- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#15
6. Bunga Untuk Sang Bunga
Hestia
Saat ini aku sedang duduk di ruang tamu keluarga, sambil memandangi papah yang tengah asik mengobrol dengan seorang pria. Di samping pria itu, ada sesosok wanita yang merupakan istrinya serta gadis seusiaku bernama zahra yang merupakan putri tunggal pasangan tersebut. Mereka adalah tetangga baruku, sebuah keluarga yang pindah dari bandung karena sang ayah di mutasi ke kota kecil ini.
Papah merupakan orang yang selalu ramah terhadap siapapun, terlebih lagi keluarga tersebut juga sangat asik ketika di ajak ngobrol, hal itu membuat percakapan mereka menjadi panjang, segala hal kedua pria itu bahas. Obrolan sudah berlangsung selama satu jam dan belum juga menunjukan tanda-tanda akan selesai, aku mulai merasa sangat bosan karena tidak memahami topik yang keduanya bahas.
Untungnya mamah menyadari hal itu, dan meminta ku mengajak Zahra ke kamar. Aku pun menurut dan mengajak gadis itu ke kamar, Sepertinya zahra merupakan sosok yang pemalu, hal tersebut begitu nampak pada gelagatnya. Sebelum itu dia meminta izin untuk ke toilet, dan akupun mengantarnya ke sana.
" Ka...kau tidak perlu menungguku Hestia, aku tidak mau merepotkan mulai. Beri tahu saja di mana kamarmu. Nanti aku akan menyusul setelah urusan di sini selesai " Ujarnya.
" Baik lah, kamarku ada di lantai dua. Ruangan ke tiga dari kiri "
" Baik lah "
Zahra pun masuk ke kamar mandi, aku juga langsung beranjak ke kamar karena beranggapan dia akan lama di kamar mandi. Mungkin dia sudah menahannya dari tadi, aku akan membiarkannya mebuang apa yang harus di buang selama mungkin.
Setibanya di kamar, aku segera naik keranjang kemudian membaca sebuah komik kemarin baru diri ini beli. Sepuluh menit berlalu, suara ketika pun terdengar dari arah pintu kamarku. Aku malas beranjak dari ranjang, maka dari itu lisan ini berkata " Masuk " Dengan keras, agar Gadis itu bisa masuk sendiri.
" Silahkan duduk " Ujarku, zahra pun menurut dan mengambil posisi duduk. Sepertinya urusan buang membuangnya sudah selesai, sebab wajahnya nampak lega.
" Hestia, boleh aku bertanya sesuatu? " Tanya Zahra setelah aku menyelesaikan basa-basi tadi.
" Kau bisa memanggilku Tia, karena memang namaku agak sulit di ucapkan "
" Baiklah. Tia apa aku boleh menanyakan sesuatu? "
" Tentu saja "
" A... Apakah kau seorang pelukis? "
Ucapannya jelas membuatku terkejud, dari mana dia tau jika dulunya aku adalah seorang pelukis? Rasanya papah tidak membahas apapun sensari tadi. Aku memandangi wajah gadis cantik itu dengan tatapan tajam. Hal itu berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.
" Ma.. Maafkan aku. Tadi aku salah masuk ruangan, dan malah tiba di gudang, di sana aku melihat sebuah kanfas yang dintutupi kain. Karena penasaran aku pun membuka kain itu dan mendapati sebuah lukisan yang sangat indah " Zahra menceritakan bagaimana caranya dia mendapatkan asumsi jika diri ini seorang pelukis.
" Hah... Jadi kau melihat lukisan itu ? " Tanyaku.
" Ma... Maafkan aku karena berlaku tidak sopan "
Sial, kenapa gadis kikuk ini bisa sampai masuk ke gundang? Rasanya aku sudah memberi tahu dia letak kamar ini. Terlebih lagi dia melihat lukisan itu dan mulai bertanya mengenai sesuatu yang sangat ingin benak ini pendam.
" Ya, aku memang pelukis. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi " Ujarku ala kadarnya sebab diri ini begitu malas untuk menceritakan kisah lama itu kembali.
" Me.. Mengapa kau berhenti melukis? Padahal lukisanmu sangat indah "
" Berhenti lah melebih-lebihkan nona. Aku muak mendengar seseorang yang tidak tau seni mengometari lukisanku " Aku menaikan nada saat mengucapkan hal tersebut.
" Tapi aku tidak melebih-lebihkan "
" Semua orang berkata jika lukisanku bagus. Tapi sampai saat ini, tidak ada satu lukisan pun yang menjuarai kompetisi. Terlebih lagi, tanganku sudah tidak bisa lagi di pakai melukis setelah sebuah kecelakaan terjadi " Aku semakin kesal karena gadis itu membuatku kembali mengingat hal yang tidak penting.
" Apakah hal yang indah harus selalu memenangkan kompetisi? " Tanyanya.
" Tentu saja harus, bagaimanapun lukisan tidak bisa di nilai bagus jika hanya di lihat oleh para amatir "
" Tia, dulu guruku pernah berkata. Lukisan itu memiliki aura, dan aura tersebut berasal dari hati pelukis nya. Segenap upaya mereka lakukan agar apa yang mereka gambar mampu mencerminkan perasaan yang ingin mereka sampaikan kepada orang banyak "
" Aku sudah mengetahui hal itu sejak lama "
" Lantas mengapa kau terlalu berfokus pada kemenangan? "
" Hah kau tidak akan paham "
" Aku paham. Bagi diri ini, menyanyi adalah segalanya, aku pernah mengalami apa yang kau alami. Berusaha untuk terus menyanyi demi sebuah kemenangan, bukan untuk menyampaikan perasaan melalui irama "
" Bernyanyi itu beda dengan melukis "
" Tidak, mereka sama Tia. Mungkin memang beda caranya, tapi pada dasarnya menyanyi dan melukis merupakan perantara kita untuk menyampaikan suatu perasaan kepada orang lain. Melukis dengan coretan kuas di atas kanfas sementara menyanyi berbicara namun di iringi melodi dan di latari irama " Ujar Zahra.
" Ah aku tidak memahami ucapanmu "
" Katakan padaku, apa selama ini kau melukis hanya untuk menjuarai kompetisi? Jika iya kau tidak mungkin bisa membuat maha karya seperti yang ada di gudang itu. Sebenarnya Apa tujuanmu ketika melukis? Menuangkan perasaan agar coretan warnamu dapat membuat orang lain merasakan apa yang hatimu rasakan atau hanya untuk membuat para profesional terpukau? "
Pertanyaan tersebut seketika membuatku tertegun, apa tujuanku melukis selama ini? Dia ada benarnya juga, apakah selama ini lukisanku sudah menjadi perantara hatiku dalam mengungkapkan suatu perasaan? Atau kah hanya coretan warna yang bertujuan untuk memenangkan kompetisi?
Mungkin kah aura dari lukisanku hilang karena tidak ada perasaan yang hati ini tuangkan dalam tiap coretan di atas kanfas itu? Hasrat untuk menang selalu hati ini utamakan sehingga konsep aura dalam lukisan yang dulu pernah aku pelajari hilang.
Sial, mengapa aku baru menyadari hal tersebut. Impian ku adalah membuat lukisan yang nantinya akan di perebutkan oleh banyak orang. Namun untuk menggapai hal tersebut aku harus mampu membuat aura dari lukisanku sampai ke semua orang.
Membuat orang lain merasakan apa yang ingin aku ungkapkan melalui sebuah lukisan. Seperti lukisan Ao yang membuatku merasa seperti di laut, atau venti entah apalah itu yang bisa membuat diri ini seakan merasakan hembusan angin.
Aku baru sadar jika tiap lukisan yang diri ini kirimkan untuk komtisi hanyalah gambar tanpa perasaan dan di penuhi hasrat untuk menang semata, Bukan coretan kuas yang mengutarakan isi hatiku. Ketika melukis the throne of the Dementer sejujurnya aku sudah merasa pesimis untuk menang.
Maka dari itu aku tidak menungakan hasrat ke dalamnya, melainkan perasaanku yang begitu menyukai bunga. Ternyata gambar itu malah memiliki aura, dan Zahra adalah orang pertama yang berhasil merasakan aura tersebut.
" Ah sial " Ujarku sambil bangkit dari kasur kemudian membuka lemari dan mengambil peralatan melukis yang telah lama diri ini segel. Aku membawanya keatas meja, kemudia meletakaannya dan mulai menggebrak meja.
" Kau mau apa? "
" Berisik, lihat saja aku... "
" Ma... Maafkan aku Tia " Ujar Zahra panik. Dia mungkin menganggapku kesal kepadanya, padahal pada kenyataanya aku kesal dengan diri sendiri.Mengapa aku baru sadar jika banyak lukisanku yang tidak memiliki aura karena diri ini terlalu berhasrat untuk menang?
Aku berusaha memegang kuas, namun tangan ini masih saja bergetar. Luka akibat kecelakaan itu benar-benar mempengaruhi tanganku, sehingga memegang kuas dengan benar pun sangat sulit. Ah sial, padahal aku ingin sesegera mungkin kembali melukis.
Tapi aku menolak untuk menyerah, mungkin memang butuh waktu yang cukup lama untuk membiasakan diri dengan keadaan tangan ini. Impian itu akan kembali aku kejar, takdir telah berbaik hati mempertemukan diri ini dengan Zahra. Gadis itu berhasil membuatku sadar akan segala kesalahan yang dulu diri ini buat.
" Kau tau, ucapanmu benar. Selama ini aku benar-benar melupakan konsep aura pada lukisan, sehingga apa yang diri ini buat selalu berupa gambar kosong. Berkat dirimu aku mulai bersemangat untuk kembali melukis. Ya walaupun sepertinya butuh waktu, karena tangan ini harus kembali membiasakan diri " Ujarku.
" Sungguh ? "
" Yup. Terima kasih Zahra " Ujarku sambil mengukirkan sebuah senyuman.
" Sama- sama "
" Baik lah, aku akan mulai berlatih kembali " Aku berteriak dengan penuh semangat.
" Ti.. Tia " Ujar Zahra.
" Ada apa? "
" Ma.. Maukah kau menjadi temanku? " Tanyanya.
" Tentu saja mau " Jawabku.
" Kau serius? "
" Yup aku serius "
" Terima kasih Tia... " Zahra bangkit dari posisi duduknya kemudian memulukku dengan begitu erat.
" Hoi kau berlebihan. Tanpa di minta pun aku tetap mau jadi temanmu "
" Apa kau tidak suka hal yang berlebihan? "Tanyanya.
" Tidak juga "
" Kalau begitu boleh aku memelukmu lebih erat lagi? "
" Kau mauembuatku mati sesak? "
Kamipun tertawa lepas setelah aku mengatakan hal tersebut. Sial, takdir memang unik, dia memperkeruh alur damai yang tengah aku jalani dengan cara mencelakakan diri ini dan membuat tanganku kesulitan memegang kuas. Impianku pun seolah-olah hancur untuk selamanya. Tapi Ternyata dia sedang menuntunku untuk bertemu dengan Zahra, sosok yang membuatku kembali mengingat sebuah konsep yang selama ini terlupakan.
Takdir memang lah unik, terkadang sosok tak kasat mata itu seolah-olah meruntuhkan impian seseorang dengan begitu kejamnya. Padahal pada kenyataanya dia tidak serta merta meluluh latahkan impian tersebut begitu saja, tanpa menyelipkan suatu makna di dalamnya. Bisa jadi jatuhnya seseorang ketika mengejar impian merupakan bentuk teguran dari sang takdir.
" Kau tau, aku memiliki sebuah impian. Menjadi seorang Diva dan mengadakan konser keliling dunia " Ujar Zahra dengan penuh semangat.
" Sugguh impian yang indah " Pujiku.
" Berjanjilah padaku, suatu saat nanti kau akan menggambarkan sebuah backgroud yang luar biasa indah untuk konserku "
" Haha aku berjanji. Maka dari itu, segeralah jadi Diva agar aku tidak terlalu lama menunggumu "
" Ya, aku akan terus berlatih hingga menjadi diva yang layak untuk bernyanyi di depan background buatanmu "
" Oh iya apa kau menyukai lukisan yang ada di gudang itu? "
" Tentu saja aku menyukainya "
" Kalau begitu aku menghadiahkan lukisan tersebut kepadamu "
" Su.. Sungguh? " Gadis itu terlihat tidak pecaya ketika mendengar uucapanku tadi.
" Ya. Anggap itu sebagai hadiah pertemanan kita " Ujarku sambil meletakan tangan di bahu kirinya.
" Terima kasih Tia. Kau tau? Ketika melihat luksanmu itu, aku merasa seperti berada di tengah padang bunga. Sungguh memanjakan mata hingga aku ingin terus memandangnya setiap hari "
" Haha kau bisa saja "
Entah mengapa pada akhirnya aku memutuskan untuk memberikan lukisan tersebut kepada Zahra, hati ini merasa jika pemiliki paling layak dari the throne of the Dementer adalah dirinya. Sosok yang seirama dengan lukisanku yang satu ini.
Nama gadis itu adalah Zahra, sebuah kata yang di ambil dari bahasa arab dan memiliki arti bunga. Bukan kah sangat sesuai jika gadis yang bernamakan bunga itu memiliki lukisan bertemakan bunga?
Ya, the throne of the Dementer adalah lukisan bertemakan bunga, dan rupa dari karyaku itu adalah sebuah taman yang di penuhi bunga. Aku pernah melihat taman seperti itu Australia, begitu indah dan sangat memanjakan mata. Semua itu membuatku ingin menyampaikan pada semua orang tentang betapa menawannya padang bunga itu. Oleh sebab itulah aku membuat lukisan tersebut, agar semua orang yang belum bisa hadir di tempat itu bisa tetap merasakan keindahannya.
" Aku akan menjaga lukisan ini "
Sekarang...
" Berjanjilah padaku, suatu saat nanti kau akan menggambarkan sebuah backgroud yang luar biasa indah untuk konserku "
Sampai detik ini aku masih mengingat permintaan Zahra kala itu. Aku pun menerima permintaanya dan berjanji, suatu hari nanti diri ini akan melukis sebuah background yang luar bisa indah agar penampilan srikandi itu terlihat semakin menakjubkan. Apakah Zahra masih mengingat hal itu?
Sayangnya aku tidak akan mungkin lagi menanyakan hal tersebut kepada Zahra.
Saat ini, Aku tengah memandangi sebuah kantung mayat yang berisikan jasad Zahra. Gadis itu tidak selamat, tim SAR yang menemukan jasadnya mengatakan jika Zahra tertimbun oleh reruntuhan bangunan sehingga sangat sulit mengevaluasi mayatnya. Pria itu berkata jika kepala Zahra lecah karena tertimpa sebuah beton, maka dari itu Tim SAR tersebut melarangku untuk membuka kantung mayat itu.
Athena juga menganjurkanku untuk menurut, sebab diri ini tidak akan sanggup dan pasti akan langsung muntah setelah melihat kondisi naas Zahra. Air mata mengalir begitu deras hingga membasahi kedua sisi pipi ini.
Kata maafku sekarang tidak akan pernah tersampaikan kepadanya, perasaan sesal begitu menyesakkan hati ini, mengapa aku harus bertengkar dengannya tadi? Andai saja diri ini tau kalau tadi adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Zahra. Maka aku akan terus mengutarakan berapa berharganya gadis itu dalam hidupku, bukan malah memulai pertengkaran.
Manusia memang hanya mampu berkata andai ketika mereka terlambat menyadari jika sesuatu yang berharga bagi mereka telah hilang untuk selamanya. Akupun demikian, bagaimanapun tidak ada yang bisa diri ini lakukan lagi selain mengucapkan hal tersebut berulang kali, sebab waktu pun pasti tidak akan pernah berkenan untuk mundur dan membiarkanku mengubah penyesalan tersebut.
Aku telah kehilangan sosok yang begitu berarti, dia adalah sosok yang membuatku kembali melangkah setelah terpuruk begitu lama ketika mengejar suatu impian. Sahabatku, teman terbaikku, orang yang selalu berada di sisiku dan nama orang tersebut adalah Zahra.
" Aka, apa kah kehilangan memang selalu terasa semenyakitkan ini " Tanyaku sambil terus menangis.
" Ya, memang begitulah rasa kehilangan. Sangat menyakitkan hingga mampu menyesakkan hati " Ujar Aka sambil mengelus kepalaku.
" Hestia, aku rasa sekarang kau sudah memahami betapa perihnya hati ini ketika kehilangan sosok yang kau cintai " Ujar Athena, sambil memandangi kantung mayat yang berisikan jasad Zahra itu.
" Ya aku sudah memahaminya "
" Jika kau tidak ingin kembali merasakannya, maka jagalah semua yang kau cintai dengan sekuat tenaga. Agar tidak ada penyesalan di masa depan yang memang masih merupakan sebuah misteri "
" Kau benar Athena, bagaimanapun caranya aku akan menjaga semua orang yang diri ini cintai. Aku tidak mau merasakan sakit yang begitu terasa seperti sekarang ini " Ujarku sambil mengusap air mata.
Aku sudah berjanji kepada mereka berdua untuk siap menerima kenyataan apapun yang akan aku temukan. Apapun yang terjadi aku tidak boleh tetap diam dan terus terpuruk dalam rasa sesal, jadikan kehilangan ini sebagai masa lalu yang bernilai pembelajaran agar aku bisa terus melangkah maju dan menyongsong masa depan.
Takdir memutuskan untuk kembali memperkeruh alur hidup ini, dia memerintahkan sang maut untuk menjemput Zahra dan membuatku sama sekali tidak bisa mngucapkan maaf kepadanya. Entah apa buang sosok tak kasat mata itu rencana kan sekarang, yang jelas aku akan tetap berusaha berpikir postife mengaku segala keputusannya.
Pasti akan ada hikmah yang bisa diri ini ambil dari semua ini, pasti ada sebuah pembelajaran yang takdir sematkan pada alur aneh ini dan aku harus berhasil menemukannya.
Saat ini aku sedang duduk di ruang tamu keluarga, sambil memandangi papah yang tengah asik mengobrol dengan seorang pria. Di samping pria itu, ada sesosok wanita yang merupakan istrinya serta gadis seusiaku bernama zahra yang merupakan putri tunggal pasangan tersebut. Mereka adalah tetangga baruku, sebuah keluarga yang pindah dari bandung karena sang ayah di mutasi ke kota kecil ini.
Papah merupakan orang yang selalu ramah terhadap siapapun, terlebih lagi keluarga tersebut juga sangat asik ketika di ajak ngobrol, hal itu membuat percakapan mereka menjadi panjang, segala hal kedua pria itu bahas. Obrolan sudah berlangsung selama satu jam dan belum juga menunjukan tanda-tanda akan selesai, aku mulai merasa sangat bosan karena tidak memahami topik yang keduanya bahas.
Untungnya mamah menyadari hal itu, dan meminta ku mengajak Zahra ke kamar. Aku pun menurut dan mengajak gadis itu ke kamar, Sepertinya zahra merupakan sosok yang pemalu, hal tersebut begitu nampak pada gelagatnya. Sebelum itu dia meminta izin untuk ke toilet, dan akupun mengantarnya ke sana.
" Ka...kau tidak perlu menungguku Hestia, aku tidak mau merepotkan mulai. Beri tahu saja di mana kamarmu. Nanti aku akan menyusul setelah urusan di sini selesai " Ujarnya.
" Baik lah, kamarku ada di lantai dua. Ruangan ke tiga dari kiri "
" Baik lah "
Zahra pun masuk ke kamar mandi, aku juga langsung beranjak ke kamar karena beranggapan dia akan lama di kamar mandi. Mungkin dia sudah menahannya dari tadi, aku akan membiarkannya mebuang apa yang harus di buang selama mungkin.
Setibanya di kamar, aku segera naik keranjang kemudian membaca sebuah komik kemarin baru diri ini beli. Sepuluh menit berlalu, suara ketika pun terdengar dari arah pintu kamarku. Aku malas beranjak dari ranjang, maka dari itu lisan ini berkata " Masuk " Dengan keras, agar Gadis itu bisa masuk sendiri.
" Silahkan duduk " Ujarku, zahra pun menurut dan mengambil posisi duduk. Sepertinya urusan buang membuangnya sudah selesai, sebab wajahnya nampak lega.
" Hestia, boleh aku bertanya sesuatu? " Tanya Zahra setelah aku menyelesaikan basa-basi tadi.
" Kau bisa memanggilku Tia, karena memang namaku agak sulit di ucapkan "
" Baiklah. Tia apa aku boleh menanyakan sesuatu? "
" Tentu saja "
" A... Apakah kau seorang pelukis? "
Ucapannya jelas membuatku terkejud, dari mana dia tau jika dulunya aku adalah seorang pelukis? Rasanya papah tidak membahas apapun sensari tadi. Aku memandangi wajah gadis cantik itu dengan tatapan tajam. Hal itu berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.
" Ma.. Maafkan aku. Tadi aku salah masuk ruangan, dan malah tiba di gudang, di sana aku melihat sebuah kanfas yang dintutupi kain. Karena penasaran aku pun membuka kain itu dan mendapati sebuah lukisan yang sangat indah " Zahra menceritakan bagaimana caranya dia mendapatkan asumsi jika diri ini seorang pelukis.
" Hah... Jadi kau melihat lukisan itu ? " Tanyaku.
" Ma... Maafkan aku karena berlaku tidak sopan "
Sial, kenapa gadis kikuk ini bisa sampai masuk ke gundang? Rasanya aku sudah memberi tahu dia letak kamar ini. Terlebih lagi dia melihat lukisan itu dan mulai bertanya mengenai sesuatu yang sangat ingin benak ini pendam.
" Ya, aku memang pelukis. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi " Ujarku ala kadarnya sebab diri ini begitu malas untuk menceritakan kisah lama itu kembali.
" Me.. Mengapa kau berhenti melukis? Padahal lukisanmu sangat indah "
" Berhenti lah melebih-lebihkan nona. Aku muak mendengar seseorang yang tidak tau seni mengometari lukisanku " Aku menaikan nada saat mengucapkan hal tersebut.
" Tapi aku tidak melebih-lebihkan "
" Semua orang berkata jika lukisanku bagus. Tapi sampai saat ini, tidak ada satu lukisan pun yang menjuarai kompetisi. Terlebih lagi, tanganku sudah tidak bisa lagi di pakai melukis setelah sebuah kecelakaan terjadi " Aku semakin kesal karena gadis itu membuatku kembali mengingat hal yang tidak penting.
" Apakah hal yang indah harus selalu memenangkan kompetisi? " Tanyanya.
" Tentu saja harus, bagaimanapun lukisan tidak bisa di nilai bagus jika hanya di lihat oleh para amatir "
" Tia, dulu guruku pernah berkata. Lukisan itu memiliki aura, dan aura tersebut berasal dari hati pelukis nya. Segenap upaya mereka lakukan agar apa yang mereka gambar mampu mencerminkan perasaan yang ingin mereka sampaikan kepada orang banyak "
" Aku sudah mengetahui hal itu sejak lama "
" Lantas mengapa kau terlalu berfokus pada kemenangan? "
" Hah kau tidak akan paham "
" Aku paham. Bagi diri ini, menyanyi adalah segalanya, aku pernah mengalami apa yang kau alami. Berusaha untuk terus menyanyi demi sebuah kemenangan, bukan untuk menyampaikan perasaan melalui irama "
" Bernyanyi itu beda dengan melukis "
" Tidak, mereka sama Tia. Mungkin memang beda caranya, tapi pada dasarnya menyanyi dan melukis merupakan perantara kita untuk menyampaikan suatu perasaan kepada orang lain. Melukis dengan coretan kuas di atas kanfas sementara menyanyi berbicara namun di iringi melodi dan di latari irama " Ujar Zahra.
" Ah aku tidak memahami ucapanmu "
" Katakan padaku, apa selama ini kau melukis hanya untuk menjuarai kompetisi? Jika iya kau tidak mungkin bisa membuat maha karya seperti yang ada di gudang itu. Sebenarnya Apa tujuanmu ketika melukis? Menuangkan perasaan agar coretan warnamu dapat membuat orang lain merasakan apa yang hatimu rasakan atau hanya untuk membuat para profesional terpukau? "
Pertanyaan tersebut seketika membuatku tertegun, apa tujuanku melukis selama ini? Dia ada benarnya juga, apakah selama ini lukisanku sudah menjadi perantara hatiku dalam mengungkapkan suatu perasaan? Atau kah hanya coretan warna yang bertujuan untuk memenangkan kompetisi?
Mungkin kah aura dari lukisanku hilang karena tidak ada perasaan yang hati ini tuangkan dalam tiap coretan di atas kanfas itu? Hasrat untuk menang selalu hati ini utamakan sehingga konsep aura dalam lukisan yang dulu pernah aku pelajari hilang.
Sial, mengapa aku baru menyadari hal tersebut. Impian ku adalah membuat lukisan yang nantinya akan di perebutkan oleh banyak orang. Namun untuk menggapai hal tersebut aku harus mampu membuat aura dari lukisanku sampai ke semua orang.
Membuat orang lain merasakan apa yang ingin aku ungkapkan melalui sebuah lukisan. Seperti lukisan Ao yang membuatku merasa seperti di laut, atau venti entah apalah itu yang bisa membuat diri ini seakan merasakan hembusan angin.
Aku baru sadar jika tiap lukisan yang diri ini kirimkan untuk komtisi hanyalah gambar tanpa perasaan dan di penuhi hasrat untuk menang semata, Bukan coretan kuas yang mengutarakan isi hatiku. Ketika melukis the throne of the Dementer sejujurnya aku sudah merasa pesimis untuk menang.
Maka dari itu aku tidak menungakan hasrat ke dalamnya, melainkan perasaanku yang begitu menyukai bunga. Ternyata gambar itu malah memiliki aura, dan Zahra adalah orang pertama yang berhasil merasakan aura tersebut.
" Ah sial " Ujarku sambil bangkit dari kasur kemudian membuka lemari dan mengambil peralatan melukis yang telah lama diri ini segel. Aku membawanya keatas meja, kemudia meletakaannya dan mulai menggebrak meja.
" Kau mau apa? "
" Berisik, lihat saja aku... "
" Ma... Maafkan aku Tia " Ujar Zahra panik. Dia mungkin menganggapku kesal kepadanya, padahal pada kenyataanya aku kesal dengan diri sendiri.Mengapa aku baru sadar jika banyak lukisanku yang tidak memiliki aura karena diri ini terlalu berhasrat untuk menang?
Aku berusaha memegang kuas, namun tangan ini masih saja bergetar. Luka akibat kecelakaan itu benar-benar mempengaruhi tanganku, sehingga memegang kuas dengan benar pun sangat sulit. Ah sial, padahal aku ingin sesegera mungkin kembali melukis.
Tapi aku menolak untuk menyerah, mungkin memang butuh waktu yang cukup lama untuk membiasakan diri dengan keadaan tangan ini. Impian itu akan kembali aku kejar, takdir telah berbaik hati mempertemukan diri ini dengan Zahra. Gadis itu berhasil membuatku sadar akan segala kesalahan yang dulu diri ini buat.
" Kau tau, ucapanmu benar. Selama ini aku benar-benar melupakan konsep aura pada lukisan, sehingga apa yang diri ini buat selalu berupa gambar kosong. Berkat dirimu aku mulai bersemangat untuk kembali melukis. Ya walaupun sepertinya butuh waktu, karena tangan ini harus kembali membiasakan diri " Ujarku.
" Sungguh ? "
" Yup. Terima kasih Zahra " Ujarku sambil mengukirkan sebuah senyuman.
" Sama- sama "
" Baik lah, aku akan mulai berlatih kembali " Aku berteriak dengan penuh semangat.
" Ti.. Tia " Ujar Zahra.
" Ada apa? "
" Ma.. Maukah kau menjadi temanku? " Tanyanya.
" Tentu saja mau " Jawabku.
" Kau serius? "
" Yup aku serius "
" Terima kasih Tia... " Zahra bangkit dari posisi duduknya kemudian memulukku dengan begitu erat.
" Hoi kau berlebihan. Tanpa di minta pun aku tetap mau jadi temanmu "
" Apa kau tidak suka hal yang berlebihan? "Tanyanya.
" Tidak juga "
" Kalau begitu boleh aku memelukmu lebih erat lagi? "
" Kau mauembuatku mati sesak? "
Kamipun tertawa lepas setelah aku mengatakan hal tersebut. Sial, takdir memang unik, dia memperkeruh alur damai yang tengah aku jalani dengan cara mencelakakan diri ini dan membuat tanganku kesulitan memegang kuas. Impianku pun seolah-olah hancur untuk selamanya. Tapi Ternyata dia sedang menuntunku untuk bertemu dengan Zahra, sosok yang membuatku kembali mengingat sebuah konsep yang selama ini terlupakan.
Takdir memang lah unik, terkadang sosok tak kasat mata itu seolah-olah meruntuhkan impian seseorang dengan begitu kejamnya. Padahal pada kenyataanya dia tidak serta merta meluluh latahkan impian tersebut begitu saja, tanpa menyelipkan suatu makna di dalamnya. Bisa jadi jatuhnya seseorang ketika mengejar impian merupakan bentuk teguran dari sang takdir.
" Kau tau, aku memiliki sebuah impian. Menjadi seorang Diva dan mengadakan konser keliling dunia " Ujar Zahra dengan penuh semangat.
" Sugguh impian yang indah " Pujiku.
" Berjanjilah padaku, suatu saat nanti kau akan menggambarkan sebuah backgroud yang luar biasa indah untuk konserku "
" Haha aku berjanji. Maka dari itu, segeralah jadi Diva agar aku tidak terlalu lama menunggumu "
" Ya, aku akan terus berlatih hingga menjadi diva yang layak untuk bernyanyi di depan background buatanmu "
" Oh iya apa kau menyukai lukisan yang ada di gudang itu? "
" Tentu saja aku menyukainya "
" Kalau begitu aku menghadiahkan lukisan tersebut kepadamu "
" Su.. Sungguh? " Gadis itu terlihat tidak pecaya ketika mendengar uucapanku tadi.
" Ya. Anggap itu sebagai hadiah pertemanan kita " Ujarku sambil meletakan tangan di bahu kirinya.
" Terima kasih Tia. Kau tau? Ketika melihat luksanmu itu, aku merasa seperti berada di tengah padang bunga. Sungguh memanjakan mata hingga aku ingin terus memandangnya setiap hari "
" Haha kau bisa saja "
Entah mengapa pada akhirnya aku memutuskan untuk memberikan lukisan tersebut kepada Zahra, hati ini merasa jika pemiliki paling layak dari the throne of the Dementer adalah dirinya. Sosok yang seirama dengan lukisanku yang satu ini.
Nama gadis itu adalah Zahra, sebuah kata yang di ambil dari bahasa arab dan memiliki arti bunga. Bukan kah sangat sesuai jika gadis yang bernamakan bunga itu memiliki lukisan bertemakan bunga?
Ya, the throne of the Dementer adalah lukisan bertemakan bunga, dan rupa dari karyaku itu adalah sebuah taman yang di penuhi bunga. Aku pernah melihat taman seperti itu Australia, begitu indah dan sangat memanjakan mata. Semua itu membuatku ingin menyampaikan pada semua orang tentang betapa menawannya padang bunga itu. Oleh sebab itulah aku membuat lukisan tersebut, agar semua orang yang belum bisa hadir di tempat itu bisa tetap merasakan keindahannya.
" Aku akan menjaga lukisan ini "
Quote:
Sekarang...
" Berjanjilah padaku, suatu saat nanti kau akan menggambarkan sebuah backgroud yang luar biasa indah untuk konserku "
Sampai detik ini aku masih mengingat permintaan Zahra kala itu. Aku pun menerima permintaanya dan berjanji, suatu hari nanti diri ini akan melukis sebuah background yang luar bisa indah agar penampilan srikandi itu terlihat semakin menakjubkan. Apakah Zahra masih mengingat hal itu?
Sayangnya aku tidak akan mungkin lagi menanyakan hal tersebut kepada Zahra.
Saat ini, Aku tengah memandangi sebuah kantung mayat yang berisikan jasad Zahra. Gadis itu tidak selamat, tim SAR yang menemukan jasadnya mengatakan jika Zahra tertimbun oleh reruntuhan bangunan sehingga sangat sulit mengevaluasi mayatnya. Pria itu berkata jika kepala Zahra lecah karena tertimpa sebuah beton, maka dari itu Tim SAR tersebut melarangku untuk membuka kantung mayat itu.
Athena juga menganjurkanku untuk menurut, sebab diri ini tidak akan sanggup dan pasti akan langsung muntah setelah melihat kondisi naas Zahra. Air mata mengalir begitu deras hingga membasahi kedua sisi pipi ini.
Kata maafku sekarang tidak akan pernah tersampaikan kepadanya, perasaan sesal begitu menyesakkan hati ini, mengapa aku harus bertengkar dengannya tadi? Andai saja diri ini tau kalau tadi adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Zahra. Maka aku akan terus mengutarakan berapa berharganya gadis itu dalam hidupku, bukan malah memulai pertengkaran.
Manusia memang hanya mampu berkata andai ketika mereka terlambat menyadari jika sesuatu yang berharga bagi mereka telah hilang untuk selamanya. Akupun demikian, bagaimanapun tidak ada yang bisa diri ini lakukan lagi selain mengucapkan hal tersebut berulang kali, sebab waktu pun pasti tidak akan pernah berkenan untuk mundur dan membiarkanku mengubah penyesalan tersebut.
Aku telah kehilangan sosok yang begitu berarti, dia adalah sosok yang membuatku kembali melangkah setelah terpuruk begitu lama ketika mengejar suatu impian. Sahabatku, teman terbaikku, orang yang selalu berada di sisiku dan nama orang tersebut adalah Zahra.
" Aka, apa kah kehilangan memang selalu terasa semenyakitkan ini " Tanyaku sambil terus menangis.
" Ya, memang begitulah rasa kehilangan. Sangat menyakitkan hingga mampu menyesakkan hati " Ujar Aka sambil mengelus kepalaku.
" Hestia, aku rasa sekarang kau sudah memahami betapa perihnya hati ini ketika kehilangan sosok yang kau cintai " Ujar Athena, sambil memandangi kantung mayat yang berisikan jasad Zahra itu.
" Ya aku sudah memahaminya "
" Jika kau tidak ingin kembali merasakannya, maka jagalah semua yang kau cintai dengan sekuat tenaga. Agar tidak ada penyesalan di masa depan yang memang masih merupakan sebuah misteri "
" Kau benar Athena, bagaimanapun caranya aku akan menjaga semua orang yang diri ini cintai. Aku tidak mau merasakan sakit yang begitu terasa seperti sekarang ini " Ujarku sambil mengusap air mata.
Aku sudah berjanji kepada mereka berdua untuk siap menerima kenyataan apapun yang akan aku temukan. Apapun yang terjadi aku tidak boleh tetap diam dan terus terpuruk dalam rasa sesal, jadikan kehilangan ini sebagai masa lalu yang bernilai pembelajaran agar aku bisa terus melangkah maju dan menyongsong masa depan.
Takdir memutuskan untuk kembali memperkeruh alur hidup ini, dia memerintahkan sang maut untuk menjemput Zahra dan membuatku sama sekali tidak bisa mngucapkan maaf kepadanya. Entah apa buang sosok tak kasat mata itu rencana kan sekarang, yang jelas aku akan tetap berusaha berpikir postife mengaku segala keputusannya.
Pasti akan ada hikmah yang bisa diri ini ambil dari semua ini, pasti ada sebuah pembelajaran yang takdir sematkan pada alur aneh ini dan aku harus berhasil menemukannya.
Diubah oleh Rebek22 26-07-2021 22:19
piripiripuru dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup