Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
Karma : Hurt No One
Karma : Hurt No One


Quote:





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


Diubah oleh ucln 30-09-2020 19:48
qthing12Avatar border
sukhhoiAvatar border
jalakhideungAvatar border
jalakhideung dan 55 lainnya memberi reputasi
-12
87.7K
610
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
angchimoAvatar border
angchimo
#500
Side Story # Teman Lama



Salah satu hal yang menyebalkan dari akibat pandemi adalah aktivitas dan pertemuan yang kini dibatasi. Entah bagaimana awal mulanya, kami kini tiba pada sebuah kenormalan baru, atau yang banyak orang bilang dengan istilah New Normal. Seperti bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan sebagainya.

Dampak dari pembatasan aktifitas itu membuat banyak para pekerja, termasuk gue, jadi ga lagi sering berangkat ke kantor. Dan sial bagi Koh Hendri yang beberapa bulan sebelum pandemi memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang telah ia jalani puluhan tahun demi sebuah pekerjaan baru. Karna saat pandemi terjadi, ia malah jadi harus kehilangan pekerjaan tersebut akibat dampak pengurangan karyawan yang mana diutamakan karyawan lama saja yang dipertahankan oleh kantor barunya itu.

Mengetahui kabar tersebut, gue langsung merapatkan dirk ke Koh Hendri. Gue tau ga alan mudah untuk mencari pekerjaan lain lagi bagi Koh Hendri di tengah suasana pandemi. Gue pun memberikan saran pada Koh Hendri untuk memulai sebuah usaha.

Setelah obrolan panjang berjam-jam via telepon dengan Koh Hendri, kami memutuskan untuk menjual makanan kemasan, yaitu mie ayam frozen yang siap seduh untuk dinikmati. Kami juga berencana menjualnya lewat aplikasi pesan makanan online.

Kemudian, Setelah beberapa pertemuan dalam rangka meracik resep mie ayam frozen itu, kami akhirnya mewujudkan rencana itu. Gue mengurus bagian memproduksi dan menjual secara online sementara Koh Hendri mengurus pembelian bahan baku serta penjualan lewat mulut ke mulut.

Tapi seperti yang kita semua tau, hidup memang ga selalu mudah. Apa yang gue jalani dengan Koh Hendri hanya bisa bertahan beberapa bulan sampai akhirnya kami memutuskan untuk berhenti karna hasil penjualan yang ga sesuai harapan.

Di posisi itu, gue yang sedang dirumah sendirian karna Putri dan Annissa berada di Surabaya untuk persiapan kelahiran anak kedua gue membuat gue kembali lebih banyak menghabiskan waktu sia-sia dirumah. Kebijakan kantor yang kini memangkas gaji karyawannya hingga 50% akibat dampak pandemi juga makin memperburuk kondisi ekonomi keluarga kecil gue. Dan ditengah keputus-asaan gue saat itu dengan usaha yang akhirnya gue akhiri bersama Koh Hendri saat itu membuat Koh Hendri tiba-tiba menghilang tanpa kabar.

Berulang kalo gue menelponnya selalu ga dijawab. Puluhan chat gue kirim pun selalu ia abaikan tanpa ada balasan. Gue jadi merasa bersalah dan mencoba mencari tau letak kesalahan gue, namun gue ga menemukan jawabannya.

Tya, istrinya Koh Hendri, juga ga mengatakan ada hal yang aneh dari Koh Hendro saat gue bertanya kabar Koh Hendri padanya. Akhirnya, gue memutuskan untuk menghubungi Rendi.

Setelah berbasa-basi melalui chat, gue akhirnya meminta Rendi untuk berkomunikasi lewat panggilan video. Kami mengobrol santai malam itu hingga merasa bosan karna cuma ngobrol berdua lewat panggilan video. Rendi kemudian mengusulkan untuk menghubungi teman-teman yang lain. Dan dengan inisiatifnya yang tinggi, Rendi menghubungi Heri dan tentu saja Koh Hendri.

Panggilan Video dari Rendi langsung dijawab oleh Koh Hendri yang kemudian hanya cengengesan saat gue menyapanya. Heri terlihat lebih santai meski sempat kebingungan di awal panggilan video dari Rendi karna ga menyangka akan kembali berkomunikasi lagi setelah sekian lama kami tak saling menyapa.

Tya yang juga ikut nimbrung dalam obrolan kami langsung berinisiatif tanpa izin menyambungkan panggilan video kami ini ke sebuah nomor yang masih tersimpan dalam kontak gue namun ga pernah sekalipun lagi gue hubungi; Felicia.

Felicia menjawab panggilan video tanpa berkata apapun. Ia terlihat kebingungan menatap layar handphone nya dimana kami telah berkumpul lebih dulu dalam sebuah panggilan video ini.

“Eh, ada apaan pada video call-an?” Tanya Felicia memecah hening yang sengaja kami ciptakan demi membuat Felicia berbicara lebih dulu.

Tya kemudian menyambutnya dengan tawa, yang membuat gue, Rendi, Heri, serta Koh Hendri juga ikut tertawa kecil meski ga mengerti kenapa Tya tertawa.

“Kaget ga Fel tau-tau di video call sama kita? Dan ada dua mantan Lu pula.” Tanya Tya sambil meredakan tawanya.

Gue jadi menyeringai bingung mendengar ucapan Tya menyebut ‘dua mantan’ nya Felicia.

“Eh iya satu ya? Bagus ga termasuk mantan kan?” Ralat Tya.

“Apaan sih Ya. Ga usah bahas yang udah-udah lah.” Selah Rendi yang sepertinya keberatan dengan ucapan Tya.

Tya terlihat menutup mulutnya dengan kedua tangan tanda mengejek sementara Felicia hanya tersenyum menanggapi ejekan Tya.

Kami kemudian saling bertanya kabar. Dari situ gue tau kalo Felicia sudah dua taun ini kembali tinggal dan bekerja di Jakarta. Gue juga sempat menanyakan dimana Felicia bekerja. Saat Felicia menjawab, gue kembali bertanya kenapa dia bekerja disana sementara ada usaha almarhum Bokapnya yang dulu pernah ia ceritakan ke gue bahwa ia diminta untuk melanjutkannya.

Obrolan dua arah antara gue dan Felicia membuat yang lainnya hanya mendengarkan sambil memasang senyum meledek. Tentu saja kecuali Rendi yang sebenernya juga tersenyum namun terlihat berbeda bagi gue hingga akhirnya gue menghentikan obrolan dengan Felicia.

Kami kemudian membahas tentang sebuah game battle royal mobile yang kami mainkan dan ternyata Felicia juga memainkannya. Kami lalu bertukar informasi ID akun game kami dengan Felicia dengan janji akan main bareng suatu hari nanti.

Sejak bergabungnya Felicia dalam panggilan video ini, Rendi jadi ga banyak bicara. Ia hanya terlihat memasang senyum menyimak obrolan kami sambil duduk santai dan merokok.

Felicia sempat menanyakan ke gue tentang hidup berumah tangga yang kini gue jalani. Ia mengucapkan selamat saat gue mengatakan bahwa istri gue tengah mengandung anak ke dua gue serta ia juga mendoakan yang terbaik untuk kondisi anak dan istri gue.

Setelah malam semakin larut, kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri panggilan video ini. Tentu diiming-imingi dengan janji temu di kemudian hari yang kami tak tau apakah akan terwujud atau tidak. Namun setidaknya kami saling mendoakan agar kami semua dapat selau diberikan kesehatan serta kekuatan dalam menghadapi pandemi yang tengah melanda.

Satu per satu dari kami mulai memutus panggilan video. Hingga tersisa Gue, Rendi, dan Felicia.

Gue menatap layar melihat Rendi dan Felicia sejenak. Kemudian memutuskan panggilan lebih dulu.

Sejak saat itu, kami ga pernah lagi berkomunikasi bersama-sama seperti itu. Hanya komunikasi pribadi antata satu sama lain saja seperti biasa. Seperti gue dengan Koh Hendi atau dengan Rendi. Gue memang masih memiliki kontak Felicia di handphone gue, namun nomor kontaknya ga pernah sekalipun tersentuh dalam sebuah komunikasi. Bahkan niat untuk menyapanya pun ga pernah terlintas dalam benak gue selama ini. Gue tetap menyimpan kontaknya hanya sebagai bagian dari kontak temen-temen lama yang ga memiliki garis komunikasi bersama.

Namun gue bersyukur, setidaknya, temen-temen gue masih tetap dalam kondisi sehat meski mungkin masing-masing dari kami tengah berjuang untuk hidup kami masing-masing. Setidaknya, kami masih saling mengenal dan mengakui pertemanan meski mungkin ga lagi saling menyapa seperti dulu. Setidaknya, kami masih berteman dan menjaga pertemanan itu tanpa perlu mengungkit masa lalu yang mungkin meninggalkan jejak kecewa. Setidaknya, kami masih dalam satu lingkaran pertemanan yang sama, meski ga lagi sedekat dulu.

jenggalasunyi
mmuji1575
medi.guevera
medi.guevera dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.