Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Seumur Hidup Dibalik Penjara


"Ayo masuk! ini rumahmu sekarang!"

Lantai beralaskan tikar plastik. Di dalam ada sekitar delapan orang wanita yang sama bajunya denganku, seragam penjara. Padahal daya tampungnya cuma lima orang.

Ini hari pertamaku di penjara dengan hukuman seumur hidup. Aku seorang istri sekaligus ibu dari tiga orang putri yang cantik-cantik. Banyak yang bilang, anak-anakku bidadari komplek.

Aku duduk di penjara yang sempit ini, dengan perasaan teramat asing, aku berusaha menyesuaikan diri hingga ajal menjemput. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini dengan hati yang kuat menahan rasa rindu kepada ke tiga putri-putriku.

"Hey! Ini tempat dudukku, sana!"

Seorang wanita berbadan sedikit gemuk menghampiriku. Dengan suara lantang, dia menyuruhku berpindah tempat duduk.

Aku bangkit dan pindah ke sudut. Sementara yang lain hanya melihat dan diam. Apakah takut atau tidak peduli, entahlah.

Pandangan jauh ke depan. Aku mengingat kejadian, kenapa aku bisa di penjara.

Pagi itu ....

"Bunda, aku minta izin ntar pulang sekolah kerumah Vivi belajar kelompok, ya?"

Senyum manis Anisa sudah berseragam sekolah, memelukku dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Anisa adalah anak bungsuku yang masih duduk di kelas dua SMP.

Aku punya tiga putri yang cantik-cantik, aku sadar itu. Anak pertamaku bernama Halimah yang sedang kuliah semester dua. Anak ke duaku bernama Rani kelas tiga SMA dan baru Anisa si bungsu. Aku hidup bahagia dengan suami yang setia dan cinta keluarga. Alhamdulillah.

Rasanya hidupku sudah sempurna. Putri-putriku rajin beribadah dan berhijab syar'i. Suamiku memang hebat memimpin kami, aku sangat bangga dan bahagia. Ini lah surga duniaku.

"Nasi goreng kesukaan Ayah nih, Bun," ucap suamiku duduk di kursi meja makan lalu menyantap nasi goreng buatanku dengan lahap.

"Yang pelan makannya, Yah," ucapku sambil menuangkan air putih ke gelas. Suamiku membalas dengan senyum kehangatan.

"Bunda, aku bawa bekal ke sekolah, ya," kata Rani sambil duduk dan ikut sarapan.

"Sudah Bunda siapkan, ini!" jawabku sambil menyodorkan nasi yang sudah dibungkus seperti biasa.

"Makasi Bundaku tersayang, mmuuuch." Rani berdiri dan mengecup pipi kananku. Aku tersenyum.

"Dek, nanti kamu pulang sendiri ya, aku ada pelajaran tambahan." Kata Rani kepada Anisa.

"Aku pulang juga langsung kerumah Vivi kak," jawab Rani melanjutkan sarapannya.

Sekolah Rani dan sekolah Anisa berdekatan. Mereka selalu pulang bersama. Kami hidup sangat damai. Aku ibu yang beruntung.

"Bun, tambah nasi gorengnya," suamiku menyodorkan piringnya kepadaku.

"Nasi goreng Bunda emang paling enak ya, Yah," ucap Halima tersenyum melirikku.

"Enak sekali, Bundamu paling hebat masak, bahkan mengalahkan koki dunia."

"Iya, Yah. Aku setuju," timpa Anisa.

Aku hanya tersenyum membalas, dan anakku yang lain ikut tertawa menggodaku. Suasana pagi secerah mentari. Alhamdulillah.

Tok! Tok! Tok!

Tok! Tok! Tok!

"Siapa yang datang pagi ini Bun?" tanya suamiku.

Kami semua terkejut. Suara ketokan itu terdengar memaksa kami supaya cepat membuka pintu.

"Entahlah, Yah, Bunda juga nggak tahu," jawabku, lalu ingin melangkah ke pintu.

"Biar aku saja yang buka, Bun," sahut Halimah dan langsung bangkit dari duduknya melangkah melangkah ke pintu.

Tidak lama kemudian ....

"Hey Halimah! Apa kamu tidak punya malu, merebut tunangan anak saya!"

Kami yang sedang sarapan, terkejut mendengar kata-kata Bu Lili dengan suara lantang memarahi Halimah. Aku, suami dan kedua putriku yang lainya langsung berdiri melangkah ke pintu depan.

Bu Lili adalah tetangga satu gang komplek dengan kami. Rumahnya rumah pertama memasuki gang ini, untuk menuju rumahku harus melewati depan rumahnya. Bu Lili juga punya anak gadis bernama Monik yang seumuran dengan Halimah.

"Ada apa ini Bu Lili? Kenapa ibu marah-marah sama Halimah." Aku berkata dengan melihat sorotan marah di mata Bu Lili memandang Halimah. Sementara itu, Halimah hanya menundukan kepala, matanya berkaca-kaca.

"Gara-gara anakmu ini, Monik diputuskan tunanganya!" Bu Lili menunjuk Halimah dengan penuh emosi.

Aku dan Mas Adam beradu pandang sesaat. Aku bingung, kenapa putriku dituduh merebut tunangan Monik.

"Apa salah anak saya Bu?" Aku juga ikut kurang senang melihat Halimah dibentak-bentak. Kenapa tidak bicara baik-baik. Kalau anakku salah pasti kutegur.

"Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di dalam, tidak enak ditonton orang, Bu Lili," ucap suamiku.

Tapi ajakan suamiku tidak diterima baik oleh Bu Lili. Dia tetap memasang muka kesal berdiri di teras depan, dari amarahnya bisa kubaca kalau tunangan Monik memutuskan pertunangan. Tapi kenapa Halimah yang disalahkan?

"Dengar ya! aku tidak akan tinggal diam, dasar munafik, diam-diam tukang merebut tunangan orang." Mata Bu Lili membelalak ke Halimah. Halimah tetap diam menatap lantai.

"Tolong bicara yang sopan, Bu Lili. Halimah tidak mungkin merebut tunangan Monik." Aku masih bernada datar, berusaha sabar.

"Jika Bu Rina berada di posisiku gimana? apa bisa bicara sopan?"

"Betul itu Halimah?" tanya suamiku tegas. Halimah menggelengkan kepala, dia seperti tertekan dengan tuduhan ini.

"Mana ada maling ngaku maling? sebaiknya Pak Adam dan Bu Rina lebih telaten jaga anak gadisnya, masak tidak tau apa yang dilakukan Halimah di luar rumah?" ucap Bu Lili sewot. "Dari luarnya kelihatan baik, tapi di dalam siapa tau?!" sambung bu Lili.

"Tolong kontrol bicaranya, Bu. Dari tadi aku sudah berusaha sabar, sebaiknya panggil tunangan Monik ke sini, biar semuanya jelas."

"Alasan! kalian mau mempermalukan Monik karena diputuskan demi putrimu?"

"Setidaknya masalah ini lebih jelas, dan ...."

Belum selesai kubicara, bu Lili melangkah pergi. Hentakan kakinya memperlihatkan ketidak sukanya. Dalam melangkah dia ngomel-ngomel sendiri. Aku mengurut dada berusaha sabar. Astagfirullahalazimm.

"Halimah, jelaskan kepada kami apa yang terjadi," ucap suamiku.

Di ruang tengah, aku dan suamiku duduk berhadapan dengan Halimah. Sementara itu Anisa dan Rani sudah berangkat ke sekolah.

"Aku tidak tahu Bunda, Ayah. Aku saja tidak mengenal tunangan Monik, mana mungkin aku penyebab putusnya pertunangan mereka," sanggah Halimah.

Aku dan suamiku saling berpandangan sesaat. Aku tahu anakku, dia tidak pernah pacaran atau berteman dekat dengan lelaki. Selesai kuliah langsung pulang tanpa bertandang atau nongkrong bergaul dengan temannya. Halimah anak yang penurut dan tidak banyak neko-neko. Bagaimana mungkin anakku penyebab anak Bu Lili putus tunangan?

"Demi Allah, Bun, Yah. Aku tidak mengenal tunangan Monik."

"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang Ayah kerja dulu, kamu juga kuliah bukan?"

"Iya, Yah," jawab Halimah pelan.

Kami mendiamkan dulu masalah ini. Halimah berangkat kuliah dan suamiku berangkat kerja. Keseharianku di rumah membuka warung klontong di depan rumah, semua kulakukan menghilangkan kesepian karena sering sendirian di rumah. Siang baru semua putriku pulang sekolah dan kuliah.

"Assalamualaikum, Bunda."

Aku terkejut mendengar seseorang mengucapkan salam saat aku membereskan barang daganganku di warung. Aku menoleh, ada seorang anak muda gagah berdiri di depan warung menyapaku tersenyum manis. Kulihat di depan warung, terpakir sebuah mobil sedan hitam mengkilat.

"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" Aku menjawab dengan heran.

"Perkenalkan, namaku Arya, Bunda. Aku ke sini ingin melamar anak Bunda, Halimah."

Jantungku mau copot mendengar perkataan anak muda ini. Ternyata namanya Arya. Siapa dia yang tiba-tiba ingin melamar putriku? setahuku Halimah tidak pernah pacaran atau punya teman lelaki.

"Bunda ... Bunda ... bisa aku bertemu juga sama Ayah Halimah?" pintanya, aku masih merasa shock mematung.

"Bun, Bunda." Pemuda bernama Arya itu melambaikan tangan di depanku.

"Oh, iya, Nak Arya," sentakku memalingkan mata. "Sejak kapan Nak Arya pacaran dengan Halimah?" Aku sangat penasaran, selama ini Halimah tidak pernah cerita.

"Kami tidak pernah saling kenal, Bunda," jawab Arya.

"Loh, kok bisa tiba-tiba melamar Halimah?"

"Aku menyukai anak Bunda, dan aku yakin dengannya, hanya itu."

Ya Allah, siapa pemuda yang melamar putriku. Dia sangat berani dan sopan. Kalau dia tidak pernah saling kenal dengan Halimah, kenapa tiba melamar? Aku masih bingung.

Aku mengajak Arya masuk dan duduk di ruang tamu. Fari ceritanya, dia sangat menyukai Halimah diam-diam. Dia juga sering melihat Halimah berjalan pulang kuliah melintas di depan rumah Monik saat berkunjung kerumah Monik, dan Arya mencari informasi ke tetangga tentang putriku-Halimah, dan sekarang dia melamar putriku. Intinya, Arya memutuskan tunanganya karena ingin melamar Halimah. Pantas saja Bu Lili marah-marah tadi pagi ke sini. Astagfirullahalazimm.

"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, sebaiknya Nak Arya pulang dulu, nanti akan saya sampaikan pada Ayah Halimah."

Hanya itu keputusanku sementara. Aku masih shock dengan kedatanganya. Halimah jujur tidak mengenal tunangan Monik. Kasihan anakku yang dibentak-bentak yang bukan kesalahannya.

Sepintas aku lihat, Arya pemuda yang gagah dan berada. Cara pakaian dan tutur katanya, dia lelaki yang sopan.

Magrib kami salat berjamaah. Suamiku menjadi imam seperti biasa, aku belum membicarakan kedatangan Arya tadi siang, menunggu selesai magrib dulu.

Selesai sholat magrib, aku menutup warung dulu baru membicarakanya. sampah barang dagangan kusapu, biasanya Halimah yang mengerjakan, tapi tadi dia membaca Al Qur'an dulu, lagian pekerjaan ini tidak begitu berat.

"Ayah! Ayah! Bunda ... tolong Ayah!"

"Ayah!"

"Bunda! cepat ke sini!"

Aku terkejut mendengar teriakan ke tiga putriku menjerit menangis. Perasaanku tidak enak. Ada apa dengan suamiku? Berlari, aku masuk ke rumah.

"Astagfirullahalazimm! Yah, Ayah ... tolong ... tolong!"

Ya Allah, apa yang terjadi dengan suamiku. Menangis, kulihat seluruh pori-pori tubuh suamiku mengeluarkan darah, darah menyelimuti tubuhnya tergeletak di lantai. Putri-putriku menangis memegang ayahnya.

"Ayah!"

"Ayah kenapa Bunda? Tolong Ayah ...."

Mendengar teriakan kami, datanglah Bu Arun dan suaminya. Aku dan anak-anakku histeris melihat jasad suamiku kaku dan tidak bernyawa. Aku kehilangan suamiku untuk selama-lamanya.

Ya Allah, kuatkan hatiku.

Dengan perasaan teramat sedih, aku duduk di keramaian orang-orang melayat. Air mata tidak henti-hentinya ke luar. Aku sangat terpukul kehilangan mas Adam, baru tadi pagi kami sarapan bersama, kini kulihat tubuhnya tidak bernyawa.

"Bu Rina, maaf, bukan maksudku membuat ibu tambah sedih, tapi ... kalau saya perhatikan, sepertinya suami ibu kena santet."

Aku terpana melihat wajah Bu Arun setelah berbisik di sampingku. Disantet? Astagfirullah'alazimm ....
Diubah oleh blackgaming 16-06-2021 14:09
zafranramonAvatar border
eldiniAvatar border
hanihanihan2114Avatar border
hanihanihan2114 dan 43 lainnya memberi reputasi
40
16.5K
104
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#62
Chapter 18


Lelaki yang bertato itu tersenyum terpana melihat ketiga putri-putriku, sementara itu Linda Haris hanya tersenyum kecil.

“Perkenalkan, nama aku Pono, Bunda.” Dia mengulurkan tangan ingin bersalaman, aku mencoba salaman dengan basa-basi menanggapi.

“Mbak, ini Juragan Pono yang kami ceritakan itu, lihat dihalam rumah Mbak, itu mobilnya dan baru dibeli cash.” Ucap Haris menjelaskan menunjuk ke sebuah mobil mengkilat terpakir di halaman rumahku.

Sebelum Haris dan Linda memperkenalkan lelaki bernama Pono ini, aku sudah merasa kurang enak, apalagi melihatnya langsung sekarang, Astagfirullah’alazim, lelaki macam apa ini, tatonya saja membuatku ngeri apalagi menjadikannya menantuku.

“Linda, Haris, aku sudah memberi jawaban tadinya, ada apa lagi ini?” aku masih menekan suaraku dengan sabar.

“Mbak, kenapa sih, Mbak keras kepala? Seharusnya Mbak bersyukur aku carikan mantu kaya, aku jamin Mbak nggak bakalan menyesal.” Linda masih kukuh agar aku menerima perjodohan ini.

Aku hilang akal menjawab dan memberi pengertian sama mereka, masalah mereka kenapa putriku yang harus berkorban? Selama ini mereka juga tidak pernah peduli dengan kehidupan kami, disaat terjepit kenapa kami yang harus membayarnya? Dan setahuku mereka mendapatkan bagian terbanyak dari menjual tanah warisan.

Tidak lama kemudian, Wahyu datang, mobilnya diparkir di samping mobil lelaki yang bernama Pono itu, dan Wahyu keluar dari mobilnya melangkah mendekati kami, sementara itu Pono-Linda dan Haris hanya menatap Wahyu.

“Assalamu’alaikum Bu Rina.” Wahyu mengucapkan salam dan berdiri disamping Pono. Dan sejenak Wahyu menegur dengan menganggukan kepala kepada mereka bertiga yang berdiri di teras.

“Wa’alaikumsalam Wahyu,” jawabku.

“Apakah dia lelaki calon mantumu, Mbak?” Haris bertanya dan menunjuk Wahyu.

Wahyu yang mendengar semua ini terpana heran dengan yang sedang terjadi.

“Begini saja, Bunda. Beri kesempatan aku berkenalan dengan putrimu, tidak masalah diantara mereka bertiga siapa yang akan menjadi istriku.” Ucap Pono yang matanya tidak lepas dari ketiga putri-putriku.

“Bunda, aku tidak mau menikah.” Anisa berkata dengan raut muka cemas.

“Aku juga Bunda, aku masih ingin sekolah.” Rani juga bersuara.

“Bunda, aku sudah ada pilihan.” Kata Halimah yang membuat kami semua yang mendengarnya terkejut. Bisanya Halimah tidak pernah bersuara masalah perjodohannya, tapi setelah melihat Pono, dia seperti takut aku menerima lelaki ini dan memberanikan menjawab.

Wahyu tidak lepas pandanganya dari Halimah meskipun Halimah tidak membalas tatapannya, sedangkan Haris dan Linda terlihat kesal dengan jawaban ketiga putri-putriku. Pono langsung melangkah meninggalkan rumahku tanpa bersuara.

“Tunggu Juragan Pono!” Linda mgejar Pono.

“Dengar ya, Mbak, aku tidak bisa diam dengan penghinaan ini, aku kira kamu bisa membantuku tapi sejak meninggalnya Mas Adam, kamu bukan saudara kami lagi!”

Setelah berkata dengan muka merah padam, Haris melangkah mengejar Pono, dan mereka meninggalkan rumahku.

“Siapa mereka Bu Rina?” Wahyu bertanya saat aku terpana medengar perkataan Haris.

“Dia adik Ayah Halimah, Wahyu,” jawabku singkat.

“Oh, silahkan masuk Wahyu.” Sambungku lagi dan langsung duduk.

Aku dan Wahyu duduk di ruang tamu, sementara itu Anisa dan Rani masuk kedalam, Halimah membuatkan minuman untuk Wahyu.

“Kenapa mereka sangat marah, Bu Rina? Maaf bukan aku bermaksud ikut campur, tapi sangat terlihat sekali mereka ….” Wahyu tidak melanjutkan kata-katanya.

“Lelaki itu yang ingin mereka jodohkan dengan Halimah.”

Penjelasanku membuat Wahyu terdiam, entah apa yang ada dalam fikiranya. Tidak lama kemudian Halimah membawa teh hangat dan meletakkannya di meja.

“Silahkan minum, Kak.” Ucap Halimah kepada Wahyu.

“Terimakasih, Halimah,” jawab Wahyu.

Halimah langsung melangkah ke belakang, dia sama sekali tidak ikut duduk di ruang tamu.

“Bu Rina, kedatangan aku kesini … mau minta jawaban dengan lamaranku kemaren.” Ucap Wahyu yang membuatku terdiam sejenak.

Halimah belum memutuskan dengan siapa dia ingin berumah tangga, meski aku sudah bilang ada tiga pemuda ini, namun dia hanya diam seribu bahasa, tapi, tadi dia sudah mengatakan kalau dia sudah ada pilihan, aku tidak yakin karena dia hanya berusaha menolak Pono pilihan Haris.

“Wahyu, sebaiknya aku jujur dengan keadaan sekarang, aku tidak mau menyinggung Wahyu nantinya kalau Halimah memutuskan pilihan dengan lelaki lain.”

“Maksud Bu Rina, Randi?”

“Bukan hanya Randi yang ingin melamar Halimah, tapi juga Arya.”

Wahyu terdiam, sepertinya dia berfikir, aku hanya berusaha jujur agar nantinya dia tidak kecewa kalau Halimah tidak memilih dia.

“Aku mengerti Bu Rina, setiap lelaki yang melihat Halimah pasti akan menaruh hati, termasuk aku, maaf Bu, aku hanya berusaha jujur.”

“Terimakasih atas pengertiannya, Wahyu. Siapapun pilihan Halimah nanti, pasti akan aku kabari, tapi aku mohon apapun pilihan Halimah, hubungan silaturrahmi kita jangan rusak.”

Wahyu mengangguk mendengar perkataanku.

Siang berganti malam, aku mengunci semua pintu sebelum masuk ke kamar. Kulihat Halimah masih di dapur mencuci piring bekas makan malam, aku melangkah menghampirinya dan duduk di kursi dapur.

“Nak, bisa Bunda berbicara?”

Halimah langsung menghentikan pekerjaannya, dia melap tangan dan duduk.

“Ada apa Bunda?” ucap Halimah menatapku.

“Tadi Wahyu kesini meminta jawaban atas lamarannya, siapa pilihanmu, Nak?”

Halimah menundukkan kepala, dia hanya diam.

“Apakah dengan menikah, semua urusan akan beres Bunda?” tiba-tiba Halimah bersuara.

Apa maksud anakku ini, sepertinya dia memikirkan sesuatu.

“Kalau kamu menikah, akan ada yang menjagamu, Nak.” Aku menegaskan jawaban.

“Aku tidak ingin berpisah dari Bunda, kalau aku menikah pasti akan ikut suami.” Air matanya berlinang menjelaskan kepadaku.

Aku memeluk putriku, ternyata selama ini, itu yang difikirkannya, tapi aku tidak mau dia terus begini, kejahatan terjadi belakangan inilah yang membuatku ingin dia cepat menikah.

“Tentukan pilihanmu secepatnya, Bunda hanya ingin ada yang menjagamu, Nak. Kalau kamu menikah, kamu bisa mengunjungi Bunda kapanpun kamu mau.”

Aku langsung melangkah meninggalkan Halimah terdiam mendengarkan kata-kataku, aku masuk ke kamar, dengan membaringkan tubuh, aku teringat Mas Adam, “Mas, anak kita akan menikah sebentar lagi, kalau masih ada kamu disisiku, mungkin aku akan menunggu Halimah selesai kuliah dulu.” Aku memeluk foto suamiku dengan butiran bening mengalir di pipi.

Pagi ini Anisa dan Rani berangkat sekolah, aku mengantar mereka dengan motor metic seperti biasa.

“Halimah, kunci pintu, jangan buka pintu meskipun ada tamu. Tunggu Bunda.” Pesanku ke Halimah sebelum mengantar adik-adiknya.

Aku melaju motor menuju sekolah, sinar matahari pagi menyelimuti perjalananku, dan tidak lama kami sudah sampai di depan sekolah.

“Tunggu Bunda jemput, jangan pulang sekolah naik angkot.” Pesanku kepada Anisa dan Rani.

“Iya Bunda.” Jawab putriku-putriku serentak.

Belum sempat aku meninggalkan sekolah, ponselku berbunyi, dan ternyata ada panggilan dari Halimah, aku langsung menjawabnya.

“Assalamu’alaikum Nak.”

“Wa’alaikum salam Bunda, Bunda cepat pulang, Om Haris pinsan di teras, aku dan Tante Linda membawa Om Haris masuk.”

Mendengar perkataan Halimah di ponsel membuatku ingin secepatnya sampai di rumah, tapi bukan karena Haris pinsan melainkan aku mencemaskan putriku, perasaanku tidak enak mendengar nama Haris dan Linda di sebut, aku yakin pasti ada maksud dibalik semua ini.

Aku melaju motor secepatnya menuju rumah, setelah sampai di rumah, kulihat motor Haris sudah terpakir di depan, aku bergegas masuk, di ruang tamu kulihat Halimah duduk di samping Haris terbaring di kursi, tidak kutemui Linda.

“Mana Linda, Halimah?” aku langsung bertanya.

Halimah tidak menjawab, dia hanya diam menatap kedepan, tidak lama kemudian Linda keluar dari dalam rumahku, dia membawa teh hangat dan meletakkanya di meja, aku hanya heran dengan tingkahnya, sejak kapan dia membuat teh hangat di rumahku, biasanya Halimah yang melakukan itu.

“Mbak, maaf kami datang lagi, suamiku sakit dan kami baru besok balik ke kampung, semalaman kami menginap di hotel, tapi uang kami tidak cukup menyewa kamar lagi.” Linda berusaha menjelaskannya melihatku heran dengan tingkahnya.

Kutatap Halimah, dia hanya diam, sepertinya dia kelihatan bingung.

“Halimah.” Aku memanggil putriku, tapi dia tidak bersuara, hanya diam memandang ke depan.

“Halimah!” aku menepuk pundaknya dengan suara yang lebih keras.

“Eh, Bunda?” jawab Halimah.

Aneh, kenapa Halimah tidak menyadari kedatanganku? Setelah aku menepuk pundaknya, dia baru sadar dari seperti lamunan panjang.

“Linda.” Tiba-tiba Haris sadar dan langsung duduk.

“Syukurlah Mas sudah sadar.” Linda duduk dekat suaminya.

“Mbak, kami permisi dulu, hari ini mungkin kami balik ke kampung.” Ucap Linda.

Linda dan Haris langsung bangkit dari duduknya dan terburu-buru menuju motornya, aku hanya merasa sedikit aneh dengan mereka, perasaanku tidak enak.

“Tunggu Haris!” panggilanku tidak dihiraukan, mereka langsung menyalakan motor dan meninggalkan rumahku.

“Ada apa Bunda?” tanya Halimah.

“Bunda cuma heran saja dengan sikap mereka.”

Setelah berkata, aku langsung menutup pintu dan masuk ke kamar, tapi alangkah terkejutnya aku melihat lemari terbuka dan baju-bajuku berantakan di lantai.

“Halimah, ada apa ini!?” Aku berteriak dan Halimah masuk ke kamar.

“Astagfirullah’alazim, ada apa ini Bunda?” Halimah juga terkejut.

Aku langsung memeriksa isi lemariku, ada laci kecil yang biasanya tempat penyimpanan surat-surat penting, aku segera membukanya. Jantung terasa mau copot, badanku lemas, sertifikat rumahku tidak ditemukan. Astagfirullah’alazim … Allahhuakbar, aku mengurut dada, cobaan apa lagi ini ya Allah.
69banditos
rinandya
hanihanihan2114
hanihanihan2114 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.