau memang berbakat, percayalah pada hal itu maka dari itu ayo tampil bersama. Jika kau membuat kesalahan, maka aku akan seberusaba mungkin menutupinya, karena bagaimanapun kita ini tim " Patra kembali meyakinkan Ran, namun lisan adikku itu hanya terdiam setelahnya.
Hal itu jelas membuat patra dan yang lainnya bingung. Sejujurnya aku belum mengenal Ran, walaupun ternyata kami adalah keluarga, namun ada begitu banyak hal yang belum diri ini pahami mengenai adikku karena memang takdir baru mempertemukan kemarin malam.
Mengapa seketika dia jadi terlihat tidak percaya diri, padahal kemarin malam aku mendapati dia memiliki sifat itu. Jika tidak percaya diri, mana mungkin dia dengan bodohnya mau ke Jakarta seorang diri, hanya demi menemui kaka ang tanya yang ternyata aku agar bisa memohon untuk memaafkan ayah.
" Ran, kau baik-baik saja? " Tanyaku.
" Apa kau khawatir akan melakukan kesalahan saat tampil nanti? Jika iya, jangan kan dirimu, aku sendiripun selalu merasa takut membuat kesalahan " Ujar Patra.
" Hehe kau benar, aku takut membuat kesalahan saat tampil nanti, bagaimanapun aku masih pemula " Ran terlihat memaksakan sebuah senyuman ketika menanggapi ucapan Patra.
" Tenang saja, tim itu.... "
" Gadis bar-bar, sebaiknya kau jangan berbohong " Kak Leo tiba-tiba memotong ucapan Patra.
" A...apa maksudmu? " Tanya Patra bingung.
" Sungguh, aku hanya takut membuat kesalahan " Ujar Ran.
" Kau sebenarnya bukan takut akan membuat kesalahan saat penampilan nanti. Hal yang sebenarnya kau takutkan justru jika dirimu sukses tampil secara sempurna saat pertama kali tampil sebagai color guard tim ini " Ucapan kak Leo membuat semuanya nampak kebingungan.
" A.. Apa maksudmu? Mana mungkin aku takut melakukan sesuatu yang justru baik untuk tim ini? " Ran terdengar menaikan nada bicara nya.
" Berhentilah berpura-pura menjadi gadis yang tidak percaya pada bakat sendiri "
" Apa maksudmu? Aku baru mengenal color guard sekarang, bukan kah wajar jika diri ini merasa tidak percaya diri? "
" Hoi gadis bar-bar, menurutmu kenapa aku memasukanmu ke dalam section koreografi? Bukan di tim Variasi ataupun band? " Tanya kak Leo.
" Mana aku tau!! " Ran membentak kak Leo.
Diubah oleh Rebek22 17-08-2021 10:01
oceu dan jiyanq memberi reputasi
2