- Beranda
- The Lounge
Warga Negara China Di Indonesia Bukan Tenaga Kerja Terampil, Apakah Diperbolehkan?
...
TS
c4punk1950...
Warga Negara China Di Indonesia Bukan Tenaga Kerja Terampil, Apakah Diperbolehkan?

Banyak orang bertanya kenapa banyak orang WNA terutama dari China yang bekerja di Indonesia bukan sebagai pekerja terampil? Bahkan dimasa pandemi saat ini banyak sekali WNA yang datang dari negeri Tiongkok tempat dimana awal virus corona menyebar.
Kalau melihat dari sistem bisnis dan perdagangan, jelas dengan alasan investasi Indonesia saat ini sudah banyak big bos dari negeri China yang datang untuk menanamkan modal dan membuat pabriknya disini.


Semua sektor industri hampir seluruhnya dikuasai oleh ras China, atau keturunannya namun sudah menjadi WNI. Ini sebenarnya yang menjadi masalah di Indonesia pebisnis besar tanah air jarang sekali dari ras pribumi, karena mereka lebih senang berpolitik daripada pure berbisnis.
Maka tak heran kalau sektor Industri yang dimiliki perusahaan asal Tiongkok lebih memilih WNA dari negaranya sendiri, ini dikarenakan pemiliknya bahkan pekerja terampil mereka tak bisa berbahasa Inggris sebagai bahasa internasional atau Indonesia.


Maka sudah pasti investasi yang ditanamkan oleh WNA China dengan membuka banyak pabrik industri di Indonesia namun lebih banyak menyerap tenaga WNA asal China dari kuli hingga tenaga kerja terampil.
Lantas kenapa kita harus marah-marah dengan slogan anti asing? Menurut Old Mind yang memang sering sekali negara asing dijadikan propaganda dengan teriak-teriak cinta tanah air dan anti asing, namun seluruh hidupnya tak lepas dari barang merek asing. Dari ponsel hingga fashion lebih suka buatan Tiongkok yang murah, atau lebih suka barang branded yang mewah buatan Jepang, Korea, Amerika atau Eropa tapi teriak-teriak anti asing.


Namun menurut New Mind, dikarenakan TS tidak paham apa kesepakatan industri asing dengan menteri yang membawahinya, lalu ada WNA yang bekerja bukan di sektor tenaga kerja terampil. Itu semua tidak ada yang salah, toh WNI kita menjadi TKI juga banyak di negara luar tanpa keterampilan yang memadai.
Andai ada pebisnis Indonesia yang membuka pabrik di luar negeri dan berani memakai WNI di negara orang bukankah hal itu sama saja?



Kalau merasa jengah dengan adanya industri yang dibangun asing memakai tenaga kerja asing, kenapa negara tidak menciptakan industri yang dipegang pebisnis Indonesia dengan memudahkan birokrasi?
Jadi sebagai rakyat harus pintar, dengan adanya WNA asing di wilayahnya maka harus belajar bahasa asing tempat WNA itu berada, bukalah bisnis kuliner, pasar, hiburan dan sebagainya lalu terapkan harga yang mahal untuk WNA bukankah itu cara elegant untuk membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.


Jangan merasa tersingkir dengan hadirnya pendatang, tapi harus berfikir kreatif agar para pendatang ini tidak berbuat semena-mena. Bahasa mandarin saat ini perlu dipelajari agar bisa memenangi perebutan jatah pekerjaan di negeri sendiri, kalau banyak WNI bisa menguasai bahasa mandarin bukan tak mungkin pekerja dari industri asing asal Tiongkok akan mempekerjakan warga Indonesia.
Banyak pemuda Indonesia yang bisa menyingkirkan Belanda dengan diplomasi, tentunya hal itu membutuhkan kepandaian dalam berbahasa ibu mereka.
Tapi, sebentar nih ada tapinya kalau kejadian seperti yang ada di channel Kang Dedy Mulyadi dibawah ini,
Ketika ada perusahaan industri asing yang angkutan mereka merusak jalan umum, ini harus dinas PU yang investigasi. Bahkan struktur jabatan WNA di pabrik itu tidak jelas patut dipertanyakan, berapa banyak industri asing yang seperti ini yang tidak ketahuan.
Solusinya jelas sebagai wakil yang dipilih rakyat, harus memberikan kejelasan untuk hal-hal dasar seperti ini bila perlu kerjasama antara yudikatif, eksekutif dan legislatif untuk mencari solusi.
Apakah agan-agan punya pendapat yang berbeda tentang hal ini?

Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.


"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik
Pic : google




Diubah oleh c4punk1950... 16-08-2021 17:33
Negrod dan 7 lainnya memberi reputasi
8
6.3K
101
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.1KAnggota
Tampilkan semua post
alston9
#3
Kl ane lebih melihatnya ini sbg transaksi bisnis. Sbg contoh ada proyek pembangunan sebuah jalan tol di Jakarta. Biaya pembangunannya dipinjam dr Jepang, namanya JICA (Japan International Cooperation Agency). Bunga pinjamannya sangat rendah, tetapi konsultan dan kontraktor yg digunakan hrs menggunakan perusahaan dr Jepang. Digunakanlah Nippon Koei sbg konsultan dan Mitsui sbg kontraktor.
Mgkn ini adl salah satu klausul yg ada di perjanjian pinjaman utang ke Cina. Indonesia akan mendapatkan pinjaman dr Cina dgn bunga sekian tapi salah satu syaratnya adl mempekerjakan warga negara Cina di Indonesia. Yg dipekerjakan mgkn org2 pengangguran di sana, ga tau jg.
Ane ga sepakat dgn alasan krn banyak perusahaan2 dan org kaya dr keturunan Cina, maka mrk milih tenaga kerja dr Cina. Mrk udah WNI kok, ada yg ud brp keturunan di sini malah. Pemerintah Cina emg mengakui mrk sbg warga negara sana? Bisa2 pemerintah Cina ga tau malah ada org2 kaya keturunan ini aplg sampe kontak2an. Jd menurut ane ga ada hubungan antara keturunan Cina di Indonesia dgn pemerintah Tiongkok sendiri. Ini bukan urusan SARA, tapi pemerintah Indonesia sendiri yg mengambil keputusan yg merugikan warna negara sendiri.
Toh urusan duit ga liat suku, agama, ras dan sebagainya kok. Soeharto yg terkenal diskriminatif sama keturunan cina aja deket bngt sama pengusaha kaya pemilik Indofood bernama Liem Sioe Liong/Sudono Salim. Duit mengalahkan segalanya. Koruptor2 dan penggelap duit itu berasal dari semua suku, ras dan agama.
Heran, msh ada aja yg ngeributin soal SARA, pdhl sjk jaman Gus Dur udah mereda isu itu. Kok jd balik ke era Orba lagi. Kemunduran banget pikirannya. Duit itu jauh lbh sensitif dari SARA. Kita ga iri sama agama, suku dan ras org lain, tapi kita mudah iri kl liat duit org lain jauh lbh bnyk dr kita dan pgn ky mrk.
Mgkn ini adl salah satu klausul yg ada di perjanjian pinjaman utang ke Cina. Indonesia akan mendapatkan pinjaman dr Cina dgn bunga sekian tapi salah satu syaratnya adl mempekerjakan warga negara Cina di Indonesia. Yg dipekerjakan mgkn org2 pengangguran di sana, ga tau jg.
Ane ga sepakat dgn alasan krn banyak perusahaan2 dan org kaya dr keturunan Cina, maka mrk milih tenaga kerja dr Cina. Mrk udah WNI kok, ada yg ud brp keturunan di sini malah. Pemerintah Cina emg mengakui mrk sbg warga negara sana? Bisa2 pemerintah Cina ga tau malah ada org2 kaya keturunan ini aplg sampe kontak2an. Jd menurut ane ga ada hubungan antara keturunan Cina di Indonesia dgn pemerintah Tiongkok sendiri. Ini bukan urusan SARA, tapi pemerintah Indonesia sendiri yg mengambil keputusan yg merugikan warna negara sendiri.
Toh urusan duit ga liat suku, agama, ras dan sebagainya kok. Soeharto yg terkenal diskriminatif sama keturunan cina aja deket bngt sama pengusaha kaya pemilik Indofood bernama Liem Sioe Liong/Sudono Salim. Duit mengalahkan segalanya. Koruptor2 dan penggelap duit itu berasal dari semua suku, ras dan agama.
Heran, msh ada aja yg ngeributin soal SARA, pdhl sjk jaman Gus Dur udah mereda isu itu. Kok jd balik ke era Orba lagi. Kemunduran banget pikirannya. Duit itu jauh lbh sensitif dari SARA. Kita ga iri sama agama, suku dan ras org lain, tapi kita mudah iri kl liat duit org lain jauh lbh bnyk dr kita dan pgn ky mrk.
migicat dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup