- Beranda
- Stories from the Heart
HITAM Season 2
...
TS
Mbahjoyo911
HITAM Season 2


Quote:
Prolog
Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan. Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi.
Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.
Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat.
Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana,
Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam.
Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa.
Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.
Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.
Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.
Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.
Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.
Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.
Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda.
Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.
Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.
Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.
Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya.
Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...
Spoiler for Salma:
Spoiler for Amrita:
Diubah oleh Mbahjoyo911 27-03-2022 06:54
adriantz dan 402 lainnya memberi reputasi
379
1.7M
25K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Mbahjoyo911
#6364
Lanjutan
Maka kusalurkan energi murniku yang bersifat dingin melalui pundaknya. Mengisi kekosongan energinya Nuria yang telah terserap oleh Ketua Kedua, juga untuk mengusir semua sisa energi yang mungkin masih ada. Setelah agak lama, kuganti dengan energi hangat untuk memberi tenaga pada raganya. Sepuluh menit kemudian kudengar Nuria mendesah panjang yang membuatku kaget lagi. Ternyata perisai energiku ikut terlepas saat aku mengerahkan energi tadi, segera kupasang kembali perisai itu.
Nuria beranjak dan pindah rebahan di kasur. Aku keluar kamar dan mengambil tujuh lembar daun bidara. Lalu kumasukkan dalam panci dan kutambahi dengan air galon, kunyit putih juga kutambahkan, baru kemudian kurebus dengan peralatan masak portabel. Sambil menunggu air mendidih, kulihat ke arah Nuria, dan ternyata dari tadi dia memperhatikanku. Saat pandangan kami bertemu, pipinya merah merona. Aku harus waspada
Sengaja aku nggak cerita yang sebenarnya, bukan maksud buat boongin dia, tapi aku nggak mau ribet jelasin semua hal yang belum tentu dia percayai. Kalo aku cerita yang sebenarnya, tentu aku harus cerita soal kematian Dita dan juga perang itu. Jadi sebaiknya kujelasin secara singkat aja.
Nuria menggeliat dengan lepas, dalam hal ini merupakan suatu pemandangan indah, tapi segera kualihkan pandanganku ke rebusan ramuan itu. Air rebusan yang tadinya dua gelas itu sekarang tinggal 1 gelas aja. Dari panci kutuang ke satu gelas dan kububuhi madu dua sendok biar nggak terlalu getir rasanya. Menunggu dingin bentar, lalu kubacakan basmalah, 3 kali alfatihah dan 7 kali ayat kursi, baru kuminta Nuria meminumnya.
Lalu Nuria kuminta duduk bersila, dan seperti tadi, aku ikut bersila dibelakangnya. Kusalurkan energi hangat dan dingin bergantian lewat punggungnya, untuk mendukung ramuan yang dia minum tadi. Mengedarkan energi dingin ke seluruh tubuhnya untuk menurunkan suhunya, dan memberi energi hangat pada ramuan tadi.
Seperempat jam berlalu, Nuria memejamkan mata, lagi-lagi dia rebah di dadaku, kupijitin pundak dan lehernya sambil salurkan hawa dingin. Niatku cuma satu, membantu menyembuhkannya karena ini masih tanggung jawabku juga. Saat aku mengurut lehernya, terdengar desah nafasnya, kali ini lebih keras dari yang tadi. Aku langsung tau apa yang terjadi. Jadi kuhentikan saja pijitan itu. Kuletakkan dua tanganku di samping kiri kanan Nuria, dia menengadah, menatapku dengan sendu
Nuria menggenggam dua tanganku dan meletakkannya diatas perutnya, godaan apa lagi ini?! Ditambah itu tanktop pink yang kekecilan bener-bener menggoda. Lama kami terdiam, dan desahan itu terdengar lagi. Cukup sudah, aku harus mengakhiri ini. Lalu kudengar suara adzan ashar, kualihkan pandangan ke jam dinding, udah jam tiga lebih. Jadi punya alasan nih.
Nuria beranjak duduk, dia berbalik, tangan diangkat lurus ke atas dan mulai menggeliat lepas, tepat di depan mataku. Tanktop minim dengan kulit putih mulus, bener-bener pemandangan yang indah. Ini cewek emang sengaja kali ya.. lagian ini mata kenapa malah ngerespon juga? jadi ngeres sendiri.
Bletaak..!
Aku beranjak bangun dan mengambil air wudhu. Sengaja kuhentikan pijitan tadi karena aku tau Nuria mulai dilanda hasrat. Aku nggak mau Nuria jadi kayak Kinara. Selesai wudhu, Nuria udah rebahan di kasurku sambil mainin hpnya. Kugelar sajadah di lantai samping kasur dan akupun tenggelam khusyu dalam sembahyang ashar. Selesai sembahyang, aku lanjut dzikir dan doa. Dan saat aku selesai, kulihat Nuria sedang melihatku terus-menerus.
Nuria memakai jaketnya dan beranjak keluar. Aku ikut keluar membawa kantong kresek, kupetik satu tangkai bidara yang berisi 25 lembar daun, kumasukkan ke kresek bersama beberapa ruas kunyit dan kuberikan ke Nuria dengan pesan agar dia membuat sendiri ramuan itu. Dia udah tau caranya karena dulu pernah mengobati Hayu dengan cara itu juga. Ada untungnya juga Yudi memberi bidara sama potnya sekalian, hingga aku bisa memberikannya ke orang lain juga.
Kuhela nafas panjang sambil memandangi kepergiannya. Nuria adalah cewek yang sangat menarik, dan aku nggak mau merusak lagi. Kalo tadi aku nggak menghentikannya, pasti akan terjadi hal yang diinginkan.
Cukuplah sudah, aku harus hentikan efek dari kewibawaan raga ini. Benar-benar suatu godaan dan cobaan yang sangat berat. Moga dengan membantunya tadi bisa sedikit mengurangi dosaku padanya.
Kuantar Nuria sampe di motornya, dan setelah dia pergi, aku balik ke kamar. Tapi saat mau naik tangga, kulihat tante Silvy di pintu samping sedang terbengong menatapku. Kulambaikan tanganku padanya, dan satu senyuman merekah di bibirnya. Cepat-cepat aku naik ke tangga, daripada dipanggil kesana ntar.
.
Sampai di kamar, pintu kubiarin terbuka. Kucoba lagi untuk membuka-buka skripsiku, mungkin aku bisa merevisinya sendiri. Dan saat aku melihat ketikanku sendiri, aku jadi ketawa sendiri. Ini tulisan kayak anak SD yang membuat karangan bebas, benar-benar parah.
Salma dan Amrita menemani dengan duduk tenang di sebelahku. Kubuka kembali bab-bab awal yang udah kukerjakan bersama Dita, memang beda banget. Dari situ aku coba mencontohnya untuk merevisi. Nggak nyangka aja, cuma menyusun kata-kata hingga jadi sebuah kalimat bisa jadi sebuah kerjaan yang susah dan ribet.
Entah berapa lama aku tenggelam dengan laptop, mencoba merevisi sebisa mungkin. Saking fokusnya aku nggak tau kalo ada orang yang masuk kamarku. Aku baru tau saat Salma berdehem, saat aku menoleh, udah ada seorang cewek yang langsung duduk di pangkuanku, dia adalah Dinda. Dia merangkul leherku dan meletakkan kepala di pundakku. Sama kayak Amrita tadi! Kalo udah kayak gini, gimana caraku menolak, masak iya harus kudorong dia sampe terjengkang?
Dinda masih memakai pakaian kantoran, dia nggak ngomong apa-apa, cuma merangkul leherku aja. Jadi kuteruskan aja menatap layar laptop, melihat file skripsi sambil mencocokan jilid-an yang dilingkari merah. Dan tau-tau Dinda melepas pelukannya, menatapku dengan wajah cemberut. Tapi cemberutnya langsung hilang saat mata kami bertatapan.
Dinda menarik tanganku dengan keras hingga aku rebah diatasnya. Dia lalu merangkulku dengan erat, sampe aku nggak bisa bangun lagi. Dua bibir udah saling menghajar.. dan dosa lagi yang datang.. Dan kini baru aku sadar, kalo bukan sama Dita, maka cuma hasratlah yang berkuasa, maka aku harus menghentikannya.
Pintu kamar diketuk dari luar. Dinda meraih selimut dan menutupi tubuhnya, aku beranjak membuka pintu, dan yang kulihat adalah Salma dan Amrita yang ketawa cekikikan. Kupandangi mereka dengan tatapan penuh terima kasih. Mereka memahami itu dan mengangguk. Kututup lagi pintu itu dan balik ke laptopku.
Dinda mendekat, dia merebahkan kepala di pangkuanku. Selimut itu dibuka lagi,. Kadang aku jengkel pada diri sendiri, ini otak sama mata kadang nggak bisa sinkron. Otak menolak, tapi mata pengen melihat. Ditambah lagi Dinda meraih tanganku dan melingkarkannya di perutnya.
Ini kalo diterusin lama-lama aku bisa jadi gila beneran.
Maka kualihkan aja obrolan ke hal-hal yang ringan, soal kerjaan sehari-harinya dia, apa aja yang dia lakuin, sampe dia lupa soal tadi semua, sampe dia mau memakai atasannya kembali. Udah bisa bernapas lega sekarang, nggak ada godaan lagi, karena kuakui aku sendiri gampang tergoda dan nggak bisa menolak, meski cuma sebatas hasrat saja, padahal aku tau kalo itu malah menambah deretan dosa besarku.
Dinda berada di kosan sampai abis maghrib, dia bahkan menungguiku maghriban, setelah itu dia pamit pulang. Awalnya dia ngotot mau menginap, tapi setelah kuyakinkan dia, juga soal tante Silvy, baru dia mau pulang. Kuantar dia sampe ke mobilnya. Sebelum menutup pintu mobil, dia sempat menarikku dan menghajarku sekali lagi.
Setelah mobilnya Dinda udah nggak kelihatan, aku balik menuju tangga. Lagi-lagi kulihat tante Silvy di pintu samping rumahnya, dia menatapku dengan pandangan aneh yang entah kenapa malah ngebuatku jadi merinding, Akupun berlari menaiki tangga dan segera masuk ke kamar kosan.
Dalam satu hari aja udah ada dua cewek yang datang ke kosan, hampir ditambah satu perempuan lagi..
Bangkitnya energi sejati itu membuatku kayak harus mengulangi lagi semua dari awal, seperti saat pertama kali Amrita memberiku energi dan ilmu-ilmu pengasihannya dulu. Aku harus melatih kembali perisai energi untuk menyembunyikan semua yang ada dalam diriku.
Ini seperti dejavu aja, seakan jadi males banget buat nerusin dan ngulang dari awal lagi. Sudah jelas bagiku kalo ini bukanlah kelebihan, keistimewaan, ataupun anugerah, tapi ini adalah godaan, kutukan dan kutukan buatku, yang membuat aku selalu aja dibikin repot karenanya. Dan mau nggak mau aku harus berdamai dengan itu semua..
Quote:
Nuria beranjak dan pindah rebahan di kasur. Aku keluar kamar dan mengambil tujuh lembar daun bidara. Lalu kumasukkan dalam panci dan kutambahi dengan air galon, kunyit putih juga kutambahkan, baru kemudian kurebus dengan peralatan masak portabel. Sambil menunggu air mendidih, kulihat ke arah Nuria, dan ternyata dari tadi dia memperhatikanku. Saat pandangan kami bertemu, pipinya merah merona. Aku harus waspada
Quote:
Sengaja aku nggak cerita yang sebenarnya, bukan maksud buat boongin dia, tapi aku nggak mau ribet jelasin semua hal yang belum tentu dia percayai. Kalo aku cerita yang sebenarnya, tentu aku harus cerita soal kematian Dita dan juga perang itu. Jadi sebaiknya kujelasin secara singkat aja.
Nuria menggeliat dengan lepas, dalam hal ini merupakan suatu pemandangan indah, tapi segera kualihkan pandanganku ke rebusan ramuan itu. Air rebusan yang tadinya dua gelas itu sekarang tinggal 1 gelas aja. Dari panci kutuang ke satu gelas dan kububuhi madu dua sendok biar nggak terlalu getir rasanya. Menunggu dingin bentar, lalu kubacakan basmalah, 3 kali alfatihah dan 7 kali ayat kursi, baru kuminta Nuria meminumnya.
Lalu Nuria kuminta duduk bersila, dan seperti tadi, aku ikut bersila dibelakangnya. Kusalurkan energi hangat dan dingin bergantian lewat punggungnya, untuk mendukung ramuan yang dia minum tadi. Mengedarkan energi dingin ke seluruh tubuhnya untuk menurunkan suhunya, dan memberi energi hangat pada ramuan tadi.
Seperempat jam berlalu, Nuria memejamkan mata, lagi-lagi dia rebah di dadaku, kupijitin pundak dan lehernya sambil salurkan hawa dingin. Niatku cuma satu, membantu menyembuhkannya karena ini masih tanggung jawabku juga. Saat aku mengurut lehernya, terdengar desah nafasnya, kali ini lebih keras dari yang tadi. Aku langsung tau apa yang terjadi. Jadi kuhentikan saja pijitan itu. Kuletakkan dua tanganku di samping kiri kanan Nuria, dia menengadah, menatapku dengan sendu
Quote:
Nuria menggenggam dua tanganku dan meletakkannya diatas perutnya, godaan apa lagi ini?! Ditambah itu tanktop pink yang kekecilan bener-bener menggoda. Lama kami terdiam, dan desahan itu terdengar lagi. Cukup sudah, aku harus mengakhiri ini. Lalu kudengar suara adzan ashar, kualihkan pandangan ke jam dinding, udah jam tiga lebih. Jadi punya alasan nih.
Quote:
Nuria beranjak duduk, dia berbalik, tangan diangkat lurus ke atas dan mulai menggeliat lepas, tepat di depan mataku. Tanktop minim dengan kulit putih mulus, bener-bener pemandangan yang indah. Ini cewek emang sengaja kali ya.. lagian ini mata kenapa malah ngerespon juga? jadi ngeres sendiri.
Bletaak..!
Quote:
Aku beranjak bangun dan mengambil air wudhu. Sengaja kuhentikan pijitan tadi karena aku tau Nuria mulai dilanda hasrat. Aku nggak mau Nuria jadi kayak Kinara. Selesai wudhu, Nuria udah rebahan di kasurku sambil mainin hpnya. Kugelar sajadah di lantai samping kasur dan akupun tenggelam khusyu dalam sembahyang ashar. Selesai sembahyang, aku lanjut dzikir dan doa. Dan saat aku selesai, kulihat Nuria sedang melihatku terus-menerus.
Quote:
Nuria memakai jaketnya dan beranjak keluar. Aku ikut keluar membawa kantong kresek, kupetik satu tangkai bidara yang berisi 25 lembar daun, kumasukkan ke kresek bersama beberapa ruas kunyit dan kuberikan ke Nuria dengan pesan agar dia membuat sendiri ramuan itu. Dia udah tau caranya karena dulu pernah mengobati Hayu dengan cara itu juga. Ada untungnya juga Yudi memberi bidara sama potnya sekalian, hingga aku bisa memberikannya ke orang lain juga.
Kuhela nafas panjang sambil memandangi kepergiannya. Nuria adalah cewek yang sangat menarik, dan aku nggak mau merusak lagi. Kalo tadi aku nggak menghentikannya, pasti akan terjadi hal yang diinginkan.
Cukuplah sudah, aku harus hentikan efek dari kewibawaan raga ini. Benar-benar suatu godaan dan cobaan yang sangat berat. Moga dengan membantunya tadi bisa sedikit mengurangi dosaku padanya.Kuantar Nuria sampe di motornya, dan setelah dia pergi, aku balik ke kamar. Tapi saat mau naik tangga, kulihat tante Silvy di pintu samping sedang terbengong menatapku. Kulambaikan tanganku padanya, dan satu senyuman merekah di bibirnya. Cepat-cepat aku naik ke tangga, daripada dipanggil kesana ntar.
.Sampai di kamar, pintu kubiarin terbuka. Kucoba lagi untuk membuka-buka skripsiku, mungkin aku bisa merevisinya sendiri. Dan saat aku melihat ketikanku sendiri, aku jadi ketawa sendiri. Ini tulisan kayak anak SD yang membuat karangan bebas, benar-benar parah.
Salma dan Amrita menemani dengan duduk tenang di sebelahku. Kubuka kembali bab-bab awal yang udah kukerjakan bersama Dita, memang beda banget. Dari situ aku coba mencontohnya untuk merevisi. Nggak nyangka aja, cuma menyusun kata-kata hingga jadi sebuah kalimat bisa jadi sebuah kerjaan yang susah dan ribet. Entah berapa lama aku tenggelam dengan laptop, mencoba merevisi sebisa mungkin. Saking fokusnya aku nggak tau kalo ada orang yang masuk kamarku. Aku baru tau saat Salma berdehem, saat aku menoleh, udah ada seorang cewek yang langsung duduk di pangkuanku, dia adalah Dinda. Dia merangkul leherku dan meletakkan kepala di pundakku. Sama kayak Amrita tadi! Kalo udah kayak gini, gimana caraku menolak, masak iya harus kudorong dia sampe terjengkang?
Dinda masih memakai pakaian kantoran, dia nggak ngomong apa-apa, cuma merangkul leherku aja. Jadi kuteruskan aja menatap layar laptop, melihat file skripsi sambil mencocokan jilid-an yang dilingkari merah. Dan tau-tau Dinda melepas pelukannya, menatapku dengan wajah cemberut. Tapi cemberutnya langsung hilang saat mata kami bertatapan.
Quote:
Dinda menarik tanganku dengan keras hingga aku rebah diatasnya. Dia lalu merangkulku dengan erat, sampe aku nggak bisa bangun lagi. Dua bibir udah saling menghajar.. dan dosa lagi yang datang.. Dan kini baru aku sadar, kalo bukan sama Dita, maka cuma hasratlah yang berkuasa, maka aku harus menghentikannya.
Pintu kamar diketuk dari luar. Dinda meraih selimut dan menutupi tubuhnya, aku beranjak membuka pintu, dan yang kulihat adalah Salma dan Amrita yang ketawa cekikikan. Kupandangi mereka dengan tatapan penuh terima kasih. Mereka memahami itu dan mengangguk. Kututup lagi pintu itu dan balik ke laptopku.
Quote:
Dinda mendekat, dia merebahkan kepala di pangkuanku. Selimut itu dibuka lagi,. Kadang aku jengkel pada diri sendiri, ini otak sama mata kadang nggak bisa sinkron. Otak menolak, tapi mata pengen melihat. Ditambah lagi Dinda meraih tanganku dan melingkarkannya di perutnya.
Quote:
Ini kalo diterusin lama-lama aku bisa jadi gila beneran.
Maka kualihkan aja obrolan ke hal-hal yang ringan, soal kerjaan sehari-harinya dia, apa aja yang dia lakuin, sampe dia lupa soal tadi semua, sampe dia mau memakai atasannya kembali. Udah bisa bernapas lega sekarang, nggak ada godaan lagi, karena kuakui aku sendiri gampang tergoda dan nggak bisa menolak, meski cuma sebatas hasrat saja, padahal aku tau kalo itu malah menambah deretan dosa besarku.Dinda berada di kosan sampai abis maghrib, dia bahkan menungguiku maghriban, setelah itu dia pamit pulang. Awalnya dia ngotot mau menginap, tapi setelah kuyakinkan dia, juga soal tante Silvy, baru dia mau pulang. Kuantar dia sampe ke mobilnya. Sebelum menutup pintu mobil, dia sempat menarikku dan menghajarku sekali lagi.
Setelah mobilnya Dinda udah nggak kelihatan, aku balik menuju tangga. Lagi-lagi kulihat tante Silvy di pintu samping rumahnya, dia menatapku dengan pandangan aneh yang entah kenapa malah ngebuatku jadi merinding, Akupun berlari menaiki tangga dan segera masuk ke kamar kosan.
Dalam satu hari aja udah ada dua cewek yang datang ke kosan, hampir ditambah satu perempuan lagi..
Bangkitnya energi sejati itu membuatku kayak harus mengulangi lagi semua dari awal, seperti saat pertama kali Amrita memberiku energi dan ilmu-ilmu pengasihannya dulu. Aku harus melatih kembali perisai energi untuk menyembunyikan semua yang ada dalam diriku.Ini seperti dejavu aja, seakan jadi males banget buat nerusin dan ngulang dari awal lagi. Sudah jelas bagiku kalo ini bukanlah kelebihan, keistimewaan, ataupun anugerah, tapi ini adalah godaan, kutukan dan kutukan buatku, yang membuat aku selalu aja dibikin repot karenanya. Dan mau nggak mau aku harus berdamai dengan itu semua..
bersambung…
197
Diubah oleh Mbahjoyo911 26-07-2021 17:09
agoezsholich107 dan 130 lainnya memberi reputasi
131
Tutup

