Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#192
Dunia Gaib








Sebelumnya di reuni...

Disaat timku yang dipimpin oleh pak ustad tengah kebingungan mencari keberadaan Yusuf. Aku pergi sendiri ke kamar Yusuf dan melamun di sana. Hingga akhirnya sukmaku ditarik secara gaib oleh bapak. Dan saat ini, aku sudah berada di sebuah ruangan yang sangat besar, yang ternyata ruangan besar itu adalah ruangan gaib di salah satu vila tempat Yusuf menendang sesajen. Disitu bapak ternyata sudah berhasil mengalahkan raja di wilayah ini, yaitu siluman ular buntung. Dan saat aku, bapak, juga kyai Rekso hendak berangkat untuk menyelamatkan Yusuf. Tiba-tiba muncul seseorang.





*




"Assalamualaikum...,"Seseorang beruluk salam.

Kami berdua menoleh ke arah sumber suara.

Dengan perlahan sosok itu berjalan mendekat kearah kami. Kemudian setelah mendekat, samar-samar aku seperti pernah melihat wajahnya.

"Udah siap, gok?" Tanya orang yang baru datang itu. Seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengan bapak.

Kulihat bapak mengangguk.

Dan ah, Aku teringat dengan seorang laki-laki paruh baya yang pernah aku temui hampir setahun yang lalu. Seorang laki-laki yang memiliki anak perempuan bernama Miyanka emoticon-Betty

"Mang Ujang," siapaku kepada beliau. Aku lalu mendekatinya dan mencium tangannya.

Laki-laki itu, mang Ujang, tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak ku.

"Kamu itu kena masalah apa lagi sih, Nang?" Tanyanya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa mengangkat bahu.

"Ya nggak tahu juga ini mang. Namanya musibah kita kan nggak tahu," jawabku pelan.

"Hahaha...," Mang Ujang tertawa.

"Bawa apa itu mang?" Tanyaku kepada mang Ujang, saat aku melihat beliau ternyata membawa sesuatu di tangan kanannya.

Mang Ujang segera mengangkat tangan kanannya yang sedang menggenggam sebuah bungkusan agak panjang.

"Oh ini. Pesenan bapakmu Nang," jawab mang Ujang.

Mang Ujang lalu menyerahkan bungkusan itu kepada bapak. Bapakku segera menerima dan membukanya.

Saat aku melihat wujud dari benda yang dibawa oleh mang Ujang. Aku mengernyit heran. Karena memang aku tidak tahu apa namanya. Benda itu terbuat dari kulit. Entah kulit apa, yang pasti agak tebal dan berwarna kecoklatan. Bentuknya seperti sabuk pada umumnya. Hanya saja lebih lebar dan lebih pendek. Mungkin kalau dikira-kira, panjangnya hanya sekitar 30-40 cm. Dengan ketebalan sekitar 5 cm.

Kulihat bapak menimang-nimang benda itu sesaat. Lalu menciumnya.

"Hoek...,"

Bapak mengeluarkan suara seperti orang ingin muntah.

"Gila kami, Jang. Kok bisa bau gini. Ini kan pemberian dari kyai. Pasti kamu nggak rawat," kata bapak sambil menjauhkan wajah dari benda itu.

"Hehehe...," Mang Ujang tertawa, "lagian nggak pernah dipakai, gok. Nggak ada yang cocok. Jadi ya selama 20 tahun ini, benda itu aku simpan saja di gudang rumahku."

"Edan...,"
Kata bapak.

"Udah-udah.. misuh-misuh mulu. Yang penting kan khasiatnya," kata mang Ujang.

Bapak lalu menyerahkan benda itu kembali ke mang Ujang. Bapak sendiri kemudian mengeluarkan bungkusan kain hitam yang berisi tombak siluman ular buntung.

Lagi-lagi hawa dingin menguar saat tombak sakti itu dikeluarkan dari bungkusan. Aku secara reflek sedikit melangkah mundur.

Setelah tombak itu dikeluarkan, bapak meminta benda yang dibawa mang Ujang tadi.

Mang Ujang lalu menyerahkan benda itu kepada bapak. Oleh bapak, benda yang terbuat dari kulit tebal itu tiba-tiba saja ditempelkan dengan kuat ke kepala tombaknya.

"Cess...!"

Suara seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air, langsung terdengar saat bapak menekankan kepala tombak dengan sabuk berkulit tebal itu.

Dan...

"Blep...,"

Kepala tombak itu seperti tersedot masuk kedalam sabuk kulit milik mang Ujang.

Bapak kulihat mengelap keringat yang keluar dari dahinya. Tampaknya memang mudah, tapi kemungkinan bapak juga harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk bisa menggunakan khasiat dari sabuk kulit tadi.

Setelah beres, bapak lalu menyerahkan kembali sabuk kulit yang kini berisi kepala tombak jelmaan dari siluman ular buntung itu kepada mang Ujang.

"Tolong kamu serahkan ini kepada emak saya di rumah ( Indramayu ). Minta tolong dijagain dulu. Soalnya ini tombak masih terlalu kuat hawanya. Takut nanti bentrok sama yang dirumah," kata bapak.

"Iya...iya," jawab mang Ujang sambil menerima benda itu.

Aku bisa melihat ada seperti gundukan kecil di dalam sabuk kulit itu. Dan yang anehnya adalah, sabuk kulit itu kulihat sedikit mengembang dan mengempis. Seperti bernafas.

Mau Ujang kembali membungkus sabuk kulit itu dengan kain yang ia bawa.

"Ya udah, aku pamit lagi ya. Semoga kamu berhasil dengan urusan kamu, Nang," kata mang Ujang sambil berpamitan kepada kami berdua.

"Lho, bukannya mang Ujang mau ikut kami?" Tanyaku.

"Hahaha...ilmu mamang mu ini gak seberapa, Nang. Bisa-bisa malah hanya menyusahkan kalian berdua," katanya.

Bapak kulihat hanya tersenyum lalu berkata, "makanya, waktu muda dulu ilmu dari kyai jangan digunain buat ngintipin santriwati mandi. Kualat ilmunya diambil lagi sama kyai. Hahaha...,"

Mang ujang hanya bisa ikutan tertawa mendengar perkataan bapak.

Dan tak lama kemudian, mau Ujang benar-benar pergi meninggalkan kami. Tubuhnya tiba-tiba saja seperti tersedot kesebuah arah.

Dan...

"Cling,"

Hilang begitu saja.


Note :
Yang belum tahu siapa mang Ujang dan Miyanka, silahkan agan/sista baca disini



Untuk sesaat suasana menjadi sedikit hening. Bapak lalu menepuk pundakku dan mengajakku untuk melanjutkan perjalanan ke tempat Yusuf ditahan. Tak lupa, kyai Rekso yang sedari tadi rebahan juga berjalan mengekor dibelakang kami.

Dalam perjalanan, aku melihat begitu banyak rumah dan bangunan yang rusak akibat pertempuran bapak melawan siluman ular buntung berserta antek-anteknya.

Sesampainya diluar kawasan kekuasaan siluman ular buntung, yang ditandai oleh gapura tinggi berwarna coklat (kata bapak), kami dihadapkan oleh sebuah hutan yang sangat luas.

Penasaran akan sesuatu, aku menoleh kebelakang. Maksudnya ingin melihat wilayah kekuasaan dari siluman yang bapak kalahkan tadi. Karena gak tau kenapa. Kaya ada yang nyuruh aja.

Dan...

"Jreng!"

Aku terkejut.
emoticon-Entahlah

Karena melihat wajah kyai Rekso yang sangat dekat denganku. Rupanya, ia berjalan sangat dekat dengan kami.

"Anjrit! Kaget sue,"kataku sambil mengelus dada.

"Kenapa, Nang?" Tanya bapak yang melihatku sedikit pucat.

"Gak papa. Cuman kaget aja," Jawabku sambil cengengesan.

Sebelum kami melangkah, bapak mengingatkanku agar saat melangkah melewati gerbang itu, harus dengan kaki kanan terlebih dahulu. Dan tak lupa membaca bismillah.

"Bismillahirrahmanirrahiim..,"

Dan akhirnya, kami bertiga, dua anak Adam dan satu bangsa jin, melewati gerbang itu.

"Serrr...,"

Baru saja aku melangkah melewati gerbang, hawa dingin tiba-tiba saja kurasakan. Dan itu membuat bulu-bulu halus di tubuhku berdiri.

"Ayo yang kuat, nang," kata bapak sambil menepuk-nepuk pundak ku.

Dan keanehan kembali terjadi. Sesaat setelah bapak menepuk-nepuk pundak ku. Hawa dingin yang tadi kurasakan tiba-tiba saja menghilang. Hatiku yang tadinya berdebar-debar, menjadi tenang kembali.

"Pasti bapak ngasih sesuatu barusan," kataku dalam hati sambil melihat kearahnya.

Bapak sendiri tampak sangat fokus dalam berjalan. Ia kulihat tak henti-hentinya berkomat-kamit entah membaca apa. Yang pasti, aku juga merasakan akan ada sesuatu yang akan menyambut kami.... sebentar lagi.

Keadaan saat itu seperti disore hari. Tidak gelap, tidak juga terlalu terang. Ada sedikit kabut yang menggantung. Menyebabkan jarak pandang kami sedikit terbatas.

Aku yang sudah sedikit paham dengan keadaan alam gaib, menjadi sedikit terbiasa. Kami berjalan disebuah jalan setapak yang lebar dan bersih. Jalan itu mungkin jalan utama yang menghubungkan antara dua kerajaan. Kerajaan milik siluman ular buntung dengan kerajaan jin yang menahan temanku, Yusuf. Lebarnya sekitar 5-6 meteranlah. Meskipun lebar, tapi masih terbuat dari tanah.

Di kiri dan kanan kami, berjajar pohon-pohon besar yang tumbuh dengan rapat. Mungkin kalau diumpamakan, jalan ini seperti jalan menembus hutan.

kaskus-image

"Seperti ada yang aneh dengan suasana ini, tuan," kata kyai Rekso untuk pertama kalinya.

Aku menoleh ke belakang, melihat harimau besar itu dengan tersenyum. Di dalam senyuman ku itu, aku seolah berkata.

"Tumben amet kalem,"

Kyai Rekso yang beradu pandang denganku segera melengos. Berpura-pura melihat sekitar. Aku hanya bisa tertawa didalam hati.
emoticon-Wkwkwk

"Lagi jadi anak baik dia," gumamku pelan.

Namun, aku tiba-tiba menyadari kalau ada sesuatu yang aneh sedang terjadi disini. Disekitar kami.

"Pap...," Ucapku pelan. Meminta perhatiannya.

"Iya, bapak juga tahu," jawab bapak pelan.

Entah siapa yang mengomando. Tapi seolah sepakat, kami bertiga berjalan lebih pelan. Dengan meningkatkan kewaspadaan penuh.

Dan ternyata feeling kami benar.

"Set set set...,"

Dari berbagai arah dari dalam hutan, tiba-tiba muncul satu persatu sosok tubuh dengan berbagai macam bentuk dan jenis. Mereka semua mengelilingi kami. Kuhitung, mungkin ada 50 sosok yang mengepung kami plus sambil mengacungkan berbagai macam senjata. Seperti pedang, tombak sampai trisula. Pokoknya senjata jaman dulu.

Jujur saja. Saat itu, aku merasakan ada sesuatu yang lain muncul, disamping rasa takutku. Sebuah perasaan takjub dan senang bercampur menjadi satu.

Takut jelas. Tapi, aku juga merasakan takjub karena melihat jenis-jenis dari mereka yang saat itu tengah mengepung kami bertiga. Aku takjub melihat bagaimana sosok-sosok itu dalam berpakaian, seperti pakaian seorang prajurit pada jaman kerajaan. Lalu jenisnya. Hampir seluruh dari mereka berwujud siluman. Berbadan manusia, tapi berwajah binatang. Ada harimau, anjing, babi, ayam, kambing, sampai sapi.
kaskus-image

"Kuasa Allah memang sangat luar biasa," gumamku saat itu, tentu disela-sela keringatku yang mulai bercucuran karena takut.

Kami diam, mereka pun terdiam. Hanya mata kami saja yang saling mengawasi satu sama lain. Seolah-olah bila ada gerakan sedikit saja yang kami lakukan, itu menjadi sebuah pertanda untuk mereka bisa menyerang kami.

"Deg...deg...deg...deg!"

Suara detak jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Mungkin karena suasana yang menegangkan ini, membuat terkaget mendengar suara jantungku sendiri.

Keringat yang mulai bercucuran sangat ingin kuseka. Tapi hal ini tak bisa kulakukan mengingat kondisi kami yang seperti ini.

"Mau sampai kapan hal ini berlangsung?" Keluhku dalam hati. Kakiku mulai kebas. Dan aku yakin, sebentar lagi akan kesemutan.

"Klotak...klotak...klotak,"

Sebuah suara yang sumbernya datang dari depan kami terdengar membelah kesunyian. Aku masih belum bisa melihat, sesuatu yang mendekati kami itu apa karena masih terhalang oleh kabut.

Perlahan-lahan suara itu makin jelas terdengar dengan mulai jelasnya pula benda apa itu.

"Klotak...,"

Ternyata, benda itu adalah sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda dengan wajah manusia!

kaskus-image

Sais kereta kuda itu menarik tali kekangnya, agar kedua hewan aneh itu berhenti. Persis dibelakang para prajurit yang masih setia mengelilingi kami.

"Tuk...," Bapak menyentuh pundakku pelan sambil berbisik.

"Kebalik tuh," ujarnya.

"Hah?"

"Tuh,"
kata bapak lagi sambil matanya mengarah kearah kereta yang sudah berhenti.

Aku imasih agak bingung, akhirnya ikut melihat ke arah kereta kuda yang ditarik oleh kuda berwajah manusia itu.

Awalnya samar, karena aku memang penderita rabun jauh. Tapi saat aku lebih memfokuskan pandanganku ini, Aku hanya bisa mengumpat di dalam hati.

Ternyata, sais dari kereta kuda itu adalah sesosok manusia dengan kepala kuda.
kaskus-image

"Dunia dialam gaib memang serba aneh,"




***
Diubah oleh papahmuda099 09-07-2021 23:41
mas444
bohemianflaneur
sulkhan1981
sulkhan1981 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.