- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#8
Epilog: Kesempatan Kedua
Kanaria
Terkadang sesuatu yang kita lihat justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, maka dari itu mata, lisan, telinga dan hati harus senantiasa di gunakan secara bersamaan saat menanggapi suatu kejadian atau masalah.
Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa suatu permasalahan tidak akan pernah selesai bahkan akan menjadi makin parah jika kita hanya menggunakan salah satu indra sebagai alat pemecah persoalan.
Apa yang kita lihat sering kali berbeda dengan yang telinga dengar, apa yang terlontar dari lisan sering kali tak sama dengan yang di rasakan oleh hati, apa yang kita dengar belum tentu apa yang kita katakan dan apa yang kita lihat tidak serta merta mampu di olah oleh hati.
Rasa benci membuatku benar-benar melupakan hal tersebut ketika menyikapi kepergian ayah. Hanya penglihatan ini lah yang aku gunakan untuk menilai dirinya sampai-sampai diri ini lupa jika menumpukan penilaian pada mata saja akan menuai kesalah pahaman.
Sekarang apa yang dulu mata ini lihat justru berbeda jauh dengan apa yang lisan ayah katakan. Aku bisa saja mementalkan perkataannya namun pria ini siap memberikan bukti dan kata-katanya pun masuk di akal sehingga akan sangat tidak rasional jika diri ini serta merta mengabaikannya.
Aku tidak pernah mempertanyakan kemana perginya ayah selama ini, sehingga persepsi burukku terhadapnya kian tumbuh dan berhasil menuai kesalahan pahaman besar. Walaupun masih banyak tanda tanya yang muncul dalam benak ini, aku mulai menyesali tindakanku yang selalu membencinya dan bersikeras menolaknya untuk kembali. Mungkin kah hal ini yang ingin ibu ceritakan kepadakukepadaku kemarin?
Sial, takdir memang tidak bisa di tebak, ketiak lisan wanita yang paling aku sayangi itu ingin mengungkapkan sebuah kebenaran, sesuatu malah terjadi kepadanya sehingga dirinya bungkam dan tidak mungkin lagi mengatakan apapun. Alur yang di pilihkan Tuhan justru lebih ekstrim karena dia menghadirkan langsung orang yang ingin di bicarakan di hadapanku dan lisannya lah yang justru mengungkap kebenaran.
" Jadi kau tidak pernah kembali ke rumah karena aku? Sungguh aku minta maaf karena itu " Ujarku dengan nada lirih.
Aku jelas merasa sangat bersalah, karena pada dasarnya yang membuat mereka terpisah adalah diri ini. Ibu mungkin sudah lama memaafkan ayah, karena pria itupun sepertinya sudah berubah. Pria itu berhasil mendapatkan kesempatan kedua dari wanita yang begitu dirinya cintai, maka wajar jika ibu berusaha membuka hatiku agar mau memberinya kesempatan kedua.
Sialnya, aku tidak pernah mencoba untuk membuka hati ini kepada ayah. Kebencianku membuat diri ini melupakan sebuah prinsip yaitu kesempatan tidak datang dua kali, namun semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Semua orang berhak mendapatkanya, bahkan manusia bisa hidup di bumi ini merupakan bentuk kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepada adam setelah dirinya memakan buah khuldi. Bukan kah sangat arogan jika manusia yang merupakan tempat salah dan lupa justru enggan memberikan kesempatan kedua bagi orang lain?
Ayah telah menunjukan keseriusannya untuk berubah, dia bahkan menyesali perbuatan kejam yang selama ini diri-Nya lakukan kepada ibu dan mata ini pun telah melihatnya sendiri, betapa menyesal nya pria itu ketika sang pujaan hati tiada.
Mungkin dia dulunya dia memang merupakan sesosok bajingan, namun daratan yang begitu besar dan kokoh pun bisa berubah, apa lagi manusia. Ya, dia telah berubah sejak lama. Maka dari itu aku berani memberinya kesempatan kedua, walaupun agak telat.
" Kau tidak salah Kana, aku lah yang membuatmu begitu. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri " Ujar ayah
" Kau tau, andai saja aku lebih awak memberimu kesempatan kedua. Mungkin ibu tidak akan berakhir seperti ini, jika saja dulu aku mencoba sedikit saja membuka hati ini untukmu lalu kau pun bisa pulang. Mungkin ada hal yang bisa kita lakukan agar ibu berhenti bekerja, mungkin kita akan menjadi keluarga yang bahagia, dan mungkin ibu tidak harus berakhir seperti ini " Tanpa sadar air mataku mengalir ke arah pipi.
Hati terasa sangat sesak ketika mengucapkan kata-kata itu. Semua salahku, kenapa aku sangat egois kala itu, menganggap cukup diri ini seorang lah yang mampu membahagiakan ibu. Kenyataanya, pemikiranku lah yang membuat semuanya berantakan, ibu harus menjalani hubungan aneh dengan ayah dan ayahpun tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan kenekatan ibu, sementara aku terbuai dengan asumsi egois yang mengatakan jika sumber penderitaan ayah adalah ibu.
Ayah terlihat bangkit dari duduknya, pria itu menghampirimu kemudian dengan begitu lembut tangannya mulai membelai rambut panjang ini. Aku pun mulai menangis, mentalku benar-benar ambruk usai menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanku.
" Kana, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri " Ujar ayah dengan nada yang begitu lembut.
" Tapi semua memang salahku... "
" Jika kau menganggap dirimu salah, maka harus bagaimana kah aku menganggap diri sendri yang pada dasarnya penyebab awal semua ini? "
" Jika saja aku menerimamu lebih awal... "
" Jika saja aku tidak berlaku kejam terhadap ibumu... "
" Maafkan aku, sungguh diri ini memang sangat egois kala itu "
" Kana " Ayah memeluk tubuhku dengan begitu erat, aku pun membalas pelukan tersebut dengan sama eratnya " Kau telah memberiku kesempatan kedua, maka aku akan melakukan apapun agar kesempatan tersebut tidak jadi sia-sia "
" Ya, aku mempercayaimu. Kau pasti atau mungkin sudah berubah menjadi lebih baik " Ujarku sambil di selingi isakan tangis.
" Kau tau, penyesalan tidak akan membuahkan apapun jika hanya di biarkan begitu saja. Namun lain ceritanya jika kita melangkah maju sambil menjadikan penyesalan tersebut sebagai sebuah pembelajaran " Ayah mulai menasehatiku.
" Aku pernah mengalami hal itu, terus berkabung dalam sesal, hingga pada akhirnya diri ini sadar jika yang bisa aku tuai setelahnya hanyalah kesia-siaan. Maka dari itu aku memberanikan diri untuk melangkah maju, tapi bukan berarti aku melupakan penyesalan itu begitu saja. Aku menjadikannya panutan, agar apapun yang aku lakukan tidak akan bermuara pada hal itu lagi. Maka dari itu, berhentilah menyesal dan mulai lah melangkah maju. Beri dirimu sendiri kesempatan kedua, agar setidaknya kau bisa memaafkan diri sediri " Lanjut ayah.
Aku yakin penyesalan yang ayah maksud tadi adalah sikap kejam nya terhadap ibu dulu. Ucapan Ayah Benar, dia adalah salah satu contoh orang yang berhasil berubah, dia tidak berkabung dalam sesal, dia melangkah maju sambil menjadikan kesalahannya sebagai sebuah kitab agar tidak lagi terjerumus dalam lubang yang sama.
Memberi kesempatan kedua bagi diri sendiri, hal tersebut tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku bisa memaafkan ayah dan mencoba memberikan kesempatan kedua kepadanya, lantas mengapa hal tersebut tidak aku berlakukan juga pada diri ini? Semua orang berhak mendapatkan kedua, termasuk diriku sendiri.
" Kau benar, aku tidak boleh terus berkabung dalam sebuah penyesalan " Ujarku sambil mengelap sisa-sisa air mata yang menggenangi pipi ini.
" Awalnya mungkin berat, tapi perlahan-lahan kau akan terbiasa dengan beban itu " Ayah melepaskan pelukan yang sendiri tadi membalut diriku, lalu tangannya kembali mengelus-elus kepala ini " Kau pasti bisa melakukannya Kana "
" Terima kasih atas sarannya ayah " Ujarku sambil berusaha mengukirkan sebuah senyuman.
Pria itu terlihat tersipu ketika aku memanggilnya " Ayah ". Mungkin ini pertama kalinya aku memanggilnya begitu setelah tujuh tahun lamanya. Sendari tadi aku hanya memanggilnya dengan kata ganti, akan tetapi rasanya sangat tidak sopan jika lisan ini terus memanggilnya begitu, bagaimanapun dia ayahku dan dia lah pria yang mau menerima ke egoisan diri ini.
" Sa.. Sama-sama " Ayah terlihat gelagapan saat menanggapi ucapanku.
Inilah kala pertama pria itu menunjukan ekspresi yang berbeda selain raut datarnya. Hasratku untuk tertawa segera membeludak, namun diri ini berusaha menahannya sekuat mungkin karena hal tersebut jelas akan merusah suasana.
" Hoi kenapa kau tertawa? " Tanyanya.
" Maaf, bagaimanapun tadi kau menunjukan ekspresi wajahnya yang aneh " Ujarku yang pada akhirnya tertawa.
" Hah, memangnya ekspresi wajahku se aneh apa? "
" Entah lah "
Ayah pun pada akhirnya ikut tertawa, dan suasana dapurpun langsung berubah dari penuh emosi dan ke canggungan, menjadi tawa dan kebahagiaan, jika seperti ini bukan kah kami terlihat seperti keluarga yang bahagia?
Sial, aku merasa sangat senang sekarang karena pada akhirnya kesalah pahaman yang terjadi di antara kami sudah terluruskan. Aku merasa sangat bersyukur karena kemarin memutuskan hal yang benar, yaitu memberikan ayah kesempatan kedua. Dari keputusan itu banyak kisah yang terungkap, dan banyak juga pembelajaran yang bisa aku tuai, dan dari pemberian kesempatan kedua itu, akupun mengerti jika diri ini sendiri butuh kesempatan tersebut juga.
" Ayah, apa kau mulai lapar? " Tanyaku setelah berhasil meredakan tawa.
" Lumayan "
" Baik lah, Mari kita sarapan "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera menyiapkan sarapan, sekarang sudah pukul enam pagi, waktu yang tepat untuk sarapan. Maka dari itu aku segera menata semua lauk di meja, dan mempersilahkan ayah makan.
" Kana, apa rencanamu hari ini? " Tanya ayah sambil mulai melahap makananya.
" Entah lah, mungkin aku akan ke sekolah. Berdiam di rumah akan terus membuatku mengingat ibu "
" Kana, maafkan aku. Hari ini dan besok aku harus mengurus pekerjaan, jadi bisa kah kau menginap dulu di rumah temanmu? " Ujarnya sambil membungkuk tanda jika dirinya benar-benar memohon kepadaku.
" Haha kenapa sampai sebegitunya. Tentu saja aku tidak keberatan jika di tinggal di rumah sendirian, lagi pula ibu juga sering pergi hingga tidak pulang "
" Maafkan aku, karena tidak bisa menemanimu di saat dirimu memerlukan seorang teman "
" Santai saja... "
Aku masih bisa mengajak sahabat-sahabatku menginap, maka keperluannya yang memakan waktu dua hari itupun tidak akan memberarkanku.
" Ambil ini, uang sakumu. Pergunakan dengan bijak " Ujar ayah sambil meletakan tiga lembar uang pecahan seratus ribu di atas meja. " Apa kah kurang ? "
" Hoi, ini terlalu banyak "
Bagaimanapun ibu tidak hanya mampu memberiku uang saku sebesar tiga puluh ribu per hari. Bagiku itu cukup, makan siang dan ongkos perjalanan hanya menghabiskan dua puluh ribu, sisanya aku tabung untuk membeli benda yang diri ini inginkan. Aku juga memiliki penghasilan sendiri dari berjualan online, maka dari itu diri ini tidak pernah bergantung pada uang pemberian ibu.
" Sungguh? "
" Te.. Tetapi aku tidak keberatan menerimanya " Ujarku yang mulai tergoda oleh uang tersebut.
" Haha, wajahmu terlihat lucu "
" A.. Apakau akan selalu memberiku uang jajan sebanyak ini "
" Tentu tidak, aku memberi sebanyak ini karena kau akan aku tinggal sementara waktu "
" Huft "
" Ibumu bilang kau pandai dalam berhemat, jadi aku rasa lima puluh ribu per hari sudah cukup "
" Sepakat " Ujarku, ya Setidaknya uang sakuku naik sebesar dua puluh ribu.
" Aku akan berangkan pukul sembilan, bolehkah aku meminta kunci duplikat rumah ini? "
" Tentu saja, nanti akan aku siapkan "
" Oh iya. Soal buku tabungan tadi, aku harap kau menyimpannya dengan baik. Anggap saja semua itu warisan dari ika, agar kau bisa melanjutkan jenjang kuliah di kampus ternama "
Quote:
Terkadang sesuatu yang kita lihat justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, maka dari itu mata, lisan, telinga dan hati harus senantiasa di gunakan secara bersamaan saat menanggapi suatu kejadian atau masalah.
Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa suatu permasalahan tidak akan pernah selesai bahkan akan menjadi makin parah jika kita hanya menggunakan salah satu indra sebagai alat pemecah persoalan.
Apa yang kita lihat sering kali berbeda dengan yang telinga dengar, apa yang terlontar dari lisan sering kali tak sama dengan yang di rasakan oleh hati, apa yang kita dengar belum tentu apa yang kita katakan dan apa yang kita lihat tidak serta merta mampu di olah oleh hati.
Rasa benci membuatku benar-benar melupakan hal tersebut ketika menyikapi kepergian ayah. Hanya penglihatan ini lah yang aku gunakan untuk menilai dirinya sampai-sampai diri ini lupa jika menumpukan penilaian pada mata saja akan menuai kesalah pahaman.
Sekarang apa yang dulu mata ini lihat justru berbeda jauh dengan apa yang lisan ayah katakan. Aku bisa saja mementalkan perkataannya namun pria ini siap memberikan bukti dan kata-katanya pun masuk di akal sehingga akan sangat tidak rasional jika diri ini serta merta mengabaikannya.
Aku tidak pernah mempertanyakan kemana perginya ayah selama ini, sehingga persepsi burukku terhadapnya kian tumbuh dan berhasil menuai kesalahan pahaman besar. Walaupun masih banyak tanda tanya yang muncul dalam benak ini, aku mulai menyesali tindakanku yang selalu membencinya dan bersikeras menolaknya untuk kembali. Mungkin kah hal ini yang ingin ibu ceritakan kepadakukepadaku kemarin?
Sial, takdir memang tidak bisa di tebak, ketiak lisan wanita yang paling aku sayangi itu ingin mengungkapkan sebuah kebenaran, sesuatu malah terjadi kepadanya sehingga dirinya bungkam dan tidak mungkin lagi mengatakan apapun. Alur yang di pilihkan Tuhan justru lebih ekstrim karena dia menghadirkan langsung orang yang ingin di bicarakan di hadapanku dan lisannya lah yang justru mengungkap kebenaran.
" Jadi kau tidak pernah kembali ke rumah karena aku? Sungguh aku minta maaf karena itu " Ujarku dengan nada lirih.
Aku jelas merasa sangat bersalah, karena pada dasarnya yang membuat mereka terpisah adalah diri ini. Ibu mungkin sudah lama memaafkan ayah, karena pria itupun sepertinya sudah berubah. Pria itu berhasil mendapatkan kesempatan kedua dari wanita yang begitu dirinya cintai, maka wajar jika ibu berusaha membuka hatiku agar mau memberinya kesempatan kedua.
Sialnya, aku tidak pernah mencoba untuk membuka hati ini kepada ayah. Kebencianku membuat diri ini melupakan sebuah prinsip yaitu kesempatan tidak datang dua kali, namun semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Semua orang berhak mendapatkanya, bahkan manusia bisa hidup di bumi ini merupakan bentuk kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepada adam setelah dirinya memakan buah khuldi. Bukan kah sangat arogan jika manusia yang merupakan tempat salah dan lupa justru enggan memberikan kesempatan kedua bagi orang lain?
Ayah telah menunjukan keseriusannya untuk berubah, dia bahkan menyesali perbuatan kejam yang selama ini diri-Nya lakukan kepada ibu dan mata ini pun telah melihatnya sendiri, betapa menyesal nya pria itu ketika sang pujaan hati tiada.
Mungkin dia dulunya dia memang merupakan sesosok bajingan, namun daratan yang begitu besar dan kokoh pun bisa berubah, apa lagi manusia. Ya, dia telah berubah sejak lama. Maka dari itu aku berani memberinya kesempatan kedua, walaupun agak telat.
" Kau tidak salah Kana, aku lah yang membuatmu begitu. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri " Ujar ayah
" Kau tau, andai saja aku lebih awak memberimu kesempatan kedua. Mungkin ibu tidak akan berakhir seperti ini, jika saja dulu aku mencoba sedikit saja membuka hati ini untukmu lalu kau pun bisa pulang. Mungkin ada hal yang bisa kita lakukan agar ibu berhenti bekerja, mungkin kita akan menjadi keluarga yang bahagia, dan mungkin ibu tidak harus berakhir seperti ini " Tanpa sadar air mataku mengalir ke arah pipi.
Hati terasa sangat sesak ketika mengucapkan kata-kata itu. Semua salahku, kenapa aku sangat egois kala itu, menganggap cukup diri ini seorang lah yang mampu membahagiakan ibu. Kenyataanya, pemikiranku lah yang membuat semuanya berantakan, ibu harus menjalani hubungan aneh dengan ayah dan ayahpun tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan kenekatan ibu, sementara aku terbuai dengan asumsi egois yang mengatakan jika sumber penderitaan ayah adalah ibu.
Ayah terlihat bangkit dari duduknya, pria itu menghampirimu kemudian dengan begitu lembut tangannya mulai membelai rambut panjang ini. Aku pun mulai menangis, mentalku benar-benar ambruk usai menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanku.
" Kana, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri " Ujar ayah dengan nada yang begitu lembut.
" Tapi semua memang salahku... "
" Jika kau menganggap dirimu salah, maka harus bagaimana kah aku menganggap diri sendri yang pada dasarnya penyebab awal semua ini? "
" Jika saja aku menerimamu lebih awal... "
" Jika saja aku tidak berlaku kejam terhadap ibumu... "
" Maafkan aku, sungguh diri ini memang sangat egois kala itu "
" Kana " Ayah memeluk tubuhku dengan begitu erat, aku pun membalas pelukan tersebut dengan sama eratnya " Kau telah memberiku kesempatan kedua, maka aku akan melakukan apapun agar kesempatan tersebut tidak jadi sia-sia "
" Ya, aku mempercayaimu. Kau pasti atau mungkin sudah berubah menjadi lebih baik " Ujarku sambil di selingi isakan tangis.
" Kau tau, penyesalan tidak akan membuahkan apapun jika hanya di biarkan begitu saja. Namun lain ceritanya jika kita melangkah maju sambil menjadikan penyesalan tersebut sebagai sebuah pembelajaran " Ayah mulai menasehatiku.
" Aku pernah mengalami hal itu, terus berkabung dalam sesal, hingga pada akhirnya diri ini sadar jika yang bisa aku tuai setelahnya hanyalah kesia-siaan. Maka dari itu aku memberanikan diri untuk melangkah maju, tapi bukan berarti aku melupakan penyesalan itu begitu saja. Aku menjadikannya panutan, agar apapun yang aku lakukan tidak akan bermuara pada hal itu lagi. Maka dari itu, berhentilah menyesal dan mulai lah melangkah maju. Beri dirimu sendiri kesempatan kedua, agar setidaknya kau bisa memaafkan diri sediri " Lanjut ayah.
Aku yakin penyesalan yang ayah maksud tadi adalah sikap kejam nya terhadap ibu dulu. Ucapan Ayah Benar, dia adalah salah satu contoh orang yang berhasil berubah, dia tidak berkabung dalam sesal, dia melangkah maju sambil menjadikan kesalahannya sebagai sebuah kitab agar tidak lagi terjerumus dalam lubang yang sama.
Memberi kesempatan kedua bagi diri sendiri, hal tersebut tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku bisa memaafkan ayah dan mencoba memberikan kesempatan kedua kepadanya, lantas mengapa hal tersebut tidak aku berlakukan juga pada diri ini? Semua orang berhak mendapatkan kedua, termasuk diriku sendiri.
" Kau benar, aku tidak boleh terus berkabung dalam sebuah penyesalan " Ujarku sambil mengelap sisa-sisa air mata yang menggenangi pipi ini.
" Awalnya mungkin berat, tapi perlahan-lahan kau akan terbiasa dengan beban itu " Ayah melepaskan pelukan yang sendiri tadi membalut diriku, lalu tangannya kembali mengelus-elus kepala ini " Kau pasti bisa melakukannya Kana "
" Terima kasih atas sarannya ayah " Ujarku sambil berusaha mengukirkan sebuah senyuman.
Pria itu terlihat tersipu ketika aku memanggilnya " Ayah ". Mungkin ini pertama kalinya aku memanggilnya begitu setelah tujuh tahun lamanya. Sendari tadi aku hanya memanggilnya dengan kata ganti, akan tetapi rasanya sangat tidak sopan jika lisan ini terus memanggilnya begitu, bagaimanapun dia ayahku dan dia lah pria yang mau menerima ke egoisan diri ini.
" Sa.. Sama-sama " Ayah terlihat gelagapan saat menanggapi ucapanku.
Inilah kala pertama pria itu menunjukan ekspresi yang berbeda selain raut datarnya. Hasratku untuk tertawa segera membeludak, namun diri ini berusaha menahannya sekuat mungkin karena hal tersebut jelas akan merusah suasana.
" Hoi kenapa kau tertawa? " Tanyanya.
" Maaf, bagaimanapun tadi kau menunjukan ekspresi wajahnya yang aneh " Ujarku yang pada akhirnya tertawa.
" Hah, memangnya ekspresi wajahku se aneh apa? "
" Entah lah "
Ayah pun pada akhirnya ikut tertawa, dan suasana dapurpun langsung berubah dari penuh emosi dan ke canggungan, menjadi tawa dan kebahagiaan, jika seperti ini bukan kah kami terlihat seperti keluarga yang bahagia?
Sial, aku merasa sangat senang sekarang karena pada akhirnya kesalah pahaman yang terjadi di antara kami sudah terluruskan. Aku merasa sangat bersyukur karena kemarin memutuskan hal yang benar, yaitu memberikan ayah kesempatan kedua. Dari keputusan itu banyak kisah yang terungkap, dan banyak juga pembelajaran yang bisa aku tuai, dan dari pemberian kesempatan kedua itu, akupun mengerti jika diri ini sendiri butuh kesempatan tersebut juga.
" Ayah, apa kau mulai lapar? " Tanyaku setelah berhasil meredakan tawa.
" Lumayan "
" Baik lah, Mari kita sarapan "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera menyiapkan sarapan, sekarang sudah pukul enam pagi, waktu yang tepat untuk sarapan. Maka dari itu aku segera menata semua lauk di meja, dan mempersilahkan ayah makan.
" Kana, apa rencanamu hari ini? " Tanya ayah sambil mulai melahap makananya.
" Entah lah, mungkin aku akan ke sekolah. Berdiam di rumah akan terus membuatku mengingat ibu "
" Kana, maafkan aku. Hari ini dan besok aku harus mengurus pekerjaan, jadi bisa kah kau menginap dulu di rumah temanmu? " Ujarnya sambil membungkuk tanda jika dirinya benar-benar memohon kepadaku.
" Haha kenapa sampai sebegitunya. Tentu saja aku tidak keberatan jika di tinggal di rumah sendirian, lagi pula ibu juga sering pergi hingga tidak pulang "
" Maafkan aku, karena tidak bisa menemanimu di saat dirimu memerlukan seorang teman "
" Santai saja... "
Aku masih bisa mengajak sahabat-sahabatku menginap, maka keperluannya yang memakan waktu dua hari itupun tidak akan memberarkanku.
" Ambil ini, uang sakumu. Pergunakan dengan bijak " Ujar ayah sambil meletakan tiga lembar uang pecahan seratus ribu di atas meja. " Apa kah kurang ? "
" Hoi, ini terlalu banyak "
Bagaimanapun ibu tidak hanya mampu memberiku uang saku sebesar tiga puluh ribu per hari. Bagiku itu cukup, makan siang dan ongkos perjalanan hanya menghabiskan dua puluh ribu, sisanya aku tabung untuk membeli benda yang diri ini inginkan. Aku juga memiliki penghasilan sendiri dari berjualan online, maka dari itu diri ini tidak pernah bergantung pada uang pemberian ibu.
" Sungguh? "
" Te.. Tetapi aku tidak keberatan menerimanya " Ujarku yang mulai tergoda oleh uang tersebut.
" Haha, wajahmu terlihat lucu "
" A.. Apakau akan selalu memberiku uang jajan sebanyak ini "
" Tentu tidak, aku memberi sebanyak ini karena kau akan aku tinggal sementara waktu "
" Huft "
" Ibumu bilang kau pandai dalam berhemat, jadi aku rasa lima puluh ribu per hari sudah cukup "
" Sepakat " Ujarku, ya Setidaknya uang sakuku naik sebesar dua puluh ribu.
" Aku akan berangkan pukul sembilan, bolehkah aku meminta kunci duplikat rumah ini? "
" Tentu saja, nanti akan aku siapkan "
" Oh iya. Soal buku tabungan tadi, aku harap kau menyimpannya dengan baik. Anggap saja semua itu warisan dari ika, agar kau bisa melanjutkan jenjang kuliah di kampus ternama "
Quote:
Diubah oleh Rebek22 26-08-2021 10:20
pangerankodo353 dan 5 lainnya memberi reputasi
6