- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.7K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#1
1. Ketika Bajingan Itu Muncul
Kanaria
Sebuah truk mengalami rem blong dan
menabrak toko elektronik yang di dalamnya ada ibuku dengan kecepatan penuh. Tragedi itu pun langsung merenggut nyawa wanita yang sangat aku sayangi itu.
Aku tidak pernah menyangka jika pagi tadi merupakan pertemuan terakhirku dengan ibu. Aku tidak pernah mengira jika ucapan sampai jumpa kembali yang tadi lisan ini ucapkan tidak akan pernah terwujud karena bagaimanapun ibu tidak akan pernah kembali padaku.
Aku menagis terseduh seduh saat melihat jasadnya yang terbujur kaku di tengah ruang tamu rumah. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Mengapa tadi pagi aku tidak menolak saja tawarannya untuk membelikan diri ini laptop. Jika aku menolaknya mungkin ibu masih ada bersamaku dan tidak tertabrak oleh truk itu.
Aku terus menyalahkan diri sendiri, sambil menangis sekeras-kerasnya berharap Tuhan mengasihaniku kemudian memerintahkan sangat maut untuk menunda kematian ibu. Ruang tamu rumah kian ramai, banyak pelayat yang berdatangan hingga rumah sempit ini menjadi begitu sesak. Pak Rt yang merupakan kerabat terdekat ku terus menenangkan diri ini, sambil mengelus kepalaku dengan begitu lembut dan terus berkata " Ikhlaskan kepergian ibumu kana "
" Kana " Ujar pak Yusuf yang baru saja tiba di rumah, dia salah satu rekan kerja ibu yang ada di lokasi kejadian " Maaf aku agak telat, polisi memintaiku keterangan mengenai kejadian naas yang menimpa ibumu "
" Pak Yusuf, kenapa bisa jadi seperti ini? " Ujarku sambil menatapnya.
Pak Yusuf menghampiriku kemudian memberikan sebuah paper bagian berisi laptop sambil berkata " Ibumu menyuruhku memberikan laptop ini kepadamu "
" Ibuku? " Ujarku yang saat itu masih bergetar karena tidak menerima kenyataan yang harus diri ini alami.
" Saat dirinya terpental karena di hantam oleh truk. Dia masih tetap memeluk erat laptop ini, oleh sebab itu benda tersebut tidak rusak sedikitpun. Ketika aku menghampirinya, dia terus memintaku untuk menyerahkan benda ini kepada putrinya, padahal saat itu kondisi tubuhnya sangat lah parah "
" Bodoh, kenapa kau malah lebih mementingkan laptop ini dari pada nyawamu ? " Gumamku pelan.
" Dia menitip kan beberapa pesan untukmu, sebelum pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir " Ujar Pak Yusuf yang mananya mulai berkaca-kaca.
" Apa yang dia ucapkan? "
" Belajar lah dengan giat, aku mencintaimu dan....." Pesan pria itu membuatku semakin menangis, kenapa sempat-sempatnya dia mengingatkanku untuk belajar? Padahal dia sendiri sedang sekarat " Percayalah jika ayahmu adalah orang yang baik "
Aku terus memeluk laptop darinya itu, sambil memandangi jasadnya yang mulai di balut oleh kain kafan. Tadi ibu berjanji akan menjelaskan penyebab dirinya bisa selalu menganggap ayah baik, saat aku sudah siap mendengar ocehannya tentang pria brengsek itu, ibu malah harus pergi untuk selamanya dan memintaku untuk percaya jika pria itu adalah sosok yang baik di akhir hayatnya.
Aku tidak habis pikir, Mengapa wanita baik sepertinya harus meninggal dengan cara yang begitu tragis? Mengapa harus ibuku yang di jemput oleh sang maut lebih dahulu, padahal dia merupakan sosok yang sangat baik, kenapa bukan ayahku yang brengsek itu saja dan Mengapa dia masih saja berusaha meyakinkan diri ini jika pria itu adalah sosok yang baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebur terus berputar di dalam benakku.
" Kana, maafkan aku. Andai saja aku tidak mengantarnya ke toko itu, mungkin mamah tidak akan berakhir seperti ini " Ujar pak Yusuf sambil memulukku dengan begitu erat dan mulai menangis " Sekarang kau jadi sebatang kara "
" Semua bukan salahmu pak " Ujarku.
" Maafkan aku Kana "
Maut memang merupakan rahasia langit yang di jaga sangat erat oleh sang Maha Kuasa, bahkan tanda kehadirannya pun tidak di bocorkan sedikitpun oleh para penduduk langit kepada setiap manusia yang ada di bumi. Muncul secara tiba-tiba mungkin merupakan ciri khas darinya, sehingga banyak manusia yang tidak siap bertemu atau menerima dampak dari kemunculannya, termasuk diriku dan mungkin juga pak Yusuf.
" Pak, terima kasih karena telah menyampaikan amanah terakhir ibu kepadaku " Ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan agar pak Yusuf tidak terus menerus menyalahkan dirinya lagi. " Jika anda merasa bersalah, maka aku akan jauh lebih merasakan hal tersebut karena bagaimanapun, ibu tewas ketika berusaha mengabulkan keinginanku "
" Maafkan aku "
Tangis pria berusia empat puluh tahun itu perlahan mulai mereda, begitu juga dengan diriku. Rasa bersalah memang masih bersarang di lubuk hati ini, namun berlarut-larut dengan perasaan bersalah itu juga tidak akan membawakan hasil. Mungkin langkah pertama yang harus diri ini ambil setelah semua ini usai adalah berusaha memaafkan diri sendiri.
Para pelayat kian memenuhi rumah sempitku, lantunan ayat suci terus di kumandangkan oleh para hadirin, berharap iringan bacaan yang memang di gemari oleh sang Maha pencipta itu bisa mempermudah ibu ketika menghadapi alam baru yaitu alam kubur.
" Kau sudah tumbuh dewasa ya, Kana " Tiba-tina Seseorang memanggil namaku dari arah belakang, dan saat aku menoleh ke arah tersebut diri ini langsung merasa sangat kaget karena asal suara itu adalah lisan milik pria yang paling aku benci di dunia ini.
Ayah berdiri tepat di belakang punggung ini, matanya terpaku pada jasad ibu yang sudah siap di angkut ke tempat peristirahatan terakhirnya, pandangannya nampak kosong, tidak ada sedikitpun kesedihan yang terlihat di sana, seolah-olah kepergian ibu bukan kah sesuatu yang menyedihkan baginya.
" Apa yang kau lakukan disini " Ujarku dengan amat kesal
" Apa kah salah jika aku hadir di upacara pemakaman istri sendiri? " Ujarnya dengan begitu datar.
" Pergi, kau adalah orang yang dulu sering membuat ibuku menderita " Aku meneriakinya dengan begitu keras sehingga kami langsung menjadi pusat perhatian. Pak Rt yang semula tengah berbincang dengan para pelayat langsung menghampiri kami.
" Hoi, kau mengusirku dari rumah sendiri ? "
" Ini rumah ibuku, kau tidak memiliki hak apapun di sini jadi cepat pergi!! "
" Oh ya? Asal kau tau saja, sertifikat rumah ini menggunakan namaku, jadi aku lah yang memiliki rumah ini "
" Brengsek!! " Aku mengepal tinju dan langsung mengarahkannya ke perut bajingan itu, aku pun berhasil menyarangkan sebuah pukulan di perutnya.
" Kana, hentikan.." Ujar pak Rt.
" Apa kau sudah puas ? " Tanyanya
" Belum " Ujarku sambil mulai memukuli perutnya dengan sekuat tenaga.
" Apa ini sikap yang pantas untuk di terapkan pada acara pemakaman seseorang? " Ucapannya langsung membuatku sadar kalau aku sudah merusak kehidmatan prosesi pemakaman ibu. " Sekarang, apa aku boleh mendoakan istriku? "
Ayah melangkah mendekati jasad ibu, kemudian lisannya bergerak tanda jika dirinya tengah merapalkan doa. Entah mataku yang salah lihat atau memang ini kenyataan, ada beberapa air mata yang mengalir ke pipinya saat memandangi ibu.
" Kana tenangkan dirimu " Ujar pak RT sambil memenangi tanganku.
" Pak Roy, apa namuku masih ada di daftar penduduk Rt ini? " Tanya ayah kepada pak Rt.
" Tentu saja namamu masih ada pak Itsuki, mengapa kau menanyakan hal tersebut? " Tanya pak Rt.
" Kana, mulai sekarang aku lah yang akan merawatmu " Ujarnya dengan begitu santai. Ucapannya jelas membuatku kembali marah
" Apa kau pikir aku mau tinggal satu atap dengan sampah masyarakat sepertimu? "
" Oh, jadi kau mau apa setelah ini? Berhenti sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri lalu mengabaikan wasiat terakhir ibumu untuk terus belajar dengan giat? "
Ucapannya benar, aku memang belum memikirkan apa yang harus di lakukan setelah ini, memaafkan diri sendiri itu urusan hati, namun untuk urusan ragaku? jika aku sampai memilih jalan tersebut, maka ibu akan sangat kecewa ketika melihatku dari atas sana. Dilema pun muncul, tinggal dengan pria brengsek ini? Atau mengabaikan wasiat ibu?
" Terserah kau mau bilang apa, tapi aku sudah berjanji pada Ika untuk merawatmu jika sesuatu terjadi kepada dirinya " Ujarnya.
" Cukup! " Ujar pak Roy menghentikan perdebatan kami " Kalian bisa melanjutkan perdebatan ini usai bu Rika di kebumikan "
" Kau benar, maaf " Ujarku bersamaan dengan ayah.
Sial betapa bodohnya aku, malah berdebat di depan jasad ibu. " Maafkan aku bu "
Jasad ibu yang sudah di mandikan mulai di angkat ke mobil ambulace, ada begitu banyak orang yang hadir untuk menemui ibu untuk terakhir kalinya. Teman kerjanya, warga komplek, teman dan guruku dan masih banyak lagi.
Ibu adalah sosok yang begitu baik hati, sehingga kepergiannya membuat lubang yang mengaga di hati orang-orang yang dirinya tinggalkan. Banyak rekan kerjanya yang menangis tersedu-sedu sambil berkata " Mamah, kenapa kau pergi begitu cepat "
Mamah adalah panggilan untuk ibu di tempat kerjanya. Bagi sebagian orang di sana dia merupakan sosok yang sudah di anggap seperti ibu mereka sendiri. Dia selalu Memberi nasihat pada rekan kerjanya yang jauh lebih muda, menyemangati mereka yang lelah menghadapi dunia, serta menjadi motivasi tersendiri bagi para sopir busway yang memang mayoritas pria.
" Wanita sepertinya saja mampu untuk terus Berjuang, mengapa mereka tidak? ". Mungkin ungkapan seperti itu lah yang mereka bisikan dalam hati sehingga ibu layak di jadikan sosok panutan yang memberi banyak motivasi. Kegigihannya saat bekerja untuk menafkahi sang putri, membuat sopir lain merasa malu jika sampai mengeluh di hadapannya.
Ibu juga merupakan sosok yang sangat berarti bagi orang-orang di sekitarnya, maka wajar banyak yang menangis begitu keras saat jasadnya mulai di angkut ke pemakaman oleh mobil ambulan.
Ibu begitu peduli pada tetangga, dia juga aktif di PKK dan berbagai kegiatan Rt, banyak tetanggaku yang berkata jika kepergiannya akan sangat terasa. Tidak ada lagi sosok wanita yang begitu semangatnya memilih sampah plastik untuk di masukan ke bank sampah, tidak ada lagi sosok yang dengan begitu getolnya mengajak warga untuk kerja bakti, tidak ada lagi orang yang begitu sabarnya mendengar keluh kesah para ibu-ibu mengenai suami mereka sambil memberikan mereka beberapa saran.
Iring-iringan yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir sangat lah ramai, seakan-akan apa yang tengah orang-orang itu kawal adalah seorang pejabat, padahal dia hanya seorang supir busway yang baik hati.
Dulu ibu sering berkata " Kita terlahir dalam keadaan menangis, karena ruh yang ada dalam diri kita barulah beranjak dari alam lain ke alam dunia. Sementara itu orang-orang yang ada di sekitar kita akan tersenyum, karena akan ada satu manusia baru yang mewarnai hidup mereka "
Setelah menceritakan hal tersebut, ibu akan selalu mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku " Menurutmu, apa kah serakah itu perbuatan yang baik? "
" Tidak " Ujarku
" Ya, serakah itu adalah perbuatan yang buruk. Tapi ingat, ada satu keserakahan yang sangat di sukai oleh Tuhan, yaitu serakah dalam kebaikan. Jika di artikan secara simpel Hidup ini hanyalah tentang seberapa banyak orang yang tertawa bersama kita saat masih ada di dunia, dan seberapa banyak yang menangis saat kita pergi nanti "
Apa yang aku lihat sekarang adalah bentuk dari kesuksesannya dalam menerapkan arti simpel dari kehidupan yang sering lisannya ucapkan. Begitu banyak tangis yang mengiringi kepergiannya, dan sebagai mana yang aku tahu dia juga berhasil membuat banyak orang tertawa bersama saat nyawa masih melekat pada tubuhnya.
" Selamat bu, kau berhasil mewujudkan kata-katamu " Ujarku saat menemani jasadnya di ambulance.
Pesan tentang kehidupan yang dirinya berikan kepadaku tidak berhenti sampai di situ. Ibu juga sering mengatakan " Jadikan kehadiranmu sebagai penambah jumlah bilangan yang begitu besar di masyarakat, dan entah bagaimana caranya kepergianmupun harus menciptakan lubang besar yang mengaga di hati orang-orang yang kau tinggal "
Sekarang kepergianmu pun berhasil meninggalkan lubang besar di hati orang-orang yang kau jumpai. Aku, Teman-teman kerjamu, pak Rt, Pak Rw, ibu ketua PKK, pak Anton si penanggung jawab bank sampah, tetangga-tetangga kita, Sari si bungsu dari rumah sebelah, intan si sulung dari rumah depan gang yang sering curhat mengenai pacarnya, bahkan ayah. Di hati mereka sekarang terdapat lubang besar yang muncul setelah kepergianmu.
" Buat keadaan saat kita mati berkebalikan dengan keadaan saat kita di lahirkan. Semua orang menangisi kepergianmu, sementara kau tersenyum karena sang maut langsung menuntunmu kesurga. Ingat Kana, sosok tak kasat mata itu akan memperlakukanmu dengan baik jika timbagan kebaikan jauh lebih berat dari pada timbangan keburukan "
Itulah bait terakhir petuah yang lisannya sering ucapkan kepadaku. Ratusan bahkan mungkin ribuan kali aku mendengarnya, namun telinga ini tidak pernah merasa jenuh ketika rangkaian kalimat itu masuk dan tercerna oleh otakku.
" Selamat beristirahat dengan tenang bu " Bisikku dalam hati.
Komplek Pemakaman tempat ibu akan di kebumikan mulai terlihat dari balik kaca mobil ambulan yang aku tumpangi. Di mobil ini hanya ada aku, pak Rt dan si bedebah yang tiba-tiba muncul itu. Aku bersikeras agar ayah tidak ikut naik ke ambulan, bersamanya di sebuah lingkup kecil jelas membuatku sangat muak. Namun pak RT memintaku untuk menahan rasa benci ku terlebih dahulu, karena bagaimanapun ayah masih lah suami ibu, dan menemani sang istri menuju Liang lahat merupakan hak bagi seorang suami. Pada akhirnya akupun menuruti permintaan pak RT.
" Jadi, mulai sekarang kau lah yang akan merawat Kana? " Tanya pak RT yang memecah keheningan.
" Ya, aku lah yang akan merawatnya " Jawab ayah.
" Cih, apa kau pikir aku sudah sudi tinggal satu atap denganmu? " Ujarku dengan begitu kesal.
Sejujurnya aku masih ada di dalam sebuah diema. Apa yang harus diri ini lakukan setelah ibu meninggal? Meneruskan hidup itu pasti, tapi bagaimana caraku untuk melakukannya? Mencari nafkah sendiri merupakan sesuatu yang mustahil bagiku. Bagaimanapun orang-orang yang sudah mengantongi ijasah sarjana saja kesulitan mendapatkan pekerjaan di ibu kota, apa lagi diriku yang SMA saja belum lulus? Sementara itu di akhir hayatnya, ibu telah memintaku untuk terus belajar dengan giat, jika aku sampai mencoba untuk bekerja maka wasiat tersebut tidak akan pernah terjalankan dan dia pasti kecewa.
Aku tidak memiliki saudara di ibu kota, memang saat mengetahui kepergian ibu, ada banyak orang yang menawarkan diri untuk merawatku, tapi jika samapai hal tersebut terjadi maka secara tidak langsung aku akan menjadi beban tambahan bagi mereka. Kenalanku memang kondisi ekonominya mayoritas menengah ke bawah, jika ada satu orang lagi yang biaya hidupnya harus di tanggung, maka aku yakin mereka akan sangat terbebani. Bagaimanapun aku tidak mau menyusahkan orang lain.
Pilihan yang paling masuk akal saat ini adalah tinggal bersama bajingan ini. Hak asuhku sekarang sepenuhnya ada pada ayah, dia wajib menafkahiku mulai detik ini. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang apakah dia akan bertanggung jawab atas diriku? Sementara dulu dia tidak pernah sedikitpun mencarikan nafkah untuk ibu, sehingga wanita malang itu terpaksa bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.
Tadi dia memang berkata jika dirinya akan merawatku, apa ada maksud tersembunyi dalam niatannya itu? Apa mungkin dia hanya ingin menguasai rumah dan uang bela sungkawa dari kerabat ibu kemudian mengusir diri ini? Bagaimanapun gelagatnya terlihat seperti itu, dia muncul begitu saja saat istrinya telah tiada, mengaku akan merawatku padahal hal tersebut seharusnya ia lakukan sejak dulu sekali.
" Kana, bukan kah tidak sopan bicara seperti itu pada ayahmu? " Pak RT menegurku dengan begitu halus.
" Jika dia ayahku, seharusnya pria ini memenuhi kewajibannya, menafkahiku, tidak menyikasa ibuku dan menjadi tempat berlindung bagi diri ini. Kau tidak melakukan semua itu, jadi apa aku masih memiliki kewajiban untuk memenuhi haknya? "
" Apa maksudmu, bukan kah... "
" Maaf Pak Roy, bisa kita bahas ini nanti saja? Kasihan istriku karena harus mendengar perdebatan saat dirinya hendak di kebumikan " Ayah memotong ucapan pak RT.
" Seharusnya kau bersikap seperti itu dari dulu, bukan sekarang. Jika kau menjadi ayah yang benar dan mau mencari nafkah, maka ibu tidak akan berakhir seperti ini. " Aku membentaknya dengan begitu keras.
Sebuah truk mengalami rem blong dan
menabrak toko elektronik yang di dalamnya ada ibuku dengan kecepatan penuh. Tragedi itu pun langsung merenggut nyawa wanita yang sangat aku sayangi itu.
Aku tidak pernah menyangka jika pagi tadi merupakan pertemuan terakhirku dengan ibu. Aku tidak pernah mengira jika ucapan sampai jumpa kembali yang tadi lisan ini ucapkan tidak akan pernah terwujud karena bagaimanapun ibu tidak akan pernah kembali padaku.
Aku menagis terseduh seduh saat melihat jasadnya yang terbujur kaku di tengah ruang tamu rumah. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Mengapa tadi pagi aku tidak menolak saja tawarannya untuk membelikan diri ini laptop. Jika aku menolaknya mungkin ibu masih ada bersamaku dan tidak tertabrak oleh truk itu.
Aku terus menyalahkan diri sendiri, sambil menangis sekeras-kerasnya berharap Tuhan mengasihaniku kemudian memerintahkan sangat maut untuk menunda kematian ibu. Ruang tamu rumah kian ramai, banyak pelayat yang berdatangan hingga rumah sempit ini menjadi begitu sesak. Pak Rt yang merupakan kerabat terdekat ku terus menenangkan diri ini, sambil mengelus kepalaku dengan begitu lembut dan terus berkata " Ikhlaskan kepergian ibumu kana "
" Kana " Ujar pak Yusuf yang baru saja tiba di rumah, dia salah satu rekan kerja ibu yang ada di lokasi kejadian " Maaf aku agak telat, polisi memintaiku keterangan mengenai kejadian naas yang menimpa ibumu "
" Pak Yusuf, kenapa bisa jadi seperti ini? " Ujarku sambil menatapnya.
Pak Yusuf menghampiriku kemudian memberikan sebuah paper bagian berisi laptop sambil berkata " Ibumu menyuruhku memberikan laptop ini kepadamu "
" Ibuku? " Ujarku yang saat itu masih bergetar karena tidak menerima kenyataan yang harus diri ini alami.
" Saat dirinya terpental karena di hantam oleh truk. Dia masih tetap memeluk erat laptop ini, oleh sebab itu benda tersebut tidak rusak sedikitpun. Ketika aku menghampirinya, dia terus memintaku untuk menyerahkan benda ini kepada putrinya, padahal saat itu kondisi tubuhnya sangat lah parah "
" Bodoh, kenapa kau malah lebih mementingkan laptop ini dari pada nyawamu ? " Gumamku pelan.
" Dia menitip kan beberapa pesan untukmu, sebelum pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir " Ujar Pak Yusuf yang mananya mulai berkaca-kaca.
" Apa yang dia ucapkan? "
" Belajar lah dengan giat, aku mencintaimu dan....." Pesan pria itu membuatku semakin menangis, kenapa sempat-sempatnya dia mengingatkanku untuk belajar? Padahal dia sendiri sedang sekarat " Percayalah jika ayahmu adalah orang yang baik "
Aku terus memeluk laptop darinya itu, sambil memandangi jasadnya yang mulai di balut oleh kain kafan. Tadi ibu berjanji akan menjelaskan penyebab dirinya bisa selalu menganggap ayah baik, saat aku sudah siap mendengar ocehannya tentang pria brengsek itu, ibu malah harus pergi untuk selamanya dan memintaku untuk percaya jika pria itu adalah sosok yang baik di akhir hayatnya.
Aku tidak habis pikir, Mengapa wanita baik sepertinya harus meninggal dengan cara yang begitu tragis? Mengapa harus ibuku yang di jemput oleh sang maut lebih dahulu, padahal dia merupakan sosok yang sangat baik, kenapa bukan ayahku yang brengsek itu saja dan Mengapa dia masih saja berusaha meyakinkan diri ini jika pria itu adalah sosok yang baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebur terus berputar di dalam benakku.
" Kana, maafkan aku. Andai saja aku tidak mengantarnya ke toko itu, mungkin mamah tidak akan berakhir seperti ini " Ujar pak Yusuf sambil memulukku dengan begitu erat dan mulai menangis " Sekarang kau jadi sebatang kara "
" Semua bukan salahmu pak " Ujarku.
" Maafkan aku Kana "
Maut memang merupakan rahasia langit yang di jaga sangat erat oleh sang Maha Kuasa, bahkan tanda kehadirannya pun tidak di bocorkan sedikitpun oleh para penduduk langit kepada setiap manusia yang ada di bumi. Muncul secara tiba-tiba mungkin merupakan ciri khas darinya, sehingga banyak manusia yang tidak siap bertemu atau menerima dampak dari kemunculannya, termasuk diriku dan mungkin juga pak Yusuf.
" Pak, terima kasih karena telah menyampaikan amanah terakhir ibu kepadaku " Ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan agar pak Yusuf tidak terus menerus menyalahkan dirinya lagi. " Jika anda merasa bersalah, maka aku akan jauh lebih merasakan hal tersebut karena bagaimanapun, ibu tewas ketika berusaha mengabulkan keinginanku "
" Maafkan aku "
Tangis pria berusia empat puluh tahun itu perlahan mulai mereda, begitu juga dengan diriku. Rasa bersalah memang masih bersarang di lubuk hati ini, namun berlarut-larut dengan perasaan bersalah itu juga tidak akan membawakan hasil. Mungkin langkah pertama yang harus diri ini ambil setelah semua ini usai adalah berusaha memaafkan diri sendiri.
Para pelayat kian memenuhi rumah sempitku, lantunan ayat suci terus di kumandangkan oleh para hadirin, berharap iringan bacaan yang memang di gemari oleh sang Maha pencipta itu bisa mempermudah ibu ketika menghadapi alam baru yaitu alam kubur.
" Kau sudah tumbuh dewasa ya, Kana " Tiba-tina Seseorang memanggil namaku dari arah belakang, dan saat aku menoleh ke arah tersebut diri ini langsung merasa sangat kaget karena asal suara itu adalah lisan milik pria yang paling aku benci di dunia ini.
Ayah berdiri tepat di belakang punggung ini, matanya terpaku pada jasad ibu yang sudah siap di angkut ke tempat peristirahatan terakhirnya, pandangannya nampak kosong, tidak ada sedikitpun kesedihan yang terlihat di sana, seolah-olah kepergian ibu bukan kah sesuatu yang menyedihkan baginya.
" Apa yang kau lakukan disini " Ujarku dengan amat kesal
" Apa kah salah jika aku hadir di upacara pemakaman istri sendiri? " Ujarnya dengan begitu datar.
" Pergi, kau adalah orang yang dulu sering membuat ibuku menderita " Aku meneriakinya dengan begitu keras sehingga kami langsung menjadi pusat perhatian. Pak Rt yang semula tengah berbincang dengan para pelayat langsung menghampiri kami.
" Hoi, kau mengusirku dari rumah sendiri ? "
" Ini rumah ibuku, kau tidak memiliki hak apapun di sini jadi cepat pergi!! "
" Oh ya? Asal kau tau saja, sertifikat rumah ini menggunakan namaku, jadi aku lah yang memiliki rumah ini "
" Brengsek!! " Aku mengepal tinju dan langsung mengarahkannya ke perut bajingan itu, aku pun berhasil menyarangkan sebuah pukulan di perutnya.
" Kana, hentikan.." Ujar pak Rt.
" Apa kau sudah puas ? " Tanyanya
" Belum " Ujarku sambil mulai memukuli perutnya dengan sekuat tenaga.
" Apa ini sikap yang pantas untuk di terapkan pada acara pemakaman seseorang? " Ucapannya langsung membuatku sadar kalau aku sudah merusak kehidmatan prosesi pemakaman ibu. " Sekarang, apa aku boleh mendoakan istriku? "
Ayah melangkah mendekati jasad ibu, kemudian lisannya bergerak tanda jika dirinya tengah merapalkan doa. Entah mataku yang salah lihat atau memang ini kenyataan, ada beberapa air mata yang mengalir ke pipinya saat memandangi ibu.
" Kana tenangkan dirimu " Ujar pak RT sambil memenangi tanganku.
" Pak Roy, apa namuku masih ada di daftar penduduk Rt ini? " Tanya ayah kepada pak Rt.
" Tentu saja namamu masih ada pak Itsuki, mengapa kau menanyakan hal tersebut? " Tanya pak Rt.
" Kana, mulai sekarang aku lah yang akan merawatmu " Ujarnya dengan begitu santai. Ucapannya jelas membuatku kembali marah
" Apa kau pikir aku mau tinggal satu atap dengan sampah masyarakat sepertimu? "
" Oh, jadi kau mau apa setelah ini? Berhenti sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri lalu mengabaikan wasiat terakhir ibumu untuk terus belajar dengan giat? "
Ucapannya benar, aku memang belum memikirkan apa yang harus di lakukan setelah ini, memaafkan diri sendiri itu urusan hati, namun untuk urusan ragaku? jika aku sampai memilih jalan tersebut, maka ibu akan sangat kecewa ketika melihatku dari atas sana. Dilema pun muncul, tinggal dengan pria brengsek ini? Atau mengabaikan wasiat ibu?
" Terserah kau mau bilang apa, tapi aku sudah berjanji pada Ika untuk merawatmu jika sesuatu terjadi kepada dirinya " Ujarnya.
" Cukup! " Ujar pak Roy menghentikan perdebatan kami " Kalian bisa melanjutkan perdebatan ini usai bu Rika di kebumikan "
" Kau benar, maaf " Ujarku bersamaan dengan ayah.
Sial betapa bodohnya aku, malah berdebat di depan jasad ibu. " Maafkan aku bu "
Jasad ibu yang sudah di mandikan mulai di angkat ke mobil ambulace, ada begitu banyak orang yang hadir untuk menemui ibu untuk terakhir kalinya. Teman kerjanya, warga komplek, teman dan guruku dan masih banyak lagi.
Ibu adalah sosok yang begitu baik hati, sehingga kepergiannya membuat lubang yang mengaga di hati orang-orang yang dirinya tinggalkan. Banyak rekan kerjanya yang menangis tersedu-sedu sambil berkata " Mamah, kenapa kau pergi begitu cepat "
Mamah adalah panggilan untuk ibu di tempat kerjanya. Bagi sebagian orang di sana dia merupakan sosok yang sudah di anggap seperti ibu mereka sendiri. Dia selalu Memberi nasihat pada rekan kerjanya yang jauh lebih muda, menyemangati mereka yang lelah menghadapi dunia, serta menjadi motivasi tersendiri bagi para sopir busway yang memang mayoritas pria.
" Wanita sepertinya saja mampu untuk terus Berjuang, mengapa mereka tidak? ". Mungkin ungkapan seperti itu lah yang mereka bisikan dalam hati sehingga ibu layak di jadikan sosok panutan yang memberi banyak motivasi. Kegigihannya saat bekerja untuk menafkahi sang putri, membuat sopir lain merasa malu jika sampai mengeluh di hadapannya.
Ibu juga merupakan sosok yang sangat berarti bagi orang-orang di sekitarnya, maka wajar banyak yang menangis begitu keras saat jasadnya mulai di angkut ke pemakaman oleh mobil ambulan.
Ibu begitu peduli pada tetangga, dia juga aktif di PKK dan berbagai kegiatan Rt, banyak tetanggaku yang berkata jika kepergiannya akan sangat terasa. Tidak ada lagi sosok wanita yang begitu semangatnya memilih sampah plastik untuk di masukan ke bank sampah, tidak ada lagi sosok yang dengan begitu getolnya mengajak warga untuk kerja bakti, tidak ada lagi orang yang begitu sabarnya mendengar keluh kesah para ibu-ibu mengenai suami mereka sambil memberikan mereka beberapa saran.
Iring-iringan yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir sangat lah ramai, seakan-akan apa yang tengah orang-orang itu kawal adalah seorang pejabat, padahal dia hanya seorang supir busway yang baik hati.
Dulu ibu sering berkata " Kita terlahir dalam keadaan menangis, karena ruh yang ada dalam diri kita barulah beranjak dari alam lain ke alam dunia. Sementara itu orang-orang yang ada di sekitar kita akan tersenyum, karena akan ada satu manusia baru yang mewarnai hidup mereka "
Setelah menceritakan hal tersebut, ibu akan selalu mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku " Menurutmu, apa kah serakah itu perbuatan yang baik? "
" Tidak " Ujarku
" Ya, serakah itu adalah perbuatan yang buruk. Tapi ingat, ada satu keserakahan yang sangat di sukai oleh Tuhan, yaitu serakah dalam kebaikan. Jika di artikan secara simpel Hidup ini hanyalah tentang seberapa banyak orang yang tertawa bersama kita saat masih ada di dunia, dan seberapa banyak yang menangis saat kita pergi nanti "
Apa yang aku lihat sekarang adalah bentuk dari kesuksesannya dalam menerapkan arti simpel dari kehidupan yang sering lisannya ucapkan. Begitu banyak tangis yang mengiringi kepergiannya, dan sebagai mana yang aku tahu dia juga berhasil membuat banyak orang tertawa bersama saat nyawa masih melekat pada tubuhnya.
" Selamat bu, kau berhasil mewujudkan kata-katamu " Ujarku saat menemani jasadnya di ambulance.
Pesan tentang kehidupan yang dirinya berikan kepadaku tidak berhenti sampai di situ. Ibu juga sering mengatakan " Jadikan kehadiranmu sebagai penambah jumlah bilangan yang begitu besar di masyarakat, dan entah bagaimana caranya kepergianmupun harus menciptakan lubang besar yang mengaga di hati orang-orang yang kau tinggal "
Sekarang kepergianmu pun berhasil meninggalkan lubang besar di hati orang-orang yang kau jumpai. Aku, Teman-teman kerjamu, pak Rt, Pak Rw, ibu ketua PKK, pak Anton si penanggung jawab bank sampah, tetangga-tetangga kita, Sari si bungsu dari rumah sebelah, intan si sulung dari rumah depan gang yang sering curhat mengenai pacarnya, bahkan ayah. Di hati mereka sekarang terdapat lubang besar yang muncul setelah kepergianmu.
" Buat keadaan saat kita mati berkebalikan dengan keadaan saat kita di lahirkan. Semua orang menangisi kepergianmu, sementara kau tersenyum karena sang maut langsung menuntunmu kesurga. Ingat Kana, sosok tak kasat mata itu akan memperlakukanmu dengan baik jika timbagan kebaikan jauh lebih berat dari pada timbangan keburukan "
Itulah bait terakhir petuah yang lisannya sering ucapkan kepadaku. Ratusan bahkan mungkin ribuan kali aku mendengarnya, namun telinga ini tidak pernah merasa jenuh ketika rangkaian kalimat itu masuk dan tercerna oleh otakku.
" Selamat beristirahat dengan tenang bu " Bisikku dalam hati.
Komplek Pemakaman tempat ibu akan di kebumikan mulai terlihat dari balik kaca mobil ambulan yang aku tumpangi. Di mobil ini hanya ada aku, pak Rt dan si bedebah yang tiba-tiba muncul itu. Aku bersikeras agar ayah tidak ikut naik ke ambulan, bersamanya di sebuah lingkup kecil jelas membuatku sangat muak. Namun pak RT memintaku untuk menahan rasa benci ku terlebih dahulu, karena bagaimanapun ayah masih lah suami ibu, dan menemani sang istri menuju Liang lahat merupakan hak bagi seorang suami. Pada akhirnya akupun menuruti permintaan pak RT.
" Jadi, mulai sekarang kau lah yang akan merawat Kana? " Tanya pak RT yang memecah keheningan.
" Ya, aku lah yang akan merawatnya " Jawab ayah.
" Cih, apa kau pikir aku sudah sudi tinggal satu atap denganmu? " Ujarku dengan begitu kesal.
Sejujurnya aku masih ada di dalam sebuah diema. Apa yang harus diri ini lakukan setelah ibu meninggal? Meneruskan hidup itu pasti, tapi bagaimana caraku untuk melakukannya? Mencari nafkah sendiri merupakan sesuatu yang mustahil bagiku. Bagaimanapun orang-orang yang sudah mengantongi ijasah sarjana saja kesulitan mendapatkan pekerjaan di ibu kota, apa lagi diriku yang SMA saja belum lulus? Sementara itu di akhir hayatnya, ibu telah memintaku untuk terus belajar dengan giat, jika aku sampai mencoba untuk bekerja maka wasiat tersebut tidak akan pernah terjalankan dan dia pasti kecewa.
Aku tidak memiliki saudara di ibu kota, memang saat mengetahui kepergian ibu, ada banyak orang yang menawarkan diri untuk merawatku, tapi jika samapai hal tersebut terjadi maka secara tidak langsung aku akan menjadi beban tambahan bagi mereka. Kenalanku memang kondisi ekonominya mayoritas menengah ke bawah, jika ada satu orang lagi yang biaya hidupnya harus di tanggung, maka aku yakin mereka akan sangat terbebani. Bagaimanapun aku tidak mau menyusahkan orang lain.
Pilihan yang paling masuk akal saat ini adalah tinggal bersama bajingan ini. Hak asuhku sekarang sepenuhnya ada pada ayah, dia wajib menafkahiku mulai detik ini. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang apakah dia akan bertanggung jawab atas diriku? Sementara dulu dia tidak pernah sedikitpun mencarikan nafkah untuk ibu, sehingga wanita malang itu terpaksa bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.
Tadi dia memang berkata jika dirinya akan merawatku, apa ada maksud tersembunyi dalam niatannya itu? Apa mungkin dia hanya ingin menguasai rumah dan uang bela sungkawa dari kerabat ibu kemudian mengusir diri ini? Bagaimanapun gelagatnya terlihat seperti itu, dia muncul begitu saja saat istrinya telah tiada, mengaku akan merawatku padahal hal tersebut seharusnya ia lakukan sejak dulu sekali.
" Kana, bukan kah tidak sopan bicara seperti itu pada ayahmu? " Pak RT menegurku dengan begitu halus.
" Jika dia ayahku, seharusnya pria ini memenuhi kewajibannya, menafkahiku, tidak menyikasa ibuku dan menjadi tempat berlindung bagi diri ini. Kau tidak melakukan semua itu, jadi apa aku masih memiliki kewajiban untuk memenuhi haknya? "
" Apa maksudmu, bukan kah... "
" Maaf Pak Roy, bisa kita bahas ini nanti saja? Kasihan istriku karena harus mendengar perdebatan saat dirinya hendak di kebumikan " Ayah memotong ucapan pak RT.
" Seharusnya kau bersikap seperti itu dari dulu, bukan sekarang. Jika kau menjadi ayah yang benar dan mau mencari nafkah, maka ibu tidak akan berakhir seperti ini. " Aku membentaknya dengan begitu keras.
scorpiolama dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup