- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.9K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#25
2.Sunyi
Kanaria
Menurutmu Apa itu cinta? Sebuab pertanyaan yang sangat simpel namun dapat memunculkan begitu banyak jawaban. Aku pernah menemukan salah satu jawaban dari pertanyaan tadi di sebuah buku yang sempat ramai di perbincangkan oleh banyak orang yaitu the Jorney of necromancer.
Jawaban yang ada di dalam buku itu sangat bagus dan masuk akal, cara penulis menyajikanpun begitu menarik karena dia membalut jawaban tersebut dengan sebuah kisah yang bisa di bilang cukup tragis.
Di paragraf awal bab ke sepuluh yang berjudul " the origin of venus " Pertanyaan tadi muncul, kemudian setelah beberapa kalimat pembuka cerita pun di mulai. Sebagaimana judulnya kisah dalam bab ini secara garis besar akan menceritakan asal-usul planet Venus.
Al kisah, ada dua orang malaikat yang bertanya kepada tuhan, tentang apa yang menyebab kan dirinya begitu mencintai manusia, sekalipun mahluk ciptaannya itu sering kali membuat kerusakan di muka bumi.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Tuhan memberikan tantangan kepada kedua malaikat itu. Yaitu membuat keduanya memiliki Hasrat dan cinta lalu menurunkan mereka ke bumi sebagai laki-laki. Sebagai mana yang kita semua tau, malaikat di ciptakan dari cahaya, tanpa memiliki hasrat ataupun cinta, dan hanya mampu menjalankan perintah Tuhan.
Setibanya di bumi, Mereka di minta untuk berbaur dengan manusia, aturan tantangan itu hanya satu, mereka dilarang memberi tahu kan rahasia langit kepada siapapun yang keduanya temui nanti.
Singkat cerita, setelah lama hidup di bumi. Salah satu dari malaikat itu jatuh hati pada seorang wanita. Hingga pada akhirnya cintapun tumbuh di antara keduanya hingga pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.
Suatu hari Tuhan memanggil kembali kedua malaikat itu ke langit dan mengatakan jika tantangan yang dirinya berikan kepada mereka telah usai. Hal itu membuat hati malaikat yang sudah jatuh cinta pada seorang manusia tadi mengalami kontradiksi.
Dia tidak mau meninggalkan kekasihnya namun di sisi lain dia takut akan murka penciptanya. Malaikat itu memutuskan untuk mengambil jalan tengah dengan mengajarkan kekasihnya cara terbang agar keduanya bisa tetap bertemu di langit.
Malaikat itu secara tidak langsung memberi tahu kan salah satu rahasia langit pada sang kekasih, yang artinya dia telah melanggar peraturan. Sang kekasih akhirnya bisa terbang, namun karena melanggar peraturan, perempuan itupun harus menerima kutukan. Tuhan mengubah wujud wanita itu kebentuk awal manusia yaitu tanah dan membiarkannya terbang begitu saja di atas langit.
Sementara itu sang malaikat di ubah juga ke wujud semulanya yaitu cahaya, dan sebagai bentuk belas kasihan Tuhan, keduanyapun disatukan di langit. Wujud tanah wanita itu di padatkan hingga menjadi planet, lalu di sandingkan dengan cahaya sang malaikat.
Kemudian jadilah Venus, planet yang paling terang dalam sistem tata surya kita. Dalam astronomi Venus juga di beri julukan si bintang Fajar, atau biasa kita sebut kejora. Cahaya matahari yang di pantulkan olehnya begitu terang hingga planet tersebut sering di sangka bintang oleh orang-orang. Selain itu, Venus adalah nama Romawi dari aprodite sang dewi cinta dari miteologi Yunani.
Seoranh garis SMA keluyuran hingga larut malam bahkan sampai hari berganti, menghampiri sebuah mini market dengan rambut acak-acakan, menenteng sebuah koper dan meminjam uang kepada seseorang yang baru pertama kali di temuinya, menyerang paman kasir yang terlihat mencurigakan kemudian meminta agar dirinya di izinkan menginap di rumahku.
Menurutmu apakah hal-hal yang baru saja aku sebutkan lazim bagi seorang anak SMA? Jawabannya jelas tidak. Aku memandangi wajah Ran yang sekarang mulai mengukir kan raut memelas kepada diri ini.
" Seharusnya aku menanyakan ini dari tadi, Ran apa kau kabur dari rumah? " Ujarku melontarkan pertanyaan yang sama dengan kak Leo tadi.
" Ti... Tidak "
" Lantas mengapa kau menenteng sebuah koper dan meminta agar di perbolehkan menginap di rumahku? "
" Ya... Itu, ah lupakan haha. Kana lupakan permintaanku yang tadi ya " Ran berbalik dan mulai beranjak menjauhi mini market sambil menenteng kopernya.
" Hoi kau mau kemana? "
" Pu... Pulang "
" Pulang kemana? "
" Ru... Rumahku dekat dari sini " Ran jelas berbohong karena dirinya sedang menunjukan ekspresi kebingungan.
" Jika mau berbohong, setidaknya pasang lah ekspresi datar agar aku tidak menyadarinya "
" A.. Aku tidak berbohong "
" Ayo ke rumahku, kau boleh menginap semalaman " Ajakku sambil mulai melangkah meninggalkan super market.
" Su... Sungguh? " Ran mengubah haluannya menjadi ke arahku.
" Yup, kau boleh menginap selama kabaru dari rumah "
" A.. Aku sedang tidak kabur dari rumah " Ran nampak sangat kesal ketika aku menganggapnya melakukan hal tersebut.
" Baik lah, aku percaya "
" Apa kau di bolehkan keluar hingga selarut ini oleh orang tuamu? Dan lagi, apakah mereka akan memperbolehkan diri ini menginap? " Tanya Ran.
" Jelas tidak boleh, saat ini mungkin ibuku sedang memperhatikan diri ini dari sana " Jawabku sambil menunjuk langit.
" Langit? " Ran terlihat bigung setelah mendengar jawabanku.
" Ya, baru kemarin beliau meninggal "
" Eh? Maafkan aku karena telah menyinggung hal yang sangat sensitif " Ran nampak kalang kabut.
" Haha santai saja, oleh karena itu aku akan membiarkanmu menginap. Ayahku ada pekerjaan sehingga baru bisa pulang hari ini, maka dari itu diri ini membutuhkan teman untuk menghilangkan kesunyian yang memenuhi rumahku "
Entah tindakan yang diri ini ambil merupakan hal yang benar atau tidak, membiarkan orang asing yang tidak jelas asal usulnya menginap di rumah? Sepertinya orang normal akan menganggapnya tidak. Ran memang terlihat baik dan polos, namun di dunia ini ada begitu banyak manusia yang hidup menggunakan topeng sehingga menilai hanya dengan sekali lihat merupakan tindakan yang terlampau salah.
Namun aku akan tetap menganggap tindakan yang diri ini ambil benar, bagaimanapun ibu selalu saja memberi nasehat tentang selalu meringankan tangan untuk menolong orang lain.
Tidak semua orang mau mengungkapkan kesulitannya kepada yang lain, maka dari itu ulurkan tanganmu pada siapa saja sebab bisa saja salah satu sosok yang meraihnya merupakan orang yang benar-benar membutubkan bantuan.Jika ibu masih hidup dan berada di posisiku, wanita itu pasti akan menolong Ran dan memberinya tempat menginap.
" Kau tau, aku paham dengan kesunyian yang dirimu maksud tadi " Ujar Ran secara tiba-tiba. Dia menghentikan langkahnya, kemudian gadis itu langsung memelukku dan membenamkan wajahnya ke arah dada ini " Kesunyian yang kini ada di rumahmu pasti terasa begitu menyesakan bukan? "
" Kau benar, maka dari itu aku memutuskan untuk keluyuran " Aku bingung harus bertindak bagaimana, maka dari itu diri ini memutuskan untuk mengelus kepalanya.
" Aku pernah merasakan betapa menyesakkan ya kesunyian yang muncul setelan kita kehilangan seseorang "
" A.. Apakah salah satu orang tuamu telah tiada? " Tanyaku dengan sangat hati-hati. Bagaimanapun pertanyaan yang baru saja terlontar menyinggung sesuatu yang sangat sensitif.
" Keduanya telah tiada di dunia ini. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa ayah dan ibuku sekaligus " Jawaban Ran jelas membuatku tertegun, kehilangan ibu saja sudah nyaris membuatku gila. Bagaimana dengan dirinya yang harus menemui alur pilu berupa kehilangan ganda?
" Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa orang tuamu Ran " Ujarku sambil memeluknya, kamipun jadi saling berpelukan.
" Semoga kehadiranku mampu menyingkap tabir kesunyian yang ada di rumahmu. Aku tau tidak banyak yang bisa diri ini lakukan, tapi aku yakin yang paling kau butuhkan kaki ini bukan lah hal mewah, melainkan seseorang yang bisa di ajak bicara " Ujar Ran sambil melepas pelukannya.
" Haha aku menunggu itu. Namun kau harus membantuku mengurus pekerjaan rumah, Ok " Akupun melakukan hal yang sama dengan Ran, melepas pelukan kemudian kembali menapaki langkah menuju rumah.
" Siap bos "
Menyikap tabir kesunyian yang muncul setelah kehilangan ya? Sejujurnya sendari tadi aku sangat takut untuk pulang dan menghadapi hal itu seorang diri. Entah karena takdir atau apa, Sekarang ada seseorang yang menawarkan dirinya untuk menyingkap tabir itu bersama.
Dia pernah merasakan apa yang tengah diri ini alami. Maka wajar jika Ran tau apa yang paling aku butuhkan saat ini. Bukan hal mewah, hanya seorang teman bicara yang bisa membuatku sedikit melupakan perihnya rasa kehilangan dan sunyinya di tinggal sendirian.
" Ran maaf jika aku menanyakan hal ini. Sekarang kau tinggal bersama siapa? " Ujarku menanyakan salah satu tanda tanya besar yang sendari tadi berputar dalam benak ini.
" Kaka kembarku dan seorang ayah angkat " Jawab Ran.
" Sekarang kemana kah mereka ? "
" Kakakku mendapatkan program pertukaran pelajar, dan dia sekarang berkesempatan mencoba salah satu sekolah ternama di Yogyakarta "
" Yogyakarta ? " Aku jelas kaget mendengar nama kota itu. Bukan kah yogyakarta baru di landa bencana? Bagaimana nasip kakanya? Mungkin kah?
" Haha tenang saja, kakaku selamat dan ayah sedang pergi menjemputnya " Ujar Ran yang seakan mampu membaca isi pikiranku.
" Huh syukur lah " Entah mengapa aku jadi ikut lega ketika mendengarnya.
" Jika dia juga di jemput oleh sang maut. Aku tidak tau apakah pikiran ini akan mampu tetap waras atau tidak.
" Ran apa kau berasal dari jakarta juga? " Tanyaku yanng tidak mau sepanjang perjalanan di isi hanya dengan diam.
" Tidak, aku berasal dari bogor "
" Hah? "
" Haha begitulah, aku memiliki sebuah tujuan di kota ini. Sialnya uangku habis, begitu pun dengan baterai dan diri ini tidak tau apapun mengenai ibu kota "
" Ran, mengapa kau ada di jakarta seorang diri? Kenapa dirimu tidak ikut ayahmu? Apa tujuanmu datang ke sini? " Aku semakin penasaran dengan penyebabnya terdampar di jakarta seperti sekarang ini.
" Diri ini sedang mencari kaka angkatku " Jawaba Ran.
" Kaka angkat? "
" Begitulah, dia merupakan putri kandung dari ayah angkatku "
" Mengapa kau mencarinya? Apakah dia hilang? "
" Kana, bagiku kau begitu mirip dengan ayah angkatku itu. Mau begitu saja menolongku padahal baru beberapa menit yang lalu kita bertemu dan saling mengenal. Setelah kedua orang tuaku tewas, kerabat dekat bahkan para saudara menolak untuk merawat kami, saat itu langit seakan runtuh dan menimpa alur kehidupan ini. Namun pria itu tiba-tiba muncul, dan menawarkan diri untuk merawat kami berdua. Pada akhirnya dialah yang membesarkan kami hingga seperti sekarang ini " Ran mulai menceritakan masa lalunya.
" Sungguh, mulia sekali hati ayah angkatku itu " Aku sangat kagum dengan kebaikan hati ayah angkatnya Ran. Mau membesarkan sepasang saudara kembar yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya merupakan hal yang layak di banjiri pujian.
" Aku berulang kali bertanya kepadanya, mengapa dia mau mengasuh kami? Dan lisan pria itu selalu menjawab jika ini adalah sebagai bentuk penebusan dosa "
" Penebusan dosa? "
" Ya dia berkata jika dirinya punya seorang putri dan sesosok istri di jakarta, dulu dia sering menyiksa keduanya hingga suatu hari dirinya di usir dari rumah. Setelah di usir dan pergi meninggalkan ibu kota, pria itu pun tersadar jika perbuatan terhadap anak istrinya selama ini merupakan hal yang tercela. Dia ingin berubah menjadi lebih baik dan menebus dosanya dengan cara merawat kami "
" Apakah selama merawatmu dia bertindak kejam? "
" Tidak sama sekali, dia begitu baik dan pengertian. Bahkan berkat didikannya kakaku bisa menjadi sosok yang luar biasa, begitu juga diri ini "
" Syukur lah jika demikian "
" Baru-baru ini ayah berkeinginan untuk mempersarukan kami, kembali menemui istrinya untuk mengajak hidup bersama lagi. Walaupun besar kemungkinan Putri kandungnya masih membenci dirinya dan enggan menganggap pria itu sebagai ayah. Maka dari itu aku ingin melakukan sesuatu untuknya agar keinginan ayah terwujud "
" Kau mau melakukan apa? " Tanyaku penasaran.
" Aku ingin bertemu putri kandung ayah, lalu meyakinkannya jika pria itu sudah berubah dan bukan lagi merupakan sesosok bajingan "
" A... Apakah ayahmu yang meminta kau untuk melakukan hal tersebut? "
" Tidak, aku lah yang ingin melakukannya sendiri. Aku siap menuruti segala permintaanya sekalipun dirinya memintaku untuk bersujud atau memukuli tubuh ini hingga babak belur "
Kesungguhan yang terpancar dari mata Ran sangatlah luar biasa. Dia benar-benar siap melakukan apapun demi menemui kaka angkatnya. Bahkan gadis itu berani meninggalkan bogor dan seorang diri pergi ke ibu kota hanya untuk meyakinkan saudara angkatnya jika sangat ayah tidak kah seberengsek dulu.
Ayah angkatnya mengulurkan tangan sesaat sebelum Ran terjerumus dalam lubang keputus asaan, pria itu menarik kembali gadis yang telah kehilangan segalanya dan menuntunnya hingga menemui alur yang begitu cerah.
Maka wajar jika rasa cinta Ran terhadap pria itu teramat besar, sehingga apapun siap dirinya lakukan demi membantu ayahnya. Ya memang begitulah cinta, perasaaan spesial yang ada di hati setiap manusia. Perasaan itu mampu membuat seseorang melakukan hal yang di luar nalar. Karena cinta, Seorang ibu rela mengorbankan nyawanya saat melahirkan sang anak dan karena cinta juga sesosok ayah rela banting tulang hingga keringat dan darah membasahi seluruh tubuh hanya demi keluarganya.
Ah aku jadi teringat bab ke sepuluh dari buku the jorney of necromancerm seorang malaikat rela menentang peraturan Tuhan demi kekasihnya, mungkin sebagian orang yang membaca nya akan menganggap malaikat itu bodoh.
Namun bagiku, apa yang di lakukan sang malaikat sangat lah luar biasa. Demi seseorang yang di cintai nya dia sampai berani menentang Tuhan, hal itupun jelas membuat penciptanya kagum dan menghadiahi keduanya kebersamaan yang abadi.
" Kau luar biasa Ran " Pujiku.
" Haha semua orang akan melakukan hal yang sama denganku jika memiliki sesuatu yang mereka cintai "
" Kau benar "
" Seperti kak Leo, yang mau melakukan apapun demi tim musiknya "
" Haha kau benar "
" Sungguh aku ingin melihat wujud tim yang begitu pria itu cintai "
" Akupun demikian, maka dari itu tawaran yang pria itu berikan segera diri ini Terima "
" Haha semoga aku bisa melihat tim itu juga "
" Ran, seperti wujud kaka angkatmu dan di makah dia sekarang? " Tanyaku
" Haha, aku juga tidak tau. Sejujurnya aku hanya bermodal nekat ke Jakarta "
" Eh? " Ucapannya yang tanpa beban tadi jelas membuatku kaget.
" Besok aku akan mencarinya seharian, petunjuk yang aku punya hanyalah dia berada di daerah ini, dan merupakan gadis cantik yang memiliki sikap dewasa "
Petunjuk macam apa itu? Jelas-jelas informasi yang Ran miliki sangat kurang. Aku tidak boleh membiarkan ya keluyuran begitu saja di ibu kota ini. Baiklah, aku akan menemaninya besok.
" Baiklah aku akan menemanimu besok "
" Sungguh? "
" Ya lagi pula aku senggang "
" Terima kasih Kana "
Tanpa terasa kami sudah berjalan cukup jauh dan hanya tinggal beberapa meter lagi kami akan tiba di rumahku. Sekarang sudah pukul tiga pagi, sungguh rekor keluyuran paling lama yang pernah aku lakukan.
" Nah Ran ini rumahku, kau bisa mandi dan segera tidur di kamarku " Ujarku setibanya kamu di depan rumah.
Menurutmu Apa itu cinta? Sebuab pertanyaan yang sangat simpel namun dapat memunculkan begitu banyak jawaban. Aku pernah menemukan salah satu jawaban dari pertanyaan tadi di sebuah buku yang sempat ramai di perbincangkan oleh banyak orang yaitu the Jorney of necromancer.
Jawaban yang ada di dalam buku itu sangat bagus dan masuk akal, cara penulis menyajikanpun begitu menarik karena dia membalut jawaban tersebut dengan sebuah kisah yang bisa di bilang cukup tragis.
Di paragraf awal bab ke sepuluh yang berjudul " the origin of venus " Pertanyaan tadi muncul, kemudian setelah beberapa kalimat pembuka cerita pun di mulai. Sebagaimana judulnya kisah dalam bab ini secara garis besar akan menceritakan asal-usul planet Venus.
Al kisah, ada dua orang malaikat yang bertanya kepada tuhan, tentang apa yang menyebab kan dirinya begitu mencintai manusia, sekalipun mahluk ciptaannya itu sering kali membuat kerusakan di muka bumi.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Tuhan memberikan tantangan kepada kedua malaikat itu. Yaitu membuat keduanya memiliki Hasrat dan cinta lalu menurunkan mereka ke bumi sebagai laki-laki. Sebagai mana yang kita semua tau, malaikat di ciptakan dari cahaya, tanpa memiliki hasrat ataupun cinta, dan hanya mampu menjalankan perintah Tuhan.
Setibanya di bumi, Mereka di minta untuk berbaur dengan manusia, aturan tantangan itu hanya satu, mereka dilarang memberi tahu kan rahasia langit kepada siapapun yang keduanya temui nanti.
Singkat cerita, setelah lama hidup di bumi. Salah satu dari malaikat itu jatuh hati pada seorang wanita. Hingga pada akhirnya cintapun tumbuh di antara keduanya hingga pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.
Suatu hari Tuhan memanggil kembali kedua malaikat itu ke langit dan mengatakan jika tantangan yang dirinya berikan kepada mereka telah usai. Hal itu membuat hati malaikat yang sudah jatuh cinta pada seorang manusia tadi mengalami kontradiksi.
Dia tidak mau meninggalkan kekasihnya namun di sisi lain dia takut akan murka penciptanya. Malaikat itu memutuskan untuk mengambil jalan tengah dengan mengajarkan kekasihnya cara terbang agar keduanya bisa tetap bertemu di langit.
Malaikat itu secara tidak langsung memberi tahu kan salah satu rahasia langit pada sang kekasih, yang artinya dia telah melanggar peraturan. Sang kekasih akhirnya bisa terbang, namun karena melanggar peraturan, perempuan itupun harus menerima kutukan. Tuhan mengubah wujud wanita itu kebentuk awal manusia yaitu tanah dan membiarkannya terbang begitu saja di atas langit.
Sementara itu sang malaikat di ubah juga ke wujud semulanya yaitu cahaya, dan sebagai bentuk belas kasihan Tuhan, keduanyapun disatukan di langit. Wujud tanah wanita itu di padatkan hingga menjadi planet, lalu di sandingkan dengan cahaya sang malaikat.
Kemudian jadilah Venus, planet yang paling terang dalam sistem tata surya kita. Dalam astronomi Venus juga di beri julukan si bintang Fajar, atau biasa kita sebut kejora. Cahaya matahari yang di pantulkan olehnya begitu terang hingga planet tersebut sering di sangka bintang oleh orang-orang. Selain itu, Venus adalah nama Romawi dari aprodite sang dewi cinta dari miteologi Yunani.
Seoranh garis SMA keluyuran hingga larut malam bahkan sampai hari berganti, menghampiri sebuah mini market dengan rambut acak-acakan, menenteng sebuah koper dan meminjam uang kepada seseorang yang baru pertama kali di temuinya, menyerang paman kasir yang terlihat mencurigakan kemudian meminta agar dirinya di izinkan menginap di rumahku.
Menurutmu apakah hal-hal yang baru saja aku sebutkan lazim bagi seorang anak SMA? Jawabannya jelas tidak. Aku memandangi wajah Ran yang sekarang mulai mengukir kan raut memelas kepada diri ini.
" Seharusnya aku menanyakan ini dari tadi, Ran apa kau kabur dari rumah? " Ujarku melontarkan pertanyaan yang sama dengan kak Leo tadi.
" Ti... Tidak "
" Lantas mengapa kau menenteng sebuah koper dan meminta agar di perbolehkan menginap di rumahku? "
" Ya... Itu, ah lupakan haha. Kana lupakan permintaanku yang tadi ya " Ran berbalik dan mulai beranjak menjauhi mini market sambil menenteng kopernya.
" Hoi kau mau kemana? "
" Pu... Pulang "
" Pulang kemana? "
" Ru... Rumahku dekat dari sini " Ran jelas berbohong karena dirinya sedang menunjukan ekspresi kebingungan.
" Jika mau berbohong, setidaknya pasang lah ekspresi datar agar aku tidak menyadarinya "
" A.. Aku tidak berbohong "
" Ayo ke rumahku, kau boleh menginap semalaman " Ajakku sambil mulai melangkah meninggalkan super market.
" Su... Sungguh? " Ran mengubah haluannya menjadi ke arahku.
" Yup, kau boleh menginap selama kabaru dari rumah "
" A.. Aku sedang tidak kabur dari rumah " Ran nampak sangat kesal ketika aku menganggapnya melakukan hal tersebut.
" Baik lah, aku percaya "
" Apa kau di bolehkan keluar hingga selarut ini oleh orang tuamu? Dan lagi, apakah mereka akan memperbolehkan diri ini menginap? " Tanya Ran.
" Jelas tidak boleh, saat ini mungkin ibuku sedang memperhatikan diri ini dari sana " Jawabku sambil menunjuk langit.
" Langit? " Ran terlihat bigung setelah mendengar jawabanku.
" Ya, baru kemarin beliau meninggal "
" Eh? Maafkan aku karena telah menyinggung hal yang sangat sensitif " Ran nampak kalang kabut.
" Haha santai saja, oleh karena itu aku akan membiarkanmu menginap. Ayahku ada pekerjaan sehingga baru bisa pulang hari ini, maka dari itu diri ini membutuhkan teman untuk menghilangkan kesunyian yang memenuhi rumahku "
Entah tindakan yang diri ini ambil merupakan hal yang benar atau tidak, membiarkan orang asing yang tidak jelas asal usulnya menginap di rumah? Sepertinya orang normal akan menganggapnya tidak. Ran memang terlihat baik dan polos, namun di dunia ini ada begitu banyak manusia yang hidup menggunakan topeng sehingga menilai hanya dengan sekali lihat merupakan tindakan yang terlampau salah.
Namun aku akan tetap menganggap tindakan yang diri ini ambil benar, bagaimanapun ibu selalu saja memberi nasehat tentang selalu meringankan tangan untuk menolong orang lain.
Tidak semua orang mau mengungkapkan kesulitannya kepada yang lain, maka dari itu ulurkan tanganmu pada siapa saja sebab bisa saja salah satu sosok yang meraihnya merupakan orang yang benar-benar membutubkan bantuan.Jika ibu masih hidup dan berada di posisiku, wanita itu pasti akan menolong Ran dan memberinya tempat menginap.
" Kau tau, aku paham dengan kesunyian yang dirimu maksud tadi " Ujar Ran secara tiba-tiba. Dia menghentikan langkahnya, kemudian gadis itu langsung memelukku dan membenamkan wajahnya ke arah dada ini " Kesunyian yang kini ada di rumahmu pasti terasa begitu menyesakan bukan? "
" Kau benar, maka dari itu aku memutuskan untuk keluyuran " Aku bingung harus bertindak bagaimana, maka dari itu diri ini memutuskan untuk mengelus kepalanya.
" Aku pernah merasakan betapa menyesakkan ya kesunyian yang muncul setelan kita kehilangan seseorang "
" A.. Apakah salah satu orang tuamu telah tiada? " Tanyaku dengan sangat hati-hati. Bagaimanapun pertanyaan yang baru saja terlontar menyinggung sesuatu yang sangat sensitif.
" Keduanya telah tiada di dunia ini. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa ayah dan ibuku sekaligus " Jawaban Ran jelas membuatku tertegun, kehilangan ibu saja sudah nyaris membuatku gila. Bagaimana dengan dirinya yang harus menemui alur pilu berupa kehilangan ganda?
" Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa orang tuamu Ran " Ujarku sambil memeluknya, kamipun jadi saling berpelukan.
" Semoga kehadiranku mampu menyingkap tabir kesunyian yang ada di rumahmu. Aku tau tidak banyak yang bisa diri ini lakukan, tapi aku yakin yang paling kau butuhkan kaki ini bukan lah hal mewah, melainkan seseorang yang bisa di ajak bicara " Ujar Ran sambil melepas pelukannya.
" Haha aku menunggu itu. Namun kau harus membantuku mengurus pekerjaan rumah, Ok " Akupun melakukan hal yang sama dengan Ran, melepas pelukan kemudian kembali menapaki langkah menuju rumah.
" Siap bos "
Menyikap tabir kesunyian yang muncul setelah kehilangan ya? Sejujurnya sendari tadi aku sangat takut untuk pulang dan menghadapi hal itu seorang diri. Entah karena takdir atau apa, Sekarang ada seseorang yang menawarkan dirinya untuk menyingkap tabir itu bersama.
Dia pernah merasakan apa yang tengah diri ini alami. Maka wajar jika Ran tau apa yang paling aku butuhkan saat ini. Bukan hal mewah, hanya seorang teman bicara yang bisa membuatku sedikit melupakan perihnya rasa kehilangan dan sunyinya di tinggal sendirian.
" Ran maaf jika aku menanyakan hal ini. Sekarang kau tinggal bersama siapa? " Ujarku menanyakan salah satu tanda tanya besar yang sendari tadi berputar dalam benak ini.
" Kaka kembarku dan seorang ayah angkat " Jawab Ran.
" Sekarang kemana kah mereka ? "
" Kakakku mendapatkan program pertukaran pelajar, dan dia sekarang berkesempatan mencoba salah satu sekolah ternama di Yogyakarta "
" Yogyakarta ? " Aku jelas kaget mendengar nama kota itu. Bukan kah yogyakarta baru di landa bencana? Bagaimana nasip kakanya? Mungkin kah?
" Haha tenang saja, kakaku selamat dan ayah sedang pergi menjemputnya " Ujar Ran yang seakan mampu membaca isi pikiranku.
" Huh syukur lah " Entah mengapa aku jadi ikut lega ketika mendengarnya.
" Jika dia juga di jemput oleh sang maut. Aku tidak tau apakah pikiran ini akan mampu tetap waras atau tidak.
" Ran apa kau berasal dari jakarta juga? " Tanyaku yanng tidak mau sepanjang perjalanan di isi hanya dengan diam.
" Tidak, aku berasal dari bogor "
" Hah? "
" Haha begitulah, aku memiliki sebuah tujuan di kota ini. Sialnya uangku habis, begitu pun dengan baterai dan diri ini tidak tau apapun mengenai ibu kota "
" Ran, mengapa kau ada di jakarta seorang diri? Kenapa dirimu tidak ikut ayahmu? Apa tujuanmu datang ke sini? " Aku semakin penasaran dengan penyebabnya terdampar di jakarta seperti sekarang ini.
" Diri ini sedang mencari kaka angkatku " Jawaba Ran.
" Kaka angkat? "
" Begitulah, dia merupakan putri kandung dari ayah angkatku "
" Mengapa kau mencarinya? Apakah dia hilang? "
" Kana, bagiku kau begitu mirip dengan ayah angkatku itu. Mau begitu saja menolongku padahal baru beberapa menit yang lalu kita bertemu dan saling mengenal. Setelah kedua orang tuaku tewas, kerabat dekat bahkan para saudara menolak untuk merawat kami, saat itu langit seakan runtuh dan menimpa alur kehidupan ini. Namun pria itu tiba-tiba muncul, dan menawarkan diri untuk merawat kami berdua. Pada akhirnya dialah yang membesarkan kami hingga seperti sekarang ini " Ran mulai menceritakan masa lalunya.
" Sungguh, mulia sekali hati ayah angkatku itu " Aku sangat kagum dengan kebaikan hati ayah angkatnya Ran. Mau membesarkan sepasang saudara kembar yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya merupakan hal yang layak di banjiri pujian.
" Aku berulang kali bertanya kepadanya, mengapa dia mau mengasuh kami? Dan lisan pria itu selalu menjawab jika ini adalah sebagai bentuk penebusan dosa "
" Penebusan dosa? "
" Ya dia berkata jika dirinya punya seorang putri dan sesosok istri di jakarta, dulu dia sering menyiksa keduanya hingga suatu hari dirinya di usir dari rumah. Setelah di usir dan pergi meninggalkan ibu kota, pria itu pun tersadar jika perbuatan terhadap anak istrinya selama ini merupakan hal yang tercela. Dia ingin berubah menjadi lebih baik dan menebus dosanya dengan cara merawat kami "
" Apakah selama merawatmu dia bertindak kejam? "
" Tidak sama sekali, dia begitu baik dan pengertian. Bahkan berkat didikannya kakaku bisa menjadi sosok yang luar biasa, begitu juga diri ini "
" Syukur lah jika demikian "
" Baru-baru ini ayah berkeinginan untuk mempersarukan kami, kembali menemui istrinya untuk mengajak hidup bersama lagi. Walaupun besar kemungkinan Putri kandungnya masih membenci dirinya dan enggan menganggap pria itu sebagai ayah. Maka dari itu aku ingin melakukan sesuatu untuknya agar keinginan ayah terwujud "
" Kau mau melakukan apa? " Tanyaku penasaran.
" Aku ingin bertemu putri kandung ayah, lalu meyakinkannya jika pria itu sudah berubah dan bukan lagi merupakan sesosok bajingan "
" A... Apakah ayahmu yang meminta kau untuk melakukan hal tersebut? "
" Tidak, aku lah yang ingin melakukannya sendiri. Aku siap menuruti segala permintaanya sekalipun dirinya memintaku untuk bersujud atau memukuli tubuh ini hingga babak belur "
Kesungguhan yang terpancar dari mata Ran sangatlah luar biasa. Dia benar-benar siap melakukan apapun demi menemui kaka angkatnya. Bahkan gadis itu berani meninggalkan bogor dan seorang diri pergi ke ibu kota hanya untuk meyakinkan saudara angkatnya jika sangat ayah tidak kah seberengsek dulu.
Ayah angkatnya mengulurkan tangan sesaat sebelum Ran terjerumus dalam lubang keputus asaan, pria itu menarik kembali gadis yang telah kehilangan segalanya dan menuntunnya hingga menemui alur yang begitu cerah.
Maka wajar jika rasa cinta Ran terhadap pria itu teramat besar, sehingga apapun siap dirinya lakukan demi membantu ayahnya. Ya memang begitulah cinta, perasaaan spesial yang ada di hati setiap manusia. Perasaan itu mampu membuat seseorang melakukan hal yang di luar nalar. Karena cinta, Seorang ibu rela mengorbankan nyawanya saat melahirkan sang anak dan karena cinta juga sesosok ayah rela banting tulang hingga keringat dan darah membasahi seluruh tubuh hanya demi keluarganya.
Ah aku jadi teringat bab ke sepuluh dari buku the jorney of necromancerm seorang malaikat rela menentang peraturan Tuhan demi kekasihnya, mungkin sebagian orang yang membaca nya akan menganggap malaikat itu bodoh.
Namun bagiku, apa yang di lakukan sang malaikat sangat lah luar biasa. Demi seseorang yang di cintai nya dia sampai berani menentang Tuhan, hal itupun jelas membuat penciptanya kagum dan menghadiahi keduanya kebersamaan yang abadi.
" Kau luar biasa Ran " Pujiku.
" Haha semua orang akan melakukan hal yang sama denganku jika memiliki sesuatu yang mereka cintai "
" Kau benar "
" Seperti kak Leo, yang mau melakukan apapun demi tim musiknya "
" Haha kau benar "
" Sungguh aku ingin melihat wujud tim yang begitu pria itu cintai "
" Akupun demikian, maka dari itu tawaran yang pria itu berikan segera diri ini Terima "
" Haha semoga aku bisa melihat tim itu juga "
" Ran, seperti wujud kaka angkatmu dan di makah dia sekarang? " Tanyaku
" Haha, aku juga tidak tau. Sejujurnya aku hanya bermodal nekat ke Jakarta "
" Eh? " Ucapannya yang tanpa beban tadi jelas membuatku kaget.
" Besok aku akan mencarinya seharian, petunjuk yang aku punya hanyalah dia berada di daerah ini, dan merupakan gadis cantik yang memiliki sikap dewasa "
Petunjuk macam apa itu? Jelas-jelas informasi yang Ran miliki sangat kurang. Aku tidak boleh membiarkan ya keluyuran begitu saja di ibu kota ini. Baiklah, aku akan menemaninya besok.
" Baiklah aku akan menemanimu besok "
" Sungguh? "
" Ya lagi pula aku senggang "
" Terima kasih Kana "
Tanpa terasa kami sudah berjalan cukup jauh dan hanya tinggal beberapa meter lagi kami akan tiba di rumahku. Sekarang sudah pukul tiga pagi, sungguh rekor keluyuran paling lama yang pernah aku lakukan.
" Nah Ran ini rumahku, kau bisa mandi dan segera tidur di kamarku " Ujarku setibanya kamu di depan rumah.
Diubah oleh Rebek22 07-08-2021 22:17
pangerankodo353 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup