Sampurasun Kaskuser...
Maafkan baru sempat OL..
Lanjut lagi ya ke cerita Kaki Gunung Halimun.. Masih dengan anak Babeh yg kage ade duenye.. Hehe
***Kaki Gunung Halimun****
Pagi itu sebenernya ane dan Ochi udah janjian mau ke Gunung Halimun. Tapi, karna kejadian semalam, ane dan Ochi baru bisa tidur subuh dan bangun siang.
"Chi, bangun Chi.. Udah jam stengah 10.. Jadi ga ke gunung?"
"Hmh.. Masih ngantuk gw Rie" Jawab Ochi dilanjut tidur lagi.
"hayoolah Chi.. Gimana ga gemuk lo.. Tidur mulu" kata ane sambil ane tarik tangan Ochi.
Akhirnya Ochi bangun dan kita segera mandi di Kamar mandi Umum sekalian Cuci Baju. Setelah selesai cuci baju.. Kita pamit ke Mak Enoh mau ke Gunung.
"Mak, Ochi mau jalan-jalan dulu ya ke Gunung" ucap Ochi mendekati Mak Enoh yg berada didapur merebus dedaunan.
"Nanti aja Chi, ini sudah mau jam 11, jangan tengah hari disana" ujar Mak Enoh memperingati.
"Sebentar aja Mak, cuma lihat dari dekat aja, ga lama kok, paling adzan dzuhur udah pulang"
Akhirnya Mak Enoh membolehkan dengan syarat jangan masuk ke Gunungnya lebih jauh. Selain itu Ada beberapa larangan lain yg Mak Enoh beritahu ke kita.. Seperti jangan mengeluh cape, jangan nanya terus gunung nya mana, jangan ngomng yg ga sopan, jangan petik daun atau buah-buahan disana.
Berangkatlah ane dan Ochi ke Gunung Halimun sesuai petunjuk dari Mak Enoh.. Tanpa bawa bekal minum apalagi makanan.. Hanya membawa uang disaku.. Karna menurut Mak Enoh, Gunung Halimun nya dekat.. Dan tidak jauh dari jalan masuk ke Gunung, ada sebuah warung disana.
Jalanlah kita menyusuri jalan yg searah dengan Mobil Angkutan Desa.. Hampir 20 menit kita jalan, kita hanya disuguhi dengan pemandangan hamparan padi.. Tidak ada Mobil atau motor yg melintas. Bahkan tanpa ada rumah di kiri dan kanan jalan.
"Aduh Rie.. Cape gw.. Haus.." Ujar Ochi lalu duduk di plesteran mirip trotoar sebagai penghalang pinggiran jembatan diatas sungai kecil.
"Iya, gw juga haus Chi, warung yg Mak Enoh bilang belum keliatan juga!!" ane ikut duduk disebelah Ochi.
"Katanya deket, ini udah lama banget kaga nyampe-nyampe ya" gerutu Ochi, lupa dengan apa yg Mak Enoh peringati.
"Iya ya, perasaan itu gunung kayak menjauh terus" timpal ane.
"Iya bener Rie, kelihatannya aja deket, disamperin makin menjauh ya"
"Apa karna kita ngeluh mulu kali ya Chi, kata Mak Enoh kan kaga boleh ngomong mulu"
"Tau deh Rie, kita balik aja yuk, Rie" ajak Ochi
"Yaahhh, tanggung Chi.. kayaknya dikit lagi sampe dah. Itu disana kelihatan atap rumah.. Tanya-tanya disana aja.. Kalau masih jauh, kita balik"
"Bener lo ya.."
"Iya, bener"
Ochi yang bertubuh gempal, terlihat sekali lelahnya.
Setelah 10 menit perjalanan, sampailah kita di rumah yg atapnya terlihat dari kejauhan tadi.. Ternyata itu adalah sebuah warung.. Mungkin ini Warung yg Mak Enoh bilang.. Tapi Sayangnya tidak jual air mineral.. Terpaksa ane dan Ochi minta air minum ke Ibu pemilik warung, sekalian kita beli cemilan untuk bekal dijalan. Dan menurut Ibu pemilik warung, jalan ke Gunung yg Mak Enoh tunjukan tidak seberapa jauh lagi. Setelah mengucapkan terimakasih, kita lanjut perjalana, dengan tenaga yg sudah kembali full.. semangat 45 lagi.
Sebenarnya setelah dari warung, jelas terlihat dihadapan kita pepohonan yg tumbuh membentuk gunung.. Hanya saja ane dan Ochi belum menemukan jalan masuk ke arah sana, Karna area tepi jalan penuh dengan semak semak yg menjulang tinggi..
Jalanan mulai berbelok ke arah kanan.. Lalu berbelok lagi ke kiri.. Tidak jauh setelah belok ke kiri ternyata ada sebuah perkebunan dibalik semak yg tidak terlalu tinggi.. Sehingga ane dan Ochi bisa melihat seorang Bapak-Bapak yang sedang memanen umbi hasil kebunnya.
"Permisi Pak, kalau mau ke Gunung Halimun lewat mana ya?" tanya Ochi dari balik semak dengan menggunakan bahasa sunda halus.
Bapak yg awalnya membungkuk menoleh sebentar lalu berdiri menatap ane dan Ochi bergantian.
"Eneng berdua mau mendaki??" dahinya terlihat dikerutkan, mungkin aneh dengan kita yg menanyakan gunung tapi tidak membawa apapun.
"Tidak Pak, hanya ingin tau Gunung dari dekat" jawab Ochi. Ane yg ga ngerti bahasa sunda.. Hanya ikutin apa yg di komandokan Ochi aja.
"Oh, lewat sini aja atuh Neng, cuma hati hati, jalannya jarang dilewati, hanya dipakai warga kalau kehutan gunung untuk mencari kayu bakar" tangan si Bapak menuju ujung perbatasan kebun nya..
"Ohiya Pak, terimakasih banyak ya Pak" ucap Ochi menganggukan kepala nya tanda terimakasih.. Begitu juga ane.
"Iya Neng, tapi jangan sampai kehutan ya, sampai di pertigaan jalan aja Neng" ujar Bapak memperingati.
Dari jauh jalanan ini terlihat seperti hanya semak, tapi setelah didekati, ternyata ada jalan setapak dengan lebar kira-kira 30cm. Dari bawah terlihat diatas seperti tanah yg membentuk seperti tangga lebar, tapi ketika ane lintasi ternyata itu petak-petak perkebunan warga yg ditanami umbi-umbian.
Jalanan sedikit sulit karna selain agak menanjak, jalan setapak ini di penuhi semak.. Membuat ane dan Ochi sangat hati-hati berjalan, kalau ga hati-hati.. Akan ada banyak pohon duri mengenai kaki kita.
Benar aja apa yg Bapak tadi bilang.. Kita menemui pertigaan. Dan tepat didepan pertigaan Ane dihadapkan pada batu Gunung yg sangaaaat tinggi dan besar.. Yg ane lihat batu itu berwarna putih berselimut lumut dan pohon rambat. Dari atas sana ane bisa lihat Bapak tadi dikebunnya.
Disana ane n Ochi berdecak kagum.. Ane sentuh batu itu, memandang ujung meraba bebatuan yg tinggi itu.. Akhirnya bisa juga kita sampai di Gunung ini.. Tapi.. Kemenangan kita bisa sampai di pintu masuk hutan membuat kita sedikit lupa dengan pesan Mak Enoh dan Bapak yg dikebun.. Perasaan ingin tau lebih jauh lagi yg membuat kita berdua penasaran ingin masuk ke hutannya.
Di deretan batu besar, itu sudah terlihat pepohon yg menjulang tinggi dengan kontur tanah yg menaik.. Bagian dalam terlihat sedikit gelap karna rimbunnya pepohonan seakan memanggil-manggil kita untuk ikut merasakan suasana sejuk didalamnya.
"Chi, masuk kedalam hutannya yuk, deket aja jgn jauh-jauh" ajak ane ke Ochi yg masih memandangi batu besar didepan kita.
"Hayu hayu.. Seru kayaknya" jawab Ochi antusias.
Jalanlah kita berdua kedalam hutan, Mengikuti jalan setapak yg ada.. Tapi anehnya, setelah kita susuri jalan setapak.. kita berdua malah timbul lagi di pertigaan batu besar, muncul dari arah kanan jalan pertigaan.
"Dih, kok disini lagi.. Salah jalan kita Chi.."
"Kok bisa salah ya??!! Kan kita ikutin jalan setapak" sahut Ochi.
"Coba lagi Chi.. Ada jalan setapak yg ketutup semak kali"
"Iya hayo.."
Setelah lama jalan lagi kedalam hutan, aneh bin ajaib kita nongol lagi ditempat yg sama.. Didepan batu besar..!!!
"Dih.. Kok disini lagi ya Chi.." ujar ane sambil ketawa dan geleng-geleng, tapi penasaran.
"Iya ya Rie, perasaan gw perhatiin kita jalan lurus-lurus aja, ga ada belok ke kanan kekiri. Ini kok kayak kita muterin batu ya??!! Coba sekali lagi Rie, penasaran gw" ajak Ochi..
Bodohnya kita, ane dan Ochi ga merasa itu mungkin adalah sebuah penolakan dari pemilik Gunung. Ane dan Ochi malah udah kayak detektif conan yg mencari ada apa dengan fenomena itu.
Setelah 3x mencoba, ane dan Ochi tetap keluar di jalan setapak Batu Besar. Saat lagi bingung dan linglung.. Alhamdulillahnya, Bapak yg tadi unjukin jalan tiba-tiba sudah ada di jalan setapak yg dari arah bawah.
"Neng" sapa Bapak itu menyadarkan kita.
Seperti sadar dari hipnotis.. Ane baru sadar ada si Bapak dihadapan kita.
"Neng berdua ngapain dari tadi mondar mandir didepan batu ini? Saya panggil-panggil juga diam aja" si Bapak lihat ane dan Ochi secara bergantian..
Dalem hati ane, mungkin Bapak itu tau kita mencoba masuk ke dalam hutan dan mencoba memperingati lagi. Karna tau ane salah.. Ane ga jawab pertanyaan si Bapak, begitupun Ochi.
Karna tidak juga mendapat jawaban dari ane dan Ochi.. Bapak itu melanjutkan lagi ucapannya.
"Cepat pulang Neng, sudah mau ashar"
"Haaaahhhh... Ashaaarr??" ujar ane berbarengan dengan Ochi, kemudian kita saling lihat-lihatan.
"Iya, hayu cepat" ajak Bapak itu.. Lalu membalikan badannya dan berjalan di depan kita. Ane yg berjalan ditengah, kadang menengok kebelakang kearah Ochi.. Ane mengisyarakan apa yg menjadi tanda tanya dihati ane.. "Kok bisa sampe mau Ashar??" Ochi hanya mengangkat bahunya tanda Ochi juga tidak mengerti apa-apa.
Padahal perasaan ane, saat masuk kedalam hutan dekat batu besar itu, kita ga lama berjalan.. Mungkin hanya 10 menit lalu muncul lagi di batu itu.. Kalau 3 kali ane bolak balik, artinya paling hanya menghabiskan waktu sekitar 30menit.. Bagaimana bisa ternyata sudah sampai ashar?? 3 jaman???
Karna tingkat penasaran ane udah diatas rata-rata.. Akhirnya ane coba bertanya ke Bapak yg jalan di depan ane.
"Pak, Bapak tadi lihat kita mondar mandir itu.. Bolak balik gtu Pak?" tanya ane menggunakan bahasa Indonesia.
"Maaf Pak, temen saya ga bisa bahasa Sunda" sela Ochi.
"Oohh iya.."
"Iya Neng, Bapak sudah makan, sudah sholat dzuhur, Bapak kembali ke kebun Neng berdua masih Mondar Mandir diatas sana" Bapak itu menjawab menggunakan Bahasa Indonesia setelah tau dari Ochi, ane ga bisa Bahasa Sunda.
"Kita berdua tadi mencoba masuk kedalam Gunung Pak" ujar ane takut takut.
Bapak itu berhenti lalu nengok ke arah ane dan Ochi bergantian.
"Neng berdua, masuk ke hutan?" tanya Si Bapak dengan mengerutkan keningnya.
"Iya Pak, tapi malah muncul di sana lagi (pertigaan batu besar)"
"Mungkin kalian kena Akar mimang" jawab Bapak itu sambil berjalan kembali.
"Akar Mimang??? Apa itu Pak??? Tanya kita berdua kompak. Tapi si Bapak tidak menjawab. Hanya terdengar suara tertawa pelan.
"Sudah, yang penting jadikan pelajaran saja, kalau dikasih tau itu lebih baik nurut, apalagi kalian berdua bukan penduduk sini, ada baiknya lebih hati-hati dalam hal apapun"
"Iya Pak.. Terimakasih nasehatnya, maaf juga tadi kita ga nurut peringatan Bapak" ucap Ochi
"Saya juga minta maaf ya Pak" timpal ane.
"Ya, tidak apa-apa,masih Alhamdulillah kalian di sesatinnya tidak di dalam hutan. sudah kalian langsung pulang ya"
Setelah mengucapkan terimakasih berkali kali.. Ane dan Ochi segera menyusuri jalan besar. Percaya tidak percaya.. Tidak butuh waktu lama untuk ane dan Ochi sampai ke Rumah Mak Enoh..
Setelah dirumah Mak Enoh, Mak Enoh sudah mengkhawatirkan kita..
"Yaa Allah Gusti.. Kemana aja Chi, katanya cuma mau lihat Gunung dari dekat, kok lama sekali"
Akhirnya Ochi bercerita ke Mak Enoh tentang apa yg kita alami.
"Tah kan.. Ga nurut sih sama Emak.. Sana sholat dzuhur dulu sebentar lagi juga Ashar, setelah itu makan"
Benar aja, saat rokaat ke 3.. Adzan ashar berkumandang. Ane pikir ini adzan dzuhur karna saat ane berada di hutan gunung dekat batu besar harusnya itu masih waktu dzuhur. Entah lah.. Sampai saat ini ane juga ga ngerti kenapa bisa terjadi.
Menurut Mak Enoh.. Memang jalan ke arah sana itu dekat.. Bahkan dedaunan yg Mak Enoh rebus untuk makan siang.. Mak Enoh dapat dari kebun disana.
Kata Mak Enoh, bisa jadi dari awal kita memang sudah di tolak untuk bisa masuk ke Gunung Halimun.. Jadi dibuat jauh dan ga sampe sampe. Dan hal yg membuat ane muter-muter ditempat, kata Mak Enoh membenarkan kalau itu mungkin karna Akar Mimang.. Waktu ane tanya apa itu Akar Mimang. Mak Enoh menjawab itu Kakinya makhluk Ghaib yg suka menyesatkan kita dihutan dengan tanpa sengaja kita langkahi atau kita injak.
Dan mengenai perbedaan waktu antara kita masuk ke Hutan dengan kita yg terlihat mondar Mandir.. Mak Enoh menjawab.. Itu mungkin karna adanya perbedaan waktu antara dunia kita dan dunia mereka (jin).
Wallahu'alam Bishowab..
Ohiya Gan.. Dulu setelah kejadian di Gunung Halimun, ane pernah mau mendaki Gunung Gede Pangrango Via Cibodas bareng pencinta alam kampus. Tapi baru sampe shelter pertama (shelter Tarengtong kalo ga salah) ane udah ga kuat.. Perasaan jauuhhh banget ane mendaki dari pintu masuk ke shelter pertama ini.. badan ane terasa capeee banget... Pundak ane berat, kayak gamblok 5 carrier .. Dada sesak, nafas berat.. Walaupun Carrier udah ane lepas, tapi tetep ane ngerasa berat aja gitu badan.
Akhirnya leader kelompok ane meminta sweeper untuk mengantar ane kembali turun dan pulang. Tapi.. Setelah ane melewati pos Masuk.. Percaya ga percaya Apa yg ane rasakan di Shellter tadi, tiba-tiba hilang seketika.. Ane udah ga kenapa napa.. Bahkan carrier yg dibawain sweeper.. Ane bisa bawa lagi sendiri.
Entah ada apa sama ane.. Ane seperti di blacklist oleh penghuni Gunung.
****
Ohya, sebenernya ane dan Ochi suka denger ruang kelas di sebrang lapangan itu berisik.. Seperti suara meja dan kursi diseret. Bahkan Pernah ane denger seperti suara kursi dibanting. Mak Enoh memang sudah mewanti wanti saat pertama kita datang.. Kalau ada bunyi gaduh di ruang kelas, biarkan aja, jangan diintip apalagi di samperin.
Satu lagi.. Ane pernah berkeinginan malam-malam mau ke saung / gubug ditengah sawah. Indah banget kayaknya sambil natap bintang dilangit. Tapi sayang, dilarang keras oleh Mak Enoh.. Katanya suka ada hantu api. Entah.. Ane ga tau hantu api yg bagaimana.
MAAF OOT yaa..
Agan n Sista Reader mungkin Ada yang tau.. Dimana toko yg jual kaset pita tape jadul? Jangan online ya.. Tapi toko.. Babeh ane kaga ngarti jaman nya udah SDCard.. USB.. Kekeuh minta kaset pita jadul