- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.7K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#576
Part 65
"Kamu pulang sendiri ngga apa apa ya dek?". Minta gua ke Zahra pulang duluan, karena sesuai rencana, gua bakal jalan sama Okta.
"Iya" jawabnya singkat.
Hari itu ada jadwal praktek, jadi gua menyerahkan jaket ke Zahra untuk menyembunyikan wearpack yang dikenakannya. "Nih pake, ati-ati di jalan. Kabarin kalo udah nyampe rumah"
Zahra mengenakan jaket yang gua beri seraya meminta gua segera menghampiri Okta yang sudah menunggu gua berjam-jam di depan sekolah. "Sana loh, cewekmu tambah ngambek nanti"
Yah, walaupun Okta sudah tambah ngambek. Jadwal praktek hari itu sangat padat sampai jam tiga sore, sedangkan Okta sudah pulang sekolah sejak jam satu siang tadi.
"Kalo pulangnya lama tuh bilang dulu, jadi mending aku ke rumah dulu daripada nungguin di sini lama". Gua yang baru masuk mobilnya langsung kena semprot.
Gua emang salah, dan gua hanya bisa minta maaf.
"Kalo maaf bisa nyelesaiin masalah, ngga ada namanya penjara". Balasnya mendengar gua meminta maaf.
Mendengar perkataannya tadi, gua ngga bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menghela nafas.
Lalu turun dari mobil dan menghampiri gerobak cimol yang sedari tadi melambai-lambai.
"Mau?" Gua menawari Okta cimol yang baru aja gua beli.
Okta tak merespon candaan gua. *Wrong time, sorry*.
Segera gua menyalakan speaker di mobilnya, menghabiskan cimol terlebih dahulu, kemudian baru menjalankan mobil ke tempat tujuan.
Kali ini, pilihan gua jatuh ke salah satu tempat makan yang berada di area pertokoan Citragrand.
"Wuu, londo kreak. Dolane ning citragrand"
"raksah cangkeman"
Sepanjang jalan, Okta tak mengucapkan sepatah katapun. Tangannya dilipat, pandangan mukanya selalu diarahkan ke kiri jalan. Seakan enggan untuk gua lihat parasnya yang imut ketika cemberut.
Sesampainya di tempat tujuan pun, dia masih puasa berbicara untum beberapa saat. Sampai gua membuka omongan perihal yang membuat kami berdua bertengkar.
"Gracia Oktavia, dengan ini Londo meminta maaf. Minta maaf karena terlalu cakep, sampai banyak cewek-cewek yang mau ngerebut aku dari kamu. Sehingga mengakibatkan Okta cemburu"
"Dih, pede" jawabnya ketus, dibarengi dengan senyum menahan tawa.
"Maaf, karena Londo yang terlalu sibuk menuntut ilmu hingga membuat Okta menunggu terlalu lama. Maaf juga atas tragedi cimol barusan"
Kali ini Okta bisa tertawa lebih lepas karena metode permintaan maaf gua.
"Apa sih, gaje" balas Okta. "Saya, Gracia Oktavia memaafkan londo atas semua kesalah pahaman selama ini." Lanjutnya.
"Walau udah pasti pisah, tapi aku belum siap. Aku pengen manfaatin waktu yang tinggal sedikit sebaik mungkin ta. Masalah sepele jangan digede-gedein lagi ya, tolong"
Okta mengangguk pelan.
"Ja, aku pengen quality time bareng kamu. Weekend kita ke Jogja ya?" Pintanya lirih, Gua mengiyakan.
Gua mematikan rokok yang tinggal sedikit, kemudian pindah ke kursi di samping Okta.
Kepala Okta bersandar di pundak gua. Orang-orang di sana memandang kami berdua dengan pandangan heran.
Wearpack kebanggan STM gua sangat kontras jika harus bersanding dengan seragam osis SMA milik Okta.
Bagaimana mungkin, bocah berandal dari salah satu STM terkuat di Kota berpacaran dengan cewek cantik asal SMA yang terkenal sebagai sekolahnya anak-anak pejabat provinsi.
Begitu mungkin pikir mereka yang melihat gua dan Okta.
Disela-sela kemesraan yang baru kembali pulih, Handphone gua berdering. Nama Zahra muncul di layar.
"Mas, aku udah nyampe, udah ganti baju, udah makan" ucapnya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Whatsapp aja kan bisa dek, ngapain telepon segala. Ganggu orang pacaran aja kamu ah" balas gua sedikit kesal.
"Cieee yang udah baikan" ejek Zahra dari seberang sana.
Okta yang berada tepat di samping gua tersenyum salting mendengar ejekan Zahra.
"Iya" jawabnya singkat.
Hari itu ada jadwal praktek, jadi gua menyerahkan jaket ke Zahra untuk menyembunyikan wearpack yang dikenakannya. "Nih pake, ati-ati di jalan. Kabarin kalo udah nyampe rumah"
Zahra mengenakan jaket yang gua beri seraya meminta gua segera menghampiri Okta yang sudah menunggu gua berjam-jam di depan sekolah. "Sana loh, cewekmu tambah ngambek nanti"
Yah, walaupun Okta sudah tambah ngambek. Jadwal praktek hari itu sangat padat sampai jam tiga sore, sedangkan Okta sudah pulang sekolah sejak jam satu siang tadi.
"Kalo pulangnya lama tuh bilang dulu, jadi mending aku ke rumah dulu daripada nungguin di sini lama". Gua yang baru masuk mobilnya langsung kena semprot.
Gua emang salah, dan gua hanya bisa minta maaf.
"Kalo maaf bisa nyelesaiin masalah, ngga ada namanya penjara". Balasnya mendengar gua meminta maaf.
Mendengar perkataannya tadi, gua ngga bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menghela nafas.
Lalu turun dari mobil dan menghampiri gerobak cimol yang sedari tadi melambai-lambai.
"Mau?" Gua menawari Okta cimol yang baru aja gua beli.
Okta tak merespon candaan gua. *Wrong time, sorry*.
Segera gua menyalakan speaker di mobilnya, menghabiskan cimol terlebih dahulu, kemudian baru menjalankan mobil ke tempat tujuan.
Kali ini, pilihan gua jatuh ke salah satu tempat makan yang berada di area pertokoan Citragrand.
"Wuu, londo kreak. Dolane ning citragrand"
"raksah cangkeman"
Sepanjang jalan, Okta tak mengucapkan sepatah katapun. Tangannya dilipat, pandangan mukanya selalu diarahkan ke kiri jalan. Seakan enggan untuk gua lihat parasnya yang imut ketika cemberut.
Sesampainya di tempat tujuan pun, dia masih puasa berbicara untum beberapa saat. Sampai gua membuka omongan perihal yang membuat kami berdua bertengkar.
"Gracia Oktavia, dengan ini Londo meminta maaf. Minta maaf karena terlalu cakep, sampai banyak cewek-cewek yang mau ngerebut aku dari kamu. Sehingga mengakibatkan Okta cemburu"
"Dih, pede" jawabnya ketus, dibarengi dengan senyum menahan tawa.
"Maaf, karena Londo yang terlalu sibuk menuntut ilmu hingga membuat Okta menunggu terlalu lama. Maaf juga atas tragedi cimol barusan"
Kali ini Okta bisa tertawa lebih lepas karena metode permintaan maaf gua.
"Apa sih, gaje" balas Okta. "Saya, Gracia Oktavia memaafkan londo atas semua kesalah pahaman selama ini." Lanjutnya.
"Walau udah pasti pisah, tapi aku belum siap. Aku pengen manfaatin waktu yang tinggal sedikit sebaik mungkin ta. Masalah sepele jangan digede-gedein lagi ya, tolong"
Okta mengangguk pelan.
"Ja, aku pengen quality time bareng kamu. Weekend kita ke Jogja ya?" Pintanya lirih, Gua mengiyakan.
Gua mematikan rokok yang tinggal sedikit, kemudian pindah ke kursi di samping Okta.
Kepala Okta bersandar di pundak gua. Orang-orang di sana memandang kami berdua dengan pandangan heran.
Wearpack kebanggan STM gua sangat kontras jika harus bersanding dengan seragam osis SMA milik Okta.
Bagaimana mungkin, bocah berandal dari salah satu STM terkuat di Kota berpacaran dengan cewek cantik asal SMA yang terkenal sebagai sekolahnya anak-anak pejabat provinsi.
Begitu mungkin pikir mereka yang melihat gua dan Okta.
Disela-sela kemesraan yang baru kembali pulih, Handphone gua berdering. Nama Zahra muncul di layar.
"Mas, aku udah nyampe, udah ganti baju, udah makan" ucapnya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Whatsapp aja kan bisa dek, ngapain telepon segala. Ganggu orang pacaran aja kamu ah" balas gua sedikit kesal.
"Cieee yang udah baikan" ejek Zahra dari seberang sana.
Okta yang berada tepat di samping gua tersenyum salting mendengar ejekan Zahra.
mirzazmee dan 9 lainnya memberi reputasi
10