Kaskus

Story

MartincorpAvatar border
TS
Martincorp
PACARKU HIDUP KEMBALI
PACARKU HIDUP KEMBALI
Permisi Gan/Sis pembaca setia cerita cinta Hayati dan Asnawi, dalam trit baru ini ane mau cerita lanjutan petualangan Hayati setelah berpisah sama Asnawi.
Spoiler for Sinopsis:


KARAKTER


Spoiler for Karakter Utama:

Spoiler for Mahluk Gaib dan Bangsa Siluman:

Spoiler for Karakter Pendukung:



Quote:


Soundtrack cerita biar kayak film-film ANIME....emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

Spoiler for Opening Song:


 
BAGIAN 1
ALAM BAKA
part 1



Malam itu setelah petarungan besar antara Bendoro dan Hayati, keadaan tampak sangat memilukan. Asnawi dan Hayati saling berpelukan dalam waktu lama, tubuh Hayati yang masih mengeluarkan darah tidak menjadi batu sandungan buat dirinya untuk memeluk Hayati.

Hayati menangis tersedu sedu dalam pelukan Asnawi. akhirnya setelah sekian lama, dia bisa bersatu dengan Asnawi tanpa harus mengalami berbagai gangguan. Bendoro yang selama ini muncul di kehidupannya, telah lenyap begitu saja. Memang Bendoro mempunyai tujuan yang baik demi membela kamu arwah penasaran yang diperbudak oleh bangsa siluman bangsawan, namun dia telah merenggut kebahagiaan Hayati dengan memaksanya untuk ikut berjuang. Bagi diri Hayati, Asnawi berperan sebagai pahlawan besar dalam kahidupannya sebagai arwah penasaran. Dimulai dengan pertemuan pertamanya yang sangat menyeramkan sampai mereka menjadi satu seperti sekarang ini. Banyak lika liku kehidupan cinta diantara mereka berdua ditengah jurang perbedaan yang menganga.

Hayati merasa sangat bahagia kala itu, hatinya merasa sangat tenang dan jiwanya berbunga bunga. Tubuhnya mulai menghangat seperti manusia hidup. Detak jantungnya mulai terasa dan aliran darahnya mulai menggelora. Tiba tiba seberkas cahaya berwana keemasan muncul dari langit dan menerpa tubuh Hayati yang masih beperlukan dengan Asnawi. Hayati langsung kaget dengan cahaya itu dan melapaskan pelukannya dengan Asnawi.

“mas...sinar ini?”

“maksudnya apa Hayati?”

“hatiku sekarang tenang banget dan jiwaku juga terasa hangat...jangan jangan ini tanda tanda...”

“maksudnya arwah kamu udah nggak penasaran lagi?”

“iya mas ku...huft..huft..mas.....mas..........gimana ini?”

“Hayati....kamu jangan tinggalin aku... kita udah berjanji mau hidup bersama”

“aku juga sama mas aku...hiks ...hiks...aku nggak mau pisah sama kamu mas”

Tubuh Hayati menjadi sangat hangat dan perlahan mulai memudar. Panggilan dari alam baka mulai menggema, Hayati mau tidak mau harus pergi kesana dan meninggalkan Asnawi di dunia ini. Asnawi semakin erat memeluk Hayati. Dia histeris dan tidak mau melepas Hayati.

“Hayati....tolong tetap disini, jangan pergi dulu ke alam baka..hiks..hiks”

“maafin aku mas, aku juga nggak bisa berkehendak....ini udah takdir...udah seharusnya aku berada di alam sana”

“HAYATIIIIII...........TOLONG HAYATI....TETEP JADI ARWAH PENASARAN....JANGAN TINGGALIN AKU”

“mas.....kayanya aku udah nggak bisa....aku udah pasrah akan keadaan sekarang..mas...denger aku mas...”

Hayati berusaha menegakkan kepala Asnawi yang tertunduk. Tampak mata Asnawi yang merah karena menangis dan wajahnya yang basah terkena air mata. Hayati berusaha tegar dan menguatkan Asnawi yang tengah jatuh dan larut dalam kesedihan. Hayati harus menyampaikan pesan yang bisa dijadikan bekal hidup Asnawi ditengah waktu yang samakin sempit. Lama kelamaan tubuh Hayati semakin memudar, dia harus berpacu dengan waktu.

“mas....maafin aku yah...mas...aku pengen kamu janji...aku pengen kamu berjanji sebelum aku pergi selamanya ke alam baka”

“nggak mau....kamu harus tetep disini Hayati..”

“mas...ku sayang...tolong aku yah mas.....mas harus ngerelain kepergianku yah...dan aku pengen mas berjanji”

Asnawi terdiam beberapa saat. Dia tampak berusaha untuk ikhlas untuk melepas Hayati pergi ke alam baka. Dia mulai mengatur napasnya dan menghentikan tangisannya.

“hiks...hiks....hiks..............iya aku berjanji”

“aku pengen kamu berjanji untuk menyayangi Cascade sabagaimana kamu menyayangi ku...aku pengen kamu melanjutkan hidupmu bersama dia....aku pengen kamu balikan lagi sama dia.....janji mas!”

“aku janji Hayati.........aku akan melaksanakan janji janjimu Hayati”

“makasih banget mas ku sayang...sekarang aku bisa pergi dengan tenang”

“iya Hayati sayang...aku sayang banget sama kamu...aku cinta banget sama kamu...aku nggak akan ngelupain kamu..Hayati...hatiku udah milik kamu....aku nggak akan ngasihin sama orang lain”

“mas....hiks..hiks....kamu harus tetap sehat yah mas, kamu harus rajin mandi, makan makanan sehat, nggak boleh ngerokok dan rajin olahraga mas....mas.....kayanya waktuku udah tiba...peluk aku mas”

Asnawi kembeli berpelukan dengan erat disertai tangisan yang luar biasa yang membuat suasan semakin menyedihkan.

“mas...walaupun di dunia ini kita nggak bisa bersatu...semoga di akhirat kelak kita akan ketemu lagi dan hidup bersama selamanya”

“iya Hayati..aku janji...aku akan selalu mendoakan mu dan akan melakukan semua yang kamu perintahin ka aku.....Hayati aku akan menemuimu di akhirat nanti...tunggu aku disana yah sayang....capet atau lambat aku juga akan menyusulmu ke alam sana....terima kasih Pacar Kuntilanak Ku tersayang...kamu udah mewarnai hidupku yang menyedihkan ini....”

Hayati pun akhirnya menghilang dari pelukan Asnawi. dan cahaya keemasan yang berasal dari langit pun juga ikut menghilang. Kejadian itu sama persis seperti yang Asnawi saksikan ketika 6 kuntilanak anak buah Wewe Gombel yang juga pergi ke alam baka. Asnawi kembali menangis dan berteriak teriak menyebut nama Hayati. Dia seakan akan tidak sanggup ditinggal Hayati dalam keadaan seperti itu.

Hayati terbang di dalam sebuah pusaran energi dalam tuangan yang tak terbatas. Dia melayang tanpa arah yang jelas, Hayati mencoba untuk berbalik arah melawan arus tarikan gaya,akan tetap usahanya itu gagal. Hayati menangis selama berada dalam pusaran itu. Dalam hatinya dia terus berkeluh kesah dengan keadaan yang dialaminya.

“Oh Tuhan....kenapa Engkau melakukan ini kepadaku?.....aku cuma ingin hidup bahagia bersama kekasihku....kenapa Tuhan??” gerutu Hayati dalam tangisannya.

Tiba tiba seberkas cahaya putih kecil mulai muncul diujung pusaran. Hayati langsung melihat kearah cahaya itu, dia tampak mengernyitkan dahinya. “Mungkin itu adalah pintu alam baka” gumam Hayati dalam hati. Lama-lama cahaya putih itu semakin membesar dan mendekati Hayati. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika dia mendekatinya dan akhirnya dia masuk kedalam cahaya putih itu.

Tiba-tiba Hayati berbaring diatas tanah yang tandus. Dia menghela napas dengan kencang dan berusaha membuka matanya pelan-pelan. Hayati mulai berdiri dan melihat keadaan disekitarnya. Ternyata tempat itu adalah sebuah padang tandus yang sangat luas dan memiliki kontur permukaan tanah yang datar. Hayati tampak sangat kebingungan dengan tempat itu. Dia kemudian berjalan untuk mencari tahu tempat yang baru didatanginya itu. Padang tandus itu dipenuhi oleh kabut dan bersuhu panas, seperti suasana Kota Bandung di siang hari.

Hayati berjalan lurus kedepan untuk mengetahui tempat itu. Dia tidak bisa melihat jauh karena terhalang oleh kabut, jarak pandangnya sangat terbatas. Akhirnya dia menemukan sebuah pohon kering yang menjulang cukup tinggi. Hayati memiliki ide untuk memanjat pohon itu dengan tujuan dapat melihat keadaan di sekitarnya. Dia pun memanjat pohon itu dengan susah payah.

Wujud Hayati berubah menjadi seperti manusia, dia tidak bisa melayang dan terbang seperti biasanya, tampak tubuhnya juga memadat. Hayati masih memakai baju gaun putih kuntinya yang berlumuran darah akibat pertarungan dengan Bendoro. Ketika sampai di puncak pohon, Hayati mulai melihat lihat kondisi sekitar yang masih tertutup kabut.

Tak lama berselang, tiba-tiba angin kencang bertiup dan menyingkirkan kabut yang mengahalangi pandangannya. Hayati tampak menutup matanya ketika diterpa angin tersebut. Setelah angin itu hilang, Hayati kembali membuka matanya. Betapa kagetnya dia ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dia melihat orang-orang yang sangat banyak tampak antri untuk masuk ke dalam sebuah pintu besar yang berada di sebuah benteng yang sangat tinggi dan panjang di ujung cakrawala. Orang-orang yang kira kira berjumlah jutaan itu tampak bersabar dalam menunggu antrian masuk ke gerbang itu. Mereka tampak mengenakan kain kafan yang digunakan untuk menutup tubuh. Tergambar berbagai macam ekspresi yang tersirat di raut wajah mereka, ada ekspresi senyum bahagia, sedih, menangis dan penuh penyesalan.

................................................................

Spoiler for Closing Song:



Polling
0 suara
Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup Asnawi ?
Diubah oleh Martincorp 06-12-2019 08:04
muliatama007Avatar border
chrysalis99Avatar border
gembogspeedAvatar border
gembogspeed dan 207 lainnya memberi reputasi
196
692.5K
6.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.5KAnggota
Tampilkan semua post
MartincorpAvatar border
TS
Martincorp
#3370
BAGIAN 48
HENRY W GARDNER VI

Pagi hari telah tiba. Seberkas sinar matahari berhasil melewati tirai yang menutupi jendela sehingga menerpa wajah Asnawi yang sedang terlelap. Ia tampak memeluk Utami yang tidur di sebelahnya. Ia merasa kepanasan akibat terpaan sinar itu hingga akhirnya ia pun terbangun.

Asnawi berusaha beranjak dari tempat tidur, namun tiba tiba Utami memegang tangannya dan menariknya kembali ke peraduan.

"Mau kemana Wi?" tanya Utami dengan suara parau.

"Aku mau mandi, sekarang kan hari kerja" jawab Asnawi sambil membuka selimut.

"Hmmm...kamu jangan dulu pergi dong!! Aku masih kangen" protes Utami.

"Yaelah Tami, nanti sore aku udah pulang lagi kesini"

"Cih!! Dasar raja coli jahat!!"

"Hahaha...udah lama gak ada yang ngejek aku kayak gitu"

Asnawi beranjak dari tempat tidur, sedangkan Utami kembali menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Asnawi pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat menuju tempat kerja.

Beberapa menit kemudian, ia telah selesai mandi, lalu mulai berpakaian rapi dan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Dia tiba tiba mendengar suara ketukan pintu. Asnawi pun terkejut, begitu pula dengan Utami yang secara tiba tiba pergi dengan menembus dinding. Akhirnya Asnawi membuka pintu kamarnya.

"Bi Asih? Ngapain kamu dateng kesini?" tanya Asnawi ketus.

"Ada hal penting yang ingin kubicarakan, bolehkah aku masuk?" jawab Bi Asih.

"Gak bisa Bi, aku sekarang mau ke kantor" tolak Asnawi.

"Aku mohon Den!! Ini penting" Bi Asih memelas.

"Bi Asih...aku udah terlambat sekarang, maaf...aku sekarang mau pergi" kata Asnawi sambil mendorong tubuh Bi Asih untuk keluar dari kamarnya.

"Kamu gak usah kerja hari ini Den...bentar lagi bos kamu akan meneleponmu"

Beberapa detik kemudian, smartphone milik Asnawi bergetar. Sang manajer menelepon dirinya. Asnawi kemudian menerima panggilan telepon itu. Asnawi menjauhi Bi Asih dan memunggunginya ketika ia berbicara di telepon. Tak lama ia pun menutup teleponnya dan kembali berpaling kepada Bi Asih dengan ekspresi kecewa.

"Betul kan Den? Kamu gak usah kerja hari ini?" tanya Bi Asih.

"Hmmm...kamu tuh yah! Cewek paling berkuasa di negara ini, kamu bisa dengan gampangnya mengatur hidup seseorang" bentak Asnawi.

"Bukan aku Den yang kayak gitu, tapi Nyonya Besar...aku mah apa atuh Den, cuman kacung" balas Bi Asih.

"Jadi tujuanmu mau apa kesini Bi? Mau minta maaf? Itu gak ngaruh karena aku gak akan maafin kamu...atau kamu mau balikan, aku bakalan menolak!" tegas Asnawi.

"Bukan itu Den maksud kedatanganku ke sini...aku udah ikhlas kok gak kamu maafin, soalnya kejahatan ku udah benyak...terus aku juga nerima kalo kamu gak mau balikan, tapi satu yang pasti...cinta ku sama kamu itu beneran...aku tulus mencintai kamu Den"

"Terus, mau kamu apa Bi?"

"Henry udah ada di Indonesia, umurnya udah setahun...kamu udah janji mau jadi ayah angkatnya"

Asnawi terhenyak mendengar kabar itu. Henry adalah darah dagingnya bersama Cascade.

"Henry? Darah dagingku?" gumam Asnawi secara tak sadar.

"Darah dagingmu? Maksudmu apa Den?" Bi Asih bingung.

"Eh...enggak...enggak...dia darah daging Cascade"

"Ya begitulah...sekarang ayo kita ke rumah Mommy! Dia udah nungguin kita" ajak Bi Asih sambil menarik tangan Asnawi.

"Tunggu Bi! Aku...aku...ngerasa gak enak dateng ke sana lagi, aku udah pernah marah marah sama Mommy"

"Gak apa apa kok Den, Mommy gak akan marah sama kamu...justru dia yang ngundang kamu sekarang"

"Tapi Bi..."

"Den...sebenernya aku juga canggung balik lagi ke rumah itu"

"Kenapa Bi?"

"Sekarang aku udah bukan pembantu di rumah itu lagi Den...aku juga udah bukan direktur di restoran punya Mommy...aku udah ninggalin semuanya karena aku merasa berdosa sama kamu dan Merry...aku juga udah gak jadi seleb lagi Den"

"Kamu ninggalin semuanya?"

"Iya Den...sekarang aku udah gak punya apa apa, semua fasilitas yang kudapat udah ditarik sama Mommy"

"Tidak mungkin!!! Kamu kan kaya Bi, gaji kamu gede, tabunganmu juga banyak"

"Semua itu udah abis Den...aku ini udah nganggur berbulan bulan...semenjak kejadian itu, aku jadi depresi...aku mutusin buat ninggalin semuanya...tiap hari aku gunakan tabunganku untuk menyambung hidup sampe akhirnya aku terlilit utang"

"Kenapa kamu gak nyari kerja Bi?"

"Aku terlalu depresi buat nyari kerja Den...tiap hari aku cuman diem di rumah"

"Kenapa kami bisa gini sih Bi? Nasib Jaenal gimana?"

"Alhamdulillah Jaenal masih bisa sekolah...meskipun aku beberapa kali nunggak bayaran sekolah...untungnya Anggariti masih mau bantuin aku buat ngasih biaya sekolah"

Bi Asih menundukkan kepalanya di hadapan Asnawi. Ia mulai mengutarakan kesedihannya. Asnawi merasa simpati dengan mantan pacarnya itu. Ia mengelus kepala Bi Asih.

"Yaudah Bi, mari kita pergi sekarang!"

"Iya Den"

Mereka berjalan keluar sambil berpegangan tangan. Utami tampak memperhatikan langkah mereka dari balik semak belukar yang ada di halaman rumah.

"Mobil kamu kemana Bi?" tanya Asnawi yang bingung karena tak melihat mobil yang selalu dipakai oleh Bi Asih.

"Aku udah gak punya mobil Den, aku kesini naik angkot"

"Apaaaaaah!!! Kamu serius?"

"Iya Den, udah kubilang tadi, aku udah gak punya apa apa, bahkan rumah pun aku tak punya, sekarang aku dan Jaenal tinggal di rumah kontrakan"

"Astagfirullah Bi, kamu kok jadi gini!"

"Maafin aku Den, aku gak bisa pertahanin kekayaanku...aku sekarang cuman emak emak pengangguran yang hobi melamun"

Asnawi merasa sangat sedih dengan keadaan Bi Asih yang berubah total. Air mata pun sesekali mengalir dari pelupuk matanya. Bi Asih mengajak Asnawi berjalan ke depan komplek untuk menumpang angkot menuju rumah Mommy, tapi Asnawi menolaknya dan ia menawarkan tumpangan dengan motor maticnya. Akhirnya mereka pergi menuju rumah Mommy Cascade.

Sepanjang perjalanan, Baik Bi Asih maupun Asnawi tak saling mengeluarkan kata. Mereka hanya terdiam karena merasa canggung.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di rumah Mommy Cascade. Bi Asih memencet bel yang ada di sebelah pintu masuk. Tak lama, seorang asisten rumah tangga yang memakai seragam datang menghampirinya. Dia mempersilakan mereka untuk masuk dan mengantarnya menuju ruang pribadi Mommy.

Hati Asnawi kembali bergetar ketika melihat suasana dalam rumah yang banyak mengandung kenangan indah bersama Cascade. Begitu memasuki ruang pribadi Mommy, ia melihat seorang bayi tengah duduk di atas pangkuan Mommy yang duduk sofa. Asnawi terharu melihat bayi itu, begitu pula Bi Asih.

"Lama tak ketemu Asnawi! Gimana kabarmu?" tanya Mommy.

"Alhamdulillah Mih...baik, Mamih apa kabar?" tanya balik Asnawi.

"Aku masih berantakan Wi, hidupku udah hancur" jawab Mommy.

"Mamih jangan bilang begitu!" sahut Asnawi.

"Hidupku emang hancur kok, aku kehilangan anak semata wayang ku...itu membuatku patah hati"

"Mamih harus tabah dan sabar! Semoga Kesih mendapat tempat mulia di sana"

"Amiiin...sekarang kalian duduk!"

Asnawi dan Bi Asih duduk di sofa yang berhadapan dengan Mommy dan Henry.

"Neng Asih, kehidupanmu sekarang gimana?"

"Anu...eehh...baik Mih" jawan Bi Asih dengan malu.

"Kata Pak Bondan, kamu sekarang jatuh miskin ya? Apartemen kamu udah dijual, terus tabunganmu juga udah abis...selain itu kamu kerjanya mabuk mabukan tiap hari" bentak Mommy.

"Apa kamu suka mabuk Bi?" tanya Asnawi kaget.

"Maaf Den..." jawab Bi Asih.

Bi Asih menjadi salah tingkah, lalu ia bergegas pergi meninggalkan ruangan itu sambil menangis. Asnawi merasa kebingungan dengan apa yang terjadi. Ia hanya memandang Bi Asih yang pergi dengan tatapan kosong.

"Neng Asih kayak gitu tuh karena kamu Nawi!! Dia jadi depresi gara-gara kamu campakan" Bentak Mommy.

Asnawi terdiam, mentalnya pun akhirnya terguncang. Ia diliputi rasa bersalah kepada Bi Asih bagaikan awan cumulonimbus yang menyelimuti puncak gunung ketika badai.

"Kamu udah menyakiti hatinya Wi, kamu ninggalin dia di saat dia lagi sedih...kamu juga memarahinya dan meninggalkan dirinya begitu aja...kamu gak sadar kebaikan Neng ASih selama ini sama kamu? "

"Maafin aku Mih...aku waktu itu marah besar" gumam Asnawi.

"Hmmm...kamu emang bener bener salah karena udah nyekitin Neng Asiah dan membuat dirinya hancur kayak sekarang"

"Iya Mih"

"Tapi...ada orang yang jauh lebih salah dan berdosa daripada kamu Nawi"

"Siapa Mih?"

"Aku"

Mommy menatap tajam ke arah Asnawi. Tatapannya dipenuhi dengan emosi yang terpendam. Ia kemudian berdiri sambil menggendong Henry yang tamoak tak mengerti dengan keadaan di sana. Mommy lalu duduk di sebelah Asnawi.

"Akulah Wi, orang yang paling bersalah menghancurkan hidup Neng Asih...karena semua yang dikerjakan oleh dia adalah perinthku, aku membuat Neng Asih tak punya pilihan selain menuruti perintahku...ia juga harus mengorbankan perasaannya demi memenuhi keegoisanku dan anak ku"

Mommy menghela napas panjang, kemudia ia mengambil segelas air putih yang berada di atas meja.

"Asnawi...tak selamanya hidup itu sesuai sama yang Mamih rencanain...aku dulu sempet hidup sengsara jadi gembel di Amerika...aku lari dari rumah pacarku di sana karena aku tak mau merusak masa depannya kalo dia tau aku mengandung anaknya" Mommy mulai membuka cerita.

"iya Mih...maksud Mamih waktu itu mengandung Kesih?" tanya Asnawi yang berusaha membangun suasana.

"Bukan Nawi...tapi kakaknya Kesih, asal kamu tau yah Wi, aku sama Edward dulu itu sepasang kekasih"

"Edward? Maksud Mamih Pak Edward dekan Fakultas Teknik di ITNBS?" Asnawi terkejut.

"Iya Wi, dosen pembimbing kamu itu...aku dulu pacaran sama dia ketika sama sama kuliah di Amerika...hidup kamu berjalan sempurna disana, baik Mamih maupun Edward sama sama kuliah sambil kerja untuk membiayai rumah tangga kita disana...ya kita gak nikah sih, tapi kita tinggal satu rumah...tapi kebahagiaan itu gak lama, ketika Mamih tau hamil, Mamih mulai ngerasa takut karena kehamilan ini bisa ngerusak pendidikan yang Edward jalani...akhirnya Mamih pura-pura gak tau apa-apa saat itu, tapi perutku semakin hari bertambah besar dan Mamih gak bisa lagi nyembunyiin kehamilan ini, Mamih akhirnya pergi ninggalin Edward dan hidup ngegembel di sana...Bayangun aja Wi, Mamih lagi hamil gede harus hidup di luar dengan cuaca dingin dan gak ada makanan, sampe akhirnya Mamih dipungut sama Kang Reynold ketika Mamih pingsan di depan katornya...Mamih waktu itu udah gak kuat dan nahas...ketika Mamih ngelahirin, anak ku gak bertahan lama, ia meninggal karena selama dalam kandungan kekurangan nutrisi...aku sedih banget harus kehilangan buah hatiku...mulai dari situ, Mamih dan Kang Reynold mulai menjalin hubungan...dia orang baik, Mamih pun akhirnya nikah sama dia dan dikaruniai si Kesih"

"Hmmm...jadi Mamih ninggalin Pak Edward? Kenapa Mamih gak ngaku aja? Pak Edward pasti bertanggung jawab dan menurutku dia gak mungkin ngancurin pendidikannya karena Mamih hamil dan punya anak dari dia"

"Itulah letak kebodohan ku Nawi...karena pikiranku kacau dan pesimistis, aku ninggalin orang yang kucintai hanya karena takut akan sesuatu yang gak jelas, tapi kebodohan ku itu ternyata aku turunkan kepada anakku sendiri...Kesih mengulangi kesalahanku di masa lalu dengan ninggalin kamu dalam keadaan hamil dan dia bahkan kini udah gak ada"

Mommy kembali terisak ketika mengingat kenangan tentang Cascade. Asnawi mengambil sehela tissue yang ada diatas meja dan memberikannya kepada Mommy.

"Makasih Wi" kata Mommy sambil menyeka air matanya.

"Aku gak tau Mih kalo Cascade hamil, bahkan aku bener bener gak inget kapan aku berhubungan se.ks sama dia...terus aku juga sampe hari ini bingung, kenapa Kesih ninggalin aku"" sahut Asnawi

"Kesih sangat mencintaimu Wi...dia gak mau kehilangan kamu, tapi kelakuan anehnya yang bikin Mamih pusing...kamu tau ketika dia mutusin kamu dulu? Kesih nangis selama seminggu full di rumah...Mamih waktu itu sempet merasa kesel dan marah sama kamu karena udah mencampakkan anak Mamij, tapi ternyata itu semua keinginan si Kesih sendiri"

"Aku juga gal ngerti Mih, gak ada ujan gak ada angin, dia mutusin aku gitu aja"

"Emang Wi, aneh banget...tapi walaupun begitu, Mamih harus membuat Kesih bahagia kembali...makanya Mamih nurutin semua kemauan dia yang sangat aneh dan nyebelin...Kesih gak mau pacaran lagi sama kamu tapi dia juga gak mau kamu jadi milik orang lain"

"Apaaaah!! Begitukah?"

"Iya Wi, jadi Mamih pun berusaha menjauhkan kamu dari gadis-gadis yang deketin kamu setelah kamu putus sama Kesih...salah satunya adalah Neng Asih"

Asnawi kembali terhenyak saat Mommy menyinggung Bi Asih yang menjadi salah satu perempuan yang mendekatinya.

"Aku udah tau semuanya Wi...Neng Asih punya perasaan sama kamu, Mamih juga tau skandal yang terjadi antara kalian...Mamih liat semua yang kamu lakukan sama Neng Asih di rumah ini"

"A...apa...Mamih punya indera keenam?" tanya Asnawi yang mendadak ketakutan.

"Ya enggak lah Wi, di setiap sudut ruangan di rumah ini udah ku pasang CCTV...gak ada orang yang tau kecuali Mamih dan orang pun gak akan bisa liat dimana kamera pengawas itu karena ukurannya sangat kecil dan tersembunyi"

"Iya Mih"

"Kamu kok kayak takut gitu Wi?"

"Anu Mih...aku mungkin udah ngelakuin banyak hal yang salah"

"Ya betul, tapi Mamih bisa menerimanya...Mamih tau apa yang kamu lakukan kalo lagi berkunjung kesini...apa yang kamu perbuat sama Kesih dan Neng Asih...makanya Mamih sangat yakin kalo kamu ini ayah biologis dari Henry karena Mamih tau kamu dan Kesih sering hubungan intim sebelum berpisah...Mamih juga tau kelakuan Neng Asih yang suka sama kamu"

Jantung Asnawi semakin berdebar kencang ketika mengetahui kenyataan itu. Ia merasa ranah privasi nya terusik ketika berkunjung di rumah ini.

"Aku merasa ditelanjangi sama Mamih, semua yang kulakukan diketahui sama Mamih begitu aja" gumam Asnawi dengan mulut bergetar.

"Maafin Mamih ya Wi, Mamih cuman harus waspada sama orang orang yang ada...tapi gak semua kejadian di rumah ini Mamih tau lho...kayak kejadian Kesih yang berantem sama Hayati...itu Mamih gak tau karena kejadiannya bukan di rumah ini tapi di rumah belakang...di sana gak ada kamera pengawas"

"Iya Mih"

"Mamih selalu mencegah tiap gadis yang mau deketin kamu...mulai dari Merry, Raizha dan bahkan keponakan ku sendiri Syarifah...aku mengancam mereka semua Wi agar menjauhi mu...tapi buat Neng Asih, aku buat pengecualian...aku biarkan dia deket sama kamu selama dia gak gangGu hubunganmu sama Kesih...selama itu Mamih berusaha mencarikan Neng Asih jodoh, tapi dia selalu menolaknya...Neng Asih bener bener jatuh cinta sama kamu Wi, dia selalu berada dalam bayang bayang...makanya ketika Mamih ngasih tugas buat dia pacaran sama kamu, Neng Asih seneng banget...walaupun kesenangan ini semu karena aku membuatnya berjanji kali Kesih pulang ke Indonesia, dia harus mutusin kamu dan harus merelakan kamu nikah sama Kesih...tapi takdir berkata lain, Kesih kembali tanpa nyawa dan sekarang Neng Asih udah putus sama kamu, lalu dia jatuh miskin karena resign dari pekerjaannya"

"Kenapa Mamih tega ngelakuin itu?"

"Semua itu semata mata demi anakku Wi...jadi akulah orang yang paling bersalah dalam hal ini Wi...Mamih udah nyakitin Neng Asih sampe sebegitunya dan sekarang Mamih harus menerima azab yang Allah kasih"

"Semua itu pantas buat Mamih karena udah mempermainkan kehidupan seseorang yang udah setia melayani"

"Iya Wi...Mamih nyesel banget, makanya Mamih manggil kamu kesini karena Mamih pengen memperbaiki semuanya"

"Maksudnya gimana Mih?"

Mommy menyodorkan Henry kepada Asnawi untuk dipangku. Henry langsung tersenyum ceria ketika pertama kali di sentuh wajahnya oleh Asnawi. Mommy terharu melihat momen itu.

Henry memiliki wajah tempat. Kulitnya berwarna putih, rambut pirang dan mata berwarna biru persis dengan ibunya. Asnawi tak kuasa mengeluarkan air matanya ketika darah dagingnya berada di atas pangkuan

"Henry akan hidup sama kamu dan Neng Asih...kalian akan menjadi orang tua angkat untuk cucuku ini...Mamih akan mempekerjakan lagi Neng Asih di sini dan mengembalikan semua fasilitas yang pernah kuambil darinya"

Asnawi pun memeluk Henry dengan penuh kasih sayang. Mommy akhirnya tak kuasa menahan tangis ketika melihat Henry tertawa saat digoda oleh Asnawi.

...
chrysalis99
yudhiestirafws
lelakiperantau
lelakiperantau dan 55 lainnya memberi reputasi
56
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.