Kaskus

Story

Rebek22Avatar border
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah


Quote:


Quote:


Quote:



1. A story about a farewell sentence



Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf

Kanaria.

Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.

Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.

Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.

Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.

Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.

Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.

Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.

Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.

" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.

Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.

" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.

" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.

" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "

" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.

" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "

" Terima kasih Kana "

" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "

" Baik "

" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "

" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "

" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "

" Kana "

" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.

Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.

Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.

Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.

Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.

Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.

Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.

Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.

Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.

Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.

kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.

Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.

Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.

Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.


Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.

Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.

Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah

" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.

" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "

" Haha, ya bagaimana ya.. "

" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.

" Tapi Kana dia ayahmu "

" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "

" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "

" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "

Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.

Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.

Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.

Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.

" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.

" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.

" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "

" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "

" Kenapa? "

" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "

Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.

" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "

" Terima kasih "

" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.

" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.

" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"

" Tapi "

" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "

" Terima kasih bu "

Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.

" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.

Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.

" Sampai jumpa lagi "

" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.

" Hati-hati di jalan bu "

Di sinilah semua bermula....

Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku

Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.

Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.

Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
pangerankodo353Avatar border
irwanh44Avatar border
sisininAvatar border
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
147
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
Rebek22Avatar border
TS
Rebek22
#19
9. Kelinci Dan Kura-kura
Quote:


Hestia

" Jangan lah berjalan di depanku, karena diri ini terlalu masih terlalu sombong untuk mengikutimu. Jangan berjalan di belakangku, karena diri ini masih terlalu payah untuk memimpin. Tapi berjalanlah bersamaku karena kita teman yang saling melengkapi setiap kekurangan "

Kata-kata tadi merupakan sebuah quotes yang pernah aku baca dalam buku The Jorney of Necromancer. Sepenggal Kalimat indah yang Rasputin katakan kepada sahabatnya ketika terjadi selisih pendapat di antara mereka. Seperti itulah konsep sebuah pertemanan yang penulis tuangkan kedalam bukunya, saling melengkapi kekurangan bukan saling melebihkan kelebihan.

Setiap manusia di ciptakan lengkap dengan kelebihan dan kekirangan, tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, maka dari itulah Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain.

Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri, bahkan adampun merasa bosan di surga yang merupakan tempat semua kenikmatan, sehingga Tuhan menghadiahinya seorang pendamping yaitu hawa.

Aku dan Zahra merupakan dua pribadi yang pada dasarnya bertolak belakang. Dia mengerjakan segala sesuatu secara sistematis sementara diri ini tidak. Zahra mampu mengungkapkan segala sesuatu dengan kata-kata, sementara diri ini tidak. Aku adalah tipikal orang yang tidak begitu taat dengan peraturan sementara Zahra adalah sosok yang begitu menjunjung tinggi peraturan. Aku berani dan mengutamakan tindakan dari pada ganjaran sementara Zahra tidak demikian.

Sekilas kami terlihat sangat tidak cocok, akan tetapi aku dan Zahra tetap bisa menjadi sepasang sahabat. Disitu lah letak keunikan suatu hubungan yang di namakan persahabatan, melangkah bersama untuk saling melengkapi kekurangan, mendorong maju jika ada yang takut melangkah dan menahan jika ada yang terlalu cepat dalam melaju.

Bertengkar lalu saling berbaikan sudah menjadi siklus rutin dalam hubungan kami, walaupun pada akhirnya siklus tersebut harus usai pada sebuah pertengkaran. Kedua Tim SAR yang memutuskan untuk menemaniku sepertinya memiliki hubungan yang sama uniknya dengan diri ini dan Zahra.

Pak Rai dan Pak Rangga sepertinya merupakan sepasang sahabat, atau istilah dalam dunia pekerjaan biasa di sebut patner. mereka berdua nampak sangat akrab walaupun dari yang diri ini lihat kepribadian mereka sangat lah bertolak belakang.

Pak Rai memiliki wibawa tinggi, hanya saja dia sering membuat keputusan yang asal, seperti sekarang ini. Seharusnya dia memaksa kami untuk kembali ke kamp pegungsian karena bagaimanapun tempat ini berbahaya terlebih lagi untuk bocah SMA seperti aku dan Aka

Namun pak Rai malah memperbolehkan ku untuk tetap pergi, bahkan memutuskan untuk menemani kami berdua. Pak Rangga sempat geleng-geleng kepala karena patner nya memutuskan sesuatu yang mungkin di luar standarisasi pekerjaan mereka

Keduanya sempat adu mulut, namun pada akhirnya pak Rai lah yang menang. Pak Rangga pasrah dan sepertinya di sudah terbiasa mengalami hal tersebut karena wajahnya tidak mengukirkan raut kekesalan sama sekali.

Mereka pun menemani kami menelusuri bekas daerah pertokoan menuju rumahku yang berada dua blok dari kawasan ini. Dokter Fara sendiri tadi hanya cekikikan ketika kedua tim SAR itu adu mulut, sepertinya dia juga sudah terbiasa melihat kelakukan pasangan aneh itu.

" Jadi pak Rai dan Nona dokter itu merupakan sepasang suami istri? " Tanya Aka kepada pak Rangga saat dokter Fara dan Pak Rai berada cukup jauh di depan kami.

" Yup, mereka baru menikah dua minggu yang lalu " Jawab pak Rangga.

" Apa dulunya mereka selalu bertengkar? " Aku ikut-ikutan bertanya karena merasa penasaran.

" Ya begitu kah. Keduanya seperti kucing dan anjing yang tidak pernah berdamai jika saling berpapasan " Jelas pak Rangga.

" Mengapa mereka bisa menikah? " Tanyaku lagi.

" Di sana lah letak keunikan hubungan mereka, walau sering bertengkar pada dasarnya kedua orang itu saling peduli. Namun tidak ada yang mau saling mengungkapkan sehingga terjadi lah pertengkaran, pada akhirnya kedua orang itu sadar jika hati mereka saling mencintai dan jadilah seperti sekarang ini "

" Haha sungguh pasangan yang unik " Aka memberikan komentar tentang keunikan hubungan pak Rai dan dokter Fara.

" Bagaimana dengan anda? " Tanyaku lagi.

" Aku? "

" Yup, menurutku sifat kalian sangat berbeda namun di sisi lain kau dan pak Rai terlihat seperti pasangan emas yang mampu menyelesaikan segala masalah "

" Kau tau, walaupun terlihat bodoh Rai adalah Kapten dari tim SAR ini "

" Kau serius? " Ujarku dan Aka nyaris bersamaan.

" Yup, dia sangat bisa di andalkan. Namun di sisi lain dia sering bertindak gegabah, dan asal sehingga Rai sangat membutuhkan seseorang yang mampu merapihkan ke gegabah annya itu "

" Orang yang mampu merapihkan dampak dari ke gegabahannya adalah anda? " Tanyaku.

" Kau benar, maka dari itulah aku di pilih menjadi wakil kapten. Tanpa diriku tim kami akan amburadul karena si bodoh itu selalu mengambil keputusan tanpa berfikir panjang. Tanpa dirinya pun tim kami akan menjadi sangat payah, karena ide bodohnya lah yang justru membuat unit ini luar biasa "

" Kau dan pak Rai saling melengkapi, dan jika tim kalian di ibaratkan seperti burung, maka anda dan pak Rai merupakan sayang kiri dan kanan. Jika salah satu dari kalian tidak ada, maka timpun tidak akan mambu untuk terbang " Ujar Aka.

" Pengibaratan yang bagus " Puji pak Rangga.

" Apa kau tidak pernah merasa lelah karena harus selalu membenahi dampak tindakan pak Rai? " Entah mengapa aku malah menanyakan gak tersebut kepada pak Rangga.

" Tentu saja sering, bahkan karena terlalu sering pada akhirnya aku pun jadi terbiasa. Walau demikian, aku tetap sangat menghormati si bodoh itu, karena bagaimanapun dia lah raga yang terus bergerak demi menyelamatkan orang lain, sementara diri ini merupakan otak yang membuat pergerakannya maximal "

" Mengapa kau bisa sangat menghormatinya? " Tanyaku lagi yang entah mengapa malah merasa semakin penasaran.

" Haha sepertinya kau sangat penasaran dengan kami " Pak Rangga malah tertawa ketika telinganya kembali mendengar sebuah pertanyaan yang terlontar dari lisanku.

" Ada apa? " Tanya pak Rai yang sepertinya ikut penasaran karena rekannya tertawa dengan begitu riang.

" Hei kenapa kau sangat penasaran? Sana bermesrahan lagi " Ujar Pak Rangga.

" Rangga, kau minta di hajar? " Dokter Fara mengacungkan tinjunya ke arah Fara.

" Haha maaf nona "

" Pak Rai, katakan padaku mengapa kau bisa membuat pak Rangga sangat menghormatimu " Aku melemparkan pertanyaan tadi kepada pak Rai.

" Menghormatiku? " Tanya pak Rai bigung.

" Gadis ini penasaran mengapa aku bisa tahan dengan kebodohanmu " Ujar pak Rangga.

" Haha dia bukan tahan dengan kebodohanku "
" Lantas apa? " Tanyaku bigung.

" Dia sudah tertular dan mungkin sudah sama bodohnya denganku "

" Hei aku bertanya serius " Aku kesakitan karena menganggap pak Rai tengah menggoda diri ini.

" Tia, apa kau tau kisah tentang kura-kura dan kelinci? " Tanya pak Rai.

" Maksudmu kisah tetang kekalahan kelinci dalam lomba lari karena terlalu menganggap remeh kura-kura? "

" Kau benar. Katakan padaku apa hikmah yang bisa kau ambil dari kisah itu? "

" Jangan sombong dan menganggap remeh seseorang " Sahut Aka.

" Kau benar, sekarang tahukah kalian kelanjutan dari kisah itu? " Tanya pak Rai yang langsung membuat keningku berkerut. Kelanjutan kisah kura-kura dan Kelinci? Sejak kapan cerita lama itu memiliki part ke dua?

" Tidak " Aku dan Aka menggeleng secara bersamaan.

" Begini kisahnya. Kelinci menyadari kebodohannya, dia terlalu meremehkan kura-kura sehingga dirinya mengalami kekalahan yang begitu memalukan. Kesombongan hewan itu berhasil di tebang habis oleh si kura-kura. Hewan tercepat kalah dalam balap lari melawan hewan terlambat di hutan, tidak ada hal yang lebih memalukan lagi dari pada itu. Kelinci mendapatkan banyak pelajaran dari kekalahnnya, dan ketika hewan itu memutuskan untuk menetapkan apa yang dirinya dapat. Kelincipun menantang kura-kura lomba lari lagi. Bisa kalian tebak siapa pemenangnya? " Ujar pak Rai yang mengakhiri kisah dengan sebuah pertanyaan.

" Kelinci? " Jawabku.

" Kau benar. Karena ke sombongan kelinci telah sirnah, diapun mampu memenangkan bertandingan, ratusan bahkan ribuan kali perlombaan di ulang pemenangnya tetap saja sama yaitu kelinci. Sekarang apa hikmah yang bisa kalian ambil dari partai ke dua kisah kelinci dan kura-kura " Tanya Pak Rai lagi.

Aku dan Aka bungkam, karena bigung dengan hikmah yang sekiranya bisa kami ambil dari kisah tadi. Kening Aka nampak berkerut, bukti jika si ahli analisa ini sedang berfikir dengan sangat keras.

" Ketidak adilan dunia " Ujar Aka yang jelas membuatku tambah bigung.

" Kau benar "

" Heh kenapa jawabannya malah itu? " Ujarku bigung.

" Menurutmu mana kah yang akan memang, orang yang berbakat namun tidak mau berjuang. Atau orang yang mau berjuang walaupun tidak memiliki bakat? " Tanya pak Rai yang entah mengapa malah bertanya mengenai bakat.

" Orang yang berjuang walaupun tidak memiliki bakat " Jawabku.

" Mengapa begitu? " Tanya pak Rangga.

" Karena perjuangan tidak akan mengecewakan hasil "

" Kau benar. Sekarang bagaimana jika pertanyaannya aku ganti. Siapa kah yang akan menang, orang tanpa bakan namun berjuang atau orang yang berbakat tapi tetap berjuang?

" Orang yang berbakat tapi tetap berjuang "

" Awalnya kelinci adalah sosok yang berbakat dalam lari namun tidak mau berjuang, sementara kura-kura merupakan hewan yang tidak berbakat dalam lari namun mau berjuang. Jika demikian sama dengan yang tadi kau katakan perlombaan akan di menangkan oleh si kura-kura. Namun setelah lomba usai, kesombongan kelinci tumbang dan membuatnya mau berjuang walau sudah memiliki bakat. Maka dari itu di perlombaan berikutnya kura-kura lah yang kalah, dan tidak mungkin lagi baginya untuk kalah dari kura-kura karena sebagai mana yang kau ucapkan tadi, kelinci telah menjadi sosok berbakat yang tetap mau berjuang "

" Aku paham sekarang. Hikmah dari kisah tersebut adalah ketidak adilan dunia, karena seberusaha apapun kura-kura mencoba untuk menang dalam lomba lari, dia akan tetap kalah karena kelinci memiliki bakat di bidang tersebut " Ujarku yang akhirnya paham mengapa Aka mengatakan jika hikmah dari part kedua itu adalah ketidak adilan dunia.

" Jadi apakah dunia ini memang tidak adil? " Tanya pak Rai lagi.

Apakah dunia ini tidak adil? Sejujurnya pertanyaan tersebut sering muncul dalam benakku, terlebih lagi saat rasa Iri terhadap zahra sempurna menguasai hati ini. Mengapa bakat Zahra yang lebih di pandang sementara aku tidak? Pertanyaan seperti itulah yang membuatku selalu mempertanyakan keadilan dari hidup.

" Tidak " Jawaban itulah yang pada akhirnya aku lontarkan sebagai jawaban.

" Tia, dunia ini adil. Hanya saja manusia sering tidak memahaminya, baik lah kita lanjut ke part 3" Ujar pak Rai yang membuatku bahkan Aka kaget, part ketiga?

" Mengapa kalian nampak terkejut? " Tanya pak Rai bigung.

" Kisah kelinci dan kura-kura part dua saja sudah membuat kami merasa aneh, sekarang ada part ke tiganya juga? " Ujar Aka.

" Haha begini lah kisahnya, kura-kura pada akhirnya merasa depresi karena selalu kalah dari kelinci dalam lomba lari. Kelinci yang mengetahui hal tersebut pun berusaha mencari solusi agar sosok yang membuatnya sadar akan kesombongan tidak merasa semakin terpuruk. Dia pun memberi usulan untuk mengganti jenis lomba yang di pertandingan, dari yang awalnya lomba lari, berubah menjadi lomba renang. Keduanya pun sepakat, dan di mulai lah lomba renang itu. Kalian tau siapa yang menang? "

" Kura-kura "

" Tepat, dalam lomba renang ke adaanya justru berbalik. Kelinci memiliki bakat renang dan dia mau berjuang keras. Sementara kelinci tidak berbakat renang namun tetap mau berjuang. Sekarang kura-kura lah yang selalu mampu meraih kemenangan, tanpa memberi kesempatan kepada kelinci. Sekarang hikmah apa kah yang bisa kalian dapatkan dari kisah ini? "

" Dunia adil jika di lihat dari sudut pandang yang tepat " Ujar Aka.

" Kau benar. Namun di satu sisi kalian juga dapat belajar dari kedua hewan teresbut, tidak ada yang sempurna di dunia ini dan masing-masing individu memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Jangan memaksakan diri untuk bisa segala hal, karena dunia tidak membutuhkan sosok yang seperti itu, namun ahli lah dalam satu bidang, dan biarkan lah kelemahanmu di tutupi oleh orang lain yang memeiliki ke ahlian di bidang kelemahanmu " Pak Rai memberi kami penjelasan.

" Dulu aku terus mengejar Rai orang yang berbakat dalam hal fisik dan mau terus berjuang, maka dari itu diri ini sama seperti kura-kura di part kedua kisah tadi, Merasa depresi karena tidak kunjung mampu mendekati Rai. Untungnya si bodoh ini sadar akan kondisi ku dan mulai menasehati diri ini mengenai manusia yang pada dasarnya memiliki bakat berbeda " Pak Rangga mulai menceritakan mengenai masa lalunya kepada kami.

" Dan kau sadar jika bakat yang dirimu miliki bukan lah di bidang fisik? " Tanya Aka.

" Kau benar. Bidang ku adalah berfikir, maka dari itu akan sangat salah jika diri ini berusaha menyaingi Rai dalam hal fisik, begitu juga sebaliknya. Si bodoh itu menasehatiku agar berjalan pada jalan yang seharusnya, yaitu mengasah kemampuan logik dan berfikir kemudian memintaku untuk menjadi patnernya agar mampu menutupi kekurangan yang di milikinya yaitu berfikir " Jelas pak Rangga.

" Jadi itulah yang membuatmu sangat menghormati pak Rai? " Tanyaku kepada pak Rangga.

" Lebih tepatnya Kami saling menghormati, maka dari itu aku dan Rangga menjadi satu paket. Dia raganya dan aku otaknya, jika di antara kami tidak saling menghormati, mana mungkin aku dan si bodoh ini bisa saling menutupi kekurangan "

" Haha kau benar " Aka terlihat puas dengan pembelajaran yang dirinya dapat dari dua tim SAR itu.

Sial, andai aku berjumpa dengan mereka lebih awal. Aku tidak pernah memikirkan semua yang di katakan pak Rai dan pak Rangga sebelumnya, mereka bisa saling melengkapi walau pada dasarnya memiliki kepribadian yang bertolak belakang karena saling menghormati.

Aku sudah bersahabat dengan zahra cukup lama, namun sekalipun diri ini tidak pernah berusaha menghormatinya, bahkan lebih sering merasa cemburu karena dirinya lebih di pandang ketimbang diri ini. Hubungan kami hanya sekedar saling menutupi, bukan melengkapi. Tidak seperti kedua tim SAR ini, yang benar-benar menjadi sepasang sayang bagi timnya.

Aku yakin pak Rai jauh lebih sering menjadi sorotan dari pada pak Rangga, karena memang dia adalah seorang kapten. Namun pak Rangga sepertinya tidak pernah merasa iri karena keduanya telah menjadi satu kesatuan. Pujian yang di berikan orang kepada pak Rai akan meliputi pak Rangga, begitu juga sebaliknya. Andai aku menyadarinya lebih awal, mungkin siklus persahabatan kami tidak akan berakhir di sebuah pertengkaran.

" Terima kasih atas nasehatnya " Ujar Aka.

" Sama - sama "

" Tia, apa kah rumahmu masih jauh? " Tanya pak Rai yang membuatku tersadar dari lamunan.

Perjalanan kami tanpa terasa sudah cukup jauh, dan aku sadar jika tiang sementara yang ada di hadapan kami merupakan bekas gapura penanda komplek rumahku. Artinya sebentar lagi kami akan sampai di tempat tujuan.

" Sedikit lagi kita sampai " Ujarku.

" Jadi, kau seorang pelukis? " Tanya dokter Fara.

" Ya kurang lebih begitu " Jawabku dengan agak malu-malu karena diri ini merasa belum layak di anggap seorang pelukis.

" Hmmm papahku adalah maniak lukisan, mungkin kalian berdua akan cocok jika bertemu "

Aku merasa sedikit terkejut, siapa sangka ayah dari seorang dokter adalah maniak lukisan? Apa sekiranya orang itu akan mau membeli lukisan ku? Semoga saja iya, sebab aku akan berusaha membuat sebuah maha karya menggunakan tahta sang Dementer.

" Di sini lah rumahku " Ujarku saat kami tiba di depan bangunan besar yang bentuknya sudah tidak karuan.

Sial, ternyata rumahku hancur berantakan. Kira-kira bagaimanakah nasib lukisan koleksi papah? Kanfas bernilai ratusan juta itu mungkin sudah hancur lebur tertimpa langit-langit rumah yang ambruk.

" Rumahmu besar juga " Puji Aka yang nampak tercengang.

" Berbahagialah karena pacarmu orang kaya " Ujarku sambil melangkah masuk melalui gerbang yang sudah ambruk.
Diubah oleh Rebek22 30-07-2021 19:46
oceu
oceu memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.