- Beranda
- Stories from the Heart
KKN DI LEMBAH MATAHARI (BASED ON TRUE STORY)
...
TS
bayubiruuuu
KKN DI LEMBAH MATAHARI (BASED ON TRUE STORY)
Prakata
Hai horror mania diforum tercinta, saya akan menceritakan salah satu pengalaman hidup yang tidak mungkin dilupakan oleh empunya cerita. Awal dari cerita ini, saya tak sengaja melihat teman-teman digrup SMA Angkatan saya memposting foto keindahan lokasi alam, keangkerannya serta banyakknya keganjilan disaat kegiatan KKN berlangsung. Sekian hari keributan semakin riuh di grup, banyak komen dari anggota grup Whatsapp membuat saya menjadi semakin penasaran, demi mengobati rasa penasaran itu akhirnya saya japri teman saya yang Upload foto-foto tersebut, sekian lama kami telp dan chat akhirnya saya tertarik dan ingin mempublish cerita ini.
Dengan perdebatan yang panjang dan alot akhirnya saya diizinkan tapi dengan berbagai kesepakatan dan sensor, Meski sebelumnya satu sekelompok mahasiswa ini tidak sepakat, padahal setelah kegiatan KKN itu berakhir semua anggota sebenarnya sudah menutup rapat-rapat salah satu kisah kelam mereka. Bahkan mereka tidak menceritakannya kepada teman dekat, keluarga, kelompok lain, dosen pembimbing dan kampus tempat mereka bernaung.
Memang kisah ini kedepan akan saya tulis ulang dengan detail, karena ketidak puasan saya menulis disebelah. Percaya atau tidak percaya tentang kisah ini saya kembalikan lagi pada para pembaca yang Budiman, karena setiap dithread-thread yang sudah saya tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang-orang dekat saya. Kejadian yang sudah disampaikan teman-teman saya dan di tulis tanpa melebihkan serta mengurangi kejadian yang mereka alami dilapangan.
Sebelum saya tulis kisah ini, saya juga melakukan beberapa perjanjian dengan pemilik cerita. Demi kebaikan bersama nama, tokoh, tempat dan waktu saya samarkan. Jangan terlalu mengahayati cerita, karena mereka yang kalian bayangkan dan kalian perbincangkan dialam lain pasti akan merasakan juga. Yang paling penting ikuti Rules diforum ini. Ambil hikmahnya saja, mulai…
PROLOG
Demi apapun, Jangan pernah sekali-kali membicarakan mereka. Apabila darah berbalut lembaran kelopak bunga sudah tertumpah dilembah, aku takt ahu harus bicara apa? Dan aku sendiri tak tahu apa yang akan terjadi ? hanya tradisi yang bisa menjawab “MATI”
“KKN DI LEMBAH MATAHARI”
JANGAN LUPA ? DITUNGGU
DIBURJO
INDEX
PART. 1
PART. 2
PART. 3
PART. 4
PART. 5
PART. 6
PART. 7
PART. 8
PART. 9
PART. 10. ABAH KANIGORO
PART. 11. BENGGOLO
PART. 12. PERUSUH MAKAM KERAMAT
PART. 13. MEREKA MULAI MENYAPA
PART. 14 MEREKA MULAI MENYAPA 2
Part. 15 KEBUN SAWI
PART. 16. PIPIT
PART. 17 LEDAKAN
PART. 18 DARAH BERBALUT KELOPAK BUNGA
PART. 19. KI BAWONO DAN NYAI RUSMINAH
PART. 20. TRANSPORTASI
PART. 21 MOTOR
PART. 22 PENGOBATAN GRATIS
PART. 23 MATI
PART. 24. Pak Rahmad
PART 25. PTSD
PART 26. HILANG
PART 27. BELATUNG
PART. 28. POSKO BARU
PART 29. ARUNG JERAM
PART 30. RYAN
PART 31. SOSOK DI JEMBATAN
PART 32. AYAM CEMANI
PART 33. KEARIFAN LOKAL
Diubah oleh bayubiruuuu 23-12-2021 10:22
bebyzha dan 80 lainnya memberi reputasi
75
71.5K
513
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bayubiruuuu
#128
PART 23. MATI
Esok telah mejelang, Usai sarapan bersama. Semua anggota Ayub langsung bergegas kerumah Abah, untuk Indah,Rosa,Roni dan Bahdim tetap pergi menunggu Resty dkk diperbatasan dusun. Tak berselang lama Resty yang mengendarai motor mendekat kearah Rosa dkk, mereka datang dengan membawa dua kardus yang berisi obat-obatan dan beberapa barang pesanan Rosa berserta teman KKNnya.
Kondisi dihalaman Abah sudah ditata seperti kemarin, sesuai permintaan Rosa dan Indah tadi malam. Selesai pekerjaan itu Ayub, Pipit, Rerey, Joko, Rian dan Agustin duduk melingkar dihalaman sambil menunggu Rosa dkk tiba. Capek menunggu, mereka saling melempar canda tawa, raut wajah bahagia mulai keluar untuk menghiasi wajah mereka, hal ini sengaja dilakukan sekedar untuk membunuh waktu. Tak lama kemudian Rosa dkk telah tiba, rombongan bermotor langsung memasuki halaman rumah Abah. Dan memarkirkan kendaraan mereka ditempat yang sudah disediakan.
Sementara itu dikerumunan kelompok Ayub, Agustin bertindak cepat meminta kepada Ayub.
Ayub bangkit dan berjalan mendekati Indah diparkiran, “Ndah, langsung mulai saja kayak kemarin”. “Beres pak ket” Jawab Indah dengan senyum khasnya.Kemudian Indah seperti kemarin langsung mempersilahkan warga yang sudah hadir untuk mulai antri dimeja disebelah kanannya.
Pagi itu Rosa meminta teman-temannya untuk membuka dua meja saja, karena satu tenaga untuk mengemas obat dan yang satunya lagi untuk mencocokkan identitas sesuai dengan diagnosa kemarin. Acara siang itu berlangsung cukup lancar, suasana semakin siang warga dusun ysemakin banyak yang datang. Warga dusun ini mengantri dengan sabar juga tampak tertib. Di tengah kesibukan teman – teman petugas medis dan teman-teman KKNnya yang ikut membantu membagikan obat. Rosa mendekat kepada Indah dengan muka panik dan tak enak hati.
Indah mengambil motor yang terparkir dihalaman, dipintu keluar halaman Rosa sudah berdiri menunggu. Mereka berdua dengan cepat pergi meninggalkan rumah abah. Baru saja motor berjalan Rosa berkata “Ndah agak cepet ya, soalnya acara pembagian keliatannya mau selesai tuh” Pinta Rosa sambil melihat antrian yang cepat ditangani oleh semua teman-temannya.
Sampai dihalaman posko, Rosa langsung turun dan berlari masuk kedalam. Beberapa menit kemudian, Rosa kembali dengan berlari kecil menuju Indah yang masih duduk diatas motor. “Sudah Ros” kata Indah, “Udah Ndah, cepetan” Pinta Rosa. Mereka berdua kembali naik motor dan melajukan motor dengan kencang, karena saat itu mereka harus cepat sampai.
Indah dan Rosa berharap harus bisa sampai lebih dulu ke rumah abah, sebelum acara selesai. Mereka juga merasa tidak enak kalau meninggalkan teman-temannya terlalu lama karena selama ini sudah banyak membantu mereka.
Namun disaat Indah dan Rosa dalam perjalanan kembali menuju rumah abah, mereka akan melewati sebuah jembatan kayu. Dan disaat motor yang dikemudikan Indah mau memasuki jembatan berjarak sekitar tiga puluh meter. Indah melihat ustadz Ali yang akhir – akhir ini biasa mereka temui di masjid.
Terlihat dari kejauhan Ustad Ali sedang membuang takir ke sungai (sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang, berbentuk sigi empat, biasanya di gunakan untuk wadah sesajen) di ujung jembatan. Setelah membuang takir kesungai, ustadz Ali berjalan dengan terburu buru meninggalkan jembatan. Gerak geriknya saat itu sangat mencurigakan, mirip seperti maling. Tapi Indah tidak terlalu memikirkannya karena didalam otaknya hanya ingin cepat sampai rumah Abah.
Saat mau memasuki area itu, dijembatan yang teduh cahayanya berubah agak redup, karena tertutup lebatnya pohon liar dan bambu. Saat baru masuk jembatan Indah merasa banyak kelebatan - kelebatan hitam setipis kabut, sosok - sosok seperti asap hitam itu seperti berkerumun memutar mengelilingi jembatan. Jembatan yang tadinya sejukpun tiba-tiba menjadi agak sedikit panas. Sepertinya sosok - sosok asap hitam bergerak memutar dengan cepat itu berebut sesuatu dari takir yang hanyut tenggelam di sungai.
Indah yang sedang membonceng Rosa tetap melajukan kendaraannya dengan cepat, dengan keadaan terburu buru ia kembali tak memperdulikan apa yang dilakukan ustad Ali. Saat Indah mau selesai melewati jembatan, tiba tiba roda motor bagian depan Indah menabrak sesuatu yang besar.
Indah yang tenaganya tidak seperti para lelaki untuk mengendalikan motor, akhirnya tangannya mulai goyah, dan tiba - tiba motor yang tak bisa dikendalikan oleh Indah akhirnya terpelanting dan roboh diatas jembatan.
Indah yang saat itu pikirannya hanya terkonsentrasi untuk cepat kembali kerumah abah dan rumah abah, dengan cepat ia kembali mendirikan kembali motor yang sudah roboh. Dalam keadaan panik dan buru - buru Indah mulai menjalankan motornya kembali. Setelah berjalan sekitar 100 meter, Indah tersadar bahwa jok di belakangnya ringan. Saat ia menoleh kebelakang, ternyata Rosa sudah tidak ada di jok belakang.
Indah dengan cepat memutar balik motornya, ia kembali menyusuri jalan hinga sampai ke ujung jembatan. Dari jarak yang semakin dekat Indah melihat temannya, Rosa sudah tergeletak di atas jembatan sendirian. Pikiran Indah semakin kalut, apa yang sebenarnya terjadi sama Rosa. Sampai dipinggi jembatan Indah langsung turun dari motor dengan buru-buru, dan langsung berlari menghampiri Rosa.
Tapi Rosa tetap terdiam, tergeletak dan tidak merespon apapun atas goyangan serta panggilan yang di lakukan Indah berkali-kali. Keadaan ini semakin membuat Indah menjadi bingung dan panik, tangannya mau mengangkat Rosa kemotor pun sudah tak mungkin, sebab ia tak kuat menggendongnya. Sekian lama usaha Indah sia – sia, kini Indah menggapai motornya kembali. Indah langsung pergi menuju rumah abah meminta bantuan. Sampai dirumah abah, dengan wajah yang panik dan sedih Indah meminta bantuan kepada teman-temannya yang berkerumun di rumah Abah.
Semua yang tengah melakukan prosesi pembagian obat buyar seketika mendengar berita yang dibawa Indah. Suasana panik, dan gerakan cepat semua orang yang berada dirumah Abah berhamburan ikut Indah untuk menjemput Rosa di jembatan. Sampai dijembatan, semua yang datang melihat Rosa tetap tergeletak sendirian, Rosa sendiri tidak terluka sedikitpun, mulai kulit lecet, berdarah, tergores pun tak terlihat sama sekali. Warga dusun yang ikut juga, kini sudah berkumpul dijembatan, mereka beramai-ramai mengangkat dan membawa Rosa menuju rumah abah.
Sampai dirumah abah, tubuh Rosa diletakkan diruang tamunya. Abah yang merasa kaget dan iba spontan beliau langsung memeriksa kembali kondisi Rosa, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semua utuh tak ada yang hilang, darahnya pun tak ada yang keluar. Terakhir abah memeriksa denyut nadi dan detak jantung. Tapi kenyataan berkata lain, siang itu denyut nadi dan detak jantung Rosa dinyatakan abah sudah tidak ada.
Tak percaya dengan semua ini, teman - teman Rosa yang merupakan anak kesehatan langsung bergantian memeriksa tubuh Rosa secara bergantian, dengan stetoskop dan alat yang lain yang sudah dibawanya. Hasil pemerikasaan teman- temannya pun sama dengan abah, Kini rosa telah tiada. Dengan perasaan sedih dan hancur keempat temannya mulai mengalirkan air matanya, teman karib yang baru saja bercanda ria sejak pagi dengan mereka kini tiba-tiba sudah tiada.
Indah yang sudah panik dan merasa bersalah mulai meneteskan air matanya, serta tangisnya mulai pecah, dan mejerit histeris didalam rumah abah “Akhhhhh…..huuuu...huuu...huuu”
Abah siang menjelang sore itu terlihat sangat gelisah, wajahnya memerah darah. Abah sendiri curiga akan sesuatu yang janggal dalam kematian Rosa. Dengan wajah yang sudah merah padam, isi kepala abah mulai menelisik mau melakukan ante mortem. Abah berjalan meninggalakn jenazah Rosa dan menenangkan Indah terlebih dahulu. Beberapa menit setelah tangis Indah mereda, Abah bertanya dengan berhati-hati kepada Indah di dalam keramaian rumahnya.
Indah yang sudah sedikit mereda tangis histerisnya, air matanya yang sudah beranak pinak dipipinya mulai disapu oleh Agustin masih diam. Indah merasa shock, panik campur bingung dan merasa sangat…sangat bersalah atas kematian Rosa. Sekian lama Indah terisak dalam pelukan Agustin tanpa ada Jawaban, abah pun membiarkannya dan tidak terlalu memaksa untuk bertanya kembali. Sampai akhirnya Indah menjawab sambil terisak menahan tangis, mulutnya yang bergetar akhirnya menyampaikan sesuatu.
Tak mau berlama-lama didalam rumah abah memutuskan berjalan kehalaman rumahnya. Abah yang sudah merasa sangat geram langsung bicara kepada warga dusun yang sudah berkumpul dihalaman rumahnya.
Emosi warga sore itu sudah meluap, hampir seluruh warga dusun yang berada dirumah abah pergi menuju rumah ustad Ali dengan membawa kebecian yang mendalam. Saat itu juga, semua orang awalnya berada dirumah abah bergerak beramai-ramai menuju rumah ustad Ali. Sampai beberapa menit kemudian para warga dusun telah tiba didepan rumahnya ustad Ali, tanpa ada yang memberi komando warga dusun langsung berteriak-teriak keras bersahutan memanggilnya.
Memang rumahnya ustad Ali siang itu pintunya sudah terbuka separuh, jadi terlihat dari luar diruang tamu ustad Ali tidak ada orang. Tapi lama kelamaan, warga yang makin geram dan suara yang ramai hingga mau membakar rumahnya. Hal ini membuat penghuni rumah mulai berani menampakkan diri, sampai akhirnya sebagian warga melihat ustad Ali berjalan keluar dari dalam rumah. Tanpa ada pertanyaan dan penjelasan lagi warga langsung merangsek dengan cepat masuk kedalam rumah ustad Ali. Kali ini warga dusun yang sudah emosi bertanya dengan kasar dan membentak keras.
Ustad Ali hanya diam, tidak menjawab apapun seluruh pertanyaan yang membabi buta yang ditujukan kepadanya. Bibirnya tetap terkunci rapat dan kepalanya sedikit menunduk, serta pandangannya tetap kebawah.
Warga yang sudah kesal karena tidak ada jawaban, dengan warga paling depan langsung melayangkan bogem mentahnya, hal ini akhirnya diikuti warga lain dengan mengahajar Ustad Ali beramai-ramai, tanpa ada yang tahu pasti siapa yang memulai duluan pengeroyokan tersebut. Hanya emosi dan kebencian yang sudah mendarah daging terhadap ustad Ali selama ini, entah apa yang merasuki semua jiwa warga dusun lembah matahari hingga bisa berbuat seperti itu terhadap ustad Ali.
Sekian lama ustad ali dihajar, mereka berhenti sejenak untuk bertanya kembali
Kini ustad Ali sudah yang tergeletak diruang tamu hanya bisa kembali diam meringis menahan sakit. Luka lebam dan darahpun mulai merembes dimuka, tangan, tubuh dan kaki ustad Ali. Jawaban yang diharapkan penduduk pun tidak didapat, warga dusun kini mulai bertambah marah.
Mereka yang tidak sabar kini melayangkan tinju dan injakan kaki ke sekujur tubuh ustad Ali kembali, “Buk…bukkk…buk” kali ini seluruh warga semakin beringas untuk mengoyak tubuh ustad Ali yang sudah tak berdaya. Hingga terlihat sang ustad mau pingsan dirumahnya sendiri. Ditengah tengah pengeroyokan yang brutal itu, Ayub yang tadinya melihat mematung, semakin lama ia tak tega dengan yang dialami ustad Ali.
Hal ini dilakukan Ayub karena merasa selama ini sudah dekat dengan beliau, karena mereka juga sering bertemu dimasjid dan membantunya di kebun. Kini ia menahan amukan dan menghentikan pengereyokan itu bersama Joko. Mereka berdua menenangkan warga dusun siang itu, toh barang bukti juga tidak ada. Indah sendiri yang melihat Ustad Ali pun tak melakukan apa-apa terhadap mereka. Percuma juga jika dilaporkan kepada pihak berwajib sebab data postmorfem pun tak akan terpenuhi. Jadi percuma saja mengahajar sesorang tanpa ada bukti dan alasan yang jelas, malah bisa-bisa warga dusun sendiri yang dilaporkan sama ustad Ali.
Emosi warga juga mulai turun, tapi tatapan kebencian warga masih sangat mendalam terhadap Ustad Ali,
Quote:
Kondisi dihalaman Abah sudah ditata seperti kemarin, sesuai permintaan Rosa dan Indah tadi malam. Selesai pekerjaan itu Ayub, Pipit, Rerey, Joko, Rian dan Agustin duduk melingkar dihalaman sambil menunggu Rosa dkk tiba. Capek menunggu, mereka saling melempar canda tawa, raut wajah bahagia mulai keluar untuk menghiasi wajah mereka, hal ini sengaja dilakukan sekedar untuk membunuh waktu. Tak lama kemudian Rosa dkk telah tiba, rombongan bermotor langsung memasuki halaman rumah Abah. Dan memarkirkan kendaraan mereka ditempat yang sudah disediakan.
Sementara itu dikerumunan kelompok Ayub, Agustin bertindak cepat meminta kepada Ayub.
Quote:
Ayub bangkit dan berjalan mendekati Indah diparkiran, “Ndah, langsung mulai saja kayak kemarin”. “Beres pak ket” Jawab Indah dengan senyum khasnya.Kemudian Indah seperti kemarin langsung mempersilahkan warga yang sudah hadir untuk mulai antri dimeja disebelah kanannya.
Pagi itu Rosa meminta teman-temannya untuk membuka dua meja saja, karena satu tenaga untuk mengemas obat dan yang satunya lagi untuk mencocokkan identitas sesuai dengan diagnosa kemarin. Acara siang itu berlangsung cukup lancar, suasana semakin siang warga dusun ysemakin banyak yang datang. Warga dusun ini mengantri dengan sabar juga tampak tertib. Di tengah kesibukan teman – teman petugas medis dan teman-teman KKNnya yang ikut membantu membagikan obat. Rosa mendekat kepada Indah dengan muka panik dan tak enak hati.
Quote:
Indah mengambil motor yang terparkir dihalaman, dipintu keluar halaman Rosa sudah berdiri menunggu. Mereka berdua dengan cepat pergi meninggalkan rumah abah. Baru saja motor berjalan Rosa berkata “Ndah agak cepet ya, soalnya acara pembagian keliatannya mau selesai tuh” Pinta Rosa sambil melihat antrian yang cepat ditangani oleh semua teman-temannya.
Sampai dihalaman posko, Rosa langsung turun dan berlari masuk kedalam. Beberapa menit kemudian, Rosa kembali dengan berlari kecil menuju Indah yang masih duduk diatas motor. “Sudah Ros” kata Indah, “Udah Ndah, cepetan” Pinta Rosa. Mereka berdua kembali naik motor dan melajukan motor dengan kencang, karena saat itu mereka harus cepat sampai.
Indah dan Rosa berharap harus bisa sampai lebih dulu ke rumah abah, sebelum acara selesai. Mereka juga merasa tidak enak kalau meninggalkan teman-temannya terlalu lama karena selama ini sudah banyak membantu mereka.
Namun disaat Indah dan Rosa dalam perjalanan kembali menuju rumah abah, mereka akan melewati sebuah jembatan kayu. Dan disaat motor yang dikemudikan Indah mau memasuki jembatan berjarak sekitar tiga puluh meter. Indah melihat ustadz Ali yang akhir – akhir ini biasa mereka temui di masjid.
Terlihat dari kejauhan Ustad Ali sedang membuang takir ke sungai (sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang, berbentuk sigi empat, biasanya di gunakan untuk wadah sesajen) di ujung jembatan. Setelah membuang takir kesungai, ustadz Ali berjalan dengan terburu buru meninggalkan jembatan. Gerak geriknya saat itu sangat mencurigakan, mirip seperti maling. Tapi Indah tidak terlalu memikirkannya karena didalam otaknya hanya ingin cepat sampai rumah Abah.
Saat mau memasuki area itu, dijembatan yang teduh cahayanya berubah agak redup, karena tertutup lebatnya pohon liar dan bambu. Saat baru masuk jembatan Indah merasa banyak kelebatan - kelebatan hitam setipis kabut, sosok - sosok seperti asap hitam itu seperti berkerumun memutar mengelilingi jembatan. Jembatan yang tadinya sejukpun tiba-tiba menjadi agak sedikit panas. Sepertinya sosok - sosok asap hitam bergerak memutar dengan cepat itu berebut sesuatu dari takir yang hanyut tenggelam di sungai.
Indah yang sedang membonceng Rosa tetap melajukan kendaraannya dengan cepat, dengan keadaan terburu buru ia kembali tak memperdulikan apa yang dilakukan ustad Ali. Saat Indah mau selesai melewati jembatan, tiba tiba roda motor bagian depan Indah menabrak sesuatu yang besar.
Quote:
Indah yang tenaganya tidak seperti para lelaki untuk mengendalikan motor, akhirnya tangannya mulai goyah, dan tiba - tiba motor yang tak bisa dikendalikan oleh Indah akhirnya terpelanting dan roboh diatas jembatan.
Quote:
Indah yang saat itu pikirannya hanya terkonsentrasi untuk cepat kembali kerumah abah dan rumah abah, dengan cepat ia kembali mendirikan kembali motor yang sudah roboh. Dalam keadaan panik dan buru - buru Indah mulai menjalankan motornya kembali. Setelah berjalan sekitar 100 meter, Indah tersadar bahwa jok di belakangnya ringan. Saat ia menoleh kebelakang, ternyata Rosa sudah tidak ada di jok belakang.
Indah dengan cepat memutar balik motornya, ia kembali menyusuri jalan hinga sampai ke ujung jembatan. Dari jarak yang semakin dekat Indah melihat temannya, Rosa sudah tergeletak di atas jembatan sendirian. Pikiran Indah semakin kalut, apa yang sebenarnya terjadi sama Rosa. Sampai dipinggi jembatan Indah langsung turun dari motor dengan buru-buru, dan langsung berlari menghampiri Rosa.
Quote:
Tapi Rosa tetap terdiam, tergeletak dan tidak merespon apapun atas goyangan serta panggilan yang di lakukan Indah berkali-kali. Keadaan ini semakin membuat Indah menjadi bingung dan panik, tangannya mau mengangkat Rosa kemotor pun sudah tak mungkin, sebab ia tak kuat menggendongnya. Sekian lama usaha Indah sia – sia, kini Indah menggapai motornya kembali. Indah langsung pergi menuju rumah abah meminta bantuan. Sampai dirumah abah, dengan wajah yang panik dan sedih Indah meminta bantuan kepada teman-temannya yang berkerumun di rumah Abah.
Quote:
Semua yang tengah melakukan prosesi pembagian obat buyar seketika mendengar berita yang dibawa Indah. Suasana panik, dan gerakan cepat semua orang yang berada dirumah Abah berhamburan ikut Indah untuk menjemput Rosa di jembatan. Sampai dijembatan, semua yang datang melihat Rosa tetap tergeletak sendirian, Rosa sendiri tidak terluka sedikitpun, mulai kulit lecet, berdarah, tergores pun tak terlihat sama sekali. Warga dusun yang ikut juga, kini sudah berkumpul dijembatan, mereka beramai-ramai mengangkat dan membawa Rosa menuju rumah abah.
Sampai dirumah abah, tubuh Rosa diletakkan diruang tamunya. Abah yang merasa kaget dan iba spontan beliau langsung memeriksa kembali kondisi Rosa, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semua utuh tak ada yang hilang, darahnya pun tak ada yang keluar. Terakhir abah memeriksa denyut nadi dan detak jantung. Tapi kenyataan berkata lain, siang itu denyut nadi dan detak jantung Rosa dinyatakan abah sudah tidak ada.
Tak percaya dengan semua ini, teman - teman Rosa yang merupakan anak kesehatan langsung bergantian memeriksa tubuh Rosa secara bergantian, dengan stetoskop dan alat yang lain yang sudah dibawanya. Hasil pemerikasaan teman- temannya pun sama dengan abah, Kini rosa telah tiada. Dengan perasaan sedih dan hancur keempat temannya mulai mengalirkan air matanya, teman karib yang baru saja bercanda ria sejak pagi dengan mereka kini tiba-tiba sudah tiada.
Indah yang sudah panik dan merasa bersalah mulai meneteskan air matanya, serta tangisnya mulai pecah, dan mejerit histeris didalam rumah abah “Akhhhhh…..huuuu...huuu...huuu”
Abah siang menjelang sore itu terlihat sangat gelisah, wajahnya memerah darah. Abah sendiri curiga akan sesuatu yang janggal dalam kematian Rosa. Dengan wajah yang sudah merah padam, isi kepala abah mulai menelisik mau melakukan ante mortem. Abah berjalan meninggalakn jenazah Rosa dan menenangkan Indah terlebih dahulu. Beberapa menit setelah tangis Indah mereda, Abah bertanya dengan berhati-hati kepada Indah di dalam keramaian rumahnya.
Quote:
Indah yang sudah sedikit mereda tangis histerisnya, air matanya yang sudah beranak pinak dipipinya mulai disapu oleh Agustin masih diam. Indah merasa shock, panik campur bingung dan merasa sangat…sangat bersalah atas kematian Rosa. Sekian lama Indah terisak dalam pelukan Agustin tanpa ada Jawaban, abah pun membiarkannya dan tidak terlalu memaksa untuk bertanya kembali. Sampai akhirnya Indah menjawab sambil terisak menahan tangis, mulutnya yang bergetar akhirnya menyampaikan sesuatu.
Quote:
Tak mau berlama-lama didalam rumah abah memutuskan berjalan kehalaman rumahnya. Abah yang sudah merasa sangat geram langsung bicara kepada warga dusun yang sudah berkumpul dihalaman rumahnya.
Quote:
Emosi warga sore itu sudah meluap, hampir seluruh warga dusun yang berada dirumah abah pergi menuju rumah ustad Ali dengan membawa kebecian yang mendalam. Saat itu juga, semua orang awalnya berada dirumah abah bergerak beramai-ramai menuju rumah ustad Ali. Sampai beberapa menit kemudian para warga dusun telah tiba didepan rumahnya ustad Ali, tanpa ada yang memberi komando warga dusun langsung berteriak-teriak keras bersahutan memanggilnya.
Quote:
Memang rumahnya ustad Ali siang itu pintunya sudah terbuka separuh, jadi terlihat dari luar diruang tamu ustad Ali tidak ada orang. Tapi lama kelamaan, warga yang makin geram dan suara yang ramai hingga mau membakar rumahnya. Hal ini membuat penghuni rumah mulai berani menampakkan diri, sampai akhirnya sebagian warga melihat ustad Ali berjalan keluar dari dalam rumah. Tanpa ada pertanyaan dan penjelasan lagi warga langsung merangsek dengan cepat masuk kedalam rumah ustad Ali. Kali ini warga dusun yang sudah emosi bertanya dengan kasar dan membentak keras.
Quote:
Ustad Ali hanya diam, tidak menjawab apapun seluruh pertanyaan yang membabi buta yang ditujukan kepadanya. Bibirnya tetap terkunci rapat dan kepalanya sedikit menunduk, serta pandangannya tetap kebawah.
Quote:
Warga yang sudah kesal karena tidak ada jawaban, dengan warga paling depan langsung melayangkan bogem mentahnya, hal ini akhirnya diikuti warga lain dengan mengahajar Ustad Ali beramai-ramai, tanpa ada yang tahu pasti siapa yang memulai duluan pengeroyokan tersebut. Hanya emosi dan kebencian yang sudah mendarah daging terhadap ustad Ali selama ini, entah apa yang merasuki semua jiwa warga dusun lembah matahari hingga bisa berbuat seperti itu terhadap ustad Ali.
Sekian lama ustad ali dihajar, mereka berhenti sejenak untuk bertanya kembali
Quote:
Quote:
Kini ustad Ali sudah yang tergeletak diruang tamu hanya bisa kembali diam meringis menahan sakit. Luka lebam dan darahpun mulai merembes dimuka, tangan, tubuh dan kaki ustad Ali. Jawaban yang diharapkan penduduk pun tidak didapat, warga dusun kini mulai bertambah marah.
Mereka yang tidak sabar kini melayangkan tinju dan injakan kaki ke sekujur tubuh ustad Ali kembali, “Buk…bukkk…buk” kali ini seluruh warga semakin beringas untuk mengoyak tubuh ustad Ali yang sudah tak berdaya. Hingga terlihat sang ustad mau pingsan dirumahnya sendiri. Ditengah tengah pengeroyokan yang brutal itu, Ayub yang tadinya melihat mematung, semakin lama ia tak tega dengan yang dialami ustad Ali.
Quote:
Hal ini dilakukan Ayub karena merasa selama ini sudah dekat dengan beliau, karena mereka juga sering bertemu dimasjid dan membantunya di kebun. Kini ia menahan amukan dan menghentikan pengereyokan itu bersama Joko. Mereka berdua menenangkan warga dusun siang itu, toh barang bukti juga tidak ada. Indah sendiri yang melihat Ustad Ali pun tak melakukan apa-apa terhadap mereka. Percuma juga jika dilaporkan kepada pihak berwajib sebab data postmorfem pun tak akan terpenuhi. Jadi percuma saja mengahajar sesorang tanpa ada bukti dan alasan yang jelas, malah bisa-bisa warga dusun sendiri yang dilaporkan sama ustad Ali.
Emosi warga juga mulai turun, tapi tatapan kebencian warga masih sangat mendalam terhadap Ustad Ali,
Quote:
***
Diubah oleh bayubiruuuu 03-08-2021 21:46
sulkhan1981 dan 30 lainnya memberi reputasi
31