- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Horor Keramat
...
TS
keramatchannel
Cerita Horor Keramat

Perkenalkan agan, saya dari channel youtube : Keramat
Masih nubi dan kemaren thread saya dibredel momod mungkin karena ngasih link youtube saya
Okelah saya tulis ulang cerita2 saya
RULES UTAMA :
DILARANG MENULIS ULANG ATAU MENCERITAKAN ULANG CERITA - CERITA DARI NARASUMBER SAYA DI PLATFORM APAPUN
SEMUA CERITA DARI NARASUMBER YG SAYA OLAH DENGAN GAYA PENULISAN SAYA
BUAT YG MAU LINK CHANNEL SILAKAN PM, TIDAK SAYA KASIH DIRECT LINK DISINI
Terima Kasih, Salam Hormat Saya
Selamat Menikmati





1. Pesugihan Di Lereng Gunung Lawu 1
2. Pesugihan Di Lereng Gunung Lawu 2
3. Horror Di Pabrik Gula Tua
4. Perkemahan Air Terjun Coban Rondo 1
5. Perkemahan Air Terjun Coban Rondo 2
6. Sebelum 40 Hari
7. Lelaki Darah Biru
Diubah oleh keramatchannel 18-06-2021 15:53
minakjinggo007 dan 11 lainnya memberi reputasi
10
5.2K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
keramatchannel
#8

Lelaki Darah Biru
Spoiler for lelaki darah biru:
Bismillah, asalamualaikum semuanya. Apa kabar? Semoga selalu sehat sukses dan sejahtera. Kali ini ada cerita dari temanku, namanya hendrik. Dia saat itu masih jadi mahasiswa di salah satu kampus di jogja. Saat liburan, karena patah hati dia memilih pergi ke rumah neneknya di gombong. Sebuah kota kecil nan sepi, tp siapa sangka itu akan menjadi pengalaman yg menegangkan. Oke, langsung saja ceritanya ya
Juli 2008
Namaku hendrik, mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di jogja. Aku baru saja putus dengan pacarku. Perempuan itu mengkhianatiku bahkan setelah kami bertunangan. Jujur, namanya lelaki, walaupun terlihat tegar, tp kami para lelaki tidak akan pernah lupa seumur hidup rasanya dikhianati. Beda dengan para wanita, mereka bisa menangis 1 – 2 minggu, lalu lupa selamanya.
Orang tuaku tahu kejadian ini, mereka memberikan suport agar aku sabar menghadapinya. Sialnya ini waktu liburan semester. Harusnya aku liburan ber backpaker ke bali dengan mantanku, tp skrg semua tinggal ampas didasar gelas kopi. Pasti dibuang...
Aku memutuskan menenangkan diri menjauhi hingar bingar peradaban dengan merencanakan berlibur ke rumah nenek di gombong. Orang tuaku juga mendukung rencanaku, sekalian ada yg jaga nenek sementara, karena setahun kemarin kakekku baru saja meninggal. Dan sore ini aku memutuskan berangkat dari kost ku mengendarai motorku ke gombong
“Enjoy ya bro, kl butuh apa2 kamu sms aku. Temen2 lain juga paham rasanya patah hati, kita selalu ada.” Ucap galih sahabatku
“oke bro, makasih ya dukungan kalian”. Kujawab singkat sambil menyalakan motorku.
Sahabat2 terdekatku, aku cukup beruntung bisa mengenal mereka. Kami selalu saling support dalam segala hal. Maklum kami kebanyakan perantau. Hanya galih ini yg asli jogja. Sebetulnya bbrp mereka ingin ikut menemaniku ke gombong, namun sengaja kutolak. Aku paham mereka sudah punya rencana liburan sendiri2.
Aku melaju dengan santai, jarak gombong dari jogja tidak terlalu jauh, hanya 2 jam perjalanan. Aku memutuskan lewat jalur selatan, wates. Sengaja kupilih sekalian aku suka angin pantai. Jalut selatan ini mepet dengan gugusan pantai selatan pulau jawa.
Selepas waktu maghrib, aku telah sampai di gombong. Segera kutuju rumah nenekku setelah mampir membungkus makanan di warung sate, aku tidak mau merepotkan nenek. Rumah nenek berdekatan dengan sebuah tempat bersejarah yaitu Benteng Van Der Wicjk. Kalian harus mampir kesini kl sedang berada di wilayah gombong kebumen. Aku memasuki komplek militer, karena kakekku seorang tentara dan nenek masih tinggal disitu. Setelah melapor di pos penjagaan aku segera menuju rumah nenek. Halaman rindang penuh pepohonan terlihat asri di siang hari, namun di malam hari terlihat sedikit menyeramkan. Aku segera memarkir motor didepan dan mengetuk pintu rumah dinas itu.
Tok.. Tok... Tok...
“Asalamualaikum, eyang cucumu datang”
Tak lama nenek membuka pintu, rupanya dia sedang berada di ruang tamu.
“Wes tak tunggu dari tadi le, bapakmu telpon katanya kamu dateng malam ini. Ayo masuk dulu”
“iya eyang, ini hendrik bawa makanan, eyang belum makan to.”
“duuuh, cah ganteng tau saja. Memang cucu kesayangan ini tau saja makanan kesukaan eyang”
Aku memang cucu yg paling dekat dengan nenek, paman2 ku tinggal di luar jawa. Otomatis akulah yg paling sering bertemu kakek dan nenek. Berbeda dengan kakek yg kolot dan sangat galak, nenek sifatnya sangat lembut dan penyayang. Nenek berlalu ke belakang dan kembali membawa piring dan sendok untuk kami makan bersama di ruang tamu.
“Eyang putri sehat? Gimana kabarnya? Apa gak sepi eyang disini sendiri?” ucapku sembari makan sate di piringku
“Alhamdulilah sehat le, ya memang disini sepi, tp kan eyang juga sudah males mau wara wiri. Kamu sendiri gimana kabarnya? Jadi nikah tahun depan?” balas nenekku.
Aku tersenyum getir, belum 15 menit aku disini, sudah kembali diingatkan ke perempuan yg mencampakkanku itu
“Bubar eyang, itu cewek selingkuh hahahaha” kataku sambil tertawa. Menertawakan nasib ini hahaha
“Lho lho lho.. Oalah dasar wadon gendeng. Eyang tau kamu dari bayi merah, kamu orangnya gimana. Wes ndak usah dipikirin ya le. Nanti juga dapet ganti lebih baik.” Ucap neneku memberi dukungan moral.
“Lha iya to eyang, hendrik kemari dalam rangka melupakan dia. Belum 15 menit udah diingetin sama eyang hahaha”
Kami tertawa bersama. Lalu lanjut obrolan2 ringan, selayaknya cucu yg lama tidak bertemu neneknya. Nenek juga senang pastinya, aku datang menemaninya. Aku yakin sebenarnya dia juga pasti kesepian. Tp nenek menolak untuk tinggal bersama orang tuaku. Sudah terlanjur betah disini dan tidak mau wara wiri alasannya.
Sampai jam 9 kami mengobrol banyak hal. Rupanya nenek sudah mengantuk.
“Le, nenek mau tidur dulu ya. Kamu bisa tidur di kamar depan atau kamar belakang. Kamarnya udah rapi, tp lampunya mati semua. Yg belakang memang blm ada lampunya, yg depan ini bolak balik diganti tetep aja ndak sampe seminggu mati lagi” ucap nenek padaku.
“Iya eyang, aku tidur kamar depan aja. Jendela dibuka juga terang dr lampu teras. Lagian agak panas hawanya disini.” Jawabku
“Lha kowe keringetan, mandi dulu sana. Yowes eyang tidur dulu ya”
Nenek segera berlalu masuk ke kamarnya. Akupun segera membereskan bawaanku di kamar depan. Kamar ini biasa ditempati tamu yg berkunjung, jd kebanyakan waktunya kamar ini kosong. Udaranya agak lembab mungkin karena lama tidak ditempati. Segera kubuka dua daun jendela, cahaya lebih terang skrg. Kuhisap rokokku sambil duduk di ranjang berkalung handuk. Ranjang ini tepat disamping jendela, jadi aku bs melihat jalanan komplek militer yg sepi ini.
Tiba2 asik2nya aku merokok sambil membalas sms teman2ku. Aku melihat di seberang jalan ada sosok anak kecil bermain2 di sisi seberang. Anak siapa ini malem2 main sendirian di luar, batinku sambil kuperhatikan anak itu. Iseng kudekati jendela, aku menyapa anak itu
“Woi dek, maen apa kamu malem2 gini” kataku padanya dengan lantang karena jarak cukup jauh.
Anak itu menoleh dan menjawabku
“Sedang maen putar kepala seperti ini mas, mau ikut?” begitu jawabnya sambil kepalanya berputar2 360° di lehernya seperti mainan yg kepalanya bisa diputar kesana kemari. Mampus aku, ini bukan anak manusia ternyata.
Tak ayal aku segera berlari menghambur keluar kamar dengan panik, jantungku berdetak kencang sekali rasanya. Wah, menyesal aku menyapanya td. Aku menenangkan diri sambil beranjak ke kamar mandi. Tp rupanya nenek masih memakai kamar mandi itu. Terdengar gemericik air disitu seperti orang sedang mandi, jd sementara aku duduk saja di ruang tengah sembari menghabiskan rokok.
Dua batang rokok sudah habis, tp nenek blm juga keluar dr kamar mandi. Segera kulihat lagi dan ternyata saklar lampunya mati. Kubuka kamar mandi untuk memeriksanya, tp jangankan orang, lantai kamar mandi itu tidak basah dan kran air tidak menyala. Waduh gak beres ini, merinding aku melihat kamar mandi gelap ini ternyata kosong. Tentu saja sebagai orang waras yg enggan bertemu dengan makhluk gaib kuurungkan niatku mandi. Baru 3 langkah dr situ kudengar suara tawa wanita tertawa
Hiiiiii..... Bergidik aku dibuatnya, kl bukan karena kuatir nenek bangun, aku akan lari kencang balik ke kamar. Sampai di kamar kulihat jendela masih terbuka, wah serba salah aku. Dibuka, aku takut penampakan aneh2 muncul disana, ditutup gelap, sama saja aku juga takut. Belum lagi suara wanita di belakang td, gimana kl ternyata dia mengikutiku. Benar2 buah simalakama ini...
Ah, masa bodo lah. Lebih baik aku segera tidur berselimut sarung, daripada mengalami kejadian horor lagi. Kalian yg denger cerita ini seneng kan? Aku tidak, malam itu aku segera menutup kepalaku dengan sarung. Aku yg biasa begadang ini mencoba tidur dengan perasaan waswas.
Akhirnya aku berhasil tidur, itu tidur dibawah jam 12 ku yg pertama sejak 2 tahun ini kurasa. Namun tidurku ini tidak seenak yg kubayangkan. Aku terbangun entah jam berapa, yg jelas ini bukan pagi. Aku terbangun karena rasa basah di kakiku.
Ketika aku membuka mata, aku melihat sebuah kepala besar menjilati kakiku dengan lidahnya yg besar dan panjang. Leher makhluk itu panjang, hanya kepala dan sebagian lehernya yg masuk, entah dimana dan seperti apa badannya. Aku tidak bisa bergerak, sepertinya aku ketindihan, sudah ketindihan tertimpa tangga pula ini namanya. Bagaikan sadar kl aku membuka mata, setan itu perlahan menoleh kepadaku. Matanya seperti orang kebanyakan, tp sangat besar dan bulat, hidungnya besar dan lebar, dan mulutnya ciut tanpa bibir, hanya lidahnya yg bisa keluar terjuntai.
Ya Tuhan minta kawelasan. Aku ini sudah patah hati, niat baik mau menemani nenek, malah kejadian horor gini. Kuingat dosa2ku paling banter Cuma nyolong rokok bapak, berantem sama orang, sama ngakali dosen. Kenapa aku harus mengalami yg seperti ini
Makhluk itu tidak juga pergi dan badanku juga blm bisa bergerak, kejadian ini berlangsung 30 detik, bukan waktu yg sebentar dengan keadaan seperti itu. Pikiranku kacau, ketakutan bercampur patah hati dan kekecewaan menguasai pikiranku. Sekarang semua rasa itu bercampur menjadi rasa marah yg teramat hebat.
Tanpa sadar, aku katupkan gigi rapat2 karena kemarahan. Jari2ku mulai bergerak membentuk cakar dan aku mulai menggeram pelan seperti hewan buas yg ditantang lawannya, makhluk didepanku rupanya sadar aku mulai bergerak.
Entah darimana muncul kekuatan dan keberanian itu, tiba2 dengan cepat aku bangkit terduduk dan membetot lidah makhluk itu dengan kasar. Sekali sentak, lidahnya terlepas diiringi teriakan memilukan, makhluk itu segera menarik lehernya keluar sambil mengeluarkan teriakan memilukan.
Tiba2 aku terbangun membuka mata, tubuhku dipenuhi keringat hingga basah semua kaos yg kupakai. Apalah itu td mimpi? Aku td mengalami sleep paralyzed atau ketindihan, knp aku bisa bangun dua kali? Aku mengatur nafas dan detak jantungku yg tidak beraturan. Aku mulai mempertanyakan keputusanku pergi ke gombong kali ini. Tak lama seperti kudengar suara di kepalaku
“Itu baru anak turun Gatot Suryo Sentiko”
Aku terduduk celingukan mencari sumber suara itu.
“Fokus ndrik, tenangkan dirimu” suara itu menghardik.
Perlahan muncul sosok seperti siluet di depanku. Membentuk sosok manusia dengan sangat jelas namun transparan. Tak salah lagi, itu sosok kakek ku. Almarhum Kolonel Purnawirawan Gatot Suryo Sentiko. Sosok itu terlihat lebih muda seperti kakek saat berusia 40an mengenakan kemeja hitam.
“Eyang kakung?” tanyaku lirih pada sosok itu, kali ini aku tidak merasa takut walau jelas2 sosok di depanku itu bukan manusia.
“Yo, aku eyangmu. Dengar baik2 ndrik, anak turun keluarga kita, laki2nya bukan lelaki cengeng dan wanitanya para wanita tegar. Malu sama mbah2 mu dulu, kita ini keturunan pangeran samber nyowo.”
Sosok itu berbicara padaku tanpa menggerakkan bibirnya, namun suaranya seperti ada di kepalaku. Nada bicaranya memang tegas lugas seperti kakek ku. Aku hanya bisa terdiam mematung sambil melihatnya.
“Wes, eyang kakung gak mau lama2 disini ndrik. Kamu susah besar, kamu salah satu penerus keluarga sentiko. Semoga kamu memang bakal jadi uwong mulyo. Bukan sekedar jadi lelaki lemah. Jangan lupa doakan eyang kakung dan mbah – mbah mu bahkan yg kamu tidak tahu namanya ya.”
Selesai kakek berbicara, sosoknya perlahan memudar hingga hilang dari pandangan mataku. Entah kenapa aku merasa tenggorokanku tercekat, dadaku sesak, perlahan mataku perih dan air mataku mulai turun. Ya, aku menangis sesenggukan. Apa yg dikatakan kakek seolah melegakanku dan melepaskan semua bebanku. Entah kenapa kesedihanku karena patah hati, skrg kurasakan sebagai kebodohan. Tutur singkat kakek kurasakan sebagai pembicaraan antara lelaki dan pelajaran kehidupan yg jelas dan gamblang.
Tak lama adzan subuh berkumandang. Segera aku ambil air wudhu dan menunaikan sholat di kamar depan. Ketakutanku sudah hilang, begitu pula rasa gundah, kecewa, sedih, dan perasaan negatif karena dikhianati, seolah sirna seketika pagi ini. Lalu akupun melanjutkan tidurku kembali
“Le, hendrik. Bangun le sudah pagi”
Terdengar suara nenek membangunkanku dari ruang depan. Aku segera membuka mataku sambil mengumpulkan kesadaran, kulihat jam dinding sudah jam 9 rupanya.
“Ayo le, sini mandi terus makan dulu, eyang belikan kamu soto gombong lho, gak ada ini di jogja”
Aku segera beranjak untuk mandi membersihkan diri. Nenek sudah belikan aku sarapan, dan soto gombong memang salah satu favoritku karena cita rasanya berbeda dr soto lain. Selesai mandi, nenek menungguku dengan makanan yg sudah tersaji di meja makan. Akupun segera duduk untuk menikmati sarapan favorit di gombong.
“Kamu santai ya skrg bangun jam 9 disini, kl eyang kakung masih hidup, dibangunkan sama sabetan gesper hahahaha” nenek mengejekku, mengingatkanku saat kakek masih hidup.
“Hahaha iya eyang, kangen juga masa2 diomelin eyang kakung. Eyang gak pernah kangen apa sama eyang kakung?” tanyaku pada nenek.
“Ya kangen to, apalagi namanya suami istri sudah merasakan pahit manis hidup bareng brp tahun le. Tp eyang kakungmu itu masih sering hadir di mimpiku kl sudah kangen banget” Jawab nenek sembari tersipu.
Kami ngobrol sembari makan, sepertinya aku melupakan kejadian semalam yg jika diingat lagi cukup mengerikan memang.
“Tadi malem aku mimpi eyang kakungmu ndrik.” Kata eyang putri, mengingatkanku kembali pada kejadian semalam.
“Tp kok bisa ya eyangmu di mimpi tau kl kamu liburan kesini karena patah hati.” Lanjut nenek
Makanan telah habis, aku membawa piring-piring kotor ke dapur untuk kemudian kucuci hingga bersih, lalu kudengar nenek memanggil dari kamarnya. Akupun segera datang, dan masuk setelah mengetuk kamarnya. Disana nenek sudah duduk di ranjang tuanya, disampingnya ada sebuah kotak kayu yg terlihat sudah usang.
“Duduk situ le” akupun duduk di karpet dibawah ranjang nenek.
“Tadi kubilang aku mimpi eyang kakungmu to le? Kl orang jawa pasti tau mimpi itu bukan sekedar bunga tidur. Di mimpiku, selain eyang kakungmu tau kamu sedang resah karena patah hati, eyang kakung juga berpesan sama aku buat ngasih ini ke kamu le. Mungkin kamu yg bakal jadi penerus nama harum keluarga” begitu ucap nenek sambil menyerahkan kotak kayu itu padaku. Kubuka, ternyata isinya sebilah keris dan tumpukan kertas tua yg di laminating.
“Itu keris eyang kakungmu, eyang kakungmu dapat dr bapaknya, begitu terus turun temurun sudah puluhan generasi mungkin. Dan kertas itu namanya serat kekancingan, itu menyatakan garis keturunanmu yg bersambung ke kerabat mangkunegaran.”
Aku sibuk menyimpan informasi yg blm pernah kudengar. Memang setahuku kakek dan nenekku ini masih punya gelar jawa di depan namanya, tp orang tuaku lebih moderat, tidak pernah bercerita hal2 seperti ini rasanya.
“Sudah waktunya kamu meneruskan keris ini le, sepertinya eyang kakung memilihmu melanjutkan ini daripada anak2nya sendiri yg cuek. Mungkin ayah dan paman2mu menganggap hal seperti ini peninggalan budaya feodal, tp bagaimanapun juga ini kebudayaan kita kan”
Aku termangu mendengar penuturan nenek, memang ayah dan paman2 ku berpikiran begitu, mereka menganggap kl kebudayaan kerajaan sudah kuno, tidak perlu lagi diacuhkan karena tidak sesuai jaman. Kurasa mereka salah, mereka lupa inggris negara eropa paling maju masih menganut sistem monarki dengan banyak royal family bergelar SIR atau kalau disini seperti raden mungkin ya. Jepang pun negara paling maju teknologinya di asia juga masih dipimpin kaisar. Maka aku sangat memaklumi dan bahkan setuju kl kakek ku suka membanggakan garis keturunannya dalam batas wajar.
“Nah, simpan baik2 ya le, lindungi seumur hidup hingga anak cucumu kelak. Eyang kakung memang keras dalam mendidik, tp kuharap anak cucunya sadar dia melakukan itu dengan dasar kasih sayang”
Aku tertunduk mendengar penuturan nenek, aku merasakan seperti yg kurasakan semalam saat bertemu kakek, haru sesak rasanya hatiku. Bagaikan bayangan masa kecilku hingga sekarang muncul silih berganti. Aku keturunan orang baik yg harus mengemban menjaga nama baik itu hingga sebisa mungkin. Sebagai laki2 aku harus lebih kuat dan bijaksana. Saat itu pula aku menemukan resolusi dalam hidup.
“Inggih eyang putri, kulo janji saguh ngemban dawuh poro eyang sepuh. Ingkang sampun didawuhaken kulo sedya ngestokaken salanggenging gesang kulo, nyuwun ditampi sembah bakti kulo eyang, nyuwun pangestunipun” bahasa jawa kromo kuhaturkan kehadapan nenekku sembari aku bersimpuh memegang kakinya, artinya kurang lebih iya eyang, saya janji sanggul mengemban amanat para leluhur. Yg sudah diamanatkan saya siap menjalankan selama saya masih hidup. Minta diterima sembah bakti saya dan minta doa restu.
Beliau tersenyum dengan mata berkaca2. Diacak2nya rambutku, diangkat bahuku kemudian keningku dicium.
“Belajar bahasa kromo dimana le, kok elok tenan” kata nenek
“Kan aku kuliah di jogja eyang, selain belajar perkuliahan aku juga pasti pelajari budaya” jawabku
“Cah pinter tenan kowe, wes sana cepet ini warisan disimpen yg bener” nenek kembali merapikan kotak kayu itu.
“Siap eyang” jawabku singkat sambil membungkukan badan ala jepang.
Aku segera berlalu akan segera menyimpannya di tas ku. Di pintu kamar nenek aku berkata.
“Aku juga ketemu sama eyang kakung lho semalam”
Nenek hanya tersenyum penuh arti tanpa menjawab, kututup pintu kamarnya dan aku kembali ke kamarku menyiapkan kegiatan2 yg telah kurencanakan di liburan ini. Liburanku berjalan lancar setelah hari itu tanpa gangguan makhluk nyata dan makhluk gaib. Aku sungguh berubah dalam hal pola pikir, kurasa itu salah satu titik balik kedewasaanku. Sekembalinya aku ke jogja, teman2ku juga heran. Kok bisa2nya aku jadi lebih dewasa dan bijaksana, kata mereka.
Nenek meninggal pada bulan desember, 5 bulan sejak liburanku yg penuh arti itu, beliau meninggal tanpa sakit sebelumnya. Aku sangat sedih mendengarnya. Sekarang aku telah memiliki dua orang anak, dan aku bekerja di salah satu kementrian di jakarta. Aku bertekad meneruskan cita2 leluhur, jadi orang yg berguna bagi masyarakat banyak. Minta doanya ya para pendengar, agar aku selalu istiqomah dalam jalanku. Terimakasih
Segitu dulu cerita kali ini, semoga ada hikmah yg dapat dipetik dan jadi hiburan mengisi waktu luang kalian. Jangan lupa cek pintu, jendela, dan sudut2 ruangan. Pastikan kalian aman sebelum beranjak dari cerita ini. Asalamualaikum
Tamat
sulkhan1981 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup