- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#144
Chapter 93
Quote:
Seperti yang sudah dibicarakan dengan para kapten yang hadir, BASS akan tetap melanjutkan patroli dan pembasmian monster dengan peralatan seadanya. Kapten Julian dari tim 8 tengah malam sekali datang kekantornya yang sudah melintang garis polisi yang menyegel pintu masuknya. Tidak ada keraguan yang terpancar dari wajahnya, hanya raut wajah sumringah seakan penyegelan ini tidak berarti.
Sebuah sinar menyorot tepat ke arah wajahnya, “Hentikan Danny!” kapten Julian menyadari ada wakil kaptennya yang juga datang.
“Mau apa kau ke sini?” tanyanya lantang.
“Aku harus mengambil sesuatu yang harusnya kumiliki,” melirik ke arah Danny. “jika kamu mau, akan kubawakan juga.”
“Cih, jangan----,” Danny yang biasa tak acuh, kali ini lebih defensive. Ia tidak ingin kaptennya bertindak ceroboh yang nantinya akan merugikan tim. Tapi kapten Julian santai menanggapinya, ia berputar tanpa berbicara sedikit pun. Danny mengikutinya dan memberikannya kaptennya itu penerangan dengan senter ditangannya.
Kapten Julian meminta Danny untuk menyoroti suatu tempat untuknya, berupa tembok pinggir kantor. Jika dilihat dari warnanya saja bagian ini sedikit berbeda, agak lebih kusam. Lalu kapten Julian mulai meraba-raba tembok itu, Danny sempat kebingungan dengan tingkah laku kaptennya itu. Hingga kapten Julian menemukan sebuah ‘tombol’ rahasia lalu menekannya. Seketika tembok itu bergerak ke atas, membuka jalan bagi mereka.
“Maaf aku harus merahasiakannya, kamu mau ikut?” bertanya kepada Danny.
“Baiklah….,” sambil menggelengkan kepalanya karena ketidaktahuannya.
Jalan rahasia ini menyambung ke bagian ruangan bawah tanah dan gudang penyimpanan senjata. Namun seperti yang kapten Julian kira, gudang persenjataan ini juga disegel. Tetapi tujuan awal kapten Julian masuk ke dalam kantornya sendiri bukanlah untuk mengambil senjata di gudang.
“Apakah jalur rahasia itu sudah ada sebelum aku bergabung?” tanya Danny.
“Hmm, ya bisa dibilang begitu. Ketika tim sektor 8 dibentuk dan aku dijadikan kapten. Aku langsung membuat jalur rahasia itu tanpa memberitahu pusat,” sambil tersenyum. “jalur itu kubuat jika sewaktu-waktu para monster itu menyerang kita, ada sebuah jalan rahasia untuk melarikan diri. Itu saja,” penjelasan yang cukup memuaskan bagi Danny.
Kapten dan wakilnya itu akhirnya sampai ke bagian depan kantor, dari sini mereka bisa melihat segel yang melintang itu menutup pintu masuk kantor. Kapten Julian menatap sebuah katana yang terpajang di dinding. Dan dari situlah Danny menyadari bahwa kaptennya itu datang untuk mengambil Matsumoto, katana kesayangannya.
“Ya, aku akan mengambil katanya.”
“Jadi kau tetap ingin melakukan tugas?”
“Bukan aku saja, tetapi para kapten juga setuju. Mereka akan mendapatkan senjata dengan cara masing-masing, untung saja orang pemerintahan itu terlalu bodoh tuk percaya bahwa katana yang terpajang itu hanya hiasan.”
Kapten Julian meraih katanya yang masih terbungkus sarung dengan rapat, lalu menarik secara perlahan hingga besi tajam itu mampu memantulkan cahaya dari senter Danny. Kemudian kapten Julian menghirup aroma yang keluar, ia hisap dalam-dalam. Jujur saja Danny melihatnya agak sedikit terganggu, ia menampilkan wajah yang jijik.
“Hm, Matsumoto. Kini kau sudah kembali kepelukanku!” kapten Julian memasukannya ke sela-sela sabuk hitamnya. “aku akan berpatroli, tidak di sektor ini. Karena ya…Silver Clan tentunya,” ia bergerak menjauh dari Danny yang masih memandangi katana miliknya juga. “aku tidak memaksamu untuk ikut, tapi jika kamu mau, aku berangkat ke sektor 9. Kita ketemu di sana nanti,” berjalan meninggalkan Danny sendirian di sana.
Di lain pihak, tim asuhan kapten Vela juga sudah bergerak. Dengan beberapa amunisi seadanya dari gerombolan mafia yang dikalahkan oleh Sterling dan Vivian. Ia tidak bergerak sendiri melainkan ada Nakata disampingnya. Orang besar itu tidak memerlukan senjata, fisik dan kekuatan pukulannya sudah mematikan. Allison saja sudah merasakan kekuatan dari Nakata, meskipun anak buah kapten Vela ini tidak mampu mengalahkannya.
“Bergerak seperti tidak mudah ternyata, tidak ada sensor yang memberitahu kita di mana letak monster itu berada,” ucap kapten Vela menelusuri jalanan yang sudah sepi.
Tiba-tiba sebuah mobil militer lewat dengan membunyikan sirine khas mereka, ini menjadi sebuah tanda bagi kapten Vela dan Nakata bahwa mereka pasti sedang menuju tempat munculnya Beaters. Langkah pemerintahan terhitung sangat cepat, sudah ada tim pengganti yang mengurusi pekerjaan BASS dalam menumpas Beaters dijalanan.
Lampu berwarna merah dan biru meninggalkan jejak yang dapat diikuti oleh kapten Vela meskipun mobil melesat dengan cepat. Keduanya berlari mencoba mengejarnya, sesekali melewati lorong kecil yang terbentuk dari gedung-gedung pencakar yang berdiri berdampingan. Kapten Vela siap dengan memegang senjata yang disembunyikannya di jaket panjangnya itu seperti baju khas detektif di barat. Langkah mereka semakin dekat, kapten Vela bersembunyi di belakang tembok, mengamati kejadian dari jauh. Disampingnya ada Nakata yang terus ikut dari belakang.
“Hm, mereka hanya menggunakan persenjataan biasa. Bukan baju tempur milik BASS.”
Orang-orang yang turun dengan pakaian yang begitu lengkap memang lebih mirip dengan tim khusus yang menangani kasus teror. Helm hitam yang menutup seluruh kepala dan juga masker panjang yang menyambung ke bagian baju. Rompi-rompi tebal juga yang berwarna hitam melapisi bagian badan. Senjata laras panjang otomatis yang bisa menembakan setidaknya 50 peluru sekali mematik pelantuk.
Monster yang dihadapi bukanlah monster kuat seperti dari kalangan clan ataupun spesimen khusus hasil pabrik. Tetapi Beaters normal berwarna hijau yang menjadi makan malam sehari-hari dari tim BASS. Namun keagresifan mereka yang meningkat akhir-akhir ini harus diawasi betul oleh petugas-petugas yang bekerja saat ini. Salah langkah atau bertindak ceroboh sama saja dengan memberikan nyawa mereka kepada monster.
Mereka mulai beraksi dengan menembakan rentetan peluru, mengenai tubuh para monster yang mulai berteriak melengking membuat telinga sakit. Tapi serangan itu tidak terlalu berefek, keahlian para monster untuk menyembuhkan diri memang merepotkan. Cara yang paling ampuh adalah dengan mengincar Beat yang berfungsi sebagai jantung pada manusia, hanya saja dibutuhkan banyak peluru yang terus mengincar ke arah dada jika serangan itu ingin membuahkan hasil.
“Tidak bisa, mereka belum terlatih untuk melawan monster seperti ini,” kapten Vela mengamati dengan perasaan gregetan ingin membantu. Tetapi hadirnya di sini malah akan membuat masalah baru. Hal itu berkecamuk di kepala kapten Vela. Niat ingin membantunya sangat besar, apalagi adanya Nakata di sini bisa menahan satu di antara monster yang ada di sana. “jika monster itu bergerak, kita akan masuk dan membantu petugas,” kapten Vela memberikan arahan yang sangat dimengerti oleh Nakata.
Perlahan monster mulai menyerang balik, saat kapten Vela dan Nakata ingin membantu, terdengar suara yang menggelegar yang datang dari arah yang jauh.
“Jangan-jangan?!” kapten Vela terhenti ketika sesuatu melesat dengan cepat.
“Cih! Bagaimana mungkin mereka mengirimkan amatiran untuk mengganti peran BASS!” Gareth dengan baju tempurnya mulai melawan monster Beaters. Satu-persatu dengan mudah berhasil dimusnahkannya.
“Dia tahu di mana aku menyembunyikan baju tempurnya, mungkin Leah yang memberitahunya. Tapi….,” kapten Vela mulai ragu karena kondisi kedua anak buahnya itu belumnya sembuh benar.
“Oi, bilang kepada atasan kalian. Senjata kalian itu tidak bisa membunuh monster ini!” ucap Gareth dengan nada tinggi, namun para petugas itu malah mengarahkan senjatanya pada Gareth.
“Konfirmasi! Saya menemukan anggota BASS yang melanggar dengan memakai baju tempur dan terjun melawan monster Beaters,” terlihat salah satu petugas berbicara.
“Oh jadi kau sedang berbicara dengan atasanmu kah? Apa dia mendengar ucapanku barusan?” jemari mereka bergerak menarik pelatuknya, peluru berdatangan ke bagian non vital. Sudah jelas arahan dari atasan mereka adalah untuk menangkap Gareth dan mengamankan baju tempurnya. “WOY! KALIAN GILA HAH?! JIKA AKU TIDAK DATANG KALIAN AKAN MATI!” Gareth tidak ingin melukai para petugas itu, ia memilih untuk pergi dari tempat itu dengan menyalakan pelontar roketnya dan terbang tinggi.
“Kami sampai dianggap musuh oleh pemerintahan, mereka sangat berlebihan!” ucap kapten Vela marah sambil melihat Gareth yang berhasil melarikan diri.
Sebuah sinar menyorot tepat ke arah wajahnya, “Hentikan Danny!” kapten Julian menyadari ada wakil kaptennya yang juga datang.
“Mau apa kau ke sini?” tanyanya lantang.
“Aku harus mengambil sesuatu yang harusnya kumiliki,” melirik ke arah Danny. “jika kamu mau, akan kubawakan juga.”
“Cih, jangan----,” Danny yang biasa tak acuh, kali ini lebih defensive. Ia tidak ingin kaptennya bertindak ceroboh yang nantinya akan merugikan tim. Tapi kapten Julian santai menanggapinya, ia berputar tanpa berbicara sedikit pun. Danny mengikutinya dan memberikannya kaptennya itu penerangan dengan senter ditangannya.
Kapten Julian meminta Danny untuk menyoroti suatu tempat untuknya, berupa tembok pinggir kantor. Jika dilihat dari warnanya saja bagian ini sedikit berbeda, agak lebih kusam. Lalu kapten Julian mulai meraba-raba tembok itu, Danny sempat kebingungan dengan tingkah laku kaptennya itu. Hingga kapten Julian menemukan sebuah ‘tombol’ rahasia lalu menekannya. Seketika tembok itu bergerak ke atas, membuka jalan bagi mereka.
“Maaf aku harus merahasiakannya, kamu mau ikut?” bertanya kepada Danny.
“Baiklah….,” sambil menggelengkan kepalanya karena ketidaktahuannya.
Jalan rahasia ini menyambung ke bagian ruangan bawah tanah dan gudang penyimpanan senjata. Namun seperti yang kapten Julian kira, gudang persenjataan ini juga disegel. Tetapi tujuan awal kapten Julian masuk ke dalam kantornya sendiri bukanlah untuk mengambil senjata di gudang.
“Apakah jalur rahasia itu sudah ada sebelum aku bergabung?” tanya Danny.
“Hmm, ya bisa dibilang begitu. Ketika tim sektor 8 dibentuk dan aku dijadikan kapten. Aku langsung membuat jalur rahasia itu tanpa memberitahu pusat,” sambil tersenyum. “jalur itu kubuat jika sewaktu-waktu para monster itu menyerang kita, ada sebuah jalan rahasia untuk melarikan diri. Itu saja,” penjelasan yang cukup memuaskan bagi Danny.
Kapten dan wakilnya itu akhirnya sampai ke bagian depan kantor, dari sini mereka bisa melihat segel yang melintang itu menutup pintu masuk kantor. Kapten Julian menatap sebuah katana yang terpajang di dinding. Dan dari situlah Danny menyadari bahwa kaptennya itu datang untuk mengambil Matsumoto, katana kesayangannya.
“Ya, aku akan mengambil katanya.”
“Jadi kau tetap ingin melakukan tugas?”
“Bukan aku saja, tetapi para kapten juga setuju. Mereka akan mendapatkan senjata dengan cara masing-masing, untung saja orang pemerintahan itu terlalu bodoh tuk percaya bahwa katana yang terpajang itu hanya hiasan.”
Kapten Julian meraih katanya yang masih terbungkus sarung dengan rapat, lalu menarik secara perlahan hingga besi tajam itu mampu memantulkan cahaya dari senter Danny. Kemudian kapten Julian menghirup aroma yang keluar, ia hisap dalam-dalam. Jujur saja Danny melihatnya agak sedikit terganggu, ia menampilkan wajah yang jijik.
“Hm, Matsumoto. Kini kau sudah kembali kepelukanku!” kapten Julian memasukannya ke sela-sela sabuk hitamnya. “aku akan berpatroli, tidak di sektor ini. Karena ya…Silver Clan tentunya,” ia bergerak menjauh dari Danny yang masih memandangi katana miliknya juga. “aku tidak memaksamu untuk ikut, tapi jika kamu mau, aku berangkat ke sektor 9. Kita ketemu di sana nanti,” berjalan meninggalkan Danny sendirian di sana.
Di lain pihak, tim asuhan kapten Vela juga sudah bergerak. Dengan beberapa amunisi seadanya dari gerombolan mafia yang dikalahkan oleh Sterling dan Vivian. Ia tidak bergerak sendiri melainkan ada Nakata disampingnya. Orang besar itu tidak memerlukan senjata, fisik dan kekuatan pukulannya sudah mematikan. Allison saja sudah merasakan kekuatan dari Nakata, meskipun anak buah kapten Vela ini tidak mampu mengalahkannya.
“Bergerak seperti tidak mudah ternyata, tidak ada sensor yang memberitahu kita di mana letak monster itu berada,” ucap kapten Vela menelusuri jalanan yang sudah sepi.
Tiba-tiba sebuah mobil militer lewat dengan membunyikan sirine khas mereka, ini menjadi sebuah tanda bagi kapten Vela dan Nakata bahwa mereka pasti sedang menuju tempat munculnya Beaters. Langkah pemerintahan terhitung sangat cepat, sudah ada tim pengganti yang mengurusi pekerjaan BASS dalam menumpas Beaters dijalanan.
Lampu berwarna merah dan biru meninggalkan jejak yang dapat diikuti oleh kapten Vela meskipun mobil melesat dengan cepat. Keduanya berlari mencoba mengejarnya, sesekali melewati lorong kecil yang terbentuk dari gedung-gedung pencakar yang berdiri berdampingan. Kapten Vela siap dengan memegang senjata yang disembunyikannya di jaket panjangnya itu seperti baju khas detektif di barat. Langkah mereka semakin dekat, kapten Vela bersembunyi di belakang tembok, mengamati kejadian dari jauh. Disampingnya ada Nakata yang terus ikut dari belakang.
“Hm, mereka hanya menggunakan persenjataan biasa. Bukan baju tempur milik BASS.”
Orang-orang yang turun dengan pakaian yang begitu lengkap memang lebih mirip dengan tim khusus yang menangani kasus teror. Helm hitam yang menutup seluruh kepala dan juga masker panjang yang menyambung ke bagian baju. Rompi-rompi tebal juga yang berwarna hitam melapisi bagian badan. Senjata laras panjang otomatis yang bisa menembakan setidaknya 50 peluru sekali mematik pelantuk.
Monster yang dihadapi bukanlah monster kuat seperti dari kalangan clan ataupun spesimen khusus hasil pabrik. Tetapi Beaters normal berwarna hijau yang menjadi makan malam sehari-hari dari tim BASS. Namun keagresifan mereka yang meningkat akhir-akhir ini harus diawasi betul oleh petugas-petugas yang bekerja saat ini. Salah langkah atau bertindak ceroboh sama saja dengan memberikan nyawa mereka kepada monster.
Mereka mulai beraksi dengan menembakan rentetan peluru, mengenai tubuh para monster yang mulai berteriak melengking membuat telinga sakit. Tapi serangan itu tidak terlalu berefek, keahlian para monster untuk menyembuhkan diri memang merepotkan. Cara yang paling ampuh adalah dengan mengincar Beat yang berfungsi sebagai jantung pada manusia, hanya saja dibutuhkan banyak peluru yang terus mengincar ke arah dada jika serangan itu ingin membuahkan hasil.
“Tidak bisa, mereka belum terlatih untuk melawan monster seperti ini,” kapten Vela mengamati dengan perasaan gregetan ingin membantu. Tetapi hadirnya di sini malah akan membuat masalah baru. Hal itu berkecamuk di kepala kapten Vela. Niat ingin membantunya sangat besar, apalagi adanya Nakata di sini bisa menahan satu di antara monster yang ada di sana. “jika monster itu bergerak, kita akan masuk dan membantu petugas,” kapten Vela memberikan arahan yang sangat dimengerti oleh Nakata.
Perlahan monster mulai menyerang balik, saat kapten Vela dan Nakata ingin membantu, terdengar suara yang menggelegar yang datang dari arah yang jauh.
“Jangan-jangan?!” kapten Vela terhenti ketika sesuatu melesat dengan cepat.
“Cih! Bagaimana mungkin mereka mengirimkan amatiran untuk mengganti peran BASS!” Gareth dengan baju tempurnya mulai melawan monster Beaters. Satu-persatu dengan mudah berhasil dimusnahkannya.
“Dia tahu di mana aku menyembunyikan baju tempurnya, mungkin Leah yang memberitahunya. Tapi….,” kapten Vela mulai ragu karena kondisi kedua anak buahnya itu belumnya sembuh benar.
“Oi, bilang kepada atasan kalian. Senjata kalian itu tidak bisa membunuh monster ini!” ucap Gareth dengan nada tinggi, namun para petugas itu malah mengarahkan senjatanya pada Gareth.
“Konfirmasi! Saya menemukan anggota BASS yang melanggar dengan memakai baju tempur dan terjun melawan monster Beaters,” terlihat salah satu petugas berbicara.
“Oh jadi kau sedang berbicara dengan atasanmu kah? Apa dia mendengar ucapanku barusan?” jemari mereka bergerak menarik pelatuknya, peluru berdatangan ke bagian non vital. Sudah jelas arahan dari atasan mereka adalah untuk menangkap Gareth dan mengamankan baju tempurnya. “WOY! KALIAN GILA HAH?! JIKA AKU TIDAK DATANG KALIAN AKAN MATI!” Gareth tidak ingin melukai para petugas itu, ia memilih untuk pergi dari tempat itu dengan menyalakan pelontar roketnya dan terbang tinggi.
“Kami sampai dianggap musuh oleh pemerintahan, mereka sangat berlebihan!” ucap kapten Vela marah sambil melihat Gareth yang berhasil melarikan diri.
redrices dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas
Tutup