- Beranda
- Stories from the Heart
KKN DI LEMBAH MATAHARI (BASED ON TRUE STORY)
...
TS
bayubiruuuu
KKN DI LEMBAH MATAHARI (BASED ON TRUE STORY)
Prakata
Hai horror mania diforum tercinta, saya akan menceritakan salah satu pengalaman hidup yang tidak mungkin dilupakan oleh empunya cerita. Awal dari cerita ini, saya tak sengaja melihat teman-teman digrup SMA Angkatan saya memposting foto keindahan lokasi alam, keangkerannya serta banyakknya keganjilan disaat kegiatan KKN berlangsung. Sekian hari keributan semakin riuh di grup, banyak komen dari anggota grup Whatsapp membuat saya menjadi semakin penasaran, demi mengobati rasa penasaran itu akhirnya saya japri teman saya yang Upload foto-foto tersebut, sekian lama kami telp dan chat akhirnya saya tertarik dan ingin mempublish cerita ini.
Dengan perdebatan yang panjang dan alot akhirnya saya diizinkan tapi dengan berbagai kesepakatan dan sensor, Meski sebelumnya satu sekelompok mahasiswa ini tidak sepakat, padahal setelah kegiatan KKN itu berakhir semua anggota sebenarnya sudah menutup rapat-rapat salah satu kisah kelam mereka. Bahkan mereka tidak menceritakannya kepada teman dekat, keluarga, kelompok lain, dosen pembimbing dan kampus tempat mereka bernaung.
Memang kisah ini kedepan akan saya tulis ulang dengan detail, karena ketidak puasan saya menulis disebelah. Percaya atau tidak percaya tentang kisah ini saya kembalikan lagi pada para pembaca yang Budiman, karena setiap dithread-thread yang sudah saya tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang-orang dekat saya. Kejadian yang sudah disampaikan teman-teman saya dan di tulis tanpa melebihkan serta mengurangi kejadian yang mereka alami dilapangan.
Sebelum saya tulis kisah ini, saya juga melakukan beberapa perjanjian dengan pemilik cerita. Demi kebaikan bersama nama, tokoh, tempat dan waktu saya samarkan. Jangan terlalu mengahayati cerita, karena mereka yang kalian bayangkan dan kalian perbincangkan dialam lain pasti akan merasakan juga. Yang paling penting ikuti Rules diforum ini. Ambil hikmahnya saja, mulai…
PROLOG
Demi apapun, Jangan pernah sekali-kali membicarakan mereka. Apabila darah berbalut lembaran kelopak bunga sudah tertumpah dilembah, aku takt ahu harus bicara apa? Dan aku sendiri tak tahu apa yang akan terjadi ? hanya tradisi yang bisa menjawab “MATI”
“KKN DI LEMBAH MATAHARI”
JANGAN LUPA ? DITUNGGU
DIBURJO
INDEX
PART. 1
PART. 2
PART. 3
PART. 4
PART. 5
PART. 6
PART. 7
PART. 8
PART. 9
PART. 10. ABAH KANIGORO
PART. 11. BENGGOLO
PART. 12. PERUSUH MAKAM KERAMAT
PART. 13. MEREKA MULAI MENYAPA
PART. 14 MEREKA MULAI MENYAPA 2
Part. 15 KEBUN SAWI
PART. 16. PIPIT
PART. 17 LEDAKAN
PART. 18 DARAH BERBALUT KELOPAK BUNGA
PART. 19. KI BAWONO DAN NYAI RUSMINAH
PART. 20. TRANSPORTASI
PART. 21 MOTOR
PART. 22 PENGOBATAN GRATIS
PART. 23 MATI
PART. 24. Pak Rahmad
PART 25. PTSD
PART 26. HILANG
PART 27. BELATUNG
PART. 28. POSKO BARU
PART 29. ARUNG JERAM
PART 30. RYAN
PART 31. SOSOK DI JEMBATAN
PART 32. AYAM CEMANI
PART 33. KEARIFAN LOKAL
Diubah oleh bayubiruuuu 23-12-2021 10:22
bebyzha dan 80 lainnya memberi reputasi
75
71.9K
513
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
bayubiruuuu
#7
PART 7
[justify]Pak Jatmiko kembali masuk ke rumah, Beliau duduk disamping Ayub dan melanjutkan obrolan ringan.
“Mas, Mbak, tempate seng damel posko pun kulo siapaken. Tapi nggih ngenteniki, sak wontene nggih. Namine griyo ten kampung, mboten sami kalean ten kota.” (Mas, Mbak, tempat yang buat posko sudah saya siapkan. Tapi ya begitu,seadanya. Namanya rumah di kampung, tidak sama dengan di kota). Kata pak Jatmiko merendah
“Enggeh, mboten nopo nopo pak. Ten pundi niku griyane? (Iya, tidak apa-apa pak) jawab dan tanya Ayub sekaligus.
“Niki mas ten sebelah, celak kok. Tapi santai ngaso rumiyen, ngentosi dahar.” (Ini mas disebelah, deket kok. Tapi santi istirahat dulu, nunggu makan). Jawab pak jatmiko sambil menunjukkan arah posko itu berada
Tak lama berselang, bu Ratmi datang dengan membawa nampan berisi berbagai macam hidangan khas desa dari dalam rumah, lalu letakkan di ruang tengah. Istri pak Kasun itu bolak-balik untuk mengambil makanan sederhana ala kampung sampai tertata rapi diruang tengah.
Setelah hidangan sudah tersaji lengkap di ruang tengah, bu Ratmi mempersilahkan kepada semua mahasiswa untuk menikmatinya.
“Monggo mbak, mas, di tedo rumiyen!” (silahkan mbak, mas dimakan dahulu) pinta Bu Ratmi.
“Owh inggih bu… iya bu… enggih Bu,” jawab para peserta KKN saling bersahutan.
Mereka hanya saling melempar pandang dan enggan untuk memulai makan, raut muka mereka nampak malu-malu. Pak Jatmiko berusahan mencairkan suasana dengan mulai mengambil makanan duluan, diikuti istrinya dan baru kemudian mereka. Trik lama dari kepala dusun, agar para tamu tak sungkan untuk makan dirumahnya.
Mahasiswa dari kota sangat menikmati hidangan hasil karya istri kepala dusun, melahap semua hidangan tersaji agar perut yang lapar kembali terisi. Di tengah perbincangan hangat di sela-sela makan, Rosa memandangi foto keluarga pak Jatmiko. Tanpa sungkan ia menanyakan foto anggota keluarga pak Jatmiko yang menempel di dinding ruang tengah, foto yang tepat didepannya.
“Bu... Niku yugane nopo?” (Bu, itu anaknya apa?) tanya Rosa.
“Oh iyo mbak. Iku anakku sing mbarep,” (Oh iya mbak.itu anakku yang sulung) jawab bu Ratmi.
“Terus ten pundi buk yugane sak niki?”( Terus dimana buk anaknya sekarang) tanya Rosa lagi semakin kepo.
Indah yang semakin risih akan kelancangan rosa, menyenggol pinggang tambun temannya. Rosa pun menoleh kepada Indah. Dengan suara pelan, kata pun terlontar dari mulut Indah.
“Ngerti bae awakmu nek enek cah ganteng” (Ngerti saja kalau ada anak cakep).
Mereka berdua saling pandang sejenak, bermain kornea mata untuk saling memberikan kode siapa yang duluan paling cepat untuk dekati anak pak Jatmiko.
“Iyo mbak, anakku seng lanang. Kui sak iki yo kuliah nang Yogya. Allhamdulillah bocahe oleh beasiswa” (iya mbak. Anakku yang laki-laki itu sekarang kuliah di Yogya. Alhamdulilah anaknya dapat beasiswa).
“Oh ngoten nggih bu, pangapuntene.” (oh begitu ya bu, maaf) kata Rosa
“Ora popo mbak,” (tidak apa-apa mbak) jawab pak jatmiko.
Acara makan-makan dilanjutkan dan dibumbui dengan pembicaraan ringan untuk mempererat jalinan silturrohmi diantara mahasiswa mahsiswi kelompok 113. Makam malam penyambutan Mahasiswa KKN di rumah Pak Jatmiko berjalan cukup hangat dan sangat akrab. Setelah semua menyelesaikan makanannya, kondisi ruang tengah sedikit berantakan, para mahasiswi berinisiatif membantu merapikan piring, bakul, sendok dan perlengkapan lain. Tetapi bu Ratmi dengan senyum simpulnya meminta para mahasiswi untuk meletakkanya di sudut ruangan saja, karena takut merepotkan tamu dan biar ndak kuwalat. Sebagai istri seorang pamong desa di kampung, bu Ratmi sangat cekatan membereskan semuanya dan membawa masuk kedapur kembali. Wanita dusun itu memang terkenal kepribadian yang cekatan dan tangkas, bu Ratmi telah terbiasa dan tak kenal lelah dengan rutinitas kegiatan kesehari-hari.
Selesai jamuan makan malam, Ayub kembali ke kursi depan sedikit mencuri kesempatan menyandarkan diri dengan santai. Tangan kanan menarik pelan smartphone disakunya, matanya melirik ke jam digital di HPnya. Tidak disangka waktu sudah menunjukkan setengah enam sore. Dia agak kaget saat menilik ke pojok kanan layar smartphone dan barisan sinyal sudah tidak nampak lagi, cuman tanda silang merah. Sedang kondisi anggota KKN Ayub sudah terlihat sangat kelelahan setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Dengan sedikit agak sungkan, sang ketua kelompok memberanikan diri untuk pamit ke posko.
“Pak, saget langsung ten griyo seng damel posko?”(Pak,bisa langsung ke rumah yang di buat posko) pinta Ayub dengan sopan
“Oh iya mas, ayo budal sak iki!” (Oh iya mas, ayo berangkat sekarang) jawab Pak Jatmiko.
Beliau beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada istrinya untuk mengantar anak KKN ke posko. Dengan aba-aba yang sudah diberikan ayub, anggotanya juga bersiap-siap menuju ke posko dengan pak Jatmiko, perlahan satu persatu peserta KKN membawa barang bawaannya. Berbagai cara mereka lakukan untuk membawa barang dan peralatan itu, ada yang di tenteng, di panggul dan juga ditenteng berdua. Malam itu terlihat sekali rasa lesu dan penat menyelimuti wajah mereka. Tapi pak Jatmio sendiri masih semangat dan berwajah segar, beliau tetap mendampingi Ayub berjalan bersebelahan didepan sebagai penunjuk jalan.
Lokasi Posko sebenarnya tidak terlalu jauh, kurang lebih 100 meter dari rumah pak Kepala dusun. Sepanjang jalan, mereka menikmati suasana dusun yang masih asri dan alami meski hari sudah gelap, jarak rumah antar penduduk satu dengan penduduk lain pun cukup jauh. Sangat berbeda dengan kondisi kota dengan rumah yang saling berhimpitan dimana mereka tinggal. Malam itu, suasana dusun sudah sepi sekali seperti tengah malam, serangga dan jangkrik mulai bernyanyi nyaring menemani. Semakin lama terasa sedikit menyeramkan, terutama bagi meraka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di dusun ini. Rosa terlihat sangat menyukai pemandangan gelap di daerah ini.
“Indah, bagus ya view-nya? tanya Rosa. Dia sangat menikmati dengan terus melihat-lihat disekelilingnya.
“Iya... Bagus banget, aku juga suka,” jawab Indah dengan suara yang seolah memantulkan cahaya.
Tak begitu lama rombongan Ayub sampai di depan sebuah rumah, bangunan rumah itu terbuat dari kayu seperti rumah lainnya. Rumah tua berdinding papan-papan kayu jati tua nampak kokoh meskipun warnanya sudah kusam. Rumah dengan atap genteng dan asbes gelombang untuk terasnya. Pak jatmiko menoleh ke Ayub dan teman-temannya, beliau menunjuk ke sebuah rumah yang rencananya akan di jadikan posko KKN.
“Iku mas, omahe sing uwes tak siapno di gae kelompok sampean.” (Itu mas, rumah yang sudah saya siapkan mas dan kelompoknya) kata pak Jatmiko
“Oohh... niki pak nggeh.”(Oohh ini pak) jawab Ayub sejenak memandangi rumah tua itu dengan rasa sedikit penasaran
“Ayo langsung melebu ae mas mbak, iki omahku dewe. Omah’e ancen lawas, wes gak tau di nggoni hampir sepuluh tahun. Tapi wes tak resik’i kawet winginane. Tenang ae aman kok omahe mas.” (Ayo langsung masuk saja mas mbak, ini rumah saya sendiri. Rumahnya memang sudah tua, sudah lama tidak ditempati ya sekitar hampir 10 tahun. Tapi kemarin sudah saya bersihkan. Tenang saja mas aman kok rumahnya) jelas Pak Jatmiko sambal berjalan mendekati rumah tua itu.
“Oohh... inggih pak.”(Oohh... iya pak) Ayub mengangguk-anggukan kepalanya.
Lalu pak jatmiko bergegas membuka pintu rumah dan masuk terlebih dahulu. Beliau kemudian mempersilahkan anak-anak KKN masuk. Saat sudah didalam rumah, semua peserta KKN dengan sopan menaruh barang masing masing diruang tamu. Pak Jatmiko lalu mengajak mereka melihat-lihat seisi rumah.
“Ayo tak duduhno njerone.”(Ayo saya tunjukkan dalamnnya).
“Iya pak.” Mereka mengikuti pak jatmiko memperlihatkan satu persatu ruangan di dalam rumah tua itu. Dimulai dari kamar tidur yang berjumlah dua ruang dan satu kamar dapur. Setelah dari dapur, pak Jatmiko terus berjalan membuka pintu dapur dan keluar. Keluar dari dapur, pak Jatmiko memperlihatkan kamar mandi yang terpisah dari rumah utama.
Kamar mandi itu terbuat dari tembok tanpa atap. Di depan kamar mandi terdapat sebuah sumur yang sudah tua sekali. Terlihat lubang sumur tua itu sudah dipenuhi lumut hijau yang mengelilingi hampir seluruh dindingnya, dan warna dindingnya sudah kusam. Jadi untuk memenuhi kebutuhan air mereka selama tinggal dirumah ini, para peserta KKN harus menimba terlebih dahulu. Termasuk untuk masak, mencuci dan mengisi ketiga bak penampungan air didalam kamar mandi.
“Mohon maaf pak, memang kamar mandinya seperti ini?” tanya Rosa dengan suara pelan tidak seperti biasanya.
“Iya Mbak... maklum di kampung.” jawab Pak Kasun singkat.
Setelah memberi tahu setiap ruangan di basecamp, pak Jatmiko kembali kedepan diikuti oleh semua peserta KKN. Sebelum meninggalkan rumah, diteras rumah tua itu pa Jatmiko menyampaikan sedikit pesan kepada para peserta KKN yang akan tinggal di rumah itu.
“Mas, Mbak, nek sampean sak omah, tolong di jogo lelakune, ojok aneh-aneh. Soale sampean iki lanang wedok manggon sak omah.” (Mas dan Mbak, kalau kalian tinggal satu rumah, tolong di jaga tingkah lakunya, jangan macam-macam. Karena kalian laki-laki dan perempuan tinggal di satu rumah)
“Oohh... Enggeh pak, matursuwun.” (Ooh iya pak, terima kasih)
“Ya wes aku percoyo karo sampean kabeh. Mas ayub, Nek wonten nopo mawon sampean saget langsung ten griyo. Sak iki aku tak pamit muleh disek.” (Ya sudah aku percaya kepada kalian semua. Mas Ayup, kalau ada apa-apa mas bisa langsung ke rumah. Sekrang saya pami pulang dulu)
“Enggeh pak, nderekaken.”(Iya pak,silahkan)
[justify]Pak Jatmiko kembali masuk ke rumah, Beliau duduk disamping Ayub dan melanjutkan obrolan ringan.
“Mas, Mbak, tempate seng damel posko pun kulo siapaken. Tapi nggih ngenteniki, sak wontene nggih. Namine griyo ten kampung, mboten sami kalean ten kota.” (Mas, Mbak, tempat yang buat posko sudah saya siapkan. Tapi ya begitu,seadanya. Namanya rumah di kampung, tidak sama dengan di kota). Kata pak Jatmiko merendah
“Enggeh, mboten nopo nopo pak. Ten pundi niku griyane? (Iya, tidak apa-apa pak) jawab dan tanya Ayub sekaligus.
“Niki mas ten sebelah, celak kok. Tapi santai ngaso rumiyen, ngentosi dahar.” (Ini mas disebelah, deket kok. Tapi santi istirahat dulu, nunggu makan). Jawab pak jatmiko sambil menunjukkan arah posko itu berada
Tak lama berselang, bu Ratmi datang dengan membawa nampan berisi berbagai macam hidangan khas desa dari dalam rumah, lalu letakkan di ruang tengah. Istri pak Kasun itu bolak-balik untuk mengambil makanan sederhana ala kampung sampai tertata rapi diruang tengah.
Setelah hidangan sudah tersaji lengkap di ruang tengah, bu Ratmi mempersilahkan kepada semua mahasiswa untuk menikmatinya.
“Monggo mbak, mas, di tedo rumiyen!” (silahkan mbak, mas dimakan dahulu) pinta Bu Ratmi.
“Owh inggih bu… iya bu… enggih Bu,” jawab para peserta KKN saling bersahutan.
Mereka hanya saling melempar pandang dan enggan untuk memulai makan, raut muka mereka nampak malu-malu. Pak Jatmiko berusahan mencairkan suasana dengan mulai mengambil makanan duluan, diikuti istrinya dan baru kemudian mereka. Trik lama dari kepala dusun, agar para tamu tak sungkan untuk makan dirumahnya.
Mahasiswa dari kota sangat menikmati hidangan hasil karya istri kepala dusun, melahap semua hidangan tersaji agar perut yang lapar kembali terisi. Di tengah perbincangan hangat di sela-sela makan, Rosa memandangi foto keluarga pak Jatmiko. Tanpa sungkan ia menanyakan foto anggota keluarga pak Jatmiko yang menempel di dinding ruang tengah, foto yang tepat didepannya.
“Bu... Niku yugane nopo?” (Bu, itu anaknya apa?) tanya Rosa.
“Oh iyo mbak. Iku anakku sing mbarep,” (Oh iya mbak.itu anakku yang sulung) jawab bu Ratmi.
“Terus ten pundi buk yugane sak niki?”( Terus dimana buk anaknya sekarang) tanya Rosa lagi semakin kepo.
Indah yang semakin risih akan kelancangan rosa, menyenggol pinggang tambun temannya. Rosa pun menoleh kepada Indah. Dengan suara pelan, kata pun terlontar dari mulut Indah.
“Ngerti bae awakmu nek enek cah ganteng” (Ngerti saja kalau ada anak cakep).
Mereka berdua saling pandang sejenak, bermain kornea mata untuk saling memberikan kode siapa yang duluan paling cepat untuk dekati anak pak Jatmiko.
“Iyo mbak, anakku seng lanang. Kui sak iki yo kuliah nang Yogya. Allhamdulillah bocahe oleh beasiswa” (iya mbak. Anakku yang laki-laki itu sekarang kuliah di Yogya. Alhamdulilah anaknya dapat beasiswa).
“Oh ngoten nggih bu, pangapuntene.” (oh begitu ya bu, maaf) kata Rosa
“Ora popo mbak,” (tidak apa-apa mbak) jawab pak jatmiko.
Acara makan-makan dilanjutkan dan dibumbui dengan pembicaraan ringan untuk mempererat jalinan silturrohmi diantara mahasiswa mahsiswi kelompok 113. Makam malam penyambutan Mahasiswa KKN di rumah Pak Jatmiko berjalan cukup hangat dan sangat akrab. Setelah semua menyelesaikan makanannya, kondisi ruang tengah sedikit berantakan, para mahasiswi berinisiatif membantu merapikan piring, bakul, sendok dan perlengkapan lain. Tetapi bu Ratmi dengan senyum simpulnya meminta para mahasiswi untuk meletakkanya di sudut ruangan saja, karena takut merepotkan tamu dan biar ndak kuwalat. Sebagai istri seorang pamong desa di kampung, bu Ratmi sangat cekatan membereskan semuanya dan membawa masuk kedapur kembali. Wanita dusun itu memang terkenal kepribadian yang cekatan dan tangkas, bu Ratmi telah terbiasa dan tak kenal lelah dengan rutinitas kegiatan kesehari-hari.
Selesai jamuan makan malam, Ayub kembali ke kursi depan sedikit mencuri kesempatan menyandarkan diri dengan santai. Tangan kanan menarik pelan smartphone disakunya, matanya melirik ke jam digital di HPnya. Tidak disangka waktu sudah menunjukkan setengah enam sore. Dia agak kaget saat menilik ke pojok kanan layar smartphone dan barisan sinyal sudah tidak nampak lagi, cuman tanda silang merah. Sedang kondisi anggota KKN Ayub sudah terlihat sangat kelelahan setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Dengan sedikit agak sungkan, sang ketua kelompok memberanikan diri untuk pamit ke posko.
“Pak, saget langsung ten griyo seng damel posko?”(Pak,bisa langsung ke rumah yang di buat posko) pinta Ayub dengan sopan
“Oh iya mas, ayo budal sak iki!” (Oh iya mas, ayo berangkat sekarang) jawab Pak Jatmiko.
Beliau beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada istrinya untuk mengantar anak KKN ke posko. Dengan aba-aba yang sudah diberikan ayub, anggotanya juga bersiap-siap menuju ke posko dengan pak Jatmiko, perlahan satu persatu peserta KKN membawa barang bawaannya. Berbagai cara mereka lakukan untuk membawa barang dan peralatan itu, ada yang di tenteng, di panggul dan juga ditenteng berdua. Malam itu terlihat sekali rasa lesu dan penat menyelimuti wajah mereka. Tapi pak Jatmio sendiri masih semangat dan berwajah segar, beliau tetap mendampingi Ayub berjalan bersebelahan didepan sebagai penunjuk jalan.
Lokasi Posko sebenarnya tidak terlalu jauh, kurang lebih 100 meter dari rumah pak Kepala dusun. Sepanjang jalan, mereka menikmati suasana dusun yang masih asri dan alami meski hari sudah gelap, jarak rumah antar penduduk satu dengan penduduk lain pun cukup jauh. Sangat berbeda dengan kondisi kota dengan rumah yang saling berhimpitan dimana mereka tinggal. Malam itu, suasana dusun sudah sepi sekali seperti tengah malam, serangga dan jangkrik mulai bernyanyi nyaring menemani. Semakin lama terasa sedikit menyeramkan, terutama bagi meraka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di dusun ini. Rosa terlihat sangat menyukai pemandangan gelap di daerah ini.
“Indah, bagus ya view-nya? tanya Rosa. Dia sangat menikmati dengan terus melihat-lihat disekelilingnya.
“Iya... Bagus banget, aku juga suka,” jawab Indah dengan suara yang seolah memantulkan cahaya.
Tak begitu lama rombongan Ayub sampai di depan sebuah rumah, bangunan rumah itu terbuat dari kayu seperti rumah lainnya. Rumah tua berdinding papan-papan kayu jati tua nampak kokoh meskipun warnanya sudah kusam. Rumah dengan atap genteng dan asbes gelombang untuk terasnya. Pak jatmiko menoleh ke Ayub dan teman-temannya, beliau menunjuk ke sebuah rumah yang rencananya akan di jadikan posko KKN.
“Iku mas, omahe sing uwes tak siapno di gae kelompok sampean.” (Itu mas, rumah yang sudah saya siapkan mas dan kelompoknya) kata pak Jatmiko
“Oohh... niki pak nggeh.”(Oohh ini pak) jawab Ayub sejenak memandangi rumah tua itu dengan rasa sedikit penasaran
“Ayo langsung melebu ae mas mbak, iki omahku dewe. Omah’e ancen lawas, wes gak tau di nggoni hampir sepuluh tahun. Tapi wes tak resik’i kawet winginane. Tenang ae aman kok omahe mas.” (Ayo langsung masuk saja mas mbak, ini rumah saya sendiri. Rumahnya memang sudah tua, sudah lama tidak ditempati ya sekitar hampir 10 tahun. Tapi kemarin sudah saya bersihkan. Tenang saja mas aman kok rumahnya) jelas Pak Jatmiko sambal berjalan mendekati rumah tua itu.
“Oohh... inggih pak.”(Oohh... iya pak) Ayub mengangguk-anggukan kepalanya.
Lalu pak jatmiko bergegas membuka pintu rumah dan masuk terlebih dahulu. Beliau kemudian mempersilahkan anak-anak KKN masuk. Saat sudah didalam rumah, semua peserta KKN dengan sopan menaruh barang masing masing diruang tamu. Pak Jatmiko lalu mengajak mereka melihat-lihat seisi rumah.
“Ayo tak duduhno njerone.”(Ayo saya tunjukkan dalamnnya).
“Iya pak.” Mereka mengikuti pak jatmiko memperlihatkan satu persatu ruangan di dalam rumah tua itu. Dimulai dari kamar tidur yang berjumlah dua ruang dan satu kamar dapur. Setelah dari dapur, pak Jatmiko terus berjalan membuka pintu dapur dan keluar. Keluar dari dapur, pak Jatmiko memperlihatkan kamar mandi yang terpisah dari rumah utama.
Kamar mandi itu terbuat dari tembok tanpa atap. Di depan kamar mandi terdapat sebuah sumur yang sudah tua sekali. Terlihat lubang sumur tua itu sudah dipenuhi lumut hijau yang mengelilingi hampir seluruh dindingnya, dan warna dindingnya sudah kusam. Jadi untuk memenuhi kebutuhan air mereka selama tinggal dirumah ini, para peserta KKN harus menimba terlebih dahulu. Termasuk untuk masak, mencuci dan mengisi ketiga bak penampungan air didalam kamar mandi.
“Mohon maaf pak, memang kamar mandinya seperti ini?” tanya Rosa dengan suara pelan tidak seperti biasanya.
“Iya Mbak... maklum di kampung.” jawab Pak Kasun singkat.
Setelah memberi tahu setiap ruangan di basecamp, pak Jatmiko kembali kedepan diikuti oleh semua peserta KKN. Sebelum meninggalkan rumah, diteras rumah tua itu pa Jatmiko menyampaikan sedikit pesan kepada para peserta KKN yang akan tinggal di rumah itu.
“Mas, Mbak, nek sampean sak omah, tolong di jogo lelakune, ojok aneh-aneh. Soale sampean iki lanang wedok manggon sak omah.” (Mas dan Mbak, kalau kalian tinggal satu rumah, tolong di jaga tingkah lakunya, jangan macam-macam. Karena kalian laki-laki dan perempuan tinggal di satu rumah)
“Oohh... Enggeh pak, matursuwun.” (Ooh iya pak, terima kasih)
“Ya wes aku percoyo karo sampean kabeh. Mas ayub, Nek wonten nopo mawon sampean saget langsung ten griyo. Sak iki aku tak pamit muleh disek.” (Ya sudah aku percaya kepada kalian semua. Mas Ayup, kalau ada apa-apa mas bisa langsung ke rumah. Sekrang saya pami pulang dulu)
“Enggeh pak, nderekaken.”(Iya pak,silahkan)
***
Diubah oleh bayubiruuuu 25-06-2021 12:25
sulkhan1981 dan 36 lainnya memberi reputasi
37
Tutup