- Beranda
- Stories from the Heart
HITAM Season 2
...
TS
Mbahjoyo911
HITAM Season 2


Quote:
Prolog
Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan. Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi.
Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.
Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat.
Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana,
Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam.
Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa.
Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.
Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.
Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.
Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.
Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.
Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.
Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda.
Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.
Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.
Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.
Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya.
Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...
Spoiler for Salma:
Spoiler for Amrita:
Diubah oleh Mbahjoyo911 27-03-2022 06:54
adriantz dan 402 lainnya memberi reputasi
379
1.7M
25K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Mbahjoyo911
#5117
Lanjutan
Kudekati laki-laki itu, napasnya tersengal-sengal kayak mau putus, matanya melotot tajam, tapi dia nggak bisa bergerak sama sekali. Aku masih punya belas kasihan padanya, maka kutransferi dia sedikit energi, cuma agar dia bisa bergerak. Sebentar kemudian dia bisa duduk bersila, dia coba bermeditasi menghimpun kembali energinya. Tapi kemudian dia menghela napas panjang.
Lalu aku beranjak mendekati orang kedua yang masih duduk di lantai dengan merintih sambil mengurut-urut kakinya, kaki kanannya itu telah membengkak besar akibat terkena tombak Sukmageni. Aku yakin orang inilah yang jadi biang dari semua ini, dialah yang membayar tiga orang itu untuk menyakiti papanya Kinara.
Orang kedua itu terlihat kaget, tapi dia masih menatapku dengan tajam, nggak ada raut menyesal atau takut. Aku jadi bingung sendiri harus kuapain orang ini biar kapok. Kulihat Salma mendekat, dan mendadak terlintas ide di kepalaku. Kuberi isyarat pada Salma, dan diapun mengerti.
Dan mendadak Salma mewujud tepat didepan mata orang itu, menjadi sosok buto ijo dengan mulut lebar penuh taring, lidah panjang sedada, mata melotot besar, rambut gondrong awut-awutan. Kulitnya berwarna hijau dan sangat kasar benjol-benjol ditumbuhi bulu-bulu kasar. Energi hitam menguar dengan dahsyat.
Bahkan aku sendiri aja sampe bergidik ngeri melihat wujud jelmaan Salma itu. Kulihat orang itu langsung menggeragap kaget, matanya membelalak, lalu mulai terlihat kalo badannya gemetar hebat. Dan mendadak orang itu menjerit ketakutan. Matanya ditutup dengan tangan, tapi dia terus menjerit-jerit histeris. Dia sampe ngesot beringsut mundur hingga sampai di tembok ruangan. Gimana orang nggak ketakutan kalo mendadak aja muncul makhluk memgerikan tepat didepan matanya.
Aku tau apa yang telah dilakukan Salma, dia telah memancarkan energi hitamnya, juga menanamkan wujud yang diperlihatkannya tadi langsung ke otak orang itu. Jadi meskipun orang itu menutup mata sekalipun, bayangan makhluk yang sangat mengerikan tadi seakan masih terus dilihatnya. Ini adalah teror dalam bentuk psikis, jauh lebih mengerikan daripada teror hantu.
Kudekati dia dan kugoyang-goyangkan bahunya, tapi dia terus aja menjerit histeris, sungguh nggak pantas sama sekali dengan kegarangannya tadi. Setelah beberapa saat nggak berhasil menyadarkannya, maka kutampar aja dia dengan sedikit tenaga dalam. Bibirnya sampe pecah dan berdarah, tapi dia segera sadar, menggeragap kaget kayak baru bangun tidur. Badannya masih gemetar dengan hebat.
Kutinggalkan dia yang masih gemetar ketakutan sambil bersandar di tembok. Kulihat orang yang satunya tampak bermeditasi. Tanpa ngomong apa-apa lagi, aku keluar dari rumah itu. Pasukan Pancalaksa masih berdiri diam di luar, nggak ada bekas-bekas pertempuran sama sekali, cuma bau sangit dan bau daging gosong yang memenuhi tempat itu.
Sosok seratus ribu jin mengabur dan menghilang bagai asap tertiup angin. Aku masih berdiri di halaman rumah itu, ada perasaan sesal di hati, aku telah gagal mencegah pertempuran, lagi-lagi ribuan jin terbantai sia-sia. Salma mendekatiku dan memelukku erat, dia membawa ragaku melesat menuju ke rumah sakit.
Sampai di kamar vip itu, kulihat Ekawadya dan anak buahnya masih berjaga-jaga. Kinara tertidur lelap di sofa panjang. Akupun duduk di salah satu sofa disebelahnya. Tubuhku terasa capek sekali. Rasa perih dari luka-luka akibat sayatan keris mulai terasa, meskipun racun keris itu sudah bisa dinetralisir dan darah udah nggak keluar lagi, tapi luka tetaplah luka, apalagi terkena keringat, rasanya jauh lebih perih lagi. Kaosku udah robek-robek nggak karuan dan belepotan darah. Salma mendekat dan duduk di pangkuanku begitu aja.
Salma merangkul kepalaku dan menenggelamkan wajahku ke tengah dadanya. Terasa nyaman sekali di dalam lembah itu, maka kupeluk pinggangnya sekalian, dan diapun mewujud, menjadi raga asli. Lama sekali kami dalam posisi itu. Hingga akhirnya aku sadar kalo aku harus mandi, sisa darah kering di tubuhku harus dihilangkan,aku nggak ingin ada orang tau tentang keadaanku ini. Akupun beranjak ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.
Begitu masuk kamar mandi, aku terkejut setengah mati karena udah ada Salma disana, entah kenapa lagi dia. Aku terus aja mandi tanpa menggubrisnya, lagian dia juga udah sering ngelihat.
Kadang aku penasaran, kalo Salma mewujud gitu, apa bajunya akan basah kalo kena air ya..?
Dan begitu luka-luka itu terkena air, sontak aku berteriak tertahan, sakitnya luar biasa! Selesai mandi, aku mau memakai baju, tapi mendadak Salma mendekat dan memelukku, tambah lagi keherananku.
Wajahnya mendekat, dan bibir itu menempel padaku, agak lama.. baru kemudian dilepas pelukannya. Segera kupakai baju dan keluar kamar mandi. Lama-lama bisa gawat kalo di kamar mandi terus sama Salma.
Perasaan manusia aja susah dimengerti, apalagi perasaan jin..
Kuperiksa kondisi papanya Kinara, kesehatannya terus membaik. Untuk sejenak kutransfer energi lagi padanya. Dalam penglihatanku, luka-luka di kakinya itu telah mengering, tapi memang luka itu sedemikian parah. Moga dengan bidara besok, kakinya akan cepat sembuh. Lalu aku terjingkat kaget saat ada sesuatu menyentuh lenganku. Lalu kudengar suara tawa Kinara.
Kinara beranjak ke kamar mandi dan aku duduk di karpet, kucoba salurkan hawa dingin untuk meredam rasa perih di seluruh tubuhku. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki sangat cepat, Kinara muncul sambil membawa kaosku yang robek-robek belepotan darah tadi. Kutepuk jidatku sendiri,
aku lupa menyembunyikan kaos itu. Ini gara-gara pelukan Salma tadi.
.
Dengan terpaksa aku mulai cerita apa yang terjadi tadi, tentunya ada beberapa hal yang kusembunyikan. Memang luka-luka itu terlalu dalam kalo cuma akibat jatuh dari motor. Kulihat wajah Kinara berubah-ubah saat aku bercerita, sebentar sedih, sebentar bergidik ngeri, kejap berikutnya heran sampe melongo. Dan saat aku selesai bercerita, dia terdiam, kayak lagi loading, mencerna semua ceritaku.
Aku duduk selonjor di karpet dengan bersandar di sofa. Kinara malah rebah di pangkuanku, dan menggunakan pahaku sebagai bantalnya. Sebentar kemudian dia udah terlelap. Sedangkan aku, harus terus salurkan hawa dingin untuk meredam rasa perih. Tapi untunglah Salma membantuku menyalurkan hawa dingin, hingga akhirnya aku bisa tidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.
Pagi hari jam 9, seorang dokter datang dan memeriksa papanya Kinara, dia tampak heran, mungkin karena kondisi papanya Kinara yang membaik dengan cepat. Bahkan kemudian dia menyatakan kalo siang itu papanya Kinara sudah boleh pulang, sedangkan untuk penyembuhan kakinya bisa dengan rawat jalan. Tentu aja kabar ini menggembirakan seluruh keluarga, udah dua minggu lebih terbaring di rumah sakit, sementara seluruh keluarga selalu dilanda kecemasan.
Sore itu aku ikut membantu membawa barang-barang saat kepulangan papanya Kinara. Om dan tantenya juga ikut membantu. Kurasa tugasku disini udah selesai, jadi aku berencana akan pulang sore itu juga. Maka sesampainya di rumah Kinar aku menumpang mandi di sana dan langsung bersiap-siap. Tapi kemudian Kinara mengajakku ke kamarnya, katanya dia mau ngomong sesuatu.
Sekali lagi dia memelukku. Lalu kami keluar dari kamar dengan celingukan mengendap-endap. Saat itu juga aku pamit pada seluruh keluarga. Aku juga mengingatkan soal daun bidara itu lagi, gimana cara memakainya dan kapan waktunya. Jam 4 sore aku sudah melaju diatas motorku bersama Salma menuju ke kotaku.
Selesai sudah petualanganku di kota ini, bersama Kinara juga, entah gimana kedepannya, aku nggak mau mikir soal itu dulu, yang jelas aku akan jaga jarak dengannya, biar semua nggak kebablasan kahak Dinda. Aku senang udah berhasil membantu papanya. Entah kenapa aku selalu senang membantu orang, apalagi kalo berhasil sampai selesai kayak gini, seakan ada semacam rasa puas yang nggak bisa terungkapkan.
bersambung…
Quote:
Lalu aku beranjak mendekati orang kedua yang masih duduk di lantai dengan merintih sambil mengurut-urut kakinya, kaki kanannya itu telah membengkak besar akibat terkena tombak Sukmageni. Aku yakin orang inilah yang jadi biang dari semua ini, dialah yang membayar tiga orang itu untuk menyakiti papanya Kinara.
Quote:
Orang kedua itu terlihat kaget, tapi dia masih menatapku dengan tajam, nggak ada raut menyesal atau takut. Aku jadi bingung sendiri harus kuapain orang ini biar kapok. Kulihat Salma mendekat, dan mendadak terlintas ide di kepalaku. Kuberi isyarat pada Salma, dan diapun mengerti.
Dan mendadak Salma mewujud tepat didepan mata orang itu, menjadi sosok buto ijo dengan mulut lebar penuh taring, lidah panjang sedada, mata melotot besar, rambut gondrong awut-awutan. Kulitnya berwarna hijau dan sangat kasar benjol-benjol ditumbuhi bulu-bulu kasar. Energi hitam menguar dengan dahsyat.
Bahkan aku sendiri aja sampe bergidik ngeri melihat wujud jelmaan Salma itu. Kulihat orang itu langsung menggeragap kaget, matanya membelalak, lalu mulai terlihat kalo badannya gemetar hebat. Dan mendadak orang itu menjerit ketakutan. Matanya ditutup dengan tangan, tapi dia terus menjerit-jerit histeris. Dia sampe ngesot beringsut mundur hingga sampai di tembok ruangan. Gimana orang nggak ketakutan kalo mendadak aja muncul makhluk memgerikan tepat didepan matanya.
Aku tau apa yang telah dilakukan Salma, dia telah memancarkan energi hitamnya, juga menanamkan wujud yang diperlihatkannya tadi langsung ke otak orang itu. Jadi meskipun orang itu menutup mata sekalipun, bayangan makhluk yang sangat mengerikan tadi seakan masih terus dilihatnya. Ini adalah teror dalam bentuk psikis, jauh lebih mengerikan daripada teror hantu.
Kudekati dia dan kugoyang-goyangkan bahunya, tapi dia terus aja menjerit histeris, sungguh nggak pantas sama sekali dengan kegarangannya tadi. Setelah beberapa saat nggak berhasil menyadarkannya, maka kutampar aja dia dengan sedikit tenaga dalam. Bibirnya sampe pecah dan berdarah, tapi dia segera sadar, menggeragap kaget kayak baru bangun tidur. Badannya masih gemetar dengan hebat.
Quote:
Kutinggalkan dia yang masih gemetar ketakutan sambil bersandar di tembok. Kulihat orang yang satunya tampak bermeditasi. Tanpa ngomong apa-apa lagi, aku keluar dari rumah itu. Pasukan Pancalaksa masih berdiri diam di luar, nggak ada bekas-bekas pertempuran sama sekali, cuma bau sangit dan bau daging gosong yang memenuhi tempat itu.
Quote:
Sosok seratus ribu jin mengabur dan menghilang bagai asap tertiup angin. Aku masih berdiri di halaman rumah itu, ada perasaan sesal di hati, aku telah gagal mencegah pertempuran, lagi-lagi ribuan jin terbantai sia-sia. Salma mendekatiku dan memelukku erat, dia membawa ragaku melesat menuju ke rumah sakit.
Sampai di kamar vip itu, kulihat Ekawadya dan anak buahnya masih berjaga-jaga. Kinara tertidur lelap di sofa panjang. Akupun duduk di salah satu sofa disebelahnya. Tubuhku terasa capek sekali. Rasa perih dari luka-luka akibat sayatan keris mulai terasa, meskipun racun keris itu sudah bisa dinetralisir dan darah udah nggak keluar lagi, tapi luka tetaplah luka, apalagi terkena keringat, rasanya jauh lebih perih lagi. Kaosku udah robek-robek nggak karuan dan belepotan darah. Salma mendekat dan duduk di pangkuanku begitu aja.
Quote:
Salma merangkul kepalaku dan menenggelamkan wajahku ke tengah dadanya. Terasa nyaman sekali di dalam lembah itu, maka kupeluk pinggangnya sekalian, dan diapun mewujud, menjadi raga asli. Lama sekali kami dalam posisi itu. Hingga akhirnya aku sadar kalo aku harus mandi, sisa darah kering di tubuhku harus dihilangkan,aku nggak ingin ada orang tau tentang keadaanku ini. Akupun beranjak ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.
Begitu masuk kamar mandi, aku terkejut setengah mati karena udah ada Salma disana, entah kenapa lagi dia. Aku terus aja mandi tanpa menggubrisnya, lagian dia juga udah sering ngelihat.
Kadang aku penasaran, kalo Salma mewujud gitu, apa bajunya akan basah kalo kena air ya..?
Dan begitu luka-luka itu terkena air, sontak aku berteriak tertahan, sakitnya luar biasa! Selesai mandi, aku mau memakai baju, tapi mendadak Salma mendekat dan memelukku, tambah lagi keherananku.Quote:
Wajahnya mendekat, dan bibir itu menempel padaku, agak lama.. baru kemudian dilepas pelukannya. Segera kupakai baju dan keluar kamar mandi. Lama-lama bisa gawat kalo di kamar mandi terus sama Salma.
Perasaan manusia aja susah dimengerti, apalagi perasaan jin..Kuperiksa kondisi papanya Kinara, kesehatannya terus membaik. Untuk sejenak kutransfer energi lagi padanya. Dalam penglihatanku, luka-luka di kakinya itu telah mengering, tapi memang luka itu sedemikian parah. Moga dengan bidara besok, kakinya akan cepat sembuh. Lalu aku terjingkat kaget saat ada sesuatu menyentuh lenganku. Lalu kudengar suara tawa Kinara.
Quote:
Kinara beranjak ke kamar mandi dan aku duduk di karpet, kucoba salurkan hawa dingin untuk meredam rasa perih di seluruh tubuhku. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki sangat cepat, Kinara muncul sambil membawa kaosku yang robek-robek belepotan darah tadi. Kutepuk jidatku sendiri,
aku lupa menyembunyikan kaos itu. Ini gara-gara pelukan Salma tadi.
.Quote:
Dengan terpaksa aku mulai cerita apa yang terjadi tadi, tentunya ada beberapa hal yang kusembunyikan. Memang luka-luka itu terlalu dalam kalo cuma akibat jatuh dari motor. Kulihat wajah Kinara berubah-ubah saat aku bercerita, sebentar sedih, sebentar bergidik ngeri, kejap berikutnya heran sampe melongo. Dan saat aku selesai bercerita, dia terdiam, kayak lagi loading, mencerna semua ceritaku.
Quote:
Aku duduk selonjor di karpet dengan bersandar di sofa. Kinara malah rebah di pangkuanku, dan menggunakan pahaku sebagai bantalnya. Sebentar kemudian dia udah terlelap. Sedangkan aku, harus terus salurkan hawa dingin untuk meredam rasa perih. Tapi untunglah Salma membantuku menyalurkan hawa dingin, hingga akhirnya aku bisa tidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.
Pagi hari jam 9, seorang dokter datang dan memeriksa papanya Kinara, dia tampak heran, mungkin karena kondisi papanya Kinara yang membaik dengan cepat. Bahkan kemudian dia menyatakan kalo siang itu papanya Kinara sudah boleh pulang, sedangkan untuk penyembuhan kakinya bisa dengan rawat jalan. Tentu aja kabar ini menggembirakan seluruh keluarga, udah dua minggu lebih terbaring di rumah sakit, sementara seluruh keluarga selalu dilanda kecemasan.
Sore itu aku ikut membantu membawa barang-barang saat kepulangan papanya Kinara. Om dan tantenya juga ikut membantu. Kurasa tugasku disini udah selesai, jadi aku berencana akan pulang sore itu juga. Maka sesampainya di rumah Kinar aku menumpang mandi di sana dan langsung bersiap-siap. Tapi kemudian Kinara mengajakku ke kamarnya, katanya dia mau ngomong sesuatu.
Quote:
Sekali lagi dia memelukku. Lalu kami keluar dari kamar dengan celingukan mengendap-endap. Saat itu juga aku pamit pada seluruh keluarga. Aku juga mengingatkan soal daun bidara itu lagi, gimana cara memakainya dan kapan waktunya. Jam 4 sore aku sudah melaju diatas motorku bersama Salma menuju ke kotaku.
Selesai sudah petualanganku di kota ini, bersama Kinara juga, entah gimana kedepannya, aku nggak mau mikir soal itu dulu, yang jelas aku akan jaga jarak dengannya, biar semua nggak kebablasan kahak Dinda. Aku senang udah berhasil membantu papanya. Entah kenapa aku selalu senang membantu orang, apalagi kalo berhasil sampai selesai kayak gini, seakan ada semacam rasa puas yang nggak bisa terungkapkan.
bersambung…
166
agoezsholich107 dan 138 lainnya memberi reputasi
139
Tutup

