Kaskus

Story

MartincorpAvatar border
TS
Martincorp
PACARKU HIDUP KEMBALI
PACARKU HIDUP KEMBALI
Permisi Gan/Sis pembaca setia cerita cinta Hayati dan Asnawi, dalam trit baru ini ane mau cerita lanjutan petualangan Hayati setelah berpisah sama Asnawi.
Spoiler for Sinopsis:


KARAKTER


Spoiler for Karakter Utama:

Spoiler for Mahluk Gaib dan Bangsa Siluman:

Spoiler for Karakter Pendukung:



Quote:


Soundtrack cerita biar kayak film-film ANIME....emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

Spoiler for Opening Song:


 
BAGIAN 1
ALAM BAKA
part 1



Malam itu setelah petarungan besar antara Bendoro dan Hayati, keadaan tampak sangat memilukan. Asnawi dan Hayati saling berpelukan dalam waktu lama, tubuh Hayati yang masih mengeluarkan darah tidak menjadi batu sandungan buat dirinya untuk memeluk Hayati.

Hayati menangis tersedu sedu dalam pelukan Asnawi. akhirnya setelah sekian lama, dia bisa bersatu dengan Asnawi tanpa harus mengalami berbagai gangguan. Bendoro yang selama ini muncul di kehidupannya, telah lenyap begitu saja. Memang Bendoro mempunyai tujuan yang baik demi membela kamu arwah penasaran yang diperbudak oleh bangsa siluman bangsawan, namun dia telah merenggut kebahagiaan Hayati dengan memaksanya untuk ikut berjuang. Bagi diri Hayati, Asnawi berperan sebagai pahlawan besar dalam kahidupannya sebagai arwah penasaran. Dimulai dengan pertemuan pertamanya yang sangat menyeramkan sampai mereka menjadi satu seperti sekarang ini. Banyak lika liku kehidupan cinta diantara mereka berdua ditengah jurang perbedaan yang menganga.

Hayati merasa sangat bahagia kala itu, hatinya merasa sangat tenang dan jiwanya berbunga bunga. Tubuhnya mulai menghangat seperti manusia hidup. Detak jantungnya mulai terasa dan aliran darahnya mulai menggelora. Tiba tiba seberkas cahaya berwana keemasan muncul dari langit dan menerpa tubuh Hayati yang masih beperlukan dengan Asnawi. Hayati langsung kaget dengan cahaya itu dan melapaskan pelukannya dengan Asnawi.

“mas...sinar ini?”

“maksudnya apa Hayati?”

“hatiku sekarang tenang banget dan jiwaku juga terasa hangat...jangan jangan ini tanda tanda...”

“maksudnya arwah kamu udah nggak penasaran lagi?”

“iya mas ku...huft..huft..mas.....mas..........gimana ini?”

“Hayati....kamu jangan tinggalin aku... kita udah berjanji mau hidup bersama”

“aku juga sama mas aku...hiks ...hiks...aku nggak mau pisah sama kamu mas”

Tubuh Hayati menjadi sangat hangat dan perlahan mulai memudar. Panggilan dari alam baka mulai menggema, Hayati mau tidak mau harus pergi kesana dan meninggalkan Asnawi di dunia ini. Asnawi semakin erat memeluk Hayati. Dia histeris dan tidak mau melepas Hayati.

“Hayati....tolong tetap disini, jangan pergi dulu ke alam baka..hiks..hiks”

“maafin aku mas, aku juga nggak bisa berkehendak....ini udah takdir...udah seharusnya aku berada di alam sana”

“HAYATIIIIII...........TOLONG HAYATI....TETEP JADI ARWAH PENASARAN....JANGAN TINGGALIN AKU”

“mas.....kayanya aku udah nggak bisa....aku udah pasrah akan keadaan sekarang..mas...denger aku mas...”

Hayati berusaha menegakkan kepala Asnawi yang tertunduk. Tampak mata Asnawi yang merah karena menangis dan wajahnya yang basah terkena air mata. Hayati berusaha tegar dan menguatkan Asnawi yang tengah jatuh dan larut dalam kesedihan. Hayati harus menyampaikan pesan yang bisa dijadikan bekal hidup Asnawi ditengah waktu yang samakin sempit. Lama kelamaan tubuh Hayati semakin memudar, dia harus berpacu dengan waktu.

“mas....maafin aku yah...mas...aku pengen kamu janji...aku pengen kamu berjanji sebelum aku pergi selamanya ke alam baka”

“nggak mau....kamu harus tetep disini Hayati..”

“mas...ku sayang...tolong aku yah mas.....mas harus ngerelain kepergianku yah...dan aku pengen mas berjanji”

Asnawi terdiam beberapa saat. Dia tampak berusaha untuk ikhlas untuk melepas Hayati pergi ke alam baka. Dia mulai mengatur napasnya dan menghentikan tangisannya.

“hiks...hiks....hiks..............iya aku berjanji”

“aku pengen kamu berjanji untuk menyayangi Cascade sabagaimana kamu menyayangi ku...aku pengen kamu melanjutkan hidupmu bersama dia....aku pengen kamu balikan lagi sama dia.....janji mas!”

“aku janji Hayati.........aku akan melaksanakan janji janjimu Hayati”

“makasih banget mas ku sayang...sekarang aku bisa pergi dengan tenang”

“iya Hayati sayang...aku sayang banget sama kamu...aku cinta banget sama kamu...aku nggak akan ngelupain kamu..Hayati...hatiku udah milik kamu....aku nggak akan ngasihin sama orang lain”

“mas....hiks..hiks....kamu harus tetap sehat yah mas, kamu harus rajin mandi, makan makanan sehat, nggak boleh ngerokok dan rajin olahraga mas....mas.....kayanya waktuku udah tiba...peluk aku mas”

Asnawi kembeli berpelukan dengan erat disertai tangisan yang luar biasa yang membuat suasan semakin menyedihkan.

“mas...walaupun di dunia ini kita nggak bisa bersatu...semoga di akhirat kelak kita akan ketemu lagi dan hidup bersama selamanya”

“iya Hayati..aku janji...aku akan selalu mendoakan mu dan akan melakukan semua yang kamu perintahin ka aku.....Hayati aku akan menemuimu di akhirat nanti...tunggu aku disana yah sayang....capet atau lambat aku juga akan menyusulmu ke alam sana....terima kasih Pacar Kuntilanak Ku tersayang...kamu udah mewarnai hidupku yang menyedihkan ini....”

Hayati pun akhirnya menghilang dari pelukan Asnawi. dan cahaya keemasan yang berasal dari langit pun juga ikut menghilang. Kejadian itu sama persis seperti yang Asnawi saksikan ketika 6 kuntilanak anak buah Wewe Gombel yang juga pergi ke alam baka. Asnawi kembali menangis dan berteriak teriak menyebut nama Hayati. Dia seakan akan tidak sanggup ditinggal Hayati dalam keadaan seperti itu.

Hayati terbang di dalam sebuah pusaran energi dalam tuangan yang tak terbatas. Dia melayang tanpa arah yang jelas, Hayati mencoba untuk berbalik arah melawan arus tarikan gaya,akan tetap usahanya itu gagal. Hayati menangis selama berada dalam pusaran itu. Dalam hatinya dia terus berkeluh kesah dengan keadaan yang dialaminya.

“Oh Tuhan....kenapa Engkau melakukan ini kepadaku?.....aku cuma ingin hidup bahagia bersama kekasihku....kenapa Tuhan??” gerutu Hayati dalam tangisannya.

Tiba tiba seberkas cahaya putih kecil mulai muncul diujung pusaran. Hayati langsung melihat kearah cahaya itu, dia tampak mengernyitkan dahinya. “Mungkin itu adalah pintu alam baka” gumam Hayati dalam hati. Lama-lama cahaya putih itu semakin membesar dan mendekati Hayati. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika dia mendekatinya dan akhirnya dia masuk kedalam cahaya putih itu.

Tiba-tiba Hayati berbaring diatas tanah yang tandus. Dia menghela napas dengan kencang dan berusaha membuka matanya pelan-pelan. Hayati mulai berdiri dan melihat keadaan disekitarnya. Ternyata tempat itu adalah sebuah padang tandus yang sangat luas dan memiliki kontur permukaan tanah yang datar. Hayati tampak sangat kebingungan dengan tempat itu. Dia kemudian berjalan untuk mencari tahu tempat yang baru didatanginya itu. Padang tandus itu dipenuhi oleh kabut dan bersuhu panas, seperti suasana Kota Bandung di siang hari.

Hayati berjalan lurus kedepan untuk mengetahui tempat itu. Dia tidak bisa melihat jauh karena terhalang oleh kabut, jarak pandangnya sangat terbatas. Akhirnya dia menemukan sebuah pohon kering yang menjulang cukup tinggi. Hayati memiliki ide untuk memanjat pohon itu dengan tujuan dapat melihat keadaan di sekitarnya. Dia pun memanjat pohon itu dengan susah payah.

Wujud Hayati berubah menjadi seperti manusia, dia tidak bisa melayang dan terbang seperti biasanya, tampak tubuhnya juga memadat. Hayati masih memakai baju gaun putih kuntinya yang berlumuran darah akibat pertarungan dengan Bendoro. Ketika sampai di puncak pohon, Hayati mulai melihat lihat kondisi sekitar yang masih tertutup kabut.

Tak lama berselang, tiba-tiba angin kencang bertiup dan menyingkirkan kabut yang mengahalangi pandangannya. Hayati tampak menutup matanya ketika diterpa angin tersebut. Setelah angin itu hilang, Hayati kembali membuka matanya. Betapa kagetnya dia ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dia melihat orang-orang yang sangat banyak tampak antri untuk masuk ke dalam sebuah pintu besar yang berada di sebuah benteng yang sangat tinggi dan panjang di ujung cakrawala. Orang-orang yang kira kira berjumlah jutaan itu tampak bersabar dalam menunggu antrian masuk ke gerbang itu. Mereka tampak mengenakan kain kafan yang digunakan untuk menutup tubuh. Tergambar berbagai macam ekspresi yang tersirat di raut wajah mereka, ada ekspresi senyum bahagia, sedih, menangis dan penuh penyesalan.

................................................................

Spoiler for Closing Song:



Polling
0 suara
Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup Asnawi ?
Diubah oleh Martincorp 06-12-2019 08:04
muliatama007Avatar border
chrysalis99Avatar border
gembogspeedAvatar border
gembogspeed dan 207 lainnya memberi reputasi
196
691K
6.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
MartincorpAvatar border
TS
Martincorp
#3434
BAGIAN 48
HENRY W GARDNER VI
part 2

Asnawi mencari keberadaan Bi Asih di rumah itu. Setiap ruangan ia masuki, tapi tak ada tanda tanda keberadaannya.

Ketika bertemu dengan Mommy, Bi Asih tiba tiba meninggalkannya ketika Mommy menyinggung kebiasaannya mabuk mabukan. Asnawi dibuat khawatir dengannya. Perasaanya pun kini berubah yang semula membenci Bi Asih menjadi simpati.

Asnawi merasa putus asa mencari Bi Asih di rumah itu. Hampir seluruh penjuru rumah ia masuki, akan tetapi Bi Asih tak kunjung ditemukan. Tiba tiba terlintas dalam benaknya satu ruangan yang belum dia masuki yakni kamar Cascade. Sejak Cascade meninggalkan Indonesia, Asnawi tak pernah sekalipun memasuki kamarnya.

Asnawi dengan perlahan membuka pintu kamar Cascade, kemudian memasukinya. Suasana di dalam terlihat tak berubah sama sekali. Hatinya bergetar ketika kenangan kenangan indah muncul dibenaknya. Asnawi berjalan menuju balkon teras yang menjadi tempat favoritnya bersama Cascade. Di sana Bi Asih tengah duduk termenung sambil memandang taman belakang rumah. Ia tak menyadari kedatangan Asnawi.

"Bi Asih!" sapa Asnawi.

"Aden!! " balas Bi Asih yang terkejut dengan kedatangan Asnawi.

"Boleh aku duduk Bi?"

"Boleh Den"

Asnawi duduk di sebelah Bi Asih yang mendadak salah tingkah.

"Udah lama aku gak duduk di sini Bi, balkon ini adalah tempat favorit Cascade, kita sering ngabisin waktu nongkrong disini sambil liatin pemandangan bagus"

"Iya, pemandangan di sini emang bagus, dulu ketika baru pindah kesini, Non Cascade sendiri yang pengen kamar di sini"

Mereka memandangi suasana taman yang indah. Berbagai kenangan bersama Cascadr tiba tiba pun muncul kembali dalam benak Asnawi. Di balkon itu, dirinya sempat berikrar cinta dan setia kepada Cascade"

"Bi....."

"Iya Den...."

"Aku minta maaf sama kamu atas semua kesalahanku... aku sadar selama ini aku udah bikin kami terpuruk"

"Den, gak usah minta maaf, kamu gak salah, aku emang pantas nerima semua ini...aku udah jahatin kamu, Merry dan cewek cewek lain yang deketin kamu"

"Jangan gitu dong Bi!! Aku bisa ngerti kok, kamu lakuin itu semua karena nurutin perintah...sekarang, aku pengen kita saling membebaskan diri dari kesalahan"

"Iya Den"

Bi Asih menatap Asnawi dengan penuh keharuan. Matanya berkaca kaca dan bibirnya bergetar. Asnawi menyentuh wajah Bi Asih yang tampak pucat.

"Bi...aku sekarang udah jadi orang tua angkat bagi Henry...kamu akan jadi ibunya...maka dari itu, mari kita kembali menjalaninya"

Bi Asih memegang tangan Asnawi, lalu mencium pungging tangannya.

"Den...aku siap menjalani itu, aku akan berusaha menjadi orang tua yang baik buat Henry...dengan kamu di sampingku"

Akhirnya mereka berpelukan. Bi Asih tak kuasa menahan tangis. Ia meluapkan segala emosinya saat itu. Asnawi mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Bi Asih melepaskan pelukan itu secara tiba tiba dan kembali menjaga jarak dengan Asnawi.

"Lho kenapa menjauh Bi?"

"Enggak apa apa Den, aku baru nyadar kalo aku udah bukan pacarmu lagi dan aku juga sadar kalo kamu sekarang udah milik Merry"

"Yaelah Bibi...lebay banget sih, emang kalo pelukan harus pacaran dulu ya?"

"Enggak juga sih Den, tapi aku merasa gak enak aja"

"Enakin aja Bi, aku dan kamu tuh udah kenal lama banget, aku udah nganggep kamu lebih dari pacar...kamu itu udah kayak kakak perempuan yang merangkap jadi ibuku hehehe"

"Apa aku kelihatan tua Den?"

"Emang kenapa?"

"Ya kamu bilang aku udah kayak ibumu, berarti aku udah tua dong"

"Hadeeeeeuh...itu cuma perumpamaan Bi...ihhhh!!"

Asnawi mencubit hidung Bi Asih karena kesal dengan tingkahnya yang mendadak jadi cewek polos. Bi asih teriak dan tertawa dengan aksi Asnawi.

"Sakit Den... hehehe"

"Ya abisnya kamu mendadak polos, aku tau kamu itu cewek pinter yang serius, jadi aku kesel"

"Maaf Den, aku cuma pengen berubah kayak dulu lagi, pas masih jadi pembantu, lebay dan centil"

"Hadeeeeuh...yaudah deh, aku jadinya bawa kanar gembira buat kamu"

"Apa Den?"

"Mommy mau jadiin kamu pembantu lagi di rumah ini, terus kamu juga mau dikasih rumah"

"Ah yang bener Den?"

"Iya Bi...sumpah!!! Coba cek rekening kamu sekarang"

Bi Asih membuka smartphonenya untuk mengecek saldo rekening melalu aplikasi mobile bangking. Ia terkejut ketika saldonya bertambah ratusan kali lipat.

"Kenapa Bi? " tanya Asnawi.

"Den...ada uang tiga setengah milyar dalam rekeningku" jawab Bi Asih sambil gemetar.

"Njiiiir gede banget itu mah, tapi tadi Mommy bilang ke aku mau ngasih kamu tiga setengah juta"

"Den...Mommy itu kalo nyebut duit sula dikurangin nominalnya...misal kalo dia bilang seribu, itu artinya sejuta, jadi kalo dia bilang sejuta, pasti artinya itu semilyar"

"Oh gitu...seneng banget yah jadi orang kaya...banyak duit"

"Ya seneng banget Den, tapi sekarang aku udah jadi miskin"

"Kan itu udah dikasih duit gede, kamu jangan sedih lagi Bi!"

"Makasih ya Den"

"Sama sama Bi... ngomong-ngomong rencana kamu apa?"

"Aku mau beli rumah Den, buat hidup dan ngurusin Jaenal sama Henry"

"Apaaaah beli rumah? Apa kita serumah?"

"Ya enggak juga Den, kamu gak usah serumah juga"

"Iya Bi"

"Nanti abis dari sini, kamu anterin aku ke rumahku yuk! Jaenal pasti seneng"

"Aku kangen sama Jaenal Bi...udah hampir setahun aku gak ketemu dia"

"Dia juga pasti kangen sama bapak tirinya hehehehehe"

"Njiiir!! "

"Hahahahaha...bercanda Den"

Bi Asih mengajak Asnawi memasuki kamar Cascade. Ia lalu membuka pintu lemari milik Cascade untuk mengambil suatu benda panjang yang dibungkus oleh kain putih. Ia memberikan benda itu kepada Asnawi.

"Benda apa ini Bi?" tanya Asnawi heran.

"Buka aka Den!" balas Bi Asih.

Asnawi membuka tali bungkusan itu lalu mengeluarkan isinya.

"Ini pedang samurai Bi?" tanya Asnawi yang takjub dengan pedang katana yang dikeluarkan dari bungkusan.

"Itu milik Non Cascade Den, benda itu selalu ia bawa selama dia di Perancis, bahkan pedang itu berada dalam puing puing helikopter tempat Non Cascade kecelakaan"

"Berarti benda ini adalah benda kesayangan dia?"

"Iya Den, kamu harus menyimpannya!"

Asnawi memasukan kembali pedang ke dalam bungkusnya, lalu membawanya. Hari semakin siang, Bi Asih meminta Asnawi mengantarkannya pulang menuju rumah kontrakan. Lusa, ia akan mencari rumah baru sebagai tempat tinggalnya.

Rumah yang ditinggali Bi Asih sangat kecil dan berada di dalam gang. Asnawi terkejut melihat rumah itu karena sangat tak layak bagi Bi Asih dan Jaenal. Rumah Bi Asih sedikin lebih besar dari kamar kost Asnawi. Rumah itu terdiri dari satu ruangan besar dan sebuah kamar mandi.

"Ayo Den masuk!" ajak Bi Asih.

Asnawi terheran heran melihat keadaan rumah Bi Asih yang tak lebih besar dari kamar kost miliknya. Seorang anak laki laki tiba tiba muncul dari balik ruangan di dekat dapur.

"Papa!! " teriak anak lelaki itu sambil berlari menghampiri Asnawi.

"JAENAL!! " balas Asnawi.

Kedua orang itu pun akhirnya saling berpelukan. Bi Asih pura pura tak melihat kejadian itu. Ia tak sanggup melihat mereka.

"Apa Papa mau ninggalin Jaenal lagi?" tanya Jaenal sambil memukul Asnawi.

"Enggak Jaenal, justru aku kesini mau menebus semua kesalahanku padamu" Asnawi menatap Jaenal.

"Aku dan Mamahku sangat menderita ketika kamu ninggalin kita... Mamah setiap hari minum dan aku pun terlantar"

"Maafin aku Jaenal, masalahku sama Mamah mu udah bikin kamu menderita"

"Pokoknya kamu harus janji! Gak aka ninggalin Mamah ku lagi kayak gitu"

Asnawi hanya mengangguk ketika Jaenal menyuruhnya berjanji. Tak, lama Bi Asih menghampiri mereka sambil membawa semangkuk mie instan.

"Ini makan siangmu Den" tawar Bi Asih kepada Asnawi.

Akan tetapi Asnawi mendengar suara keroncong dari perut Bi Asih dan Jaenal. Ia pun menawarkan balik mie instan itu kepada Bi Asih dan Jaenal.

"Nih...buat kalian aja, kayaknya kalian kelaparan"

"Enggak Den, ini buat kamu...aku gak laper"

"Bi... udah deh jangan boong!! Nih makan!! " bentak Asnawi.

"Makasih Den" desis Bi Asih.

Akhirnya Bi Asih dan Jaenal memakan mie instan itu dengan lahap. Asnawi terharu dan hatinya merasa tersentuh melihat Bi Asih dan Jaenal yang kini berubah drastis.

"Bi...kok kamu bisa jadi gini sih? Miskin banget, padahal setauku, kamu itu pembantung paling tajir di Indonesia...tapi sekarang, buat makan aja kamu keliatan susah"

"Ya begitulah Den, aku harus terlilit banyak utang"

"Emang kamu utang sama siapa sih Bi? Kok bisa sampe jatuh miskin gini"

"Sama PH Den, aku kan banyak dapet kontrak jadi artis, nah semuanya kubatalin sepihak, jadi aku harus bayar pinalti"

"Aduuuh!! Kok kamu sampe sebegitunya Bi"

"Aku gak bisa berpikir jernih Den, apalagi denger kamu benci aku, rasanya tuh aku pengen mati aja"

Bi Asih mendadak terisak, Jaenal pun menatap Asnawi dengan penuh emosi ketika melihat sang ibu menangis. Asnawi mendadak salah tingkah.

"Maafin aku Bi"

"Kamu gak usah minta maaf Den, aku yang salah sama kami karena udah menipumu, tapi semua itu kulakukan demi Non Cascade"

"Bi..."

"Lagian Den, sebenernya perasaan ku sama kamu bener bener tulus, selama ini aku mencintaimu Den"

"Bi...ada Jaenal di sini"

"Maaf Den"

Bi Asih melanjutkan santap siangnya bersama Jaenal yang terlihat kebingungan. Asnawi pergi keluar rumah, ia duduk di teras rumah sambil merenung.

Tak lama, Jaenal keluar dari rumahnya, ia pamit kepada Asnawi untuk bermain bersama temannya. Asnawi dengan inisiatif memberinya uang saku untuk sekadar jajan.

Setelah Jaenal menghilang dari pandangannya, Asnawi kembali masuk ke dalam rumah. Ia melihat Bi Asih sedang mencuci piring di dapur kecilnya yang sederhana.

Asnawi duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan itu. Ia melihat banyak botol miras yang berserakan di atas lantai. Bi Asih langung sala tingkah melihat Asnawi merapikan botol-botol itu.

"Maafin aku Den, aku selama ini udah ngelanggar janjiku...aku kembali mabok-mabokan" sahut Bi Asih.

"Bi...gak usah minta maaf, semua ini salahku Bi...hidupmu yang semula baik, jadi rusak kayak gini...aku udah mencampakkan mu Bi...aku nyesel udah ngelakuin itu semua" balas Asnawi dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi aku pantas digituin sama kami Den... AKU PANTAS!! Aku udah sering jahatin kamu, aku berpura pura jadi pacarmu biar kamu tetep milik Non Cascade, aku udah berusaha misshin kanu sama cewek cewek yang deketin kamu...aku juga udah jahat sama Merry... aku..."

Tina tiba Asnawi mencium Bi Asih yang tengah berbica cepat. Bi Asih terhenyak dan seketika terdiam. Ia menikmati aksi ciuman itu sambil memejamkan matanya.

"Bi...semua orang pernah ngelakuin kesalahan...aku dikasih tau sama Mommy semuanya tentangmu...aku ngerti perasaanmu Bi"

"Den..."

"Mulai sekarang aku pengen memperbaiki segalanya Bi, termasuk hubungan sama kamu...kita dikasih tugas buat jadi orang tua angkat Henry, kita mesti bisa berlaku seperti orang tua yang baik...kamu punya pengalaman kayak gitu Bi...selain itu...aku ingin menyampaikan kalo aku...aku...aku juga suka sama kamu Bi...entah apa yang merasukiku, tapi yang jelas aku sangat menikmati hubungan gelap kita dari dulu...aku selalu mengingat kamulah yang merenggut keperjakaanku...terus kamu juga yang bikin aku kayak gini sekarang...oh apa ya udah kukatakan?"

Asnawi mendadak salah tingkah, ia kembali pergi keluar meninggalkan Bi Asih yang wajahnya merona. Asnawi membanting pintu, ia lalu duduk sambil tubuhnya gemetar.

"Njiiir!! Apa yang gue lakuin di dalem tadi?" gumam Asnawi.

Pikirannya berkecamuk, ia secara tak sadar telah mengungkapkan perasaan terdalamnya kepada Bi Asih. Asnawi kemudian kembali duduk di kursi teras untuk menenangkan pikirannya.

Tak lama berselang ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah untuk mengklarifikasi pernyataannya tadi. Ia tak ingin terjebak dalam jerat Asmara dengan Bi Asih.

Akan tetapi hal itu urung ia lakukan. Tanpa banyak bicara Asnawi kembali mencium Bi Asih sambil memeluknya. Kecantikan janda itu membuat Asnawi mendadak melupakan segalanya. Gelora Asmara kini telah berkobar di dalam dirinya.

Bi Asih membalas aksi ciuman itu dengan memeluk balik Asnawi. Ia menyeretnya ke atas tempat tidur yang tampak berantakan dengan baju. Tarikan napas keduanya membuat api asmara semakin membara.

Asnawi mukai menyerang bagian bagian sensitif Bi Asih. Ia mencumbui leher hingga belakang telinga Bi Asih semakin menggila dengan aksi seduktif Asnawi. Tangannya secara perlahan mulai menggerayangi.

Asnawi membuka pakaian Bi Asih satu persatu. Aliran panas dalam tubuhnya mendadak suasana menjadi panas. Di tambah aliran cinta dan kasih sayang yang sudah tak terbendung, mengalir deras di dalam pembuluh-pembuluh darah tubuhnya.

Buah dada yang menggoda, ia remas dengan penuh semangat dan menghisapnya. Bi Asih semakin melayang layang. Perasaannya kita terbang jauh ke awang awang. Asnawi sangat pintar membuat dirinya bahagia.

Asnawi menggunakan lidahnya untuk memberikan layanan kenikmatan cinta kepada Bi Asih. Ia membuka kakik Bi Asih sampai lebar, ia memandang lubang surga dimana sumber kehidupan berasal. Ia pun menggunakan lidah dan jarinya untuk memberikan efek kesenangan kepada Bi Asih.

"Ahhh...Den...enak baget" lenguh Bi Asih dalam desahan.

"Ssssst!! Jangan kenceng kenceng! Nanti tetangga denger" bisik Asnawi.

"Aku udah gak kuat Den, ayo masukin sekarang!!"

"Sabar Bi...aku belum dipuasin sama kamu"

Bi Asih dengan liar lamgsung membanting tubuh Asnawi. Ia melucuti pakaian Asnawi sampai tak bersisa. Dengan liar, Bi Asih pun berusaha menyenangkan Asnawi. Ia menggunakan tangan dan mulut untuk menghibur sang monster kyubii kebanggaan Asnawi.

Setelah gairah memuncak, Asnawi melancarkan serangan brutalnya terhadap Bi Asih. Serangan itu membuat perempuan itu semakin tenggelam dalam lautan cinta.

Asnawi melalukan penetrasi dengan hentakan yang kencang. Bi Asih sangat menikmati momen itu dengan tak henti hentinya mendesah.

"Ahh... Ahh...enak Den, kencengin terus Den!" gumam Bi Asih.

"Iya Bi..."

Semakin lama, kondisi pertempuran semakin panas. Monster kyubii sedah mencapai puncaknya. Asnawi mengeluarkan semburan asmara di dalam tubuh Bi Asih. Cairan sumber kehidupan pun membanjiri ruang rahim Bi Asih.

Asnawi keletihan, ia berbaring di sebelah Bi Asih yang juga terengah engah. Bi Asih lali menarik selimut untuk menutupi tubuh dan memeluk Asnawi.

"Den...kamu gak usah maksain diri buat memiliki ku, aku udah seneng udah jadi salah satu wanita yang kamu cintai...aku rela kamu milik orang lain, yang jelas aki tau isi hatimu sebenernya...aku tau kamu dari tadi pengen bilang gini kan sama aku, tapi kamunya malah gak berani" bisik Bi Asih.

"Iya Bi...hatiku udah terkunci sama satu perempuan"

"Siapa dia Den? Non Cascade atau Merry?"

"Hayati Bi..."

"Tapi kan Den dia..."

"Iya aku tau Bi, tapi dia udah ngambil hatiku dan pergi bersamanya"

"Aku hargai keputusanmu Den...aku tetep seneng kok kamu masih bisa ngasih perhatian buatku...semoga ada cewek lain yang bisa ngisi hatimu"

"Semoga aja Bi"

"Bukannya kamu pacaran sama Merry, di ilang kemana?"

"Sebenenya Merry gak ilang, dia pergi buat nyari jati diri dan keadilan"

"Apaaaaaah!!! Serius kamu Den?"

"Ya begitulah Bi, kayak di film silat jaman dulu"

"Emang nyari keadilan kayak gimana? Di negara ini keadilan cuman milik orang orang kaya yang berkuasa...ya kayak Mommy Den"

"Aku juga gak tau Bi, tapi aku menghormati keputusan dia...dia udah ninggalin aku sekarang...tapi suatu hari di akan balik sama aku"

"Aku jadi merasa bersalah sama Merry, gara gara aku, dia jadi begitu"

"Udah Bi!! Jangan nyalahin diri sendiri terus!!"

Suasana penuh keromantisan terus menyeruak dalam ruangan itu. Baik Asnawi maupun Bi Asih sama sama tertidur karena keletihan. Mereka pun akhirnya terbangun ketika Jaenal pulang. Asnawi dan Bi Asih sangat panik ketika Jaenal memergoki mereka tengah tidur tanpa pakaian.

Bi Asih secara spontan langsung memakai kembali pakaiannya dan mengajak Jaenal pergi keluar. Asnawi pun tertawa dengan tingkah Bi Asih yang panik.

Ketika malam, Asnawi pulang kembali menuju rumah kostnya. Ia menyimpan pedang katana warisan Cascade di atas meja, lalu ia pun berbaring.

Tak lama Utami masuk dengan menembus dinding. Ia melihat sebilah pedang yang teronggok di atas meja.

"Waaah pedang apaan nih Wi?"

"Itu pedang milik Cascade...pedang itu ditemuin di puing puing helikopter yang ditumpangi Cascade"

"Woow, pasti pedang ini benda kesayanagan dia"

"Kayaknya Mi, soalnya kata Mommy, selama dia di Perancis, ia selalu bawa pedang itu kemana mana"

Utami memegang pedang itu lalu mengangkatnya. Tiba tiba cahaya hijau berpendar keluar dari pedang itu. Sontak Asnawi langsung terperanjat melihat kejadian itu.

"Kok pedangnya bisa nyala Wi?" tanya Utami yang kebingungan.

"Aku gak tau Mi...tapi pas dipegang sama aku biasa aja" bala Asnawi yang tak kalah heran.

"Hmmm... jangan jangan ini pedang tusuk perjaka milik Hayati? Soalnya bakalam nyala kalo dipegang sama perawan"

"Emang kamu masih perawan?"

"Ihhhh sembarangan! Aku ini akan terus jadi perawan selamanya, tak peduli berapa kali kamu rudapaksa aku...karena aku mati dalam keadaan perawan"

"Njiiiir!!! Bisa jadi Mi...tapi yang bikin aku bingung, kenapa pedang sakti ini bisa ada di tangan Cascade ya?"

"Aku juga gak tau Wi"

Asnawi mendadak senang ketika pedang milik Hayati kembali ke rumahnya. Ia pin langsung membungkus pedang itu dan menyimpannya di dalam lemari.

...



key.99
yudhiestirafws
Araka
Araka dan 47 lainnya memberi reputasi
48
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.