- Beranda
- Stories from the Heart
Dendam Cinta Dari Masa Silam
...
TS
beqichot
Dendam Cinta Dari Masa Silam
WARNING!!!!
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++

Prolog
Hai...namaku Aji, lengkapnya Bayu Satriaji.
Aku baru saja pulang dari PETUALANG MASA LALU
Terakhir yang kuingat, aku beserta Zulaikha dan Menik, dua jin cantik.yang selalu mendampingiku selain dari Sang Pamomong, baru saja keluar dari portal yang membawa kami pulang dari masa lalu ratusan tahun silam.
Aku memgerjapkan mataku yang silau oleh cahaya yang menyorot di atas mataku.
Ah...rupanya cahaya lampu.
Perlahan, pandangan mataku menjadi semakin jelas. Kulihat langit-langit kamar yang putih dengan lampu yang menyilaukan mataku tadi.
Di mana aku gerangan? Bukankah aku baru saja keluar dari portal yang menghubungkan masa kini dan masa lalu?
"Mas Aji.... Kau sudah sadar?" sebuah suara menyapaku.
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku itu. Seraut wajah cantik dengan mata yang berair, menatapku.
"Desi...?"
"Iya mas... Ini aku!" jawabnya.
"Mas Aji...!" sebuah suara lain menyapaku.
Aku menoleh ke asal suara itu..
"Anin...? Kamu kok di sini? Aku di mana?" tanyaku.
"Sebentar mas, biar aku kasih tahu bapak dan dokter.kalau kamu sudah sadar!" katanya sambil beranjak pergi.
Bapak? Dokter?
Kok bapak juga ada di sini? Dokter? Berarti aku di rumah sakit...
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku ada di rumah sakit?
"Des...ini di rumah sakit?"
"Iya Mas...!"
"Kok aku bisa disini?"
"Ssttt...mas istirahat saja dulu. Kita tunggu dokter dulu!" sahutnya sambil mengelus-elus tanganku.
Saat itulah pintu terbuka, dan dua wanita dengan pakaian serba putih menghampiriku. Seorang diantaranya memeriksa nadiku, menyenteri mataku, dan menempelkan stetoskop di dadaku.
"Bagaimana dokter?" sebuah suara yang berat terdengar beetanya.
"Keadaannya normal pak! Mungkin butuh pemulihan sebentar, dan 2 atau 3 hari kemudian sudah bisa pulang!" kata bu dokter.
'Syukurlah...!" kata Bapak.
"Bapak.....!" panggilku.
"Hai..cah bagus... Bikin panik orang tua saja kamu!" kata bapak sambil mengacak-acak rambutku.
"Maaf pak... Sudah bikin khawatir bapak..!" ucapku.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah ga papa sekarang!" ujar bapak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" tanyaku.
"Kamu ditemukan orang terbaring di jalanan setelah hujan. Lalu dibawa ke rumah sakit ini. Lalu orang itu membuka kontak hpmu dan menghubungi bapak. Bapak dsn Anin segera kemari. Dan kamu baru sadar setelah 3 hari pingsan!" kata bapak.
Hah.3 hari? Padahal aku ada di masa lalu selama 35 hari.
Jadi apakah kejadian di masa lalu itu hanyalah mimpi di saat aku tak sadar?
Kalau memang hanya mimpi, syukurlah...
Dan aku berharap itu semua memang hanya mimpi.
Aku menoleh pada Zulaikha dan Menik yang sedari tadi berdiri di samping ranjangku.
Mereka cuma mengangkat bahu dan menggeleng. .
Yah...semoga saja semua itu hanya mimpi belaka. Kembang tidur di saat aku pingsan. .
Semoga....
Aku masih dirawat selama 2 hari, dan Desi setia memungguku jika sudah pulang kuliah.
Sementara, bapak dan Anin jika malam istirahat di kostku.
Setelah dirasa sehat, aku diperbolehkan pulang.
Bersama bapak dan Anin, kami nakk taksi menuju kostan.
Zulaikha dan Menik melayang di samping mobil.
Di kostan sudah ada pacar tersayang dan adiknya yang menunggu kedatangan kami....
Yah...aku kembali berada di jamanku. Pengalaman di masa lalu itu, entah nyata ataukah sekedar mimpi belaka?
Only time will tell.....
INDEX:
Prolog
The Begining
Naning
The Truth
Lanjutan
Naning Lagi....
Melati's Pov
Godaan Nenek Bohai
Menik's Pov
Tukang Ojek
Masalah Cewe Dino
Di Rumah Firda
Menolong Naning....
One By One
Pulang....
Di Madrasah 1
Di Madrasah 2
It's Begin...
Bingung
Masih Di Rumah Naning
Menik's Pov
Pengakuan Firda
Desi Cemburu
Pertempuran
Bendera Perang Sudah Dikibarkan
Masalah mulai bertambah
Firda's Pov
Liburan Semester
Kejadian Di Kamar Kost.....
Di Gazebo..
Tekad Naning
Pov nya Kunyil
Balada Lontong Opor
Kunyil Ember
Ditinggal.....
Pengusiran
Pulang....
Nenek Tua
Mimpi
RSJ
Pertempuran Seru
Serangan Susulan
Menuju Sumber....
Lanjutannya..
Kurnia
Sebuah Pengakuan
Interogasi
Menepati Janji
Malam Minggu
Piknik....
Di Curug
Ki Sarpa
Berlatih
Ketiduran
Kejadian Aneh
Kyai Punggel
Pagi Absurd
Pov: Naning
Latihan Di Gunung
Wejangan
Aku Dipelet?
Lebih Hebat Dari Pelet
Terusan Kemarin
Tante Fitri Yang....
She's Back
Bros
Makhluk Paling Absurd
Makhluk Absurd 2
Part Kesekian
Cowo Tajir
Jangan Buat Naning Menangis
Surprise
Kejadian Aneh
Quote:
Menghentikan Perang
Ahaha ..
Jatuh Bangun
Selaras
Mulai Dari Awal
Kembali
Rencana Bapak
Gadis Galak
Pengobatan
Sang Dukun
Sandra
A Little Bonus: Sandra's Pov
Pulang Ke Kost
Nenek Tukang Pijat
Upgrade
Si Galak Sakit
Fight....
Proyek Besar
Kesurupan Massal
Kalahkan Biangnya
Kosong
Dreamin'
About Renita
Kenapa Dengan Sandra?
Teluh
Serangan kedua
Gelud Lagi...
Hadiah Nyi Rambat
Kembalinya Trio Ghaib
Kepergian Zulaikha
Kurnia's Pov
Lanjutan Indeks
Diubah oleh beqichot 18-09-2021 19:54
xue.shan dan 199 lainnya memberi reputasi
190
400.5K
12.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beqichot
#861
Terusan Kemaren
"Hiks...aku mimpi, mas terseret arus banjir mas... Mas timbul tenggelam dan melambai-lambai meminta tolong. Tapi aku ga bisa apa-apa mas. Aku ga bisa nolongin mas Aji. Aku hanya bisa berlari mengikuti tubuh mas yang timbul tenggelam sepanjang tepian sungai. Hingga akhirnya...hiks...banjir itu mengarah ke sebuah bangunan mewah, dan masuk melalui pintunya. Di depan pintu, berdiri seorang gadis cantik yang segera meraih tubuh mas, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sepintas, aku mengenali bahwa gadis itu adalah Naning.
Aku menghampiri pintu rumah itu, dan menggedor-gedornya... Meminta pada Naning untuk mengembalikan mas Aji padaku. Tapi tak ada yang menggubrisku...
Aku hanya bisa menangis sambil memukul pintu itu mas... Mas...aku takutt....!"
"Itu kan cuma mimpi neng... Kamu.lihat kan, aku masih di sini?"
"Tapi...aku tetep takut mas bakal direbut sama Naning...!" katanya sambil masih terisak.
Setajam inikah firasat seorang wanita?
Tepat sekali perkiraannya bahwa aku bakal direbut oleh Naning.
Lalu apa aku harus juga menceritakan semua yang aku rasakan dan aku ketahui kepada Desi?
Mulutku sempat membuka untuk bercerita, namun aku tersadar bahwa saat ini dia sedang sibuk dengan skripsinya. Jika aku bercerita, mungkin akan mengganggu konsentrasinya dalam menyusun skripsi yang akan menentukan masa depannya nanti.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
Aku hanya bisa menghiburnya dan menentramkan hatinya, agar dia tidak kepikiran tentang mimpinya itu.
"Udah dulu ya neng, nangisnya.. Aku mau subuhan dulu...! Kamu udah sholat belum?"
Dengan menunduk, Desi menggelengkan kepala.
"Nah, sholat dulu aja biar tenang hatinya...!" sahutku sambil mengelus rambutnya.
"Iya mas ..!"
Kukecup keningnya dan dia beranjak menuju kamarnya untuk sholat subuh.
Aku bergegas mengambil wudhu, lalu sholat.. Keburu habis waktunya.
Usai sholat, aku membuat dua gelas kopi susu dan kubawa ke kamar Desi.
Kuketuk kamarnya, dan mengucap salam.
Perlahan pintu kamarnya terbuka.. Desi tampak sangat cantik dalam balutan mukena yang masih dipakainya.
Melihatku membawa dua gelas kopi, bibirnya tersenyum, lalu sebuah kecupan mampir di pipiku.
"Masuk mas...!" katanya.
"Di teras aja ya neng? Biar lebih santai...!" kataku.
"Iya mas.. Tunggu sebentar ya, aku lipat dulu sajadah dan mukenanya..!"
Aku mengangguk dan segera duduk di teras kamarnya.
Cuaca pagi yang sejuk sungguh menyegarkan. Aku menghirup nafas dalam-dalam...melonggarkan dada.
Desi keluar dengan wajah segar, walaupun matanya masih tampak sedikit merah karena habis menangis.
"Diminum kopinya Neng...!"
"Iya mas . makasih banyak ya? Mas selalu penuh perhatian. Makanya aku ga rela mas direbut cewe lain..!"
"Udah..ga usah dibahas lagi. Gimana skripsinya neng?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Masih kurang data-datanya Mas.. Nanti biar aku cari lagi. Tapi gimana ya mas?"
"Gimana apanya?"
"Rasanya malas buat nerusin skripsinya mas. Maunya kita lulus barengan mas... Ga tega rasanya ninggalin mas sendiri di sini?" katanya.
"Kok ga tega? Aku kan cowo, bisa jaga diri!" sahutku.
"Iya sih... Tapi godaannya pasti.bakal besar banget mas...!" katanya.
"Gini aja deh... Kamu selesaikan aja skripsinya, biar cepet lulus. Cepet kerja...khan bisa bantu biaya kuliah Renita nantinya!" kataku membujuknya.
"Hmm...!" katanya sambil meneguk kopi susu itu.
'Kok hmm aja...?" tanyaku. Aku ikut meneguk kopi yang sudah mulai hangat.
Menyalakan sebatang rokok dan memghisapnya dalam-dalam.
Asapnya lho yang dihisap...
"Aku juga punya pikiran gitu mas... Tapi aku takut, kamu bakal tergoda cewe lain di sini kalau aku tinggalin..!" katanya sambil memandangku.
"Hush...kalau memang kita berjodoh, walaupun apapun yang terjadi, pasti kita bakal diikat dalam ikatan suci suami istri. Tapi kalaupun ga berjodoh, walau kamu.jaga dengan sekuat apapun, bakalan lepas juga."
"Intinya...?"
"Allah sudah mengatur semua yang terbaik untuk kita. Jangan pernah mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Serahkan semua padaNYA. Dan semoga kita berjodoh....!"
"Amin.. Semoga kita berjodoh ya mas? Huft...bener kata mas, sesuatu yang belum terjadi kenapa harus dipusingkan? Baiklah mas... Aku sekarang lebih bersemangat lagi. Terima kasih ya mas, udah ngertiin aku!"
"Sama-sama neng... Tetap semangat. Jikalau memang jodoh,.kita akan bersatu kelak!" kataku sambil menghampirinya dan mencium keningnya.
Desi memelukku erat, wajahnya disembunyikan si perutku.
Kenapa di perut sih ..kenapa ga ke bawah sedikit...
Satu masalah kuanggap selesai, Desi sudah kembali biasa lagi.
Masalah berikutnya adalah, bagaimana aku harus menyikapi rasaku yang mulai timbul kepada Naning... Yang semakin lama semakin menguat, seolah tak tertahankan lagi.
Biarlah nanti kupikirkan lagi... Kubaca istighfar sebanyak mungkin...untuk sedikit melupakan sosok Naning yang selalu bermain di anganku.
Skip..
Hari itu, usai kuliah, aku bermaksud ke rumah Firda untuk mengerjakan tugas kuliah. Aku sudah janjian dengan Firda. Daripada aku ngerjain sendiri di kost, malah ga selesai2 gara-gara terganggu oleh bayangan Naning.
Usai sholat dan makan siang, aku segera tancap gas menuju rumah Firda. Sesampai di sana, aku disambut tante Fitri yang sedang santai di teras sambil baca majalah.
"Assalamu'alaikum tante.. Firdanya ada?"
"Wa'alaikum salam. Eh...nak Aji. Firdanya lagi ke minimarket sebentar. Sini duduk sini, kita ngobrol sambil.nungguin Firda...!"
"Baik tante....!" sahutku, lalu menuju kursi di sebelah tante Fitri.
Tante Fitri meletakkan majalahnya di meja dan menatapku. Wah, mamanya Firda ini walau sudah ga muda lagi, tapi tetep terlihat cantik. Belum nampak kerut di wajah cantiknya itu. Apalagi siang itu beliau memakai daster yang berleher rendah dan panjangnya cuma selutut, menampakkan kulit lehernya yang putih dan betisnya yang indah... Glek...
Bletak....!!!
"Jaga tuh mata.. Emak-emak juga diincer..!" seru Menik sambil menggaplok kepalaku.
"Rejeki Nik.. Ga boleh ditolak...!" kataku dalam hati.
"Dasar mesum....!" gerutu Menik
"Mau ngapelin Firda nak Aji?" kalimat tante Fitri mengagetkanku.
"Eh...ini tante, mau ngerjain.tugas."
"Oh...kirain mau ngapel...hahaha. Makin banyak tugasnya ya?" tanya tante.
"Iya tant, makin ke sini makin banyak aja tugasnya... !"
"Iya tuh... Firda sering ngeluh karena kebanyakan tugas... Sering pusing katanya..!"
"Haha...maka itu tant, kita kerja bareng biar ga terlalu berat buat otak kita...!"
"Bagus dwh kalau gitu. Tolong anak tante dibimbing ya, biar lebih pintar!" katanya.
"Ah...kita belajar bareng kok tant. Saya juga ga pintar kok!" kataku.
Saat itu ada suara motor memasuki halaman rumah.
"Nah, itu Firda sudah dateng. Tante tinggal dulu ke dalam ya?"
"Iya tante, silahkan...!"
Tante mengambil majalahnya dan beranjak masuk ke dalam rumah. Duh...itu pinggul...
"Hai Ji... Dah lama?"sapa Firda.
"Lumayan, daripada lu manyun...ahaha!"
'Apaan sih....!" kata Firda sambil memghempaskan pantatnya ke kursi.
Diletakkannya sebuah kantong plastik berlogo minimarket di atas meja.
"Wuah..belanja apa tuh?"
"Hehe...biasa.. Camilan paporit...!" katanya sambil nyengir.
"Apa...? Beli kaporit? Buat apa?"
"Buat nyuci mukamu... Camilan favorit Ji...bukan kaporit...!"
"Iya...iya...denger. Ambekan lo ah...!" kataku.
"Biarin... Eh, mau apa kemari?" tanyanya dengan wajah polos.

"Ah elah...tadi kan udah janjian mau ngerjain tugas. Gimana sih lo... Pikun?"
"Ahaha...becanda Ji. Kamu ambekan banget sih....?" balasnya.
Mampus...kena juga gue....
"Yuk kita kerjain tugasnya ..!"
"Bentar dulu lah .. Ga lihat nih, keringatku bercucuran gini? Gerah tahu...!"
"Halah...di dalem kan ada AC...!"
"Bentar ah... Enakan di sini. Anginnya sejuk...!"
"Serah dah.... !" sahutku sambil mengeluarkan sebungkus rokok, dan mulai menyulut.
Habis rokok sebatang, aku ajak Firda buat ngerjain tugas.
"Bentar ya, aku mandi dulu... Lengket banget nih badan...!"

Terus kapan mau ngerjain tugas coba? Tahu sendiri kalau cewe mandi....biasa tidur dulu di kamar mandi khan?
Iya, saking lamanya di kamar mandi....
"Gue pulang aja deh. Besok aja ngerjainnya...!" kataku sambil berdiri dari dudukku.
"Eh...jangan. Janji deh... Aku cuma sebentar mandinya. Cuma seperempat jam...!" katanya.
"Iya deh .. Cepetan... Waktu anda 15 menit, dimulai dari....SEKARANG...!!!!" kataku.
Dengan santainya, Firda masuk sambil menenteng kantong plastik belanjaannya.
Naga-naganya, aku bakal nunggu lama nih...
Aku menghampiri pintu rumah itu, dan menggedor-gedornya... Meminta pada Naning untuk mengembalikan mas Aji padaku. Tapi tak ada yang menggubrisku...
Aku hanya bisa menangis sambil memukul pintu itu mas... Mas...aku takutt....!"
"Itu kan cuma mimpi neng... Kamu.lihat kan, aku masih di sini?"
"Tapi...aku tetep takut mas bakal direbut sama Naning...!" katanya sambil masih terisak.
Setajam inikah firasat seorang wanita?
Tepat sekali perkiraannya bahwa aku bakal direbut oleh Naning.
Lalu apa aku harus juga menceritakan semua yang aku rasakan dan aku ketahui kepada Desi?
Mulutku sempat membuka untuk bercerita, namun aku tersadar bahwa saat ini dia sedang sibuk dengan skripsinya. Jika aku bercerita, mungkin akan mengganggu konsentrasinya dalam menyusun skripsi yang akan menentukan masa depannya nanti.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
Aku hanya bisa menghiburnya dan menentramkan hatinya, agar dia tidak kepikiran tentang mimpinya itu.
"Udah dulu ya neng, nangisnya.. Aku mau subuhan dulu...! Kamu udah sholat belum?"
Dengan menunduk, Desi menggelengkan kepala.
"Nah, sholat dulu aja biar tenang hatinya...!" sahutku sambil mengelus rambutnya.
"Iya mas ..!"
Kukecup keningnya dan dia beranjak menuju kamarnya untuk sholat subuh.
Aku bergegas mengambil wudhu, lalu sholat.. Keburu habis waktunya.
Usai sholat, aku membuat dua gelas kopi susu dan kubawa ke kamar Desi.
Kuketuk kamarnya, dan mengucap salam.
Perlahan pintu kamarnya terbuka.. Desi tampak sangat cantik dalam balutan mukena yang masih dipakainya.
Melihatku membawa dua gelas kopi, bibirnya tersenyum, lalu sebuah kecupan mampir di pipiku.
"Masuk mas...!" katanya.
"Di teras aja ya neng? Biar lebih santai...!" kataku.
"Iya mas.. Tunggu sebentar ya, aku lipat dulu sajadah dan mukenanya..!"
Aku mengangguk dan segera duduk di teras kamarnya.
Cuaca pagi yang sejuk sungguh menyegarkan. Aku menghirup nafas dalam-dalam...melonggarkan dada.
Desi keluar dengan wajah segar, walaupun matanya masih tampak sedikit merah karena habis menangis.
"Diminum kopinya Neng...!"
"Iya mas . makasih banyak ya? Mas selalu penuh perhatian. Makanya aku ga rela mas direbut cewe lain..!"
"Udah..ga usah dibahas lagi. Gimana skripsinya neng?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Masih kurang data-datanya Mas.. Nanti biar aku cari lagi. Tapi gimana ya mas?"
"Gimana apanya?"
"Rasanya malas buat nerusin skripsinya mas. Maunya kita lulus barengan mas... Ga tega rasanya ninggalin mas sendiri di sini?" katanya.
"Kok ga tega? Aku kan cowo, bisa jaga diri!" sahutku.
"Iya sih... Tapi godaannya pasti.bakal besar banget mas...!" katanya.
"Gini aja deh... Kamu selesaikan aja skripsinya, biar cepet lulus. Cepet kerja...khan bisa bantu biaya kuliah Renita nantinya!" kataku membujuknya.
"Hmm...!" katanya sambil meneguk kopi susu itu.
'Kok hmm aja...?" tanyaku. Aku ikut meneguk kopi yang sudah mulai hangat.
Menyalakan sebatang rokok dan memghisapnya dalam-dalam.
Asapnya lho yang dihisap...

"Aku juga punya pikiran gitu mas... Tapi aku takut, kamu bakal tergoda cewe lain di sini kalau aku tinggalin..!" katanya sambil memandangku.
"Hush...kalau memang kita berjodoh, walaupun apapun yang terjadi, pasti kita bakal diikat dalam ikatan suci suami istri. Tapi kalaupun ga berjodoh, walau kamu.jaga dengan sekuat apapun, bakalan lepas juga."
"Intinya...?"
"Allah sudah mengatur semua yang terbaik untuk kita. Jangan pernah mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Serahkan semua padaNYA. Dan semoga kita berjodoh....!"
"Amin.. Semoga kita berjodoh ya mas? Huft...bener kata mas, sesuatu yang belum terjadi kenapa harus dipusingkan? Baiklah mas... Aku sekarang lebih bersemangat lagi. Terima kasih ya mas, udah ngertiin aku!"
"Sama-sama neng... Tetap semangat. Jikalau memang jodoh,.kita akan bersatu kelak!" kataku sambil menghampirinya dan mencium keningnya.
Desi memelukku erat, wajahnya disembunyikan si perutku.
Kenapa di perut sih ..kenapa ga ke bawah sedikit...

Satu masalah kuanggap selesai, Desi sudah kembali biasa lagi.
Masalah berikutnya adalah, bagaimana aku harus menyikapi rasaku yang mulai timbul kepada Naning... Yang semakin lama semakin menguat, seolah tak tertahankan lagi.
Biarlah nanti kupikirkan lagi... Kubaca istighfar sebanyak mungkin...untuk sedikit melupakan sosok Naning yang selalu bermain di anganku.
Skip..
Hari itu, usai kuliah, aku bermaksud ke rumah Firda untuk mengerjakan tugas kuliah. Aku sudah janjian dengan Firda. Daripada aku ngerjain sendiri di kost, malah ga selesai2 gara-gara terganggu oleh bayangan Naning.
Usai sholat dan makan siang, aku segera tancap gas menuju rumah Firda. Sesampai di sana, aku disambut tante Fitri yang sedang santai di teras sambil baca majalah.
"Assalamu'alaikum tante.. Firdanya ada?"
"Wa'alaikum salam. Eh...nak Aji. Firdanya lagi ke minimarket sebentar. Sini duduk sini, kita ngobrol sambil.nungguin Firda...!"
"Baik tante....!" sahutku, lalu menuju kursi di sebelah tante Fitri.
Tante Fitri meletakkan majalahnya di meja dan menatapku. Wah, mamanya Firda ini walau sudah ga muda lagi, tapi tetep terlihat cantik. Belum nampak kerut di wajah cantiknya itu. Apalagi siang itu beliau memakai daster yang berleher rendah dan panjangnya cuma selutut, menampakkan kulit lehernya yang putih dan betisnya yang indah... Glek...
Bletak....!!!
"Jaga tuh mata.. Emak-emak juga diincer..!" seru Menik sambil menggaplok kepalaku.
"Rejeki Nik.. Ga boleh ditolak...!" kataku dalam hati.
"Dasar mesum....!" gerutu Menik
"Mau ngapelin Firda nak Aji?" kalimat tante Fitri mengagetkanku.
"Eh...ini tante, mau ngerjain.tugas."
"Oh...kirain mau ngapel...hahaha. Makin banyak tugasnya ya?" tanya tante.
"Iya tant, makin ke sini makin banyak aja tugasnya... !"
"Iya tuh... Firda sering ngeluh karena kebanyakan tugas... Sering pusing katanya..!"
"Haha...maka itu tant, kita kerja bareng biar ga terlalu berat buat otak kita...!"
"Bagus dwh kalau gitu. Tolong anak tante dibimbing ya, biar lebih pintar!" katanya.
"Ah...kita belajar bareng kok tant. Saya juga ga pintar kok!" kataku.
Saat itu ada suara motor memasuki halaman rumah.
"Nah, itu Firda sudah dateng. Tante tinggal dulu ke dalam ya?"
"Iya tante, silahkan...!"
Tante mengambil majalahnya dan beranjak masuk ke dalam rumah. Duh...itu pinggul...

"Hai Ji... Dah lama?"sapa Firda.
"Lumayan, daripada lu manyun...ahaha!"
'Apaan sih....!" kata Firda sambil memghempaskan pantatnya ke kursi.
Diletakkannya sebuah kantong plastik berlogo minimarket di atas meja.
"Wuah..belanja apa tuh?"
"Hehe...biasa.. Camilan paporit...!" katanya sambil nyengir.
"Apa...? Beli kaporit? Buat apa?"
"Buat nyuci mukamu... Camilan favorit Ji...bukan kaporit...!"
"Iya...iya...denger. Ambekan lo ah...!" kataku.
"Biarin... Eh, mau apa kemari?" tanyanya dengan wajah polos.

"Ah elah...tadi kan udah janjian mau ngerjain tugas. Gimana sih lo... Pikun?"
"Ahaha...becanda Ji. Kamu ambekan banget sih....?" balasnya.
Mampus...kena juga gue....

"Yuk kita kerjain tugasnya ..!"
"Bentar dulu lah .. Ga lihat nih, keringatku bercucuran gini? Gerah tahu...!"
"Halah...di dalem kan ada AC...!"
"Bentar ah... Enakan di sini. Anginnya sejuk...!"
"Serah dah.... !" sahutku sambil mengeluarkan sebungkus rokok, dan mulai menyulut.
Habis rokok sebatang, aku ajak Firda buat ngerjain tugas.
"Bentar ya, aku mandi dulu... Lengket banget nih badan...!"

Terus kapan mau ngerjain tugas coba? Tahu sendiri kalau cewe mandi....biasa tidur dulu di kamar mandi khan?
Iya, saking lamanya di kamar mandi....
"Gue pulang aja deh. Besok aja ngerjainnya...!" kataku sambil berdiri dari dudukku.
"Eh...jangan. Janji deh... Aku cuma sebentar mandinya. Cuma seperempat jam...!" katanya.
"Iya deh .. Cepetan... Waktu anda 15 menit, dimulai dari....SEKARANG...!!!!" kataku.
Dengan santainya, Firda masuk sambil menenteng kantong plastik belanjaannya.
Naga-naganya, aku bakal nunggu lama nih...
arinu dan 69 lainnya memberi reputasi
70
Tutup