- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
...
TS
nyunwie
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Quote:
Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
Spoiler for They don’t give you a right:
Diubah oleh nyunwie 31-10-2020 20:09
umbhelijo35 dan 120 lainnya memberi reputasi
115
246.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nyunwie
#387
Part 46-a
"Oh ya, by the way kamu kesini ngapain? Gak mungkin kan kamu kesini iseng doang?" Tanya Melodi selepas makan.
"Mungkin ajah, dong? Kamu ajah kesini iseng doang kan? Nungguin jam pulang."
Melodi sedikit tertawa, lalu dia memasang senyum di wajahnya, yang jujur sedikit gue rindukan. "Kamu banyak berubah, yah…"
"Power ranger kali, ah. Berubah."
"Hahaha, aku tau kok kamu bohong, Wid. Aku tau kamu baru ajah di-drop out dari sekolah. Aku juga tau kamu kesini nunggu siapa…"
"Ouhhhhh. Masih intens komunikasi sama Karina?" Sambar gue.
"See, kamu pinter banget, alus banget kalo mau ngalihin omongan. Kalo ajah aku gak kenal kamu udah cukup lama aku pasti gak akan tau kalo kamu lagi nyoba buat alihin pembicaraan yang engga kamu suka."
"Hahaha, aku gak tau, Mel. Rasanya kaya males aja buat…"
"Aku paham, Wid. Aku gak akan judge kamu, apapun yang kamu lakuin yang sampe bikin kamu di-DO, aku percaya kalo kamu sebenernya engga pengen kaya begini. Aku juga hargain kalo kamu emang gak mau sharing sama aku…"
"Bukan engga mau, Mel. Aku udah bilang kan aku gak tau, kaya males gitu ngomongin ini." Sambar gue.
"Okeh. Aku paham, Wid." Sahut Melodi bersamaan dengan panggilan telepon masuk dari Karina di ponsel gue. "Karina?" Tanya Melodi. Gue menganggukan kepala. "Jangan bilang dia kalo kamu lagi sama aku, Wid." Lanjut Melodi.
"Loh kenapa?" Tanya gue. Melodi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan gue. "Oh oke." Lanjut gue lalu menjawab panggilan masuk dari Karina.
"Lo dimana?" Tanya Karina di ujung Telepon.
"Menurut lo?" Tanya Balik gue.
"Okeh, gue lagi cari parkir sebentar." Sahut Karina.
"Hmmmm." Gue bergumam lalu mengakhiri panggilan masuknya. "So, kamu bohong. Kamu gak telat sekolah, kan?" Tanya gue pada Melodi.
"Aku cuma mau liat kamu baik-baik ajah. Aku sedikit panik denger kabar dari Karina." Jawab Melodi.
"Terus menurut kamu, aku sekarang gimana?"
"Kayanya seharusnya aku yakin ajah dari awal kalo kamu baik-baik ajah." Jawab Melodi dan gue mengerti maksudnya.
"Gak apa-apa, Mel. Soal Gladys, jangan ngerasa bersalah." Sahut gue.
"Yaudah kamu samperin Karina sana. Nanti dia malah muter kesini."
"Yaudah, kamu hati-hati pulangnya, yah. Salam sama semuanya." Sahut gue sambil beranjak dari duduk.
Melodi menganggukan kepala sambil tersenyum, "Take care bebh." Ucap Melodi gue hanya membalasnya dengan senyum lalu pergi meninggalkan Melodi seorang diri.
"No more hurt today!" Ucap gue dalam hati.
Saat gue berjalan menuju ke tempat dimana gue akan bertemu dengan Karina, ponsel gue kembali berdering oleh panggilan masuk dari Karina. "Manaa?" Tanya Karina saat gue menjawab panggilannya.
"Sabar, gue kencing dulu."
"Lama!"
"Dih, elu yang lama."
"Buruan."
"Rewel!"
"Bodo, lo emang harus direwelin kadang."
"Bawel yee, nih gue di belakang lo!" Sahut gue saat tiba di tempat yang dimaksud.
Gue melihat Karina menoleh ke belakang, ke arah gue datang. Dia lalu mengakhiri panggilan teleponnya. "Lho, Melodinya mana?" Tanya Karina saat gue tiba menghampirinya.
"Lah Melodi dari mana?" Tanya balik gue.
"Udahlah, Le. Pacar lo barusan nanya sama gue, lo katanya lagi sama cewe rada chinese di restoran jepang di atas. Siapa lagi kalo bukan cewe yang rada chinese yang kemungkinan makan sama lo, di restoran Jepang kalo bukan Melodi. Lagian kok lo bisa jalan sama Melodi, sih?"
"Lah, elu ngapain cerita sama dia?" Sahut gue.
"Cerita? Cerita apa? Gue gak pernah cerita apapun tentang lo sama dia. Sumpah!" Sahut Karina.
"Lah, kambing! Diboongin dong gue?"
"Kayanya sih begitu. Lagi lo kenapa percaya, sih? Gue ajah dulu kan salah satu orang yang nganjurin lo berdua putus, ngapain juga gue masih jadi satelitnya dia, sia-sia dong!"
"Iya juga, sih. Jadi dulu selama gue pacaran sama dia, lo jadi satelitnya dia gitu? Pantesan."
"Udahlah, gak usah ngorek yang udah. Sini duduk!" Ucap Karina, lalu gue duduk di bangku yang ada di sebuah taman yang berada di area ini. "Lo kenapa sih, Le?" Tanya Karina saat gue duduk di sebelahnya.
"Kenapa apanya?"
"Le… gue tau lo paham maksud pertanyaan gue."
"Yah begitulah, lo juga udah pasti tau kenapa, kan!?"
"I know, lo di-DO gara-gara tawuran gue tau, Le. Yang engga gue paham, kenapa lo ngelakuin hal itu? Hal yang jelas-jelas bisa bikin lo di-DO."
"Bukan bisa lagi, sih. Tapi udah, hahaha." Sahut gue.
"Le, that is not funny. Sumpah, Le! Gak lucu sama sekali. Lo mikir gak ini udah bulan apa? Udah mau akhir semester, semester akhir. Le, apa ada sekolahan yang mau nerima murid pindahan saat ini, apalagi lo pindah karena di-DO gini."
"Haaah…" Gue menghela nafas sejenak.
"Apalagi Aini ngomong sama gue kalo Ibu lo marah besar. Udah gak mau ngurusin lo lagi katanya. Lo gimana selanjutnya, Le?"
"Haaah…" Gue menghela nafas lagi.
"Le, gue gak mau denger lo ngomong gak tau, ya!"
"Haaah…"
"LE! Apa sebodoh ini cuma haah heeh haah hee ajah?"
"Karina! Nafas itu bukan suatu kebodohan, bayangin gak sih kalo lo berenti nafas gimana?"
"You're so stupid idiots person I know"
"Buahahahah, udah stupid, idiot pula. Parah banget lo nganggep gue begitu."
"Memang kenyataannya! Kalo lo bukan orang yang stupid bin idiot. Lo gak bakal tawuran-tawuran begitu. Apa tuh begitu, sok jagoan! Biar apa? Biar orang-orang takut sama lo? Bodoh! Lo berubah, Le! Tole yang gue kenal itu gak pernah sependek ini dalam berpikir. Tole yang gue kenal itu selalu mikir panjang, bukan Tole yang arogan yang sok jagoan kaya sekarang. Dari awal gue gak ngerti buat apa lo masuk sekolah itu yang jelas-jelas reputasinya jelek, yang jelas-jelas udah terkenal tawuran mulu. Gue gak ngerti apa yang lo mau buktiin, apa yang pengen lo unjukin, gue gak ngerti…"
"Karena emang lo gak pernah ngerti, Karina!" Sambar gue sambil merangkul pundaknya. "Sebelumnya lo harus tau, sekolah gue itu keren. Reputasinya engga jelek, cuma sejarahnya ajah dulu anak-anaknya hobi tawuran sampe image-nya begitu. Tapi yang harus lo tau, kepala sekolah, dan guru-gurunya, mereka struggling buat ngeubah stigma itu. Kalo pun gue hari ini di-DO yah itu salah satu cara mereka struggling buat merubah stigma itu. Dan ini salah gue, gue ceroboh. Gue akuin itu, tapi ini juga bukan soal gue sok jagoan atau apa, Karina. Dan gue rasa gue udah pernah cerita sama lo gimana masa kecil gue sampe gue ketemu lo. Ketemu kalian. Gue ngerasa ya memang seperti itu habitat gue seharusnya, tapi sekali lagi harus gue akuin kalo gue salah. Manusia tumbuh dan berkembang, gue udah bukan lagi makhluk dalam ekosistem yang seperti itu. Ini sepenuhnya salah gue dan walaupun emang kenyataannya saat ini gue bener-bener gak tau harus gimana kedepannya, tapi gue bakal terima semua konsekuensinya, gue bakal baik-baik ajah dan gue pasti belajar banyak dari ini semua."
"Le, sorry." Ucap Karina lalu menaruh kepalanya di pundak gue. "Maaf kalo gue nge-judge lo begini. Gue cuma khawatir."
"Itu bukan cuma, Karina. Io dan semuanya. Kalian yang bikin gue paham kalo gue gak sendirian di dunia ini. Thank you."
Karina menganggukan kepalanya, sedikit menggusal yang kalau gue yakin Nata melihatnya dia langsung akan menjambak rambut gue. "Yaudah abis ini lo samperin Kak Gladys, yah. Lo jelasin apa yang terjadi." Ucap Karina.
"Emmmppp… kayanya not the day, deh."
"Lho, kenapa?" Tanya Karina sambil mengangkat kepalanya dari pundak gue.
"Gak tau, gue ngerasa kayanya gue gak sanggup lagi sama dia. Mungkin emang banyak jarak antara gue sama Gladys yang entah gimana gue ngerasa kalo gue lanjutin ujungnya cuma bakal sama kaya gue dan Melodi." Jawab gue.
"Jadi lo mau udahin ajah sama Kak Gladys?" Tanya Karina lagi.
"Entahlah, jujur. Gue sayang bangen sama dia, banget!"
"Ishh lo gimana, sih. Le!"
"Yah begitulah, namanya juga anak muda. Hahahaha."
Langit sudah berubah gelap saat gue dan Karina memutuskan untuk berpisah, dia pulang kerumahnya sementara gue entah mau kemana. Gue merasa ingin sendirian tapi di saat yang bersamaan gue ingin ada seseorang yang menemani kesendirian gue tapi juga gue tidak tahu siapa orang yang gue inginkan untuk menemani gue.
Lalu gue membuka daftar kontak yang ada di ponsel gue, gue melihatnya satu persatu dan kemudian jempol gue berhenti saat tiba di sebuah nama yang namai dengan Pooh. Gue pun menekan tombol hijau untuk menghubunginya.
"Le…" Suara perempuan terdengar menjawab panggilan masuk gue.
"Kamu dimana, Ar?" Tanya gue.
"Di rumah, Aini ka…"
"Ngomongin aku?" Sambar gue.
"Sedikit, kamu gimana?" Tanya Arumi.
"Aku gak apa-apa, Ar."
"Le, Bu Dewi marah banget sama kamu. Tadi dia ngomong udah bener-bener lepas tangan sama kamu. Dia bilang…"
"Gak apa-apa, Ar. Wajar Ibu marah begitu. Aku emang salah. Jadi udah sepantasnya kaya gini." Sambar gue.
"Terus kamu gimana? Mau sekolah di mana? Terus gimana caranya?" Tanya Arumi.
"Gampang, gak usah kamu pikirin. Itu masalah kecil. Aku mau ketemu kamu bisa?"
"Yaudah kamu dimana?"
"Ketemuan di Tebet ajah." Jawab gue lalu memberitahu tempat detailnya pada Arumi.
"Yaudah aku ke sana."
"Nanti, setengah jam dari sekarang baru kamu jalan."
"Okeh."
"Okeh." Sahut gue lalu mengakhiri panggilan telepon gue.
Dari tempat gue bertemu dengan Karina, gue langsung berangkat ke salah satu cafe yang ada di Tebet. Jaraknya memang tidak terlalu jauh tapi waktu tempuh Kuningan-Tebet akan menjadi dua kali lipat dari seharusnya di hari kerja setelah magrib terlebih lagi gue menggunakan angkutan umum.
Dan dugaan gue tepat, gue tiba setelah 50 menit berada di dalam mikrolet yang super penuh. Setelah gue turun dari angkot, gue memeriksa ponsel gue. Tidak ada notifikasi dari Arumi, gue berkesimpulan Arumi belum datang.
Lalu gue berjalan kaki dari tempat gue turun angkot ke cafe yang gue maksud, dan saat gue tiba di depan cafe tersebut gur berpapasan dengan Arumi yang baru saja turun dari motor yang dikendarai seorang laki-laki seusia gue yang sudah tidak asing di mata gue. Orang yang sama yang menjemput Arumi saat dia berada di rumah gue kala itu.
Arumi melambaikan tangannya ke arah gue, dia lalu berbicara dengan laki-laki itu kemudian laki-laki itu pergi menggunakan sepeda motornya. Lalu Arumi menghampiri gue, "lo masih pacaran sama dia?" Tanya gue sedikit menyentak.
"Kok kasar nanyanya? Kamu ajah masih pacaran sama pacar kamu."
"Putusin pacar lo!" Sahut gue.
"Itu gampang, kamu putusin pacar kamu sekarang, aku bakal putusin dia juga sekarang, gimana?"
"..." Gue berdiam diri.
"Diem, gak berani? Le, bukannya aku engga ngehargain apa yang kamu lakuin sama aku. Tapi kalo emang kamu sayang beneran sama aku. Jadiin aku satu-satunya, aku juga perempuan biasa yang engga mau jadi yang kedua gitu ajah. Selama kamu engga bisa jadiin aku satu-satunya, berarti aku juga bebas pacaran sama siapa ajah. Toh, aku juga lebih ngutamain kamu dari pada pacar aku."
"Yaudah ngobrol di dalem ajah, gak enak diliatin orang." Sahut gue.
"Kamu yang mulai!"
Gue lalu menggandeng Arumi masuk ke dalam cafe ini, memesan makanan terlebih dahulu di meja pemesanan lalu membawa nomer yang diberikan pelayan ke meja yang akan gue dan Arumi duduki.
"Le, aku mau nanya sekali lagi. Kamu mau pindah sekolah kemana? Kata cowo aku ada sekolah swasta yang jurusannya sama kaya kamu di Halim…"
"Tau." Sambar gue.
"Kamu mau pindah kesana?" Tanya Arumi.
"Engga!"
"Terus mau kemana?"
"Au!"
"Bisa gak usah marah-marah gitu, gak?"
"Lo paham gak sih perasaan gue pas liat lo sama cowo lo tadi?"
"Apa lo juga paham perasaan gue saat gue tau lo nginep terus di tempat cewe lo, hah?" Sahut Arumi sedikit menunjukan emosinya. "Kamu egois, Le!" Lanjut Arumi lalu gue melihat air mata mengalir di dinding hidungnya.
Gue meraih wajahnya, mengusap air mata yang mengalir di wajahnya Arumi. Gue sadar gue egois, tapi ada hal yang tidak bisa gue jelaskan pada Arumi saat ini. "Maaf, Ar. Aku kebawa emosi." Ucap gue lalu Arumi menganggukan kepalanya.
Tidak lama makanan pesanan gue dan Arumi datang. Gue dan Arumi langsung memakannya, dan tidak ada pembicaraan apapun selama gue dan dia memakan makanan yang ada di hadapan kami.
"Minggu depan rencananya aku ke Kebumen, aku mau minta tolong bude aku yang disana nanti buat daftarin aku sekolah. Nanti sebelum aku jalan aku kasih kamu uang buat keperluan kamu." Ucap gue setelah selesai makan.
Arumi menganggukan kepalanya.
"Aku gak tau, tapi kayanya aku harus ngulang lagi dari kelas satu, karena engga mungkin kalo pindah langsung kelas dua juga, kan."
Arumi menganggukan kepalanya lagi.
"Ar, do you have something…"
"Kamu jangan ngomong Bahasa Inggris sama aku. Aku bukan pacar kamu yang Bahasa Inggrisnya was-wes-wos. Terjemahin lagu ajah aku harus satu-satu, kalo mau cepet aku ke warnet. Aku emang engga sepinter pacar kamu, aku juga gak secantik pacar kamu, aku juga…"
"Heeehhh, Ar! Kamu apa, sih. Manjang begini."
"Lagian kamu! Nyama-nyamain aku sama pacar kamu!"
"What the… haaahhhh…" Gue menghela nafas, "Ar, aku udah putus sama Gladys. Asal kamu tau!"
"Haah? Serius? Demi apa?" Tanya Arumi sedikit terkejut.
"Perlu banget aku sumpah?"
"Perlu!"
"Hmmm… intinya tadi aku gak sengaja ketemu Melodi terus aku gak tau kenapa tiba-tiba Gladys ada disitu. Dia marah bahkan sampe teriak-teriak depan umum gitu abis itu pergi gitu ajah tanpa sempet aku jelasin dulu."
"Ohh jadi kamu masih jalan sama mantan kamu?"
"Ar? Kamu denger apa yang aku…"
"Iya aku denger, kamu ketemu Melodi, kan? MANTAN KAMU!"
"Aku ngomong panjang tapi yang kamu denger cuma aku ketemu Melodi, Ar?"
"Ahh tau ahh, pusing aku…"
"Pusing?"
"Udah ah kamu mau kemana abis ini, masih mau aku temenin apa gimana?"
"Udah udah cukup, kita balik ajah."
"Oh yaudah, lagian aku ngantuk." Sahut Arumi yang membuat gue hanya bisa menghela nafas lagi dan lagi.
Lalu gue beranjak dari cafe ini, di depan cafe gue menyetop sebuah taksi, kemudian gue membuka pintunya dan mempersilahkan Arumi masuk ke dalamnya. "Pak, tolong anterin pacar saya ke blablabal (gue menyebutkan alamat rumah Arumi). Kembaliannya ambil ajah, Pak." Ucap gue pada supir taksi lalu memberikan uang pecahan seratus ribu.
"Loh katanya kamu mau pulang?" Tanya Arumi sambil mencoba turun dari mobil.
"Udah kamu pulang duluan, aku mau ketemu Nata dulu."
"Gak aku temenin?" Tanya Arumi.
"Hmmmm, next time ajah."
"Kenapa? Takut temen kamu tau kalo kamu ada hubungan sama aku? Takut temen kamu ngasih tau pacar kamu!?"
"Pak jalan, pak. Hati-hati." Ucap gue lalu menutup pintu taksi itu lalu berjalan cepat meninggalkannya.
"Gila, pecah pala gue!" Gumam gue dalam hati sambil terus melangkahkan kaki gue ke arah rumah Abdul.
It's something unpredictabel but in end that's right I hope you had the time of your life.
Satu jam kemudian gue tengah memasang beberapa poster band rock legendaris di sebuah kamar kos yang begitu mewah, bahkan lebih mewah dari kamar kos yang ditempati Alodya, sebuah kamar kos yang rasanya sekelas kamar hotel berbintang.
"Pasang dimane, Nge?" Tanya gue pada pemilik kos ini, Nata.
"Di situ ae, Nge. Belakang monitor." Jawab Nata.
"Yang ini, Nge?" Tanya Abdul pada Nata.
"Situ ae, Nge." Nata menunjuk ke arah pintu kamar mandi.
"Kamar mandi, Nge?" Tanya Abdul memastikan.
"Menurut lo? Yakali di kamar mandi, Su! Samping pintu, TOT!"
"Santai aje, Tot!" Sahut Abdul dan gue hanya menggelengkan kepala sambil mendengarkan mereka.
"Haaahh…" Gue menghembuskan nafas panjang sambil melihat wajah J. Morrison dalam poster The Doors yang baru saja gue tempel di dinding kamar kos ini. Beberapa detik terdiam lalu gue menoleh kebelakang. Ternyata Abdul dan Nata memandangi gue dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Whats wrong?" Tanya gue.
"Liat, Dul! Temen lo yang baru ajah di-DO mukanya. Jelek anying!" Ucap Nata.
"Hahahahahah." Abdul tertawa.
"Yee, bangek!" Sahut gue sambil mencoba menendang Nata namun dia menghindar. "Kek lo ganteng ajah, Njir!"
"Ganteng lah gue, kalo engga gak mungkin dua cewe cakep nyantol, iye gak!?" Sahut Nata.
"Emmmppp penyakit." Sahut gue sambil melirik Abdul, "Gegayaan gue kelarin nih." Lanjut gue.
"Hahahahaa. Gak ikutan gue" Sahut Abdul.
"Yee kambing! Rusuh pekok!" Sahut Nata lalu dia berjalan ke arah lemari yang ada di kamar ini, membukanya lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari itu. "Pesta kita ngerayain keberhasilan Tole di-DO, hahaha." Ucap Nata sambil menggoyangkan sebotol vodka, menunjukannya pada Gue dan Abdul.
"SETANNNNN!" Celetuk gue.
"Mungkin ajah, dong? Kamu ajah kesini iseng doang kan? Nungguin jam pulang."
Melodi sedikit tertawa, lalu dia memasang senyum di wajahnya, yang jujur sedikit gue rindukan. "Kamu banyak berubah, yah…"
"Power ranger kali, ah. Berubah."
"Hahaha, aku tau kok kamu bohong, Wid. Aku tau kamu baru ajah di-drop out dari sekolah. Aku juga tau kamu kesini nunggu siapa…"
"Ouhhhhh. Masih intens komunikasi sama Karina?" Sambar gue.
"See, kamu pinter banget, alus banget kalo mau ngalihin omongan. Kalo ajah aku gak kenal kamu udah cukup lama aku pasti gak akan tau kalo kamu lagi nyoba buat alihin pembicaraan yang engga kamu suka."
"Hahaha, aku gak tau, Mel. Rasanya kaya males aja buat…"
"Aku paham, Wid. Aku gak akan judge kamu, apapun yang kamu lakuin yang sampe bikin kamu di-DO, aku percaya kalo kamu sebenernya engga pengen kaya begini. Aku juga hargain kalo kamu emang gak mau sharing sama aku…"
"Bukan engga mau, Mel. Aku udah bilang kan aku gak tau, kaya males gitu ngomongin ini." Sambar gue.
"Okeh. Aku paham, Wid." Sahut Melodi bersamaan dengan panggilan telepon masuk dari Karina di ponsel gue. "Karina?" Tanya Melodi. Gue menganggukan kepala. "Jangan bilang dia kalo kamu lagi sama aku, Wid." Lanjut Melodi.
"Loh kenapa?" Tanya gue. Melodi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan gue. "Oh oke." Lanjut gue lalu menjawab panggilan masuk dari Karina.
"Lo dimana?" Tanya Karina di ujung Telepon.
"Menurut lo?" Tanya Balik gue.
"Okeh, gue lagi cari parkir sebentar." Sahut Karina.
"Hmmmm." Gue bergumam lalu mengakhiri panggilan masuknya. "So, kamu bohong. Kamu gak telat sekolah, kan?" Tanya gue pada Melodi.
"Aku cuma mau liat kamu baik-baik ajah. Aku sedikit panik denger kabar dari Karina." Jawab Melodi.
"Terus menurut kamu, aku sekarang gimana?"
"Kayanya seharusnya aku yakin ajah dari awal kalo kamu baik-baik ajah." Jawab Melodi dan gue mengerti maksudnya.
"Gak apa-apa, Mel. Soal Gladys, jangan ngerasa bersalah." Sahut gue.
"Yaudah kamu samperin Karina sana. Nanti dia malah muter kesini."
"Yaudah, kamu hati-hati pulangnya, yah. Salam sama semuanya." Sahut gue sambil beranjak dari duduk.
Melodi menganggukan kepala sambil tersenyum, "Take care bebh." Ucap Melodi gue hanya membalasnya dengan senyum lalu pergi meninggalkan Melodi seorang diri.
"No more hurt today!" Ucap gue dalam hati.
Saat gue berjalan menuju ke tempat dimana gue akan bertemu dengan Karina, ponsel gue kembali berdering oleh panggilan masuk dari Karina. "Manaa?" Tanya Karina saat gue menjawab panggilannya.
"Sabar, gue kencing dulu."
"Lama!"
"Dih, elu yang lama."
"Buruan."
"Rewel!"
"Bodo, lo emang harus direwelin kadang."
"Bawel yee, nih gue di belakang lo!" Sahut gue saat tiba di tempat yang dimaksud.
Gue melihat Karina menoleh ke belakang, ke arah gue datang. Dia lalu mengakhiri panggilan teleponnya. "Lho, Melodinya mana?" Tanya Karina saat gue tiba menghampirinya.
"Lah Melodi dari mana?" Tanya balik gue.
"Udahlah, Le. Pacar lo barusan nanya sama gue, lo katanya lagi sama cewe rada chinese di restoran jepang di atas. Siapa lagi kalo bukan cewe yang rada chinese yang kemungkinan makan sama lo, di restoran Jepang kalo bukan Melodi. Lagian kok lo bisa jalan sama Melodi, sih?"
"Lah, elu ngapain cerita sama dia?" Sahut gue.
"Cerita? Cerita apa? Gue gak pernah cerita apapun tentang lo sama dia. Sumpah!" Sahut Karina.
"Lah, kambing! Diboongin dong gue?"
"Kayanya sih begitu. Lagi lo kenapa percaya, sih? Gue ajah dulu kan salah satu orang yang nganjurin lo berdua putus, ngapain juga gue masih jadi satelitnya dia, sia-sia dong!"
"Iya juga, sih. Jadi dulu selama gue pacaran sama dia, lo jadi satelitnya dia gitu? Pantesan."
"Udahlah, gak usah ngorek yang udah. Sini duduk!" Ucap Karina, lalu gue duduk di bangku yang ada di sebuah taman yang berada di area ini. "Lo kenapa sih, Le?" Tanya Karina saat gue duduk di sebelahnya.
"Kenapa apanya?"
"Le… gue tau lo paham maksud pertanyaan gue."
"Yah begitulah, lo juga udah pasti tau kenapa, kan!?"
"I know, lo di-DO gara-gara tawuran gue tau, Le. Yang engga gue paham, kenapa lo ngelakuin hal itu? Hal yang jelas-jelas bisa bikin lo di-DO."
"Bukan bisa lagi, sih. Tapi udah, hahaha." Sahut gue.
"Le, that is not funny. Sumpah, Le! Gak lucu sama sekali. Lo mikir gak ini udah bulan apa? Udah mau akhir semester, semester akhir. Le, apa ada sekolahan yang mau nerima murid pindahan saat ini, apalagi lo pindah karena di-DO gini."
"Haaah…" Gue menghela nafas sejenak.
"Apalagi Aini ngomong sama gue kalo Ibu lo marah besar. Udah gak mau ngurusin lo lagi katanya. Lo gimana selanjutnya, Le?"
"Haaah…" Gue menghela nafas lagi.
"Le, gue gak mau denger lo ngomong gak tau, ya!"
"Haaah…"
"LE! Apa sebodoh ini cuma haah heeh haah hee ajah?"
"Karina! Nafas itu bukan suatu kebodohan, bayangin gak sih kalo lo berenti nafas gimana?"
"You're so stupid idiots person I know"
"Buahahahah, udah stupid, idiot pula. Parah banget lo nganggep gue begitu."
"Memang kenyataannya! Kalo lo bukan orang yang stupid bin idiot. Lo gak bakal tawuran-tawuran begitu. Apa tuh begitu, sok jagoan! Biar apa? Biar orang-orang takut sama lo? Bodoh! Lo berubah, Le! Tole yang gue kenal itu gak pernah sependek ini dalam berpikir. Tole yang gue kenal itu selalu mikir panjang, bukan Tole yang arogan yang sok jagoan kaya sekarang. Dari awal gue gak ngerti buat apa lo masuk sekolah itu yang jelas-jelas reputasinya jelek, yang jelas-jelas udah terkenal tawuran mulu. Gue gak ngerti apa yang lo mau buktiin, apa yang pengen lo unjukin, gue gak ngerti…"
"Karena emang lo gak pernah ngerti, Karina!" Sambar gue sambil merangkul pundaknya. "Sebelumnya lo harus tau, sekolah gue itu keren. Reputasinya engga jelek, cuma sejarahnya ajah dulu anak-anaknya hobi tawuran sampe image-nya begitu. Tapi yang harus lo tau, kepala sekolah, dan guru-gurunya, mereka struggling buat ngeubah stigma itu. Kalo pun gue hari ini di-DO yah itu salah satu cara mereka struggling buat merubah stigma itu. Dan ini salah gue, gue ceroboh. Gue akuin itu, tapi ini juga bukan soal gue sok jagoan atau apa, Karina. Dan gue rasa gue udah pernah cerita sama lo gimana masa kecil gue sampe gue ketemu lo. Ketemu kalian. Gue ngerasa ya memang seperti itu habitat gue seharusnya, tapi sekali lagi harus gue akuin kalo gue salah. Manusia tumbuh dan berkembang, gue udah bukan lagi makhluk dalam ekosistem yang seperti itu. Ini sepenuhnya salah gue dan walaupun emang kenyataannya saat ini gue bener-bener gak tau harus gimana kedepannya, tapi gue bakal terima semua konsekuensinya, gue bakal baik-baik ajah dan gue pasti belajar banyak dari ini semua."
"Le, sorry." Ucap Karina lalu menaruh kepalanya di pundak gue. "Maaf kalo gue nge-judge lo begini. Gue cuma khawatir."
"Itu bukan cuma, Karina. Io dan semuanya. Kalian yang bikin gue paham kalo gue gak sendirian di dunia ini. Thank you."
Karina menganggukan kepalanya, sedikit menggusal yang kalau gue yakin Nata melihatnya dia langsung akan menjambak rambut gue. "Yaudah abis ini lo samperin Kak Gladys, yah. Lo jelasin apa yang terjadi." Ucap Karina.
"Emmmppp… kayanya not the day, deh."
"Lho, kenapa?" Tanya Karina sambil mengangkat kepalanya dari pundak gue.
"Gak tau, gue ngerasa kayanya gue gak sanggup lagi sama dia. Mungkin emang banyak jarak antara gue sama Gladys yang entah gimana gue ngerasa kalo gue lanjutin ujungnya cuma bakal sama kaya gue dan Melodi." Jawab gue.
"Jadi lo mau udahin ajah sama Kak Gladys?" Tanya Karina lagi.
"Entahlah, jujur. Gue sayang bangen sama dia, banget!"
"Ishh lo gimana, sih. Le!"
"Yah begitulah, namanya juga anak muda. Hahahaha."
...
Langit sudah berubah gelap saat gue dan Karina memutuskan untuk berpisah, dia pulang kerumahnya sementara gue entah mau kemana. Gue merasa ingin sendirian tapi di saat yang bersamaan gue ingin ada seseorang yang menemani kesendirian gue tapi juga gue tidak tahu siapa orang yang gue inginkan untuk menemani gue.
Lalu gue membuka daftar kontak yang ada di ponsel gue, gue melihatnya satu persatu dan kemudian jempol gue berhenti saat tiba di sebuah nama yang namai dengan Pooh. Gue pun menekan tombol hijau untuk menghubunginya.
"Le…" Suara perempuan terdengar menjawab panggilan masuk gue.
"Kamu dimana, Ar?" Tanya gue.
"Di rumah, Aini ka…"
"Ngomongin aku?" Sambar gue.
"Sedikit, kamu gimana?" Tanya Arumi.
"Aku gak apa-apa, Ar."
"Le, Bu Dewi marah banget sama kamu. Tadi dia ngomong udah bener-bener lepas tangan sama kamu. Dia bilang…"
"Gak apa-apa, Ar. Wajar Ibu marah begitu. Aku emang salah. Jadi udah sepantasnya kaya gini." Sambar gue.
"Terus kamu gimana? Mau sekolah di mana? Terus gimana caranya?" Tanya Arumi.
"Gampang, gak usah kamu pikirin. Itu masalah kecil. Aku mau ketemu kamu bisa?"
"Yaudah kamu dimana?"
"Ketemuan di Tebet ajah." Jawab gue lalu memberitahu tempat detailnya pada Arumi.
"Yaudah aku ke sana."
"Nanti, setengah jam dari sekarang baru kamu jalan."
"Okeh."
"Okeh." Sahut gue lalu mengakhiri panggilan telepon gue.
Dari tempat gue bertemu dengan Karina, gue langsung berangkat ke salah satu cafe yang ada di Tebet. Jaraknya memang tidak terlalu jauh tapi waktu tempuh Kuningan-Tebet akan menjadi dua kali lipat dari seharusnya di hari kerja setelah magrib terlebih lagi gue menggunakan angkutan umum.
Dan dugaan gue tepat, gue tiba setelah 50 menit berada di dalam mikrolet yang super penuh. Setelah gue turun dari angkot, gue memeriksa ponsel gue. Tidak ada notifikasi dari Arumi, gue berkesimpulan Arumi belum datang.
Lalu gue berjalan kaki dari tempat gue turun angkot ke cafe yang gue maksud, dan saat gue tiba di depan cafe tersebut gur berpapasan dengan Arumi yang baru saja turun dari motor yang dikendarai seorang laki-laki seusia gue yang sudah tidak asing di mata gue. Orang yang sama yang menjemput Arumi saat dia berada di rumah gue kala itu.
Arumi melambaikan tangannya ke arah gue, dia lalu berbicara dengan laki-laki itu kemudian laki-laki itu pergi menggunakan sepeda motornya. Lalu Arumi menghampiri gue, "lo masih pacaran sama dia?" Tanya gue sedikit menyentak.
"Kok kasar nanyanya? Kamu ajah masih pacaran sama pacar kamu."
"Putusin pacar lo!" Sahut gue.
"Itu gampang, kamu putusin pacar kamu sekarang, aku bakal putusin dia juga sekarang, gimana?"
"..." Gue berdiam diri.
"Diem, gak berani? Le, bukannya aku engga ngehargain apa yang kamu lakuin sama aku. Tapi kalo emang kamu sayang beneran sama aku. Jadiin aku satu-satunya, aku juga perempuan biasa yang engga mau jadi yang kedua gitu ajah. Selama kamu engga bisa jadiin aku satu-satunya, berarti aku juga bebas pacaran sama siapa ajah. Toh, aku juga lebih ngutamain kamu dari pada pacar aku."
"Yaudah ngobrol di dalem ajah, gak enak diliatin orang." Sahut gue.
"Kamu yang mulai!"
Gue lalu menggandeng Arumi masuk ke dalam cafe ini, memesan makanan terlebih dahulu di meja pemesanan lalu membawa nomer yang diberikan pelayan ke meja yang akan gue dan Arumi duduki.
"Le, aku mau nanya sekali lagi. Kamu mau pindah sekolah kemana? Kata cowo aku ada sekolah swasta yang jurusannya sama kaya kamu di Halim…"
"Tau." Sambar gue.
"Kamu mau pindah kesana?" Tanya Arumi.
"Engga!"
"Terus mau kemana?"
"Au!"
"Bisa gak usah marah-marah gitu, gak?"
"Lo paham gak sih perasaan gue pas liat lo sama cowo lo tadi?"
"Apa lo juga paham perasaan gue saat gue tau lo nginep terus di tempat cewe lo, hah?" Sahut Arumi sedikit menunjukan emosinya. "Kamu egois, Le!" Lanjut Arumi lalu gue melihat air mata mengalir di dinding hidungnya.
Gue meraih wajahnya, mengusap air mata yang mengalir di wajahnya Arumi. Gue sadar gue egois, tapi ada hal yang tidak bisa gue jelaskan pada Arumi saat ini. "Maaf, Ar. Aku kebawa emosi." Ucap gue lalu Arumi menganggukan kepalanya.
Tidak lama makanan pesanan gue dan Arumi datang. Gue dan Arumi langsung memakannya, dan tidak ada pembicaraan apapun selama gue dan dia memakan makanan yang ada di hadapan kami.
"Minggu depan rencananya aku ke Kebumen, aku mau minta tolong bude aku yang disana nanti buat daftarin aku sekolah. Nanti sebelum aku jalan aku kasih kamu uang buat keperluan kamu." Ucap gue setelah selesai makan.
Arumi menganggukan kepalanya.
"Aku gak tau, tapi kayanya aku harus ngulang lagi dari kelas satu, karena engga mungkin kalo pindah langsung kelas dua juga, kan."
Arumi menganggukan kepalanya lagi.
"Ar, do you have something…"
"Kamu jangan ngomong Bahasa Inggris sama aku. Aku bukan pacar kamu yang Bahasa Inggrisnya was-wes-wos. Terjemahin lagu ajah aku harus satu-satu, kalo mau cepet aku ke warnet. Aku emang engga sepinter pacar kamu, aku juga gak secantik pacar kamu, aku juga…"
"Heeehhh, Ar! Kamu apa, sih. Manjang begini."
"Lagian kamu! Nyama-nyamain aku sama pacar kamu!"
"What the… haaahhhh…" Gue menghela nafas, "Ar, aku udah putus sama Gladys. Asal kamu tau!"
"Haah? Serius? Demi apa?" Tanya Arumi sedikit terkejut.
"Perlu banget aku sumpah?"
"Perlu!"
"Hmmm… intinya tadi aku gak sengaja ketemu Melodi terus aku gak tau kenapa tiba-tiba Gladys ada disitu. Dia marah bahkan sampe teriak-teriak depan umum gitu abis itu pergi gitu ajah tanpa sempet aku jelasin dulu."
"Ohh jadi kamu masih jalan sama mantan kamu?"
"Ar? Kamu denger apa yang aku…"
"Iya aku denger, kamu ketemu Melodi, kan? MANTAN KAMU!"
"Aku ngomong panjang tapi yang kamu denger cuma aku ketemu Melodi, Ar?"
"Ahh tau ahh, pusing aku…"
"Pusing?"
"Udah ah kamu mau kemana abis ini, masih mau aku temenin apa gimana?"
"Udah udah cukup, kita balik ajah."
"Oh yaudah, lagian aku ngantuk." Sahut Arumi yang membuat gue hanya bisa menghela nafas lagi dan lagi.
Lalu gue beranjak dari cafe ini, di depan cafe gue menyetop sebuah taksi, kemudian gue membuka pintunya dan mempersilahkan Arumi masuk ke dalamnya. "Pak, tolong anterin pacar saya ke blablabal (gue menyebutkan alamat rumah Arumi). Kembaliannya ambil ajah, Pak." Ucap gue pada supir taksi lalu memberikan uang pecahan seratus ribu.
"Loh katanya kamu mau pulang?" Tanya Arumi sambil mencoba turun dari mobil.
"Udah kamu pulang duluan, aku mau ketemu Nata dulu."
"Gak aku temenin?" Tanya Arumi.
"Hmmmm, next time ajah."
"Kenapa? Takut temen kamu tau kalo kamu ada hubungan sama aku? Takut temen kamu ngasih tau pacar kamu!?"
"Pak jalan, pak. Hati-hati." Ucap gue lalu menutup pintu taksi itu lalu berjalan cepat meninggalkannya.
"Gila, pecah pala gue!" Gumam gue dalam hati sambil terus melangkahkan kaki gue ke arah rumah Abdul.
...
It's something unpredictabel but in end that's right I hope you had the time of your life.
Satu jam kemudian gue tengah memasang beberapa poster band rock legendaris di sebuah kamar kos yang begitu mewah, bahkan lebih mewah dari kamar kos yang ditempati Alodya, sebuah kamar kos yang rasanya sekelas kamar hotel berbintang.
"Pasang dimane, Nge?" Tanya gue pada pemilik kos ini, Nata.
"Di situ ae, Nge. Belakang monitor." Jawab Nata.
"Yang ini, Nge?" Tanya Abdul pada Nata.
"Situ ae, Nge." Nata menunjuk ke arah pintu kamar mandi.
"Kamar mandi, Nge?" Tanya Abdul memastikan.
"Menurut lo? Yakali di kamar mandi, Su! Samping pintu, TOT!"
"Santai aje, Tot!" Sahut Abdul dan gue hanya menggelengkan kepala sambil mendengarkan mereka.
"Haaahh…" Gue menghembuskan nafas panjang sambil melihat wajah J. Morrison dalam poster The Doors yang baru saja gue tempel di dinding kamar kos ini. Beberapa detik terdiam lalu gue menoleh kebelakang. Ternyata Abdul dan Nata memandangi gue dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Whats wrong?" Tanya gue.
"Liat, Dul! Temen lo yang baru ajah di-DO mukanya. Jelek anying!" Ucap Nata.
"Hahahahahah." Abdul tertawa.
"Yee, bangek!" Sahut gue sambil mencoba menendang Nata namun dia menghindar. "Kek lo ganteng ajah, Njir!"
"Ganteng lah gue, kalo engga gak mungkin dua cewe cakep nyantol, iye gak!?" Sahut Nata.
"Emmmppp penyakit." Sahut gue sambil melirik Abdul, "Gegayaan gue kelarin nih." Lanjut gue.
"Hahahahaa. Gak ikutan gue" Sahut Abdul.
"Yee kambing! Rusuh pekok!" Sahut Nata lalu dia berjalan ke arah lemari yang ada di kamar ini, membukanya lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari itu. "Pesta kita ngerayain keberhasilan Tole di-DO, hahaha." Ucap Nata sambil menggoyangkan sebotol vodka, menunjukannya pada Gue dan Abdul.
"SETANNNNN!" Celetuk gue.
joyanwoto dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tutup
