Svagat Hain Kaskuser..
Jangan bosen baca caprakan ane yeee.. Xixixi
***Kebun Karet Pencabut Nyawa***
Quote:
Kebun Karet saat ini

Kali ini ane coba menceritakan kembali, informasi yg sengaja ane cari saat ane pulang ke sawangan kemarin. Informasi mengenai keangkeran "kebun karet".. Termasuk kisah " Pak Supri" yg katanya meninggal karna lancang mengambil kayu tanpa permisi. Khusus kisah Pak Supri.. Ane bertanya langsung kepada anak kedua Pak Supri yg kini sudah berusia hampir 52 tahun.
Dulu.. Sebelum ane pindah ke sawangan bahkan mungkin tepatnya sebelum ane lahir.. Perkebunan karet itu tidak seperti yg di foto.. Menurut Bu Rus (anak Pak Supri).. Kebun karet itu Sangat luas.. Lebih luas dari yg ane lihat pertama kali saat pindah kesana. Tidak penuh semak seperti di Foto.. Benar benar hanya jejeran pohon karet..
Pada jaman dahulu sudah menjadi rahasia umum ,jika kebun kebun luas disana akan dijaga oleh makhluk yg tak kasat mata. Alasannya sungguh miris.. Pemilik kebun sengaja meminta kepada orang yg mampu menjadikan makhluk ghaib sebagai "karyawan" untuk menjaga kebun nya 24jam.. Tanpa harus membayar mahal tiap bulannya. Astaghfirullah..
Sebenarnya mengkaryawankan makhluk ghaib itu tidak benar-benar gratis.. Justru harga yg harus dibayar sangat mahal.. Yaitu.. NYAWA..!!!!
Pekerjaan utama Pak Supri adalah usaha peternakan bibit ikan lele skala kecil, ikan lele yg Ia ternak hanya sampai sebesar jari kelilingking saja, setelah itu siap dipanen. Dan karna itulah pekerjaan nya tidak terlalu banyak membuang waktu, hanya memberi makan bibit lele pagi dan sore hari saja, selebihnya waktu Pak Supri gunakan untuk mencari kayu/ranting pohon untuk kemudian ia jual.
Seperti hari itu, katanya hari apes nya Pak Supri. Ia mendapat orderan Kayu bakar yg cukup banyak bahkan stock kayu dirumahnya tidak mencukupi untuk menutupi orderan tersebut.
"Sisanya, Saya tunggu sampai besok ya Pak Supri, karna hajatannya 3 hari lagi. Lusa kayunya sudah mau dipakai untuk masak Pak" pinta pembeli kayu bakar kepada Pak Supri yg di "iyakan" oleh Pak Supri.
Bukan hal sulit bagi Pak Supri mencari kayu bakar yg hanya kurang 4 ikat lagi.. Pak Supri mengayuh sepeda ontelnya keliling desa mencari kayu/ranting yg sekiranya bisa dijadikan kayu bakar. Tapi sampai sore menjelang Pak Supri hanya baru mendapat 1 ikat kayu/ranting. Karna harus memberi makan bibit lelenya.. Pak Supri pun menyudahi pencariannya dan pulang.
Ke'esokan harinya setelah memberi makan bibit lelenya, Pak Supri kembali mencari kayu/ranting yg berjatuhan di kebun atau halaman warga. Setiap ingin mengambil kayu/ranting Pak Supri juga tidak lupa meminta izin pada pemilik kebun bahkan kadang Pak Supri juga tak masalah jika harus membayarnya kalau ingin mengambil sisa pohon yg telah di tebang. Tau kan Gan.. Pohon yg di tebang kadang ga sampai habis.. Ada sisanya sampai akar. Nah itu.. Sisa pohon itu Pak Supri ambil dan dikampak sampai akar.. Kadang ada yg mengratiskan.. Kadang juga ada yg minta dibayar. Bagaimana persetujuan pemiliknya saja.
Anehnya.. Setelah lelah keliling ke beberapa Desa, Pak Supri belum juga mendapatkan hasil, sementara hari sudah semakin siang, dan ini adalah hari terakhir dimana Pak Supri harus memberikan sisa pesanan kayunya kepada pembeli.
Tanpa terasa goesan sepedanya membawa Pak Supri ke Kebun Karet yg berada di Desa ane.. Pak Supri telah melewati 2 Desa sebelumnya. Pak Supri yg sudah lelah bak tertiban durian runtuh mendapati Kebun karet yg dibawah nya banyak sekali ranting2 dan sisa pohon yg telah di tebang. Siang yg terik terasa seperti pagi yg sejuk ketika berada didalam kebun karet. Pak Supri mencari penjaga kebun karet guna meminta izin.. Tapi Pak Supri tidak menemukan siapa siapa disana. Karna waktu semakin cepat berjalan, Pak Supri pendek akal.. Ia lupa bahwa tiap tiap kebun luas yg tidak di jaga oleh manusia biasanya dijaga oleh yg tak kasat mata. Yang ada di pikirannya adalah.. Hari ini Ia bisa mengantarkan sisa pesanan Kayu kepada pembeli sesuai dengan janjinya.
Dengan Kapak yg memang sudah Pak Supri bawa, Ia menghancurkan sisa pohon bekas ditebang sampai ke akar.. Ga terasa Pak Supri sudah mengumpulkan 2 ikat kayu dan 3 ikat ranting. Sebenarnya Pak Supri masih ingin mengumpulkan kayu dan ranting disana.. Tapi Pak Supri urungkan karna merasa kepalanya pusing. Ia ingat.. Siang tadi Ia belum makan.
"Yaa Allah Pak, Bapak dari mana? Wajah Bapak pucat!" tanya Istri Pak Supri setelah melihat nya pulang dengan lesu.
"Bapak habis mencari kayu dikebun karet Desa Mekar Bu dan langsung antar pesanan kayu ke pembeli. Ini kepala Bapak pusing Bu, mungkin karna belum makan siang tadi" Pak Supri duduk dibale depan rumahnya dan menyenderkan tubuhnya didinding bilik rumahnya sambil memijit kepalanya pelan.
"Kenapa Bapak jauh jauh sekali mencari kayu sampai jauh-jauh ke Desa sana Pak. Ya sudah makan dulu Pak" ujar istri Pak Supri yg sudah datang mengantarkan nasi dan lauk pauk ke hadapan Pak Supri.
"Bapak sudah keliling 2 Desa Bu, tapi ga kunjung dapet kayu"
Selesai makan, Pak Supri makin tidak tahan dengan sakit kepala yg Ia rasakan ditambah sendi sendi ditubuhnya sakit seperti ada yg mematah matahkan.. Sakiittt sekali.
"Bu, Bapak seperti tidak kuat untuk memberi makan bibit lele, nanti tolong diberi makan ya Bu, Bapak mau istirahat dikamar" pinta Pak Supri kepada istrinya yg sedang merapihkan piring bekas makan Pak Supri.
"Iya Pak" jawab Istri Pak Supri memandang suaminya yg tertaih berjalan ke kamar.
"Rus, tolong jagain Bapak. Ibu mau kasih makan lele sebentar" pinta Ibunya Bu Rus. Dimana dulu Rus masih berusia 20 tahunan, Rusbsudah menikah dan tinggal disebelah rumah Pak Supri. Tapi belum mempunyai anak.
"Iya Mak" jawab Rus.
Masuk lah Rus ke kamar Bapaknya. Rus melihat Pak Supri sedang guling guling ke kiri dan kanan sambil menjambak rambutnya sendiri. Rus panik..
"Pak.. Bapak kenapa??" Rus mencoba menahan Bapak nya agar tidak guling2an dan di raih tangan Bapaknya yg sedang menjambak rambutnya sendiri. Tangan Rus terasa memegang panci yg baru diangkat dari perapian. Panaaas sekali.
"Sakit Rus.. Sakit.. Aaaaarrggghh"
"Kita ke Pak Mantri aja ya Pak, badan Bapak panas sekali"
"Jangan Rus.. Panggil Mbah Gondrong saja Rus... Aaaaarrrgggghhhh.." Pak Supri mengerang.. Erangannya berubah bukan seperti suara Pak Supri, Bapaknya Rus.
Tangan Pak Supri yg tadinya menjambak rambutnya sendiri, kini berganti mencengkram tangan Rus, matanya melotot menatap kearah Rus.. Masih dengan suara erangan yg terdengar berat.
"Mbah.. Gondroong" ujar Pak supri seperti tercekat.
Rus panik.. Rus takut.. Sekuat tenaga Rus melepas pegangan Bapaknya.. Lalu berlari ke empang menyusul Ibunya.
"Mak.. Maakk.." teriak Rus dengan terus berlari mendekati Ibunya.
"Kenapa Rus??" ibu nya yg panik juga berlari ke arah Rus.
"Bapak Mak.. Bapak"
"Iya Bapak kenapa??"
Rus diam mengatur nafasnya yg naik turun..
"Bapak aneh Mak.. Bapak Seperti kerasukan!!"
"Yang benar kamu Rus kalo ngomong"
"Benar Mak.. Rus ga bohong"
Mereka berdua tergesa gesa menuju rumah. Pintu rumah masih terbuka lebar karna Rus yg panik tadi lupa menutupnya.
Setelah sampai dirumah, Mereka tidak mendapati Pak Supri dikamarnya.
"Ya Allah,, Bapak kemana Rus??" tanya istri Pak Supri ke anaknya Rus.
"Tadi.. Tadi.. Dikamar Mak.." jawab Rus Gugup.
"Yaa Allah Bapak Kemana??" gumam Istri Pak Supri sambil terisak.
Rus mulai mencari Bapaknya, dari kamar lain dirumah itu, dapur juga Rus periksa.. Lemari dirumah itu juga tidak luput Rus periksa.. tapi nihil, Bapaknya tidak ada diruang manapun.
"Mak.. Sebelum Bapak bertingkah aneh, Bapak minta di panggilin Mbah Gondrong, mungkin Bapak kerumah Mbah Gondrong Mak"
"Ayo Rus, antar emak ke Mbah Gondrong"
Mbah Gondrong yg dimaksud adalah "orang pintar" yg mampu mengobati penyakit yg diluar penyakit medis. Disebut Mbah Gondrong.. Karna memang rambutnya sejak dahulu panjang terikat.
Sesampainya mereka di rumah Mbah Gondrong.. Rus dan Ibunya tidak mendapati Pak Supri disana. Mbah Gondrong yg kadung mengetahui hilangnya Pak Supri, meminta istrinya Pak Supri dan Rus menunggu diterasnya sebentar. Mbah Gondrong masuk ke dalam kamarnya.
Entah apa yg dilakukan Mbah Gondrong dikamarnya, setelah keluar.. Mbah Gondrong menghampiri Ibu dan anak itu.
"Pak Supri ada di Kamar Mandi, hayo.. Kita harus segera menolong Pak Supri, sakitnya bukan sakit biasa" Mbah Gondrong berjalan cepat ke arah rumah Pak Supri. Istri Pak Supri dan Rus mengikuti dibelakang.
Ya.. Rus lupa memeriksa kamar mandi yg berada terpisah dibelakang rumahnya.
Istri Pak Supri dan Rus sebenarnya tidak mengerti apa yg dimaksud sakitnya Pak Supri bukan sakit biasa. Tapi karna khawatir dan panik, mereka urung menanyakan maksudnya kepada Mbah Gondrong. Mereka hanya berlari mengikuti Mbah Gondrong.
Benar saja, setelah Mbah Gondrong membuka pintu kamar mandi.. Mereka bertiga mendapati Pak Supri sedang berendam di dalam kolam penampungan air, dengan tubuh telanjang bulat.
"Bapaaaaakk" teriak Rus.
Pak Supri diam.. Matanya terpejam.. Tubuhnya bersandar pada dinding kolam.
Mbah Gondrong dan istri Pak Supri masuk ke dalam. Rus dan suaminya yg kebetulan sudah pulang kerja memperhatikan dari luar kamar mandi. Disana juga sudah ada beberapa warga yg mengetahui kegaduhan dirumah Pak Supri.
Setelah didekati, betapa kagetnya Istri Pak Supri.. Hampir sekujur tubuh Pak Supri memerah bahkan sebagian ada yg sudah menggelupas seperti terbakar.
"Ruuss.. Handuk Rus handuk" belum sempat Rus berlari kedalam rumah untuk mengambil handuk. Mbah Gondrong melarang Rus.
"Jangan handuk. Ambilkan saya kain jarik" pinta Mbah Gondrong. Dengan cepat Rus berlari kedalam rumah dan memberikan kain jarik itu ke Mbah Gondrong.
Warga yg tidak bisa melihat kedalam kamar mandi, bertanya tanya.. Apa yg terjadi dengan Pak Supri. Adzan maghrib berkumandang, bertepatan dengan Mbah Gondrong yg akan membawa Pak Supri ke dalam rumah. Mendengar adzan maghrib.. Warga yg berkumpul segera pulang kerumah masing masing.
Mbah Gondrong dibantu oleh suaminya Rus memindahkan Pak Supri ke dalam rumah. Baru saja tubuh Pak Supri diangkat.. Pak Supri melotot dan berteriak..
"Aaarrrggghhh sakit.. Panas.. Sakiiiiiittt, jangan sentuh sayaaa" Pak Supri menggelengkan kepalanya.. Sementara tangan dan kakinya tak mampu berontak.
"Cepat, segera bawa kekamar" ujar Mbah Gondrong ke menantu Pak Supri.
Mereka berdua tetap mengangkat tubuh Pak Supri kedalam rumah.. Walau Pak Supri tidak berhenti berteriak.. Rus dan ibu nya mengikuti dibelakangnya.. Mereka saling merangkul dan menutup mulutnya menahan isak.
"Ada apa dengan suami saya Mbah?" tanya Istri Pak Supri kepada Mbah Gondrong ketika selesai menaruh suaminya di kasur lantai.
Rus yg berada disana hanya diam memperhatikan keadaan Bapaknya dan mendengarkan apa yg Mbah Gondrong dan Ibunya bicarakan.
"Kemana terakhir Pak Supri pergi Bu?" Mbah Gondrong balik bertanya.
"Suami saya bilang dia habis mencari kayu di kebun karet di Desa Mekar Mbah"
"Hmh.." Mbah Gondrong mengangguk angguk sambil memainkan jenggotnya. Lalu Mbah Gondrong melanjutkan ucapannya.
"Itulah penyebabnya, Penunggu kebun karet tidak terima, Pak Supri mengambil kayu tanpa izin disana, sebagai gantinya penunggu kebun karet itu ingin mengambil nyawa suami Ibu"
"Tidak.. Tidak Mbah.. Kenapa Sebesar itu harga yg harus suami saya bayar Mbah?.. Apa tidak bisa kayunya kita kembalikan Mbah?" tubuh Istri Pak Supri bergetar. Rus yg melihat itu mendekati Ibunya seraya mengusap usap punggungnya.
"Saya akan berusaha untuk merebut Pak Supri dari tangan penunggu Kebun karet itu Bu" Mbah Gondrong berdiri.. Lalu berkata kembali.
"Bu Supri, saya mau pulang dulu sebentar, mau ada yg perlu saya persiapkan. Dan tolong Ibu siapkan juga syarat untuk pengobatan Bapak". Mbah Gondrong menyebutkan beberapa syarat itu.
Quote:
Mohon maaf ane ga sebutin ya syaratnya apa aja.. Soalnya menurut ane ada beberapa syarat yg ga sejalan sama agama.. Ane takut kalo ane sebutin malah jadi bikin orang makin percaya bahwa syarat itu memang bisa menyembuhkan, atau justru tersinggung ane bilang syaratnya bertentangan dgn agama. Dari sekian banyak syarat yg diminta ada satu yg masih ane anggap sedikit wajar yaitu mengambil air dari 7 sumur dengan mata air yg berbeda.
Istri Pak Supri segera membagi tugas untuk memenuhi syarat yg di minta oleh Mbah Gondrong. Dan Rus kebagian menjaga Pak Supri. Sementara Ibu dan suaminya mencari syarat-syarat sesuai tugasnya. Rus tidak sendiri, selepas Isya warga yg masih penasaran apa yg terjadi dengan Pak Supri ikut menemani Rus dirumahnya. Bahkan ada beberapa Bapak-Bapak ikut berjaga jaga diluar rumah Pak Supri.
Waktu sudah mendekati ke jam 10 malam.. Tapi salah satu syarat yg sedang dicari oleh suaminya Rus belum ada. Karna memang hanya tempat tertentu saja yg menjual syarat itu. Sementara Mbah Gondrong sudah siap dengan perlengkapannya.. Asap kemenyan sudah mengepul ke seisi kamar.
Rus yg sedari tadi menemani Bapaknya, tidak tega melihat keadaan Bapaknya seperti itu. Badan nya panas.. Saking panasnya tanpa menyentuh tubuhnya pun hawa panas akan terasa jika didekati. Bagian dada dan punggung ada yg sudah mengelupas.. Kulit ari nya terlihat berkerut, semakin memperlihatkan daging tubuhnya yg kemerahan. Semenjak tadi Pak Supri hanya mampu melenguh.. "Panas.. Sakit.. Tolooong.. Sakit.." tanpa mampu menggerakan tubuhnya. Seperti ada yg menahannya.
Setelah suami Rus datang membawa syarat utama ritual pengobatan Pak Supri.. Mbah Gondrong meminta semua di tata dalam satu tampah. Setelah itu Rus tidak tau apa yg di lakukan Mbah Gondrong di dalam kamar. Karna Rus menunggu diluar kamar bersama dengan Ibunya. Hanya suaminya Rus saja yg menemani Mbah Gondrong didalam kamar.
Dari dalam kamar terdengar suara teriakan Pak Supri nyaring..
"Aaaaaaarrrggghhhhhhhh... "
Dan Berbarengan dengan teriakan Pak Supri.. Dinding yg masih bilik bambu itu seperti ada yg memukul dari luar...
"Braaaaakkkkkkkk"
Sontak membuat orang yg berada didalam rumah Pak Supri kaget dan ketakutan. Setelah itu di susul seperti benda berjatuhan di dapur. Rus yg takut semakin merapatkan diri ke Ibunya. Anehnya apa yg dirasakan didalam rumah, berbeda dengan apa yg dirasakan Bapak-Bapak yg berada diluar rumah. Bapak-Bapak yg diluar rumah diterpa angin yg bertiup kencang.. Terasa amat dingin. Angin yg menerpa mereka juga seperti hanya berputar putar disekelilig rumah Pak Supri.. Karna dikejauhan tidak terlihat pepohonan bergoyang tertiup angin.
Kejadian itu berlangsung sampai lewat tengah malam. Mbah Gondrong keluar kamar. Wajahnya penuh peluh, pucat dan terlihat kelelahan.
"Mohon maaf Bu Supri, saya tidak bisa membantu lebih dari ini" Ujar Mbah Gondrong dihadapan Bu Supri dan Rus yg masih berpelukan.
Beberapa tetangga yg masih bertahan disana mendekat ke arah Bu Supri dan Rus.. Mereka memberikan kekuatan agar Bu Supri dan Rus sabar dan ikhlas.
"Bu Supri air 7 sumur itu dipakai untuk membasuh tubuh Bapak nanti ya... Uhuk uhuk" ujar Mbah Gondrong lemah di ikuti suara batuk.. Ternyata Mbah Gondrong batuk darah.
"Mbah.. Mbah berdarah.." ujar ibu-ibu serempak.
"Tidak apa-apa Ibu-Ibu"
"Kalau begitu Mbah pamit pulang ya. Ohya Rus, suami kamu pingsan dikamar, tapi jangan khawatir, dia ga apa-apa, hanya kaget saja melihat penunggu Kebun karet" Mbah Gondrong berdiri diantar beberapa Ibu-Ibu keluar rumah dan meminta salah satu Bapak-Bapak yg ada diluar unruk mengantar Mbah Gondrong karna khawatir dengan keadaan Mbah Gondrong.
Sementara Rus dan Ibunya berlari ke kamar.. Benar saja.. Suami Rus tergeletak disamping tampah yg berisi syarat-syarat ritual. Sementara Pak Supri terlihat tertidur dengan tenang seperti tidak merasakan sakitnya kulit yg terkelupas. Hanya kadang terdengar suara erangan yg tertahan dilehernya.
Bersumbang ya.. Hehe