- Beranda
- Stories from the Heart
HITAM Season 2
...
TS
Mbahjoyo911
HITAM Season 2


Quote:
Prolog
Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan. Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi.
Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.
Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat.
Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana,
Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam.
Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa.
Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.
Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.
Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.
Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.
Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.
Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.
Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda.
Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.
Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.
Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.
Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya.
Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...
Spoiler for Salma:
Spoiler for Amrita:
Diubah oleh Mbahjoyo911 27-03-2022 06:54
Dhekazama dan 401 lainnya memberi reputasi
378
1.6M
25K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Mbahjoyo911
#5236
Saudari tiri
Suatu belaian lembut telah membangunkanku, satu tangan sangat dingin mengelus pipiku. Wajah Salma berada tepat di depanku dengan senyum manisnya. Kutengok ke samping, Nuria masih tertidur lelap. Jam menunjuk di angka setengah lima pagi. Segera aku beranjak mengambil air wudhu dan subuhan bersama Salma dan Amrita di kamar itu juga.
Selesai subuhan, dzikir dan doa, kuperiksa keadaan Hayu. Luka-luka itu telah mengering, cepat sekali sembuhnya, sampe saat ini aku masih heran, gimana bisa segitu cepat? Kok kayak iklan aja, minum obat langsung sembuh.
Kutransfer energi hangat padanya untuk memperkuat daya tahan dan memberi tenaga. Tapi mendadak Hayu membuka matanya, dia berusaha tersenyum, tapi segera berubah jadi rintih kesakitan, pipinya aja masih luka, buat senyum pasti sakit banget. Air matanya sampe mengalir menahan sakit.
Kutempelkan tanganku ke pipinya dan kutransfer hawa dingin. Hayu tampak memejamkan mata, kayak meresapi hawa dingin itu. Memang hawa dingin sangat nyaman buat luka-luka di kulit. Aku jadi tambah kasihan melihatnya. Hayu kembali membuka mata dan menatapku lama sekali, aku masih fokus dalam mentransfer energi dingin itu.
"Te-terima kasih.." suaranya hampir nggak kedengeran.
"Nggak usah mikir itu dulu kak.. yang penting sembuh dulu.." jawabku.
"T-tapi aku.. aku ngerasa udah sembuh... pokoknya makasih.."
"Kakak kan masih pemulihan.. belum sembuh total.." kataku. "Gimana perasaan kakak..?"
"Udah jauh lebih baik dari kemarin.." jawab Hayu. "Kamu.. kamu temennya Nuria ya..?"
"Satu kampus sih kak.. tapi aku semester 6.."
"Kalo gitu nggak usah panggil kakak lah.. beda dikit kita.."
"Terus aku manggil apa donk..?" tanyaku.
"Panggil Hayu aja.."
"Kalo aku panggil sayang boleh nggak..?" tanyaku.
Hampir terlepas itu tawa, tapi dia segera meringis kesakitan lagi. Ini mulut emang suka mendahului otak, ngomong dulu baru mikir.
"Orang lagi sakit kok malah ketawa.." kataku.
"Abis kamu gitu.. Udah berapa cewek yang kamu gituin..?" senyumnya masih dipaksakan disertai meringis kesakitan.
"Kalo kata-kata tadi ya baru kamu lah.." jawabku.
"Namamu siapa..?"
"Andra kak.."
"Udah kubilang nggak usah pake kak.. berasa tua aku.."
Aku ketawa mendengarnya. "Yaudah.. Hayu aja.."
"Gimana kamu bisa kenal Nuria..?"
"Ceritanya panjang.. Ntar nanya aja sama adekmu.." jawabku.
"Aku punya banyak waktu buat dengerin.. tapi aku mau ke kamar mandi dulu.. bisa nggak kamu bantuin..?"
"Biasanya gimana..?" tanyaku.
"Ya dipapah gitu.."
"Emang kamu bisa bangun..?" tanyaku.
"Ya di coba dulu.."
Hayu mencoba beranjak duduk, tapi jeritan kecil terlepas dari mulutnya. "Sakit banget.."
Kembali kutransfer energi dingin untuk meredakan sakit itu. Saat itulah kudengar teriakan di belakangku.
"Kakak..! Kakak udah sadar?"[/QUOTE]
Nuria menghambur memeluk kakaknya, mereka bertangis-tangisan berdua. Bahkan simbok dan paman juga datang tergopoh-gopoh. Jadi kutinggalin aja mereka. Aku keluar kamar itu dan menuju ruang tamu, kembali aku mengedarkan pandanganku dan tertumbuk pada foto keluarga. Kenapa keluarga yang kayaknya dekat kok bisa ancur gini ya. Nggak mungkin kalo masalah ekonomi.
Lalu kudengar suaranya Salma.
"Si pelaku utama ini, mau diapakan..?"
"Harusnya dikasih pelajaran biar kapok.. tapi gimana caranya..?" kataku.
"Samperin aja langsung, hajar sampe kapok.." sahut Amrita. "Baj*ngan kayak dia nggak perlu di kasih kesempatan..!"
"Halah.. dihajar gitu nggak akan bisa kapok yo.. malah tambah dendam dia.." jawabku.
"Pelajaran yang nggak akan dilupakan seumur hidupnya, sampai dia nggak akan berani mengulanginya.."
"Biar dipikir ntar aja.."[/QUOTE]
Kupanggil Ekawadya, ada beberapa anak buahnya yang masih berada disini. Aku minta tolong padanya untuk mencari laki-laki pacar mamanya Nuria itu, sekalian mencari mamanya Nuria juga. Dengan pembayangan dalam pikiran, kutransfer hasil pembayangan wajah laki-laki itu. Aku menduga laki-laki itu masih ada di kabupaten ini, jadi nggak akan susah mencarinya. Selesai mentransfer, Ekawadya langsung menghilang.
Aku keluar lewat pintu depan, langit masih gelap. Halaman rumah itu luas banget, lebarnya mungkin 20 meteran dengan panjang sekitar 30 meteran. Dikelilingi pagar tembok setinggi 2,5 meter. Ditumbuhi rumput dan beberapa pohon palem yang sangat tinggi. Aku melangkah ke samping rumah, bahkan halaman samping kiri kanan rumah itu juga selebar 5 meteran, memanjang ke belakang sejauh 30 meteran.
Kutelusuri halaman samping kiri rumah hingga sampai di halaman belakang. Ada sebuah kolam renang cukup besar, lengkap dengan papan loncat dan seluncuran. Bener-bener tajir ini pemilik rumah. Halaman belakang ini juga luas, dengan lebar 15 meteran dan panjang 30 meter, kepotong kolam renang. Ditumbuhi rerumputan juga, ada satu pohon jambu dan satu pohon mangga di dekat pagar tembok belakang. Kulihat sosok kunti terbang menjauhi pohon mangga itu, dia merasa terganggu oleh Salma dan Amrita.
Langit sudah semburat mulai terang saat aku kembali ke pintu depan lewat halaman samping kanan rumah. Memasuki ruang tamu, Kembali kuedarkan pandangan berkeliling ruang tamu itu, lalu pandanganku tertumbuk pada dua pedang yang dipajang bersilangan di dinding, ini cuma pedang hiasan atau emang ada orang di rumah ini yang bisa memainkannya ya? Pedang itu berkilat-kilat dan tampak tajam banget, mungkin dari baja pilihan. Lagi asyik mengamat-amati, mendadak aku terlonjak kaget oleh suatu bentakan menggeledek.
Aku berbalik dan kulihat seorang laki-laki paruh baya, tapi badannya kekar dan tinggi besar, wajahnya masih ada gurat-gurat ketampanan,aku yakin laki-laki ini di masa mudanya adalah pemuda yang tampan. Dia melangkah besar-besar ke arahku, meraih salah satu pedang yang terpajang itu dan mengacungkannya padaku. Salma dan Amrita sudah bersiap di kiri kanan orang itu.
Akhirnya aku ikut sarapan bareng keluarga, kecuali Hayu yang selalu kesakitan kalo pas bangun. Ternyata papanya itu ramah dan baik banget, kirain dia orang yang sangar, karena kesan pertama aja udah dibawain pedang kayak gitu.
Kami ngobrol banyak soal kuliah dan juga domisiliku.. Selesai sarapan, papanya pamit mau ke kantor dan katanya ntar siang dia akan balik lagi ke sini.
Selesai sarapan itu, papanya sempat menengok Hayu juga sebelum berangkat. Aku juga ikuti ke kamarnya Hayu untuk mengecek keadaannya. Dia masih bangun dan sedang memainkan hpnya. Dia tersenyum melihatku, itu lesung pipit membuatnya sangat manis, overall.. Hayu adalah cewek yang cantik, pantesan aja laki-laki itu tergila-gila padanya.
Setelah kepergian papanya, kupegang tangannya untuk salurkan hawa sejuk itu. Lalu dalam jarak satu jengkal, kusapu seluruh tubuhnya dengan telapak tangan, tentunya disertai energi dingin itu. Selesai semuanya, aku katakan pada Hayu agar dia mandi dengan tiga butir kelapa muda itu lagi.
Kuulangi proses penyiapan air kelapa muda buat mandi itu seperti kemarin. Yaitu dengan ditambahkan kunyit putih dan garam, lalu dibacakan basmalah dan ayat kursi. Kali ini aku mengangkat Hayu ke kamar mandi, dan selebihnya biar simbok yang memandikannya.
Saat Hayu keluar dari kamar mandi, sebagian luka yang mengering itu telah mengelupas, berganti kulit baru. Ini adalah kesembuhan tercepat yang pernah aku lihat. Sementara simbok terlihat bengong aja, mungkin dia juga heran dengan khasiat air kelapa muda itu. Tapi menurutku, kesembuhan itu bukan karena air kelapa, tapi karena doanya, dan Allah telah meridhoi dan memberikan kesembuhan itu.
Hayu udah bisa jalan sendiri meski pelan-pelan sambil kadang meringis menahan sakit. Luka yang baru mengering itu menjadikan kulitnya sangat kaku, hingga akan terasa sakit kalo buat gerak. Tapi lagi-lagi perkembangan kesembuhan itu termasuk luar biasa.
Dua cewek itu sama-sama menatapku dengan pandangan yang sukar diartikan. Untuk sesaat kamar itu jadi sepi. Simbok muncul membawa tiga gelas teh hangat. Pembicaraan itu terhenti untuk beberapa saat untuk menyeruput teh hangat itu. Tapi aku tau ada yang berputar di kepala dua cewek itu.
Kulihat Hayu tersenyum menatap adiknya, matanya berkaca-kaca, dua cewek itupun berpelukan, Nuria ikut keluarkan air mata. Aku ikut senang dan ngerasa terharu ngelihat dua saudara bisa akur banget kayak gini, moga aja papa mama mereka bisa rujuk kembali. Aku malah pengen ketemu sama mamanya, mau lihat gimana orangnya.
Kami mengobrol sangat lama, tentang kehidupan mereka. Aku jadi tau banyak soal mereka, dan aku tambah respek sama ikatan saudara antara dua cewek itu. Hingga akhirnya dhuhur pun tiba, kami malah dhuhuran bareng bertiga, bersama Salma dan Amrita.
Lanjut bawah gaess..
Selesai subuhan, dzikir dan doa, kuperiksa keadaan Hayu. Luka-luka itu telah mengering, cepat sekali sembuhnya, sampe saat ini aku masih heran, gimana bisa segitu cepat? Kok kayak iklan aja, minum obat langsung sembuh.
Kutransfer energi hangat padanya untuk memperkuat daya tahan dan memberi tenaga. Tapi mendadak Hayu membuka matanya, dia berusaha tersenyum, tapi segera berubah jadi rintih kesakitan, pipinya aja masih luka, buat senyum pasti sakit banget. Air matanya sampe mengalir menahan sakit.Kutempelkan tanganku ke pipinya dan kutransfer hawa dingin. Hayu tampak memejamkan mata, kayak meresapi hawa dingin itu. Memang hawa dingin sangat nyaman buat luka-luka di kulit. Aku jadi tambah kasihan melihatnya. Hayu kembali membuka mata dan menatapku lama sekali, aku masih fokus dalam mentransfer energi dingin itu.
"Te-terima kasih.." suaranya hampir nggak kedengeran.
"Nggak usah mikir itu dulu kak.. yang penting sembuh dulu.." jawabku.
"T-tapi aku.. aku ngerasa udah sembuh... pokoknya makasih.."
"Kakak kan masih pemulihan.. belum sembuh total.." kataku. "Gimana perasaan kakak..?"
"Udah jauh lebih baik dari kemarin.." jawab Hayu. "Kamu.. kamu temennya Nuria ya..?"
"Satu kampus sih kak.. tapi aku semester 6.."
"Kalo gitu nggak usah panggil kakak lah.. beda dikit kita.."
"Terus aku manggil apa donk..?" tanyaku.
"Panggil Hayu aja.."
"Kalo aku panggil sayang boleh nggak..?" tanyaku.
Hampir terlepas itu tawa, tapi dia segera meringis kesakitan lagi. Ini mulut emang suka mendahului otak, ngomong dulu baru mikir.

"Orang lagi sakit kok malah ketawa.." kataku.
"Abis kamu gitu.. Udah berapa cewek yang kamu gituin..?" senyumnya masih dipaksakan disertai meringis kesakitan.
"Kalo kata-kata tadi ya baru kamu lah.." jawabku.
"Namamu siapa..?"
"Andra kak.."
"Udah kubilang nggak usah pake kak.. berasa tua aku.."
Aku ketawa mendengarnya. "Yaudah.. Hayu aja.."
"Gimana kamu bisa kenal Nuria..?"
"Ceritanya panjang.. Ntar nanya aja sama adekmu.." jawabku.
"Aku punya banyak waktu buat dengerin.. tapi aku mau ke kamar mandi dulu.. bisa nggak kamu bantuin..?"
"Biasanya gimana..?" tanyaku.
"Ya dipapah gitu.."
"Emang kamu bisa bangun..?" tanyaku.
"Ya di coba dulu.."
Hayu mencoba beranjak duduk, tapi jeritan kecil terlepas dari mulutnya. "Sakit banget.."
Kembali kutransfer energi dingin untuk meredakan sakit itu. Saat itulah kudengar teriakan di belakangku.
"Kakak..! Kakak udah sadar?"[/QUOTE]
Nuria menghambur memeluk kakaknya, mereka bertangis-tangisan berdua. Bahkan simbok dan paman juga datang tergopoh-gopoh. Jadi kutinggalin aja mereka. Aku keluar kamar itu dan menuju ruang tamu, kembali aku mengedarkan pandanganku dan tertumbuk pada foto keluarga. Kenapa keluarga yang kayaknya dekat kok bisa ancur gini ya. Nggak mungkin kalo masalah ekonomi.
Lalu kudengar suaranya Salma."Si pelaku utama ini, mau diapakan..?"
"Harusnya dikasih pelajaran biar kapok.. tapi gimana caranya..?" kataku.
"Samperin aja langsung, hajar sampe kapok.." sahut Amrita. "Baj*ngan kayak dia nggak perlu di kasih kesempatan..!"
"Halah.. dihajar gitu nggak akan bisa kapok yo.. malah tambah dendam dia.." jawabku.
"Pelajaran yang nggak akan dilupakan seumur hidupnya, sampai dia nggak akan berani mengulanginya.."
"Biar dipikir ntar aja.."[/QUOTE]
Kupanggil Ekawadya, ada beberapa anak buahnya yang masih berada disini. Aku minta tolong padanya untuk mencari laki-laki pacar mamanya Nuria itu, sekalian mencari mamanya Nuria juga. Dengan pembayangan dalam pikiran, kutransfer hasil pembayangan wajah laki-laki itu. Aku menduga laki-laki itu masih ada di kabupaten ini, jadi nggak akan susah mencarinya. Selesai mentransfer, Ekawadya langsung menghilang.
Aku keluar lewat pintu depan, langit masih gelap. Halaman rumah itu luas banget, lebarnya mungkin 20 meteran dengan panjang sekitar 30 meteran. Dikelilingi pagar tembok setinggi 2,5 meter. Ditumbuhi rumput dan beberapa pohon palem yang sangat tinggi. Aku melangkah ke samping rumah, bahkan halaman samping kiri kanan rumah itu juga selebar 5 meteran, memanjang ke belakang sejauh 30 meteran.
Kutelusuri halaman samping kiri rumah hingga sampai di halaman belakang. Ada sebuah kolam renang cukup besar, lengkap dengan papan loncat dan seluncuran. Bener-bener tajir ini pemilik rumah. Halaman belakang ini juga luas, dengan lebar 15 meteran dan panjang 30 meter, kepotong kolam renang. Ditumbuhi rerumputan juga, ada satu pohon jambu dan satu pohon mangga di dekat pagar tembok belakang. Kulihat sosok kunti terbang menjauhi pohon mangga itu, dia merasa terganggu oleh Salma dan Amrita.
Langit sudah semburat mulai terang saat aku kembali ke pintu depan lewat halaman samping kanan rumah. Memasuki ruang tamu, Kembali kuedarkan pandangan berkeliling ruang tamu itu, lalu pandanganku tertumbuk pada dua pedang yang dipajang bersilangan di dinding, ini cuma pedang hiasan atau emang ada orang di rumah ini yang bisa memainkannya ya? Pedang itu berkilat-kilat dan tampak tajam banget, mungkin dari baja pilihan. Lagi asyik mengamat-amati, mendadak aku terlonjak kaget oleh suatu bentakan menggeledek.
Quote:
Aku berbalik dan kulihat seorang laki-laki paruh baya, tapi badannya kekar dan tinggi besar, wajahnya masih ada gurat-gurat ketampanan,aku yakin laki-laki ini di masa mudanya adalah pemuda yang tampan. Dia melangkah besar-besar ke arahku, meraih salah satu pedang yang terpajang itu dan mengacungkannya padaku. Salma dan Amrita sudah bersiap di kiri kanan orang itu.
Quote:
Akhirnya aku ikut sarapan bareng keluarga, kecuali Hayu yang selalu kesakitan kalo pas bangun. Ternyata papanya itu ramah dan baik banget, kirain dia orang yang sangar, karena kesan pertama aja udah dibawain pedang kayak gitu.
Kami ngobrol banyak soal kuliah dan juga domisiliku.. Selesai sarapan, papanya pamit mau ke kantor dan katanya ntar siang dia akan balik lagi ke sini. Selesai sarapan itu, papanya sempat menengok Hayu juga sebelum berangkat. Aku juga ikuti ke kamarnya Hayu untuk mengecek keadaannya. Dia masih bangun dan sedang memainkan hpnya. Dia tersenyum melihatku, itu lesung pipit membuatnya sangat manis, overall.. Hayu adalah cewek yang cantik, pantesan aja laki-laki itu tergila-gila padanya.
Setelah kepergian papanya, kupegang tangannya untuk salurkan hawa sejuk itu. Lalu dalam jarak satu jengkal, kusapu seluruh tubuhnya dengan telapak tangan, tentunya disertai energi dingin itu. Selesai semuanya, aku katakan pada Hayu agar dia mandi dengan tiga butir kelapa muda itu lagi.
Kuulangi proses penyiapan air kelapa muda buat mandi itu seperti kemarin. Yaitu dengan ditambahkan kunyit putih dan garam, lalu dibacakan basmalah dan ayat kursi. Kali ini aku mengangkat Hayu ke kamar mandi, dan selebihnya biar simbok yang memandikannya.
Saat Hayu keluar dari kamar mandi, sebagian luka yang mengering itu telah mengelupas, berganti kulit baru. Ini adalah kesembuhan tercepat yang pernah aku lihat. Sementara simbok terlihat bengong aja, mungkin dia juga heran dengan khasiat air kelapa muda itu. Tapi menurutku, kesembuhan itu bukan karena air kelapa, tapi karena doanya, dan Allah telah meridhoi dan memberikan kesembuhan itu.
Hayu udah bisa jalan sendiri meski pelan-pelan sambil kadang meringis menahan sakit. Luka yang baru mengering itu menjadikan kulitnya sangat kaku, hingga akan terasa sakit kalo buat gerak. Tapi lagi-lagi perkembangan kesembuhan itu termasuk luar biasa.
Quote:
Dua cewek itu sama-sama menatapku dengan pandangan yang sukar diartikan. Untuk sesaat kamar itu jadi sepi. Simbok muncul membawa tiga gelas teh hangat. Pembicaraan itu terhenti untuk beberapa saat untuk menyeruput teh hangat itu. Tapi aku tau ada yang berputar di kepala dua cewek itu.
Quote:
Kulihat Hayu tersenyum menatap adiknya, matanya berkaca-kaca, dua cewek itupun berpelukan, Nuria ikut keluarkan air mata. Aku ikut senang dan ngerasa terharu ngelihat dua saudara bisa akur banget kayak gini, moga aja papa mama mereka bisa rujuk kembali. Aku malah pengen ketemu sama mamanya, mau lihat gimana orangnya.
Quote:
Kami mengobrol sangat lama, tentang kehidupan mereka. Aku jadi tau banyak soal mereka, dan aku tambah respek sama ikatan saudara antara dua cewek itu. Hingga akhirnya dhuhur pun tiba, kami malah dhuhuran bareng bertiga, bersama Salma dan Amrita.
Lanjut bawah gaess..
agoezsholich107 dan 116 lainnya memberi reputasi
117
Tutup

