Kaskus

Story

Rebek22Avatar border
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah


Quote:


Quote:


Quote:



1. A story about a farewell sentence



Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf

Kanaria.

Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.

Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.

Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.

Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.

Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.

Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.

Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.

Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.

" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.

Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.

" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.

" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.

" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "

" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.

" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "

" Terima kasih Kana "

" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "

" Baik "

" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "

" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "

" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "

" Kana "

" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.

Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.

Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.

Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.

Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.

Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.

Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.

Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.

Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.

Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.

kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.

Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.

Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.

Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.


Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.

Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.

Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah

" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.

" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "

" Haha, ya bagaimana ya.. "

" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.

" Tapi Kana dia ayahmu "

" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "

" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "

" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "

Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.

Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.

Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.

Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.

" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.

" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.

" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "

" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "

" Kenapa? "

" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "

Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.

" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "

" Terima kasih "

" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.

" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.

" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"

" Tapi "

" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "

" Terima kasih bu "

Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.

" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.

Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.

" Sampai jumpa lagi "

" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.

" Hati-hati di jalan bu "

Di sinilah semua bermula....

Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku

Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.

Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.

Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
pangerankodo353Avatar border
irwanh44Avatar border
sisininAvatar border
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.8K
147
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
Rebek22Avatar border
TS
Rebek22
#10
1. Rather Be
Quote:


Hestia



" Lisan itu layaknya pedang, jika kau tidak mampu mengendalikannya maka ia akan memotongmu " Kurang lebih seperti itu lah penggalan kalimat bijak dari sebuah literasi mengenai lisan yang dulu pernah aku baca.

Percayalah, ketika membaca literasi itu, aku sempat merasa geli, sebab bagi diri ini apa yang sang penulis tuangkan kedalam tulisannya terlihat sangat lah berlebihan. Menyamakan lisan dengan sebilah pedang? Bukan kah itu hal konyol?

Namun pada akhirnya aku menyadari di mana letak persamaan dari mulut ini dengan sebuah pedang. Keduanya sama-sama mampu untuk menyayat sesuatu, mata sebuah pedang dapat memotong raga, semetara kata-kata yang terlontar dari lisan bisa mencincang hati.

Aku baru saja menusukan sebilah pedang yang tak kasat mata tepat ke inti hati Zahra. Ujaran kebencian yang lisan ini keluarkan secara frontal jelas-jelas berhasil menyayat-nyayat hati srikandi itu. Mungkin dia tidak pernah mengira, jika seorang sahabat yang telah lama dirinya kenal akan tega mengatakan hal yang begitu menyakitkan seperti tadi.

Entah mengapa, perasaan yang tumbuh dalam hati ini justru malah berupa kepuasan, bukan penyesalan. Padahal aku baru saja merusak sebuah hubungan yang telah kami jalani selama bertahun-tahun. Sial, apa kah pada dasarnya hati ini memang sudah membusuk? Apa kah rasa iri dan benci berhasil mengubahku menjadi sosok yang bisa di bilang biadab?


Aku terus melangkah kan kaki ke arah taman sekolah, meninggalkan Zahra begitu saja. Entah bagaimana tanggapan srikandi itu setelah aku membentaknya, semoga saja sekarang dia sedang tersenyum dan merasa sangat gembira karena akhirnya terbebas dariku. Reaksi itu mungkin akan lebih menenangkan hati ini karena dengan begitu aku tidak perlu merasa bersalah, biar lah kami jadi dua insan yang saling membenci.

Setibanya di taman, aku pun segera duduk di salah satu bangku yang biasa di gunakan oleh para siswa saat menyantap makan siang. Taman jni merupakan salah satu tempat favoriteku ketika ingin menyendiri. Ada begitu banyak warna dari mahkota bunga-bungaan di tempat ini, semuanya sengaja di tata sedemikian rupa oleh tukang kebun sehingga ke elokan yang nampak terasa begitu sempurna.

Aku dapat menemukan banyak inspirasi untuk lukisan yang nantinya akan aku buat. Sehingga diri ini sangat betah untuk berlama-lama di tempat ini, bahkan kadang-kadang sampai membuatku lupa waktu.

Aku menghela nafas panjang kemudian mulai memandangi langit yang kebetulan sedang terlukis dengan begitu indah. Mulutku secara perlahan mulai membentuk sebuah senyuman. Kecamuk dalam hatiku mulai mereda, kontradiksi antara perasaan puas dengan sesal setelah membentak Zahra perlahan mulai usai.

Pemenang dari gesekan perasaan itu ternyata adalah rasa puas. Rasa iri dan benci berhasil menuntun perasaan itu hingga mampu menjadi pemenang setelah berhasil mengalahkan rasa kasih sayangku terhadap zahra. Sial, jadi sehitam ini kah perasaan iri itu?
Aku merasa sangat puas. Akhirnya aku bisa terbebas dari Zahra, kemilau gadis itu tidak akan bisa menutupi pencapaianku lagi, semoga hubungan kami benar-benar kandas, semoga dia membenciku karena bagaimanapun hati ini telah sempurna membencinya, biarlah kami saling membenci, persetan dengan kata sahabat.

Ah, andai aku bisa melihat wajah Zahra tadi. Raut wajah yang gadis itu tunjukan pasti akan terlihat sangat menarik. Sayangnya tadi aku tidak berani untuk menoleh, dan malah kabur ke taman ini. Tiba-tiba saja aku merasa ingin tertawa, hasrat untuk melakukan hal tersebut pun kian menggila hingga pada akhirnya aku menurut dan melepas tawa sekencang-kencangnya..

" Hoi, apa kau sudah gila? " Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari arah punggung ini, akupun langsung menghentikan tawa dan menoleh ke arah sumber suara itu

Seorang anak laki-laki dengan raut wajah mengantuk terlihat tengah berdiri di belakangku, aku mengenalnya dia adalah si murid pertukaran pelajar yang berasal dari ibu kota, kebetulan anak ini satu kelas denganku namanya Akashia. Dia adalah anak laki-laki yang terbilang tampan, ciri khasnya adalah wajah tanpa ekspresi, apapun keadaanya raut muka yang orang itu ukir selalu saja datar.

Karena hal tersebut seharusnya dia di anggap aneh, namun karena dirinya tampan banyak gadis yang mengatakan jika ke dataranya itu termasuk sikap cool. Dia sudah sebulan berada di sekolah ini, nilai akademiknya terbilang luar biasa bahkan nyaris menyaingi Zahra, maka wajar dia di beri kesempatan untuk mencoba mengenyam pendidikan di sekolah terkemuka yang ada di Yogyakarta ini.
" Aka, apa yang kau lakukan di sini? " Tanyaku.

" Ya biasalah, tidur siang sebentar " Ujarnya sambil ikut duduk di sampingku.

" Kau tidur siang di taman? "

" Begitulah. Hmmm kalau tidak salah kau si nona pelukis "

Aku langsung tersipu ketika mendengar ucapannya, nona pelukis? Baru pertama kalinya ada orang yang memanggilku seperti itu. Aku sering melukis di kelas, namun karena hal tersebut orang-orang malah menganggapku aneh, lisannya lah yang pertama kali menyebutku sebagai nona pelukis.

" Ka.. Kau benar. Aku lah sang nona pelukis " Ujarku bangga.

" Kau tidak bersama si nona srikandi? "

" Ti... Tidak "

Sial, kenapa dia tiba-tiba menanyakan Zahra? Ah moodku seketika berubah ketika mendengar nama itu. Apa dia juga mulai terpukau dengan ke cantikan Zahra? Cih, srikandi sialan itu memang selalu menjerat hati laki-laki manapun.
" Aku sering melihat kalian bersama saat pulang sekolah. Sepertinya kalian akrab, sayangnya para bedebah kelas itu seperti membuat sekat antara kalian berdua "

" Bagaimana kau tau jika kami sering pulang bersama? "

Dia benar, kami memang seperti di sekat saat berada di kelas. Aku enggan mendekatinya walaupun dia sering mengajak bicara diri ini. Bagaimanapun aku malas di olok-olok ketika berdekatan dengannya.

" Ah, aku sering ke mini market yang ada di dekat rumah kalian "

" Ya kami memang dekat. Tapi tadi, aku baru saja menghancurkan hubungan kami karena diri ini muak dengan olok-olok para elit kelas ketika kami berdekatan " Aku memutuskan untuk menceritakan kejadian tadi kepada Akashia.

" Hoho, sepertinya hal rumit terjadi di antara kalian "

" Entah lah. Namun ada satu hal yang pasti, tadi ketika aku mengutarakan kebencian yang selama ini terpendam di dalam hatiku. Aku merusak persahabatan yang telah kami jalani sejak lama, namun entah mengapa hati ini malah merasa senang "

" Biar aku tebak. Kau jadi membencinya karena ketika berdekatan dengan srikandi itu dirimu selalu di olok-olok "
" Kau benar "

" Apa aku boleh berpendapat? "

" Silahkan saja "

" Menurutku, rasa bencimu salah sasaran "

" Apa maksudmu? "

" Bagaimanapun yang seharusnya kau benci adalah mereka yang menyekat hubungan kalian. Namun karena dirimu tidak sanggup menyalahkan mereka, kau memilih jalan pontas dengan menyalahkan semuanya pada si srikandi " Ujarnya yang seperti biasa dengan wajah datar.

" Kau tidak akan memahami perasaanku "

" Mungkin kau benar, namun percayalah aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu "

" Maksudmu? " Ujarku bingung.

" Hmmm boleh aku bercerita? " Tanyanya.

" Silahkan saja "

" Di jakarta aku memiliki seorang kembaran, karena aku lahir lima menit lebih cepat maka secara tidak langsung diri ini telah menjadi kaka baginya. Kembaranku adalah gadis manis yang sangat ceria "

" Eh, apa adikmu selalu berekspresi datar sepertimu? " Ujarku sambil menahan tawa karena diri ini membayangkan ada seorang gadis yang sama dengannya, berekspresu minim.

" Hahah. Percayalah, sekalipun kami kembar identik, sifat dan bakat kami berbeda "

" Bakat? Apa kau mau bilang jika adikmu tidak sepintar dirimu? " Tanyaku. Aku pernah mempelajari hal tersebut, sekalipun kembar bakat, sifat, dan lain sebagainya belum tentu sama.

" Kau benar, keahliannya bukan lah di bidang akademik, melain kan atletis. Dia sangat ahli dalam bidang olahraga, namun payah dalam pelajaran. Berkebalikan denganku yang payah dalam olahraga raga namun ahli dalam akademik "


" He? Orang tua kalian pasti bangga karena memiliki anak hebat seperi kalian"

" Haha, sayangnya orang tua kami sudah lama meninggal "

" Eh, maaf " Aku merasa sangat tidak enak dengannya, karena membahas kedua sosok yang telah lama tiada dalam hidup mereka.

" Santai saja "

" Jadi apa maksudmu dulu kau pernah mengalami permasalahan yang sama dengan diriku? " Tanyaku yang seberusaha mungkin mengalihkan topik pembicaraan.

" Lima tahun lalu, hak asuh kami di ambil alih oleh seorang pria. Dia merupakan sosok yang layak kami sebut sebagai pahlawan. Ketika semua sanak saudara menolak untuk mengurus kami, dia yang pada dasarnya orang luar malah langsung mengajukan diri untuk mengambil alih hak asuh kami "

" He? Dia pasti pria yang baik " Ujarku sambil membayangkan seperti apa wujud dari pria luar biasa itu.

" Kau benar, setelah itu kehidupan baru kamipun di mulai. Semua kebutuhan kami di penuhi olehnya bahkan aku dan Ran di masukan ke sekolah yang terbilang elit. Sebagai balas budi kami ingin menghadiahinya dengan prestasi, maka dari itu aku dan Ran mati-matian belajar agar mampu memperoleh nilai yang bagus dan membuatnya bangga "

" Haha dan perjuanganmu sepertinya sudah menunjukan hasil " Aku memujinya karena memang dia sudah berhasil menorehkan prestasi dengan terpilih sebagai siswa pertukaran pelajar.

" Sayangnya dulu Ran salah kaprah, dia menganggap hal yang dapat membahagiakan pria itu hanyalah nilai hingga dirinya membuang jauh bakat alami yang di milikinya "

" Maksudmu dia berhenti bergelut di bidang atletik? "

" Kau benar, dia memilih untuk terus belajar walaupun pada dasarnya Ran sangat lemah dalam bidang akademik. Aku terlambat menyadari hal tersebut, Ran terlanjur mendapatkan luka hati karena terus di banding-bandingkan oleh guru dan teman-teman ku. Sehingga kembaranku sendiri mulai membenci diri ini "

" Kau ingin bilang keadaan adikmu kalau itu sama seperti kondisi ku saat ini " Aku berusaha menebak-nebak inti dari cerita Aka.

" Aku tidak memintamu menyamakan Ran dengan keadaanmu saat ini. Namun yang jelas, hal tersebut menjadi masalah serius di antara kamu sehingga hubunganku dengan Ran kian merenggang. Untungnya ayah angkat ku tidak mau untuk ikut ambil andil dalam menengahi perkara kami " Ujar Aka.
" Saat itu ayahku berkata, jika kita mengajarkan monyet cara untuk berenang, maka kemungkinan besar hewan tersebut akan mampu untuk melakukannya. Namun kita tidak boleh berfikir jika metode tersebut bisa diterapkan kepada semua hewan, bagaimanapun, merupakan sebuah kesalahan apabila kau berfikir bisa mengajarkan ikan memanjat setelah berhasil mengajarkan monyet berenang "

" Haha ayahmu benar. Bagaimanapun ada hal yang mustahil di lakukan, salah satunya membuat ikan bisa memanjat pohon kayaknya monyet " Aku mulai memahami maksud dari ceritanya.

" Begitu lah. Oleh sebab itu ayahku berkata, jika memiliki bidang dan batasan masing-masing, akan sangat tidak adil jika dirinya menuntun hal yang mustahil untuk kami lakukan. Seperti menuntunku untuk menjuarai sebuah kompetisi renang dan berharap Ran bisa menjadi ranking satu di kelas "

" Kau benar, bagaimanapun kalian memiliki bakat masing-masing "

" Permintaan ayah angkatku cukup simpel kalau itu "

" Apa yang ayahmu minta? " Tanyaku penasaran.

" Berkilau lah di bidang masing-masing. Aku harus bisa menjadi matahari yang menguasai siang, sementara Ran menjadi rembulan yang memprimadonai malam. Seterang apapun mentari, dia tidak akan dapat di lihat ketika malam, begitu juga bulan. Seindah apapun raganya dia tidak akan mampu menjadi pusat perhatian ketika siang "

" Sungguh kata-kata yang luar biasa " Lisanku memberikan pujian bagi pria itu. Bagaimanapun dia merupakan orang yang terdengar bijak, ah aku jadi penasaran dengan sosoknya.

" Sama hal nya dengan kau dan sang srikandi. Jenis kemilau yang kalian berdua miliki berbeda, sang srikandi ada di bidang akademik dan menyanyi, sementara dirimu ada di bidang lukisan. Kemilaumu mungkin belum di pandang karena apa yang sang srikandi pancarkan masih jauh lebih terang darimu, berhentilah berfikir untuk menyaingi kemilau gadis itu. Sebab kau memiliki pancaran tersendiri, jika dirimu menganggap sang srikandi membuat kemilau unikmu tidak terlihat. Maka jadikan dirinya rival, terus lah berusaha dan berjuang hingga pada akhirnya kemilau spesial milikmu bisa mulai di lirik oleh orang lain "

Ucapan Aka benar, kenapa aku harus iri jika pada dasarnya pancaran kemilau kami berbeda. Aku mungkin tidak akan bisa menjadi ranking satu sepertinya, aku juga tidak akan bisa menyanyi sebagus si srikandi itu. Namun dengan tangan ini, ada banyak lukisan indah yang bisa aku buat, Zahra tidak akan pernah bisa melukis seperti diriku sama halnya aku yang tidak akan mungkin menyamai kemerduan suaranya.

Kenapa aku tidak berfikir seperti itu seblemunya? Pada dasarnya yang membuatku membecinya bukan lah olok-olok dari para elit kelas. Melainkan kan perasaan iri yang tumbuh karena bakat Zahra selalu lebih di pandang. Padahal ada sisi baik yang bisa aku ambil dari hal tersebut, diri ini menjadi semakin terpacu untuk terus meningkatkan skill menggambar yang diri ini miliki.

Rasa iri membuatku lupa, jika sebenarnya berkat pancaran cahaya yang Zahra miliki aku berhasil mencapai titik di mana diri ini bisa membuat sebuah prestasi nyata yaitu memenangkan kompetisi menggambar tingkat nasional. Jika aku tidak terpacu dengan hasrat ingin mengalahkan kemilau Zahra, mungkin diri ini akan terus berjalan di tempat dan tidak berkembang.

Sekarang rasa puas yang tadi bersarang di hatiku seketika sirnah, dan berubah menjadi penyesalan karena baru saja diri ini melakukan hal yang begitu tercela. Sial, mengapa aku baru sadar sekarang.

" Aku sungguh bodoh, mengapa tadi hati ini malah merasa puas setelah menyakiti hati sahabatku sendiri, mengapa aku malah membenci sosok yang pada dasarnya membuat diri ini terus berkembang " Ujarku sambil tertunduk malu.

" Hei nona pelukis, apa kau tau? Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan sang srikandi di ruang musik "

" Apa yang dia lakukan di sana? " Tanyaku penasaran.

" Mengaransemen sebuah lagu "

" Lagu untuk pentas nanti? "
" Yup. Apa kau tau lagu apa yang akan kita nyanyikan nanti? " Aka balik bertanya kepada diriku.

" Kalau tidak salah judulnya Rather be dari clean bandit " Ujarku menyebutkan judul lagu yang akan kelas kami bawakan saat pentas nanti.

" Kau benar. Percayalah, lagu tersebut memiliki tempo cepat yang sangat tidak cocok untuk di nyanyikan oleh paduan suara "

" Hmmm. Kau benar, lantas mengapa Zahra memilih lagu itu ya? " Ujarku bingung.

" Sang srikandi memilih lagu tersebut karena ingin menyampaikan perasaanya kepadamu. Dia bersikeras ingin menyanyikan lagu tersebut walaupun yang lain keberatan, minggu depan saat pentas seni berlangsung itu merupakan tanggal ulang tahunmu bukan? Dia ingin menghadiahimu lagu tersebut "

" Menghadiahiku sebuah lagu? " Tanyaku bingung.

" Yup. Apa kau tau Rather be jika di dalam bahasa indonesia artinya adalah tempat ternyaman "

" Yup aku tau "

" Diblagu tersebut ada lirik yang seperti ini But as long as you are with me, There's no place I rather be apa kah kau tau arti dari bait tersebut? " Aka sekali lagi mengajukan pertanyaan kepadaku.

" Tapi selama aku bersamamu, tidak ada tempat yang lebih aku sukai "

" Kau benar. Sang srikandi ingin mengutarakan tentang berapa berharganya dirimu dalam hidupnya, maka dari itu dia bersikeras ingin menghadiahimu lagu tersebut saat pentas yang berbarengan dengan ulang tahunmu itu berlangsung "

Hoi, dia bohong kan. Zahra berjuang keras demi menghadiahiku sebuah lagu, sementara aku yang termakan perasaan iri malah menghancurkan hatinya. Bodohnya diri ini, karena menganggap pentas tersebut hanyalah langkah baginya untuk menjadi semakin terkenal. Sial, mengapa aku bodoh sekali.

" Sial, mengapa aku malah membentak nya tadi? "

" Tak apa nona, kesalahan pahaman antara manusia itu menang sering terjadi. Karena memang pada dasarnya kita tidak mampu untuk mengintip isi hati seseorang "

" Katakan padaku, tindakan apa yang harus aku ambil untuk membuat semuanya kembali seperti sedia kala? "

" Mudah saja. Segera lah minta maaf, karena bagaimanapun hanya itulah yang manusia bisa lakukan sebagai tempat dari salah dan lupa " Ujar Aka.

" Kau benar " sambil bangkit dari duduk. Aku harus segera meminta maaf kepadanya, dan membuktikan jika diri ini merasa menyesal telah ber kata-kata kasar seperti tadi.

" Semangat nona pelukis "

" Aka, terimakasih atas sarannya. Aku berjanji akan mentraktirmu nanti "

Aku pun mulai melangkah menuju gedung sekolah, namun tiba-tiba saja, tanah bergetar dengan sangat hebat. Aku melirik ke arah bawah, aspal yang diri ini injak mulai retak, gempa bumi?

Getaran terasa semakin kuat, akibatnya keseimbanganku hilang dan jatuh ke jalanan yang saat ini mulai mengalami ratakan besar hingga terlihat seperti terbelah. Akashia segera berlari menghampiriku dan membantu diri ini berdiri.

" Kita harus menjauhi bagunan " Ujar Aka sambil menuntunku menjauhi gedung sekolah.

Kadaan sekitar nampak sangat mengerikan, retakan yang semula hanya ada di tanah mulai merambat hingga ke arah bangunan dan perlahan mulai meruntuhkan bangunan yang selama ini aku gunakan untuk belajar.
" Aka, bagaimana dengan Zahra? " Ujarku yang baru sadar jika kemungkinan sahabatku itu masih ada di dalam bagunan yang runtuh itu.
Diubah oleh Rebek22 22-07-2021 05:06
oceu
jiyanq
scorpiolama
scorpiolama dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.