- Beranda
- Stories from the Heart
Dendam Cinta Dari Masa Silam
...
TS
beqichot
Dendam Cinta Dari Masa Silam
WARNING!!!!
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++

Prolog
Hai...namaku Aji, lengkapnya Bayu Satriaji.
Aku baru saja pulang dari PETUALANG MASA LALU
Terakhir yang kuingat, aku beserta Zulaikha dan Menik, dua jin cantik.yang selalu mendampingiku selain dari Sang Pamomong, baru saja keluar dari portal yang membawa kami pulang dari masa lalu ratusan tahun silam.
Aku memgerjapkan mataku yang silau oleh cahaya yang menyorot di atas mataku.
Ah...rupanya cahaya lampu.
Perlahan, pandangan mataku menjadi semakin jelas. Kulihat langit-langit kamar yang putih dengan lampu yang menyilaukan mataku tadi.
Di mana aku gerangan? Bukankah aku baru saja keluar dari portal yang menghubungkan masa kini dan masa lalu?
"Mas Aji.... Kau sudah sadar?" sebuah suara menyapaku.
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku itu. Seraut wajah cantik dengan mata yang berair, menatapku.
"Desi...?"
"Iya mas... Ini aku!" jawabnya.
"Mas Aji...!" sebuah suara lain menyapaku.
Aku menoleh ke asal suara itu..
"Anin...? Kamu kok di sini? Aku di mana?" tanyaku.
"Sebentar mas, biar aku kasih tahu bapak dan dokter.kalau kamu sudah sadar!" katanya sambil beranjak pergi.
Bapak? Dokter?
Kok bapak juga ada di sini? Dokter? Berarti aku di rumah sakit...
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku ada di rumah sakit?
"Des...ini di rumah sakit?"
"Iya Mas...!"
"Kok aku bisa disini?"
"Ssttt...mas istirahat saja dulu. Kita tunggu dokter dulu!" sahutnya sambil mengelus-elus tanganku.
Saat itulah pintu terbuka, dan dua wanita dengan pakaian serba putih menghampiriku. Seorang diantaranya memeriksa nadiku, menyenteri mataku, dan menempelkan stetoskop di dadaku.
"Bagaimana dokter?" sebuah suara yang berat terdengar beetanya.
"Keadaannya normal pak! Mungkin butuh pemulihan sebentar, dan 2 atau 3 hari kemudian sudah bisa pulang!" kata bu dokter.
'Syukurlah...!" kata Bapak.
"Bapak.....!" panggilku.
"Hai..cah bagus... Bikin panik orang tua saja kamu!" kata bapak sambil mengacak-acak rambutku.
"Maaf pak... Sudah bikin khawatir bapak..!" ucapku.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah ga papa sekarang!" ujar bapak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" tanyaku.
"Kamu ditemukan orang terbaring di jalanan setelah hujan. Lalu dibawa ke rumah sakit ini. Lalu orang itu membuka kontak hpmu dan menghubungi bapak. Bapak dsn Anin segera kemari. Dan kamu baru sadar setelah 3 hari pingsan!" kata bapak.
Hah.3 hari? Padahal aku ada di masa lalu selama 35 hari.
Jadi apakah kejadian di masa lalu itu hanyalah mimpi di saat aku tak sadar?
Kalau memang hanya mimpi, syukurlah...
Dan aku berharap itu semua memang hanya mimpi.
Aku menoleh pada Zulaikha dan Menik yang sedari tadi berdiri di samping ranjangku.
Mereka cuma mengangkat bahu dan menggeleng. .
Yah...semoga saja semua itu hanya mimpi belaka. Kembang tidur di saat aku pingsan. .
Semoga....
Aku masih dirawat selama 2 hari, dan Desi setia memungguku jika sudah pulang kuliah.
Sementara, bapak dan Anin jika malam istirahat di kostku.
Setelah dirasa sehat, aku diperbolehkan pulang.
Bersama bapak dan Anin, kami nakk taksi menuju kostan.
Zulaikha dan Menik melayang di samping mobil.
Di kostan sudah ada pacar tersayang dan adiknya yang menunggu kedatangan kami....
Yah...aku kembali berada di jamanku. Pengalaman di masa lalu itu, entah nyata ataukah sekedar mimpi belaka?
Only time will tell.....
INDEX:
Prolog
The Begining
Naning
The Truth
Lanjutan
Naning Lagi....
Melati's Pov
Godaan Nenek Bohai
Menik's Pov
Tukang Ojek
Masalah Cewe Dino
Di Rumah Firda
Menolong Naning....
One By One
Pulang....
Di Madrasah 1
Di Madrasah 2
It's Begin...
Bingung
Masih Di Rumah Naning
Menik's Pov
Pengakuan Firda
Desi Cemburu
Pertempuran
Bendera Perang Sudah Dikibarkan
Masalah mulai bertambah
Firda's Pov
Liburan Semester
Kejadian Di Kamar Kost.....
Di Gazebo..
Tekad Naning
Pov nya Kunyil
Balada Lontong Opor
Kunyil Ember
Ditinggal.....
Pengusiran
Pulang....
Nenek Tua
Mimpi
RSJ
Pertempuran Seru
Serangan Susulan
Menuju Sumber....
Lanjutannya..
Kurnia
Sebuah Pengakuan
Interogasi
Menepati Janji
Malam Minggu
Piknik....
Di Curug
Ki Sarpa
Berlatih
Ketiduran
Kejadian Aneh
Kyai Punggel
Pagi Absurd
Pov: Naning
Latihan Di Gunung
Wejangan
Aku Dipelet?
Lebih Hebat Dari Pelet
Terusan Kemarin
Tante Fitri Yang....
She's Back
Bros
Makhluk Paling Absurd
Makhluk Absurd 2
Part Kesekian
Cowo Tajir
Jangan Buat Naning Menangis
Surprise
Kejadian Aneh
Quote:
Menghentikan Perang
Ahaha ..
Jatuh Bangun
Selaras
Mulai Dari Awal
Kembali
Rencana Bapak
Gadis Galak
Pengobatan
Sang Dukun
Sandra
A Little Bonus: Sandra's Pov
Pulang Ke Kost
Nenek Tukang Pijat
Upgrade
Si Galak Sakit
Fight....
Proyek Besar
Kesurupan Massal
Kalahkan Biangnya
Kosong
Dreamin'
About Renita
Kenapa Dengan Sandra?
Teluh
Serangan kedua
Gelud Lagi...
Hadiah Nyi Rambat
Kembalinya Trio Ghaib
Kepergian Zulaikha
Kurnia's Pov
Lanjutan Indeks
Diubah oleh beqichot 18-09-2021 19:54
xue.shan dan 199 lainnya memberi reputasi
190
401.8K
12.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
beqichot
#625
Menuju Sumber....
"Gimana caranya Nik...Menik...? Ini udah di part selanjutnya lho...!" tanyaku penasaran pada Menik.
"Eh...udah part baru ya? Gini mas... Mas itu kan Mahasiwa...!"
"Mahasiswa Nik...!"
"Iya itu... Tapi mas Aji kok ga cerdas amat ya? Cuma masalah kayak gitu kok bingung!"
Walah...malah dikatain ga cerdas...
Zulaikha malah ngakak, dengar Menik ngatain aku.
"Kamu mau bantu atau mau ngejek sih Nik? Serius ah ..!"
"Ini serius Mas.. Mas lihat mataku, aku serius beneran....!" katanya sambil meraih wajahku dan mengarahkan ke wajahnya.
"Apaan sih....?" kataku melepaskan pegangannya.
"Biar mas bisa melihat mataku, dan tahu kalau aku lagi serius banget...!"
"Iya..iya... Trus gimana caranya?"
"Gini mas... Ada 2 cara yang bisa mas lakukan. Yang pertama.... Mas bisa melakukan rogoh sukmo dan menolong gadis itu..siapa namanya... Oh iya...Rafia...!"
"Rania Nik...bukan Rafia...!"
"Oh..iya Rania."
"Yang kedua?" tanyaku lagi.
"Yang kedua, mas bisa mengirim salah satu dari kami untuk melacak asal serangan itu, dan memberantas serangan itu langsung pada pusatnya!"
"Wah...bener juga ya? Kok aku ga kepikiran ya?".
" itulah makanya kubilang ga cerdas...!" kata Menlk sambil nyengir.
"Itu lagi yang dlbahas...!" keluhku.
"Tapi, aku saat ini sedang terkuras energiku. Aku butuh memullhkan energiku, jadi ga bisa kalau aku sekarang rogoh sukmo dan menuju kota sebelah!" kataku.
"Jadi....?" tanya Menik.
"Jadi, Menik yang cantik, baik hati dan tidak monyong, aku mau minta tolong sama kamu buat nyari sumber serangan itu!" kataku merayu Menik.
"Halah...kalau ada maunya aja, kata-katanya manis gitu...huh..!" sahut Menik.
"Mau ya Nik...?"
"Mbok mbakyu aja yang disuruh... Aku lagi males nih...!"
"Menik cantik... Aku minta tolong sama kamu karena kamu itu pinter, cerdas, dan banyak akal... Jadi pasti bisa segera berhasil."
BLETAKS......
"Jadi aku ga cerdas dan pinter gitu?" suara menggelegar Zulaikha mengagetkanku.
"Enggak....eh...maksudku bukan gitu. Kamu pinter kok, tapi tetep kalah masalah akal mengakali dengan Menik. Iya kan?"
"Iya sih... Aku ga bakat jail soalnya!" kata Zulaikha.
Dengan berbagai rayuan, aku berhasil meminta Menik untuk membantuku.
Dan setelah Menik pergi, aku bermeditasi untuk memulihkan energiku yang sempat terkuras. Setelah 1 jam, aku dah merasa lebuh segar, dan energl serasa dicharge lagi...full
Saat kubuka mata, Menik sudah ada depanku. Tepat di depan wajahku... Hanya berjarak 2 cm, wajahnya dari wajahku.
"Innalillahi...!" teriakku kaget.
"Hihihi....kaget ya mas...?"
"Kamu ini... Ga bisa ya, sehari aja ga ngerjain aku?"
"Ga bisa mas... Serasa ada yang kurang kalo ga ngerjain Mas Aji!" katanya cengengesan.
"Gimana hasil penyelidikanmu..!"
"Siap... Menurut hasil investigasi, dan penyelidikan yang teliti agar menghasilkan ketepatan yang akurat...!"
"Halah...kelamaan..! Langsung aja!"
"Hehe...ternyata, dukunnya ada di.luar kota ini mas. Dan dari penyelidikan yang kulakukan, dukunnya perempuan. Nanti Mas Aji jangan sampai kesengsem sama dukunnya ya?"
"Emang dukunnya cantik, seksi...?"
"Wo...ya jelas lah...!"
"Dimana lokasinya....?" tanyaku penuh semangat.
"Ikut aku mas... Tapi pakai sukma saja biar cepet. Kelamaan kalo naik.motor...!"
"Oke....!"
Aku segera menerapkan rogoh sukmo.
"Yang jaga sukmaku siapa?" tanyaku.
"Minta tolong Nyi Rambat aja...!" sahut Menik.
"Ogah....!"
Ga kebayang kalo yang jaga ragaku Nyi Rambat..bisa berabe...
Aku akhirnya meminta bantuan pada Nyi Among. Beliau dengan senyum teduhnya bersedia menjaga ragaku dan memperingatkan aku untuk hatl-hati.
Kemudian aku melesat mengikuti Menik, dengan digandeng oleh Zulaikha. Wih...serasa pacaran... Gandengan tangan...ahaha.
Menik melesat cepat mengarungi langit malam yang penuh bintang. Arahnya menuju ke Timur kota.
Setelah perjalanan sekitar 10 menit, kami sampai di pinggir kota, di sebuah areal persawahan. Kami terus melewati areal persawahan itu, hingga sampai di sebuah desa yang berada di dekat sebuah hutan kecil.
Dari atas, aku melihat genting-genting rumah penduduk yang terlihat gelap. Sampai aku melihat sebuah rumah yang diselimuti aura tipis yang bersinar redup.
Menik menukik menuju ke arah rumah itu, hinggap di atas genting rumah warga di dekat rumah yang diselimuti aura tipis tadi.
Aku dan Zulaikha mengikuti...
Setelah kuperhatikan dengan seksama, aura tipis tadi berasal dari pagar ghaib yang melingkupi rumah itu.
"Wah..ada pagar ghalbnya tuh...! Gimana cara masuknya nih?" tanyaku.
"Halah...pagar ghaib segitu sih gampil ..!" kata Menik jumawa.
"Sombong kamu...!" kataku
"Hihihl...bukan bermaksud sombong Mas Aji... Tapi emang perisai ghaib ini masih kurang kuat kok!"
"Kok bisa sih? Padahal makhluk kirimannya kemarin kuat banget lho...!"
"Ga tahu juga... Mungkin sudah terlalu lama dan ga direcharge... Biasalah manusia, kalau sudah merasa hebat, lalu kurang memperhatikan perlindungan untuk dirinya...!" jelas Menik.
"Benar, pagar ghaib ini sudah hamplr expired... Dan belum pernah diperbaharui sejak pemasangannya!" jelas Zulaikha.
"Kok bisa seyakin itu?"
"Lihat saja pendaran cahayanya...sudah redup. Jika dibandingkan dengan barang milik manusia, barang itu sudah kusam!"
"Oh ..begitu ya?"
"Halah..kelamaan ngobrolnya. Aku hancurkan aja pagar ghaib ini ya?" kata Menik.
"Ngapain buang-buang tenaga Dek? Tuh ada yang berlubang... Tinggal masuk aja...!" kata Zulaikha sambil menunjuk ke arah puncak pagar ghaib
Benar saja, di sana ada sebuah lubang menganga yang cukup dimasuki.
Dengan mudahnya, kami melewati pagar ghaib itu. Dengan semangat dan rasa penasaran yang tinggi, aku berniat masuk ke rumah itu, untuk melihat dukun cewe itu secantik apa....
Tapi begitu dekat dengan rumah itu, kurasakan aura jin yang kuat. Hampir sekuat aura jin yang dikirim ke RSJ. Wah...bakal berat nih pertarungannya... Begitu pikirku.
Begitu kami mendekat, muncul sosok jin perempuan yang bertelanjang dada, dengan buah dadanya yang sangat panjang...mirip pepaya thailand.
(Bayangin aja sendiri)
Tubuhnya besar dan tinggi...hampir menyentuh plafon rumah sang dukun. Apa ini yang namanya wewe gombel?
Aku berpaling pada Zulaikha dan Menik...
"Kalian kira-kira mampu ga ngadepin dia?" tanyaku.
"Serahkan pada kami. Walaupun auranya kuat, tapi kami yakin masih mampu melayaninya."
"Beneran nih? Kalau ga mampu, biar kita keroyok bertiga...!"
"Legakan hatimu. Kami yakin kami mampu dengan gabungan ilmu kami!" jawab Zulaikha.
"Baiklah... Aku akan mengurus dukunnya...!" kataku.
"Awas...mas Aji jangan sampai terpikat...!" kata Menik sambil tersenyum.
"Iya... Ga akan deh.. Ini musuh kok...!" kataku sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
Saat aku melangkah mau masuk, aku dihadang wewe gombel itu. Namun Menik dan Zulaikha segera menyerang makhluk itu.
Segera saja terjadi pertempuran yang sengit antar mereka.
Aku menyelinap masuk ke dalam rumah. Karena menggunakan sukma, aku langsung saja menembus tembok rumah itu.
Begitu masuk, aku berada di sebuah ruang tamu yang lumayan mewah...untuk ukuran desa.
Aku mencoba merasakan aura dukun itu untuk melacak keberadaannya. Hah...terasa ada aura manusia yang kuat.
Aku menuju ke tempat asal aura tersebut...
Aura itu datang dari sebuah kamar, yang berada di bagian agak belakang rumah itu.
Begitu sampai di dekat kamar itu, tercium bau dupa yang sangat menusuk hidung. Mungkin kamar itu adalah tempat kerja si dukun.
Aku menembus pintu kamar itu...namun sebuah serangan dari dalam memaksaku mundur. Kulihat sebuah ujung keris nyaris mengenai sukmaku. Hanya sekejap, keris itu mundur lagi.
Belajar dari kesalahan tadi, aku edarkan energi ke seluruh tubuh untuk membentengiku dari serangan gelap.
Kemudian, kupanggil tombak kyai Cemeng, dan melintangkannya di depan dada sebagai peelindungan.
Lalu aku mencoba masuk lagi namun dari tembok sebelah atas...dengan melayang ke atas, lalu dengan kecepatan tinggi, aku menerobos.
Dan begitu aku masuk, sebuah serangan meluncur ke arahku. Aku yang sudah bersiap, segera menghindar dengan cepat, dan menjauhi serangan itu, lalu mendarat di pojok.kamar.
Ternyata kamar itu gelap.gulita...hanya kulihat pendaran cahaya hijau berbentuk keris. Rupanya, dengan keris itulah tadi dukun itu menyerangku.
Aku harus membiasakan diri dengan kegelapan yang melingkupi ruangan itu.
Tetap dengan waspada, memperhatikan pendaran cahaya keris itu.
Saat aku sedang berusaha membiasakan diri dengan kegelapan, pendaran cahaya itu menyerangku bertubi-tubi. Namun serangan itu selalu bisa aku hindari atau aku tangkis.
Pendaran cahaya itu menjadi petunjuk buatku untuk mengetahui arah yang dituju oleh serangan itu.
Sementara, mataku sudah mulai terbiasa dengan kegelapan itu. Samar kulihat sebuah sosok yang memegang keris itu. Namun karena kurang jelas, aku belum bisa menebak apakah itu sosok dukun itu atau bukan.
Ctekk...
Saat itulah lampu dinyalakan.. Mataku terpejam karena silau. Dan saat itulah kurasakan deru serangan mengarah ke tubuhku.
Aku melompat mundur, sambil mengibaskan tombakku, dan TRANGGG...
Suara benturan dua benda logam terdengar nyaring.
Aku mendarat tepat menempel tembok ruangan itu.
Pandangan kuarahkan ke depan... Dalam kondisi terang, baru aku bisa melihat jelas sosok dukun perempuan itu...
Wow....bodinya bikin aku merinding....
Wajahnya membuatku menelan ludah.....
"Eh...udah part baru ya? Gini mas... Mas itu kan Mahasiwa...!"
"Mahasiswa Nik...!"
"Iya itu... Tapi mas Aji kok ga cerdas amat ya? Cuma masalah kayak gitu kok bingung!"
Walah...malah dikatain ga cerdas...

Zulaikha malah ngakak, dengar Menik ngatain aku.
"Kamu mau bantu atau mau ngejek sih Nik? Serius ah ..!"
"Ini serius Mas.. Mas lihat mataku, aku serius beneran....!" katanya sambil meraih wajahku dan mengarahkan ke wajahnya.
"Apaan sih....?" kataku melepaskan pegangannya.
"Biar mas bisa melihat mataku, dan tahu kalau aku lagi serius banget...!"
"Iya..iya... Trus gimana caranya?"
"Gini mas... Ada 2 cara yang bisa mas lakukan. Yang pertama.... Mas bisa melakukan rogoh sukmo dan menolong gadis itu..siapa namanya... Oh iya...Rafia...!"
"Rania Nik...bukan Rafia...!"
"Oh..iya Rania."
"Yang kedua?" tanyaku lagi.
"Yang kedua, mas bisa mengirim salah satu dari kami untuk melacak asal serangan itu, dan memberantas serangan itu langsung pada pusatnya!"
"Wah...bener juga ya? Kok aku ga kepikiran ya?".
" itulah makanya kubilang ga cerdas...!" kata Menlk sambil nyengir.
"Itu lagi yang dlbahas...!" keluhku.
"Tapi, aku saat ini sedang terkuras energiku. Aku butuh memullhkan energiku, jadi ga bisa kalau aku sekarang rogoh sukmo dan menuju kota sebelah!" kataku.
"Jadi....?" tanya Menik.
"Jadi, Menik yang cantik, baik hati dan tidak monyong, aku mau minta tolong sama kamu buat nyari sumber serangan itu!" kataku merayu Menik.
"Halah...kalau ada maunya aja, kata-katanya manis gitu...huh..!" sahut Menik.
"Mau ya Nik...?"
"Mbok mbakyu aja yang disuruh... Aku lagi males nih...!"
"Menik cantik... Aku minta tolong sama kamu karena kamu itu pinter, cerdas, dan banyak akal... Jadi pasti bisa segera berhasil."
BLETAKS......
"Jadi aku ga cerdas dan pinter gitu?" suara menggelegar Zulaikha mengagetkanku.
"Enggak....eh...maksudku bukan gitu. Kamu pinter kok, tapi tetep kalah masalah akal mengakali dengan Menik. Iya kan?"
"Iya sih... Aku ga bakat jail soalnya!" kata Zulaikha.
Dengan berbagai rayuan, aku berhasil meminta Menik untuk membantuku.
Dan setelah Menik pergi, aku bermeditasi untuk memulihkan energiku yang sempat terkuras. Setelah 1 jam, aku dah merasa lebuh segar, dan energl serasa dicharge lagi...full
Saat kubuka mata, Menik sudah ada depanku. Tepat di depan wajahku... Hanya berjarak 2 cm, wajahnya dari wajahku.
"Innalillahi...!" teriakku kaget.
"Hihihi....kaget ya mas...?"
"Kamu ini... Ga bisa ya, sehari aja ga ngerjain aku?"
"Ga bisa mas... Serasa ada yang kurang kalo ga ngerjain Mas Aji!" katanya cengengesan.
"Gimana hasil penyelidikanmu..!"
"Siap... Menurut hasil investigasi, dan penyelidikan yang teliti agar menghasilkan ketepatan yang akurat...!"
"Halah...kelamaan..! Langsung aja!"
"Hehe...ternyata, dukunnya ada di.luar kota ini mas. Dan dari penyelidikan yang kulakukan, dukunnya perempuan. Nanti Mas Aji jangan sampai kesengsem sama dukunnya ya?"
"Emang dukunnya cantik, seksi...?"
"Wo...ya jelas lah...!"
"Dimana lokasinya....?" tanyaku penuh semangat.
"Ikut aku mas... Tapi pakai sukma saja biar cepet. Kelamaan kalo naik.motor...!"
"Oke....!"
Aku segera menerapkan rogoh sukmo.
"Yang jaga sukmaku siapa?" tanyaku.
"Minta tolong Nyi Rambat aja...!" sahut Menik.
"Ogah....!"
Ga kebayang kalo yang jaga ragaku Nyi Rambat..bisa berabe...

Aku akhirnya meminta bantuan pada Nyi Among. Beliau dengan senyum teduhnya bersedia menjaga ragaku dan memperingatkan aku untuk hatl-hati.
Kemudian aku melesat mengikuti Menik, dengan digandeng oleh Zulaikha. Wih...serasa pacaran... Gandengan tangan...ahaha.
Menik melesat cepat mengarungi langit malam yang penuh bintang. Arahnya menuju ke Timur kota.
Setelah perjalanan sekitar 10 menit, kami sampai di pinggir kota, di sebuah areal persawahan. Kami terus melewati areal persawahan itu, hingga sampai di sebuah desa yang berada di dekat sebuah hutan kecil.
Dari atas, aku melihat genting-genting rumah penduduk yang terlihat gelap. Sampai aku melihat sebuah rumah yang diselimuti aura tipis yang bersinar redup.
Menik menukik menuju ke arah rumah itu, hinggap di atas genting rumah warga di dekat rumah yang diselimuti aura tipis tadi.
Aku dan Zulaikha mengikuti...
Setelah kuperhatikan dengan seksama, aura tipis tadi berasal dari pagar ghaib yang melingkupi rumah itu.
"Wah..ada pagar ghalbnya tuh...! Gimana cara masuknya nih?" tanyaku.
"Halah...pagar ghaib segitu sih gampil ..!" kata Menik jumawa.
"Sombong kamu...!" kataku
"Hihihl...bukan bermaksud sombong Mas Aji... Tapi emang perisai ghaib ini masih kurang kuat kok!"
"Kok bisa sih? Padahal makhluk kirimannya kemarin kuat banget lho...!"
"Ga tahu juga... Mungkin sudah terlalu lama dan ga direcharge... Biasalah manusia, kalau sudah merasa hebat, lalu kurang memperhatikan perlindungan untuk dirinya...!" jelas Menik.
"Benar, pagar ghaib ini sudah hamplr expired... Dan belum pernah diperbaharui sejak pemasangannya!" jelas Zulaikha.
"Kok bisa seyakin itu?"
"Lihat saja pendaran cahayanya...sudah redup. Jika dibandingkan dengan barang milik manusia, barang itu sudah kusam!"
"Oh ..begitu ya?"
"Halah..kelamaan ngobrolnya. Aku hancurkan aja pagar ghaib ini ya?" kata Menik.
"Ngapain buang-buang tenaga Dek? Tuh ada yang berlubang... Tinggal masuk aja...!" kata Zulaikha sambil menunjuk ke arah puncak pagar ghaib
Benar saja, di sana ada sebuah lubang menganga yang cukup dimasuki.
Dengan mudahnya, kami melewati pagar ghaib itu. Dengan semangat dan rasa penasaran yang tinggi, aku berniat masuk ke rumah itu, untuk melihat dukun cewe itu secantik apa....

Tapi begitu dekat dengan rumah itu, kurasakan aura jin yang kuat. Hampir sekuat aura jin yang dikirim ke RSJ. Wah...bakal berat nih pertarungannya... Begitu pikirku.
Begitu kami mendekat, muncul sosok jin perempuan yang bertelanjang dada, dengan buah dadanya yang sangat panjang...mirip pepaya thailand.
(Bayangin aja sendiri)
Tubuhnya besar dan tinggi...hampir menyentuh plafon rumah sang dukun. Apa ini yang namanya wewe gombel?
Aku berpaling pada Zulaikha dan Menik...
"Kalian kira-kira mampu ga ngadepin dia?" tanyaku.
"Serahkan pada kami. Walaupun auranya kuat, tapi kami yakin masih mampu melayaninya."
"Beneran nih? Kalau ga mampu, biar kita keroyok bertiga...!"
"Legakan hatimu. Kami yakin kami mampu dengan gabungan ilmu kami!" jawab Zulaikha.
"Baiklah... Aku akan mengurus dukunnya...!" kataku.
"Awas...mas Aji jangan sampai terpikat...!" kata Menik sambil tersenyum.
"Iya... Ga akan deh.. Ini musuh kok...!" kataku sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
Saat aku melangkah mau masuk, aku dihadang wewe gombel itu. Namun Menik dan Zulaikha segera menyerang makhluk itu.
Segera saja terjadi pertempuran yang sengit antar mereka.
Aku menyelinap masuk ke dalam rumah. Karena menggunakan sukma, aku langsung saja menembus tembok rumah itu.
Begitu masuk, aku berada di sebuah ruang tamu yang lumayan mewah...untuk ukuran desa.
Aku mencoba merasakan aura dukun itu untuk melacak keberadaannya. Hah...terasa ada aura manusia yang kuat.
Aku menuju ke tempat asal aura tersebut...
Aura itu datang dari sebuah kamar, yang berada di bagian agak belakang rumah itu.
Begitu sampai di dekat kamar itu, tercium bau dupa yang sangat menusuk hidung. Mungkin kamar itu adalah tempat kerja si dukun.
Aku menembus pintu kamar itu...namun sebuah serangan dari dalam memaksaku mundur. Kulihat sebuah ujung keris nyaris mengenai sukmaku. Hanya sekejap, keris itu mundur lagi.
Belajar dari kesalahan tadi, aku edarkan energi ke seluruh tubuh untuk membentengiku dari serangan gelap.
Kemudian, kupanggil tombak kyai Cemeng, dan melintangkannya di depan dada sebagai peelindungan.
Lalu aku mencoba masuk lagi namun dari tembok sebelah atas...dengan melayang ke atas, lalu dengan kecepatan tinggi, aku menerobos.
Dan begitu aku masuk, sebuah serangan meluncur ke arahku. Aku yang sudah bersiap, segera menghindar dengan cepat, dan menjauhi serangan itu, lalu mendarat di pojok.kamar.
Ternyata kamar itu gelap.gulita...hanya kulihat pendaran cahaya hijau berbentuk keris. Rupanya, dengan keris itulah tadi dukun itu menyerangku.
Aku harus membiasakan diri dengan kegelapan yang melingkupi ruangan itu.
Tetap dengan waspada, memperhatikan pendaran cahaya keris itu.
Saat aku sedang berusaha membiasakan diri dengan kegelapan, pendaran cahaya itu menyerangku bertubi-tubi. Namun serangan itu selalu bisa aku hindari atau aku tangkis.
Pendaran cahaya itu menjadi petunjuk buatku untuk mengetahui arah yang dituju oleh serangan itu.
Sementara, mataku sudah mulai terbiasa dengan kegelapan itu. Samar kulihat sebuah sosok yang memegang keris itu. Namun karena kurang jelas, aku belum bisa menebak apakah itu sosok dukun itu atau bukan.
Ctekk...
Saat itulah lampu dinyalakan.. Mataku terpejam karena silau. Dan saat itulah kurasakan deru serangan mengarah ke tubuhku.
Aku melompat mundur, sambil mengibaskan tombakku, dan TRANGGG...
Suara benturan dua benda logam terdengar nyaring.
Aku mendarat tepat menempel tembok ruangan itu.
Pandangan kuarahkan ke depan... Dalam kondisi terang, baru aku bisa melihat jelas sosok dukun perempuan itu...
Wow....bodinya bikin aku merinding....
Wajahnya membuatku menelan ludah.....
arinu dan 60 lainnya memberi reputasi
61
Tutup