- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Horor Keramat
...
TS
keramatchannel
Cerita Horor Keramat

Perkenalkan agan, saya dari channel youtube : Keramat
Masih nubi dan kemaren thread saya dibredel momod mungkin karena ngasih link youtube saya
Okelah saya tulis ulang cerita2 saya
RULES UTAMA :
DILARANG MENULIS ULANG ATAU MENCERITAKAN ULANG CERITA - CERITA DARI NARASUMBER SAYA DI PLATFORM APAPUN
SEMUA CERITA DARI NARASUMBER YG SAYA OLAH DENGAN GAYA PENULISAN SAYA
BUAT YG MAU LINK CHANNEL SILAKAN PM, TIDAK SAYA KASIH DIRECT LINK DISINI
Terima Kasih, Salam Hormat Saya
Selamat Menikmati





1. Pesugihan Di Lereng Gunung Lawu 1
2. Pesugihan Di Lereng Gunung Lawu 2
3. Horror Di Pabrik Gula Tua
4. Perkemahan Air Terjun Coban Rondo 1
5. Perkemahan Air Terjun Coban Rondo 2
6. Sebelum 40 Hari
7. Lelaki Darah Biru
Diubah oleh keramatchannel 18-06-2021 15:53
minakjinggo007 dan 11 lainnya memberi reputasi
10
5.1K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
keramatchannel
#3

Horror Di Pabrik Gula Tua
Spoiler for Horor Di Pabrik Gula Tua:
Kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah dari pak suroso. Beliau bekerja sebagai anggota keamanan di salah satu pabrik gula yg ada di kota pensiunan di jawa timur. Langsung saja masuk ke ceritanya ya
Agustus 1989.
Aku suroso, dan aku baru lulus dari SMA. Karena orang tuaku bukan termasuk keluarga mampu, terpaksa kupupus impianku untuk berkuliah di jogja. Orang tuaku hanya penjual pecel rumahan di kota yg ekonominya tidak terlalu aktif ini. Bapakku menyarankanku melamar kerja ke pabrik gula di kota ini. Dan hari ini adalah pengumuman penerimaan karyawan setelah 2 minggu kemarin ujian penerimaan.
Pagi ini aku bergegas bangun dengan penuh semangat. Ibuku menyiapkan sarapan dan mulai menyiapkan dagangannya. Kulupan sayur, sambal kacang, dan tempe goreng bersama krupuk lempeng dan peyek sebagai pelengkapnya. Sungguh suasana yg sederhana namun penuh kehangatan.
“Sarapan dulu mas, habis ini mau lihat pengumuman to”
“inggih bu”
Setelah kuhabiskan sarapanku, nampak para pembeli pecel berdatangan. Jam dinding tua menunjukkan jam setengah 6 pagi. Segera aku berpamitan pada ibu dan bapak yg sibuk melayani pembeli
“Pak, bu. Kulo pamit riyin. Nyuwun doa mugi ketampi njih” ucapku sambil mencium tangan mereka.
“Sing ati2 le” jawab mereka
Ibu menyodorkan uang 50 rupiah, maksudnya untuk bekalku.
“Mboten usah bu, mlampah mawon sehat, tasih enjing” kataku menolak halus. Jaman itu uang 50 rupiah sudah besar sekali untuk ukuranku. Aku lebih memilih berjalan kaki walaupun perjalanan kesana memakan waktu 45 menit. Toh uangnya bisa dipakai kebutuhan lain.
Bergegas aku memakai sepatu dan segera berangkat menuju pabrik gula. Beberapa tetangga menyapaku
“Mas roso, sukses yo. Mugo2 ketrimo mas”
Kubalas sapaan mereka dengan sopan. Lingkungan ini memang sangat hangat dan rukun. Kebanyakan warga bekerja menjadi petani dan karyawan pabrik gula tempatku mendaftar kerja.
Singkat cerita, aku sudah berada di tempat pengumuman penerimaan. Alhamdulillah, namaku terpampang di bagian penerimaan. Suroso, nomer pendaftaran 1161. Akhirnya aku bs juga membantu perekonomian keluarga, walau tidak sesuai cita2ku. Di sebelah papan pengumuman, ada tulisan besar
“Untuk yg diterima, segera datang ke personalia”
Aku segera mencari bagian personalia, kuketuk pintunya
“Masuk” terdengar jawaban dari dalam. Di dalam sudah ada sekitar 7 orang lain, mereka sepertiku, calon
karyawan baru pabrik ini.
“Nomer pendaftaran berapa mas” Tanya seorang ibu2 bagian personalia padaku. Kuberikan bukti pendaftaranku dan menjawab bbrp pertanyaan darinya. Setelah proses singkat, dia memberiku 2 pasang seragam.
“Besok mulai kerja mas, jam 7 sudah datang ketemu pak sugeng kepala keamanan. Nanti pak sugeng yg atur jadwal. Skrg silakan pulang dulu”
“Iya, maturnuwun ya bu. Nyuwun pamit”
Segera aku bergegas pulang, akan kusampaikan kabar yg pasti membuat orang tuaku senang.
Sesampainya di rumah segera kusampaikan bahwa aku berhasil diterima. Hari itu berlangsung gembira,
aku sedari td sibuk membayangkan seperti apa rasanya bekerja. Kedua orang tuaku juga sibuk memberi nasehat padaku agar selalu rajin dan sabar dalam bekerja.
Keesokan harinya, pagi2 sekali aku sudah bersiap, kupakai seragam yg sedikit kedodoran ini. Sangat antusias rasanya memulai hari, apalagi hari pertama kerja, aku tidak boleh terlambat dan harus memberi kesan baik ke atasan dan rekan kerja baru. Jam 6 lebih sedikit, aku sudah sampai di pabrik. Kucari pak sugeng, pimpinan baruku untuk melapor. Seorang satpam senior mengarahkanku.
“Baru keterima kemarin ya mas? Komandan belum dateng, tunggu aja di lapangan sini, kita biasanya apel bareng jam 7 pagi sama jam 7 malam”.
“Njih mas, maturnuwun. Njenengan shift malam njih”
“iya saya shift malam mas, oiya nama saya saputro, panggil aja bendol”
Kami saling mengobrol sambil menunggu pak sugeng. Mas bendol juga menceritakan seputar pekerjaan keamanan disini
“Disini kerjanya gak capek mas, Cuma yg dijaga banyak. Gak Cuma pabrik, itu rumah2 dinas juga tempat kereta lori juga urusan kita”
Aku manggut2 sambil mendengarkan penuturan mas bendol. Memang komplek pabrik ini luas sekali.
Ada banyak rumah dinas, mess karyawan, dan bengkel lori atau kereta pabrik. Pabrik ini kurasa yg terbesar di kota ini dengan fasilitas yg lengkap dan memperhatikan kesejahteraan karyawannya, moga2 awet aku kerja disini.
Tak lama pak sugeng datang dan apel berlangsung. Selain aku, ada belasan satpam baru yg diterima kerja disini. Kami dibagi beberapa regu bersama satpam lama. Kebetulan aku kebagian satu regu dengan mas bendol.
“Grup 2,4,6,8,10, jadwal malam sampai hari sabtu. Buat anak baru yg grup genap segera cari kawannya, tanya2 jangan sungkan2. Kita ini keluarga disini.”
Begitu pak sugeng memberi instruksi. Pak sugeng orangnya tinggi besar berkumis tebal. Badannya terlihat terlatih, menurut satpam2 lama, pak sugeng ini pendekar salah satu perguruan silat terkenal di kota ini.
Beliau tegas tp sangat menyayangi bawahan2nya. Pantas saja anak buahnya dan pegawai lain sangat menghormati dia. Beliau ini setingkat mandor pabrik tp di bagian keamanan.
Grup 4 adalah grup ku dan mas bendol. Otomatis kami masuk malam.
“So roso, rumahmu mana? Masuk malam kita, pulang dulu aja”
“Rumahku nglames mas ndol, jam berapa biasanya kumpul lagi”
“Wah kebetulan, rumahku tiron. Kamu bareng aku aja, aku bawa pit ontel. Nanti kujemput habis maghrib sekalian ini pulang kamu tunjukin rumahmu dimana”
“Nggih mas, ayo mampir rumah sarapan pecel dulu, ibuku jual pecel.”
Kebetulan banget batinku. Baru hari pertama dapet rekan se grup yg baik dan sejurusan pula. Kamipun kembali pulang. Mas bendol mampir dan sarapan pecel di rumahku. Dia juga sedikit ngobrol2 dengan orang tuaku. Tak lama mas bendol pamit
“Roso, jangan lupa abis maghrib udah siap ya. Biar bs santai dulu, gak buru2 disana”
“Beres mas, sungkan jg kl telat aku”
“Yowes, pak bu. Kulo pamit riyin. Maturnuwun pecelnya”
Mas bendol berlalu sambil berpamitan pada orang tuaku.
Sore harinya, mas bendol dan aku kembali berboncengan menuju pabrik gula. Setelah apel, kami menuju pos di dekat bengkel perawatan alat. Tempat kami berjaga malam ini. Pak darmo dan pak kamdi, dua rekanku juga di grup ini juga sudah bergabung. Kamipun mengobrol sembari mengisi waktu berjaga.
“Mas roso santai saja, kita keliling 3 kali semalem. Lainnya kl mau tidur ya tidur aja, jangan sungkan2” Kata pak kamdi sambil terkekeh
“Iya, tp nunggu pak sugeng pulang dulu. Biasanya jam 8 sudah pulang dia”. Timpal pak darmo.
Memang menurut mereka, pak sugeng masuk kerja jam 11 sampai jam 8 malam. Hebatnya dia tidak pernah absen memimpin apel para satpam.
Sirine pabrik berbunyi nyaring, menandakan jam 8 malam telah tiba. Para karyawan pagi berganti karyawan malam. Kami sibuk mengawasi para karyawan, sebagian sibuk mengatur lalu lintas di depan pabrik. 20 menit berselang, kami kembali ke pos masing2.
Tak lama sesosok tinggi besar menghampiri kami. Pak sugeng, komandan datang ke pos kami
“Piye? Aman semua to?”
“Aman ndan, semua terkontrol” jawab kami sambil memberi hormat
“Sudah, santai saja. Aku mau nongkrong sebentar disini. Hari ini istriku marah2, jd males pulang” kata pak sugeng sambil tertawa
“Oalah ndan, pantes td pagi saya denger nyonya ngomel2” timpal pak darmo, yg ternyata tetangga pak sugeng
“Gimana dar, kamu tau sendiri. Sejagoan apapun lelaki kl sudah kena omelan istri pasti mumet toh”
Kami tertawa bersama sambil mengobrol. Pak kamdi membawa termos berisi kopi, disajikan kepada kami sebagai teman ngobrol2. Rupanya pak sugeng ini memang sosok menyenangkan dibalik penampilannya yg sangat angker.
“Anak baru ya?” Tiba2 pak sugeng memandangku sambil bertanya
“Iya pak, saya suroso mohon arahan” jawabku sambil berdiri sikap sempurna. Melihatku, mereka kembali tertawa makin kencang.
“Mas, kita ini satpam, bukan tentara. Santai saja, sama saja kamu sama aku sesama buruh, bedanya aku sudah bs nyuruh2 kamu belum” ucap pak sugeng mencairkan suasana.
“Ndol, nanti malam kamu sama suroso ikut aku keliling. Dua pak tua ini suruh tidur aja drpd masuk angin” ucap pak sugeng
“Siap pak, sudah lama gak keliling sama komandan” jawab mas bendol.
Kami meneruskan obrolan sambil bermain kartu gaple yg ada di pos. Menyenangkan juga hari pertamaku kerja.
“Sudah jam 10 ndol, ayo berangkat”
“Kemana dulu ndan?”
“Ke mess karyawan belakang dulu saja. Jam segini orang pada baru tidur, kl ada maling ya ini jam bagus buat maling”
Kamipun berjalan bertiga sambil membawa senter. Jarak mess karyawan sekitar 100 meter dr pos kami.
Seluruh bangunan pabrik ini bangunan belanda jaman dulu. Bukan hanya pabrik, di kota ini pun tiap sudutnya masih banyak bangunan belanda yg masih ori di tahun ini. Bisa dibilang harusnya masuk cagar budaya.
“Roso, kamu asli madiun kan?”
“Nggih ndan, asli nglames”
“Tau kamu kenapa nama kota ini madiun?” aku diam sambil berpikir untuk menjawab pertanyaan pak sugeng
“Dulu so, kata kakekku. Para sesepuh yg babat alas ini, kota ini terkenal banyak pohon tinggi besar. Dan, di tiap pohon, ditinggali memedi atau setan yg ber ayun2, bisa jd pocong atau kuntilanak. Seperti yg ada di pohon mangga itu”
pak sugeng menunjuk satu pohon mangga besar, aku terperanjat melihat kain putih tergantung disitu, bentuknya memanjang, bergoyang2.
Melihatku terkejut sampai pucat, pak sugeng dan mas bendol tertawa terbahak2
“Jangan kaget gitu so. Itu spanduk 17 agustusan blm dilepas. Kata pimpinan baru boleh dilepas habis bulan agustus” kata mas bendol sambil tertawa
“Lumayan tp nyalimu so, pak darmo waktu pertama lihat ini, lari sampai kencing di celana” sambung pak sugeng juga dengan tertawa sampai keluar air mata
Sialan, aku dikerjain sama mereka2 ini. Sempat kaget aku, memang aku paling takut sama yg namanya setan. Apalagi sedari kecil aku sering diceritai orang tuaku kisah2 seram biar tidak main terlalu malam.
Kembali kami lanjutkan perjalanan patroli, hingga tiba di gerbang mess. Ada 2 pohon mangga setinggi 10 meter, pohon tua ini pastinya.
“Wah, banyak banget spanduknya mas. Apa gak ngaget2in orang malem2 kl gini” ucapku ke mas bendol
Pak sugeng dan mas bendol menoleh ke arahku.
“Mana ada so, spanduk Cuma satu yg panjang itu”
“itu ndan, diatas kita banyak banget” jawabku ke pak sugeng. Tiba2 aku merinding hebat, sepertinya pak sugeng dan mas bendol merasakan hal yg sama. Tiba2 terdengar suara berasal tepat dari atas kami
“Tk.. Tk.. Tk.. Tk.. “
Kami melihat kain2 diatas kami memanjang dan menolehkan muka yg hancur menyeramkan. Ada yg gosong, ada yg matanya hampir lepas. Tidak ada satupun yg bentuknya bersahabat dengan nyaliku
“Pocooong”
Mas bendol berteriak parau, pak sugeng sudah berlari beberapa langkah. Kami segera berlari saling susul menuju pos.
“Setan keparat, masih saja berani muncul lagi kupatahkan lehernya satu2”
“Ndan, bukannya td sampeyan yg lari duluan paling kenceng” kata mas bendol sambil nafasnya terengah2
“Sialan kamu ndol, kl ada maling 20 orang juga kuhadapi. Tp setan, jangnkan 5,satu saja aku pasti lari” jawab pak sugeng
“Hahaha, ketemu pocong ya ndan? Makanya kemaren saya Cuma lihatin mess dr jauh. Merinding saya deket2 situ. Apalagi ini malem jumat” ujar pak kamdi sambil tertawa
Aku yg masih ketakutan, segera cari air minum untuk meredakan detak jantungku, kakiku masih lemas seakan tidak bertulang. Itu betul2 pocong, kurasa aku tidak akan bisa melupakan wajah2 itu dengan cepat.
Penampakannya benar2 membekas di otakku.
Kamipun menenangkan diri. Pak darmo dan pak kamdi sudah kembali tertidur sambil mendengkur. Pulas sekali tidur mereka.
“Waduh, masih 2x keliling lagi ndan, mana malem jumat pula”
“Gimana lagi ndol, untung2an aku mau nongkrong disini. Yg jatahnya kerja kan kamu. Harusnya aku sudah kelon sama istriku kl saja dia gak hobi ngomel”
Wah, masih 2 patroli lagi. Aku harus bersiap2 mental, tidak mau aku malu di depan mas bendol, apalagi di depan komandanku. Suasana makin sepi, udara makin dingin dan obrolan makin jarang. Tak lama akupun tertidur di pos.
“Roso, bangun, sudah jam 2 waktunya keliling lagi.” Terdengar suara mas bendol membangunkanku
“Iya mas, sebentar tak minum dulu”
Selesai mengambil minum, kulihat pak sugeng sudah terbangun sambil mengucek2 matanya
“Ayo jalan lagi. Kita ke bengkel lori skrg, maling bensin sama maling besi musuhnya” ucap pak sugeng.
Sepertinya dia sudah lupa perjumpaan kami dengan pocong td
“Nanti kl ada noni anke permisi aja, kl dia noni belanda cantik, gak serem” kembali pak sugeng melanjutkan
Wah gila, kl gitu ketemu makhluk gaib sudah jd menu sehari2 para satpam disini, sampai hapal lokasi2 mereka dan wujud2nya. Mungkin kl aku terbiasa lama2 tidak takut lagi seperti satpam2 senior ini, batinku sambil membulatkan tekad.
“Ayo berangkat” kata mas bendol singkat. Akupun menghabiskan segelas penuh air agar lebih terjaga karena masih mengantuk.
Jarak bengkel lori agak jauh namun dr kejauhan aku melihat suasananya lebih bersahabat. Cahaya lebih terang disitu, mungkin sengaja agar jika ada maling segera terlihat dr jauh.
Katanya waktu itu, bensin dan sparepart besi sering hilang dimaling orang tidak bertanggung jawab.
Setibanya disana, kami berpencar untuk memeriksa keadaan sekitar. Aku memeriksa bagian gerbong tebu kereta, mengarahkan senterku ke kanan ke kiri. Tiba2 mas bendol berjalan di sampingku. Angin dingin berhembus kencang.
“So, aku kebelet kencing. Anterin aku di kamar mandi sana” ucapnya sambil menunjuk toilet di dekat bengkel. Memang disana agak gelap
“Iya mas, aku juga kebelet, kebanyakan minum ini” sahutku sambil mulai melangkah ke arah yg ditunjuk mas bendol. Disana ada 2 pintu kamar mandi dengan lampu temaram. Mentang2 dibelakang cahayanya kurang terang ini pabrik.
Sambil menghilangkan takut, kuajak mas bendol yg ada di bilik sebelah ngobrol.
“Mas, pak sugeng gpp ditinggal sendirian? Nanti ngomel pula”
......
Tidak ada jawaban dr mas bendol, hanya suara gemericik air terdengar
“Mas... Aku grogi mas, ojo guyon kamu mas” kataku sambil memanggil2 dia, namun tidak ada jawaban.
Segera kutuntaskan hajatku, seketika tercium bau telor rebus menyengat di seluruh bilik ini, dan tiba2 lampu bilik ini padam
Aku makin takut, kubuka pintu bilik toilet, namun pintu ini tidak mau terbuka. Aku makin panik, kupanggil2 mas bendol dan pak sugeng berkali2 namun tidak ada jawaban.
....
Sreeeekkk..... Sreeeekkk.... Sreeeekkk.... Tiba2 kudengar suara seperti orang menyapu dengan sapu lidi.
Kuhentikan usahaku membuka pintu, sungguh nyaliku ciut, ingin menangis rasanya aku. Namun seketika lampu menyala sambil berkedip2. Aku hentakkan pintu dengan kuat, namun pintu tidak lagi terkunci.
Saking kuatnya aku berusaha membukanya, aku sendiri yg terhempas kebelakang hingga terjengkang.
Saat aku mencoba berdiri, kulihat sebuah sosok setinggi semeter lebih sedikit mendekatiku dari lorong bengkel. Diiringi suara tertawa cekikikan sosok itu terus mendekat
Ya Allah, apa lagi ini, batinku dalam hati. Dalam sekejap sosok itu sampai di depan pintu toilet.
Sosok nenek2 bungkuk dengan rambut panjang diseret, saking bungkuknya mungkin hanya setinggi pinggangku.
Perlahan sosok itu mengangkat mukanya. Terlihat wajahnya yg kecil mengumpul, hidungnya kecil, bibirnya kecil tersenyum, hanya matanya besar, sebesar bola tenis melotot ke arahku. Badanku kaku, lidahku kelu, nyaliku seolah terbang melayang.
Tib dia mendekatkan mukanya padaku dan tertawa sangat kencang. Aku berteriak, pandanganku gelap, sepertinya aku jatuh pingsan
....
“So, roso. Bangun so”
Terasa beberapa tamparan mendarat di pipiku, aku membuka mata dengan kaget. Pak sugeng dan mas bendol disampingku, mengangkat kepalaku sambil menampar2 agar aku lekas sadar.
“Wes, ayo cepet pergi dari sini. Nanti kl mau cerita di pos saja” ujar pak sugeng sambil mereka berdua memapahku berjalan menuju pos
Sesampainya di pos kuceritakan semua kejadiannya. Ternyata sosok yg mengajakku ke toilet bukan mas bendol, dia saat itu sedang mengobrol dengan pak sugeng dekat gudang bensin.
Sepertinya makhluk itu sengaja mengerjai aku. Lalu sosok nenek itu juga katanya sering dilihat karyawan di bengkel lori selain sosok noni anke. Menurut tutur ceritanya, itu adalah arwah dr seorang nenek2 yg cucunya meninggal karena kecelakaan kerja di pabrik ini. Dia jadi gila dan meninggal tepat di bengkel lori. Entah bagaimana ceritanya, jasadnya ditemukan petugas keamanan di bengkel lori itu, walaupun kejadian itu terjadi sebelum indonesia merdeka, tp mungkin arwah nenek itu masih penasaran hingga skrg.
Dan aku, badanku langsung panas seperti demam. Pak sugeng bilang aku sawan karena ketemu setan secara langsung. Keesokan harinya, orang tuaku membawaku ke orang pintar untuk didoakan agar hilang sawanku. Disitu aku diberi semacam pegangan berbentuk tulisan2 arab yg akhirnya selalu kubawa bekerja.
Dan apakah aku takut untuk bekerja? Saat itu mungkin iya, jika kalian mengalami hal yg sama kurasa kalian juga bakal ketakutan. Tp ketakutanku kalah dengan tekad dan kemauanku untuk bekerja.
Segitu dulu cerita kali ini, semoga ada hikmah yg dapat dipetik dan jadi hiburan memgisi waktu luang kalian. Jangan lupa cek pintu, jendela, dan sudut2 ruangan. Pastikan kalian aman sebelum beranjak dari cerita ini. Asalamualaikum
Tamat
(Kalo ada yg butuh link YT PM aja gan)
Diubah oleh keramatchannel 11-06-2021 01:34
sulkhan1981 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup