- Beranda
- Stories from the Heart
KERIS - Singa Hitam
...
TS
amriakhsan
KERIS - Singa Hitam
Spoiler for Sebilah kata dari TS:
Quote:
BAB I - Target
i.
Tangan basah, dingin serta kaku tidak memberikan sedikitpun renggangan pada setiap kubu kubu jarinya, menggenggam roda kendali mesin baja ini dan tidak membiarkan sedikitpun kelopak mata terjatuh, meninggalkan fokusnya menatap jalan.
Rasa takut pada kehilangan kendali adalah masalah keseribu bagiku. Satu satunya yang terpikirkan dan menyangkut di isi kepalaku hanyalah keinginan untuk pergi; menjauh dan menghindari apapun sebutan yang disematkan pada makhluk itu.
Mataku yang basah mulai mengering dan memulai perasaan perih di sekujur bulatannya. Entah mengapa dunia ini seakan sangat kosong dan tidak ada hal lain yang lebih penting bagiku selain pedal gas, setir dan kerikil kerikil di jalanan yang mulai berliku liku.
Namun semua itu hilang dalam sekejap saat tubuh lemas ini berguncang hebat bahkan sampai membuat mobil seberat dua ton lebih ini mulai bergoyang, menggemparkan seisi ruangan sempit nan pengap ini. Tidak sampai sedetik kemudian rohku kembali ke jasadnya sambil membuka mata penghuninya lebar lebar dengan gelengan gelengan kecil saat sadar datangnya goncangan tersebut datang dari arah bahuku.
“HEH! mikirin apaan?!” sontak suara itu datang dari arah kiri bahu kaku ini.
Mataku memandang orang itu cepat bagai seekor kucing yang siap menyergap mangsanya. Model rambut undercut yang berantakan itu dengan pemiliknya yang berwajah hampir lonjong; berahang tegas serta mata yang menyala menatapku dengan serius sambil mencengkram erat pundak lemah ini dengan tangan gorilanya itu.
“OY!” sahut pria besar itu sekali lagi, kali ini tanpa ada guncangan yang bisa membuat mobil ini terbalik.
Entah dari mana teriakan itu bisa masuk ke dalam isi kepalaku yang kosong, memanggil penghuninya keluar dan memaksanya untuk menjawab panggilan yang mulai terdengar menjengkelkan itu.
“Paan?” jawabku kesal sambil melemparkan tangannya itu dari bahuku.
“Paan - Paan lagi,” ucap Dito dengan alis menukik. “Anda ini kemana aja dari tadi dipanggil?”
“Ya … liat sendiri, kan? ya disini sini aja,” jawabu santai.
Tidak lama setelah jawaban itu, sebuah gesekan dengan tekanan yang keras serta tajam menancap tepat di menusuk serta menembus kulit kepalaku. Tidak berhenti disitu, serangan itu berlanjut memaksa dirinya berjalan terseret seret sampai ke jambang kepalaku dan menghilang begitu saja, meninggalkan rasa pedih dan perih yang teramat disertai rahang rahangku yang berusaha menggigit sekaligus menyedot udara sekaligus dengan kencangnya. Rasa sakit itu sampai membuat genggaman yang telah melekat ini melepaskan cengkramannya.
“E buset, APAAN?!”
“Masih inget kan rutenya?” tanya Dito santai.
“Iya bos, inget inget kita ke rumah Embah.”
“Iya saya tahu anda cerdassekali, tapi tadi masalahnya tadi jalannya kelewat.”
Mendengar kalimat itu bukan hanya membuat kepalaku sakit namun juga membuat semua otot pipi yang berbangga ini jatuh lemas meninggalkan cemberut serta perasaan bodoh. “Ouw … siht.”
Dito hanya bisa mengusap usap kepalanya saat melihatku sadar atas kesalahan konyol itu. Pijakan pedal gas juga perlahan melemah mengikuti perasaanku yang mulai turun jatuh meninggalkan raganya.
Tidak lama berselang Dito yang selesai mengusap usap kepala serta rambutnya akhirnya membuka matanya diikuti usapan jarinya yang mencolek pundakku sambil menunjuk ke arah sebuah warung di pinggir jalan. Berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama membuatku memberhentikan laju mobil dan berhenti tepat di atas tanah sempit milik warung tersebut.
“Saya rasa kita harus beristirahat dulu sejenak, terserah kalian mau beli makan ato minum, biarkan Saya; Jaya dan Ardi berdiskusi dulu sementara. Trus Nadya, waktunya ganti lagi.” perintah Dito ke seisi mobil ini, mengosongkannya dan menyisakan kami bertiga.
“Oke, kak,” ucap Nadya dengan suara cemprengnya yang serak disertai suara suara gesekan dari lempengan besi saat tangan kecilnya itu menarik beberapa plat nomorserta kunci dari bawah kursinya.
“Maaf, tadi agak meleng sedikit,” ucapku sambil merapihkan dan memijat mijat wajahku yang terpantul di kaca mobil depan dengan bentuknya yang kotak membulat ini dengan mata yang mungkin kehilangan sinarnya dan mulai memerah akibat terbakar matahari serta lupa berkedip. Tetesan tetesan keringat mengguyur seluruh kepalaku sampai ke rambut rambut kasar ini yang menggantung menutupi kening orang lelah ini.
“Ya … santai saja dulu sebentar sambil mulihin fokus, jangan sampai kita malah tewas di jalan gara gara pengemudinya singit,” ujar Dito.
“Berapa lama lagi kita bakal jalan?” tanyaku yang dengan isi kepala yang mulai kehilangan konsep akan eksistensi waktu.
“Kayaknya 3 jam lagi kalau bisa cepat,” jawab Dito memperhatikan jam di bagian dashboard mobil.
Mataku hanya bisa terangkat, terbang lalu hilang; bersembunyi di langit langit di balik gelapnya kelopak mata sehabis mendengar hasil kalkulasi asalnya itu. Tangan tangan yang kerampun kemudian berusaha mengambil gerakan kedepan dan melakukan peregangan, mengalirkan darah yang mungkin mulai terhambat dan menggumpal sambil membunyikan masing masing sendi di tubuhku yang ada dari jempol kaki hingga leher.
“Edan, 3 jam lagi!? udah hampir 4 jam nyetir muter muter gak sampe sampe,” keluhku sambil melemparkan sisa udara dari bibir tipis ini.
“Mau gimana lagi, kita harus berhasil menghilangkan jejak dan usahain jangan sampai terendus, Untungnya nih mobil gede rada sedikit pasaran,” ucap Dito sambil bersandar berusaha menurunkan kursi menidurkan badan berototnya itu, menyisakan wajahnya yang siap menabrak langit langit mobil yang lembut.
Dalam nafas lelah mataku sayup sayup berusaha mencari pandangan lain selain jalanan yang terpapar tepat di depan wajahku. Bolak balik tanganku berusaha mengendalikan spion dalam mobil yang alot. Pandanganku buram ini pun terhenti saat mencoba menganalisa sosok orang dengan kulit kecoklatan berwajah kotak yang tegas, berhidung mancung dan bibirnya yang hitam dikerumuni oleh brewok tipis yang tercukur tidak rapi. Matanya tertutup seolah tidak peduli akan kondisi kami dan tertidur dan menikmati mimpinya sendiri. Rambutnya yang panjang teruntai dengan jambul di atasnya membuatku harus menatap sekali lagi untuk memastikan apakah orang ini laki laki atau perempuan, namun melirik kembali bulu bulu tipis di sekitaran rahangnya membuatku lega sekaligus kecewa dengan hasil analisa bodohku ini.
“Gimana pendapat lu, Ardi?” tanya Dito sambil berusaha memejamkan matanya yang masih sedikit berusaha mengintip Ardi, memastikan apakah ia tertidur atau memang perjaman matanya itu hanya sebuah topeng.
“Jujur aja, aku tidak punya banyak komentar dan mungkin rencana kau juga akhirnya berhasil,” jawab Ardi santai.
Dito kemudian menghembuskan nafas lega setelah mendengar jawaban itu. “Ya … ya … setidaknya lu ngasih masukan yang positif.”
“Tapi jangan senang dulu, aku yakin kalau musuh kita tidak akan berhenti sampai mayat kita ditemukan,” lanjut Ardi.
“Ya … jujur saja kalau masalah itu masih terus berputar putar di otak saya.”
Aku hanya bisa memejamkan mataku dalam dalam dan berusaha untuk kabur dari percakapan mereka berdua. Entah mengapa tanganku bergerak secara otomatis mengambil smartband ditanganku dan mengaktifkan mode layar terpisah. Menatap layar kaca fleksibel yang bersinar menerangi mataku dengan berbagai macam aplikasi yang hanya kugeser keatas dan kebawah secara cepat, sampai sampai akhirnya tanganku terpeleset dan secara tidak sengaja menggeser layarnya ke arah samping, memunculkan berbagai macam kolom berita yang ada yang akhirnya membuat perhatianku teralihkan dan berusaha membacanya satu persatu.
“Kau tahu bagaimana cara orang itu masih bisa terus ngejar kita semua? apa dia gak punya tulang atau emang makhluk di desain untuk bisa semengerikan itu, melupakan rasa sakit dan terus mengejar targetnya,” gumam Ardi.
“Jujur saja kalau masalah itu saya tidak tahu sama sekali, mungkin aja Brama emang udah siapin itu mahluk pakai semacam obat adrenalin atau semacamnya.”
“Tapi gak logis juga tulang patah kayak begitu masih bisa berlari, bukan?”
“Udah lah jangan dipikirkan lagi, selama kita masih bisa kabur itu udah cukup.”
“Kalau menurutmu Jaya?”
Sontak panggilan itu mengalihkan pandanganku dari setengah perjalanan membacanya sampai akhirnya ku berhenti membaca dan memikirkan kalimat kalimat sebelumnya yang ia maksud. “Ah … kalau itu gua rasa sih mungkin aja regenerasi, tapi mungkin pengaruh obat penghilang rasa sakit juga bisa,” jawabku sambil berusaha kembali mengingat kejadian sebelumnya.
Makhluk itu, maksudku orang itu, apa benar dia bakal membunuh kita semua?. Bola mataku kemudian teralihkan dan sekejap langsung menarik laci mobil, memaparkan sebilah belati besar berwarna hitam legam yang dari benda itu mulai mengeluarkan sedikit bau karat serta bau amis yang pekat darinya. Mengingat si Topeng itu datang tanpa aba aba dan berusaha membunuh kami semua dengan persenjataan yang lengkap. Andai saja mereka menggunakan senjata api, pasti kami semua sudah tamat disana.
Si Brama itu, otak dari segalanya yang entah mengapa harusnya ia memiliki waktu dan kesempatan untuk membunuh kami sebelumnya malah ia sia siakan. Apa yang dipikirkannya selain untuk melakukan “uji coba” yang ia maksud. Saat aku melihatnya pun Ardi tidak bisa merasakan adanya perasaan yang aneh pada dirinya. Benar benar pria yang sangat misterius, bahkan Dito samas ekali tidak bisa mengetahui gerak geriknya dan memaksa kami kabur, entah kemana pengejaran ini akan terus ia lakukan. Namun aku sangat yakin kalau ada sesuatu, sebuah hal yang ia cari dari Dito dan hanya ia bisa dapatkan darinya. Aku yakin ini bukan masalah tanda tangan atau perjanjian omong kosong yang ia pernah katakan sebelumnya.
“Cumang segitu aja?”
“Sebenernya gak sih. Ada yang gua mau tanyain,” ungkapku.
“Yaudah tanya aja.”
“Sebenernya apa yang Brama cari dari lu, Bos? gua yakin bukan masalah uang apalagi bisnis kan?”
Mendengar pertanyaanku itu membuat Dito terkejut dan langsung membuka matanya lebar lebar. “Itu ya … emang bener juga kalau bukan masalah duit apalagi kalau dia mau bikin pasukannya, kenapa gak bikin aja sekarang. Masalahnya saya juga gak tahu apa yang dia cari dari saya,” jelas Dito.
“Yakin?” tanyaku berusaha kembali memastikan jawabannya.
“Ya, kalau saya tahu mah, saya bakal kasih ke dia dan kita semua bakal balik lagi ke masa masa damai, live happily ever after,” pungkasnya dengan kekehan kecilnya diakhir.
Selesai mengikuti ocehan tadi membuatku kembali bisa tenang dan membaca kembali apa yang kulewatkan. Namun mataku dipenuhi dengan rasa geram menatap yang kali ini gangguan itu berasal tepat di layar kacaku. Jajaran iklan yang bertebaran menutupi kolom berita dan memaksaku menekan tombol kembali dan mencari cari bacaan lainnya. Usapan jari yang meninggalkan bekas jejaknya di hangatnya layar sembari membalik satu persatu kolom bacaan menarik lainnya. Tapi tidak sampai sedetik setelahnya ibu jariku dibuat membeku di udara, dengan kerutan dahi yang berusaha memantapkan pandangan membaca sebuah kalimat yang tidak tidak asing dan juga terasa sangat dekat di kepalaku.
Penghuni Rumah Mewah di Jakarta Ditemukan Tewas. Jari jariku mulai bergetar dengan konflik yang yang kini sedang beradu untuk menentukan apakah ini sesuatu yang harus kubaca atau harus kulewatkan. Kemudian dengan sentuhan kecil di jariku menentukan hasilnya dan memaksaku membaca yang satu ini.
Ada firasat buruk yang entah darimana muncul dan tiba tiba datang memasuki pikiranku, membuat getaran di tanganku semakin menjadi jadi. Dengan bibir kering mulutku berusaha mengucapkan apa yang berada di depan bola mataku saat ini.
“Empat orang … tewas … berinisial AGN, JTW, RS, dan RA … diperkirakan … adu mulut … saling cekcok, berkelahi … menggunakan senjata tajam,” ucapku dengan menghembuskan nafas terakhir yang ku bisa keluarkan dari mulut gersang ini. Perlahan kedua tanganku meletakan layar bodoh itu ke atas dashboard mobil sembari menarik kedua jari telunjukku dan pelan pelan menusukannya ke masing tulang pelipis yang hangat ini, menekannya sedikit demi sedikit lalu melakukan gerakan memutar, membiarkan semua darah yang tertahan tadi lewat dan mengalirkan beban itu ke seluruh tubuh dengan seimbang.
“Oh … Siet …”
Diubah oleh amriakhsan 24-03-2023 17:43
simounlebon dan 17 lainnya memberi reputasi
18
7.2K
76
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#32
BAB XII - Kebangkitan
i.
Hawa panas yang sejak tadi mencekikku tidak bosan melakukan hal itu semenjak langkah pertamaku memasuki tempat ini. Rasa sunyi sekaligus tenang entah mengapa tidak memberikanku perasaan nyaman itu dan malah membuatku merinding. Namun dibalik itu semua aku bisa mendengar sekaligus merasakan entah dari Dito ataupun Ardi kalau mereka sekarang sedang bertarung.
Getaran kecil yang menggelitik kakiku serta bunyi dentuman juga dentingan dari senjata mereka yang berselisih tidak bisa membuatku semakin bersemangat dan malah menciutkan nyali ku sendiri. Aku sadar betul kalau levelku tidak berada di tingkat mereka berdua dan juga sejak awal aku sendiri yang malah memberanikan diri untuk maju dan melawan ketakutanku sendiri. Percobaan yang bodoh memang, akan tetapi akan jauh lebih bodoh lagi kalau aku tidak menghadapi hal ini sendiri. Aku tidak akan pernah bisa tidur tenang dengan hantu hantu yang terus menggentayangiku terus menerus.
Dengan pemikiran begitu ku terus saja melangkah mengikuti cat yang cerah menempel di tembok abu abu dan dengan pikiran yang kusut itu pula akhirnya aku sampai di tempat yang menjadi arena milik kami berdua.
Si topeng dengan wajah tertuju ke depan menatapku, bergeser dengan seiringnya langkahku berjalan dan berusaha mencari tempat yang tepat yang akhirnya kuputuskan dengan jarak tiga meter darinya akhirnya langkah yang panjang ini berhenti.
Wajah yang tersembunyi dari balik topeng itu juga tidak tinggal diam. Dari kedua matanya sinar merah mulai terpancar, mengintimidasi secara tidak langsung, membawa ingatan ingatanku akan saat saat lalu melawannya. Namun kali ini berbeda, nasibku berada di tanganku sendiri, kalau memang kekalahan yang menimpaku maka ini mungkin adalah akhir yang aku sendiri inginkan. Tanpa rasa malu aku berani untuk kalah di tangan lawanku sendiri.
Gagang yang berbalut serat fiber yang keras kini sudah di kedua genggaman; erat dan juga sangat kuat hingga membuat tanganku sendiri sakit dengan seluruh otot telapak tanganku yang tertarik. Mata kami saling mengadu pandang, menatap dengan seksama mata merah menyala itu yang kutahu dari dalamnya tidak ada lagi rasa iba serta menahan diri, sama seperti yang ia lakukan pada diriku waktu itu.
Sampai kemudian akhirnya si Topeng memutuskan untuk meladeni diriku. Dari balik punggungnya tangannya meraih sebuah tongkat yang berdiri di belakang kepalanya dan dengan satu bunyi gesekan besi, sebuah katana berayun dengan lihainya di depan badannya yang penuh dengan plat besi.
Kilatan biasan cahaya yang menari seiring berputarnya pedang membentuk angka delapan itu berusaha menakut nakutiku. Sambil tangannya yang licin memainkan serta mengoper gagang pedang dari satu tangan ke tangan yang lain tidak bisa berhenti membuatku semakin bergetar karena aksinya itu. Jujur dia sudah mendapatkan nyaliku, namun belum dengan nyawaku.
Tanpa lama pun akhirnya langkah kaki kami berdua mulai bermain, memutar membuat sebuah lingkaran dari tebalnya pasir serta debu. Mata ku tidak henti hentinya berusaha memikirkan berbagai cara, entah ketika ia akan melompat maju ataupun dengan serudukan atau pula dia akan bermain pelan seperti yang kuharapkan.
Akan tetapi dari semua perkiraan itu aku dikejutkan saat ia tiba tiba saja berhenti, membuatku melakukan respon yang sama, memberikan tampang heran padanya sampai sampai membuatku menggeser kepalaku sendiri. Dari tapak kaki yang berhenti itu pula kemudian dia melangkah pelan maju ke arahku, tanpa ragu sedikitpun langkah pelannya mendekat dan dengan itu pula aku memutuskan untuk mengambil langkah mundur, perlahan namun pasti dengan kecepatan yang sama kini ia mulai mengejarku.
Bunyi deratan besi dari baju pelindung nya kini semakin nyata dan jelas. Kedua tangannya yang terus bermain pedang itu lalu berhenti dengan menggenggamnya dengan kedua tangannya erat erat lalu menaruh gagang pedang itu di depan wajahnya, mengacungkan mata pedangnya ke arahku sambil menambah kecepatan langkahnya.
Aku yang mulai kehilangan keberanian juga mulai menambah jarak langkahku sambil sesekali menengok kebelakang dengan cepat untuk melihat kemana arah diriku berjalan dan kembali lagi menatapnya, memastikan kalau ujung pedangnya itu tidak melesat secara tiba tiba datang menusukku.
Nafasku yang mulai tidak teratur kini semakin kacau, aku sama sekali tidak siap dan dari sebersit pikiran itu mendadak kakiku memutuskan untuk berlari, membalik wajahku kebelakang secara sepenuhnya dan kabur darinya secepatnya.
Tapak sol sepatu yang tebal berderu menghantam lantai dengan keras, menerbangkan segala pasir yang berada diatasnya. Badanku dengan cepat berusaha bermanuver melewati tembok tembok serta pilar yang kapan saja bisa menabrak diriku. Namun yang menakutkan kini telah tiba, sekelebat hitam yang dengan cepat mengejarku bisa kurasakan sedang berada di sekitarku. Aku kehilangan dirinya saat pertama kali mengambil langkah untuk berlari dan dengan struktural lantai yang seperti labirin ini membuatku sulit untuk menerka keberadaan dirinya, bahkan aku sendiri kebingungan dan tidak bisa membedakan dengan suara langkah ku yang menggema atau suara langkah sepatunya. Semuanya analisis itu sudah menjadi bubur yang teraduk di kepalaku ditambah keringat dingin yang mulai mengalir, mataku dengan cepat bergeser kesana kemari mencari sosoknya.
Terlalu fokusnya langkahku untuk kabur sampai sampai aku tidak tahu sudah berada jauh ku berlari berputar. Kedua genggaman golok ku yang mulai longgar kini menjadi pertanda akan batas staminaku yang mulai terkuras. Akan tetapi dengan lelahnya diriku serta dengungan yang mulai Cumiakan telingaku kini membuat situasi menjadi semakin parah.
Nafas yang tidak teratur saat berlari di tengah tebalnya debu membuatku kali ini kehilangan total akan keberadaan si Topeng. Dengan panik mulutku yang terbuka untuk mengambil nafas serta kepala yang tidak henti hentinya menggeleng kesana kemari kini berada di titik mati. Aku tidak bisa pergi atau kabur kemana mana lagi dan yang satu satunya bisa kulakukan hanyalah mengangkat kedua senjataku.
Dari tirai coklat keputih putihan itu aku pun terhenti dan berdiam, dengan seksama melihat sekeliling dengan mataku yang setengah terbuka. Sebuah siluet kemudian nampak terlihat melintas, namun hilang begitu saja ke balik tembok yang kemudian kepalaku mencoba mengikuti arah kemana ia akan kembali muncul namun kali ini siluet itu bergerak dengan sangat cepat ke arah yang lain, membuatku kembali kehilangan jejaknya.
Bibirku yang kering serta mata yang mulai perih kini tidak sanggup lagi untuk terus berjaga dan dengan cepat kupejamkan mataku dan dengan bantuan jari telunjuk kucoba membersihkan mataku dari debu. Dan tiba tiba saja saat jari belum sempat menyentuh mataku siluet itu muncul di depan kepalaku dan kali ini warna hitam darinya menjadi pekat.
Sebuah pedang yang bersinar cerah tiba tiba sana terhunus menembus tebalnya kabut coklat. Dengan menahan rasa perih kemudian kuberusaha melompat ke samping dan dari situ langsung saja ku lancarkan sebuah tebasan yang kuat ke arah perutnya dan berhasil mengenainya. Akan tetapi dengan pelindung yang keras itu berhasil mementalkan senjataku, membuat serangan tersebut sia sia.
Dalam situasi terjepit seperti itu pun dengan nekatnya kakiku yang panas kembali mengambil langkah cepat dan berusaha sekali lagi untuk kabur. Dalam kabut yang tebal itu mataku yang setengah terbuka berusaha berlari di tengah gelapnya situasi.
Pejaman yang dalam namun cepat tidak bisa memuaskan mataku akan butuhnya kelembaban serta batu batu kecil yang menempel membuat keadaan ini semakin parah. Dan yang paling parah dari itu semua adalah ketika secara tiba tiba aku bisa melihat dari depan mataku kalau siluet hitam itu kembali muncul. Akan tetapi sepertinya ia juga kehilangan arah dan membuatnya terlihat tetap berdiri disana.
Tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dalam kaki yang membara serta udara yang kotor, kututup hidung mulutku dengan satu tanganku, kutarik nafas dalam. Mengalirkan seluruh udara yang ada ke semua otot di lenganku, mengisinya dengan oksigen yang kuperas kembali dengan kekuatan tanganku dan secepat kilat senjataku meluncur dengan kuat, saking kuatnya dentuman yang dibuatnya itu bahkan aku bisa merasakan sebuah getaran yang hebat di seluruh badanku serta mengguncangkan bangunan ini.
Dalam gelap seranganku berhasil, bisa kurasakan senjataku menembus benda keras tersebut. Akan tetapi entah mengapa dengan sisa tenagaku aku tidak bisa menariknya kembali, dengan gigi menggeletuk serta pijakan kaki yang kuat kucoba sekali lagi untuk menarik bilah golok dari tubuhnya.
Dua detik berlalu dan mataku kini benar benar terbuka lebar, nafasku terhenti dan tanganku melemas. Sebuah retakan besar muncul dari balik bayang bayang itu, sebuah retakan yang dari pusatnya bisa kulihat hanya sisa gagang senjataku yang menempel di sana. Seranganku tadi menancap tepat di sebuah pilar yang tidak begitu besar berdiri di tempat ini.
Tanganku yang bergetar kemudian pasrah dan melepaskan dirinya dari gagang baja itu. Mataku yang kini mulai meredup kini kembali terpaksa melotot, melihat ke arah depan dan mematung disana. Tubuhku mulai bergetar serta jari jariku yang memerah kini mulai lemas. Dari dadaku mencuat sebuah benda merah yang terlihat sekilas sebersit cahaya darinya. Benda itu semakin memanjang serta mendorong dadaku kedepan dan secara bersamaan aku bisa merasakan ada air yang mengalir dari bibirku. Seketika benda itu lalu menghilang dan akhirnya meninggalkan tubuhku yang lemah untuk berdiri sendiri yang tidak sampai sedetik setelahnya dengan keras tubuhku serta wajahku menghantam lantai, rasa sakit itu serta terasa setrum yang mulai mengalir dan menghilang dari jari jariku menandakan kekalahanku.
simounlebon dan 2 lainnya memberi reputasi
3