- Beranda
- Stories from the Heart
HITAM Season 2
...
TS
Mbahjoyo911
HITAM Season 2


Quote:
Prolog
Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan. Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi.
Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.
Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat.
Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana,
Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam.
Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa.
Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.
Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.
Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.
Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.
Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.
Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.
Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda.
Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.
Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.
Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.
Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya.
Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...
Spoiler for Salma:
Spoiler for Amrita:
Diubah oleh Mbahjoyo911 27-03-2022 06:54
adriantz dan 402 lainnya memberi reputasi
379
1.7M
25K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Mbahjoyo911
#5785
Pemulihan
Setelah dapat banyak sekali petunjuk yang aneh, membingungkan, dan nggak masuk akal dari Rijalul Gaib, ragaku dikirim kembali ke kamarku. Padahal aku masih ingin bertanya banyak hal lagi. Penjelasan dari kakek itu masih banyak yang membingungkanku, tapi kemudian aku berpikir buat apa mengetahui itu semua secara detail, yang penting aku tau intinya aja, itu udah cukup buatku.
Tapi memang begitulah para jin, mereka nggak akan memberitahukan secara gamblang, dan seakan sengaja menyisakan misteri yang harus kupecahkan sendiri. Tapi setidaknya aku harus berterima kasih pada Rijalul Gaib, karena penjelasannya kini aku jadi tau apa yang terjadi pada diriku. Bahkan dia juga telah membuatku bisa mendengar dan melihat lagi.
Rijalul Gaib telah mengembalikanku ke kamarku dalam posisi terduduk di pinggiran tempat tidur. Dibelakangku kulihat Cindy tertidur pulas, sejak kapan ini anak berada di kamarku? Padahal tadi malem sehabis aku dikerokin itu kulihat dia masuk ke kamarnya sendiri. Lagian kenapa juga dia bisa tidur disini?
Mendadak aja kudengar suara orang menyuarakan takbir dengan sangat keras. Langsung kututupi telingaku dengan tangan. Aku tau suara takbir itu adalah adzan yang berasal dari masjid. Tapi suaranya terdengar sangat keras di telingaku, seakan toa masjid berada tepat di halaman rumahku. Padahal jarak masjid itu sekitar 200 meteran dari rumahku.
Sambil terus menutup telinga, aku teringat kata-kata Rijalul Gaib, semua inderaku akan bertambah peka. Tapi aku nggak nyangka kalo akan segini peka. Aku harus segera mengendalikannya, kalo nggak, lama-lama aku bisa gila mendengar suara keras terus menerus.
Lalu perlahan kurasakan suatu hawa dingin pada kedua telingaku. Hawa itu seakan menutup liang telinga, hingga akhirnya suara adzan itu jadi terdengar normal kembali. Aku tau itu adalah energiku sendiri yang berusaha melindungi telingaku. Mungkinkah energi itu telah aktif kembali? Maka kucoba merasakan aliran energi itu, tapi ternyata nggak bisa, aku nggak bisa merasakan energi itu. Ya sudahlah.. mungkin aku harus melatihnya kembali. Kubangunkan Cindy dari tidurnya.
Cindy ngeloyor keluar kamar dengan tingkah cerianya. Sementara aku terbengong di pinggiran tempat tidur. Kayak dugaanku, Salma masih selalu ada di dekatku, berarti memang dia lah yang selalu membantuku saat ada serangan. Aku belum tau Amrita udah balik atau belom. Lalu ibuku masuk dengan wajah cerahnya.
Ibuku keluar kamar, untung aja ibu dan Cindy bicara pelan-pelan, jadi nggak sampe menyakiti telingaku. Lagi-lagi aku telah membuat ibuku nangis. Aku nggak pernah kepikiran kalo apa yang terjadi padaku bisa berpengaruh pada orang-orang di sekelilingku. Aku nggak peduli pada diriku sendiri, tapi mereka peduli padaku, bahkan sampe ngebuat mereka kuatir. Aku nggak boleh egois dan mementingkan diri sendiri, ada keluarga yang selalu peduli padaku, dan aku harus memikirkan mereka juga.
Pagi itu juga aku mandi besar dan melaksanakan subuhan. Aku nggak peduli kalo ibadahku nggak diterima selama 40 hari, aku cuma ingin bersujud pada Allah, memohon ampunanNya. Selesai subuhan, kulanjud dzikir, menyebut asma Allah. Lalu kucoba bermeditasi. Aku masih belum bisa merasakan energiku. Tapi seperti ada ribuan semut merayap di dalam kulit punggungku. Aku nggak mempedulikannya dan terus berusaha meditasi, merasakan semua energiku.
Baru kusadari kalo hari ini adalah sabtu, pantesan Cindy berada di rumah. Pagi itu juga setelah matahari terbit aku mengunjungi makamnya Dita bersama Cindy. Mungkin disana Dita juga ngerasa sedih melihatku, tapi entahlah.. mengingat semua ini karena kesalahanku. Aku berdoa buat arwahnya Dita, semoga dia tenang disana. Aku berjanji akan mengusut kematiannya yang terasa janggal itu.
Sepulang dari makam, aku duduk merenung di kamar. Mungkin ini memang bener-bener takdir. Nggak ada kebetulan yang terjadi secara bersamaan, semua pasti udah digariskan Allah. Kupandangi fotonya Dita di meja belajarku. Lalu kabut itu muncul lagi menyelubungiku.
Kupejamkan mata, aku nggak mau kejadian itu terulang lagi. Dalam hati aku berucap seakan bicara pada Sukmageni dan lima energi itu. Cukup sampe disini saja, aku nggak mau ragaku diambil alih lagi. Kesedihan bukanlah suatu ancaman, Ini adalah sifat alami manusia. Penuh konsentrasi kuucapkan kata itu berulang-ulang. Dan saat aku membuka mata, kabut itu udah nggak ada lagi, aku masih berada di kamarku. Aku bisa meyakinkan Sukmageni dan berhasil mengendalikannya.
Sepanjang siang itu kuhabiskan waktu untuk bermeditasi, meskipun aku belum merasakan energiku sama sekali. Niatku adalah membersihkan diri dari pengaruh alkohol yang kuminum kemarin, entah berhasil atau nggak yang penting aku mencoba, dan tetap aja nggak berhasil.
Dengan bermeditasi terus-menerus, membuatku bisa sedikit melupakan kesedihan. Otakku seakan teralihkan oleh konsentrasi meditasi. Cindy terus menemaniku di kamar dan nggak keluar-keluar, bahkan dia membawa blacan nya buat ikut rebahan di kamarku. Sepertinya Cindy kuatir kalo aku tau-tau menghilang begitu saja, jadi dia kayak jagain aku. Saat itu aku baru aja menghentikan meditasi entah yang keberapa, dan Cindy mulai ngajak aku ngomong.
Aku beranjak ke laci meja belajarku. Dan ternyata hp itu berada di dalam laci, entah gimana ceritanya bisa berada di sini. Langsung aja kutancapkan ke charger dan kunyalakan. Dan langsung muncul chat yang banyak sekali, semua chat itu kayak berebutan mau masuk ke hp.
Chat itu dari Dinda, Citradani, Kinara, Erin, tante Silvy, Tantri dan Mayang. Yudi dan Daffa, Pertiwi, bahkan pakde dan om Handry pun juga ikut ngechat. Isinya hampir sama, yaitu ucapan bela sungkawa dan saran agar bersabar. Nggak nyangka kalo temen-temen ikut peduli padaku, mungkin emang akunya aja yang nggak peduli sama kepedulian mereka, aku bener-bener egois kalo gitu. Kuletakkan kembali hpku tanpa membalas.
Cindy beranjak duduk di belakangku. Kurasakan telapak tangannya menempel di punggungku, ada suatu hawa sangat dingin merasuk ke kulitku. Sepertinya Cindy berusaha mentransfer energinya, meskipun aku nggak ngerasa, cuma terasa sangat dingin di punggungku. Tapi setelah beberapa saat kemudian, Cindy melepas tangannya dan terpekik kaget.
Cindy melihatku dengan prihatin. Energiku masih berusaha melindungiku dengan menutup semua tubuhku. Bahkan energi transferan yang masuk oun dianggap sebagai suatu ancaman yang harus ditolak dan di lawan. Dan kalo Cindy nekat mentransfer, aku kuatir kalo energinya sendiri membalik padanya dan membuatnya celaka. Sepertinya aku sendirilah yang harus mengendalikannya.
Menjelang sore hari, pakde datang menjengukku. Cuma dengan melihatku aja beliau tau apa yang terjadi padaku. Aku bisa melihat raut kekuatiran dari wajahnya, padahal aku sendiri nggak ngerasa kuatir soal tertidurnya kemampuanku ini, mungkin sebaiknya emang tertidur selamanya aja.
Ada satu yang ngebuatku salut sama pakde, dia nggak berusaha memberi wejangan soal kehilangan itu, sama kayak ayahku yang juga gitu. Mungkin bagi mereka, wejangan kayak gitu nggak ada gunanya, mungkin mereka berpikir kalo aku udah bisa mikir sendiri. Terutama pakde, dia tentu lebih paham pada sesama orang yang punya kemampuan.
Kami masih ngobrol disisipi saran-saran yang tersamarkan dari pakde, tapi kebanyakan beliau malah membully aku karena udah hampir gila ditinggal Dita. Dikatain orang lemah lah, cengeng lah.. bodoh lah.. dan semua kuterima aja karena emang begitulah adanya. Ayahku malah ikut ketawa aku, ini dua kakak beradik kompak banget.
Sebenarnya bullyan itu belumlah pada tempatnya karena aku masih aja ngerasa sedih, tapi aku bisa apa? Aku juga tau kalo sebenarnya pakde membully bukan untuk menghinaku, tapi untuk mencambukku agar aku segera bangkit lagi. Pakde berada di rumahku sampe malam, lalu dia langsung pamit pulang meskipun udah diminta buat menginap.
Senin pun datang tanpa peringatan. Aku udah kembali masuk kuliah, coba menjalani rutinitas. Udah seminggu aku nggak masuk. Temen-temen sekelas pada ngasih ucapan turut bela sungkawa. Nggak nyangka aja mereka semua memperhatikan juga.
Selama kuliah aku menjalani aktivitas kayak mahasiswa normal lainnya, tanpa energi tenaga dalam, tanpa melihat jin, tanpa konflik apapun, seakan hidupku terasa lebih tenang. Aku juga berusaha menghindari tempat-tempat yang sering aku datangi bareng Dita, bukan apa-apa, biar aku nggak ngerasa sedih lagi aja. Aku juga belum ke Distro, kalo aku kesana, pasti jadi bahan bullyan dua manusia itu.
Bahkan aku memutuskan untuk nggak menginap di kosan untuk sementara waktu. Terlalu banyak kenangan di sana. Aku ke kosan cuma mengambil baju, laptop dan berkas-berkas buat skripsi. Aku emang berniat melanjutkan skripsi itu. Dita udah banyak memberiku semangat dan arahan dalam penyusunan skripsi, kalo aku menghentikannya, sama aja aku mengkhianati usaha Dita. Kubawa semua berkas dan laptop ke rumah. Biarlah nanti kukerjakan skripsi itu di rumah.
Akhirnya selasa maghrib itu, akupun memulai puasa mutih, Dari sore hari aku udah mempersiapkan semua, dimulai dari mandi besar. Rencananya aku akan puasa mutih 3 hari yang dalam perhitungan akan berakhir hari jumat sore, lalu dilanjut ngebleng dan patigeni. Jadi seluruh rangkaian puasa itu akan selesai hari minggu sore.
Nggak ada saat yang terlalu berat, karena memang aku sering menjalani rangkaian puasa itu. Sewaktu mutih aku masih tetap masuk kuliah, cuma menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, mirip dengan puasa ramadhan, bedanya cuma di sahurnya aja yang cuma memakan 3 kepal nasi dan terus berkurang seiring berkurangnya hari.
Pelan-pelan aku mulai melanjutkan skripsiku, dengan mengingat semua yang di kasih tahu oleh Dita, meskipun hal itu juga membawa masalah buatku karena jadi teringat dengan Dita, tapi aku harus kuat, ini demi Dita juga. Kadang saat membuka laptop dan mau ngelanjutin ngerjain skripsi, lebih sering berakhir dengan melihat folder foto-fotonya Dita.
Sama juga boong. 
Kamis malam sehabis maghrib, kusempatin untuk menemui Dinda di rumahnya, buat ngucapin terima kasih atas semua kebaikan yang dilakukannya selama aku 'sakit'. Biar gimanapun, Dinda udah sangat berjasa padaku, Aku berhutang banyak padanya. Sampai di rumahnya, yang membuka pintu adalah Denaya, adiknya Dinda.
Denaya masuk ke ruang dalam sementara aku duduk di sofa. Rumah itu terlihat sepi, mungkin papa-mamanya nggak ada. Lalu Dinda muncul dari dalam, matanya berbinar dan senyum merekah, dia langsung menghambur memukku,,dan tiba-tiba aja ada air mata mengalir.
Dinda langsung menghajar bibirku. Kami ngobrol banyak hal, mulai skripsi sampe kuliahku. Dinda sama sekali nggak ngebahas soal Dita,mungkin dia ngejaga perasaanku. Sampe saat itu Dinda masih duduk di pangkuanku, dia tampak manja banget, nggak kayak biasanya.
Tapi memang begitulah para jin, mereka nggak akan memberitahukan secara gamblang, dan seakan sengaja menyisakan misteri yang harus kupecahkan sendiri. Tapi setidaknya aku harus berterima kasih pada Rijalul Gaib, karena penjelasannya kini aku jadi tau apa yang terjadi pada diriku. Bahkan dia juga telah membuatku bisa mendengar dan melihat lagi.
Rijalul Gaib telah mengembalikanku ke kamarku dalam posisi terduduk di pinggiran tempat tidur. Dibelakangku kulihat Cindy tertidur pulas, sejak kapan ini anak berada di kamarku? Padahal tadi malem sehabis aku dikerokin itu kulihat dia masuk ke kamarnya sendiri. Lagian kenapa juga dia bisa tidur disini?
Mendadak aja kudengar suara orang menyuarakan takbir dengan sangat keras. Langsung kututupi telingaku dengan tangan. Aku tau suara takbir itu adalah adzan yang berasal dari masjid. Tapi suaranya terdengar sangat keras di telingaku, seakan toa masjid berada tepat di halaman rumahku. Padahal jarak masjid itu sekitar 200 meteran dari rumahku.
Sambil terus menutup telinga, aku teringat kata-kata Rijalul Gaib, semua inderaku akan bertambah peka. Tapi aku nggak nyangka kalo akan segini peka. Aku harus segera mengendalikannya, kalo nggak, lama-lama aku bisa gila mendengar suara keras terus menerus.
Lalu perlahan kurasakan suatu hawa dingin pada kedua telingaku. Hawa itu seakan menutup liang telinga, hingga akhirnya suara adzan itu jadi terdengar normal kembali. Aku tau itu adalah energiku sendiri yang berusaha melindungi telingaku. Mungkinkah energi itu telah aktif kembali? Maka kucoba merasakan aliran energi itu, tapi ternyata nggak bisa, aku nggak bisa merasakan energi itu. Ya sudahlah.. mungkin aku harus melatihnya kembali. Kubangunkan Cindy dari tidurnya.
Quote:
Cindy ngeloyor keluar kamar dengan tingkah cerianya. Sementara aku terbengong di pinggiran tempat tidur. Kayak dugaanku, Salma masih selalu ada di dekatku, berarti memang dia lah yang selalu membantuku saat ada serangan. Aku belum tau Amrita udah balik atau belom. Lalu ibuku masuk dengan wajah cerahnya.
Quote:
Ibuku keluar kamar, untung aja ibu dan Cindy bicara pelan-pelan, jadi nggak sampe menyakiti telingaku. Lagi-lagi aku telah membuat ibuku nangis. Aku nggak pernah kepikiran kalo apa yang terjadi padaku bisa berpengaruh pada orang-orang di sekelilingku. Aku nggak peduli pada diriku sendiri, tapi mereka peduli padaku, bahkan sampe ngebuat mereka kuatir. Aku nggak boleh egois dan mementingkan diri sendiri, ada keluarga yang selalu peduli padaku, dan aku harus memikirkan mereka juga.
Pagi itu juga aku mandi besar dan melaksanakan subuhan. Aku nggak peduli kalo ibadahku nggak diterima selama 40 hari, aku cuma ingin bersujud pada Allah, memohon ampunanNya. Selesai subuhan, kulanjud dzikir, menyebut asma Allah. Lalu kucoba bermeditasi. Aku masih belum bisa merasakan energiku. Tapi seperti ada ribuan semut merayap di dalam kulit punggungku. Aku nggak mempedulikannya dan terus berusaha meditasi, merasakan semua energiku.
Baru kusadari kalo hari ini adalah sabtu, pantesan Cindy berada di rumah. Pagi itu juga setelah matahari terbit aku mengunjungi makamnya Dita bersama Cindy. Mungkin disana Dita juga ngerasa sedih melihatku, tapi entahlah.. mengingat semua ini karena kesalahanku. Aku berdoa buat arwahnya Dita, semoga dia tenang disana. Aku berjanji akan mengusut kematiannya yang terasa janggal itu.
Sepulang dari makam, aku duduk merenung di kamar. Mungkin ini memang bener-bener takdir. Nggak ada kebetulan yang terjadi secara bersamaan, semua pasti udah digariskan Allah. Kupandangi fotonya Dita di meja belajarku. Lalu kabut itu muncul lagi menyelubungiku.
Kupejamkan mata, aku nggak mau kejadian itu terulang lagi. Dalam hati aku berucap seakan bicara pada Sukmageni dan lima energi itu. Cukup sampe disini saja, aku nggak mau ragaku diambil alih lagi. Kesedihan bukanlah suatu ancaman, Ini adalah sifat alami manusia. Penuh konsentrasi kuucapkan kata itu berulang-ulang. Dan saat aku membuka mata, kabut itu udah nggak ada lagi, aku masih berada di kamarku. Aku bisa meyakinkan Sukmageni dan berhasil mengendalikannya.
Sepanjang siang itu kuhabiskan waktu untuk bermeditasi, meskipun aku belum merasakan energiku sama sekali. Niatku adalah membersihkan diri dari pengaruh alkohol yang kuminum kemarin, entah berhasil atau nggak yang penting aku mencoba, dan tetap aja nggak berhasil.
Dengan bermeditasi terus-menerus, membuatku bisa sedikit melupakan kesedihan. Otakku seakan teralihkan oleh konsentrasi meditasi. Cindy terus menemaniku di kamar dan nggak keluar-keluar, bahkan dia membawa blacan nya buat ikut rebahan di kamarku. Sepertinya Cindy kuatir kalo aku tau-tau menghilang begitu saja, jadi dia kayak jagain aku. Saat itu aku baru aja menghentikan meditasi entah yang keberapa, dan Cindy mulai ngajak aku ngomong.
Quote:
Aku beranjak ke laci meja belajarku. Dan ternyata hp itu berada di dalam laci, entah gimana ceritanya bisa berada di sini. Langsung aja kutancapkan ke charger dan kunyalakan. Dan langsung muncul chat yang banyak sekali, semua chat itu kayak berebutan mau masuk ke hp.
Chat itu dari Dinda, Citradani, Kinara, Erin, tante Silvy, Tantri dan Mayang. Yudi dan Daffa, Pertiwi, bahkan pakde dan om Handry pun juga ikut ngechat. Isinya hampir sama, yaitu ucapan bela sungkawa dan saran agar bersabar. Nggak nyangka kalo temen-temen ikut peduli padaku, mungkin emang akunya aja yang nggak peduli sama kepedulian mereka, aku bener-bener egois kalo gitu. Kuletakkan kembali hpku tanpa membalas.
Quote:
Cindy beranjak duduk di belakangku. Kurasakan telapak tangannya menempel di punggungku, ada suatu hawa sangat dingin merasuk ke kulitku. Sepertinya Cindy berusaha mentransfer energinya, meskipun aku nggak ngerasa, cuma terasa sangat dingin di punggungku. Tapi setelah beberapa saat kemudian, Cindy melepas tangannya dan terpekik kaget.
Quote:
Cindy melihatku dengan prihatin. Energiku masih berusaha melindungiku dengan menutup semua tubuhku. Bahkan energi transferan yang masuk oun dianggap sebagai suatu ancaman yang harus ditolak dan di lawan. Dan kalo Cindy nekat mentransfer, aku kuatir kalo energinya sendiri membalik padanya dan membuatnya celaka. Sepertinya aku sendirilah yang harus mengendalikannya.
Menjelang sore hari, pakde datang menjengukku. Cuma dengan melihatku aja beliau tau apa yang terjadi padaku. Aku bisa melihat raut kekuatiran dari wajahnya, padahal aku sendiri nggak ngerasa kuatir soal tertidurnya kemampuanku ini, mungkin sebaiknya emang tertidur selamanya aja.
Ada satu yang ngebuatku salut sama pakde, dia nggak berusaha memberi wejangan soal kehilangan itu, sama kayak ayahku yang juga gitu. Mungkin bagi mereka, wejangan kayak gitu nggak ada gunanya, mungkin mereka berpikir kalo aku udah bisa mikir sendiri. Terutama pakde, dia tentu lebih paham pada sesama orang yang punya kemampuan.
Quote:
Kami masih ngobrol disisipi saran-saran yang tersamarkan dari pakde, tapi kebanyakan beliau malah membully aku karena udah hampir gila ditinggal Dita. Dikatain orang lemah lah, cengeng lah.. bodoh lah.. dan semua kuterima aja karena emang begitulah adanya. Ayahku malah ikut ketawa aku, ini dua kakak beradik kompak banget.

Sebenarnya bullyan itu belumlah pada tempatnya karena aku masih aja ngerasa sedih, tapi aku bisa apa? Aku juga tau kalo sebenarnya pakde membully bukan untuk menghinaku, tapi untuk mencambukku agar aku segera bangkit lagi. Pakde berada di rumahku sampe malam, lalu dia langsung pamit pulang meskipun udah diminta buat menginap.
Senin pun datang tanpa peringatan. Aku udah kembali masuk kuliah, coba menjalani rutinitas. Udah seminggu aku nggak masuk. Temen-temen sekelas pada ngasih ucapan turut bela sungkawa. Nggak nyangka aja mereka semua memperhatikan juga.
Selama kuliah aku menjalani aktivitas kayak mahasiswa normal lainnya, tanpa energi tenaga dalam, tanpa melihat jin, tanpa konflik apapun, seakan hidupku terasa lebih tenang. Aku juga berusaha menghindari tempat-tempat yang sering aku datangi bareng Dita, bukan apa-apa, biar aku nggak ngerasa sedih lagi aja. Aku juga belum ke Distro, kalo aku kesana, pasti jadi bahan bullyan dua manusia itu.
Bahkan aku memutuskan untuk nggak menginap di kosan untuk sementara waktu. Terlalu banyak kenangan di sana. Aku ke kosan cuma mengambil baju, laptop dan berkas-berkas buat skripsi. Aku emang berniat melanjutkan skripsi itu. Dita udah banyak memberiku semangat dan arahan dalam penyusunan skripsi, kalo aku menghentikannya, sama aja aku mengkhianati usaha Dita. Kubawa semua berkas dan laptop ke rumah. Biarlah nanti kukerjakan skripsi itu di rumah.
Akhirnya selasa maghrib itu, akupun memulai puasa mutih, Dari sore hari aku udah mempersiapkan semua, dimulai dari mandi besar. Rencananya aku akan puasa mutih 3 hari yang dalam perhitungan akan berakhir hari jumat sore, lalu dilanjut ngebleng dan patigeni. Jadi seluruh rangkaian puasa itu akan selesai hari minggu sore.
Nggak ada saat yang terlalu berat, karena memang aku sering menjalani rangkaian puasa itu. Sewaktu mutih aku masih tetap masuk kuliah, cuma menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, mirip dengan puasa ramadhan, bedanya cuma di sahurnya aja yang cuma memakan 3 kepal nasi dan terus berkurang seiring berkurangnya hari.
Pelan-pelan aku mulai melanjutkan skripsiku, dengan mengingat semua yang di kasih tahu oleh Dita, meskipun hal itu juga membawa masalah buatku karena jadi teringat dengan Dita, tapi aku harus kuat, ini demi Dita juga. Kadang saat membuka laptop dan mau ngelanjutin ngerjain skripsi, lebih sering berakhir dengan melihat folder foto-fotonya Dita.
Sama juga boong. 
Kamis malam sehabis maghrib, kusempatin untuk menemui Dinda di rumahnya, buat ngucapin terima kasih atas semua kebaikan yang dilakukannya selama aku 'sakit'. Biar gimanapun, Dinda udah sangat berjasa padaku, Aku berhutang banyak padanya. Sampai di rumahnya, yang membuka pintu adalah Denaya, adiknya Dinda.
Quote:
Denaya masuk ke ruang dalam sementara aku duduk di sofa. Rumah itu terlihat sepi, mungkin papa-mamanya nggak ada. Lalu Dinda muncul dari dalam, matanya berbinar dan senyum merekah, dia langsung menghambur memukku,,dan tiba-tiba aja ada air mata mengalir.
Quote:
Dinda langsung menghajar bibirku. Kami ngobrol banyak hal, mulai skripsi sampe kuliahku. Dinda sama sekali nggak ngebahas soal Dita,mungkin dia ngejaga perasaanku. Sampe saat itu Dinda masih duduk di pangkuanku, dia tampak manja banget, nggak kayak biasanya.
Lanjut bawah gan sist..
Diubah oleh Mbahjoyo911 13-07-2021 17:11
agoezsholich107 dan 118 lainnya memberi reputasi
119
Tutup

