- Beranda
- Stories from the Heart
Dendam Cinta Dari Masa Silam
...
TS
beqichot
Dendam Cinta Dari Masa Silam
WARNING!!!!
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++

Prolog
Hai...namaku Aji, lengkapnya Bayu Satriaji.
Aku baru saja pulang dari PETUALANG MASA LALU
Terakhir yang kuingat, aku beserta Zulaikha dan Menik, dua jin cantik.yang selalu mendampingiku selain dari Sang Pamomong, baru saja keluar dari portal yang membawa kami pulang dari masa lalu ratusan tahun silam.
Aku memgerjapkan mataku yang silau oleh cahaya yang menyorot di atas mataku.
Ah...rupanya cahaya lampu.
Perlahan, pandangan mataku menjadi semakin jelas. Kulihat langit-langit kamar yang putih dengan lampu yang menyilaukan mataku tadi.
Di mana aku gerangan? Bukankah aku baru saja keluar dari portal yang menghubungkan masa kini dan masa lalu?
"Mas Aji.... Kau sudah sadar?" sebuah suara menyapaku.
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku itu. Seraut wajah cantik dengan mata yang berair, menatapku.
"Desi...?"
"Iya mas... Ini aku!" jawabnya.
"Mas Aji...!" sebuah suara lain menyapaku.
Aku menoleh ke asal suara itu..
"Anin...? Kamu kok di sini? Aku di mana?" tanyaku.
"Sebentar mas, biar aku kasih tahu bapak dan dokter.kalau kamu sudah sadar!" katanya sambil beranjak pergi.
Bapak? Dokter?
Kok bapak juga ada di sini? Dokter? Berarti aku di rumah sakit...
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku ada di rumah sakit?
"Des...ini di rumah sakit?"
"Iya Mas...!"
"Kok aku bisa disini?"
"Ssttt...mas istirahat saja dulu. Kita tunggu dokter dulu!" sahutnya sambil mengelus-elus tanganku.
Saat itulah pintu terbuka, dan dua wanita dengan pakaian serba putih menghampiriku. Seorang diantaranya memeriksa nadiku, menyenteri mataku, dan menempelkan stetoskop di dadaku.
"Bagaimana dokter?" sebuah suara yang berat terdengar beetanya.
"Keadaannya normal pak! Mungkin butuh pemulihan sebentar, dan 2 atau 3 hari kemudian sudah bisa pulang!" kata bu dokter.
'Syukurlah...!" kata Bapak.
"Bapak.....!" panggilku.
"Hai..cah bagus... Bikin panik orang tua saja kamu!" kata bapak sambil mengacak-acak rambutku.
"Maaf pak... Sudah bikin khawatir bapak..!" ucapku.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah ga papa sekarang!" ujar bapak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" tanyaku.
"Kamu ditemukan orang terbaring di jalanan setelah hujan. Lalu dibawa ke rumah sakit ini. Lalu orang itu membuka kontak hpmu dan menghubungi bapak. Bapak dsn Anin segera kemari. Dan kamu baru sadar setelah 3 hari pingsan!" kata bapak.
Hah.3 hari? Padahal aku ada di masa lalu selama 35 hari.
Jadi apakah kejadian di masa lalu itu hanyalah mimpi di saat aku tak sadar?
Kalau memang hanya mimpi, syukurlah...
Dan aku berharap itu semua memang hanya mimpi.
Aku menoleh pada Zulaikha dan Menik yang sedari tadi berdiri di samping ranjangku.
Mereka cuma mengangkat bahu dan menggeleng. .
Yah...semoga saja semua itu hanya mimpi belaka. Kembang tidur di saat aku pingsan. .
Semoga....
Aku masih dirawat selama 2 hari, dan Desi setia memungguku jika sudah pulang kuliah.
Sementara, bapak dan Anin jika malam istirahat di kostku.
Setelah dirasa sehat, aku diperbolehkan pulang.
Bersama bapak dan Anin, kami nakk taksi menuju kostan.
Zulaikha dan Menik melayang di samping mobil.
Di kostan sudah ada pacar tersayang dan adiknya yang menunggu kedatangan kami....
Yah...aku kembali berada di jamanku. Pengalaman di masa lalu itu, entah nyata ataukah sekedar mimpi belaka?
Only time will tell.....
INDEX:
Prolog
The Begining
Naning
The Truth
Lanjutan
Naning Lagi....
Melati's Pov
Godaan Nenek Bohai
Menik's Pov
Tukang Ojek
Masalah Cewe Dino
Di Rumah Firda
Menolong Naning....
One By One
Pulang....
Di Madrasah 1
Di Madrasah 2
It's Begin...
Bingung
Masih Di Rumah Naning
Menik's Pov
Pengakuan Firda
Desi Cemburu
Pertempuran
Bendera Perang Sudah Dikibarkan
Masalah mulai bertambah
Firda's Pov
Liburan Semester
Kejadian Di Kamar Kost.....
Di Gazebo..
Tekad Naning
Pov nya Kunyil
Balada Lontong Opor
Kunyil Ember
Ditinggal.....
Pengusiran
Pulang....
Nenek Tua
Mimpi
RSJ
Pertempuran Seru
Serangan Susulan
Menuju Sumber....
Lanjutannya..
Kurnia
Sebuah Pengakuan
Interogasi
Menepati Janji
Malam Minggu
Piknik....
Di Curug
Ki Sarpa
Berlatih
Ketiduran
Kejadian Aneh
Kyai Punggel
Pagi Absurd
Pov: Naning
Latihan Di Gunung
Wejangan
Aku Dipelet?
Lebih Hebat Dari Pelet
Terusan Kemarin
Tante Fitri Yang....
She's Back
Bros
Makhluk Paling Absurd
Makhluk Absurd 2
Part Kesekian
Cowo Tajir
Jangan Buat Naning Menangis
Surprise
Kejadian Aneh
Quote:
Menghentikan Perang
Ahaha ..
Jatuh Bangun
Selaras
Mulai Dari Awal
Kembali
Rencana Bapak
Gadis Galak
Pengobatan
Sang Dukun
Sandra
A Little Bonus: Sandra's Pov
Pulang Ke Kost
Nenek Tukang Pijat
Upgrade
Si Galak Sakit
Fight....
Proyek Besar
Kesurupan Massal
Kalahkan Biangnya
Kosong
Dreamin'
About Renita
Kenapa Dengan Sandra?
Teluh
Serangan kedua
Gelud Lagi...
Hadiah Nyi Rambat
Kembalinya Trio Ghaib
Kepergian Zulaikha
Kurnia's Pov
Lanjutan Indeks
Diubah oleh beqichot 18-09-2021 19:54
xue.shan dan 199 lainnya memberi reputasi
190
401.1K
12.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beqichot
#998
Kejadian Aneh
Sebuah kejutan menyambutku di.kostan. Bapak dan Anin datang ke kostan, karena bapak ada pekerjaan di kota ini, dan ga tega ninggalin Anin sendirian.
Sore harinya aku mengantar bapak ke sebuah hotel yang cukup besar. Wah...bapak nginap di hotel euy...aku aja belum pernah...
Aku mengantar bapak hingga ke kamar, membawakan tas besarnya.
Wuih...kamar yang cukup mewah menurutku. Setelah sampai.kamar, bapak segera menyuruhku pulang ke kost, sambil tak lupa berpesan nanti malam mengajak Anin, Desi dan Renita untuk makan malam bersama bapak.
Setelah pulang ke kost, aku segera bersiap untuk makan malam bersama. Pukul 7.30 malam, kami semua sudah siap.
Aku bemgong memandang Desi yang menggunakan gaun malam berwarna hitam, yang menutup tubuhnya sampai ke mata kaki.
Tertutup sih, tapi ga bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang aduhai. Dengan make up tipis, membuatnya nampak semakin cantik dan elegan. Aku dan Anin berdandan biasa saja. Celana jeans dengan kaos lengan panjang aja udah cukup. Khan cuma makan malam sama bapak...hahaha.
Renita keluar dari kamar, menggunakan gaun yang senada dengan kakaknya.
Sekali lagi aku dibuat tertegun oleh kecantikannya.
Jika disuruh memilih di antara keduanya, aku pasti dibuat bingung...ga bisa milih...ahaha.
Lha cantik dan bohai semua...
Setelah siap, kami berangkat. Aku berboncengan dengan Desi, dan Anin dibonceng Renita.
Dengan mesra, Desi memeluk pinggangku, sehingga ada sesuatu yang lembut dan empuk menekan punggungku...
Tak lama sampallah kami di hotel tempat bapak menginap.
Bapak sudah siap menyambut kamu semua. Dan sudah reservasi juga...mantul dah pak....ahaha
Makan malam yang menyenangkan. Kami ngobrol banyak hal dan jam 9 malam kami pulang ke kost. Memberi kesempatan bapak buat isrirahat, karena besok harus mulai bekerja.
Tentunya aku mendapat tambahan uang saku dari bapak...ngoahaha.
Sampai di kost, Renita dan Anin langsung masuk kamar. Anin capek katanya, mau istirahat.
Aku dan Desi langsung masuk kamar masing-masing. Ganti baju, sekalian cuci muka.
Ga gosok gigi?
Ntar lah, masih mau ngopi dan ngerokok nih...
Aku kembali ke teras, membawa segelas kopi dan sebungkus rokok yang tersisa 5 batang.
Dengan nikmat, kuminum kopi dan kunyalakan rokok.
Fuhhh....nikmatnya hidup.
Entah kemana 3 gadis ghaib, tumben ga nampak. Tapi cuek aja lah... Malah kebetulan.
Saat sedang menikmati nikotin dan kafein, kulihat pintu kamar Desi terbuka. Lalu keluarlah Desi dan menuju ke teras kamarku.
"Kok belum tidur Mas?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Belum ngantuk nih... Masih pengin ngopi dan ngudud!" kataku.
"Ish..ngudud mulu. Mbokya dikurangin atuh mas...!"
"Udah neng... Tuh yang di bungkus udah aku kurangin, sampai hampir habis...!" kataku sambil meringis.
"Ish, bukan yang di bungkus yang dikurangin, tapi yang dihisap...!" katanya.
"Nanti dicoba ya neng.. Tapi susah kayaknya, udah kecanduan...hehe!" sahutku beralasan.
"Ih...mas ini kalau dibilangin ngeyel deh... Bikin aku jengkel aja!" katanya.
"Kalau jengkel, ngapain malah dekat-dekat coba? Jauhan dikit sana...!" kataku.
"Mas...masa pacaran jauhan. Maunya tiap saat deketan mulu...hihihi!"
"Hahaha...ada ada saja kamu neng. Sini aku peluk...!" kataku sambil membuang puntung rokok.
Desi segera merapat ke sampingku, aku peluk pinggang rampingnya.
Dengan manja, dia meletakkan kepalanya di dadaku.
Kuelus lembut rambut panjangnya yang hitam mengkilat.
Kuhirup aroma harum rambutnya yang membuatku melayang.
"Mas...kalau aku dah lulus nanti, dan aku ga di sini lagi, apa mas bakal mencari penggantiku untuk menghilangkan kesepian mas?"
"Mungkin....!"
"Mas mau cari cewe lagi...?"
"Ga tahu kalau itu... Mungkin mas bakal cari kesibukan yang lain untuk sedikit mengisi waktu mas yang kosong karena neng tinggalin...!" jawabku.
"Bagus itu mas .. Asal kesibukannya bukan godain cewe lain... Aku tahu mas, Naning suka sama kamu, Firda juga suka sama kamu... Dan kulihat Azizah juga ada rasa sama kamu...!" katanya sendu.
"Lalu...?"
"Aku takut mas... Saat aku pergi daru sini nanti, mas akan memilih salah satu dari mereka menjadi penggantiku...!" sahutnya.
Kudengar ada nada tangis dalam kalimatnya.
Kuangkat dagunya, kupandangi matanya yang berkaca-kaca...
"Neng, jodoh itu ada di tangan Allah. Kalau memang kita adalah jodoh, sejauh apapun kita berpisah, pasti kita akan bersatu...! Jadi jangan risaukan sesuatu yang belum terjadi. Lebih baik, neng sekarang fokus pada ujian pendadaran yang akan segera neng hadapi. Urusan asmara, kesampingkan dulu... Toh, aku masih di sini bersama neng geulis...!" kataku sok dewasa.
Padahal dalam hatiku saat itu sedang bimbang juga. Jika aku berpisah jauh dari Desi, akankah aku mampu menahan godaan cewe lainnya yang jelas-jelas suka padaku?
Ah...apa yang bakal terjadi nanti, terjadilah. Yang ada sekarang, dinikmati aja..
Di dalam pelukanku saat lni ada cewe cantlk penuh cinta yang menyandarkan kepalanya di dadaku.
Perlahan kuangkat dagunya... Mata kami bertatapan, lalu perlahan matanya setengah mengatup, sayu... Bibir merahnya setengah terbuka kini, memberiku ruang untuk mencecap rasa manis bibir itu.
Tanpa membuang waktu, kutundukkan kepalaku... Sekarang dapat kurasakan hembusan hangat nafasnya yang harum.
Bibir kami semakin dekat, dan sedikit getaran di tubuhnya seakan memberiku sinyal bahwa dia sudah siap sekarang...
Sekarang, bibir kami telah bersentuhan ketika....
BLEGGAARRRR.....
Suara guntur menggelegar keras, mengagetkan kami yang sedang mulai menautkan bibir.
Serentak, bibir kami menjauh, saling menatap...
Sebuah perasaan gelisah mendadak menyeruak dalam hatiku.
Sebuah firasat yang kurang mengenakkan, memberiku tanda untuk waspada.
"Neng, balik ke kamar ya? Istirahat... Biar besok badan lebih segar. Nampaknya hujan akan segera turun...!"
"Iya mas....!" jawabnya dengan suara yang tergetar.
Mungkin dia masih terkejut dan syok dengan gelegar guntur tadi.
Aku menyalurkan energiku padanya supaya dia bisa sedikit tenang.
Perlahan, gemetar di tubuhnya mereda. Nafasnya kembali teratur...
"Sudah lebih baik sekarang?" tanyaku.
"Iya mas ... Aku balik kamar dulu ya?" katanya.
"Iya Neng... Langsung tidur ya? Belajar untuk ujiannya, besok lagi aja..!"
"Iya mas ..!" jawabnya. Lalu Desi mengecup bibirku untuk sesaat. Setelah itu, dia beranjak menuju kamarnya.
Setelah Desi masuk kamarnya, aku memandang langit.
Betapa mengherankan, langit yang cerah dan penuh bintang begini, bagaimana mungkin ada bunyi guntur yang begitu keras?
Sangat tidak masuk akal....
Pasti ada sesuatu yang tidak beres...
Berpikir begitu, aku segeta memasuki kamarku dan mengunci pintunya
Aku duduk bersila di kasur, bermeditasi. Mengheningkan cipta, menyatukan rasa...
Sebelum masuk dalam kontemplasi, aku memanggil 3 cewe ghaib.
Mereka segera hadir dan duduk di sekelilingku.
Aku melanjutkan meditasiku... Sementara di luar, gelegar petir dan guruh semakin sering dan keras, bersahut-sahutan.
Aku berusaha mencapai tingkat kesunyian yang dalam untuk mampu merasakan keganjilan yang terjadi.
Firasatku mengatakan, akan terjadi sesuatu yang luar blasa malam lni.
Dan benar saja, saat aku sedang dalam meditasi, kurasakan ada aura pertempuran magis yang sedang berlangsung.
Berada tak jauh dari kostan tempatku tinggal.
Tapi belum jelas ada di daerah mana. Kucoba menerawang, tapi hanya kegelapan yang nampak.
Argh...kayaknya aku harus mencarinya sendiri...
Aku mengakhiri meditasiku, lalu beranjak keluar kanar. Melihat langit, memperkirakan arah mana yang harus aku tuju.
Sebenarnya aku ragu juga, karena kupikir ga ada hubungannya denganku.
Tapi, seolah ada yang menarikku untuk melihat ke tempat asal suara itu.
Seperti ada yang mendorongku ke sana.
Maka, dengan diam-diam, aku menuju ke arah aura ketegangan yang kurasakan dalam meditaslku tadl.
Ternyata, asal suara itu cukup jauh.
Padahal deteksiku tadi, dekat dengan kostan. Apakah prediksiku yang salah atau memang sumber suara guruh itu yang berpindah tempat?
Sesampainya di sana, aku ternganga melihat sebuah kejadian yang sangat mengejutkan diriku.
Tampak di sana, terjadi sebuah pertempuran antar makhluk ghaib.
Sore harinya aku mengantar bapak ke sebuah hotel yang cukup besar. Wah...bapak nginap di hotel euy...aku aja belum pernah...

Aku mengantar bapak hingga ke kamar, membawakan tas besarnya.
Wuih...kamar yang cukup mewah menurutku. Setelah sampai.kamar, bapak segera menyuruhku pulang ke kost, sambil tak lupa berpesan nanti malam mengajak Anin, Desi dan Renita untuk makan malam bersama bapak.
Setelah pulang ke kost, aku segera bersiap untuk makan malam bersama. Pukul 7.30 malam, kami semua sudah siap.
Aku bemgong memandang Desi yang menggunakan gaun malam berwarna hitam, yang menutup tubuhnya sampai ke mata kaki.
Tertutup sih, tapi ga bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang aduhai. Dengan make up tipis, membuatnya nampak semakin cantik dan elegan. Aku dan Anin berdandan biasa saja. Celana jeans dengan kaos lengan panjang aja udah cukup. Khan cuma makan malam sama bapak...hahaha.
Renita keluar dari kamar, menggunakan gaun yang senada dengan kakaknya.
Sekali lagi aku dibuat tertegun oleh kecantikannya.
Jika disuruh memilih di antara keduanya, aku pasti dibuat bingung...ga bisa milih...ahaha.

Lha cantik dan bohai semua...

Setelah siap, kami berangkat. Aku berboncengan dengan Desi, dan Anin dibonceng Renita.
Dengan mesra, Desi memeluk pinggangku, sehingga ada sesuatu yang lembut dan empuk menekan punggungku...

Tak lama sampallah kami di hotel tempat bapak menginap.
Bapak sudah siap menyambut kamu semua. Dan sudah reservasi juga...mantul dah pak....ahaha
Makan malam yang menyenangkan. Kami ngobrol banyak hal dan jam 9 malam kami pulang ke kost. Memberi kesempatan bapak buat isrirahat, karena besok harus mulai bekerja.
Tentunya aku mendapat tambahan uang saku dari bapak...ngoahaha.
Sampai di kost, Renita dan Anin langsung masuk kamar. Anin capek katanya, mau istirahat.
Aku dan Desi langsung masuk kamar masing-masing. Ganti baju, sekalian cuci muka.
Ga gosok gigi?
Ntar lah, masih mau ngopi dan ngerokok nih...

Aku kembali ke teras, membawa segelas kopi dan sebungkus rokok yang tersisa 5 batang.
Dengan nikmat, kuminum kopi dan kunyalakan rokok.
Fuhhh....nikmatnya hidup.
Entah kemana 3 gadis ghaib, tumben ga nampak. Tapi cuek aja lah... Malah kebetulan.
Saat sedang menikmati nikotin dan kafein, kulihat pintu kamar Desi terbuka. Lalu keluarlah Desi dan menuju ke teras kamarku.
"Kok belum tidur Mas?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Belum ngantuk nih... Masih pengin ngopi dan ngudud!" kataku.
"Ish..ngudud mulu. Mbokya dikurangin atuh mas...!"
"Udah neng... Tuh yang di bungkus udah aku kurangin, sampai hampir habis...!" kataku sambil meringis.
"Ish, bukan yang di bungkus yang dikurangin, tapi yang dihisap...!" katanya.
"Nanti dicoba ya neng.. Tapi susah kayaknya, udah kecanduan...hehe!" sahutku beralasan.
"Ih...mas ini kalau dibilangin ngeyel deh... Bikin aku jengkel aja!" katanya.
"Kalau jengkel, ngapain malah dekat-dekat coba? Jauhan dikit sana...!" kataku.
"Mas...masa pacaran jauhan. Maunya tiap saat deketan mulu...hihihi!"
"Hahaha...ada ada saja kamu neng. Sini aku peluk...!" kataku sambil membuang puntung rokok.
Desi segera merapat ke sampingku, aku peluk pinggang rampingnya.
Dengan manja, dia meletakkan kepalanya di dadaku.
Kuelus lembut rambut panjangnya yang hitam mengkilat.
Kuhirup aroma harum rambutnya yang membuatku melayang.
"Mas...kalau aku dah lulus nanti, dan aku ga di sini lagi, apa mas bakal mencari penggantiku untuk menghilangkan kesepian mas?"
"Mungkin....!"
"Mas mau cari cewe lagi...?"
"Ga tahu kalau itu... Mungkin mas bakal cari kesibukan yang lain untuk sedikit mengisi waktu mas yang kosong karena neng tinggalin...!" jawabku.
"Bagus itu mas .. Asal kesibukannya bukan godain cewe lain... Aku tahu mas, Naning suka sama kamu, Firda juga suka sama kamu... Dan kulihat Azizah juga ada rasa sama kamu...!" katanya sendu.
"Lalu...?"
"Aku takut mas... Saat aku pergi daru sini nanti, mas akan memilih salah satu dari mereka menjadi penggantiku...!" sahutnya.
Kudengar ada nada tangis dalam kalimatnya.
Kuangkat dagunya, kupandangi matanya yang berkaca-kaca...
"Neng, jodoh itu ada di tangan Allah. Kalau memang kita adalah jodoh, sejauh apapun kita berpisah, pasti kita akan bersatu...! Jadi jangan risaukan sesuatu yang belum terjadi. Lebih baik, neng sekarang fokus pada ujian pendadaran yang akan segera neng hadapi. Urusan asmara, kesampingkan dulu... Toh, aku masih di sini bersama neng geulis...!" kataku sok dewasa.
Padahal dalam hatiku saat itu sedang bimbang juga. Jika aku berpisah jauh dari Desi, akankah aku mampu menahan godaan cewe lainnya yang jelas-jelas suka padaku?
Ah...apa yang bakal terjadi nanti, terjadilah. Yang ada sekarang, dinikmati aja..
Di dalam pelukanku saat lni ada cewe cantlk penuh cinta yang menyandarkan kepalanya di dadaku.
Perlahan kuangkat dagunya... Mata kami bertatapan, lalu perlahan matanya setengah mengatup, sayu... Bibir merahnya setengah terbuka kini, memberiku ruang untuk mencecap rasa manis bibir itu.
Tanpa membuang waktu, kutundukkan kepalaku... Sekarang dapat kurasakan hembusan hangat nafasnya yang harum.
Bibir kami semakin dekat, dan sedikit getaran di tubuhnya seakan memberiku sinyal bahwa dia sudah siap sekarang...
Sekarang, bibir kami telah bersentuhan ketika....
BLEGGAARRRR.....
Suara guntur menggelegar keras, mengagetkan kami yang sedang mulai menautkan bibir.
Serentak, bibir kami menjauh, saling menatap...
Sebuah perasaan gelisah mendadak menyeruak dalam hatiku.
Sebuah firasat yang kurang mengenakkan, memberiku tanda untuk waspada.
"Neng, balik ke kamar ya? Istirahat... Biar besok badan lebih segar. Nampaknya hujan akan segera turun...!"
"Iya mas....!" jawabnya dengan suara yang tergetar.
Mungkin dia masih terkejut dan syok dengan gelegar guntur tadi.
Aku menyalurkan energiku padanya supaya dia bisa sedikit tenang.
Perlahan, gemetar di tubuhnya mereda. Nafasnya kembali teratur...
"Sudah lebih baik sekarang?" tanyaku.
"Iya mas ... Aku balik kamar dulu ya?" katanya.
"Iya Neng... Langsung tidur ya? Belajar untuk ujiannya, besok lagi aja..!"
"Iya mas ..!" jawabnya. Lalu Desi mengecup bibirku untuk sesaat. Setelah itu, dia beranjak menuju kamarnya.
Setelah Desi masuk kamarnya, aku memandang langit.
Betapa mengherankan, langit yang cerah dan penuh bintang begini, bagaimana mungkin ada bunyi guntur yang begitu keras?
Sangat tidak masuk akal....
Pasti ada sesuatu yang tidak beres...
Berpikir begitu, aku segeta memasuki kamarku dan mengunci pintunya
Aku duduk bersila di kasur, bermeditasi. Mengheningkan cipta, menyatukan rasa...
Sebelum masuk dalam kontemplasi, aku memanggil 3 cewe ghaib.
Mereka segera hadir dan duduk di sekelilingku.
Aku melanjutkan meditasiku... Sementara di luar, gelegar petir dan guruh semakin sering dan keras, bersahut-sahutan.
Aku berusaha mencapai tingkat kesunyian yang dalam untuk mampu merasakan keganjilan yang terjadi.
Firasatku mengatakan, akan terjadi sesuatu yang luar blasa malam lni.
Dan benar saja, saat aku sedang dalam meditasi, kurasakan ada aura pertempuran magis yang sedang berlangsung.
Berada tak jauh dari kostan tempatku tinggal.
Tapi belum jelas ada di daerah mana. Kucoba menerawang, tapi hanya kegelapan yang nampak.
Argh...kayaknya aku harus mencarinya sendiri...
Aku mengakhiri meditasiku, lalu beranjak keluar kanar. Melihat langit, memperkirakan arah mana yang harus aku tuju.
Sebenarnya aku ragu juga, karena kupikir ga ada hubungannya denganku.
Tapi, seolah ada yang menarikku untuk melihat ke tempat asal suara itu.
Seperti ada yang mendorongku ke sana.
Maka, dengan diam-diam, aku menuju ke arah aura ketegangan yang kurasakan dalam meditaslku tadl.
Ternyata, asal suara itu cukup jauh.
Padahal deteksiku tadi, dekat dengan kostan. Apakah prediksiku yang salah atau memang sumber suara guruh itu yang berpindah tempat?
Sesampainya di sana, aku ternganga melihat sebuah kejadian yang sangat mengejutkan diriku.
Tampak di sana, terjadi sebuah pertempuran antar makhluk ghaib.
arinu dan 64 lainnya memberi reputasi
65
Tutup