Kaskus

Story

afryan015Avatar border
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

emoticon-UltahHallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......
ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya



Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati emoticon-Shakehand2

Oh iya jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

Quote:



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
bebyzhaAvatar border
jiren11Avatar border
mangawal871948Avatar border
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
232.5K
2.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
afryan015Avatar border
TS
afryan015
#388
Akhir Latihan Hari Ini
“SUUUUDDDAAAAHHHHH CUUUKKUUUUUPPP……” Teriakan Barzam terdengar dari arah belakangku.


Diriku yang sudah dikuasai oleh rasa murka, tidak memperdulikan apa yang diteriakan oleh Barzam, dengan diriku yang dikuasai oleh rasa amarah, Gufron sangat menikmati serangan demi serangan yang aku lancarkan padanya, malah kadang diikuti tawa cekikikan dari Gufron.

“bagus, seperti itu serang aku terus sampai kamu bisa melukaiku yan hahaha” ucap Gufron sambil menghindar dan bermanufer di udara.

“kurang ajar kau Gufron, setelah beberapa waktu aku percaya padamu dan Barzam, ternyata ini semua yang kamu lakukan” murkaku pada Gufron.

“itulah dirumu yan, langsung percaya denganseseorang yang baru saja kamu kenal, lihat dua temanmu, sudah tergeletak tidak bergerak sedikitpun” Gufron terus memprovokasi ku untuk menyerang.

Dan karena provokasi Gufron yang menunjuk arah Aruna dan Shinta, otomatis aku melihat kembali kearah mereka, yang membuatku semakin ingin menghajar Gufron, tanpa disadariaku melesat kearah Gufron dan secara kebetulan langsung bisa menangkap tangan Gufron, terlihat wajah Gufron sedikit terkejut karena aku bisa melesat cepat dan menangkap tangannya.

Karena sosok Gufron yang sangat besar dibanding diriku, aku hanya bisa memegangi sebagian tangannya, dan setelah kupegangi tangannya, segera ku kumpulkan energiku yang masih tersisa dan ku ubah menjadi gumpalan energy yang cukup besar dibanding yang tadi saat aku menyerang nya.

Setelah terkumpul semua gumpalan energy, langsung aku lempar gumpalan energy itu pada lengan Gufron, dan akhirnya sukses terkena seranganku, saat mengenai lengan Gufron efeknya adalah lengannya langsung patah karena hantaman dari gumpalan energy yang aku kumpulkan itu.

Wajah Gufron kali ini benar benar sangat terkejut, hingga membuat kedua matanya melotot seolah tidak percaya dengan yang telah terjadi, namun bagaimanapun sosok Gufron masih terbilang sangat kuat, karena serangan sebesar itu hanya membuat nya patah tulang saja, andai saja terkena makhluk dibawah nya pasti sudah hancur, Barzam saja terlempar cukup jauh padahal dengan gumpalan energy yang lebih kecil dibandingkan serangan itu.

Namun efek yang terjadi setelah aku menyerang Gufron dengan sisa tenaga dan energy pada diriku, akupun melemah dan melepaskan cengkramanku pada lengan Gufron yang baru saja ku lukai, tubuhku langsung terasa sangat lemas dan berat, yang membuat diriku terhempas ke tanah, tarikan nafasku mulai tersendat karena kelelahan, namun kesadaranku masih terjaga, hanya saja sudah tidak memiliki kekuatan nuntuk bangkit dan menyerang lagi.

Barzam berjalan mendekat kearah ku yang tergeletak lemas di bawah Gufron, sedangkan Gufron berdiri dengan tegapnya didepan kepalaku, emosi masih kurasakan, sambil tergeletak aku kembali melihat kearah Shinta dan Aruna sambil meratapi, apakah ini akan menjadi akhir dari hidupku, yang harus berakhir karena serangan dari dua sosok jin yang mengaku utusan dari teman ayahku, bang Damar.

“hey Ryan, sudah cukup, dirimu sudah sampai batasnya” Ucap Barzam seraya menghampiriku yang tergeletak lemas.

“apa? Apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanyaku dengan nafas tidak beraturan.

“biarkan dulu saja Barzam, biarkan dia diam disitu dulu haha” ucap Gufron seolah puas.

“luar biasa sebenarnya anak ini” ucap Barzam sambil mengamatiku.

“yang penting kita sudah berhasil kan? Haha” Gufron masih dengan puasnya berkata.

“sudah habisi saja aku sekalian, nunggu apa lagi, jangan terlalu lama!!” ucapku dengan sisa tenaga.

Mereka berdua hanya tersenyum melihatku yang masih tersulut emosi, Gufron kemudian mengangkat tangannya yang tidak terluka, kemudian seolah dia sedang mengumpulkan sebuah energy, yang mengakibatkan terjadinya pusaran angin disekitar kita, dan dengan telunjuk Gufron, telunjuknya diarakan pada tangannya yang cidera karena seranganku, dan menakjubkan tangan yang tadi sudah patah langsung kembali normal seperti semula, kini giliranku yang malah terkejut, dia ternyata bisa menyembuhkan dirinya sendiri, dalam benaku mulai berfikir pasti setalah ini mereka akan menghabisiku.

“nah seperti ini baru nyaman” ucap Barzam seraya menggerakan tangannya yang sudah pulih.

“haha baru serangan seperti itu saja sudah cidera kau burung kecil” ejek Barzam pada Gufron.

“lebih baik aku dari pada kau kucing manis, baru kena serangan sedikit saja sudah terlempar jauh, apalagi serangan yang ku terima, pasti sudah tidak berbentuk kau” protes Gufron karena ejekan Barzam.

“ah sudah lupakan, yang penting kita sudah berhasil melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan Aji” dengan sedikit gengsi Barzam mengalihkan pembicaraan.

“apa? Jadi dalang semua ini adalah bang Damar, kenapa dia tega” tanyaku sedikit terkejut.

Pertanyaanku tidak dijawab oleh mereka, lalu kemudian Gufron berjalan menjauhi aku yang tergeletak, setelah berjarak beberapa meter Gufron mengampil posisi kuda kuda dan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan tadi, mengumpulkan sebuah energy yang membuat pusaran angin berputar disekitar kita, sosok Barzam masih berada didepanku, namun posisinya sekarang duduk bersilah dihadapnku sambil melihat diriku dan tersenyum, seolah kagum padaku, aku yang masih marah dengan meraka masih menganggap itu adalah ejekan padaku.

Gufron yang sedari tadi mengumpulkan energinya dengan posisi kuda kuda kini mulai menurunkan tangannya dan menghempaskan energy yang sudah dikumpulkannya ke sekeliling kita, dan hal menakjupkanpun kembali terjadi, Shinta kembali bangkit dan berdiri, semua luka luka nya juga sudah tidak ada, begitupun juga Aruna kembali bangkit dan berdiri.

Shinta yang mengira pertempuran tadi masih berlanjut dan melihatku yang sudah tergeletak di depan Barzam, kemudian melesat ke arah Barzam sambil menyerang dengan tendangan, Barzam yang awalnya tidak mengira Shinta akan langsung menyerang dirinya kemudian memberikan reflek menahan dengan tangannya, namun karena refleknya terlambat, tendangan Shinta tepat menghantam kepala Barzam dan terlempar beberapa meter, Aruna pun kembali melesat kearahku dan mencoba memberi pertahanan berjaga mungkin Gufron akan menyerang.

“wah semakin kuat saja seranganmu Tuan Putri” ucap Barzam pada Shinta.

“kali ini ku tak akan kalah lagi” dengan semangat Shinta berkata.

“hahaha, malang sekali nasibmu kucing manis, mendapat serangan telak dari Tuan Putri haha” Gufron tampak mengejek Barzam.

“diam kau dasar burung bakai” teriak Shinta dan dengan cepat melesat ke Arah Gufron.

Namun saat Shinta melesat ke arah Gufron dan menyerang dengan kakinya, Gufron dengan mudah langsung menangkap kaki Shinta dengan mudah apalagi postur tubuh Gufron lebih besar beberapa kali di banding Shinta, Gufron menangkap kaki Shinta dengan tangan kirinya dengan mudah, dan karena Shinta masih berambisi untuk menyerang, dia kemudian mengeluarkan pedang gaibnya dan mencoba menebas tubuh Gufron, namun dengan tangan kanannya Gufron kembali dengan mudah menangkap tangan Shinta.

“sudah cukup Tuan Putri, latihan sudah selesai” ucap Gufron dengan santai sambil tersenyum.

“apa maksudnya latihan, jika latihan kenapa sampai melakai kami” Tanya Shinta yang masih di genggam tangan dan kakinya oleh Gufron.

Aruna dan aku terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi, jika memang latihan mengapa harus sampai melukai bahkan hampir menewaskan kita, apakah memang itu yang mereka inginkan, atau metodenya memang harus seperti ini.

“aku dan Barzam memang sengaja tidak memberitahu Tuan Putri dan Aruna, Karen ini perintah dari Tuan Aji, jika kalian mengetahuinya, Ryan tidak akan bersengguh sungguh dalam berlatih, dan dengan keadaan seperti tadi, setidaknya Ryan telah membuka sedikit gerbang energy pada dirinya, yang diharapkan akanakan mempermudah dia mengeluarkan auranya” jelas Gufron pada Shinta.

“maafkan kami, Tuan Putri Shinta dan Aruna, karena sempat menciderai kalian” ucap Barzam.

“aku memaafkanmu Barzam, tapi tidak dengan Gufron” ucap Shinta sambil meronta.

“kenapa tuan Putri tidak memaafkan ku” Tanya Gufron.

“bagaimana aku mau memafkanmu, jika aku masih kau cengkram erat seperti ini” ucap Shinta meronta.

“maafkan aku tuan Putri Shinta, akan segera saya turunkan” Gufron berkata seraya menurunkan Shinta dari genggamannya.

Gufron dan Barzam pun kemudian menjelaskan secara detail mengapa kita harus berlatih secara ekstrim seperti ini dan bahkan harus tega melukai rekan latihan, karena menurut Tuan Aji atau bang Damar, musuh kita tidak akan lama lagi datang, dan kita harus segera mempersiapkan penyerangan, tidak cukup untuk berlatih terus namun juga harus membuat taktik yang meminimalisir kekalahan atau terbunuhnya pasukan kita saat perang nanti.

Dan setelah mendengar penjelasan dari mereka, kita pun paham, dan berniat untuk melanjutkan latihan, namun melihat kondisiku yang masih dalam keadaan lemah tidak berdaya karena serangan terakhir yang aku lancarakan pada Gufron membuatku sudah tidak bisa lagi untuk bergerak.

Shinta sempat protes karena aku kehabisan tenaga cukup banyak, karena setelah ini di dunia nyata harus menjalani kegiatan secara normal dan bekerja, fisik di alam ini akan mempengaruhi fisik kita di dunia nyata, walau tidak secara terlihat namun jika kita terluka akan berefek pada diri kita di dunia nyata.

Gufron menyuruh Shinta yang menyembuhkan aku, karena ternyata sebenarnya Shinta memiliki kemampuan penyembuhan hanya saja dia malas untuk melakukannya, dan berkata kenapa bukan Gufron saja seperti yang dilakuaannya tadi terhadap Shinta dan Aruna, dan ternyata ilmu tadi adalah manipulasi saja seperti hipnotis yang menjadi salah satu kekuatan Gufron jadi setelah kekuatan itu di hentikan maka yang terkena efek manipulasi akan kembali seperti semula, sedangkan aku dalam kehilangan tenagaku bukan karena manipulasi Gufron sehingga aku harus di pulihkan dengan energy lain. Dan melihat kondisiku yang sudah sangat tidak berdaya, Shinta pun mau melakukannya, dia mulai mengulurkan tangannya kearah badanku, dia mulai mentransfer energinya dari kepalaku turun hingga ke kaki.

Perlahan aku mulai merasa tanaga dalam tubuh ku kembali, sedikit demi sedikit aku sudah bisa menggerakan tubuhku, dan perlahan aku mencoba untuk berdiri dibantu oleh Aruna yang dari tadi berada di sampingku untuk menjaga diriku jika ada serangan lagi.

Barzam dan Gufron akhirnya menyudahi latihan kali ini, dan berencana untuk mengembalikan ku karena mungkin hari sudah mulai pagi di dunia nyata, latihan tadi cukup lama kurasakan, namun yang kembali ke dunia nyata hanya aku dan Aruna, Shinta saat ku Tanya ikut kembali atau tidak, dia berkata ini belum waktunya, dia harus mengikuti perintah leluhur yang dulu di perintahkan padanya untuk membantu bang Bram terlebih dahulu sampai waktunya tiba.

Sebelum kembali ke alam nyata Gufron berkata

“Kita akan berjumpa lagi dan kita akan berlatih terus, dan kamu jangan lupa terus menajamkan kekuatanmu dan mengasah auramu agar lebih terarah dalam penyerangan” ucap Gufron padaku

Aku pun menyetujuinya, berharap kita akan memenangkan pertempuran sesungguhnya yang akan terjadi sebentar lagi.

“Aruna tolong tetap jaga Ryan untuk ku, dan semoga kamu bisa melatih Ryan dikala dia ada waktu senggang” ucap Shinta pada Aruna.

“itu pasti, aku akan menjaga dia sampai kamu kembali, tapi ingat kamu berhutang padaku untuk ini ya” ucap Aruna sambil tersenyum.

“dan kamu yan, awas aja kalau kamu nggak ada peningkatan sama sekali, mungkin besok Gufron tidak akan mengajak ku untuk latihan bersamamu” ucap Shinta padaku

Aku pun mengiyakan apa yang Shinta suruh, dan karena latihan ini aku juga mengingat kalau akan ada yang beristirahat setelah pertarungan yang akan datang itu selesai.

Dan dalam sekejam aku pun terbangun dari istirahatku dikamar, disana masih ada nenek lasmi yang tampaknya sedang berjaga jaga, dan bapak sudah berada di luar seolah sedang berbicara dengan orang lain, sepertinya mbah margono, dan sedang berdiskusi tentang yang barusan terjadi.

“bagaimana den Ryan, apakah masih terasa lelah setelah latihan” nenek Lasmi bertanya padaku.

“tidak nek, hanya saja rasa dikaki masih sedikit terasa ini, oh iya raut muka nenek kenapa kok sepertinya tegang begitu” tanyaku pada nenek Lasmi.

“tidak apa, sejak kamu berbaring, suara ledakan hasil percobaan penyerangan terdengar namun belum bisa menembus, bahkan mbah margono belum juga pulang sejak semalam kesini, dan nenek di perintahkan bapakmu menjaga mu disini” terang nenek Lasmi.

Aku sedikit terkejut kenapa serangan terus berdatangan padahal kita merasa tidak memiliki musuh sama sekali, namun kenapa serangan itu semakin hari semakin sering dibanding biasanya, bahkan mbah Margono dan bapak merasa cemas dengan hal ini, yang biasanya bertindak biasa dan siap menghadapi serangan apapun.

Hari hari pun berganti hari pernikahan ku segera akan datang, tinggal menghitung beberapa hari saja, latihan demi latihan pun aku lakukan, dan pengendalian Aura pun mulai terbiasa aku lakukan, sehingga kini sudah bisa memunculkan sebuah prisai gaib dan serangan gaib seperti rasengan dalam film Naruto.

Beberapa hari lalu setelah aku mengantarkan Via pulang dari bepergian ke tempat wisata, saat pulang dari rumah Via aku bertemu dengan seorang pria di dekat sebuah pasar tradisional di daerah Via, seorang pria itu bisa dibilang masih berumur empat puluh sampai lima puluh tahun sedikit lebih muda dari bapak ku.

“hey mas berhenti sebentar aku mau menawarkan sesuatu” ucap pria itu.

“tidak pak, saya terburu buru” aku menolak karena aku mau menjemput ibuku

“sebentar saja” pria itu memaksa

“tidak pak, maaf” aku beniat tetap meninggalkannya

“saya bilang sebentar saja” dengan suara keras dia meminta

Sedikit aneh bagiku bagi orang yang mau menawarkan barang namun memaksa dengan suara keras. Aku pun terpaksa berhenti, karena merasa sedikit aneh, aku tak mau kecolongan dan aku pun mempersiapkan tameng gaibku.

Sambil memegang pundaku dia berkata

“aku akan menawarkan sebuah kedamaian untukmu, ayo ikut dengan ku” ucap pria itu berkata.

Dan entah kenapa aku merasa sedikit lemas saat dia berkata demikian, dan tiba tiba ada angin kencang dan membuat……..
sampeuk
bebyzha
itkgid
itkgid dan 52 lainnya memberi reputasi
53
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.