- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#5
3. Matsurika
Kanaria
Akhirnya kami tiba di gerbang kawasan pemakaman, sang supir segera memarkirkan ambulance di depan gerbang, pak Rt langsung membuka pintu belakang mobil dan turun, ia pun menginstruksikan beberapa warga yang sudah tiba lebih dahulu untuk membantu menurunkan jenazah dari atas mobil.
Aku dan ayah turun setelah keranda ibu di bopong ke luar oleh warga, isak tangis pun mulai terdengar dari segala Arah, masa yang datang ke pemakaman ini sangat lah banyak, mereka adalah orang-orang yang merasa sangat kehilangan ibu dan mau mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Keranda ibu mulai di bawa menuju Liang lahat, saat kakiku melangkah mengikuti iring-iringan yang warga yang tengah membawa ibu, beberapa orang menghampiriku dan mengutarakan kesedihan mereka karena telah di tinggal pergi olehnya, setelah itu lisan mereka juga melontarkan beberapa kata guna memberiku semangat, sebagian dari mereka bahkan sampai memeluk tubuh ini sambil berkata
" Semoga kamu tabah, kana "
Ya, aku akan tabah, bagaimanapun terus hidup dan menebar manfaat bagi orang lain adalah salah satu hal yang ibu harapkan dariku. Beberapa orang juga mengajak ayah bicara, dan sama halnya dengan diriku, dia juga mendapat begitu banyak kalimat motivasi yang bertujuan untuk menyemangatinya.
Wajah ayah nampak datar ketika menerima kalimat-kalimat itu, matanya masih terlihat sembam karena sepanjang perjalanan tadi dia terus menangis. Aku tau dia sedang menahan kesedihan yang begitu mendalam, namun dirinya berusaha menutupi hal tersebut dengan ekspresi datarnya. Mengapa aku mengetahui hal itu? Jawabannya simpel, karena aku juga melakukan hal yang sama dengannya. Ini lah salah satu sifat yang dirinya wariskan kepadaku, tidak pandai mengekspresikan diri dan lebih memilih memendam kesedihan di dalam hati dari pada menampakannya kepada orang-orang.
" Kana " Seseorang memanggilku dari arah belakang. Akupun menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati tiga orang gadis tengah berdiri tepat di belakang diri ini. Mereka adalah sahabatku, Rani, Fany, dan Amelia, sepertinya mereka sudah tau mengenai kabar duka tentang ibu, dan langsung pergi ke sini setelah sekolah usai.
Aku mendapat kabar tentang tragedi yang menimpa ibu saat jam pelajaran siang berlangsung, salah seorang guru memanggilku keluar kelas dan langsung memintaku untuk ikut pergi dengannya menggunakan motor. Rani sempat bertanya kepadaku mengenai apa kiranya yang menyebabkan diri ini di panggil oleh seorang guru di tengah-tengah pelajaran. Saat itu aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala karena aku sendiri tidak tau apa penyebab guru itu memanggilku. aku tidak menyangka jika guru tersebut membawaku ke rumah yang sudah di padati oleh warga.
Setelah motor sempurna berhenti, aku langsung turun dan berlari ke dalam rumah karena merasakan firasat aneh yang sangat mengganggu hati ini. Setibanya di dalam aku mendapati tubuh ibu yang sudah terbujur kaku di tengah ruang tamu. Akupun menjerit dengan histeris karena tidak percaya jika kenyataan pahit harus aku Terima.
" Kana, yang sabar ya " Ujar Rani sambil memeluk tubuhku dengan begitu erat.
" Terimakasih Rani " Aku menanggapi ucapan Rani dengan ala kadarnya, karena sejujurnya lisan ini bingung harus bagaimana membalas kata-kata tersebut.
" Kami turut berduka cita " Ujar Amel yang matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
" Aku tidak percaya sekarang Mamah telah tiada " Ujar Fany, sambil membenamkan wajahnya di punggung ku dan mulai menagis. Mereka bertiga sangat dekat dengan ibu, ketiganya pun memanggilnya dengan " Mamah " Sama dengan rekan kerjanya di pull busway.
" Ya, akupun demikian " Ujarku.
" Mamah " Ujar Fany sambil mulai menangis.
Ketiganya sering mampir kerumahku sepulang sekolah, dan jika ibu kebetulan sudah pulang, maka kami akan melakukan banyak hal bersama dengannya mulai dari memasak, ngobrol, hingga menonton DVD. Mereka sama sekali tidak merasa canggung dengan kehadirannya malah terkadang ketiga gadis itulah yang mengajak ibu bergabung.
Di saat kebanyakan anak akan merasakan canggung jika salah satu orang tua temannya ikut berkumpul dengan mereka, kami justru sebaliknya, malah terkadang ketidak hadiran ibu membuat kami merasa sepi dan hal ini lah yang membuat sosok ibuku sangat berarti bagi mereka.
" Kana, kenapa orang baik seperti mamah harus pergi duluan. Kenapa sang maut malah merenggut nyawanya, bukan nyawa mereka yang gemar membuat keonaran di dunia ini, bukan kah takdir jadi terasa tidak adil? " Ujar Fany.
" Fany, apa kau tau? Arwah seseorang akan sulit menuju langit jika orang-orang yang di tinggalkannya belum ikhlas menerima kenyataan tentangnya. Ya takdir memang sering terasa tidak adil, tapi percayalah, Tuhan pasti menyelipkan sebuah makna dari kematian mamah yang nantinya akan membuat kita semua menjadi lebih baik. Maka dari itu, aku mohon, ikhlaskan lah kepergian ibuku " Aku mulai mengelus kepalanya dengan lembut.
" Maafkan aku Kana, seharusnya kau lah yang kami semangati, tapi aku malah... "
" Santai saja, kita ini kan teman "
Berat rasanya mengatakan hal tersebut karena pada hakikatnya akupun belum cukup ikhlas menerima nasip ibu yang seperti ini. Fany ada benarnya, mengapa harus ibu? Mengapa harus sosok baik hati itu?
Semoga hati ini dapat segera merelakannya, atau ibu akan menghalangi hambatan saat dirinya melangkah menuju alam baru.
" Kana.. " Ayah memanggilku, dia memberi isyarat jika sebentar lagi jasad ibu akan segera di masukan ke Liang lahat, akupun mengangguk tanda jika diri ini paham maksud isyaratnya.
" Si.. Siapa dia? " Tanya Amel.
" Dia ayahku " Aku menjawab pertanyaan amel. Mereka belum pernah meilhat wujud si brengsek itu, maka wajar jika ketiga sahabatku ini tidak mengenalinya.
" Ma.. Maksudmu laki-laki brengsek yang dulu sering memukuli mamah itu? " Tanya Rani.
" Iya, kau benar "
" Kurang ajar.... Mau apa dia di sini, beraninya dia membuat mamah menderita " Ujar Fany sambil mulai melangkah ke arah ayahku.
" Cukup Fany " Aku langsung menahannya dengan sekuat tenaga " Tolong, jangan buat prosesi pemakaman ibuku kacau "
" Ma.. Maaf Kana " Emosi Fany berhasil aku redam dan gadis itupun kembali diam.
" Kau tau, mulai sekarang aku akan tinggal bersamanya. Maka dari itu, bersikap baik lah dengannya " Ujarku sambil mengelus-elus kepala Fany.
" Ka.. Kau serius? " Tanya kegitanya nyaris bersamaan.
" Yup aku serius. Bagaimanapun aku belum bisa mencari uang sendiri, maka dari itu aku harus bergantung padanya jika tetap ingin hidup " Ujarku sambil melangkah mendekati tempat di mana ibu akan di istirahatkan untuk selamanya.
" Kana, tinggal lah bersamaku. Bagaimanapun aku tidak akan membiarkanmu tinggal bersama si breksek itu " Ujar Fany.
" Terima kasih atas tawarannya. Kalian tau, aku tidak mau menjadi beban bagi siapaun. Kalaupun ada, maka yang wajib aku bebani adalah ayahku. Maka dari itu aku akan tinggal bersamanya "
" Tapi, kau mungkin akan di perlakukan semena-mena, sama seperti ibumu dulu " Ujar Fany.
" Aku percaya dia sudah berubah. Oleh sebab itu, keputusan akhirku adalah memberinya kesempatan kedua "
" Tapi.. "
" Fany, kesempatan memang tidak datang dua kali. Tapi semua orang berhak menerima kesempatan kedua, jadi jika Kana sudah memutuskan hal tersebut kau tidak boleh mengganggu gugatnya seperti itu " Ujar Rani.
" Baik lah kalau begitu. Kana, berjanjilah padaku jika nanti dia tidak berubah, maka kau akan mengatakannya kepada kami " Ujar Fany.
" Tentu saja " Ujarku sambil melangkah mendekati Liang lahat ibu.
Sejujurnya, aku juga belum seratus persen yakin dengan keputusanku yang memilih untuk memberikan kesempatan kedua bagi ayah. Meski begitu, aku akan tetap mencobanya, bagaimanapun apa yang mata ini lihat saat di ambulance tadi membuat presentasi tingkat kepercayaanku kepada ayah meningkat, setidaknya angka yang menunjukan hal itu sekarang tidak lah nol.
Tindakan Fany yang begitu peduli kepada diriku jelas membuat hati ini merasa senang. Hidupku memang serba pas-pasan, ibu yang hanya seorang supir tidak bisa memberiku beragam kemewahan, bayangkan saja untuk membelikanku laptop bekas saja dirinya harus menunggu hingga bonusnya cair. Namun aku sadar akan satu hal, Tuhan tidak mengkaruniaku harta benda sebagai pewarna kehidupan, melainkan orang-orang yang begitu menyayangi diri ini.
Fany, Amel dan Rani adalah salah satu bukti dari karunia tersebut. Mereka senantiasa menemanimu menjalani keseharian yang di luar ke laziman seorang gadis SMA, ketiganya mau menemaniku di saat diri ini harus segera pulang untuk merapihkan rumah dan memasaka, bahkan mereka rela bermalam di rumah agar aku tidak sendirian jika ibu mendapat shift malam.
Perlahan, jasad wanita yang telah terbungkus kain kafan itu mulai di turunkan ke lubang tempat dimana dirinya akan beristirahat untuk selamanya. Isak tangis kembali terdengar dari para hadirin yang datang melayat. Ayah lah yang bertugas untuk menutup Liang lahat setelah tubuh ibu di baringkan di sana, setelah pria itu naik, tanahpun mulai diturunkan hingga pada akhirnya tertutup sempurna.
Pak Rt menghampiriku, lalu memberikan sebuah nisan kayu bertuliskan nama ibu. "Matsurika" Sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang, dan memiliki arti melati putih. Ibu sering bercerita jika dirinya sangat menyukai nama itu, melati adalah bunga yang begitu harum. Selain itu mahkota bunga itu miliki warna yang begitu putih layaknya sebuah salju sehingga kehadiranya selalu mampu memanjakan mata manusia.
Pak Rt mempersilahkanku untuk meletakan nisa tersebut di sisi makam. Akupun menurut dan segera melakukan apa yang dirinya minta, setelah itu beliau mulai memimpin para pelayat untuk menghaturkan doa kepada ibu.
" Selamat jalan bu, Sampai jumpa lagi " Bisikku di sela-sela doa yang lisan ini tujukan kepadanya.
Ayah mendekati makam kemudian menaburkan bunga dia atas gundukan tanah tempat ibu beristirahat untuk selamanya. Semua kelopak bunga yang jatuh mengenai makam ibu berwarna putih, dan aku sadar jika itu adalah melati. Aku sempat melirik ayah, apa dirinya sengaja memilih bunga itu? Mungkin kah ini bukti jika dirinya begitu kehilangan? Menghiasi makam sang melati dengan melati.
Proses pemakamanpun selesai, para pelayat mulai melangkah meninggalkan makam, hingga pada akhirnya hanya meninggalkaku dan ayah. Matan pria itu terlihat sembab, dia terus memandangi makam ibu, mulutnya diam seribu bahasa, mungkin dia tidak tau lagi bagaimana caranya mengungkapkan kesedihannya saat ini.
Apa yang harus aku katakan sekarang? Haruskah lisan ini menghiburnya? Dia dan aku sama-sama baru kehilangan sosok yang begitu berarti dalam alur kehidupan ini. Aku sudah mampu menerima kepergian ibu, namun bagaimana dengan ayah? Di ambulance tadi dia telah mengutarakan betapa besar penyesalan yang dirinya rasa ketika tau ibu telah tiada. Dia memiliki begitu banyak kata yang masih ingin di ungkapkan kepada ibu, namun kata-kata itu tidak dapat lagi tersampaikan karena batas yang memisahkan keduanya terlampau jauh.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk diam dan membiarkannya terhanyut dalam lamunan. Beberapa menit berlalu, ayah masih mematung dan belum juga mengatakan apapun. Pak RT terlihat menunggu kami di depan gerbang pemakaman, tadi dia sempat berkata jika kami bisa pulang ke rumah dengan menumpangi mobil yang di bawa anak sulungnya, di rumah pasti banyak tamu yang menunggu kami, termasuk Ketiga sahabatku itu.
Kira-kira berapa kali lagi telingaku harus mendengar kata " Kana, yang sabar ya " Dari lisan para tamu, sepertinya aku akan sibuk mengingat betapa banyaknya orang yang datang untuk melayat.
" Kana, ayo kita pulang " Ujar ayah tiba-tiba. Dia berbalik dan mulai melangkah menjauhi makam ibu.
" Ya, pak RT sudah menunggu kita " Ujarku sambil mengikutinya dari belakang.
" Apakah ketiga gadis tadi temanmu? " Tanyanya yang mungkin bermaksud basa-basi.
" Iya, mereka sangat dekat dengan ibu. Oleh sebab itu, kepergiaan nya menyisakan luka mendalam di hati mereka "
" Ibumu sungguh luar biasa "
" Ya aku tau itu "
" Aku berharap, suatu hari nanti kau akan menganggapku sama luar biasanya dengan dia "
" Ya, aku menunggu hal tersebut "
Akhirnya kami tiba di gerbang kawasan pemakaman, sang supir segera memarkirkan ambulance di depan gerbang, pak Rt langsung membuka pintu belakang mobil dan turun, ia pun menginstruksikan beberapa warga yang sudah tiba lebih dahulu untuk membantu menurunkan jenazah dari atas mobil.
Aku dan ayah turun setelah keranda ibu di bopong ke luar oleh warga, isak tangis pun mulai terdengar dari segala Arah, masa yang datang ke pemakaman ini sangat lah banyak, mereka adalah orang-orang yang merasa sangat kehilangan ibu dan mau mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Keranda ibu mulai di bawa menuju Liang lahat, saat kakiku melangkah mengikuti iring-iringan yang warga yang tengah membawa ibu, beberapa orang menghampiriku dan mengutarakan kesedihan mereka karena telah di tinggal pergi olehnya, setelah itu lisan mereka juga melontarkan beberapa kata guna memberiku semangat, sebagian dari mereka bahkan sampai memeluk tubuh ini sambil berkata
" Semoga kamu tabah, kana "
Ya, aku akan tabah, bagaimanapun terus hidup dan menebar manfaat bagi orang lain adalah salah satu hal yang ibu harapkan dariku. Beberapa orang juga mengajak ayah bicara, dan sama halnya dengan diriku, dia juga mendapat begitu banyak kalimat motivasi yang bertujuan untuk menyemangatinya.
Wajah ayah nampak datar ketika menerima kalimat-kalimat itu, matanya masih terlihat sembam karena sepanjang perjalanan tadi dia terus menangis. Aku tau dia sedang menahan kesedihan yang begitu mendalam, namun dirinya berusaha menutupi hal tersebut dengan ekspresi datarnya. Mengapa aku mengetahui hal itu? Jawabannya simpel, karena aku juga melakukan hal yang sama dengannya. Ini lah salah satu sifat yang dirinya wariskan kepadaku, tidak pandai mengekspresikan diri dan lebih memilih memendam kesedihan di dalam hati dari pada menampakannya kepada orang-orang.
" Kana " Seseorang memanggilku dari arah belakang. Akupun menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati tiga orang gadis tengah berdiri tepat di belakang diri ini. Mereka adalah sahabatku, Rani, Fany, dan Amelia, sepertinya mereka sudah tau mengenai kabar duka tentang ibu, dan langsung pergi ke sini setelah sekolah usai.
Aku mendapat kabar tentang tragedi yang menimpa ibu saat jam pelajaran siang berlangsung, salah seorang guru memanggilku keluar kelas dan langsung memintaku untuk ikut pergi dengannya menggunakan motor. Rani sempat bertanya kepadaku mengenai apa kiranya yang menyebabkan diri ini di panggil oleh seorang guru di tengah-tengah pelajaran. Saat itu aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala karena aku sendiri tidak tau apa penyebab guru itu memanggilku. aku tidak menyangka jika guru tersebut membawaku ke rumah yang sudah di padati oleh warga.
Setelah motor sempurna berhenti, aku langsung turun dan berlari ke dalam rumah karena merasakan firasat aneh yang sangat mengganggu hati ini. Setibanya di dalam aku mendapati tubuh ibu yang sudah terbujur kaku di tengah ruang tamu. Akupun menjerit dengan histeris karena tidak percaya jika kenyataan pahit harus aku Terima.
" Kana, yang sabar ya " Ujar Rani sambil memeluk tubuhku dengan begitu erat.
" Terimakasih Rani " Aku menanggapi ucapan Rani dengan ala kadarnya, karena sejujurnya lisan ini bingung harus bagaimana membalas kata-kata tersebut.
" Kami turut berduka cita " Ujar Amel yang matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
" Aku tidak percaya sekarang Mamah telah tiada " Ujar Fany, sambil membenamkan wajahnya di punggung ku dan mulai menagis. Mereka bertiga sangat dekat dengan ibu, ketiganya pun memanggilnya dengan " Mamah " Sama dengan rekan kerjanya di pull busway.
" Ya, akupun demikian " Ujarku.
" Mamah " Ujar Fany sambil mulai menangis.
Ketiganya sering mampir kerumahku sepulang sekolah, dan jika ibu kebetulan sudah pulang, maka kami akan melakukan banyak hal bersama dengannya mulai dari memasak, ngobrol, hingga menonton DVD. Mereka sama sekali tidak merasa canggung dengan kehadirannya malah terkadang ketiga gadis itulah yang mengajak ibu bergabung.
Di saat kebanyakan anak akan merasakan canggung jika salah satu orang tua temannya ikut berkumpul dengan mereka, kami justru sebaliknya, malah terkadang ketidak hadiran ibu membuat kami merasa sepi dan hal ini lah yang membuat sosok ibuku sangat berarti bagi mereka.
" Kana, kenapa orang baik seperti mamah harus pergi duluan. Kenapa sang maut malah merenggut nyawanya, bukan nyawa mereka yang gemar membuat keonaran di dunia ini, bukan kah takdir jadi terasa tidak adil? " Ujar Fany.
" Fany, apa kau tau? Arwah seseorang akan sulit menuju langit jika orang-orang yang di tinggalkannya belum ikhlas menerima kenyataan tentangnya. Ya takdir memang sering terasa tidak adil, tapi percayalah, Tuhan pasti menyelipkan sebuah makna dari kematian mamah yang nantinya akan membuat kita semua menjadi lebih baik. Maka dari itu, aku mohon, ikhlaskan lah kepergian ibuku " Aku mulai mengelus kepalanya dengan lembut.
" Maafkan aku Kana, seharusnya kau lah yang kami semangati, tapi aku malah... "
" Santai saja, kita ini kan teman "
Berat rasanya mengatakan hal tersebut karena pada hakikatnya akupun belum cukup ikhlas menerima nasip ibu yang seperti ini. Fany ada benarnya, mengapa harus ibu? Mengapa harus sosok baik hati itu?
Semoga hati ini dapat segera merelakannya, atau ibu akan menghalangi hambatan saat dirinya melangkah menuju alam baru.
" Kana.. " Ayah memanggilku, dia memberi isyarat jika sebentar lagi jasad ibu akan segera di masukan ke Liang lahat, akupun mengangguk tanda jika diri ini paham maksud isyaratnya.
" Si.. Siapa dia? " Tanya Amel.
" Dia ayahku " Aku menjawab pertanyaan amel. Mereka belum pernah meilhat wujud si brengsek itu, maka wajar jika ketiga sahabatku ini tidak mengenalinya.
" Ma.. Maksudmu laki-laki brengsek yang dulu sering memukuli mamah itu? " Tanya Rani.
" Iya, kau benar "
" Kurang ajar.... Mau apa dia di sini, beraninya dia membuat mamah menderita " Ujar Fany sambil mulai melangkah ke arah ayahku.
" Cukup Fany " Aku langsung menahannya dengan sekuat tenaga " Tolong, jangan buat prosesi pemakaman ibuku kacau "
" Ma.. Maaf Kana " Emosi Fany berhasil aku redam dan gadis itupun kembali diam.
" Kau tau, mulai sekarang aku akan tinggal bersamanya. Maka dari itu, bersikap baik lah dengannya " Ujarku sambil mengelus-elus kepala Fany.
" Ka.. Kau serius? " Tanya kegitanya nyaris bersamaan.
" Yup aku serius. Bagaimanapun aku belum bisa mencari uang sendiri, maka dari itu aku harus bergantung padanya jika tetap ingin hidup " Ujarku sambil melangkah mendekati tempat di mana ibu akan di istirahatkan untuk selamanya.
" Kana, tinggal lah bersamaku. Bagaimanapun aku tidak akan membiarkanmu tinggal bersama si breksek itu " Ujar Fany.
" Terima kasih atas tawarannya. Kalian tau, aku tidak mau menjadi beban bagi siapaun. Kalaupun ada, maka yang wajib aku bebani adalah ayahku. Maka dari itu aku akan tinggal bersamanya "
" Tapi, kau mungkin akan di perlakukan semena-mena, sama seperti ibumu dulu " Ujar Fany.
" Aku percaya dia sudah berubah. Oleh sebab itu, keputusan akhirku adalah memberinya kesempatan kedua "
" Tapi.. "
" Fany, kesempatan memang tidak datang dua kali. Tapi semua orang berhak menerima kesempatan kedua, jadi jika Kana sudah memutuskan hal tersebut kau tidak boleh mengganggu gugatnya seperti itu " Ujar Rani.
" Baik lah kalau begitu. Kana, berjanjilah padaku jika nanti dia tidak berubah, maka kau akan mengatakannya kepada kami " Ujar Fany.
" Tentu saja " Ujarku sambil melangkah mendekati Liang lahat ibu.
Sejujurnya, aku juga belum seratus persen yakin dengan keputusanku yang memilih untuk memberikan kesempatan kedua bagi ayah. Meski begitu, aku akan tetap mencobanya, bagaimanapun apa yang mata ini lihat saat di ambulance tadi membuat presentasi tingkat kepercayaanku kepada ayah meningkat, setidaknya angka yang menunjukan hal itu sekarang tidak lah nol.
Tindakan Fany yang begitu peduli kepada diriku jelas membuat hati ini merasa senang. Hidupku memang serba pas-pasan, ibu yang hanya seorang supir tidak bisa memberiku beragam kemewahan, bayangkan saja untuk membelikanku laptop bekas saja dirinya harus menunggu hingga bonusnya cair. Namun aku sadar akan satu hal, Tuhan tidak mengkaruniaku harta benda sebagai pewarna kehidupan, melainkan orang-orang yang begitu menyayangi diri ini.
Fany, Amel dan Rani adalah salah satu bukti dari karunia tersebut. Mereka senantiasa menemanimu menjalani keseharian yang di luar ke laziman seorang gadis SMA, ketiganya mau menemaniku di saat diri ini harus segera pulang untuk merapihkan rumah dan memasaka, bahkan mereka rela bermalam di rumah agar aku tidak sendirian jika ibu mendapat shift malam.
Perlahan, jasad wanita yang telah terbungkus kain kafan itu mulai di turunkan ke lubang tempat dimana dirinya akan beristirahat untuk selamanya. Isak tangis kembali terdengar dari para hadirin yang datang melayat. Ayah lah yang bertugas untuk menutup Liang lahat setelah tubuh ibu di baringkan di sana, setelah pria itu naik, tanahpun mulai diturunkan hingga pada akhirnya tertutup sempurna.
Pak Rt menghampiriku, lalu memberikan sebuah nisan kayu bertuliskan nama ibu. "Matsurika" Sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang, dan memiliki arti melati putih. Ibu sering bercerita jika dirinya sangat menyukai nama itu, melati adalah bunga yang begitu harum. Selain itu mahkota bunga itu miliki warna yang begitu putih layaknya sebuah salju sehingga kehadiranya selalu mampu memanjakan mata manusia.
Pak Rt mempersilahkanku untuk meletakan nisa tersebut di sisi makam. Akupun menurut dan segera melakukan apa yang dirinya minta, setelah itu beliau mulai memimpin para pelayat untuk menghaturkan doa kepada ibu.
" Selamat jalan bu, Sampai jumpa lagi " Bisikku di sela-sela doa yang lisan ini tujukan kepadanya.
Ayah mendekati makam kemudian menaburkan bunga dia atas gundukan tanah tempat ibu beristirahat untuk selamanya. Semua kelopak bunga yang jatuh mengenai makam ibu berwarna putih, dan aku sadar jika itu adalah melati. Aku sempat melirik ayah, apa dirinya sengaja memilih bunga itu? Mungkin kah ini bukti jika dirinya begitu kehilangan? Menghiasi makam sang melati dengan melati.
Proses pemakamanpun selesai, para pelayat mulai melangkah meninggalkan makam, hingga pada akhirnya hanya meninggalkaku dan ayah. Matan pria itu terlihat sembab, dia terus memandangi makam ibu, mulutnya diam seribu bahasa, mungkin dia tidak tau lagi bagaimana caranya mengungkapkan kesedihannya saat ini.
Apa yang harus aku katakan sekarang? Haruskah lisan ini menghiburnya? Dia dan aku sama-sama baru kehilangan sosok yang begitu berarti dalam alur kehidupan ini. Aku sudah mampu menerima kepergian ibu, namun bagaimana dengan ayah? Di ambulance tadi dia telah mengutarakan betapa besar penyesalan yang dirinya rasa ketika tau ibu telah tiada. Dia memiliki begitu banyak kata yang masih ingin di ungkapkan kepada ibu, namun kata-kata itu tidak dapat lagi tersampaikan karena batas yang memisahkan keduanya terlampau jauh.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk diam dan membiarkannya terhanyut dalam lamunan. Beberapa menit berlalu, ayah masih mematung dan belum juga mengatakan apapun. Pak RT terlihat menunggu kami di depan gerbang pemakaman, tadi dia sempat berkata jika kami bisa pulang ke rumah dengan menumpangi mobil yang di bawa anak sulungnya, di rumah pasti banyak tamu yang menunggu kami, termasuk Ketiga sahabatku itu.
Kira-kira berapa kali lagi telingaku harus mendengar kata " Kana, yang sabar ya " Dari lisan para tamu, sepertinya aku akan sibuk mengingat betapa banyaknya orang yang datang untuk melayat.
" Kana, ayo kita pulang " Ujar ayah tiba-tiba. Dia berbalik dan mulai melangkah menjauhi makam ibu.
" Ya, pak RT sudah menunggu kita " Ujarku sambil mengikutinya dari belakang.
" Apakah ketiga gadis tadi temanmu? " Tanyanya yang mungkin bermaksud basa-basi.
" Iya, mereka sangat dekat dengan ibu. Oleh sebab itu, kepergiaan nya menyisakan luka mendalam di hati mereka "
" Ibumu sungguh luar biasa "
" Ya aku tau itu "
" Aku berharap, suatu hari nanti kau akan menganggapku sama luar biasanya dengan dia "
" Ya, aku menunggu hal tersebut "
pangerankodo353 dan 3 lainnya memberi reputasi
4