- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#14
5. Tahta Sang Hestia
Quote:
Hestia
Apa yang harus kau lakukan ketika menjumpai ke gagalan? Jika di tanya seperti itu, sekiranya ucapan apa kah yang akan terlontar dari lisan kalian? Mungkin jawaban yang berbeda-beda akan muncul karena bagaimanapun semua orang memiliki persepsi masing-masing.
Jika pertanyaan tersebut di ajukan kepadaku, maka jawaban yang diri ini pilih akan berupa sesuatu yang sangat simpel, yaitu bangkit lalu kembali mengambil langkah maju. Siklus jatuh, bangun merupakan hal yang wajar dalam hidup dan akan di rasakan oleh semua orang. Bagaimanapun di situ lah letak seni dari suatu kehidupan.
Gagal itu biasa, bahkan banyak orang bijak yang berkata " Jatuh dan gagal lah sebanyak mungkin ketika kau muda, karena itu merupakan salah satu cara untuk menemukan kedewasaan serta kesuksesan "
Gagal itu biasa, namun yang jadi soal adalah siapkah seseorang bangkit kembali setelahnya? Banyak orang yang enggan untuk bangkit setelah merasakan sakitnya kegagalan, namun tidak sedikit juga yang mampu untuk langsung bangkit. Banyak juga orang yang siap gagal namun tidak memahami bagaimana caranya untuk bangkit kembali, bahkan ada sebagian orang tidak sanggup menahan luka ketika jatuh akan terapi paham bagaimana caranya jatuh.
Unik bukan? Maka dari itu siklus tersebut layak di bilang seni dari kehidupan, karena bagaimanapun seni indentik dengan keunikan.
Impianku adalah menjadi seorang pelukis profesional yang karyanya akan mampu memukau banyak orang. Aku bersyukur karena apa yang diri ini impikan ternyata sesuai dengan bakat yang Tuhan berikan kepada diri ini.
Sepuluh tahun yang lalu....
Hestia
Suatu hari papah mengajakku untuk menghadiri sebuah pelelangan lukisan. Papah memiliki hobi unik yaitu mengoleksi lukisan dari segala penjuru dunia, ya walaupun aku rasa kata hobi bukan lah kata yang cocok untuk menggambarkan ketertarikan ayah terhadap lukisan.
Dia lebih terlihat seperti seorang maniak, karena dirinya memang begitu tergila-gila dengan ragam coretan di atas kandas bahkan rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk mendapatkan sebuah lukisan.
Aku dan mamah tidak pernah merasa keberatan dengan hobinya itu, sebab pada dasarnya ayah memang memiliki uang yang cukup untuk memuaskan hasrat pribadinya, tanpa harus mengorbankan kami, dia juga begitu menyayangi kami, ya bisa di katakan aku dan ibu berada satu tingkat lebih tinggi dari lukisan di mata papah dalam hal menuangkan kasih sayang.
Papah adalah seorang pekerjaan keras, selain itu dia juga memiliki otak yang encer sehingga mampu untuk selalu memperbesar bisnisnya. Maka dari itu ke maniakan papah terhadap lukisan bisa di anggap sebagai penambah semangatnya dalam berbisnis.
Saat itu merupakan pertama kalinya aku ikut papah ke pelelangan lukisan. Dinding rumah hampir setiap sudutnya di penuhi lukisan, namun aku tetap terkejut ketika mendapati gedung yang diri ini datangi. Berbeda dengan di rumah, dinding gedung ini tidak di padati oleh lukisan, hanya ada beberapa kanfas berbingkai penuh warna yang tertempel di dinding.
Namun lukisan-lukisan tersebut di tata dengan begitu rapih sehingga nampak lebih elgan ketika di pandang. Para penyelenggara sudah mengatur semuanya, menentukam sudut, pencahayaan serta tata letak agar setiap lukisan itu mampu memancarkan keindahan sejatinya.
Mataku begitu terpukau ketika memandangi lukisan-lukiaan tersebut, begitu indah sehingga tatapan ini seakan terpaku pada tiap goresan penuh warna yang berada di atas tiap kanfas itu. Sejak Saat itulah aku mulai memahami mengapa ayah begitu menyukai lukisan dan sepertinya diri ini mulai tertular ke maniakan nya itu.
Aku dan papah terus melangkah maju, menelusuri koridor yang di hiasi dengan aneka lukisan yang menakjubkan hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan. Kamipun memasuki ruangan itu, dan aku mendapati ada begitu banyak bangku yang sudah hampir. Semua yang duduk di sana merupakan orang-orang dewasa berpakaian serba rapih. Mereka terlihat sedang memperhatikan seorang pria paruh baya yang sedang berbicara di atas panggung.
Papah mengajakku untuk mencari tempat duduk, akhirnya kami menemukan tempat kosong yang letaknya begitu jauh dari panggung. Papah terlihat menghela nafas, mungkin dia kecewa karena mendapat tempat duduk di baris paling belakang, bagaimanapun posisi ini membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di atas panggung.
Namun papah tetap duduk, dan mulai memperhatikan si pembawa acara. Si pembawa acara mengucapkan banyak hal, namun karena tata bahasa yang di gunakannya tinggi ada banyak kata-kata yang tidak begitu aku pahami.
Setelah pembawa acara itu berhenti berbicara, semua orang yang ada di dalam ruangan bertepuk tangan, begitu juga papah. Tidak lama berselang, beberapa orang terlihat masuk ke dalam panggung sambil membawa sebuah lukisan yang masih di tutupi kain.
Aku melirik ke arah papah, mata pria itu nampak berbinar-binar, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin melihat lukisan macam apa yang ada di balik kain itu. Salah seorang yang ada di atas mulai mengangkat kain, setelah itu sebuah lukisan bertemakan laut pun terpampang di hadapan para hadirin.
" Baik hadirin sekalian, lukisan di beri judul Ao. Lukisan ini di buat oleh seorang seniman terkenal yang berasal dari Jepang " Ujar sang pembawa acara.

Mataku begitu terpukau ketika melihat kanfas yang di dominasi oleh warna biru itu. Entah mengapa lukisan itu langsung membuat hatiku damai, benar-benar seperti melihat lautan secara langsung.
" Indah sekali " Ujarku.
" Kau benar Tia. Lukisan yang sungguh indah " Papah membenarkan ucapanku.
" Baik lah para hadirin, harga awal lukisan ini adalah dua puluh juta. Jika ada yang berminat silahkan ajukan harga anda " Ujar sang pembawa acara.
Para hadirin pun mulai mengangkat tangan sambil mengucapkan nominal harga yang mereka ajukan, papah terlihat tidak mengangkat tanganya, hal itu membuatku bigung karena tadi dia berkata jika lukisan itu indah. Bukan kah jika demikian papah tertarik dengan lukisan tersebut? Lantas mengapa dia tidak mengangkat tanganya?
Pada akhirnya Ao terjual dengan nilai tiga puluh juta, naik hingga sepuluh juta karena ternyata banyak orang yang menginginkan lukisan tersebut. Peningkatan harga yang cukup gula bukan?
Setelah lukisan tersebut menemukan seorang pemilik baru, beberapa orang terlihat mulai membawa lukisan baru ke atas panggung. Kain yang menutupi lukisan tersebut pun di buka, dan menampakan sebuah kanfas yang di dominasi oleh warna hijau. Lukisan kali ini bertemakan alam, indah sekali hingga seakan-akan tubuh ini bisa merasakan hembusan angit yang bertiup di dengah hutan.

" Lukisan ini di buat oleh Seniman muda yang berasal dari Spanyol, judulnya adalah viento que sopla en el bosque " Ujar sang pembawa acara.
" Namanya rumit sekali " Gerutuku.
" Haha itu bahasa Spanyol Tia " Ujar ayah.
Pelelangan pun di mulai. sama seperti Ao, viento que sopla en el bosque di banroll dengan harga awal dua puluh juta. Orang-orang pun mulai meneriaki harga yang mereka ajukan, namun papah sekali lagi tidak mengangkat tanganya. Apakah menurut ayah lukisan itu jelek? Bagiku karya si Seniman muda asal Spanyol itu sangat bagus, apa kah selera papah aneh?
" Apakah menurut papah lukisan itu tidak bagus? " Tanyaku penasaran.
" Menurutku viento que sopla en el bosque sangat lah bagus " Jawab papah.
" Lantas mengapa kau tidak mengangkat tangan dan menawarkan harga? "
" Lukisan itu bagus, namun aura yang terpancarkan dari lukisan itu tidak sampai ke hatiku "
" Aura? "
" Tia, apa kah kau merasakan sesuatu yang spesial ketika menatap lukisan itu? " Tanya papah.
" Iya, aku merasa seperti ada angin yang berhembus " Jawabku dengan penuh semangat .
" Hmmm begitu ya. Artinya aura lukisan tersebut sampai kepadamu, sejujurnya papah tidak merasakan apapun ketika melihatnya. Bagiku lukisan tersebut hanyalah pemandangan alam semata, dan tidak ada yang terasa spesial di dalamnya "
" Oh begitu "
" Kau akan memahaminya nanti, setelah matamu itu melihat banyak lukisan "
" Siap bos "
viento que sopla en el bosque pun terjual di harga tiga puluh juta. Lima juta lebih tinggi dari pada Lukisan si Seniman Jepang tadi. Lukisan ke tiga pun di bawa naik ke panggung, kali ini warna yang mendominasi kanfas tersebut adalah orange. Temanya adalah senja, di padang pasir.

" Kali ini berasal dari Seniman legendaris timur Tengah, judul adalah eindama tabda alshams bialnuwmi " Ujar si pembawa acara.
" Nama dari bahasa lain lagi " Aku mengomentari nama lukisan tersebut.
" Ketika sang mentarai mulai mengantuk, itulah arti nama lukisan tersebut "
" Oh begitu "
Aku memandangi lukisan tersebut, entah mengapa diri ini tidak bisa merasakan sesuatu dari warna-warna yang di tuangkan ke dalam kanfas tersebut. Tidak seperti Ao yang membuatku seakan-akan berada di laut, dan viento atau apalah itu yang mampu membuatku merasakan hembusan angin.
Lukisan ini bagus, namun auranya tidak sampai kepadaku, Mungkin ini lah maksud ucapan papah tadi. Jadi begitu, tiap lukisan memiliki aura, namun ada orang-orang yang tidak bisa memahami aura tersebut. Aku jadi berfikir, adakah seseorang yang mampu membuat lukisan dengan aura unik yang mampu membuat semua orang merasakannya.
Karya seniman legendaris terjual dengan harga lima puluh juta, setelah sebelumnya di banroll tiga lupuh juta oleh sang pembawa acara. Ternyata aura lukisan itu justru sampai ke hati banyak orang, karena tadi pelelangan sempat berlangsung sengit, dan banyak orang yang bersikeras mendapatkan lukisan tersebut. kenapa aku tidak bisa merasakan aura nya ya? Mungkin kah seleraku jelek?
" Baik lah lukisan terakhir " Ujar sang pembawa acara setelah lukisan baru tiba di atas panggung. " Hasil karya anak bangsa.... "
Entah mengapa ketika sang pembawa acara mengatakan hal tersebut, banyak hadirin yang menghela nafas. Mereka seakan-akan merasa sangat kecewa, apa ada yang salah dengan lukisan ini?
" Mengapa banyak yang terlihat kecewa? " Tanyaku.
" Haha orang-orang yang kecewa itu adalah para kolektor amatir. Mereka menganggap karya anak negeri tidak lah bernilai " Ujar papah.
" Apa mereka menganggap orang Indonesia tidak memiliki ke ahlian seni? "
" Ya kurang lebih begitu, padahal nenek moyang kita merupakan Seniman terhebat di dunia. Kau bisa lihat orang asing mengunjungi kota kita hanya untuk melihat borobudur dan prambanan yang merupakan seni dari tangan nenek moyang kita. Banyak juga turis yang menyukai batik, hasil karya masyarakat negeri kita "
" Kau benar "
" Mereka akan menyesal karena melewatkan yang satu ini " Ujar ayah sambil membenarkan posisi duduknya.
Kain yang menutup lukisan tersebut pun di angkat seketika sebuah lukisan yang luar biasa indah terpampang. Gorsan cat membentuk sebuah lukisan berupa seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya di atas kursi goyang. Di belakang ibu itu, terlihat sebuah perapian yang menyala, aura kehangatan langsung dapat aku rasakan. Sangat menenangkan hingaa seakan-akan aku adalah anak yang tengah wanita itu gendong. Aku bahkan seperti merasakan hangatnya perapian yang tergambar di sana.
" Judul dari lukisan ini adalah, the throne of the Hestia " Ujar sang pembawa acara.
Aku langsung tau arti dari judul lukisan itu, Tahta sang Hestia. Aku juga tau siapakah sang Hestia itu, serta maksud dari tahta yang di katakan dalam judul lukisan tersebut. Hestia adalah dewi perapian dalam mitologi Yunani, lambang dari kehangatan dan keluarga.
Papah dan mamah menyematkan nama itu kepadaku dengan harapan diri ini mampu memberikan kehangatan kepada siapaun. Aura yang terpancar dari lukisan itu benar-benar sangat terasa di hati ini, begitu menghangatkan layaknya perapian dan teramat menenangkan seperti keluarga.
Orang-orang yang semula terlihat kecewa seketika berubah menjadi terpukau, mereka pun mulai mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tangannya dan menawarkan harga agar dapat segera membawa pulang lukisan tersebut.
" Harga awal lukisan ini adalah tiga puluh juta " Ujar sang pembawa acara.
Seketika itu juga, banyak tangan yang terangkat jumlah orang yang tertarik dengan lukisan itu sangat banyak, bahkan bisa di bilang hampir semua hadirin menginginkan Tahta sang Hestia itu. Lisan para hadirin mulai menyebutkan harga, nilai dari lukisan itu terus naik, hingga sampai di angka lima puluh juta.
Keadaan ruangan lelang itu sekarang terlihat seperti zona perang, semua orang terus menawarkan harga hingga nilai lukisan itu mencapai enam puluh juta. Papah yang tidak menawarkan harga pada tiga lukisan sebelumnya, sekarang malah terlihat begitu berhasrat untuk membawa pulang maha karya itu.
Nilai lukisan telah mencapai tujuh puluh juta, banyak orang yang mulai menyerah karena harga tersebut mungkin sudah di luar budget mereka. Ketika nilai the throne of the Hestia sudah mencapai angka delapan puluh juta, semakin banyak orang yang mundur hingga menyisakan lima orang saja.
Papah termasuk salah satu dari lima orang yang bertahan. Dia masih berjuang untuk membawa pulang lukisan itu, aku tidak tau ada berapa banyak uang yang ada di tabungannya. Namun dahinya mulai berkerut ketika harga lukisan itu sudah mencapai angka sembilan puluh juta.
Penawar yang tersisa hanya ada dua orang, papah dan seseorang yang ada di baris paling depan. Ketika lawannya masih sanggup menaikan harga, papah mulai bimbang saat hendak berbicara.
" Papah, aku siap tidak jajan selama satu tahun. Jadi menangkan lah lukisan itu " Ujarku dengan harapan papah mau terus berjuang.
Bagaimanapun aku sangat menginginkan lukisan itu juga, coretan warna yang menggambarkan makna nama ini. Aku tidak peduli apa konsekuensi dari ucapanku tadi, yang jelas bagaimanapun caranya ayah harus memenangkan pelelangan ini.
" Baik lah anakku " Ujar papah.
" Sembilan puluh delapan juta, apakah tuan yang di sana masih mau menaikan harga? " Tanya sang pembawa acara sambil menunjuk ayah.
" Seratus juta " Ayah mengajukan harga kepada pembawa acara.
" Papah hebat " Pujuku.
" Tia, mungkin mamahmu akan menggantungku karena mengeluarkan uang yang terlampau tinggi untuk lukisan ini " Ujar papah sambil memasang ekspresi aneh, Berhasrat namun takut.
" Heh? " Ujarku kaget.
" Tapi demi dirimu, aku akan berjuang " Ayah mengacungkan jempol ke arahku.
" Papah keren, aku siap menemanimu saat mamah marah " Ujarku sambil membalas acungan jempolnya.
" Seratus juta. Apa tuan yang di sana masih mau menaikan harga? " Tanya pembawa acara.
" Heh, dia pasti menyerah " Ujar ayah sambil tersenyum jahat.
" Seratus lima puluh juta " Ucapan pria yang berada di barisan paling depan itu seketika membuat semua orang terdiam. Dia langsung menaikan harga hingga lima puluh juta? Sekaya apakah orang ini?
" A.. Apa tuan yang di sana masih mau menaikan harga? " Tanya pembawa acara.
" Aaaahhhh " Papah. terlihat sangat kesal. Sepertinya angka seratus juta merupakan kesanggupan akhir dirinya.
" Tiga... Dua... Satu " Si pembawa acara mulai menghitung mundur, setelah hitungan tersebut selesai dia pun mengetuk palu dan menyatakan pria di barisan depan itu adalah pemenangnya.
" Aaaahhh, kurang ajar " Papah mulai mengacak-acak rambutnya.
" Hahaha " Aku tertawa ketika melihat reaksi papah.
" Mengapa kau tertawa " Ujar papah sambil mengacak-acak rambutku.
" Lukisan itu luar biasa ya pah. Sekarang Aku jadi paham mengapa papah menjadi maniak lukisan "
" Apa maksudmu maniak? " Tanya papah ketus.
" Papah tau, sekarang aku memiliki impian " Ujarku mantap.
" Impian? "
" Ya, aku ingin menjadi pelukis yang hebat. Karyaku akan di perebutkan seperti tadi, dan nilai dari satu lukisan ku akan bisa menembus angka satu milyar " Aku mengacungkan jempol lagi ke arah ayah.
" Haha baiklah papah akan mendukung mimpimu "
Kami memang gagal mendapatkan lukisan luar biasa itu, namun berkat kunjungan ku ketempat ini, diri ini seketika menemukan hal yang ingin di lakukan. Melukis, the throne of the Hestia, aku akan membuat lukisan yang jauh lebih memukau dari pada itu.
Setelah itu papah mulai memasukan ku ke kursus melukis, banyak guru yang mengatakan jika diri ini memiliki bakan akan hal itu dan diri ini pun jelas bangga. Aku terus berlatih, tiap jam, tiap hari, tiap minggu. Kamarku seketika di penuhi kanfas dan cat, karena diri ini sepertinya telah kecanduan melukis. Ada begitu banyak lukisan yang aku buat, dan kebanyakan dari mereka di puji oleh banyak orang.
Saat beranjak dewasa aku mulai sering mengirim lukisan yang diri ini buat untuk mengikuti kompetisi, namun sayangnya semuanya langsung gugur di babak penyisihan. Aku jelas sedih karena hal tersebut, mengapa lukisan yang banyak di puji itu selalu gagal bahkan saat masih babak pertama? Apakah orang-orang berbohong ketika memuji lukisanku?
Rasa depresi pun mulai menyelimuti hati ini, aku pun mulai berfikir " Apakah sebenarnya aku tidak berbakat? " Sial, sebenarnya apa yang salah dengan lukisanku. Aku masih menolak untuk menyerah, sehingga porsi latihan pun semakin diri ini tambah. Berjuang, berjuang dan berjuang hanya itu lah yang ada di pikiranku.
Suatu hari ada sebuah kompetisi melukis yang di adakan dinas setempat. Akupun mengikutinya dengan sebuah lukisan yang diri ini beri judul The throne of the Dementer. Konsep judulnya aku ambil dari lukisan yang dulu gagal papah menangkan, hanya saja kali ini aku mengambil nama Dementer, dewi bunga dalam mitologi Yunani.
Lukisan yang aku buat berupa sebuah taman yang penuh bunga. Di tengah taman itu aku melukis seorang gadis bertopi yang mengenakan gaun putih. Aku menamainya Tahta sang dementer karena ingin menggambarkan rupa dari singgasana sang dewi bunga. Aku begitu bersemangat mengikuti kompetisi itu hingga membawa sendiri lukisan yang diri ini buat ke tempat perlombaan.

Sialnya, sang takdir malah mempertemukan ku dengan akur pahit. Saat menyeberang sebuah mobil menabarakku hingga tubuh ini terpendal dan tidak sadarkan diri. Akhirnya aku gagal mengikuti lomba, karena tidak dapat mengumpulkan lukisan tepat waktu.
Tiga minggu lamanya diri ini di rawat di rumah sakit, tangan kananku patah hal itu semakin meyakinkan ku jika Tuhan tidak menghendaki seorang Hestia menjadi pelukis hebat sebab setelah pulih pun tangan ini selalu bergetar saat memegang kuas.
Akhirnya aku pasrah dan membuang impian yang dulu pernah lisan ini utarakan kepada papah. The throne of the Demeter merupakan karya terakhirku, lukisan itu selamat saat diri ini di tabrak mobil. Namun aku yang sudah kehilangan minat dalam dunia melukis, memutuskan untuk menyimpanya di gudang dan tidak akan pernah mengirimnya lagi ke kompetisi manapun.
Hari demi hari berlalu hingga tanpa teras aku sudah memasuki jenjang pendidikan baru yaitu SMP. Impian menjadi pelukis sudah nyaris sirnah dalam benak ini, namun suatu hari aku di pertemukan dengan seseorang yang akan mengubah segalanya.
Diubah oleh Rebek22 26-07-2021 22:19
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3