- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
...
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Hallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya
Quote:
Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati

Oh iya jangan lupa
Quote:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
233.1K
2.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#398
Ujian Sebelum Menikah
Dan entah kenapa aku merasa sedikit lemas saat dia berkata demikian, dan tiba tiba ada angin kencang dan membuat debu debu yang berada di sekitar ku berhamburan, Aruna yang ternyata berada sedikit jauh dari ku ternyata menyadari ada yang tidak beres dengan pria tersebut, aku malah justru tidak mengetahui kalau Aruna dari tadi mengikutiku, karena aku sejak awal pergi dengan Via sudah mengutus Aruna untuk tinggal saja di rumah.
Menyadari ada yang aneh dengan pria tersebut, Aruna kemudian melesat kearahku, yang ternyata terhalang oleh sebuah prisai kubah hitam yang diciptakan oleh pria tadi, sehingga Aruna justru menabrak dinding tersebut dan menciptakan angin kencang tadi, setelah menabrak, Aruna sempat menyadarkanku dengan teriakanya.
“Ryan, sadar, dia pria berbahaya, keluarkan aura pertahananmu!!!” teriak Aruna kencang.
Mendengar Aruna berteriak aku sedikit bisa menghilangkan rasa lemas yang dibuat oleh pria tersebut, terlihat pria itu menyeringai, entah dia benar benar manusia atau jelmaan jin yang dikirim oleh seseorang yang sedari beberapa hari bahkan bulan terus menyerang rumah dan kediaman bapak.
Setelah rasa lemas mulai hilang aku langsung mengeluarkan aura pembuat prisai berwarna biru ditambah menggumpulkan aura untuk serangan energy seperti yang dulu pernah aku lakukan pada Barzam, namun saat aku akan menghantamkan aura serangan itu ke sosok pria yang mendatangiku, dengan cepat dia langsung menghilang dari hadapanku, dan kumpulan aura energy yang aku lontarkan malah menabrak sebuah grobak batagor yang membuatnya bergoyang dan bahkan hampir ambruk sehingga membuat orang disekitar gerobak itu kebingungan terutama sipenjual batagornya.
Aku bertingkah seolah tidak tahu dan langsung pergi meninggalkan lokasi dengan perasaan penasaran, sebenarnya siapa sosok pria tadi, dan saat berada di jalan Aruna menanyakan keadaanku.
“gimana yan, apa ada yang terluka?” Tanya Aruna padaku
“tidak semua baik baik saja kok, tapi aku Cuma bingung dia itu siapa?” jawabku
“aku juga heran, aura nya tidak terdeteksi sebagai musuh ataupun membahayakan, dan baru terlihat setelah dia memegang pundakmu, saat itu aura hitam muncul dan membentuk sebuah kubah prisai yang membuatku tidak bisa meyerangnya” ucap Aruna menerangkan padaku.
“tapi kira kira jika aku berhasil diambil kesadarannya oleh dia, apa yang akan terjadi ya, apakah aku akan dibawanya pergi?” tanyaku penasaran.
“tidak tapik lebih tepatnya jiwamu akan dibawa dan entah akan diapakan, dan aku yakin ini masih ada hubungannya dengan aksimu menyelamatkan Anggi dulu.” Jelas Aruna.
Setelah mendengar penjelasan Aruna aku kemudian bergegas untuk segera pulang dan melaporkan tetang hal yang aku alami kepada bapak dan mbah Margono, mereka pasti lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi dan pasti akan terus mereka cari jalan keluarnya jika hal yang terjadi akan lebih parah dari ini.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencari bapak ku yang biasanya sedang duduk didepan laptop dan mengerjakan sesuatu, namun kali ini aku tidak menemukan bapak disana, aku mencoba mencarinya di rumah mbah margono, pasti juka tidak ada di rumah dia sedang disana menyusun staregi.
Dan benar saja sesampainya aku disana, bapak sedang berbincang dengan mbah margono dengan serius, aku pun segera menghampiri, namun sosok Endrasuta menahanku untuk sebaiknya menunggu diluar saja, kebetulan dirumah mbah Margono diteranya juga ada kursi untuk duduk.
“maaf den Ryan, sebaiknya den Ryan menunggu sebentar diluar, Tuan dan bapak den Ryan sedang membuat sesuatu” ucap Endrasuta melarangku masuk.
“baiklah Endrasuta, lama tidak melihatmu” ucapku padanya
“iya den Ryan, selama tidak dipanggil Tuan saya tidak akan keluar, dan jika ada keadaan darurat saya baru akan keluar membantu Tuan” terang Endrasuta.
“loh kalo seperti itu berarti sekarang ada keadaan yang darurat, sehingga mbah Margono memanggilmu?” tanyaku penasaran.
“sepertinya demikian, saya sudah lama tidak melihat Tuan dengan ekspresi seperti itu, oh iya Ningrum juga sedang khawatir dengan yang akan terjadi” jelas Endrasuta.
Tak lama setelah Endrasuta berkata demikian, Ningrum keluar dari arah samping rumah.
“Ryan, apa kabar, lama kamu tidak main kemari” sapa Ningrum padaku.
“Alhamdulillah baik, iya, ini saja jika bapak tidak kesini, aku juga mungkin tidak akan menyusul kemari” jawabku
“aku akan siap membantumu Ryan jikalau dibutuhkan, sepertinya tantangan kita kali ini sedikit merepotkan dan lebih berat dibanding yang kemarin, kita harus bersiap jika yang kita lakukan merupakan sekenario terburuk dalam hidup kita” ucap Ningrum.
Tak berselang lama setelah aku dan Ningrum bebicara, bapak dan Mbah Margono pun akhirnya keluar dari dalam rumah, terlihat ekspresi muka mereka sangat serius, mbah Margono sama sekali tidak terlihat seperti biasanya, yang jika bertemu dengan ku pasti dia akan bercanda, namun kali ini dia begitu serius, begitu juga dengan bapak.
Saat aku akan menjelaskan apa yang baru aku alami, bapak menyuruhku untuk diam saja dan menceritakan saja di rumah nanti.
Sesampainya dirumah bapak langsung memasang sesuatu yang baru mereka buat di tempat mbah Margono tadi, yang ternyata merupakan sebuah Rajah pembatas atau paghar, supaya pertahanan dirumah bisa lebih kuat lagi, karena ternyata selama aku dan Via tadi pergi, beberapa serangan makhluk alam sebelah cukup banyak dan beberapa diantaranya berhasil membobol dan menerobos masuk kedalam rumah, yang ternyata dapat melukai nenek Lasmi dan ibuku yang kebetulan hari itu sedang tidak berjualan di pasar.
Nendengar gal demikian aku langsung menuju kekamar ibuku, sejak pulang tadi aku tidak tahu jika ibu berada dirumah dan sedang berada dikamar, karena setauku ibuku pergi berjualan.
“ya Allah bu, ibu kenapa ini?” tanyaku cemas melihat kaki ibu yang sedikit membiru.
“nggak tahu ini yan, tadi ibu lagi mau nyuci baju tapi seperti mau kepleset, tapi aneh keplesetnya seperti ada yang megangin” terang ibuku.
“sudah tidak apa apa, ibu itu pasti Cuma perasaan ibu, orang harusnya kepasar jualan malah ini diem dirumah nglakuin yang bukan kebiasaannya” bapak mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku yang paham dengan maksud bapak kemudian menguatkan argument bapak.
“iya bu, ini tandanya ibu itu pingin jualan, masalah nyuci baju nanti biar Ryan aja,udah ibu pokoknya jualan aja” ucapku.
“nih yan ibu di usap pake air ini yang tadi sakit katanya, biar cepet baikan” bapak membawakan air panas untuk di kompreskan di kaki ibuku.
Aku kemudian mengambil air yang masih terasa panas tersebut, tapi biasanya bapak sudah memberikan doa doa supaya penyakit atau rasa sakit yang dirasakan segera hilang, aku mengambil kain dan emasukannya ke dalam air tersebut, namun yang kurasakan bukan sebuah air yang panas ataupun hangat, justu air ini terasa sangat sejuk, entah apa yang sudah dilakukan bapak pada air ini, dan doa apa yang dia panjatkan saaat membuat air ini.
Namun apapun yang didoakan bapak pada air ini aku berharap ibu akan segera sembuh seperti biasanya.
Singkat cerita malam hari pun tiba, ibupun sudah membaik kakinya, yang awalnya membiru kini sudah hilang dan sudah bisa berjalan dengan normal lagi, dan kerena tanggal pernikahanku sudah semakin dekat, ibu rencananya berniat untuk menanyakan kesiapan hal hal yang diperlukan saat acara nanti, namun bapak masih seperti saat ditanyakan tentang perihal tunanganku dulu, bapak hanya berdiam diri tidak mau menanggapi hal tersebut, setiap ditanyakan detail kesiapan pasti kalau tidak menjawab yang jawabannya selalu marah atau merasa pusing jika ditanyakan hal itu, yang akhirnya membuat ibuku sedikit kebingungan karena ibu adalah orang yang perfeksionis dalam menyiapkan sebuah acara, dia tidak ingin para tamu yang datang kecewa karena mungkin hidangan yang disajikan kurang atau tidak enak, pelayanan para pelayan kurang memuaskan, atau barang barang yang masih kurang, namun bapak sama sekali tidak menanggapi hal tersebut.
Waktu tidurpun tiba namun terlihat ibu masih kebingungan dan terus menghubungi saudara saudaranya untuk bersedia membantu, dan alhamdulillahnya semua nya siap untuk membantu, namun fikiran ibu masih terus merasa cemas karena dia ingin pernikahan ku diadakan sebaik mungkin, karena ini adalah acara pernikahan terakhir anaknya.
Aku mencoba menenangkan ibuku untuk tidak terlalu memikirkan, karena semua sudah ada yang mengatur, panitia pernikahan sudah ada, pengurus gedung dan persiapan pernikahan sudah ada, tukang masak juga sudah ada, jadi menurutku ibu tidak usah memikirkan lagi dan mencoba membujuknya untuksegera beristirahat karena hari sudah terlalu malam.
Untungnya saat itu ibu menurut padaku dan segera mengistirahatkan badannya itu, sementara bapak terus memnghadap laptop entah apa yang sedang dia lakukan, mungkin sedang menghibur diri atau mungkin sedang menyusun strategi, tapi tidak mungkin memikirkan pernikahanku, aku sempat berfikir seperti itu, karena sejak awal acara lamaran, hanya aku dan ibuku saja yang terus memikirkan ini sendiri, sedangkan bapak hanya terus mengikuti apa yang kita lakukan, tanpa memberi masukan sedikitpun, padahal biasanya bapak dalam membuat sebuah acara itu pasti hasilnya akan sangat bagus dan semua terorganisir, nah mungkin ini lah yang membuat ibu merasa khawatir, karena dasar acara bukan dari pemikiran bapak.
Singkat cerita pagi hari pun tiba, waktu sholat subu telah datang, aku terbangun tepat jam setengah lima dimana adzan subuh sudah berkumandang, aku keluar dari kamar, melihat nenek Lasmi yang sedang terus memperhatikan luar rumah melalui jendela di ruang tamu, mungkin dia masih terus berjaga jaga barang kali akan ada serangan dadakan.
Bagiku itu hal biasa karena memang tugas nenek Lasmi seperti itu, aku pun kemudian berjalan kearah ruang tengah, dan melihat bapak masih dengan kuat memantengi laptopnya, bapak memang kuat untuk tidak tidur semalaman, tapi bagiku itu bukan lah kebiasaan yang baik, tapi biarlah aku sudah sedikit jengkel dengan prilaku bapak yang seperti itu dan membiarkan ibu kebingungan memikirkan acara ku itu.
Aku berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan muka, sikat gigi dan sekalian berwudhu, setelah selesai, aku merasa ada yang aneh kenapa ibu ku belum keluar dari kamar dan aku belum melihatnya, sebelum masuk ke kamar untuk sholat aku sempatkan untuk melihat ibu di kamar, barang kali ibu kesiangan bangunnya karena kecapean, maka akan aku bangunkan untuk menjalankan sholat subuh dulu baru nanti istirahat lagi jika masih dibutuhkan.
Aku ketuk pintu kamar ibu “tok tok tok”, lalu aku Tarik tuas pintu ibu dan kubuka pintu kamarnya. Terlihat ibu masih tiduran dikamar dengan selimut masih menutupinya.
“buk bangun bu, sudah pagi, sholat subuh dulu yuk” ucapku lirih seraya membangunkan ibu.
Ibu kemudian membuka matanya.
“eh yan, sudah pagi ya, ibu rasa badan ibu nggak enak yan, apa ibu mriang ya?’” Tanya ibu karena merasakan tidak enak badan.
“nant coba Ryan tensi bu, biasanya ibu tensinya tinggi kalo seperti ini, badan ibu juga tidak panas kok” ucapku sambil memeriksa suhu tubuh ibu.
“ya udah ibu wudhu dulu saja ya, nanti tolong kamu ukur tensi ibu ya” ucap ibu sambil bangkit dari tidurnya dengan susah payah.
Melihat ibu seperti itu aku kemudian membantunya.
Setelah membantu ibu berdiri dan ibu mulai berjalan ke kamar mandi sendiri, aku kemudian kekamar dan melakukan sholat subuh, karena ternyata untuk ke mushola sudah terlambat.
Setelah selesai sholat aku kemudian berdoa berharap semoga pernikahanku bisa berjalan lancar beberapa hari lagi, saat aku berdoa, kudengar langkah kaki ibu berjalan menuju kamar, dan sepertinya langsung membuka sajadah dan mukena untuk sholat, kupikir ibu sudah agak baikan, namun hal mengejutkan akan segera terjadi.
Aku sudah selesai dengan sholatku, aku mencari alat tensi yang biasa digunakan bapak namun tidak kunjung kutemukan, tiba tiba dari arah kamar ibu, ibu berteriak memanggilku.
“Yan, Ryan, bantu ibu yan, kok ibu jadi gini sih badannya” dengan sedikit berteriak ibu memanggilku.
Aku pun segera menghampiri ibuku, dan saat sampai di depan kamar ibu, ternyata ibu sedang merangkak keluar dari kamar.
“gimana buk, kenapa kok merangkak seperti itu” tanyaku panic.
“nggak tahu iniyan badan ibu rasanya lemas semua” jawab ibuku yang juga panic
Setelang mengetahui kondisi ibu seperti itu, aku kemudian memanggil bapak untuk segera menolong ibu, setelah ku panggil bapak ternyata bapak juga tidak kalah panic, bapak kemudian memanggil tetangga untuk segera membawa ibu ke rumahsakit, karena yang ibu rasakan adalah rasa lemas di anggota gerak.
Sesampainya di UGD ibu langsung diperiksa hingga di ronsen untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan setelah di periksa ternyata ibu terserang……..
itkgid dan 50 lainnya memberi reputasi
51
Tutup