- Beranda
- Stories from the Heart
Seumur Hidup Dibalik Penjara
...
TS
blackgaming
Seumur Hidup Dibalik Penjara
Seumur Hidup Dibalik Penjara

Chapter 1

Spoiler for Update Chapter:
Chapter 1
"Ayo masuk! ini rumahmu sekarang!"
Lantai beralaskan tikar plastik. Di dalam ada sekitar delapan orang wanita yang sama bajunya denganku, seragam penjara. Padahal daya tampungnya cuma lima orang.
Ini hari pertamaku di penjara dengan hukuman seumur hidup. Aku seorang istri sekaligus ibu dari tiga orang putri yang cantik-cantik. Banyak yang bilang, anak-anakku bidadari komplek.
Aku duduk di penjara yang sempit ini, dengan perasaan teramat asing, aku berusaha menyesuaikan diri hingga ajal menjemput. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini dengan hati yang kuat menahan rasa rindu kepada ke tiga putri-putriku.
"Hey! Ini tempat dudukku, sana!"
Seorang wanita berbadan sedikit gemuk menghampiriku. Dengan suara lantang, dia menyuruhku berpindah tempat duduk.
Aku bangkit dan pindah ke sudut. Sementara yang lain hanya melihat dan diam. Apakah takut atau tidak peduli, entahlah.
Pandangan jauh ke depan. Aku mengingat kejadian, kenapa aku bisa di penjara.
Pagi itu ....
"Bunda, aku minta izin ntar pulang sekolah kerumah Vivi belajar kelompok, ya?"
Senyum manis Anisa sudah berseragam sekolah, memelukku dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Anisa adalah anak bungsuku yang masih duduk di kelas dua SMP.
Aku punya tiga putri yang cantik-cantik, aku sadar itu. Anak pertamaku bernama Halimah yang sedang kuliah semester dua. Anak ke duaku bernama Rani kelas tiga SMA dan baru Anisa si bungsu. Aku hidup bahagia dengan suami yang setia dan cinta keluarga. Alhamdulillah.
Rasanya hidupku sudah sempurna. Putri-putriku rajin beribadah dan berhijab syar'i. Suamiku memang hebat memimpin kami, aku sangat bangga dan bahagia. Ini lah surga duniaku.
"Nasi goreng kesukaan Ayah nih, Bun," ucap suamiku duduk di kursi meja makan lalu menyantap nasi goreng buatanku dengan lahap.
"Yang pelan makannya, Yah," ucapku sambil menuangkan air putih ke gelas. Suamiku membalas dengan senyum kehangatan.
"Bunda, aku bawa bekal ke sekolah, ya," kata Rani sambil duduk dan ikut sarapan.
"Sudah Bunda siapkan, ini!" jawabku sambil menyodorkan nasi yang sudah dibungkus seperti biasa.
"Makasi Bundaku tersayang, mmuuuch." Rani berdiri dan mengecup pipi kananku. Aku tersenyum.
"Dek, nanti kamu pulang sendiri ya, aku ada pelajaran tambahan." Kata Rani kepada Anisa.
"Aku pulang juga langsung kerumah Vivi kak," jawab Rani melanjutkan sarapannya.
Sekolah Rani dan sekolah Anisa berdekatan. Mereka selalu pulang bersama. Kami hidup sangat damai. Aku ibu yang beruntung.
"Bun, tambah nasi gorengnya," suamiku menyodorkan piringnya kepadaku.
"Nasi goreng Bunda emang paling enak ya, Yah," ucap Halima tersenyum melirikku.
"Enak sekali, Bundamu paling hebat masak, bahkan mengalahkan koki dunia."
"Iya, Yah. Aku setuju," timpa Anisa.
Aku hanya tersenyum membalas, dan anakku yang lain ikut tertawa menggodaku. Suasana pagi secerah mentari. Alhamdulillah.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
"Siapa yang datang pagi ini Bun?" tanya suamiku.
Kami semua terkejut. Suara ketokan itu terdengar memaksa kami supaya cepat membuka pintu.
"Entahlah, Yah, Bunda juga nggak tahu," jawabku, lalu ingin melangkah ke pintu.
"Biar aku saja yang buka, Bun," sahut Halimah dan langsung bangkit dari duduknya melangkah melangkah ke pintu.
Tidak lama kemudian ....
"Hey Halimah! Apa kamu tidak punya malu, merebut tunangan anak saya!"
Kami yang sedang sarapan, terkejut mendengar kata-kata Bu Lili dengan suara lantang memarahi Halimah. Aku, suami dan kedua putriku yang lainya langsung berdiri melangkah ke pintu depan.
Bu Lili adalah tetangga satu gang komplek dengan kami. Rumahnya rumah pertama memasuki gang ini, untuk menuju rumahku harus melewati depan rumahnya. Bu Lili juga punya anak gadis bernama Monik yang seumuran dengan Halimah.
"Ada apa ini Bu Lili? Kenapa ibu marah-marah sama Halimah." Aku berkata dengan melihat sorotan marah di mata Bu Lili memandang Halimah. Sementara itu, Halimah hanya menundukan kepala, matanya berkaca-kaca.
"Gara-gara anakmu ini, Monik diputuskan tunanganya!" Bu Lili menunjuk Halimah dengan penuh emosi.
Aku dan Mas Adam beradu pandang sesaat. Aku bingung, kenapa putriku dituduh merebut tunangan Monik.
"Apa salah anak saya Bu?" Aku juga ikut kurang senang melihat Halimah dibentak-bentak. Kenapa tidak bicara baik-baik. Kalau anakku salah pasti kutegur.
"Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di dalam, tidak enak ditonton orang, Bu Lili," ucap suamiku.
Tapi ajakan suamiku tidak diterima baik oleh Bu Lili. Dia tetap memasang muka kesal berdiri di teras depan, dari amarahnya bisa kubaca kalau tunangan Monik memutuskan pertunangan. Tapi kenapa Halimah yang disalahkan?
"Dengar ya! aku tidak akan tinggal diam, dasar munafik, diam-diam tukang merebut tunangan orang." Mata Bu Lili membelalak ke Halimah. Halimah tetap diam menatap lantai.
"Tolong bicara yang sopan, Bu Lili. Halimah tidak mungkin merebut tunangan Monik." Aku masih bernada datar, berusaha sabar.
"Jika Bu Rina berada di posisiku gimana? apa bisa bicara sopan?"
"Betul itu Halimah?" tanya suamiku tegas. Halimah menggelengkan kepala, dia seperti tertekan dengan tuduhan ini.
"Mana ada maling ngaku maling? sebaiknya Pak Adam dan Bu Rina lebih telaten jaga anak gadisnya, masak tidak tau apa yang dilakukan Halimah di luar rumah?" ucap Bu Lili sewot. "Dari luarnya kelihatan baik, tapi di dalam siapa tau?!" sambung bu Lili.
"Tolong kontrol bicaranya, Bu. Dari tadi aku sudah berusaha sabar, sebaiknya panggil tunangan Monik ke sini, biar semuanya jelas."
"Alasan! kalian mau mempermalukan Monik karena diputuskan demi putrimu?"
"Setidaknya masalah ini lebih jelas, dan ...."
Belum selesai kubicara, bu Lili melangkah pergi. Hentakan kakinya memperlihatkan ketidak sukanya. Dalam melangkah dia ngomel-ngomel sendiri. Aku mengurut dada berusaha sabar. Astagfirullahalazimm.
"Halimah, jelaskan kepada kami apa yang terjadi," ucap suamiku.
Di ruang tengah, aku dan suamiku duduk berhadapan dengan Halimah. Sementara itu Anisa dan Rani sudah berangkat ke sekolah.
"Aku tidak tahu Bunda, Ayah. Aku saja tidak mengenal tunangan Monik, mana mungkin aku penyebab putusnya pertunangan mereka," sanggah Halimah.
Aku dan suamiku saling berpandangan sesaat. Aku tahu anakku, dia tidak pernah pacaran atau berteman dekat dengan lelaki. Selesai kuliah langsung pulang tanpa bertandang atau nongkrong bergaul dengan temannya. Halimah anak yang penurut dan tidak banyak neko-neko. Bagaimana mungkin anakku penyebab anak Bu Lili putus tunangan?
"Demi Allah, Bun, Yah. Aku tidak mengenal tunangan Monik."
"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang Ayah kerja dulu, kamu juga kuliah bukan?"
"Iya, Yah," jawab Halimah pelan.
Kami mendiamkan dulu masalah ini. Halimah berangkat kuliah dan suamiku berangkat kerja. Keseharianku di rumah membuka warung klontong di depan rumah, semua kulakukan menghilangkan kesepian karena sering sendirian di rumah. Siang baru semua putriku pulang sekolah dan kuliah.
"Assalamualaikum, Bunda."
Aku terkejut mendengar seseorang mengucapkan salam saat aku membereskan barang daganganku di warung. Aku menoleh, ada seorang anak muda gagah berdiri di depan warung menyapaku tersenyum manis. Kulihat di depan warung, terpakir sebuah mobil sedan hitam mengkilat.
"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" Aku menjawab dengan heran.
"Perkenalkan, namaku Arya, Bunda. Aku ke sini ingin melamar anak Bunda, Halimah."
Jantungku mau copot mendengar perkataan anak muda ini. Ternyata namanya Arya. Siapa dia yang tiba-tiba ingin melamar putriku? setahuku Halimah tidak pernah pacaran atau punya teman lelaki.
"Bunda ... Bunda ... bisa aku bertemu juga sama Ayah Halimah?" pintanya, aku masih merasa shock mematung.
"Bun, Bunda." Pemuda bernama Arya itu melambaikan tangan di depanku.
"Oh, iya, Nak Arya," sentakku memalingkan mata. "Sejak kapan Nak Arya pacaran dengan Halimah?" Aku sangat penasaran, selama ini Halimah tidak pernah cerita.
"Kami tidak pernah saling kenal, Bunda," jawab Arya.
"Loh, kok bisa tiba-tiba melamar Halimah?"
"Aku menyukai anak Bunda, dan aku yakin dengannya, hanya itu."
Ya Allah, siapa pemuda yang melamar putriku. Dia sangat berani dan sopan. Kalau dia tidak pernah saling kenal dengan Halimah, kenapa tiba melamar? Aku masih bingung.
Aku mengajak Arya masuk dan duduk di ruang tamu. Fari ceritanya, dia sangat menyukai Halimah diam-diam. Dia juga sering melihat Halimah berjalan pulang kuliah melintas di depan rumah Monik saat berkunjung kerumah Monik, dan Arya mencari informasi ke tetangga tentang putriku-Halimah, dan sekarang dia melamar putriku. Intinya, Arya memutuskan tunanganya karena ingin melamar Halimah. Pantas saja Bu Lili marah-marah tadi pagi ke sini. Astagfirullahalazimm.
"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, sebaiknya Nak Arya pulang dulu, nanti akan saya sampaikan pada Ayah Halimah."
Hanya itu keputusanku sementara. Aku masih shock dengan kedatanganya. Halimah jujur tidak mengenal tunangan Monik. Kasihan anakku yang dibentak-bentak yang bukan kesalahannya.
Sepintas aku lihat, Arya pemuda yang gagah dan berada. Cara pakaian dan tutur katanya, dia lelaki yang sopan.
Magrib kami salat berjamaah. Suamiku menjadi imam seperti biasa, aku belum membicarakan kedatangan Arya tadi siang, menunggu selesai magrib dulu.
Selesai sholat magrib, aku menutup warung dulu baru membicarakanya. sampah barang dagangan kusapu, biasanya Halimah yang mengerjakan, tapi tadi dia membaca Al Qur'an dulu, lagian pekerjaan ini tidak begitu berat.
"Ayah! Ayah! Bunda ... tolong Ayah!"
"Ayah!"
"Bunda! cepat ke sini!"
Aku terkejut mendengar teriakan ke tiga putriku menjerit menangis. Perasaanku tidak enak. Ada apa dengan suamiku? Berlari, aku masuk ke rumah.
"Astagfirullahalazimm! Yah, Ayah ... tolong ... tolong!"
Ya Allah, apa yang terjadi dengan suamiku. Menangis, kulihat seluruh pori-pori tubuh suamiku mengeluarkan darah, darah menyelimuti tubuhnya tergeletak di lantai. Putri-putriku menangis memegang ayahnya.
"Ayah!"
"Ayah kenapa Bunda? Tolong Ayah ...."
Mendengar teriakan kami, datanglah Bu Arun dan suaminya. Aku dan anak-anakku histeris melihat jasad suamiku kaku dan tidak bernyawa. Aku kehilangan suamiku untuk selama-lamanya.
Ya Allah, kuatkan hatiku.
Dengan perasaan teramat sedih, aku duduk di keramaian orang-orang melayat. Air mata tidak henti-hentinya ke luar. Aku sangat terpukul kehilangan mas Adam, baru tadi pagi kami sarapan bersama, kini kulihat tubuhnya tidak bernyawa.
"Bu Rina, maaf, bukan maksudku membuat ibu tambah sedih, tapi ... kalau saya perhatikan, sepertinya suami ibu kena santet."
Aku terpana melihat wajah Bu Arun setelah berbisik di sampingku. Disantet? Astagfirullah'alazimm ....
Diubah oleh blackgaming 16-06-2021 14:09
hanihanihan2114 dan 43 lainnya memberi reputasi
40
16.5K
104
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#54
Chapter 14
Melihat Monik berkata dengan beruraikan air mata, Halimah menyuruhnya masuk dan duduk. Sementara itu Arya hanya menatapnya dengan penuh arti. Sejenak Monik dan Arya saling berpandangan, tidak ada kata yang keluar diantara mereka, hanya diam.
“Apa maksudmu dengan minta maaf tentang Bu Lili, Monik?” Halimah membuka percakapan.
Monik hanya diam, dia melihat banyak orang yang berada di ruang tamu.
“Wahyu, Arya, mari duduk di ruang tengah, biarkan Halimah dan Monik berbicara.” Aku bisa membaca sorotan mata Monik.
Kami meninggalkan Monik dan Halimah di ruang tamu, dengan ini mereka akan leluasa berbicara.
“Kak Arya, aku ingin Kakak juga ikut mendengar.” Monik berkata kepada Arya.
Arya balik duduk dan menunggu Monik berbicara.
“Aku tidak tahu kalau Mamaku akan senekat ini, mungkin ini karena sayang dengan bentuk yang salah. Aku sudah merelakan putusnya tunangan kita, Kak Arya. Aku tahu kita sering bertengkar dan beda pendapat.” Monik menatap Arya dengan tatapan sendu.
“Maafkan aku, Monik.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Arya.
“Halimah, aku mohon maafkan Mamaku, aku tidak ingin Mamaku dipenjara … mmmm.” Monik langsung menangis.
“Penjara?! Apa maksud semua ini, Monik?” Halimah masih heran dengan perkataan Monik.
Belum sempat Monik menjawab pertanyaan Halimah, Randi datang.
“Asaalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, masuk Kak,” jawab Halimah.
Randi masuk dan duduk disamping Arya, dia menatap Monik menangis disamping Halimah.
“Bagaimana kawan?!” tanya Arya.
“Bu Lili akan dipenjara, begitu juga dengan dua lelaki bayaran itu.”
Halimah dan Arya terkejut mendengar perkataan Randi. Mereka terdiam mematung mengetahui bahwa di balik semua ini adalah ulahnya Bu Lili. Tangis Monik makin menjadi.
“Aku betul-betul tidak menyangka Tante Lili berbuat senekad ini!” terlihat Arya sedikit emosi.
“Biar aku yang menggantikan Mamaku di penjara. Mamaku sedang sakit dan harus operasi ginjal. Aku mohon Halimah mmm.” Monik memegang tangan Halimah memohon.
“Jadi … jadi semua ini karena Bu Lili?” Halimah terlihat shock dan seakan tidak percaya.
“Aku yang salah, seharusnya aku memberikan pengertian lebih dalam kepada Tante Lili,” kata Arya.
“Sekarang, ayo ke kantor polisi, kamu harus membuat keterangan disana, Halimah.” Randi menatap Halimah.
Halimah minta izin kepadaku ke kantor polisi, kami semua sangat terkejut dengan penjelasan Randi. Sangat tega sekali Bu Lili berbuat ini kepada putriku, padahal selama ini kami tidak pernah mengganggu mereka.
“Aku tahu, kesalahan mamaku sulit dimaafkan, sekali lagi maafkan mamaku, Halimah.” Monik melangkah meninggalkan rumahku.
Halimah terdiam melihat Monik berlalu meninggalkan rumahku.
“Mari aku antar, Halimah.” Randi menawarkan.
Setelah minta izin kepadaku, Halimah dan Randi ke kantor polisi, aku sengaja tidak ikut karena harus menjaga Anisa dan Rani. Sementara itu, Arya terdiam duduk di kursi teras, pandangannya jauh kedepan.
“Bu Rina, aku perisi dulu harus balik kekantor, aku harap masalah Halimah secepatnya selesai,”
“Terima kasih, Wahyu.”
Wahyu meninggalkan rumahku, aku melihat Arya masih duduk terdiam, sepertinya banyak fikiran dibenaknya, apakah dia memikirkan masalah kejahatan Bu Lili? Aku menghampirinya dan duduk di kursi sampingnya.
“Bunda, maafkan aku, semua ini salahku.”
“Nak Arya, boleh aku bertanya?”
Arya menatapku dalam.
“Apa Bunda?” tanya Arya.
“Kenapa putus tunangan dengan Monik?” aku berusaha menekan suaraku agar tidak menyinggungnya.
“Kami dijodohkan, Papa Monik teman sekantor Tanteku, mereka sering berkunjung ke rumah. Awalnya aku menyetujui pertunangan ini, tapi semakin lama aku tidak menyukai gaya hidupnya yang sering ke diskotik dan pulang malam.” Arya terdiam sejenak.
“Aku sering berselisih jalan dengan Halimah, tapi dia sama sekali tidak melirikku, Bunda.” Sambung Arya.
Aku mengerti, setiap lelaki pasti menginginkan wanita yang sholeha menjadi istrinya, meskipun lelaki itu sorang bajingan. Arya pemuda yang baik, dan dia juga bisa melindungi Halimah.
“Apakah Bu Lili juga yang menculik Halimah dan mengambil fotonya?” aku menerka-nerka, karena kejadian ini waktunya berdekatan.
“Aku juga berfikir seperti itu, Bunda,” kata Arya.
Kami menunggu Halimah dan Randi, aku berharap dengan kasus ini akan menemui siapa yang mengambil foto seksi anakku.
Hampir magrib, tapi Halimah dan Randi belum juga balik, aku berdiri di teras menunggu, Arya masih duduk di kursi teras dengan secagkir kopi yang dibuatkan Rani.
“Jangan khuatir Bunda, Randi akan menajaga Halimah.” Arya melihatku gelisah.
“Ya Nak Arya.” Aku duduk dan ikut minum kopi.
Tidak lama kemudian, Randi dan Halimah datang. Aku merasa sangat lega, yang aku tunggu akirnya datang.
“Assalamu’alaikum.” Halimah mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku dan Arya.
“Bagaimana, Nak?” aku tidak sabaran bertanya.
“Bu Lili dibebaskan, Bunda,” jawab Randi.
“Apa? Dibebaskan?” Arya terkejut.
Halimah hanya diam berdiri disampingku.
“Halimah mencabut tuntutannya.” Kata Randi menatap Halimah.
“Apakah itu benar, Nak?” aku menatap wajah putriku dalam. Dan Halimah menganggukan kepala.
“Kedua penjahat itu tetap dihukum karena dia termasuk DPO di kantor masalah pengedaran narkoba.” Randi menjelaskan dan membuat Arya dan aku terdiam.
“Kamu yakin dengan keputusanmu itu? Apa yang dilakukan Bu Lili sudah sangat keterlaluan, Halimah.” Arya melangkah berdiri disamping Halimah.
“Aku hanya manusia biasa yang berusaha belajar memaafkan sesama, Kak. Bu Lili juga sakit-sakitan, mudah-mudahan dengan ini dia bisa sadar. Maaf, aku sholat magrib dulu.”
Halimah melangkah masuk kedalam. Arya dan Randi terpana menatap Halimah berlalu masuk ke dalam rumah. Aku bersyukur, anakku mempunyai jiwa pemaaf meski diriku pribadi belum tentu bisa seperti itu.
***
Malam ini aku mengunci semua pintu, aku dan putri-putriku duduk dikursi meja makan untuk makan malam bersama.
Tok! Tok! Tok!
“Bunda, biar aku yang buka.” Kata Halimah mendengar suara ketokan pintu seperti ada tamu.
“Tidak, biar Bunda yang buka.”
Halimah langsung duduk kembali setelah mendengar jawabanku.
Aku melangkah ke pintu, sebelum aku membuka pintu, terlebih dahulu aku mengintip balik gorden jendela kaca.
Alangkah terkejutnya aku melihat Pak Slamet berdiri di depan pintu, kulihat kesekitarnya, kali ini dia datang sendirian ke rumahku. Perasaanku mulai tidak enak, kenapa dia belum juga menyerah. Astagfirullah’alazimm, bagaimana caranya aku menghadapi manusia seperti ini.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Dia belum juga berhenti mengetok rumahku sebelum aku membukakan pintu.
“Bunda, siapa yang datang?” Halimah mendekatiku.
“Sssttt! Kecilkan suaramu, bawa adik-adikmu masuk kekamar, kunci pintu, jangan keluar sebelum Bunda memanggil.” Aku berbisik ke Halimah.
“Tapi siapa yang datang, Bunda?” Halimah masih penasaran.
“Pak Slamet.”
Mendengar jawabanku, Halimah langsung berlari kedalam dan membawa adik-adiknya masuk kekamar.
Aku menarik nafas besar, dengan mengucapkan bismillah dan mohon perlindungan Allah, aku membuka pintu.
“Selamat malam, Bu Rina.” Pak Slamet tersenyum menyapaku.
“Ada apa lagi, Pak?” aku langsung bertanya dan berharap dia secepatnya meninggalkan rumahku.
“Aku ingin memberikan pilihan kepada Ibu.”
Pilihan? Apa maksud kata-katanya, huh! Aku berusaha sabar dan beristigfar di hati.
“Apa maksud Pak Slamet?”
“Kalau Rani masih belum cukup umur untuk menikah, apalagi Anisa yang cantik dan imut. Aku kesini ingin melamar Halimah.”
Astagfirullah’alazimm, aku tidak tahu harus berkata apa lagi, kapan ini orang sadar dengan umurnya.
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
3