Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#151
Regu Penyelamat






Suara bising motor RX-KING warna biru itu sanggup membuatku terbangun dari tidur.

Aku sejenak terdiam untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku yang tadi direnggut paksa oleh si motor jambret. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, aku memandangi sekitarku. Ternyata teman-temanku masih berkumpul menjadi satu ditengah-tengah area parkiran ini.

Aku lalu bangkit berdiri ketika kesadaranku sudah terisi penuh. Begitupun dengan teman-temanku. Kami semua berdiri menyambut kedatangan dari si penjaga villa ini.

Perlahan-lahan, suara dari motor itu mulai mendekat. Dan bukan hanya satu. Tetepi ada beberapa suara motor juga yang samar-samar kudengar.

"Kemungkinan si bapak itu membawa teman-temannya juga,"kataku pada Gatot yang berdiri persis disebelah ku.

Ia mengangguk.

Apa yang ku pikirkan ternyata benar.

Selain motor jambret milik si penjaga Villa, ada 4 motor lagi yang mengekor di belakang. Masing-masing motor membawa 2 orang. Sehingga total ada 10 orang yang datang.

Kelima motor itu kemudian memarkirkan kendaraannya di dekat kami. Mereka bersepuluh lalu turun.

Aku dan teman-temanku pun segera mendekat ke arah mereka. Dengan takzim, kami menyalami mereka semua.

Aku sangat senang saat mengetahui bahwa di antara mereka ada 1 orang yang yang berpenampilan seperti seorang ustadz. Ditilik dari usia, sepertinya ia sudah berumur setengah abad lebih.

"Jadi bagaimana keadaan saat ini?" Tanya bapak penjaga Villa yang bernama pak Rahmat dengan raut wajah yang menunjukkan kecemasannya.

"Teman-teman kami semua hilang pak," jawab Gatot cepat.

"Huss...," Potong Slamet.

"Sebagian teman kami hilang pak," lanjutnya membetulkan ucapan Gatot.

Kulihat pak ustadz mengangguk-anggukan kepalanya. Mungkin ia sudah mengerti dengan kejadian yang saat ini kami alami.

Salah seorang pemuda, yang ikut dalam rombongan pak Rahmat berbisik ke telinga pak ustadz.

Kulihat pak ustadz menganggukkan kepalanya. Aku menunggu apa yang akan orang itu katakan.

"Di jalan, saat kami semua ke sini, kami bertemu dengan seorang laki-laki yang saat itu tengah berlari dengan kencang. Ia berteriak-teriak ketakutan. Apakah laki-laki itu adalah rombongan dari teman-teman yang ada di sini?" Tanya pak ustadz.

"Ciri-cirinya bagaimana pak?" Tanya Gatot.

Pak ustaz lalu menjelaskan dengan singkat ciri-ciri laki-laki yang ditemui tadi.

"Oh betul pak, dia adalah Nova. Dia teman kami yang yang ikut menghilang juga," kata Ikhwan.

"Lalu, apa yang pak ustadz lakukan?" Tanyaku.

"Tadinya kami ada 6 motor saat ke sini. Nah, saat ketemu sama teman kalian itu. Saya berinisiatif untuk menolongnya. Saya menyuruh salah satu anggota rombongan untuk membawa teman kalian itu kembali ke desa," jawab pak ustadz.

"Alhamdulillah...," Jawabku lega.

Setelah itu pak ustad mengajak kami semua untuk bergabung dan berkumpul bersama diteras sebuah villa yang berada didekat area parkiran. Sebuah villa yang paling besar, menurutku.

Dan, seperti sudah mengetahui kondisi kami ber-6. Ternyata rombongan pak ustadz dan pak Rahmat, membawa beberapa buah bekal makanan.

"Kalian pasti lelah dan juga lapar setelah semua ini. Makanlah, nak," ujar pak ustadz sambil tersenyum ramah.

Melihat makanan yang lumayan banyak itu, membuat perutku ingat dengan rasa lapar. Maka tak butuh waktu lama, hampir separuh dari makanan yang dibawa oleh rombongan pak ustadz itu habis kami makan.



Pak ustadz tampak membiarkan kami semua beristirahat dulu. Sekilas, aku melihatnya berdiri didepan villa, entah apa yang dilakukannya. Aku hanya bisa melihatnya berdiri tegak dengan tangan kanan yang memutar-mutar sebuah tasbih berwarna hijau gelap.

Hampir setengah jam kemudian, pak ustadz kembali berkumpul dengan kami.

Beliau lalu berkata.

"Sebentar lagi kita akan memulai pencarian teman-teman kalian yang hilang itu. Tetapi, saya melihat ada diantara kalian yang kondisi fisiknya sangat lemah. Dan itu sangat berbahaya. Jadi, saya meminta agar beberapa orang diantara kalian untuk bersedia kami antar dulu ke desa. Bagaimana?"

Entah kenapa, teman-temanku malah melihat kearahku. Seperti menyerahkan semua keputusan ini padaku.

Aku juga memandangi mereka satu persatu. Menimbang perkataan dari pak ustadz.

Lalu akupun berkata.

"Saya setuju, pak ustadz,"

Pak ustadz mengangguk senang. Beliau lalu menunjuk Gatot, Inas, dan Sri untuk bersedia diantarkan pulang ke desa.

"Mereka bertiga memiliki fisik dan juga mental yang lemah. Apalagi ada yang tengah datang bulan," kata pak ustadz.

Kami semua setuju.

Lalu, Gatot, Inas dan juga Sri diantar menggunakan 3 buah sepeda motor.

Kini, tersisa aku, Ikhwan dan Slamet dikelompokku. Sedangkan dikelompok pak ustadz, ada pak ustadz, pak Rahmat, Yadi ( pemuda yang membisikkan sesuatu ke pak ustadz ), Yahya, serta 3 orang lainnya.

Saat Gatot dan yang lainnya sudah tak terlihat. Pak ustadz mengajak kami yang tersisa untuk kembali berkumpul diteras villa.

"Sekarang, kita akan memulai pencarian teman-teman kalian yang hilang. Saya harap pencarian kita ini akan dimudahkan oleh yang maha kuasa. Dan kita semua akan kembali berkumpul dengan selamat disini,"

"Aamiin...,"


Pak ustadz tiba-tiba saja menoleh ke arahku.

"Saya tahu, adik ini bukan orang sembarangan. Dan saat ini, ada sesosok gaib yang menjaga adik disini. Hanya saja, saat saya hendak berkomunikasi dengannya, ia menolak," kata pak ustadz.
emoticon-Cape d...

Mendengar itu, aku hanya bisa berkata dalam hati, "Ya iyalah, kyai Rekso emang pilih-pilih orang kalau ngomong. Doikan shombong,"emoticon-Ngakak

Telingaku tiba-tiba saja berdenging saat aku selesai berkata seperti itu.

"Bagaimana? Apakah perkataan saya benar?" Tanya pak ustadz.

Aku tak bisa mengelak dari pertanyaan itu. Maka aku hanya bisa mengangguk saja, mengiyakan perkataan pak ustadz.

Pak ustadz mengangguk-angguk.

"Apakah kamu tahu, dimana keberadaan dari teman-temanmu itu?" Tanyanya lagi.

"Insya Allah tahu, pak ustadz,"
jawabku.

Ia tampak senang.

Sambil tersenyum ramah, pak ustadz kembali bertanya.

"Dimana?"

Aku menarik nafas sejenak, berusaha untuk mengumpulkan kembali informasi yang kudapatkan di alam mimpi.

Setelah yakin dengan ingatanku, aku pun lalu menjawab pertanyaan dari pak ustadz.

"Teman-temanku terpisah di dua tempat, pak ustadz. Yang pertama adalah Sofi dan juga Wulan. Kedua temanku ini berada disebuah pinggiran sungai, yang ada didalam hutan ini," kataku sambil menunjuk ke arah hutan lindung dibelakangku.

"Sebuah sungai...," Pak ustadz tampak memikirkan sesuatu.

Ia lalu berkata kepada Yadi.

"Yadi, kamu itu sering keluar masuk wilayah hutan ini. Apakah kamu tahu, dimana keberadaan sungai yang adik ini katakan?"

Yadi, seorang pemuda berkulit sawo matang itu mengangguk tegas.

"Tahu pak ustadz, letaknya ada didalam hutan. Sebenarnya itu bukan sebuah sungai, lebih tepatnya sebuah "ghowok", atau sungai kecil. Kira-kira setengah jam kalau kita akan kesana," jawabnya.

Pak ustadz mengangguk-angguk sambil tangannya terus memutar batu-batu kecil yang berbentuk tasbih itu.

Pak ustadz lalu kembali menoleh ke arahku.

"Lalu teman adik yang satu lagi, ada dimana?"

"Teman saya yang satu lagi, namanya Yusuf pak ustadz. Menurut informasi yang saya dapatkan, saat ini raga Yusuf ada didalam villa disekitar sini. Tapi saya tak tahu, ada dimana dia,"
jawabku.

"Maksud kamu raga itu, tubuhnya?" Tanya pak ustadz.

Aku mengangguk.

"Lalu dimana ruhnya?" tanya pak ustadz lagi.

"Katanya, ruh teman saya itu dibawa dan dipenjarakan oleh pemimpin gaib dari wilayah ini, pak ustadz. Katanya teman saya itu sudah bersalah karena sudah mengganggu acara mereka," kataku.

Kembali pak ustadz menganggukan kepalanya.

Ia kemudian menoleh kearah pak Rahmat. Si penjaga Villa kami.

"Rahmat, kamu bukannya sudah tahu. Kalau dibulan pertama di awal tahun, semua villa di kawasan ini tidak boleh ada yang mengisi,"

Pak Rahmat kulihat mengangguk pelan. Wajahnya tak berani menatap wajah pak ustadz.

"Lalu kenapa kamu malah melanggar aturan yang sudah disepakati itu?" Kejar pak ustadz.

"Ma...maaf pak ustadz, saya terpaksa melakukannya karena terdesak oleh ekonomi," jawabnya pelan.

"Astaghfirullah..., Kamu tega menukar uang dengan cara membahayakan keselamatan anak-anak ini, Rahmat," sesal pak ustadz.

Pak Rahmat hanya bisa menundukkan kepalanya saja.

Aku yang penasaran, lalu bertanya kepada pak ustadz.

"Maaf pak ustadz. Saya penasaran dengan kata-kata pak ustadz barusan. Maksud dari kesepakatan itu, apa ya?"

Pak ustadz melihatku sebentar, beliau tampak enggan untuk menceritakan kepada kami, apa maksud dari kesepakatan itu. Tetapi, pak ustadz akhirnya menjelaskan kepada kami, apa itu artinya.

"Jadi, waktu itu saat saya masih kecil, sekitar tahun 70an, ada seorang kaya yang membeli lahan disini untuk dijadikan sebuah area Villa atau peristirahatan bagi keluarga besarnya. Dari yang saya dengar, orang itu adalah bekas tentara kemerdekaan yang sudah pensiun. Setelah pembangunan selesai, vila ini pun dijadikan tempat peristirahatan bagi keluarga besarnya. Kemudian, saat jaman resesi melanda Indonesia tahun 98, si pemilik yang pensiunan tentara itu meninggal. Lalu, oleh keluarganya, tanah ini dijual."

Pak ustadz menghentikan ucapannya untuk menyeruput secangkir kopi.



"Nah, oleh si pembeli, tanah itu ia bangun lagi beberapa villa, dengan niatan sebagai tempat berlibur keluarganya. Dari situlah, mulai terjadi hal-hal yang aneh disini. Merasa terganggu, si pemilik baru itu kemudian meminta bantuan kyai disini untuk menetralisir keadaan itu. Kebetulan, yang dimintai tolong adalah orang tua saya. Dibarengi oleh beberapa kyai lainnya. Orang tua saya menghadapi para makhluk gaib yang ternyata dipimpin oleh seekor siluman berbentuk ular buntung. Selidik punya selidik, ternyata siluman ular buntung itu perwujudan dari sebuah tombak sakti milik mendiang tentara yang dibuang begitu saja. Meskipun pada awalnya orang tua saya kewalahan, tapi akhirnya, mereka semua bisa menang dalam menghadapi para makhluk gaib itu."

kaskus-image
siluman ular buntung perwujudan tombak sakti


Aku dan teman-temanku mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian. Apalagi bagiku, hal ini bisa kujadikan bahan cerita di Kaskus nanti.
emoticon-Betty

Pak ustadz kembali melanjutkan ceritanya.

"Setelah itu, diadakanlah perjanjian diantara mereka. Bahwasanya, mereka meminta, diawal tahun bulan pertama, seluruh area villa ini dibiarkan kosong. Karena mereka, para makhluk gaib itu, akan mengadakan sebuah upacara disini. Dan, perjanjian itupun lalu disepakati. Hingga akhirnya dilanggar seperti ini," ujar pak ustadz.

Aku melirik ke arah pak Rahmat yang hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Tapi ya sudahlah, hal ini cukup menjadi pelajaran bagi kita agar saling menghormati satu sama lain," kata pak ustadz lagi.

Kami semua yang berada di situ serentak menganggukan kepala, setuju dengan perkataan pak ustadz.

"Tapi pak ustadz...," Kataku meminta perhatiannya.

"Iya...,"

"Kata pak ustadz, pemimpin di wilayah ini kan siluman ular buntung itu. Tapi di informasi yang saya dapatkan, ruh teman saya ini di penjara oleh pemimpin wilayah ini. Apakah itu artinya, ruh teman saya itu di tahan oleh siluman ular buntung itu?"

Pak ustadz menggelengkan kepalanya.

"Disini, ada 2 pimpinan. Siluman ular buntung, yang hanya memimpin di wilayah villa ini. Sedangkan yang memenjarakan ruh temanmu itu adalah pemimpin hutan ini. Jadi berbeda areanya,"

"Ooh...,"
Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti.

"Baiklah, sekarang saya akan membagi kelompok ini menjadi 2. Satu kelompok mencari keberadaan Sofi dan Wulan, satu lagi mencari keberadaan dari saudara Yusuf. Paham?"

"Iya, pak ustadz,"
jawab kami kompak.

"Kelompok pertama adalah kelompok yang dipimpin oleh Yadi. Kelompok ini akan mencari keberadaan dari Sofi dan Wulan. Karena Yadi sendiri tahu dimana letak sungai itu," kata pak ustadz.

Lalu, terpilihlah 6 orang untuk kelompok ini. Mereka adalah, Yadi, Ikhwan, Slamet, dan 3 orang dari desa. Kulihat, mereka semua membawa berbagai macam jenis senjata tajam.

"Lalu, sisanya adalah kelompok dua. Yang akan mencari Yusuf," kata pak ustadz.

Kelompok dua ini berisi, pak ustadz, pak Rahmat, aku dan Yahya.

Yahya ini ternyata adalah anak dari pak ustadz itu sendiri. Ia lulusan ponpes di daerah Jawa timur.

Sebelum berangkat, kami semua berkumpul diarea parkiran. Dengan dipimpin oleh pak ustadz, kami semua berdoa, agar pencarian ini akan dimudahkan dan diselamatkan dari segala marabahaya, baik yang nyata, maupun gangguan gaib.

Dan...

Pencarianpun, dimulai...






***
mas444
sulkhan1981
ferist123
ferist123 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.