- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.8K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#30
6. Eclair
Quote:
Kanaria
Langit sekarang mulai menampakan lembayung merah yang menandakan jika sang mentari sudah merasa begitu mengantuk. Beberapa saat lagi sang penguasa siang akan segera terlelap, dan menyerahkan tugasnya kepada rembulan.
Seharusnya aku segera pulang, menyiapkan makan malam untuk Aka dan Ayah kemudian mengobrol ringan dengan mereka agar kami menjadi semakin dekat. Bagaimanapun kami masih lah baru saling kenal, maka dari itu bukan kah wajar jika aku berusaha mendekatkan diri?
Namun Kak Leo secara tiba-tiba muncul di mini market saat aku dan Ran berbelanja, lalu seperti biasa kasir aneh itu melakukan sesuatu yang sepertinya memang merupakan ciri khasnya, yaitu mendadak memintaku melakukan sesuatu.
Sialnya entah mengapa pria itu selalu mampu membuatku menurut. Maka dari itu di sinilah aku, berjalan mengikuti kasir aneh itu menuju sebuah bangunan yang nampilan luar bangunan ini nampak agak menyeramkan, mungkin kah itu bekas gudang yang kak Leo sulap menjadi sekolah?
" Hoi, apa itu bangunan yang kau jadikan sekolah " Tanya Ran dengan nada ketakutan. Gadis ini bersikukuh untuk menemaniku, maka dari itu dia berada di sini sambil menenteng belanjaanya itu.
Sementara itu, Ana yang sepertinya mengkhawatirkanku beberapa kali mengingatkan diri ini untuk waspada. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa ikut, bagaimanapun ratu es itu harus segera pulang untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Beberapa kali kak Mira meyakin Ana jika rekan kerjanya itu bukan lah sosok yang ber bahaya.
" Yup, kau benar " kak leo menjawab pertanyaan Ran dengan begitu santainya.
" Bangunan itu nampak angker " Ran memeluk tanganku saat mengatakan hal tersebut.
" Aku setuju denganmu Ran " Ujarku yang membenarkan kata-kata Ran tadi.
" Omong-omong, kenapa kalian jadi kelihatan dekat begitu? Rasanya baru kemarin kau dan gadis brutal ini saling kenal? " Tanya kak Leo.
" Yah ceritanya panjang, nanti saja kita bahasnya " Jawabku yang sebenarnya juga agak bigung dengan situasi antara aku, Ran, Aka dan Ayah.
" Begitu ya, baik lah "
Kami telah sampai di depan gedung bekas gudang itu, di depan pintu masuk aku melihat sebuah papan nama yang cukup besar dan bertuliskan " éclair ". Hoi, bukan kah itu aneh?
" Apa papan itu menunjukan nama dari sekolah ini? " Tanyaku kepada kak LeoLeo.
" Yup kau benar " Pria itu menjawab pertanyaanku dengan nada datar.
" Hoi, mengapa kau menamai sekolah ini dengan nama sebuah kue " Aku mengomentari nama sekolah ini yang kemungkinan besar berasal dari kak Leo.
Dari yang aku tau, éclair adalah sebuah kue asal prancis yang bentuknya mirip dengan kue soes. Dulu ibu sering membawakannya untukku karena di dekat pul busway ada penjual roti yang menyediakan menu tersebut.Aku cukup menyukai kue itu, terlebih lagi yang memiliki rasa tiramisu.

Entah apa yang di pikirkan oleh kasir aneh itu sehingga dia menamakan lembaga yang di dirikan olehnya dengan nama sebuah kue. Bagaimanapun bagi sebuah sekolah, Nama adalah identitas yang bisa mewakili gambaran keseluruhan dari lembaga tersebut dan mencangkup banyak hal, mulai dari motto, Visi hingga misi.
Oleh karena itu, sebuah sekolah itu biasanya memiliki nama indah yang sarat makna, entah itu kata yang berunsur ke ilmuan, seperti Al-ilmu atau nama tokoh terkenal seperti Thariq bin Ziyad atau mungkin juga nama flora dan fauna yang melambangkan sesuatu seperti teratai putih dan lain sebagainya.
" Kana, apa kau tau kata éclair berasal dari bahas apa? " Tanyanya.
" Hmmm Prancis? "
" Kau benar, éclair berasal dari bahasa prancis, yang jika di ubah ke bahasa Indonesia memiliki arti kilatan "
" Lantas? "
" Hmmm Ran, kalau tidak salah namamu itu merupakan bahasa Jepang dari bunga anggrek bukan? " Kak Leo mengajukan pertanyaan kepada Ran.
" Benar "
" Kana, katakan padaku. Nama anak ini yang di ambil dari bunga anggrek, atau bunga anggrek yang mengambil nama anak ini? Sekarang pertanyaan jadi mengarah kepadaku.
" Eh, i.. Itu. Nama Ran yang di ambil dari bunga anggrek "
" Sekarang, mana yang menurutmu benar. Kata kilatan yang di jadikan nama sebuah kue atau nama sebuah kue yang di jadikan kata kilatan dalam sebuah bahasa? "
" Kata kilatan yang di jadikan nama sebuah kue "
" Kau benar, jadi aku memberi nama sekolah ini eclair bukan karena itu nama dari sebuah kue. Melainkan bahasa prancis dari kata kilatan "
" Oh begitu. Jadi kau bermaksud menamai sekolahmu ini kilatan? "
" Begitulah. Aku ingin anak-anak yang ada di sini semuanya menjadi kilatan, datang secara tiba-tiba, mengejutkan semua yang ada, dan menyalim mereka yang semula ada di depan. Selain itu..... "
" Ada lagi? "
" Nama itu menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah ini. Kau mungkin tau, eclair yang selama ini ada dalam benak orang-orang ada lah kue soes ala prancis bukan sekolah bobrok ini. Namun kita lihat, akan kah anak-anak jalanan itu mampu menorehkan banyak prestasi yang nantinya akan membuat dunia bergetar, sehingga kata eclair yang ada di benak orang-orang bukan lagi kue itu, melainkan sekolahku " Mata kak Leo nampak berapi-api ketika mengatakan hal tadi. Tiap ucapannya mengandung semangat membara sampai-sampai diri ini bisa merasakannya.
Sepertinya, mulai sekarang aku tidak akan lagi menganggap kak Leo sebagai pria aneh. Pria ini unik, ya kata itu yang layak untuk di sematkan kepadanya. Karena bagaimanapun pola pikir dia sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Kalau tidak salah namanya out of the box.
" Nah kita sampai " Ujar kak Leo ketika kami tiba di depan pintu bangunan bekas gudang itu. " Mari kita masuk "
Kak Leo, aku dan Ran pun melangkah masuk. Alangkah terkejutnya diri ini ketika mendapati bagian dalam bagunan ini berbeda seratuh delapan puluh derajat dengan apa yang terlihat dari luar. Aku benar-benar kagum pada kasir aneh itu, dia benar-benar menyulap bagunan bekas gudang ini menjadi sebuah tempat belajar.
Bagian dalam baguanan ini seluruhnya di cat dengan warna putih, dan layaknya sebuah kanfas banyak tangan-tangan kreatif yang menghiasi dinding-dinding itu dengan aneka gambar. Mulai dari gedung-gedung hingga panorama alam, entah siapa yang membuay gambar-gambae itu, namun yang jelas aku siap memberinya empat jempol untuk memujinya.
Ada beberapa sekat bambu yang sekarang berada di sisi gedung. Sepertinya sekat itu biasa di gunakan untuk membagi kelas, dan karena sekarang sedang tidak ada pelajaran, benda itu di geser sehingga terbentuk lah sebuah aula yang sangat luas.
Ada begitu banyak macam alat musik di tengah aula mulai dari gitar, biola, trumpet, drum, keyboard dan banyak lagi yang tidak diri ini ketahui namanya. Benar-benar ekskul musik yang mewah untuk ukuran sekolah swadaya, kalau begini sekolahku saja kalah.
Tempat ini ternyata sama sekali tidak kumuh. Benar-benar di luar ekspetasiku, padahal ini sekolah untuk anak jalanan namun kebersihan dan kerapihan seperti merupakan hal yang sangat di junjung oleh para civitas tempat ini.
" Yo anak gunung, mari kita berkumpul " Ujar kak Leo sambil menepuk tangannya.
Seketika anak-anak yang semula asik mengobrol langsung berkumpul. Sekarang, Di hadapan kasir aneh itu, ada sekitar dua pulih anak tengah berbaris dengan begitu rapih. Sial, apa benar mereka semua anak jalanan? Sikap berbaris mereka sangat sempurna.
" Apa kabar semua? " Tanya kak Leo.
" Siap, baik " Jawab anak-anak itu dengan serentak.
" Baik teman-teman, aku ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian. Dia adalah Kana, Diva yang akan bernyanyi di iringi musik yang kalian mainkan " Ujar kak Leo sambil menunjukku.
Sebagai bentuk sambutan, anak-anak itu memberikan tepuk tangan. Sial, bagaimana kah aku harus menanggapi sambutan yang bisa di bilang cukup meriah ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membungkukan badan sambil berkata :
" Mohon bantuannya "
" Baik anak-anak gunung, tenggang waktu kita bisa di bilang sangat mepet. Oleh karena itu, malam ini juga kita akan mulai latihan "
" Kak Leo " Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang berada di barisan paling depan mengangkat tangannya.
" Yo, ada apa Juna " Kak Leo mempersilahkan anak bernama Juna itu untuk bicara.
" Apa dia yang akan bernyanyi untuk penampilan kitu lusa nanti? "
" Yup kau betul "
" Katakan pada kami, berapa persen kemungkinan penampilan kita bagus? "
" Hmmm sepuluh persen "
" Bukan kah itu artinya kau lebih yakin penampilan kita akan buruk? Lantas mengapa kau tidak batalkan saja penampilan tersebut agar kita tidak malu? Bagaimanapun semuanya begitu mendadak, kita baru mempelajari lagu ini kemarin, permainan kami masih jauh dari selaras, di tambah lagi kau tiba-tiba memutuskan untuk mengubah bentuk penampilan dari yang awalnya hanya instrumen, menjadi sebuah nyanyian " Ujar Juna yang langsung membuat wajah anak-anak lainnya nampak murung.
" Aku sepakat dengan Juna " Ujar seorang anak perempuan yang berdiri di sebelah Juna. Kemudian anak-anak lain mulai memberikan pendapat yang keseluruhan nya sama dengan Juna.
" Kak Leo, bukan kah ini buruk " Ujarku sambil menatap kasir itu.
" Teman-teman, katakan padaku. Menurut kalian dalam sebuah balapan, adakah yang jauh lebih buruk daripada mereka yang sampai di finish paling akhir? "
Setelah di beri pertanyaan, Semua yang ada di hadapan kak Leo tiba-tiba terdiam. Ucapan kasir itu terdengar sangat tegas, sehingga dia terlihat lebih seperti sedang memarahi kami.
" Adakah yang bisa menjawab pertanyaan ku? " Tanya kak Leo sekali lagi.
" Aku tau jawabannya " Suara Ran tiba-tiba terdengar, semua mata pun langsung terarah kepadanya.
" Apa jawabanmu Ran "
" Menurutku apa yang jauh lebih buruk dari pada mereka yang sampai di finish paling akhir dalam sebuah balapan adalah mereka yang sama sekali tidak bisa menginjak garis star, atau dengan kata lain tidak bisa mengikuti perlombaan " Ran menjabarkan jawabannya.
" Jawaban yang bagus Ran " Kak Leo memuji Ran dengan mengacungkan jempol ke arahnya " Kalian tau, hal yang terburuk dalam sebuah pertandingan bukan lah kekalahan, melainkan sama sekali tidak bisa ikut dalam pertandingan. Jika dalam balapan, artinya sama sekali tidak bisa berdiri di garis star, berada di garis permulaan saja tidak bisa apa lagi mencapai garis akhir? Jika dalam sepak bola tandanya tidak mampu berada di dalam lapangan, bagaimana kita mau mencetak gol jika menyentuh bola saja mustahil. Maka dari itu cara kalah terburuk dalam sepak bolah bukan lah adu pinalty. Melainkan kalah WO (Walk out) "
Jawaban yang baru saja di katakan oleh Ran lalu di jabarkan kak Leo benar-benar berhasil membuka mataku. Awalnya aku meyakini jika kalah merupakan hal terburuk dalam pertandingan. Aku pernah beberapa kali di utus sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat.
Beberapa kali aku mampu meraih kemenangan, namun tak jarang juga diri ini harus puas dengan kekalahan. Aku termasuk orang yang benci dengan kekalahan, maka dari itu diri ini selalu menganggap jika sesuatu yang sangat buruk dalam sebuah kompetisi adalah kekalahan.
Sama sekali tidak berpartisipasi dalam suatu kompetisi, ya aku yakin itu jauh lebih buruk dari sebuah kekalahan karena bagaimanapun kata menang tidak mungkin di raih, jangan kan menang, untuk kalah pun sudah tidak mungkin. Bayangkan saja Hanya termenung memandangi betapa puasnya mereka yang meraih kemenangan, dan sedihnya mereka yang menjumpai ke kalahan, sial itu jauh lebih buruk.
" Dalam kompetisi, Siklus kalah dan menang itu biasa. Hal yang sangat tidak wajar bukan lah tidak pernah menang, melainkan tidak pernah sekalipun kalah. Siapa yang tidak pernah kalah? Maka jawabannya adalah mereka yang sama sekali tidak berpartisipasi. Nah, semua kembali pada diri kalian masing-masing. Anak-anak, sudikah tim ini merasakan kekalahan? Jika sudi maka kalian masih mungkin meraih kemenangan, karena syarat dari menang adalah siap kalah. Mungkin kah kalian tidak mau merasakan kalah? Baik lah, jika demikian lusa depan kita akan duduk di kursi penonton, memandangi mereka yang puas karena menang dan menguatkan mereka yang kalah. Bagaimana? "Kak Leo mengakhiri petuahnya dengan pertanyaan.
" Kami akan mengikuti kompetisi itu " Ujar seluruh anak yang ada di hadapan kak Leo secara serempak.
" Bagus " Kak Leo memasang senyum puas. Sial, orang ini sepertinya sangat ahli dalam bidang membakar semangat orang-orang. " Teman-teman, sejujurnya aku tidak yakin kita akan menang. Namun percayalah, orang sukses jatuh berkali-kali sementara mereka yang gagal hanya jatuh satu kali? Mengapa? Karena orang sukses biasanya masokis, jika jatuh mereka bangkir, jatuh lagi bangkir lagi hingga perihnya terpuruk kebawah menjadi hal yang bisa di nikmati oleh orang-orang itu "
" Siap, aku mau jadi orang masokis " Ujar Juna yang langsung membuat anak lainnya tertawa. Tapi lucunya setelah tawa itu, anak-anak lain mulai mengikuti kata-kata Juna. Sekumpulan orang masokis, sepertinya tidak buruk juga jika aku menjadi bagian dari mereka.
" Camkan baik-baik dalam benak kalian, pecundang bukan lah mereka yang terus menerus kalah. Melainkan orang-orang yang semasa hidupnya hanya mampu duduk di kursi penonton, tanpa tau panasnya panggung, tegangnya garis star dan besarnya tekanan sebelum kick off di lakukan. Apa kalian mau jadi salah satu pecundang itu? " Teriak kak Leo.
" Tidak " Anak-anak itu membalas dengan teriakan yang jauh lebih keras .
" Kalau begitu, berhenti pesimis dan mulai lah llatihan kanan, apa mau siap menerima menu latihan gila dariku? Besok hari minggu, aku akan memintamu seharian di sini. Apa kau keberatan? "
" Siap tidak " Ujarku mantap.
Sepertinya keputusanku untuk menjadi diva dalam tim ini tidak buruk juga. Banyak hal baru yang aku pelajari, dan tim ini lah yang akan membuatmu berkompetisi di luar bidang akademik untuk pertama kalinya.
" Bagus. Nah sebelum memulai latihan, ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kalian. Jadi duduk lah dulu " Ujar kak Leo sambil mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. Kasir unik itu mengeluarkan sebuah kertas yang aku sinyalir sebagai formulir. " Kita harus memberi nama tim ini, jadi ada yang bisa memberiku saran? "
Semua anak yang ada si hadapan kak Leo pun duduk.
" Kenapa tidak pakai nama Eclair saja? " Tanya Juna.
" Hoy itu nama sekolah, bukan nama tim ini " Kata anak perempuan yang berada di sebelah nya.
" Kana, apa kau punya saran nama? " Juna tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepadaku.
" Hmmm sebentar " Ujarku sambil mengambil posisi duduk di lantai dan mulai berfikir.
" Kak Leo " Ujar gadis yang ada di sebelah Juna sambil mengangkat tangannya.
" Ada para patra? " kak Leo memberikan kesempatan kepada gadis bernama patra itu untuk bertanya.
" Apa gadis yang datang bersama Kana itu akan ikut bergabung ke dalam tim ini juga? " Tanya patra.
" Gadis brutal ini? Ran apa kau mau bergabung ke dalam tim ini? " Kak Leo menyampaikan pertanyaan patra kepada Ran.
" Jika di perbolehkan, maka aku mau. Tapi perlu kau ketahui, aku tidak bisa main alat musik atau pun bernyanyi " Ujar Ran.
" Tenang saja, aku tau kau cocoknya menjadi apa? "
" Awas saja kalau malah menjadikanku tukang angkat barang "
" Haha tentu saja tidak "
" Baik lah aku masuk ke tim ini "
" Selamat bergabung, Teman-teman, dia adalah Ran. Mulai sekarang dia akan menjadi seorang Color guard. " Ujar kak Leo.
" Color guard? " Ran dan aku nampak bigung karena belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
" Detailnya aku jelaskan nanti, untuk sekarang bantu aku memikirkan nama untuk tim " Gerutu kak Leo.
" Aku punya saran " Seorang pria tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk. Pria itu mengenakan kaca mata, berambut aga klimis, postur tubuhnya xukup tinggi dan Wajahnya lumayan tampan.
" Akhirnya kau datang juga Ares, jadi apa saranmu? " Tanya kak Leo.
" Nama tim ini adalah Spartan... "
" Hah? Kau bercanda ya? " Ujar kak Leo.
" Aku serius, dasar bodoh "
" Mengapa harus Spartan ? "
" Karena ini adalah timmu, pasukan sang Leonidas.... "
" Ah aku paham. Leonidas adalah pimpinan pasukan Spartan salam film 300. Nama yang keren, aku setuju dengan kaka ini " Ujarku.

Aku sangat menyukai film itu. Kisah mengenai perjuangan Raja Leonidas dan 300 kaum spartan yang harus melawan Xerxes san tentara persia dalam pertempuran Thermopylae.
" This is Spartan !! " Ujar Ran secara tiba-tiba.
" Aku setuju " Ujar Juna dan patra secara bersamaan. Kemudian semuanyapun ikut menyetujui nama tersebut.
" Tonight, we dine in hell " Kak Ares mengucapkan salah satu Quotes milik king Leonidas sambil tersenyum ke arah kak Leo.
Diubah oleh Rebek22 14-08-2021 23:03
pangerankodo353 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup