Kaskus

Story

azka81Avatar border
TS
azka81
Dunia Hanya Persinggahan Sebelum Pulang Ke Kampung Halaman Yang Sebenarnya
“Setiap perjalanan ada yang namanya tempat persinggahan, tapi itu bukan tempat yang tepat untuk menetap.”


“Gimana, Zah, udah selesai? Mau pulang sekarang atau ....” Suara Husna membuyarkan lamunanku.

“Bentar lagi, Na. Aku masih ingin di sini. Berada di tempat ini seakan membuatku menjadi lebih bersemangat. Tempat ini mengingatkan, kalau aku masih punya rumah untuk pulang. Melihat kereta yang melaju, seakan-akan membawa pesan rindu dari Umi dan Abi.” Aku menghela napas pelan, berusaha menyembunyikan perasaanku saat ini.

“Zahra, kamu harus kuat dan sabar. Uwak mengirimmu ke kota ini juga demi kebaikanmu. Kalau kamu kembali ke desa nanti, kamu bukan hanya membawa ilmu, Zah, tetapi juga iman. Itu bekal yang berguna untukmu kelak. Tentu hal itu akan membuat Uwak bangga.” Gadis anggun penyuka warna hitam itu tersenyum menatapku.

Aku memainkan jari jemari sembari melihat pemudik yang berlalu lalang menuju pintu stasiun. Pemandangan yang membuatku merasa terhibur, raut bahagia nampak terpancar di wajah mereka. Seakan-akan aku melihat lambaian tangan Abi di antara mereka.

“Berat, Na, kamu lebih beruntung karena pondok kita tak jauh dari rumahmu. Jadi, setiap bulan kamu bisa pulang ke rumah. Tidak seperti aku yang harus menunggu libur panjang atau lebaran. Aku kangen pelukan Umi, aku rindu melihat senyuman Abi.” Kurasa mataku mulai mengembun.

Husna menggenggam tanganku, gadis itu tersenyum hangat. “Orang tuaku adalah orang tuamu juga, Zah. Di sini rumahku adalah tempatmu pulang. Kita adalah saudara. Aku paham apa yang kamu rasakan, kamu harus terbiasa menerima kenyataan.”

Aku terdiam dan mematung. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku yang pertama adalah seorang pekerja seni. Semenjak menikah, beliau lebih memilih tinggal di kota kelahiran suaminya. Sehingga jarang pulang menengok Umi dan Abi sibuk dengan karir dan keluarga kecilnya.


Dunia Hanya Persinggahan Sebelum Pulang Ke Kampung Halaman Yang Sebenarnya

Sudah hampir dua tahun aku berada di kota sejuk yang di juluki Kota Tapis Berseri ini. Umi dan Abi memintaku untuk menuntut ilmu di salah satu pondok di sini. Mereka ingin aku menjadi ustazah di desa kami. Walau, setiap akhir bulan aku dan santriwati lain diizinkan untuk pulang, tetapi karena jarak yang jauh aku memilih rumah Husna sebagai tempat melepas penatnya kegiatan belajar.

Husna dan aku adalah sepupu. Sebelum berangkat ke pondok, aku memang sudah dititipkan ke keluarga Husna. Abi dan Umi mempercayakan orang tua Husna untuk mengurus dan mengawasiku selama berada di kota ini.

Aku masih teringat ketika Umi dan Abi berpamitan untuk kembali ke desa kami setelah mengantarku. Di stasiun ini, Umi memeluk dengan dekapan hangat.

“Zahra, anak Umi yang salihah. Zahra jangan lupa salat yah, Nak. Harus rajin belajar, dan jangan lupa menjalankan kewajiban yang lain. Berdo’a meminta ketenangan dan keberkahan dalam menuntut ilmu. ”

“Umi ....” kueratkan pelukan di tubuh wanita yang sudah melahirkanku itu, air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Abi mengelus kepalaku dengan lembut, “Zahra harus belajar mandiri, Nak. Abi yakin Zahra pasti jadi anak yang hebat. Jalani dengan penuh kebahagiaan dan tanpa beban. Niatkan karena Allah yah. Karena setiap langkah yang Zahra lakukan akan bernilai pahala.”

Airmataku semakin deras mengalir mendengar petuah abi.

“Zahra gak malu, dilihat Husna. Masak umurnya sudah mau lima belas tahun masih cengeng.” Abi tersenyum melihatku menangis.

Kuseka air mataku.

Di umur yang beranjak dewasa ini aku memang masih manja kepada umi dan Abi, tak pernah sekali pun aku berpergian tanpa mereka. Mungkin karena aku anak bungsu, atau ... entahlah. Dan kali ini aku harus berpisah dengan mereka untuk mencari ilmu .

“Pokoknya Zahra harus semangat, gak boleh minta pulang. Biar Abi dan Umi yang kesini menengokmu. Pokoknya anak Abi gak boleh cengeng. Kalau misalkan kangen sama Abi dan Umi, Zahra datang ke stasiun aja minta temenin Husna. Anggap saja, keretanya membawa pesan rindu dari Umi dan Abi untuk Zahra.” Aku masih ingat rangkaian kalimat abi saat itu.

Abi tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahku. Kemudian menghilang bersamaan dengan melajunya kereta api yang ditumpangi. Rupanya itu terakhir kali aku melihat senyuman beliau.

Hanya selang beberapa bulan sesudah itu, aku mendapat telepon dari desa. Umi memintaku pulang, Abi sakit keras. Setelah mendapat izin dari pondok, dengan diantar abinya Husna. Aku langsung bergegas ke stasiun, menuju kereta yang akan membawa ke desa.

Perjalanan delapan jam dari kota yang sejuk ini, menuju desa tempat tinggalku terasa begitu lama. Sepanjang perjalanan aku gelisah, aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan pada Abi.

Sesampainya di rumah kudapati suasana sudah ramai. Bendera kuning sudah terpasang di di pinggir jalan.

“Abiii!” aku berteriak tanpa bisa mengendalikan diri mengetahui orang yang kucinta telah tiada.

Duniaku gelap.

Sejak saat itu, setiap libur bulanan aku dengan ditemani Husna sering pergi ke stasiun kereta. Kebetulan rumah Husna tak jauh dari sini. Menatap stasiun ini aku serasa melihat lambaian tangan Abi. Melihat kereta yang singgah seperti mendapat kiriman pesan rindu dari beliau.

Aku melamun mengingat itu.

“Permisi, Mbak. Boleh duduk di sini?” Seorang wanita setengah baya tersenyum ramah menyapa kami.

“Ehm, silahkan, Bu,” jawabku dan Husna berbarengan.

“Mbak berdua ini, tujuannya mau kemana?” dia bertanya sambil memasukkan sebuah buku ke tasnya.

“Kami hanya numpang duduk di sini, Bu. Ingin melihat pemudik yang pulang kampung,” ucap Husna.

“Oh ... kirain mau pulang atau pergi kemana? Mungkin satu tujuan sama Ibu.”

“Gak, Bu. Hanya ingin melihat kereta yang singgah," sahutku.

“Benar sekali, stasiun ini hanyalah sebuah tempat persinggahan bagi kereta. Kereta akan berhenti setiap hari, tapi hanya singgah. Kemudian akan melanjutkan perjalanan lagi. Sama halnya dengan manusia, tinggal di dunia hanyalah sementara. Pada akhirnya akan melanjutkan perjalanan menuju kematian.”

Aku dan Husna hanya tertegun mendengar ucapan wanita itu.

“Mbak, kereta yang saya tunggu sudah tiba. Saya permisi. Assalamu’alaikum ....”

“Wa’alaikumussalam .....”

Hening.

Kutatap kereta yang berlalu di hadapanku. Deru suaranya terdengar menggema, aku berbisik dalam hati.

“Abi, Zahra masih singgah di sini.”

---
Cerpen lainnya:
Sepatu Surga untuk Ayah Klik di sini

Pantengin terus yah gansis lapak ane

Sumber pict: Dokpri
Diubah oleh azka81 23-08-2021 07:10
UprutzAvatar border
kuz1toroAvatar border
aisyahnantriAvatar border
aisyahnantri dan 11 lainnya memberi reputasi
10
2.3K
27
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
azka81Avatar border
TS
azka81
#15
Sepatu Surga untuk Ayah


"Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.”
(HR. Ahmad, At-tirmidzi dan Ibnu Majah)

Meski posisi ayah no empat setelah posisi ibu, namun keduanya adalah pintu surga bagi anak-anak mereka. Jika salah satu sudah tiada, maka berkurang pula pintu surga itu. Tidak ada alasan untuk membedakan ayah dan ibu, karena dua-duanya punya peran dan kedudukan yang sama-sama istimewa.

kaskus-image

Matahari bersinar tepat di atas kepala. Hawa panas menyelimuti tubuh, seakan-akan membuat kulit menjadi terbakar. Humaira berulang kali mengusap keringat yang menetes di pelipisnya. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat bocah berusia enam tahun itu, mengiringi langkah sang ayah.

Humaira bersama ayahnya, Pak Sudirman, memasuki sebuah toko sepatu kecil yang berada di pinggiran pasar. Mereka memilih beberapa sepatu untuk Humaria dan sang ayah.

“Maira mau yang itu, Yah.” Tunjuk Humaira, mengarahkan pandangan ke arah sepasang sepatu berwarna merah muda.

“Yang ini yah, Nak,” jawab Pak Sudirman, memegang sepatu yang Humaira tunjuk.

Gadis kecil berkulit putih itu mengangguk pelan, Pak Sudirman memberikan sepatu yang Humaira minta. Humaira mencobanya dengan memutar badan, bergaya layaknya model cilik. Mematut diri di hadapan sang ayah.

“Maa syaa Allah, cantiknya anak ayah,” ucap Pak Sudirman, pria berjanggut tipis itu mencium pipi Humaira yang menggemaskan.

Bocah itu berteriak girang. Bibirnya tidak henti-henti menebarkan senyum. Sepatu yang baru dia dapat berulang kali gadis kecil itu peluk.

***

“Sepatu Ayah ketinggalan di toko!” teriak Humaira ketika membongkar isi plastik belanjaan mereka.

Bu Nur yang sedang membuat teh untuk Pak Sudirman, bergegas menghampiri si bocah.

“Bu, sepatu Ayah ketinggalan di toko,” ulang Humairah.

“Loh, kenapa sampai ketinggalan, Pak?” tanya Bu Nur kepada suaminya.

Pak Sudirman yang belum mengerti, mengajukan pertanyaan kepada si anak.

“Sepatu yang mana, Nak? Sepatu Maira itu ‘kan dipegang.” Tunjuk Pak Sudirman.

Humaira yang sedang memegang sepatunya pun berusaha menjelaskan.

“Iyaa, Ayah ... ini sepatu Maira. Sepatu Ayah tidak ada, tadi ‘kan Ayah juga milih-milih sepatu.”

Bu Nur dan Pak Sudirman hanya bisa berpandangan mendengar celotehan Humaira, tangan gadis kecil itu sesekali mengusap ingus yang keluar dari hidungnya yang mancung.

“Maira, sepatu ayah tidak ketinggalan. Ayah memang tidak membeli sepatu, Nak,” jelas Pak Sudirman.

“Kenapa tidak beli, Yah? Sepatu Ayah ‘kan sudah jelek,” tanya Humairah polos.

“Nak, ... Maira ‘kan masih kecil, pasti pengen pakai sepatu baru. Kalau ayah sudah besar, meski pakai sepatu jelek tidak apa-apa.” Pria berusia 32 tahun itu mengusap-usap kepala putrinya.

“Kalau Maira sudah besar seperti Ayah, Maira mau membelikan Ayah sepatu baru biar tidak pakai sepatu jelek lagi.” Janji si bocah.

Bu Nur dan Pak Sudirman hanya tersenyum mendengarnya. Sang ayah meraih tubuh mungil itu dan memeluknya.

“Anak pintar ... nanti kalau sudah sekolah belajar yang rajin, yah. Semoga Allah selalu memberkahi hidupmu, Nak. Putri ayah, Humaira Salsabila semoga menjadi anak yang salehah, aamiin yah Mujib,” bisik Pak Sudirman.

Waktu pun terus bergerak, kini Humaira kecil sudah beranjak menjelma menjadi remaja yang cantik. Gadis tanggung yang sehari-hari menggunakan jilbab lebar itu, sekarang sudah berusia tujuh belas tahun.

Walau demikian dia tetaplah menjadi putri kecil bagi kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Humaira yang sudah duduk di bangku SMA itu tidak pernah malu diantar jemput Pak Sudirman menggunakan sepeda ontel sang ayah.

Meski teman-teman Humaira di sekolah sering meledeknya, memanggil dia dengan sebutan gadis kolokan, namun remaja itu tidak pernah menghiraukan. Bagi Humaira kedekatan gadis itu dan orang tuanya adalah hal yang istimewa. Humaira seperti enggan melewatkan waktu tanpa menorehkan momen yang indah.

Setiap kejadian yang Humaira alami di sekolah, selalu jadi bahan perbincangannya dengan Pak Sudirman dan Bu Nur. Mereka selalu mendengar celotehan putrinya penuh seksama, seperti sebuah berita besar yang gadis itu bawa. Kadang mereka tertawa ketika Humaira menceritakan hal-hal lucu, ayah dan ibunya juga menasihati Humaira jika remaja itu merasa kesal dengan teman yang jahil.

Akan tetapi, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Saat Humairah akan menghadapi ujian akhir sekolah, ayah si gadis sakit keras dan akhirnya meninggal dunia.

Tangis Humaira pecah seketika, dadanya menjadi sesak, seakan-akan ada tangan tak terlihat yang mencengkeram kuat. Dunia gadis itu runtuh, hujan deras ikut mengiringi kepergian sang ayah.

Sejak saat itu, kehidupan Humaira jadi berbeda. Dia mulai menapakkan kaki di kehidupan yang sebenarnya. Hanya dukungan Bu Nur dan petuah almarhum ayahnya yang membuat semangat gadis itu tetap menyala.

Setelah lulus sekolah Humaira memilih bekerja. Saat menerima gaji pertama, gadis itu langsung bergegas ke toko sepatu. Dia memilih sepatu terbaik yang ada di toko itu.

Dengan sabar gadis itu berdiri di pinggir jalan. Akhirnya orang yang ditunggu pun tiba. Seorang kakek tua yang mendorong gerobak tanpa alas kaki. Berbekal keterangan dari tukang parkir yang merupakan tetangga si kakek, Humaira mendapatkan banyak informasi tentang kakek tersebut.

“Assalamu’alaikum, Kek, ini ada titipan buat Kakek,” sapa gadis itu sambil memberikan kotak sepatu yang dia pegang.

“Wa’alaikumussalam, ini apa, Neng? Titipan dari siapa?” tanya orang tersebut.

“Ini sepatu, titipan dari ayah saya. Beliau berpesan ‘Semoga Kakek bisa memanfaatkan sepatu ini untuk kebaikan', diterima, yah, Kek.” Humaira menambahkan sebuah amplop kecil, kemudian berlalu.

Sang kakek tua hanya bisa mengucap syukur menerima rezeki yang baru saja dia dapatkan melalui Humaira.

Sementara si gadis pergi dengan mengumbar wajah yang tidak biasa. Meski netranya sedikit mengeluarkan embun, namun ada senyuman yang terukir di bibirnya. Lengkungan indah itu seperti sebuah lukisan kebahagiaan.

“Ayah, hanya ini yang bisa Humaira lakukan untuk membalas jasa Ayah selama ini. Setiap kebaikan yang Humaira lakukan semoga membuahkan pahala buat Ayah dan Ibu. Semoga di Surga sana Ayah mendapatkan sepatu yang baru.” Bisik batin Humaira.

Gadis itu masih teringat janjinya kepada almarhum ayahnya beberapa belas tahun yang lalu. Mungkin itu adalah sebuah ucapan polos dari seorang bocah, namun bagi Humaira itu adalah sebuah janji yang harus ditepati.

***

“Ayah betapa bahagianya aku pernah dibesarkan dan dididik oleh sosok seperti dirimu. Sekarang hampir semua orang tahu kalau Ayah adalah sosok yang hebat dan sangat istimewa di hatiku,” gumam Humaira.

Gadis itu memandang hamparan sawah yang ada di seberang sana, gamis besar yang dia kenakan tampak berkibar kena tiupan angin. Humaira tersenyum di balik cadar hitam yang dia kenakan. Tangannya terus bergerak menorehkan kisah dalam bentuk tulisan yang indah.
Diubah oleh azka81 15-07-2021 14:20
0
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.