Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#160
Rintangan Pertama






Sebelumnya, di Reuni...

Sebelum berangkat, kami semua berkumpul diarea parkiran. Dengan dipimpin oleh pak ustadz, kami semua berdoa, agar pencarian ini akan dimudahkan dan diselamatkan dari segala marabahaya, baik yang nyata, maupun gangguan gaib.

Dan...

Pencarianpun, dimulai...





*






Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari saat kami melepas tim yang dipimpin oleh Yadi.

Sebelum tim yang akan mencari keberadaan Sofi dan Wulan itu berangkat. Aku menyempatkan diri untuk berbincang dengan Slamet dan juga Ikhwan. Teman-temanku yang ikut dalam rombongan itu.

"Tolong, jaga diri kalian. Kita memang berusaha untuk mencari keberadaan Sofi dan Wulan, tapi aku harap, kalian lebih memprioritaskan untuk menjaga diri kalian dulu supaya selamat,"kataku.

Ikhwan tersenyum.

"Tenang aja, insya Allah kami berdua akan baik-baik saja," katanya sambil menepuk pundakku.

Slamet sendiri hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Lalu, dengan diiringi oleh tatapan mataku. Rombongan tim pencari Sofi dan Wulan itu mulai bergerak meninggalkan kami.

Aku memejamkan mataku sambil berdoa, berharap agar semua teman-temanku bisa kembali dengan selamat.

Pak ustadz menepuk pundakku pelan. Membuatku membuka mata.

"Sekarang, giliran kita mencari keberadaan temanmu itu, si Yusuf," kata pak ustadz.

"Baik, pak ustadz," jawabku.

Rombonganku, yang terdiri dari 4 orang, mulai bergerak.
emoticon-Traveller

Dan, tujuan pertama kami adalah villa tempat aku dan teman-temanku sewa.

"Disanalah awal mula hal ini terjadi. Maka dari itu, kita akan mencari dan melacak jejak keberadaan dari teman itu," kata pak ustadz menjelaskan tujuannya.

"Tapi kalau aku tak salah ingat, pak ustadz. Semua ini terjadi gara-gara Yusuf yang membuang sesaji. Dan sesaji itu berada bukan di vila kami. Melainkan disebuah villa yang ada di tengah-tengah area ini," kataku.

"Benar nak Indra, akan tetapi di villa tempat tinggal kalian itulah, Yusuf menghilang. Saya berencana untuk memulai pencarian itu dari sana," ujar pak ustadz.

Aku mengangguk, tanda mengerti dengan maksud dari perkataan pak ustadz.

Jantungku mulai dag dig dug, selama perjalanan kami berempat menuju villa yang kami sewa.

Aku takut, bila nanti akan terjadi banyak gangguan saat kami menuju ke sana.

"Mudah-mudahan aja, dengan adanya pak ustad di sini, mereka kabur dan tidak mengganggu kami," doaku dalam hati.

Meskipun aku tahu, kalau aku dilindungi oleh kyai Rekso. Tapi, tetap saja masih ada kegelisahan dan ketakutan di dalam diri ini emoticon-Takut.

Rasa takut yang muncul ini, ada di saat aku merasa ada seseorang yang lebih mumpuni dan bisa melindungiku dari segala marabahaya.

Yaitu pak ustadz.

Saat aku sendiri dan menyelamatkan teman-temanku, aku berusaha menekan segala perasaan takut itu. Karena aku tak mau, bila teman-temanku merasa tak ada yang bisa melindungi mereka.

Dan, sekarang, rasa itu mulai kukeluarkan. Karena aku yakin, pak ustadz akan bisa menangani semuanya. Kalau diibaratkan, aku adalah seorang anak yang kini dilindungi oleh orangtuaku.

Kami berempat mulai melewati area taman bermain dikawasan villa. Posisinya kami berjalan adalah pak ustadz memimpin didepan, lalu Yahya, pak Rahmat dan terakhir aku.

Saat tengah melewati tempat ini, bulu kudukku tiba-tiba saja berdiri. Dan entah kenapa, kepalaku serasa dipaksa untuk menoleh ke arah samping sebelah kanan.

Aku berusaha keras untuk menolak ajakan itu. Karena entah kenapa, instingku berkata, apabila aku menoleh maka aku akan melihat sesuatu yang mengerikan.

Disaat keinginan dan hatiku sedang berdebat. Tanpa bisa dicegah, leherku menoleh ke arah kanan. Yang mana, disana ada sebuah perosotan anak-anak.

Deg!

Benar saja.

Disana, disamping perosotan bercat agak kusam itu, aku melihat sesosok makhluk tinggi yang tengah berdiri. Tingginya bahkan mengalahkan tinggi dari perosotan itu.

perosotan

kaskus-image
sumber google bree


Jarak antara rombonganku dengan perosotan itu hanya sekitar 10 meter. Sehingga aku bisa melihat dengan cukup jelas, wujud dari sosok tinggi tersebut.

Sosok itu merupakan salah satu dari anggota blekping, yang aku lihat didalam villa.

kaskus-image

eh salah


kaskus-image
nah..yang ini


Lalu, mengapa kini ia berada diluar villa?

Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini aku tak tahu jawabannya.

Dengan tak sadar, aku menghentikan langkahku. Mataku terpaku, melihat sosok makhluk gaib bertubuh tinggi itu. Otak dan pikiranku masih sadar. Bahkan aku berkata kepada diriku, agar aku segera pergi dari tempat ini.

"Ayo, susul rombonganmu, blok... bodoh!"Seru hatiku.

Namun, aku masih saja berdiri tegak disitu. Dimataku, makhluk gaib itu yang awalnya hanya berdiri tegak, tiba-tiba saja mulai bergerak.

Perlahan...

Tubuhnya mulai bergerak meninggalkan tiang perosotan. Ia mulai bergerak mendekatiku.

Aku tak bisa melihat apakah ia melangkah ataukah melayang. Karena gaun yang ia kenakan sangat panjang. Sampai menutupi kedua kakinya.

Gaun yang ia kenakan mulai melayang-layang bergelombang. Bau anyir darah mulai kucium. Membuat tubuhku mual ingin muntah.

"Blook... bodoh...lari bloook...!"

Seruan-seruan didalam otak ini semakin menjadi-jadi. Tapi, lagi-lagi tubuh ini tak mau sinkron. Seperti, memiliki pikirannya sendiri.

Bau anyir itu kian menyengat, menandakan si pemiliknya kian mendekatiku.

Mataku mulai agak kabur. Seperti ada kabut tebal yang tiba-tiba saja muncul entah darimana. Membuat daya penglihatanku menurun.

"Sssssshhhh....,"

Indra pendengaranku menangkap sebuah suara berat tapi halus. Aku tak tahu itu suara siapa. Karena mataku kini benar-benar buta. Tapi, aku merasa yakin, bahwa si pemilik suara itu adalah sosok tinggi yang saat ini sedang mendekatiku.

"Tep...,"

Sebuah jari jemari kasar tapi dingin tiba-tiba saja menyentuh keningku.

"Nyesss...,"

Kepalaku seperti disiram angin yang sangat dingin saat jari jemari tangan itu menyentuh keningku.

Tubuhku seketika menggigil.

"Iiikkkuuutttt deeengannnkuuu....,"

Sebuah suara serak tiba-tiba saja terdengar ditelinga. Suara itu ku yakin sangat dekat, bahkan sepertinya, ia tepat berbisik ditelingaku. Tetapi, aku merasa bahwa suara itu seperti suara yang berasal dari kedalaman. Dekat, tapi jauh.

Berat...tubuhku semakin lama semakin berat. Kepalaku tiba-tiba saja terasa dingin tepat dibagian ubun-ubun.

Mataku terasa panas. Dan keinginan untuk tertidur tiba-tiba saja muncul disaat ubun-ubunku terasa dingin.

Saat aku mulai tak bisa menahan keinginan untuk tidur. Sebuah raungan tiba-tiba saja menggelegar.

"ROARRR...!"

Aku tersentak.



Ubun-ubunku yang tadinya dingin tiba-tiba saja kembali normal. Kantukku pun seolah ikut terampas pergi saat raungan itu terdengar.

"Aaaaaaa....!"

Sebuah jeritan tiba-tiba saja terdengar persis di telingaku.

Aku yang kaget, berjalan mundur tanpa kusadari hingga aku sampai terjatuh kebelakang.

"Bruk,"

"Aduh,"


Aku lalu menggeliat kesakitan. Karena punggungku yang terantuk oleh sebuah akar pohon yang sedikit mencuat.

Pak ustadz dan dan yang lainnya kulihat berlari mendekat ke arahku. Mereka bertiga tampak tergopoh-gopoh.

Tapi anehnya, saat pak ustaz mendekat, aku malah melihat ada sebuah senyuman yang mengembang di bibirnya.

"Lah... Ini orang kenapa ya? Malah tersenyum melihat orang kesakitan," tanyaku dalam hati sambil menahan nyeri dipunggung.

Pak Rahmat dan Yahya membantuku berdiri. Sedangkan saat pak ustadz melihatku baik-baik saja, ia lalu menoleh dan kemudian membalikan tubuhnya kearah taman.

Aku yang saat itu tengah dibantu berdiri, melihat pak ustadz yang sedang berdiri tegak sambil tangan kanannya memutar-mutarkan bola-bola tasbih miliknya.

Aku yang ingin bertanya, ditahan oleh Yahya.

"Sssttt...,"



Ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Akhirnya, aku, Yahya serta pak Rahmat, hanya bisa berdiri menyaksikan pak ustadz.

Mulut pak ustadz tampak berkomat-kamit, jari jemari tangannya sibuk memutar-mutarkan bola-bola tasbihnya.

Dan...

"Wusss...,"

Tiba-tiba saja ada bola api yang seperti tengah membakar sesuatu.

kaskus-image

Kobaran api itu tidak begitu besar, hanya saja anehnya, api itu tampak membungkus sesuatu yang tak terlihat. Api tersebut, membentuk sebuah sosok yang memiliki tinggi diatas normal. Aku sendiri tak tahu itu apa. Karena memang, tidak terlihat ada siluet apapun didalam kobarannya.

Kami semua hanya bisa terdiam melihat pemandangan ini.

Tak lama kemudian, api itu mulai mengecil dan menghilang.

Pak ustadz lalu membalikan badannya kearah kami. Aku sedikit terkejut saat melihat wajahnya.

Wajah pak ustadz tampak pucat. Keringat mengucur hampir memenuhi wajahnya yang masih mengulum senyum.

"Ayah...," Kata Yahya sambil memegang tangan kiri pak ustadz.

Pak ustadz hanya tersenyum dan mengangguk saja kepada anak yang menghawatirkan keadaannya itu.

"Apa yang terjadi pak ustadz?" Tanyaku setelah melihat kondisi pak ustadz yang mulai membaik.

Pak ustadz menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku.

"Jin jahat yang tadi hendak merasuki nak Indra sudah saya bakar tadi," jawabnya tanggung.

Aku mengerenyitkan dahiku. Merasa ada yang belum tuntas dengan jawaban pak ustadz.

Pak ustadz tertawa kecil.

"Apakah nak Indra tadi merasa heran, saat saya tersenyum melihat nak Indra yang terjatuh?" Tanya pak ustadz.

Aku mengangguk.

"Saya tersenyum, karena saya akhirnya bisa melihat sosok jin yang melindungi nak Indra tadi," kata pak ustadz.

"Oh, maksud pak ustadz siluman harimau itu. Si kyai Rekso?" Tanyaku.

Beliau menganggukkan kepalanya.

"Sebenarnya saya juga khawatir saat sosok jin jahat itu mendekat kearah nak Indra. Apalagi saya tahu, tingkatan dari jin itu termasuk tingkat menengah. Tetapi, hati kecil saya menahan keinginan itu. Karena saya juga ingin melihat, apakah jin pelindung nak Indra akan menolong atau tidak. Dan alhamdulillah...jin pendamping nak Indra mampu mengusirnya tepat disaat sosok jahat itu hendak merasuki diri nak Indra," jawab pak ustadz panjang lebar.

Aku mengangguk-angguk kecil.

"Berhubung sudah beres, sekarang ayo, kita lanjutkan lagi perjalanan kita. Disana, tingkat gangguan akan semakin berat. Tetapi, dengan bantuan kyai Rekso, jin pendamping nak Indra, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lebih lancar," kata pak ustadz.

"Aamiin...,"

Lalu, setelah melewati rintangan pertama ini, kami berempat kembali melangkahkan kaki kearah Villa yang aku dan teman-temanku sewa.





***
Diubah oleh papahmuda099 12-06-2021 21:18
mas444
bohemianflaneur
sulkhan1981
sulkhan1981 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.