- Beranda
- Stories from the Heart
Gending Alas Mayit
...
TS
diosetta
Gending Alas Mayit

Masih satu trilogi sama thread sebelumnya Imah Leuweung , mohon ijin share cerita lagi..
semoga dapat menghibur...
kalau berkenan boleh follow twitter saya : @diosetta dan ig saya : @diosetta.69
Spoiler for "Part 1 - Gending Alas Mayit:
Desa Windualit , Sebuah desa terpencil yang jauh dari sosok hiruk pikuk Perkotaan. Pemandangan indah gunung merapi selalu setia menemani pagi setiap warga di desa ini.
Sama sekali tidak ada yang istimewa di tempat ini, bahkan desa ini masih jauh dari kesan modern. Rumah-rumah disini masih dibangun dari kayu , bahkan listrikpun baru masuk beberapa tahun yang lalu itupun hanya cukup untuk lampu-lampu rumah.
Wajar saja , untuk keluar atau masuk Desa Windualit kami harus melalui jurang sejauh ratusan meter. Kendaraan bermotor hampir mustahil mencapai desa kami. Namun warga desa ini sudah terbiasa memenuhi kebutuhan hidup dari hasil bercocok tanam. Uang? Maaf saja benda itu tidak terlalu berharga di sini.
Namaku Sekar, hanya perempuan biasa yang masih menumpang hidup dari orang tua. Keseharianku layaknya wanita desa biasa. Memasak , mencuci baju di sungai, menimba air dan kadang membantu di kebun bapak.
“Bu.. Sekar nyuci klambi ning kalen disik yo” (Bu, sekar ke kali sebentar nyuci baju ya…) Pamitku pada ibu
“Yo , ojo kesuwen..” (ya, jangan lama-lama) Jawab ibu.
Aku mengangkat cucianku segera menuju sungai .
Semua hal di desa ini terlihat biasa saja , selain sebuah pantangan yang harus dipatuhi oleh warga desa ini, yaitu untuk tidak memasuki satu tempat terlarang di perbatasan desa. Warga menyebut tempat itu dengan nama “Alas Mayit” (Hutan Mayat).
“ Dek sekar… mampir” ucap Bu Retno yang sedang bersih-bersih di teras rumahnya.
“Njih bu.. Tak Nyuci baju dulu “ Jawabku sekedarnya.
Warga di sini memang sangat ramah, hampir setiap berpapasan kami selalu memberi salam atau sekedar perbincangan basa-basi.
..
..
“duh… mas, piye iki?” (duh.. mas, gimana ini)
Terdengar suara wanita berbisik dari balik pepohonan , tanpa sengaja sedikit perkataanya terdengar olehku.
“arrgh.. kok iso dadi koyo ngene!” ( Kok bisa jadi begini!) terdengar suara seorang pria membalas ucapan wanita itu.
Aku mencoba menghampiri , namun seperti sadar akan kehadiranku mereka segera berlari meninggalkan tempat itu.
Ya sudahlah, aku juga tidak tertarik dengan urusan orang lain.
Aku menyiapkan pakaianku dan segera mencucinya di sungai , tak jauh dari tempatku juga terlihat beberapa ibu-ibu sudah lebih dulu sampai di tempat ini.
“ Sekar, keawanen to?” (sekar, kesiangan ya?) Tanya salah satu ibu disana.
“Njih bu, mau ibu dhawuhi nulungi masak disik” (Iya bu , ibu tadi nyuruh bantuin masak dulu) jawabku.
“Yowis, tak pamit duluan ya sekar.. “ Lanjutnya lagi
“njih bu, ngatos-atos” (iya bu , hati –hati)
Satu-persatu ibu-ibu meninggalkanku di sungai , sampai akhirnya hanya aku sendiri. Segera aku menyelesaikan cucianku dan kembali ke desa.
..
..
Sekembalinya dari sungai , desa terlihat begitu sepi. Namun samar-samar terdengar suara ramai dari balai desa.
Aku segera menghampiri ke sana , dan apa yang aku lihat benar-benar bukan pemandangan yang biasa.
Seorang wanita , itu Laksmi. Ia tersungkur di tanah dengan tubuh penuh luka ,seolah dipukuli dengan sangat keras.
“ Iki anakmu mas… anakmu..!” Tangis Laksmi sambil memohon kepada lelaki yang telah memukulinya itu.
“Perempuan brengsek ! “ Ucap lelaki itu sambil mencoba mengantamkan tinjunya lagi ke Laksmi, namun segera ditahan oleh warga.
“ Ojo ngelek2i suamiku! Ra mungkin suamiku gelem mbek pramuria macam kowe!” (Jangan menjelek jelekan suamiku , tidak mungkin suamiku mau dengan pramuria seperti kamu!) Ucap Istri dari pria tersebut, Aswangga sang juragan ternama di desa ini.
“Uwis , Pateni wae” (sudah, bunuh saja) Teriak salah seorang anak buah Aswangga memanaskan emosi warga.
“Jangan pak , bicarakan baik-baik dulu” ucap salah seorang warga
Sekali lagi pukulan yang keras menghantam laksmi , dan wanita itu hanya diam berlutut sambil melindungi janin di perutnya.
“ Sudah pak , Sudah… jangan sampai ada yang mati, kalau terpaksa.. usir saja dia dari desa ini” Ucap kepala desa yang merasa takut dengan pengaruh Aswangga dan anak buahnya yang terlihat bengis.
“Baik… Bawa dia! Usir dia dari desa ini!” Perintah Aswangga kepada anak buahnya.
Tiga orang bertubuh besar dengan kasar menarik tubuh Laksmi menyeretnya membawanya keluar dari desa. Tubuh laksmi yang lemah tidak mampu melawan, dan hanya tangis yang terlihat dari wajahnya.
…
…
Sudah beberapa minggu berlalu setelah diusirnya laksmi dari desa. Beberapa kabar tidak baik tersebar diantara warga desa tentang pengusiran Laksmi.
Anak buah Aswangga dikabarkan membawa Laksmi ke hutan terlarang di perbatasan desa, merudapaksanya dan menghabisi nyawanya.
Tidak ada satupun warga yang berani menanyakan atau memastikan kebenaran kabar burung tersebut, semua berlalu seperti tidak ada yang terjadi.
Sampai sesuatu terjadi di malam bulan purnama..
Suara gamelan terdengar tanpa henti sepanjang malam , Warga mencoba mencari sumber dari suara musik gamelan tersebut. Namun suara itu berasal dari hutan desa.
Saat malam sudah mencapai puncaknya , terdengar suara teriakan dari rumah Aswangga, seorang bocah laki-laki mendobrak keluar rumah dan menari kesetanan mengikuti alunan musik gamelan.
Warga yang melihat mencoba membantu Aswangga menghentikan anaknya itu , namun tarianya semakin mengerikan. Bocah itu tertawa, memutar kepalanya ke belakang hingga mematahkan lehernya .
Aswangga mencoba menghentikan , namun tetap saja tidak mampu menahanya. Dalam kondisi seperti itu , bocah itu teap bergerak menari dan berlari menuju hutan.
Warga ramai-ramai mengejar, suara gamelan terdengar semakin cepat, hingga sosok anak laki-laki itu menghilang di tengah kegelapan hutan bersamaan dengan hilangnya suara gamelan yang berbunyi semalaman.
Pencarian tidak mungkin dilakukan di tengah malam, apalagi dengan penerangan yang seadanya. Akhirnya warga berjanji membantu Aswangga mencari anaknya di pagi hari.
..
..
Pagi menjelang , Warga bersiap dengan peralatan seadanya untuk membantu Aswangga mencari anaknya. Namun sebelum masuk kedalam hutan, terlihat sesosok badan tergeletak di mulut hutan dengan tubuh yang mengenaskan. Kepala, tangan, dan kaki tidak menyatu dengan tubuhnya.
Itu adalah jasad bocah yang menari kemarin , anak dari Aswangga.
Warga sangat panik, terlihat dengan jelas raut muka gelisah di wajah anak buat Aswangga.
Namun ternyata , Ini baru permulaan..
Setiap purnama, terdengar suara gamelan dari dalam hutan, dan satu persatu warga desa akan menari seperti kesetanan menuju hutan , dan dipastikan jasadnya akan muncul di mulut hutan pada pagi hari.
Kami menyebut kutukan ini dengan nama “ Gending Alas Mayit”
..
..
Kondisi desa semakin hari semakin mencekam, seolah menunggu kapan giliran menerima kutukan itu, sampai akhirnya warga memutuskan untuk memanggil orang pintar dari desa lain.
“Pak.. setelah ini, desa kita akan aman kan?” tanyaku kepada bapak.
Bapak menghela nafas seolah menunjukan rasa kurang setuju.
“ Mbuh.. Bapak sih kurang setuju, tapi di satu sisi bapak juga takut”Jawabnya dengan setengah gelisah.
Semenjak kejadian pertama, Bapak selalu mengajak kami sekeluarga dan tetangga untuk rutin melakukan pengajian. Hal ini tidak cukup untuk menangkal kutukan ini, namun bapak selalu bilang kalaupun kita tetap jadi korban setidaknya kita membawa bekal pahala dari hal baik ini.
Malam mulai datang , suara gending terkutuk itu mulai terdengar. warga mulai berkumpul di mulut hutan. Terlihat seseorang kakek tua berpakaian Serba hitam sedang melakukan ritual di sana bersama seorang anak buahnya.
“ Bu.. kuwi to orang pintere? ” tanyaku pada Bu Retno yang juga berada di sana.
“Iya Sekar , Kok ketok e medeni yo?” (iya sekar, kok kelihatanya menyeramkan ya?) jawabnya.
Orang pintar itu menyelesaikan ritualnya dan berdiri dengan perlahan.
“ Ketemu ! demit kuwi ono ning alas! “ (ketemu, setan itu ada di hutan) Ucap kakek tua itu
“ Ben tak seret mrene”
Dengan segera kakek tua berjalan ke dalam hutan dengan membawa sebuah keris di genggamanya.
Rasa tegang meliputi seluruh warga yang menunggu di mulut gua .
Cukup lama.. sampai akhirnya suara gamelan perlahan menghilang dari pendengaran kami.
“ Pak… ora kerungu meneh , Opo mbahe berhasil?” ( Pak , ga kedengeran lagi.. apa mbahnya berhasil?) Tanyaku pada bapak.
Bapak tidak menjawab , namun aku melihat Bapak sedang membacakan doa –doa seolah belum yakin semua akan aman.
..
Perlahan mulai terlihat kakek tua keluar dari dalam hutan, Ia berjalan dengan cara yang sangat aneh. Awalnya warga merasa sedikit lega, Namun semua itu berubah ketika suara gong muncul dari dalam hutan.
Suara itu gong berbunyi berkali kali dengan suara yang sangat keras seolah dipukul dengan amarah.
Kakek tua itu tersentak, berdiri dengan kaku memiringkan lehernya memutar tubuhnya hingga patah dan tak bernyawa.
Warga panik dan berteriak, Namun kembali terdengar suara gending kutukan itu dengan suara yang keras dan cepat.
Satu persatu warga di mulut hutan itu mulai menari dengan aneh, mereka mengamuk menghampiri orang lain sambil menyakiti diri sendiri dengan mematahkan sendi-sendinya.
“ Sekar! Lari!” Bapak segera menarikku dan berlari menjauh dari sana.
Aku menoleh , sudah hampir setengah warga menari dan cukup banyak yang sudah tergeletak di tanah dengan tangan tetap menyeret di tanah. Sisa warga yang masih selamat berlari berhamburan mencoba menyelamatkan diri.
Kami berlari menuju rumah , namun suara gamelan itu masih terdengar.
“ Pak… panas pak “ tubuhku mula terasa panas seolah ada suatu hal yang memaksaku untuk menggerakan badanku diluar kemauanku.
“ Bu.. tolong bu! “ Ucap bapak memanggil ibu dari dalam rumah.
Ibu keluar dengan tergesa-gesa dan menghampiri kami.
Tanganku mulai berputar dengan gemulai , namun aku masih bisa menahanya.
“Pak.. tolong pak , Sekar takut” Ucapku pada bapak.
Bapak menyentuh kepalaku , membacakan doa, dan sekuat tenaga menahan badanku untuk tidak bergerak.
Rasa panas mulai menghilang perlahan, aku mulai bisa mengendalikan diriku. Namun dari jauh mulai terdengar suara teriakan warga menuju ke tempat ini.
“Bu.. Ambil semua yang sudah kita siapkan” Perintah Bapak kepada ibu.
“Bapak Yakin…? “ Ucap ibu dengan ragu.
“Yang kita takutkan sudah terjadi , ga ada pilihan lagi” Ucap bapak sambil memandang wajah ibu.
Ibu melihat jauh ke arah desa dan melihat warga yang tengah kesetanan mulai mencapai tempat ini. Ia mengerti dan segera masuk kedalam rumah.
“ Sekar.. kamu dengerin bapak.” Kali ini bapak memandangku dengan wajah serius.
“Setelah ini, kamu harus tinggalkan desa ini.. pergi sejauh mungkin, sampai suara gamelan ini tidak terdengar” Perintah bapak kepadaku.
“Tapi , bapak .. ibu..” tanyaku dengan ragu.
Ibu keluar dan membawakan sebuah tas yang isinya kebutuhanku yang telah disusun dengan rapi.
“Bapak dan Ibu akan tetap didesa , membantu sebisa mungkin…” ucap ibu.
Terlihat beberapa pria yang telah kehilangan kesadaran menari ke arah kami.
“Pergi sekar, pergi! Kamu harus selamat..” Ucap bapak yang segera membaca doa dan menghampiri pria-pria itu.
Rasa panas mulai memasuki tubuhku lagi , kutukan gending alas mayit ini sudah merasuki tubuhku.
“Sekar.. kamu harus pergi sekarang, Cari orang ini.. mungkin dia bisa membantu menyelamatkan desa ini” ucap ibu sambil memberikan sebuah foto.
Aku tak tahan lagi dengan rasa panas ini, aku memeluk ibu erat-erat dan segera berlari menjauh dari suara gending ini.
Gelapnya malam membuatku terjatuh beberapa kali , aku tak perduli.. yang penting aku harus menjauh dari suara ini.
Sudah semalaman aku berjalan menjauhi desa, matahari sudah mulai terbit. Suara Gending Alas mayit sudah tidak lagi terdengar , malam ini aku selamat dari kutukan itu.
Sebotol air yang sudah disiapkan oleh ibu di dalam tas hanya mampu sedikit menghilangkan rasa lelahku. Aku melihat foto yang diberikan oleh ibu, Terlihat seseorang pria yang sedang berpose atas puncak gunung.
Aku membalik foto tersebut , dan tetulis sebuah nama
- Dananjaya Sambara , Merapi - 6 Juni 2016
… (Bersambung)
Part 2 - Sendang Banyu Ireng
Part 3 - Ikatan Masa Lalu
Part 4 - Radio Tengah Malam - Tabuh Waturingin
Part 5 - Desa Terkutuk
Part 7 - Pagelaran Tengah Wengi
Part Akhir - Tataran Pungkasan (Pertunjukan Akhir)
Diubah oleh setta 24-12-2021 08:40
itkgid dan 44 lainnya memberi reputasi
45
24.1K
Kutip
98
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
diosetta
#42
Part6 - Geni Baraloka

Quote:
GENI BARALOKA
Suara gamelan mengalun tanpa henti , Terlihat sesosok demit perempuan berdiri tepat disamping sahabatku Danan.
“ Kalian!! Kalian yang telah membunuh Laksmi!” Teriak Danan yang baru sadar dari penglihatanya.
wajah Danan terlihat merah padam , emosi terpancar jelas dari wajahnya. Sebuah mantra terucap dari mulutnya, dan itu diarahkan ke warga desa.
Aku melemparkan gong kecil yang ku pegang dan segera menghalangi serangan Danan yang diarahkan ke warga desa.
“ Danan… eling Danan! Demit itu mempengaruhi kamu” Teriaku sambil menunjuk pada hantu laksmi yang tertawa dengan mengerikan.
“ Bunuh…. Bunuh mereka Danan, balaskan dendamku!” Demit itu terus membisikan kata itu ke Danan.
“ Minggir Cahyo! Jangan lindungi mereka… mereka lebih biadab dari setan-setan itu!” Ucap Cahyo yang masih berusaha menyerang Aswangga.
“ Aswangga memaksa Laksmi untuk melayani nafsu bejatnya, Anak buahnya merudapaksa dan meninggalkan jasad laksmi begitu saja di Alas mayit… “ Teriak Danan dengan penuh emosi.
“Warga desa yang menyebabkan orang tua Laksmi mati! Terutama si kepala desa keparat itu! “
Aku menoleh kepada kepala desa dan Aswangga memastikan kebenaranya. Mereka terlihat pucat dan berusaha meninggalkan balai desa.
“ Bukan begini caranya Danan! “ Teriaku kepada Danan sembari melindungi Aswangga dan kepala desa.
“ Kalau kamu melindungi mereka? Aku ga akan segan-segan” Ucap Danan dengan geram.
“Aku ki koncomu Danan! Tenang dulu” ucapku berusaha meyakinkan Danan.
Namun Danan tidak peduli , ia menyerangku dan menerjang keluar mengejar Aswangga dan kepala desa.
Sebuah pukulan yang diselimuti mantra penguat dihujamkan kepada Aswangga ,namun anak buah Aswangga mencoba menahanya dan mereka berakhir dengan tebaring tak berdaya di tanah.
“Piye iki pak kades…” (gimana nih pak kades) Tanya Aswangga pada pak kades yang ada di sampingnya.
“Wis, kamu tenang dulu..” jawab pak kades, sambill menyiapkan sesuatu dari kantungnya.
Aku tidak punya pilihan , sepertinya aku harus melawan Danan dengan kekuatan penuh sebelum ia menghabisi warga desa.
“ Kematianpun tak cukup untuk membalaskan rasa sakit laksmi..” Danan bersiap sekali lagi membaca mantra untuk menyerang Aswangga namun aku berhasil mementalkanya.
“ Kalau kamu mau menghabisi warga desa, berarti lawanmu adalah aku” Ucapku berdiri tepat dihadapan Danan.
“Baik Kalau itu maumu” Jawab Danan tanpa banyak bicara.
Ajian lebur saketi adalah ilmu pukuran jarak jauh andalan Danan , ia merapalkan itu dan mengarahkan kepadakuku.
Sulit untuk menghindarinya , namun dengan meminjam kekuatan wanasura , roh kera pelindung dari hutan wanamarta aku melompat setinggi tingginya dan menghindarinya.
Pukulan keras kuhampirkan pada tubuh Cahyo yang membuat ia terpental , secara fisik harusnya ia tidak bisa menahan pukulanku yang diselimuti kekuatan roh wanasura.
Suara gamelan terdengar semakin keras , Danan merespon suara itu dan bangkit lagi seolah tak terjadi apa-apa. Ia membaca mantra dan menarik sebuah keris dari sukmanya.
“ Heh Danan! Edan Kowe… Arep mateni aku ?” (gila kamu.. mau ngebunuh aku?) teriaku.
Danan tidak menjawab , kali ini ia sudah benar-benar dikuasai oleh setan laksmi itu.
Iya menghujamkan keris itu, dan setiap seranganya menimbulkan getaran yang sangat kuat.
Aku hanya bisa menghindar dan menghindar, satu tusukan keris itu bisa saja langsung mengakhiri nyawaku.
Sesekali aku berhasil menyerang Danan , bahkan dengan kekuatan penuh, Namun suara gamelan kembali memaksa Cahyo untuk menyerangku.
“Mati… kalian semua harus mati” hanya ucapan itu yang terus keluar dari mulut Danan saat menyerang dengan kerisnya.
Seandainya aku punya mantra pemanggil seperti Danan, mungkin aku bisa memanggil geni baraloka untuk memulihkannya.
Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain , aku harus memanggil tubuh fisik wanasura untuk melawan Danan walau dengan bayaran sebagian dari umurku.
Sebuah pukulan kuhantamkan ke tanah , Danan dan seluruh benda yang ada di sekitarku terpental. Setidaknya jarak ini cukup untuk membuatku melakukan pemanggilan.
“ Danan… jangan dendam padaku “
Aku membentuk posisi meditasi dan merapalkan sebuah mantra pemanggil , namun belum sempat selesai suara pukulan gong besar terdengar dari dalam hutan.
Nada gamelan mulai berubah , rasa panas terasa dari dalam tubuhku … alunan n
ada gamelan terngiang tanpa henti di kepalaku yang memaksa tubuh ini untuk mengikuti iramanya.
“ Arrrgh… Pak Sardi! gunakan Tabuh waturingin itu!” perintahku pada Pak Sardi untuk menghilangkan kutukan ini dari tubuhku, namun sepertinya tidak sempat.
Pukulan Danan sudah di hadapan wajahku dan membuatku terpental, ia mengejar dengan keris di tanganya dan bersiap menghunuskanya kepadaku.
Suara pukulan gong dari tabuh waturingin mendengung , kutukanku terlepas.. aku berhasil menggerakan tanganku dan menahan keris Danan walau dengan luka di tanganku.
Sekali lagi pukulan keras dihujamkan Danan padaku , kali ini dari jarak dekat yang membuatku memuntahkan darah kental berwarna merah dari mulutku.
Mati di tangan sahabatku sendiri sama sekali hal yang tak pernah kupikirkan , namun saat ini keris pusaka yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa kami sudah berada di depan wajahku untuk menghabisi nyawaku.
Tepat sebelum keris itu menusuk jantungku , sesosok makhluk terbang dari arah hutan dan menendang Danan hingga terpental.
“ E.. Eyang widarpa” Ucapku yang terheran dengan kemunculan sesosok demit kakek tua berambut putih .
Ia sama sekali tidak menoleh kepadaku dan terus mengejar dan menghajar Danan.
Terlihat Danan kewalahan menghadapi makhluk yang mengaku sebagai leluhurnya itu.
“ Bocah asu… iso isone kowe dipengaruhi demit koyo ngene” ( bocah asu… bisa-bisanya kamu dipengaruhi setan kaya begini) Makinya sambil tetap menghajar Danan.
Merasa terancam dengan kehadiran eyang widarpa , Roh Laksmi meninggalkan Danan dan bersiap menyerang Pak Kades.
Aku mencoba berdiri, namun sepertinya lukaku cukup serius.
Pak kades berlari hingga terjatuh.
“ sekarang saatnya kamu mati!” Ucap roh laksmi yang menerjang merasuki pak kades.
Kami semua panik, Pak Sardi tak mampu mengejar mereka.
Namun tak disangka, roh laksmi terpental. Sebuah pasak tergenggam dari tangan pak kepala desa. Pria itu berdiri dan terlihat senyum di wajahnya.
“ Dasar demit.. sudah mati masih bikin masalah” Pak kades mengangkat pasaknya tinggi-tinggi dan menusukan pada dada setan laksmi itu. Suara gamelan yang meneror desa terhenti
Setan itu tersungkur meronta dan menahan rasa sakit.
t.. tunggu ada apa ini? Aku tidak mengerti dengan apa yang kulihat.
“ Pak Kades.. apa maksudnya semua ini?” Pak Sardi mendekat mencari penjelasan namun ditahan oleh anak buah Aswangga.
“Hahaha… Warga desa bodoh, seharusnya kalian bisa hidup lebih lama dengan kutukan ini..”
“ tapi karena semua sudah terbongkar , malam ini kalian semua akan mati sebagai tumbal untuk menguasai kerajaan demit di alas mayit… “ Ucap pak kades dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya.
Pak kades menarik rambut roh laksmi dan menyeretnya ke arah alas mayit.
“ Ayo Aswangga… jangan lama-lama di sini” Perintah Pak Kades pada Aswangga.
Danan mulai tersadar , terlihat tak sedikit luka di tubuhnya akibat perbuatan eyang widarpa.
“ Cahyo.. “ Danan segera menghampiriku.
“ Maafin aku Cahyo… “ ucapnya yang segera menolongku untuh duduk.
Danan menempelkan tanganya pada punggungku dan menyalurkan tenaga untuk memulihkan kondisiku.
“ Ra mungkin tak maafin… “ ucapku pada Danan.
Rasa bersalah terlihat dengan jelas di wajah Danan.
“ tukokno sate klatak sek baru tak maafin “(traktir aku sate klatak dulu batu tak maafin )
Danan menghela nafas seperti merasa sedikit lega.
“ Tenang.. tak tukokno sak weduse, sak bakule” (tenang, tak beliin se kambingnya se warungnya juga) Jawab Danan.
Pak Sardi terlihat menenangkan warga desa dan membubarkanya . Demit eyang widarpa masih terlihat mencari sesuatu.
“Eyang… terima kasih eyang” Ucap Danan.
Eyang masih terlihat gelisah seolah berusaha membicarakan sesuatu.
“ Deso iki ora iso diselamatke… “ (Desa ini tidak bisa diselamatkan) Eyang widarpa memulai kata-katanya.
Aku dan Danan menghampiri eyang widarpa , Pak Sardi menyusul kami.
“ Maksud eyang apa… ?” Danan memastikan pernyataan eyang widarpa.
“Gending alas mayit ki kutukan pencari tumbal , Laksmi itu perantaranya..” Jelas eyang .
“Maksud eyang?” tanyaku memotong penjelasanya.
“Kutukan ini sudah disiapkan sejak lama , sejak desa ini didirikan… Kepala desa itu adalah jelmaan iblis penghuni alas mayit, dia bermaksud menumbalkan seluruh warga desa”
Kami semua tak mampu berkata apa-apa.
“tidak mungkin , pak kades selama ini orang yang ramah dan selalu membantu warga desa” Pak Sardi berkata dengan tidak percaya.
“ Nggak Pak Sardi , saya sudah lihat perbuatan pak kades dan Aswangga di masa lalu,itu benar-benar perbuatan iblis” Cerita Danan dengan wajah yang mulai dikuasai emosi lagi.
“Eyang.. kami sudah bawa tabuh waturingin, dan kita diharuskan membuat lagi yang lebih besar, apa ini bisa membantu” Tanyaku .
“mungkin bisa… Tabuh waturingin itu bisa menahan warga dari kutukan , namun demit-demit di alas mayit itu tetap harus kalian hadapi sendiri…” Jawab eyang widarpa.
“ Baik mbah, kami sudah bersiap untuk itu “ ucap Danan.
“jangan sombong ! yang nanti kalian hadapi itu satu kerajaan demit! Sekarang terserah kalian mau apa” Eyang widarpa terlihat bingung.
Tanpa kami sadar sekar sudah mulai sadar dan mendengarkan perbincangan kami.
“ Bapak… warga desa biar sekar yang jaga, Bapak bantu mas Danan dan mas Cahyo saja” ucap sekar.
Dengan berat hati Pak Sardi menyanggupi permintaan sekar. Semakin banyak yang membantu harusnya semakin besar peluang kami menyelesaikan permasalahan ini.
“ Eyang… biasanya kan eyang dateng bikin masalah, kok ini tiba-tiba dateng bantuin kami” Tanyaku pada eyang dengan sedikit penasaran.
“ Heh bocah gemblung! Rungokno omonganku “ (dengerin omonganku)
Eyang widarpa berkata dengan wajah serius.
“Ucapanku kudu mbok inget…”
aku dan Danan memperhatikan benar-benar apa yang dikatakan eyang widarpa.
“Uwong edan… Kuwi… Bebas…”
..
..
Eyang widarpa menyelesaikan perkataanya dan meninggalkan kami.
Aku dan Danan masih tertegun dengan apa yang ia ucapkan.
“ Danan… aku baru tau , ternyata demit bisa ngelucu..” ucapku pada Danan.
“ Podo… wis , mbuhlah…” balasnya.
Hari semakin malam , nampaknya kami harus memasuki hutan malam ini. kami melakukan beberapa persiapan dan berkumpul di tempat masuk alas mayit.
“ Mas Danan, mas Cahyo… sudah yakin?” Tanya Pak Sardi.
“ Yakin pak… Pak Sardi.. jangan memaksakan diri ya” Ucapku padanya , sejenak aku teringat dengan kejadian di imah leuweung saat Brakaraswana membunuh pak kuswara.
“Hati-hati , kita… udah disambut” ucap Danan pada kami.
Dari dalam sebuah hutan yang gelap , terlihat makhluk – makhluk halus penunggu hutan sudah menanti kami. Yang mengerikan setan-setan ini tidak memiliki tubuh yang utuh dan bentuk yang bermacam-macam.
“Cahyo jangan diserang dulu… aku mau mencari tahu sesuatu” ucap Danan.
Danan menarik sebagian dari api Geni Baraloka yang tumbuh besar di perbatasan hutan dan menyerang sesosok makhluk berwujud nenek tua yang hanya memiliki satu tangan.
Setan itu terbakar dan meronta , namun tak lama wajah busuk makhluk itu kembali menyerupai manusia.
“ jadi… ini kekuatan geni baraloka milik paklek?” Tanyaku pada Danan.
“ Kekuatan yang luar biasa, pemilik ilmu ini pasti sudah mencapai tingkat kebajikan “ Ucap Pak Sardi yang terkesima dengan ilmu milik paklek itu.
Danan menghentikan seranganya ketika makhluk itu mulai tenang.
“ Benar.. . tapi bukan itu yang mau tak pastikan” ucap Danan sambil mendekat ke roh nenek itu.
“Nek… apa nenek sudah tenang? Tanya Danan.
“terima kasih cu… nenek ga ngerasain sakit lagi” Ucap makhluk itu kepada Danan.
“Maaf nek… sebelum nenek pergi, bisa sedikit membantu kami menceritakan ada apa di alas mayit” Ucap Danan pada makhluk itu.
Danan benar, ada baiknya kami mencari tahu kondisi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.
Nenek itu mengangguk dan mulai bercerita pada kami.
“ Jauh di jaman dulu… jauh sebelum ada desa di tempat ini , hutan ini adalah sebuah kerajaan”
layaknya sebuah kerajaan , mereka memiliki patih yang memegang wilahnya masing-masing.
Kerajaan ini yang sangat kuat dan hampir tidak pernah kalah perang.
Namun semua berubah ketika saat perayaan kemenangan, sang raja memanggil sekelompok pemain gamelan ,sinden, dan penari untuk menghibur para prajuritnya.
Para pejabat sangat senang dengan permainan dari mereka,
Hampir semua keinginan para pemain ini dipenuhi oleh para pejabat, sampai akhirnya keinginan mereka berubah menjadi hal yang mengerikan.
Untuk memainkan pertunjukan , kelompok gamelan ini meminta 27 pasang telinga yang harus dipersembahakan sebelum pertunjukan. Awalnya para pejabat heran, namun karena kerajaan masih memiliki tahanan perang , akhirnya dipotonglah kedua daun telinga tahanan itu untuk memenuhi permintaan mereka.
Namun ternyata itu hanya permulaan… permintaan menjadi semakin mengerikan , telinga , lengan, jari dalam jumlah yang tidak sedikit. Ketika kehabisan tahanan, mereka menggunakan warganya sendiri untuk diambil bagian tubuhnya.
Maka setiap terdengar suara gamelan dari istana, warga akan bersembunyi atau meninggalkan kerajaan untuk menghindarkan diri dari permintaan kelompok gamelan itu.
Semua menjadi mengerikan ketika tanpa sepengetahuan raja , kedua patih jatuh cinta dengan si penari. Mereka berebut untuk menarik perhatian wanita itu dengan memberikan apa yang dia mau. Warga yang harusnya dilindungi oleh patih kerajaan dibantai dan dimutilasi untuk
diberikan kepada si penari.
Apabila penari itu puas , ia akan menemani sang patih semalaman.
Hal mengerikan terjadi lagi ketika si penari meminta untuk menjadi ratu kepada dua patih itu. Pemberontakan terjadi , korban bergelimpangan dimana-mana. Kedua patih mencoba membunuh raja , namun diselamatkan oleh seorang patih yang masih setia.
Karna tak mampu menahan pergolakan yang terjadi , sang patih dan raja mengajak warga yang masih bisa diselamatkan untuk meninggalkan kerajaan. Namun karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi , raja kembali ke kerajaan seorang diri.
Sang Raja menantang kedua patih untuk bertarung dengan posisi raja sebagi hadiahnya. Dengan syarat pertarungan dilaksanakan di benteng istana , disaksikan semua para pengikut patih , dan diiringi oleh kelompok gamelan itu.
Permintaan disanggupi , seluruh pengikut kedua patih berkumpul menyaksikan . benteng istana menjadi dipenuhi oleh orang-orang yang sebelumnya saling bertarung.
Rupanya sang raja memiliki rencana, di tengah pertarungan ia menggeser beberapa batu pondasi dan menggunakan ajian ilmu peremuk bumi untuk menghancurkan benteng dan mengubur semua manusia yang ada disana termasuk dirinya.“
Nenek itu mencoba menyelesaikan ceritanya.
“Lantas mengapa sekarang tempat itu dipenuhi oleh banyak demit nek..?” Tanyaku.
“ Penari itu ternyata jelmaan iblis laknat… semua permintaan itu adalah tumbal untuknya, semua warga yang mati karna permintaanya kini menjadi demit , dan kami hanya bisa menghilangkan rasa sakit bila meminum darah manusia..” Jelasnya.
“ Sekarang ia tinggal di sendang banyu ireng tempat dimana kerajaan itu hancur, dan seorang patih biadab itu menjelma menjadi manusia yang mendirikan desa di ujung hutan ini , ia sudah beberapa kali merubah wujudnya “
Kami segera memikirkan tentang kepala desa, bisa jadi setan patih kerajaan ini yang menjelma menjadi seorang kepala desa untuk mengumpulkan tumbal si demit berwujud penari itu.
“ Terima kasih nek… semoga tenang di alam sana” Ucap Danan sambil melepaskan roh nenek itu yang perlahan menghilang.
Setelah mengetahui kondisi di alas mayit, kami masuk ke dalam hutan yang di kelilingi oleh makhluk halus korban pembantaian yang diceritakan tadi.
“Mas Danan, Demit-demit ini jangan dihabisi… biarkan geni baraloka bertambah besar dulu , biar nanti saya yang menenangkan mereka” Ucap Pak Sardi pada Danan.
Terlihat rasa simpatik muncul dari ucapan Pak Sardi setelah mendengar cerita dari hantu nenek tadi.
“ Baik Pak Sardi , kita gunakan geni baraloka seperlunya saja” balas Danan.
Kami membaca ajian pelindung dan berusaha meninggalkan demit itu tanpa pertarungan dan terhenti di sebuah sendang yang digenangi air berwarna hitam.
diatas sendang itu telah berdiri bangunan candi dengan batu berwarna hitam dan sebuah Gong besar yang terletak di tengah sendang.
Mataku melihat sekitar , mencari kayu pohon beringin tua yang sudah membatu seperti yang diceritakan mbah rusman.
Kami mendekat , namun langkah kakiku terhenti ketika muncuk dua makhluk yang kami kenali.
Pak kepala desa , dan Aswangga… .
Dibelakangnya muncul wanita berpakaian sinden lengkap dengan sanggulnya , wajahnya semakin mengerikan ketika tidak terlihat bola mata di lubang matanya.Tak berhenti sampai di situ , pada sebuah pohon tergantung jasad seorang wanita yang sudah membusuk dengan tubuh yang mengenaskan.
Itu jasad laksmi…
Danan terlihat geram, namun kali ini ia tidak terbakar emosi.
“ Cahyo… Kali ini kamu ga akan menghalangiku kan? “ Tanya Danan padaku.
“ Menghalangi? Aku yang akan menghabisi mereka duluan!” Jawabku sambil menerjang setan-setan itu.
(Bersambung)…
iwakcetol dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Kutip
Balas
Tutup