Kaskus

Story

congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
sargopipAvatar border
efti108Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
#584
Part 67
Jogjakarta, Yogyakarta, sebagian orang jateng menyebutnya Yujo, Yoja.

Gua pernah lihat salah satu polling di Instagram, "manakah kota yang lebih romantis?, Jogja atau Bandung?".

Hasilnya, Jogja lebih unggul dengan perolehan suara 51%.

Malioboro, sayidan, nol kilometer, pasar bringharjo, kopi klutuk, burjo, menjadi lokasi-lokasi yang gua rasa banyak meninggalkan kenangan manis bagi para wisatawan maupun para mahasiswa perantauan yang pernah hidup di Jogja.

Gua menyadari framing media yang kuat tentang Jogja sebagai kota paling romantis.

Mereka selalu beranggapan bahwa Jogja adalah kota impian untuk ditinggali.

Padahal, Jogja kuwi nek ditungguni rak bakalan sugeh karena UMR nya yang keselek.

Dari situlah, muncul kalimat "Jogja istimewa, kecuali UMRnya"

***


Balik ke cerita..

Menjelang siang, gua sama Okta berangkat ke gunung kidul, ke pantai Drini tepatnya.

Kondisi di sana masih agak lega, walaupun weekend. Mungkin karena waktu itu pantai Drini belum sepopuler Parangtritis maupun Indrayanti.

"Aku boleh make celana gemes?". Tanya Okta yang hendak ganti pakaian

Gua menganggukkan kepala.

Ia langsung mengambil celana yang ia maksud dari dalam tas, lalu ia menuju ruang ganti.

Sedangkan gua, cukup melorotin celana panjang😆.

Dari kejauhan, gua lihat Okta yang lagi cari gara-gara.

Okta menuju ke arah gua sambil cengengesan. "😁.."

"Siapa yang nyuruh pake baju crop top kek gitu?"

Okta ngga berani jawab

"Ganti ya, tolong. Aku ngga bisa liat badan kamu dipelototin banyak orang" pinta gua memohon

"Iya, iya" Okta mengambil kaos lain dari dalam tasnya, lalu kembali ke tempat ganti dengan muka cemberut.

"Gini kan cakep, aku ngga perlu nahan emosi juga gara-gara lihat kamu dipelototin bannyak orang." Gua mencoba menghibur Okta yang masih sedikit ngambek.

Meskipun sebenernya, mau pakai pakaian sesopan apapun, Okta tetap jadi pusat perhatianemoticon-Hammer

Tapi setidaknya, dengan pakaian barong oversize yang saat ini dikenakan, Ia ngga terlalu mencolok mata orang di sekitar.

Gua berjalan sambil merangkul pinggang Okta yang masih ngga terima gua ngatur cara dia berpakaian.

Sesampainya di bibir pantai, ada ibu-ibu nawarin tikar sama payung buat nongkrong di atas pasir.

"Bayar langsung ya mbak" kata ibu-ibu itu.

"Berapa bu?" Tanya Okta

Ibu-ibu tadi yang tahu kalau Okta bukan orang Jawa langsung nyeplos "25 ribu mbak"

Gua yang dari awal cuma diem langsung buka omongan. "Larangmen buk, biasane mung gangsal ewu"

Ibu tadi langsung salah tingkah, dia mengira bahwa gua juga bukan orang Jawa, sampai akhirnya diterima juga duit 5rb gua.

"Kok beda bahasa, bisa beda harga sih?" Tanya Okta keheranan.

"Kamu sih, kebanyakan belanja di toko yang harga barangnya pas" ejek gua

"Lagian, kalau mau belanja di pinggir jalan, aku juga ngga tau angka-angka pakai bahasa jawa gitu. Apalagi yang likur-likur" jelasnya

Okta kembali ngoceh tentang ribetnya bahasa jawa yang dibagi menjadi 3 kasta, yaitu jawa ngoko, krama alus, dan krama inggil. Lalu susahnya ngebedain selawe, seket, dan sewidak.

Gua tertawa kecil, gemas rasanya melihat ekspresi Okta ketika berbicara panjang lebar. Dan juga gimana gampangnya dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa, padahal baru saja dia ngambek sama Gua.

Ditengah-tengah asiknya ngobrol, ada photografer nyamperin nyamperin kami berdua.

Fyi: Di sekitar pantai memang ada beberapa photografer yang menyewakan jasa foto.

Dia menunjukan beberapa jepretannya dari hasil memfoto kami berdua secara diam diam.

"Maaf mas mbak, sebelumnya. Tadi saya ngefoto kalian berdua ngga izin dulu. Saya liat kalian berdua cocok, jadi saya foto pas lagi ngobrol ketawa-ketawa. Terus hasilnya bagus" kata photografer tadi yang memperkenalkan diri sebagai Mas Doni.

Okta mengotak-atik kamera mas Doni, melihat foto-foto kami berdua.

"Bagus ja hasilnya" ucapnya kagum

"Kalo mau dicetak, bisa mbak. 10rb per lembar" tawar mas Doni

"Kirain gratis mas" saut gua becanda. "Nanti diendorse cewek gua di instagram deh, cewek gua followersnya banyak" lanjut gua

Gua mengkonfirmasi ke Okta dengan senggolan tangan. Si mas doni cuma senyum garuk-garuk kepala.

"Gini aja deh, kalo misal kami ambil soft file nya aja berapa?" Tanya Okta

"Kalo ngga dicetak, 2500 per foto mbak" jelas mas Doni

Kami bertiga pun sepakat dengan harga yang diberikan mas Doni.

Jadilah mas Doni sebagai photografer pribadi bagi gua dan Okta secara dadakan.

"Mas jangan kaku gayanya" kata mas doni mengarahkan pose gua ketika berfoto.

"Aku ki rak iso action mas" keluh gua.

Jujur, gua paling ngga bisa pose di depan kamera. Gua kalau disuruh gaya, kaku kek foto KTP.

"Ngefotonya candid kayak tadi aja gimana mas? Ngga jago acting dia tuh" saran Okta ke mas Doni

Mas Doni pun setuju. Seperti hasil jepretan yang tadi, kami berdua difoto secara natural, ketika bermain air, ketika berjalan mesra di bibir pantai yang berpasir putih, sampai ketika menatap lautan samudera hindia.

Hasilnya pun jauh lebih mending daripada gua harus berposeemoticon-Busa

Setelah puas berfoto, kami berdua berjalan balik ke tikar yang tadi kami sewa.

"Banyak mas, jadi 150+ an foto ini." Kata mas Doni

Gua terkejut "Buset, ngefotoin kondangan lu bang?"

"Ya ntar kan lu pilih mas, yang ngga suka hapus aja. Bayarnya foto yang dipilih aja hehe" balas mas Doni

Setelah sekian lama menunggu Okta yang memfilter foto pilihan, mas Doni memindah foto-foto tadi ke HP gua.

Dia pun menghitung jumlah foto-foto yang dipilih Okta tadi. "Ini total 106 foto, mas nya bayar 100 foto aja, jadi 250rb"

Gua terkejut, menatap Okta. Lagi-lagi dia cuma cengengesan dengan muka seolah tak berdosa. "Abis, fotonya bagus semua" ujar Okta

"Ntar di print, jadiin kliping" ejek gua

"Makasih mas, mbak, saya bisa pulang awal hari ini" ucap mas doni dengan senyum sumringah, lalu berpamitan pergi. "Saya doain langgeng sampe punya cicit" lanjutnya

"Langgeng apanya, udah hampir pasti pisah gini" balas gua, dalam hati.

Kalian tau lagunya Kudamai yang judulnya "Mendung Tanpo Udan"?

Kira-kira gini potongan liriknya;

Quote:


Ngga terasa, matahari sudah agak condong ke barat. Gua melirik ke layar HP yang sedang dimainkan Okta. Terlihat jam digital di pojok kiri atas HP menunjukkan waktu pukup empat sore.

Gua bertanya ke Okta, mau langsung pulang ke hotel atau nungguin sunset. Dia memilih menunggu matahari terbenam.

Dengan segera, kami berdua mencari lokasi untuk makan. Kemudian barulah menikmati suasana matahari terbenam di pinggir pantai.

Di hadapan langit yang mulai berwarna jingga, di atas pasir putih yang halus, kami berdua bercengkrama.

Okta menyandarkan kepalanya ke bahu gua

"Mas ... "

"Dalem nduk?"

"Maturnuwun"

"Makasih buat apa?" Tanya gua

"Makasih udah ngisi hari-hari aku beberapa bulan ini" jawabnya

"Semisal waktu dulu kamu bukan anak nakal yang keluyuran sampe pagi, terus malam itu aku ngga nekat hangout pake motor, apa kita bakal tetep ketemu ja?" Entah apa alasan Okta tiba-tiba menanyakan hal seperti ini.

Gua pun bingung, ngga tau harus jawab apa "Entah..."

"Kalau kita tetep nekat lanjut, trus nikah, apa bisa ja?" Tanya Okta lagi

"..."

Pandangan Okta kosong ke arah samudera. "Kalo dipikir-pikir, kenapa sih aku bisa nyaman sama kamu. Padahal jelas-jelas, tempat nongkrong kita beda, selera makan, selera musik, agama apa lagi. Aku sebelumnya ngga pernah makan batagor yang dilubangi ujung plastiknya, atau tiba-tiba berhentiin tukang bakwan malang pas lagi naik motor. Kenapa kalo sama kamu, hal-hal kayak gitu jadi seru bagi aku?"

"..."

"Kamu pake pelet apa sih?emoticon-Ngakak (S)"

Gua piting Okta, lalu gua jitak gemas kepalanya. "Hey, dulu tu kamu yang ngejar-ngejar aku. Suka tiba-tiba nongol, tiba-tiba maksa ngajak jalan, ngomel-ngomel kalo ngga diturutin. Seharusnya aku yang tanya 'kamu pake pelet apa?'sampe aku jatuh hati sama pemaksaan-pemaksaanmu itu?"

Quote:
njek.leh
delet3
japraha47
japraha47 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.