Kaskus

Story

Rebek22Avatar border
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah


Quote:


Quote:


Quote:



1. A story about a farewell sentence



Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf

Kanaria.

Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.

Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.

Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.

Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.

Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.

Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.

Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.

Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.

" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.

Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.

" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.

" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.

" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "

" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.

" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "

" Terima kasih Kana "

" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "

" Baik "

" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "

" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "

" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "

" Kana "

" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.

Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.

Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.

Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.

Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.

Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.

Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.

Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.

Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.

Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.

kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.

Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.

Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.

Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.


Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.

Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.

Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah

" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.

" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "

" Haha, ya bagaimana ya.. "

" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.

" Tapi Kana dia ayahmu "

" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "

" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "

" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "

Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.

Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.

Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.

Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.

" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.

" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.

" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "

" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "

" Kenapa? "

" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "

Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.

" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "

" Terima kasih "

" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.

" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.

" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"

" Tapi "

" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "

" Terima kasih bu "

Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.

" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.

Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.

" Sampai jumpa lagi "

" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.

" Hati-hati di jalan bu "

Di sinilah semua bermula....

Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku

Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.

Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.

Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
pangerankodo353Avatar border
irwanh44Avatar border
sisininAvatar border
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.9K
147
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
Rebek22Avatar border
TS
Rebek22
#7
5. Rahasia Ibu.
Kanaria

Mencari nafkah merupakan tugas utama seorang ayah dalam sebuah keluarga. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat hal tersebut, karena bagaimanapun Membanting tulang demi menjaga dapur rumah tetap mengepul merupakan hal yang wajib di lakukan oleh seorang ayah, maka wajar jika gelar kepala keluarga di sandangkan kepadanya.

Banyak ayah yang rela tidak makan agar dapat melihat anak istrinya kegirangan ketika melahap sebuah hidangan, banyak dari mereka yang berbohong dan berkata jika dirinya tidak lelah padahal keringan sudah memenuhi sekujur tubuhnya agar keluarganya tidak merasa khawatir.

Maka wajar juga jika banyak anak perempuan yang merasa jika sang ayah merupakan segalanya baginya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagiku, aku tidak mengidolakannya bahkan sering kali diri ini mencemooh nya, karena bagaimanapun dia tidak pernah mencarikan nafkah untukku.

Sekarang dia mengaku jika kepergiannya selama ini bertujuan untuk mengumpulkan uang agar bisa mengobati ibu, bukan kah hal tersebut terdengar seperti lawakan? Ibu tidak sakit, setidaknya itulah yang aku tau, dan mana ada orang yang mau percaya jika sosok bajingan itu pergi demi tujuan mulia sementara dulu dia lebih sering memukuli ibu daripada membuainya dengan kasih sayang.

" Aku tidak memintamu untuk percaya " Ujar ayah sambil mulai melangkahkan kaki menuju pintu kamar ibu " Aku hanya menjawab pertanyaan yang kau ajukan tadi "

Sejujurnya, aku merasa sangat kaget ketika tau jika ibu memiliki tabungan sebanyak itu. Rasanya tidak mungkin dirinya mampu mendapatkan nominal yang bisa mencapai tujuh angka mengingat gajinya yang tidak seberapa. Selain itu, dia juga harus membiayai diriku, sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menabung merupakan hal yang nyaris mustahil untuk di lakukan olehnya.

Lantas dari mana dirinya mendapatkan uang sebanyak itu? Apakah yang di katakan oleh ayah benar? Dia selama ini pergi untuk mengumpulkan uang agar dapat mengobati ibu, Sial kenapa jawaban yang paling logis hanyalah ucapan bajingan itu?

" Baik lah, aku mempercayai kata-katamu " Ujarku yang pada akhirnya memilih untuk mempercayai ayah.

" Syukur lah kalau begitu " Ujar ayah sambil terus melangkah ke arah luar.

" Jelaskan padaku semuanya " Aku menuntun penjelasan darinya.

" Bisa kita melakukannya sambil duduk? "

" Baik lah "

Akupun merapihkan kembali brangkas ibu kemudian mengikuti ayah kembali ke meja makan, setibanya di sana kamipun langsung duduk berhadapan. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar penjabaran darinya, karena jika memang ibu memiliki sebuah penyakit yang menggerogoti tubuhnya maka diri ini akan merasa sangat bodoh karena sampai tidak menyadari hal tersebut.

" Aku bukan orang yang pandai bercerita, jadi silahkan tanyakan padaku apa yang menjadi tanda tanya besar dalam benakmu? " Ujar ayah.

" Penyakit apa yang di derita ibu? "

" Kanker "

" Sejak kapan ibu mengidap penyakit itu? "

" Lima tahun yang lalu "

" Apa kau memiliki bukti jika ibu mengidap penyakit tersebut ? "

" Di tempat tinggal ku, ada rekap medis yang di miliki ibumu. Jika kau mau, aku akan mengambilkannya hari ini "

Aku sempat tertegun mendengar ucapannya, raut wajahnya memperlihatkan suatu keseriusan yang tidak layak untuk di anggap sebagai kebohongan. Baik lah, aku percaya atas apa yang lisanya lontarkan. Sialnyax sekarang aku malah merasa sangat bodoh, lima tahun yang lalu? Sudah selama itu ibu mengidap kanker? Sial mengapa aku sama sekali tidak menyadarinya, Mengapa malah bajingan ini yang tau lebih dahulu?

" Mengapa kau tau ibu mengidap kanker? " Tanyaku lagi.

" Aku suaminya, bukan kah wajar jika diri ini tau? " Jawabnya dengan begitu datar.

Hal tersebut memang masuk akal, bagaimanapun ayah dan ibu tidak pernah bercerai. Wajar jika orang yang pertama kali ibu beritahu mengenai penyakitnya adalah ayah, bukan aku yang pada dasarnya tidak bisa melakukan apapun jika tau. Namun jika demikian, bukan kah itu artinya ibu tau kemana perginya ayah selama ini? Bukan kah artinya mereka masih saling berhubungan? Ah aku semakin tidak paham dengan semua ini.

" Jika dirimu tau kalau ibu mengidap kanker, mengapa kau tidak pulang dan malah membiarkanya kerja keras membanting tulang demi menafkahi diriku? "

" Setiap bulan aku selalu mengirimi kalian uang, untuk sekolahmu dan kebutuhan sehari-hari. Nominalnya lumayan banyak sehingga ibumu bisa menabungnya walaupun sedikit dan tabungan itulah yang aku maksud sebagai uang untuk mengobati penyakit nya. "

" Lantas, kenapa ibu masih bekerja? "

" Bukan kah seharusnya kau yang paling tau sifat dia? Keras kepala dan selalu menganggap segala hal merupakan tanggung jawabnya. Ibumu merasa jika penyakit yang di deritanya meruapakan tangung jawabnya sendiri. Sejujurnya aku baru tau dia bekerja akhir-akhir ini, saat kami bertemu aku sempat bertanya mengapa dia memaksakan diri bekerja, dan kau tau apa jawabannya? "

" Tidak "

" Uangmu akan aku tabung agar oprasiku bisa segera di lakukan. Urusan kana dan kebutuhan rumah biar aku cari sendiri, ya walau pun nantinya anak itu tidak akan mampu aku buat menikmati kemewahan "

" Mengapa kau tidak melarangnya melakukan hal tersebut? " Ujarku sambil menggebrak meja. Sial, aku kembali berusaha mengkambing hitamkan ayah, padahal Salah satu penyebab ibu memaksakan diri bekerja adalah aku.

" Sudah ratusan kali aku memintanya untuk berhenti bekerja setiap kami bertemu, namun karena sifat keras kepalaya itu, dia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Aku bahkan sudah menambahkan uang kiriman untuknya namun dia malah meminta untuk menghentikan hal tersebut "

" Tunggu, A.. Apakah kau sering bertemu ibu? " Entah mengapa lisanku langsung melontarkan pertanyaan tersebut. Bagaimanapun aku agak penasaran dengan perkataannya tadi, " Setiap kali bertemu"?

" Cukup sering, hampir setiap bulan aku mengajaknya makan malam dan bermalam di hotel "

" Bermalam di hotel? " Ibu memang pernah beberapa kali tidak pulang, dia berkaya jika dirinya harus lembur dan menginap di kantor. Hoi, mungkin kah itu hanya alasan?

" Yup, memangnya kenapa? "

" Kalian tidur berdua, kau pasti macam-macam dengannya, kau pasti memaksanya melakukan hal yang tidak senonoh " Wajahmu memerah karena membayangkan ibuku di tiduri oleh pria ini.

" Hoi, bagaimanapun ibumu memerlukan nafkah biologis " Ujar ayah datar.

Sial, mengapa dia bisa dengan santainya mengatakan hal tersebut di depan anaknya. Apa pria ini tidak punya malu?

" Sialan, beraninya kau " Ujarku sambil sekali lagi menggebrak meja.

" Kana, ternyata kau cukup polos " Ujar ayah yang sekarang terlihat seperti menahan tawa.

" Kenapa kau tertawa? "

" Bagaimanapun kau ada di dunia ini karena aku dan ibumu melakukan hal yang tidak senonoh "

Sial dia ada benarnya juga, bagaimanapun pria ini ayahku dan aku adalah buah cinta dari hubunganya dengan ibu. Mereka belum bercerai, maka wajar jika keduanya melakukan hal tersebut. Tapi mengapa mereka malah terlihat seperti menutupi hubunganya dariku?

" Ke.. Kenapa ibu tidak pernah memberi tahu ku akan penyakitnya? Jujur saja, aku merasa bingung, yang aku ketahui kau sudah lama pergi dari rumah, meninggalkanku dan ibu begitu saja. Namun kau berkata jika ibu sering menemuimu, kau pun mengaku jika setiap bulan dirimu memberinya uang. Lantas mengapa kau tidak pulang saja? "

" Kana, bukan kah kau yang dulu mengusirku? " Ujar ayah.

Ya, dulu memang akulah yang mengusirnya. Saat itu batas kesabaranku sudah koyak karena tidak tahan melihat dirinya memukuli ibu, kebencianku terhadapnya pun sudah sangat menggebu-gebu sehingga akal sehat ini sedikit bergeser dan menyebabkan diriku bertindak gila.

Aku ingat diri ini yang saat itu masih kecil segera berlari ke dapur saat melihat ayah mulai memukuli ibu di kamar mereka, setibanya di sana aku langsung mengambil pisau kemudian berlari kembali ke arah dimana ayah memukuli ibu.

" Berhenti memukuli ibuku!! " Teriakku sambil menodongkan pisau ke arahnya.

Ayah yang baru saja ingin memukuli ibu kaget ketika melihat ku membawa pisau, hal serupa juga terjadi pada ibu. Wanita itu terlihat merinding ketika mendapatiku yang seolah-olah ingin membunuh ayah.

Ibu sempat menenangkanku yang kalau itu sudah gemetaran karena berusaha menodongkan senjata tajam ke arah ayah. Namun tekadku sudah bulat, jika pria itu tidak berhenti menghajar ibu, maka apapun yang terjadi aku akan berusaha menusuknya dengan pisau ini.

" Pergi, aku tidak mau melihatmu lagi " Ujarku sekali lagi.

Aku ingat saat itu ayah akhirnya pergi, dan tidak kunjung kembali hingga saat ini. Ucapannya benar, aku lah yang mengusirnya dari rumah ini. Namun, apa kah itu penyebab utama dirinya tidak pernah muncul lagi di hadapan kami?

" Ya, memang aku yang mengusirmu. Bagaimanapun aku sangat ingin membunuhmu waktu itu "
" Ya itu hak yang wajar. Kala itu aku masih lah laki-laki yang brengsek "

" Apa kau tidak pernah kembali karena aku? Rasanya sangat tidak logis jika memang itu alasanmu "

" Untuk saat ini, cukup hal tersebut lah yang perlu kau tau "

" Mengapa begitu? "

Ayah hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaanku sama sekali. Mungkin kah, penyebab rumitnya hubungan antara ayah dan ibu adalah aku?

" Mengapa ibu tidak pernah memberi tahuku jika kau dan dia sering bertemu? "

" Dia berkata jika kau masih tidak sudi jika aku menginjakan kaki kembali ke rumah ini"

Dia benar, beberapa bulan yang lalu ibu sempat memabahas ayah, dan aku menolak mentah-mentah kehadiranya di tempat ini. Bagaimanapun aku menganggap dialah sumber penderitaan ibu, maka dari itu memunculkannya kembali dalam alur hidup kami merupakan hal yang sangat diri ini larang.

Namun setelah mengetahui kenyataanya aku jadi agak menyesal karena mengatakan hak tersebut.
Diubah oleh Rebek22 18-07-2021 07:37
rinandya
piripiripuru
pangerankodo353
pangerankodo353 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.