- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.8K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#31
7. Viva La Vida

Kanaria
Aku pernah membaca sebuah kisah tentang salah seorang ahli strategi yang berasal dari persia, namanya salman Al-farisi. Dia adalah seseorang yang paling banyak berkontribusi dalam perang khandak, salah satu peperangan besar yang pernah di hadapi oleh Rasulullah SAW.
Sebuah perang yang bisa di bilang berart sebelah karena pasukan musuh yang kala itu di hadapi oleh nabi muhamad berjumlah tiga kali lipat lebih banyak ketimbang pasukan yang di milikinya. Kota madinah dikepung dan jika tidak memiliki strategi jitu maka kekalahan telak lah yang akan di alami oleh umat islam kala itu.
Bertahan adalah salah satu langkah tepat yang harus di ambil, namun melihat kondisinya membangun sebuah benteng yang kokoh tidaklah memungkinkan. Saat itulah Salman Al-farisi memberikan sebuah ide yang bisa di bilang sangat out of the box.
Ketika kebanyakan orang akan membangun benteng yang menjulang ke atas, sang ahli strategi menyarankan untuk membangun sesuatu yang berkebalikan dengan itu. Bukan benteng kokoh yang menjulang ke atas, melainkan sesuatu yang menjorok ke bawah dan sangat dalam atau dengan kata lain sebuah parit parit.
Rasulullah menyetujui strategi tersebut dan mulai menggali parit yang mengelilingi kota madinah. Pada masa itu, parit bukan lah sesuatu yang lazim di temukan dalam peperangan, sehingga musuh kebingungan ketika berhadapan dengan benteng yang justru menjorok ke bawah itu.
Parit selesai di gali dan benar saja musuh kebingungan ketika menghadapinya. Di saat kuda-kuda lawan berusaha melompat melewati parit itu, para pemanah mulai menghujani kavalari musuh dengan anak panah sehingga sebelum tiba di sebrang, musuh lebih dahulu mati dan terperosok ke dalam lubang.
Para infantri pun tidak bisa menyebrang, sehingga yang bisa di andalkan hanya pemanah musuh. Pertempuran itupun usai dengan kemenangan telak umat islam, dari kisah itu aku belajar jika jumlah bukan lah hal mutlak yang mampu menjamin kemenangan.
Strategi, itulah yang paling di butuhkan sebuah pasukan ketika harus menjumpai peperangan. Pemikiran yang out of the box adalah hal yang wajib di miliki oleh sang ahli strategi, karena bagaimanapun dia harus bisa berfikir puluhan langkah lebih jauh dari pada ahli strategi milik musuh. Jika musuh sudah memikirkan A, maka ahli strategi harus budah bisa berfikir sampai Z.
Bagiku, kak Leo adalah seorang ahli strategi yang memiliki pemikiran out of the box. Bayangkan saja, ketika kebanyakan orang berusaha menjamin pendidikan anak-anak jalanan dengan mendirikan sekolah swadaya. Dia malah mendirikan sekolah musik dan berusaha memberikan ilmu yang spesifik berupa ke ahlian dalam bermusik agar skill itu dapat anak-anak langsung terapkan.
Sekolah ini pun ternyata sangat luar biasa, dia berhasil menyulap sebuah bagunan bekas gudang menjadi tempat belajar yang sangat layak. Bahkan Berhasil membuat anak-anak jalanan memahami etika serta kedisipilinan.
Kasir unik itu mampu membentuk sebuah tim yang haus akan tantangan, membakar semangat anak didiknya, serta membuat mereka berani maju walau kemungkinan menang hanya lah sepuluh persen.
Dia termasuk pelatih yang unik, sebab ketika para pelatih biasanya memberikan motivasi dengan membuat musuh seakan jadi pecundang. Orang ini malah memberi keyakinan pada anak didiknya jika mereka yang terlalu nyaman di kursi penonton lah pecundang sebenarnya.
Nama untuk tim ini sudah di putuskan, " Spartan " pasukan dari raja Leonidas yang mampu memenangkan perang Thermopylae dengan walaupun kalah jumlah. Aku tidak tau akan seperti apa nantinya hasil dari kompetisi ini, yang jelas apapun caranya kami harus berdiri di garis star terlebih dahulu tanpa memperdulikan menang atau pun kalah.
Aku memandangi kak Leo yang sedang berdiskusi dengan Kak Ares, keduanya sepertinya tengah membahas bentuk penampilan kami nanti. Kak Leo sepertinya mau tidak mau menerima saran nama yang di berikan kak Ares karena semuanya setuju dengan Spartan.
Tadi dia sempat menjabarkan kepadaku jika tim ini bukan lah grup band semata, dia mengcover sebuah instrumen agar semua alat musik bisa ikut memeriahkan lagu yang di bawakan.
Artinya trumpet, biola dan lain sebagainya bisa masuk sekalipun lagu originalnya tidak ada nada untuk kedua alat musik itu mainkan. Dia mengkolaborasikan band, orkestra bahkan alat musik klasik seperti kecapi dan gamelan dalam satu penampilan di tambah lagi kak Leo juga menambahkan koreografi berupa penari dan color guard sehingga lagu yang di bawakan akan meriah. Ya secara garis besar penampilan tim ini mirip seperti marching band.
Namun, Jika Dalam marching band semua aanggota akan bergerak, membuat barisan yang jika di lihat dari atas akan membentuk suatu bentuk. Bentuk penampilan tim kami tidak demikian, hanya bagian color guard lah yang bergerak sementara yang lainnya fokus bermain musik di atas panggung.
Selain itu, yang di tonjolkan dari marching band adalah instrumen, sementara kami suara dari sang Diva. Instrumen di jadikan musik penopang agar suara sang Diva berkolaborasi dengan melodi yang di mainkan sehingga terdengar semkin indah.
" Mengapa kita harus puas dengan hal yang biasa-biasa saja? " Ujarnya saat aku menanyakan penyebab dia mencampur adukan semua elmen musik dan tarian dalam satu performance. Sangat out of the box bukan?
Sekarang aku paham mengapa jumlah anggota tim ini sangat banyak padahal dalam satu grup band biasanya hanya membutuhkan lima orang saja. Aku semakin tertarik menjadi Diva dari tim ini, walaupun diri ini tidak begitu yakin dengan suaraku sendiri.
Untuk sementara, Dia meminta kami berlatih dalam section masing-masing terlebih dahulu, kak Leo menjelaskan jika tim ini di bagi menjadi beberapa bagian agar mudah untuk di pantau. Pertama ada Band section atau bagian yang bertanggung jawab atas permainan band, atau dengan kata lain musik inti dari dari penampilan yang mencangkup pemain gitar, bass, drum, keyboard dan penyanyi.
Kemudian ada variasi section, mereka adalah bagian yang paling mirip dengan marching band. Section ini bertanggung jawab membawakan melodi variasi dari suatu lagu. Terdiri dari para pemegang alat musik lain di luar alat musik band seperti trumpet, flute atau mudahnya alat-alat musik yang di pakai dalam marcing band serta biola, gamelan dan lainya.
Awalnya aku bingung mengapa trumpet memiliki banyak ukuran dan bentuk. Setelah Patra menjelaskan nya akupun paham jika ternyata tidak semua alat musik tiup itu bernama trumpet. Ada Melophone, bariton, tuba, sexopon yang semuanya menghasilkan suara berbeda.
Ada juga beberapa alat musik yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan bentuk benda itu seperti pipa. Patra pun menjelaskan jika itu di sebut pit atau front esamble, yang meliputi marimba, timpani, bell, kecrekan ( patra pun tidak tau nama bagusnya) dan vibraohone.

Section variasi Terdiri dari dua devisi yaitu brass atau alat musik tiup dan pit instrumen atau front esamble, jika di dalam marcing band section band itu sebenarnya masuk dalam devisi pit instrumen, namun karena ini bukan tim marching band maka kak Leo membaginya.
Aku semoat bertanya mengenai perbedaan lain antara tim ini dengan marching band. Patra pun menjelaskan jika di dalam marching band ada empat devisi, dua devisi yang tidak ada dalam penampilan ini dalah percusion atau alat musik pukul.
kak leo meniadakan devisi percusion, sebab sudah ada drum set di section band, sementara color guard di taruh dalam section berbeda karena urusan mereka bukan lah musik melainkan koreografi. Karena memang pada dasarnya Spartan bukan lah tim marching band, maka hal tersebut sah-sah saja.
Section ketiga adalah koreografi atau color guard. Ran berada di section itu, penjelasan mudahnya colors guard adalah para pemegang bendera yang menari dengan tujuan memeriahkan penampilan.

Setiap section memiliki ketua atau biasa di sebut Section leader atau lebih mudah di singkat menjadi SL. Ketua dari tim Band adalah Juna, Dia adalah pemain gitar yang cukup mahir. Aku sempat melihat permainannya, tangannya begitu mahir dalam memetik senar Gitar, selain itu suara yang di milikinya pun lumayan.
Sepertinya Juna memiliki usia yang sama denganku, lisannya berkata jika dia berasal dari keluarga kurang mampu walau demikian ayahnya tetap berusaha untuk terus menyekolahkanya. Dia bukan murid Eclair, melainkan seorang relawan mengajar yang mendedikasikan dirinya untuk membantu kak Leo dan kak Ares dalam mendidik anak-anak SD.
Aku jelas merasa salut kepada Juna, bagaimana pun di keadaanya yang termasuk sulit dia tetap mau memberikan waktunya untuk membantu sesama. Juna adalah seorang pengamen, tapi dia tidak mau di anggap seperti itu. Lisannya berulang kali mengatakan :
" Aku bukan pengamen, melainkan musisi jalanan. Sebab aku menjual musik, bukan meminta belas kasihan orang "
Iskandar, sang drumer tim membetulkan hal tersebut. Mereka berdua ternyata biasa ngamen bersama, keduanya berprinsip untuk tidak pernah meminta uang sebelum membawakan satu buah lagu. Selain itu mereka tidak pernah memaksa siapapun memberikan uang, mereka menjual lagu jadi siapun yang menikmati musik yang keduanya bawa maka orang-orang itu lah yang boleh membayar atau memberikan uang.
Juna bercerita jika dulunya dia mengamen ( menjadi musisi jalanan) menggunakan ukulele yang di belinya dari hasil menabung. Sekarang kak Leo telah memberikannya sebuah gitar, maka dari itu lah musik yang dirinya persembahkan semakin bagus.
Section leader dari tim Variasi bernama, Lusi. Walaupun namanya seperti perempuan dia sebenarnya merupakan anak laki-laki. Nama lengkapnya Andalusia, ya seperti Athena yang di panggil Ana atau Aprodite yang di panggil odi namanya terlalu panjang sehingga beberapa orang penyingkatnya. Sayangnya singkatan yang di ambil malah Lusi ( sebab tidak mungkin kan dia di panggil anda?)
Lusi adalah salah satu murid SMP Eclair, seorang anak yatim piatu yang sekarang di rawat oleh pamannya. Sang paman berprofesi sebagai tukang ojek, awalnya Lusi belajar di sekolah formal namun karena tidak mau membani pamannya, dia memutuskan berhenti dan masuk ke Eclair.
Section leader dari tim koreografi adalah Patra. Seorang gadis cantik yang usianya sama denganku, latar belakang Patra berbeda dengan SL lainnya. Dia gadis yang keluarganya terbilang kaya, sama seperti Juna dia juga mendedikasikan dirinya untuk mengajar di siang hari.
Keluarganya merupakan salah satu donatur bagi Eclair, walau demikian dia menolak untuk di perlakukan secara khusus bahkan orang tuanya sendiri meminta agar Patra tidak di anak emaskan. Dia adalah pemegang bendera yang handal, saat Patra mengajarkan Ran bagaimana caranya menjadi seorang color guard. Dia mampu menunjukan gerakan yang gesit namun gemulai.
Walaupun latar belakang tim ini berbeda-beda, namun semuanya berhasil di satukan oleh kak Leo. Tim ini sangat kompak, status bukan lah hal yang di pandang, sehingga tidak ada ke senjangan dalam berhubungan.
" Kana " Juna memanggilku yang sedang bengong memperhatikan kak Leo.
" Ada apa? " Tanyaku.
" Bagaimana jika kita menyelaraskan suara dengan musik? "
" Boleh. Oh iya, lagu apa yang akan kita bawakan? Memories? "
" Entah lah, kebiasaan kak Leo adalah memberikan judul lagu ketika waktunya mepet "
Sial, jadi melakukan sesuatu secara mendadak memang merupakan ciri khas orang itu. Sendiri tadi aku sudah berusaha menghafalkan lagu berbahasa Jepang yang kemarin kak Leo minta. Ternyata ada kemungkinan lagu itu tidak di mainkan sama sekali.
" Jika dadakan, bagaimana cara kalian menghapal instrumen nya? "
" Banyak instrumen yang sudah kami hapal, dan yang biasanya dia pilih adalah salah satu dari lagu-lagi itu " Jelas Juna
" Kadang tindakan pelatih kita itu aneh ya ? "
" Haha prinsip tim ini adalah memainkan apa yang sudah kami hapal bukan menghapal apa yang akan di mainkan. Menurut kak Leo cara itu lebih efektif dan tidak membuat kita nantinya di buru waktu "
Satu lagi pemikiran yang out of the box dari king Leonidas, alasan yang di jabarkan Juna sangat masuk akal. Sama halnya dengan mengadapi ujian, banyak siswa yang takut menghadapi itu walaupun pada dasarnya ujian hanyalah mengulang materi yang pernah di pelajari.
Maka dari itu, orang yang tidak pernah mendengarkan penjelasan di kelas akan menderita karena harus membaca sekaligus mengingat banyak hal (beberaoa tidak menderita juga sih, karena jauh lebih memilih pasrahk sementara mereka yang mendengarkan guru dan memahaminya hanya perlu sedikit berusaha dengan cara mengulang kembali materi-materi tersebut.
" Begitu ya, baik lah ayo kita coba. Lagu apa yang ingin kau mainkan? " Ujarku mengajak Juna berlatih.
" Hmmm lagu apa saja yang kau hapal? " Tanyanya Iskandar
" Ada banyak, tapi sejujurnya aku lebih banyak hapal lagu barat karena memang diri ini menyukainya "
" Begitu ya, mengapa kau lebih suka mendengarkan lagu berbahasa asing? Kau jadi mirip kak Leo " Ujar Dina sang bassis.
" Entah lah, mungkin karena menurutku makna dari lagu barat lebih dalam jika di artikan. Terlebih lagi banyak tema selain cinta yang di bahas dalam lagu barat. Percayalah aku kadang muak jika selalu mendengarkan lagu tentang cinta "
" Aku sepakat denganmu, persetan dengan cinta" Ujar Dinda sambil mengajakku Toss. Matanya melirik ke arah Juna, dan mulai memberikannya tatapan mengejek.
" Kau menyindirku kan? " Gerutu Juna.
" Huhu persetan dengan mereka yang di perbudak cinta " Iskandar ikut-ikutan Dina menggoda Juna.
" Ada apa dengan Juna? " Tanyaku bingung.
" Dia memiliki pacar di section koreografi, percayalah Kana ketika kau melihat betapa dirinya di perbudak cinta, kau akan merasa jijik dengannya " Indra si pemegang keyboard menjawab pertanyaanku.
" Berisik " Wajah Juna menjadi merah dan Hal itu langsung membuat kami semua tertawa.
" Tenang Juna, semenjijikan apapun dirimu saat menjadi budak cinta. Kau tetaplah section leader Tim Band " Ujarku berusaha membela Juna.
" Terima kasih Kana, baru kali ini ada yang membelaku di tim ini " Juna nampak senang dengan hal itu. Sepertinya niatku bukan membela, mengapa dia menganggapku begitu? Yang lain nampak menahan tawa karena mungkin mereka tau niatku yang sebenarnya.
" Omong-omong, lusa nanti akan ada perlombaan apa? " Tanyaku penasaran.
" Frestival musik sekecamatan, lomba itu akan berlangsung di alun-alun " Jawab Dina.
" Oh begitu "
Kira-kira apa kah ayah mau datang menonton aku dan Ran? Setidaknya penampilanku mungkin bisa membuatnya bangga. Biasanya seluruh prestasi diri ini persembahkan kepada ibu, bagaimanapun melihat putrinya mampu melakukan sesuatu jelas akan membuat semua usahanya terbayarkan.
Namun dia telah tiada, artinya segala pencapaian ku mulai sekarang harus diri ini persembahkan untuk ayah. Karena mulai sekarang dialah yang akan merawatku, apa dulu Ran dan Akan selalu berhasil membuatnya bangga?
" Ok anak-anak gunung. Mari kita berkumpul sebentar " Teriak kak Leo.
" Gawat kita belum latihan sama sekali " Juna nampak panik.
" Kau ketua kami Juna, jadi bela lah anggotamu " Ujar Dina sambil mengacungkan jempol ke arah Juna.
" Sialan, jika sudah seperti ini kau langsung membawa-bawa kata ketua "
Kami pun berkumpul mengitari kak Leo dan kak Ares, aku melirik Ran gadis itu terlihat sudah cukup berkeringat. Sepertinya dia benar-benar berjuang untuk mempelajari cara memainkan bendera. Ran menyadari jika aku sedang memandanginya, kemudian gadis itu mengukir sebuah senyuman untukku.
" Aku sudah memutuskan lagu yang akan kita mainkan " Ujar kak Leo.
" Jadi apa yang akan kami mainkan? " Tanya Juna yang nampak tidak sabar.
" Viva la Vida " Kak Leo menyebut sebuah judul lagu.
" Wuhu " Entah mengapa para pemain biola bersorak girang.
" Mengapa mereka segirang itu? " Tanyaku pada Dina.
" Karena viva la vida memiliki permainan biola paling menonjol " Jawab Dina.
" Oh begitu ya " Ujarku.
" Kana, apa kau menghapal lagu itu? " Kak Leo mengajukan pertanyaan kepadaku.
" Siap hapal, begini-begini aku penggemar Codplay "
" Bagus. Kalau begitu, Leo segera selaraskan tempo " Kak Leo memberikan perintah kepada Juna.
" Siap "
" Para pemain biola, sekarang saatnya kalian unjuk gigi " Ujar kak Ares.
" Aye sir " Ujar para pemain biola dengan kompak.
" Dengar, saat lomba nanti akan ada camat yang hadir menyaksikan penampilan kita. Percayalah aku sangat membenci orang itu karena dia diam-diam mengkebiri bantuan pemerintah yang di kirim untuk Eclair. Itu lah mengapa aku memilih lagu ini, ingat lusa nanti kita bukan tampil bermusik... "
" Lantas apa? " Tanyaku bingung.
" Menyindir dengan gaya... "
" Hah? " Kali ini bukan hanya aku yang bingung, melainkan semua pemain.
" Haha apa kalian ada yang tau viva la vida itu menceritakan tentang apa? " Tanya kak Ares.
Aku mengingat-ngingat arti dari tiap bait lagu itu, kalau tidak salah ingat secara singkat lagu itu menceritakan mengenai lengsernya seorang raja dari tahta.
Quote:
Beberapa artikel di internet juga menyebutkan jika lagu itu menceritakan revolusi Prancis dan lengsernya raja Lois XVI. Entah mana yang benar, namun yang jelas aku merupakan salah satu pencinta lagu yang dinyanyikan oleh Codplay.
" Revolusi? " Ujarku.
" Ya kurang lebih begitu " Kak Ares membenarkan ucapanku.
" He? Apa kita akan melakukan revolusi dan melengserkan camat sialan itu dari jabatanya? " Tanya Iskandar.
" Tidak sampai sejauh itu Mr. Is " Jawab kan Ares.
" Kalian tau, bagiku tiap bait lagu itu berisikan sindiran untuk setiap pemimpin bertangan besi. Mungkin saat mereka menjabat dunia seakan telah berhasil di kuasai, hingga seakan-akan lautan mau menyurutkan raganya jika ia perintahkan. Namun mereka lupa, jika dalam suatu negara jabatan paling tinggi adalah rakyat. Ada kalanya revolusi terjadi dan memutar balikan keadaan hingga seorang penguasa tangan besi bisa berakhir di tiang gantung. " Ucapan kak Leo terdengar tegas, ada amarah yang terkandung dalam tiap kata yang lisannya lontarkan.
" Namun tugas ada yang harus kalian ingat, tungas seorang pemusik bukan lah berperang atau menyerang. Melainkan menyampaikan sesuatu dengan irama entah itu isi hati, gombalan, pujian, sindiran atau lain sebagainya. Makan dari itu tadi Leo berkata, kita tidak hanya sekedar tampil. Melainkan menyindir dengan gaya " Kak Ares menambahkan ucapan kak Leo.
" Hail Leodinas " Teriak Juna meniru pasukan Spartan yang memuji sang Raja. Semuanya secara serentak mengikuti ucapan Juna.
" Haha kalian jadi semakin mirip Spartan " Ujar Kak Ares sambil tertawa.
" Aku suka idemu kak Leo " Puji Iskandar.
" Hoi, apa-apan sorakan tadi itu " Wajah kak Leo terlihat memerah ketika mengatakan hal tadi.
" Jika penampilan kita nanti ibarat perang, maka kita akan memenangkannya. Karena ada king Leonidas dan dewa perang Ares " Ujar Patra. Ares adalah nama dewa perang dari mitiologi Yunani, entah kebetulan atau apa yang jelas tim ini benar-benar di sertai dua nama yang berkonteks pada perang.
" Haha kalian berlebihan "
" Viva la vida ya? Menarik "
" Baiklah, aku baru akan memperbolehkan kalian pulang setelah semua beres walaupun itu berarti besok pagi " Ujar kak Leo.
" Heh? " Gerutu sebagian besar anggota tim.
" Tonight we dine in hell dude " Ujar kak Leo sambil.
pangerankodo353 dan 2 lainnya memberi reputasi
3