- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
ezzasuke dan 123 lainnya memberi reputasi
120
200.9K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#763
Part 104 - Konfrontasi
Sejak gue ngajak Putri ke rumah Bobby dan ketemu temen-temen gue, hubungan gue dengan Putri bisa dibilang jadi semakin deket. Gue sekarang bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Putri tanpa harus mengurangi waktu ngumpul bareng temen-temen gue. Sesekali gue ngajak Putri nongkrong lagi bareng di rumah Bobby, meskipun jumlahnya masih bisa diitung pake jari.
Ga jarang juga kita menghabiskan waktu berdua. Misalnya sebelum Putri bimbel, atau di sela-sela waktu ketika pulang sekolah. Cukup banyak gue menghabiskan waktu hanya berdua dengan Putri, baik itu sekedar makan, atau ngobrol sebentar di depan rumahnya, kita juga pernah nonton bareng, lagi. Waktu itu gue coba ajak dia buat cabut malem minggu, dan ternyata dia mau.
Bersentuhan juga udah ga menjadi canggung lagi bagi kita berdua, paling engga buat gue. Bukan bersentuhan yang gimana-gimana yaaa, cuman sekedar bersentuhan tangan atau Putri yang pegang pinggang gue waktu naik motor. Di luar itu semua, kayaknya cuman ketidaksengajaan.
Kalau kalian bertanya apakah hubungan gue dan Putri kembali seperti dulu waktu kita masih kelas sepuluh, kayaknya engga juga. Waktu kelas sepuluh dulu, Mungkin singkatnya gue dan Putri hanya sekedar temen sekelas yang jadi deket karena karena kebetulan rumah kita satu arah dan tiba-tiba timbul perasaan suka, paling engga buat gue.
Tapi sekarang disebut ‘lebih dari sekedar teman,’ eeemmm, bisa iya, bisa juga engga. Tergantung dari sudut pandang mana kita ngeliatnya. Dibilang pacaran statusnya belum ada, dibilang temen, kita berdua ngabisin waktu berdua lebih dari selayaknya seorang teman beda kelamin. Dibilang friendzone, mungkin, tapi gue lagi berusaha buat ga masuk jurang itu lagi.
Kalau bisa digambarkan secara singkat, bagi gue, kita bukan sekedar teman lagi. Gue sendiri ngerasa hubungan ‘teman’ udah jadi sebuah bentuk yang berubah. Gue menjadi seseorang yang berusaha PDKT dengan perempuan yang gue suka, dan kebetulan perempuan itu adalah orang yang gue atau orang lain bisa anggap sebagai seorang ‘teman’.
Untungnya ‘usaha’ itu disambut baik oleh perempuan yang sedang gue ajak PDKT, setidaknya itu yang bisa gue rasakan. Ga ada penolakan yang terlalu gimana-gimana dari Putri seperti ketika gue ajak jalan atau sekedar chatting, tentunya setelah hubungan kita jadi jauh lebih baik. Kalau dibandingin mantannya yang masih berusaha buat baikan sama dia atau temen cowok bimbelnya yang berusaha ngedeketin dia, setidaknya gue bisa menganggap diri gue berada satu langkah di depan mereka.
Sayangnya sampai sekarang gue belum menemukan alasan yang pas buat menyatakan perasaan gue kepada Putri. Bukan cuman alasan sih, tapi kapan, bagaimana, dan segala pertanyaan 5w1h yang bisa dijabarin gue belum alasan dan kenapanya.
Kalau udah mikirin hal kaya begitu, gue ngerasa kalau gue masih menjadi diri gue yang dulu. Ga ada perubahan yang gue alami. Masih menjadi Treya yang terjebak di dalam posisi zona nyaman yang entah bisa bertahan sampai kapan, entah sampai kapan semua bisa berjalan sesuai yang gue inginkan, sampai akhirnya terjadi sesuatu yang tidak bisa gue perkirakan dan akhirnya gue ga bisa ngapa-ngapain.
*****
Di suatu hari yang biasa di pertengahan semester menjelang pergantian tahun. Hari itu berjalan seperti biasanya, gue jalan dari rumah tepat waktu, jemput Putri tepat waktu, dan sampai sekolah juga tepat waktu. Ga ada hujan yang turun, dan cuaca hari itu terik seperti biasa pas siang. Guru-guru yang ngajar juga tumbel lagi ga ada yang nyebelin dan ngasih banyak PR.
Gue lagi ngelamun di kelas pas jam pelajaran setelah istirahat kedua, sambil berpura-pura ngeliatin papan tulis, padahal otak gue lagi mikirin seberapa lama wajarnya seorang laki-laki menyatakan perasaan ke perempuan yang dia suka setelah menjalani proses PDKT.
Kalau dipikir-pikir, udah jalan beberapa bulan gue deket lagi sama Putri sejak awal semester kelas tiga sebelum bulan puasa. Untuk beberapa orang, atau bahkan kebanyakan, waktu segitu cukup untuk melakukan proses PDKT sebelum akhirnya si cowok menyatakan perasaannya ke si cewek. Paling engga dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat. Enggak gak gitu, maksudnya cerita-cerita anak sekolah seangkatan gue.
Kalau gue menerapkan apa yang gue rasakan sekarang, harusnya gue juga udah nembak Putri. Bahkan kalau pake skenario gue di kelas sepuluh, itu artinya gue PDKT satu tahun lebih. Tapi sayangnya gue ga bertindak apa-apa. Bukannya gak mau, tapi gue juga ga tau. Gue bingung sama diri gue sendiri.
Lagi asik-asik ngelamun tiba-tiba gue kebelet kencing. Emang kursi gue rada di depan ac sih, tapi tumben-tumbenan gue kebelet kencing. Tapi masa kebelet kencing tumben sih. Au amat dah, intinya saat itu juga gue izin ke guru buat ke toilet.
Gue segera keluar dari dalem kelas menuju toilet yang ada di sebelah kantin atas, melewati lorong-lorong sepi tapi terdengar suara guru menjelaskan dari setiap kelas yang gue lewatin.
Kondisi toilet siang itu lagi kosong, begitu juga dengan kantin yang gue lewatin. Gue segera menuju bilik toilet tanpa harus males sebelahan sama orang untuk segera menuntaskan hajat gue, kemudian gue beranjak ke wastafel untuk cuci tangan.
Baru aja gue berdiri di depan cermin di wastafel, belom sempet ngebuka kerannya, tiba-tiba salah satu pintu toilet terbuka seseorang keluar dari sana. Kayaknya abis berak. Ketika gue memperhatikan siapa yang keluar dari pintu toilet dari cermin, ternyata orang itu adalah si Andra. Dia juga menangkap kalau gue memperhatikan dia dari cermin, sesaat kita berdua bertatap-tatapan secara tidak langsung melalui cermin. Sungguh sebuah momen yang awkward.
Andra kemudian berdiri di sebelah gue, kemudian menyalakan kran wastafel buat cuci tangan, dan gue mau tidak mau juga melakukannya karena ga mau berlama-lama dalam situasi ini. Tiba-tiba gue mendengar sebuah suara dari sebelah gue, yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaranya Andra.
“Lo masih berusaha deketin Putri?” Tanya Andra dengan nada suaranya yang khas. Dibanding khas, lebih cocok dibilang songong.
“Maksudnya gimana ya?” Ucap gue ga mengerti maksudnya si tenyom.
“Gue kasih tau aja, gue belum nyerah buat ngerebut apa yang seharusnya milik gue.”
Buset dah, sengaknya bukan main. Gue kira percakapan kaya gini cuman terjadi di film-film. “Sorry, tapi Putri bukan barang yang yang bisa direbut atau dimilikin sama siapa aja.” Entah apa yang membuat gue bisa ngomong kaya gitu, tapi gue ngerasa kesel aja sama omongannya Andra.
Andra kemudian mematikan keran wastafelnya, kemudian berbalik arah. “Lo pegang omongan gue barusan.” Kata dia sebelum pergi meninggalkan gue. Dari cara dia ngomong sih kayaknya serius.
Gue mulai memikirkan apa yang akan terjadi kalau apa yang si Andra omongin beneran kejadian, dan bagaimana kalau itu beneran terjadi. Tapi, lebih dari itu gue merasakan sesuatu yang aneh, tapi apa yaaaa. Anjing, dia abis boker kaga sabunan. Padahal di wastafel ada sabun.
Gue segera kembali ke kelas karena gue udah memakan waktu cukup lama di kamar mandi. Gue berusaha ga memperdulikan apa yang si Andra omongin barusan. Tapi, semakin gue mencoba buat ga peduli, semakin gue mikirin.
Jam terus berlalu sampai akhirnya pulang sekolah. Setelah gue melakukan rutinitas gue, yaitu nganterin Putri ke tempat bimbelnya, gue balik lagi ke rumah Bobby buat nongkrong. Tapi disaat-saat nongkrong pun gue masih terus memikirkan apa yang diomongin sama Andra barusan di kamar mandi.
"Kenapa lo nyet?" Tanya Rico yang lagi ngerokok, kayaknya dia tau gue lagi mikirin sesuatu. Akhirnya gue menceritakan kejadian barusan, dan seketika temen-temen gue yang lain berubah menjadi pendengar setia.
"Seriusan lo Tre?", "Sumpah norak banget anjing.", "Lebay anjing tuh orang." Kira-kira begitulah komentar dari teman-teman gue.
"Terus lo sendiri maunya gimana Tre?" Tanya Rico. Berdeba dengan temen-temen gue yang lain, Rico langsung nanya to the point. Kayaknya dia kesel juga ngeliat gue kaga ada kemajuan.
"Yaaa gue harus gimana nyet?"
"Yaaa lo tembak lah, emang lo nunggu apaan lagi si?"
Mendengar pertanyaan Rico gue langsung terdiam. Gue sama sekali ga tau dari jawaban tersebut, atau mungkin sebenernya jawabannya udah ada, cuman gue ragu untuk mengambil jawaban tersebut.
"Nanti dah gue pikirin lagi." Kata gue akhirnya.
"Serah lo gue mah."
Dan saat malam harinya gue terus berpikir, 'gue harus ngapain.'
Sejak gue ngajak Putri ke rumah Bobby dan ketemu temen-temen gue, hubungan gue dengan Putri bisa dibilang jadi semakin deket. Gue sekarang bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Putri tanpa harus mengurangi waktu ngumpul bareng temen-temen gue. Sesekali gue ngajak Putri nongkrong lagi bareng di rumah Bobby, meskipun jumlahnya masih bisa diitung pake jari.
Ga jarang juga kita menghabiskan waktu berdua. Misalnya sebelum Putri bimbel, atau di sela-sela waktu ketika pulang sekolah. Cukup banyak gue menghabiskan waktu hanya berdua dengan Putri, baik itu sekedar makan, atau ngobrol sebentar di depan rumahnya, kita juga pernah nonton bareng, lagi. Waktu itu gue coba ajak dia buat cabut malem minggu, dan ternyata dia mau.
Bersentuhan juga udah ga menjadi canggung lagi bagi kita berdua, paling engga buat gue. Bukan bersentuhan yang gimana-gimana yaaa, cuman sekedar bersentuhan tangan atau Putri yang pegang pinggang gue waktu naik motor. Di luar itu semua, kayaknya cuman ketidaksengajaan.
Kalau kalian bertanya apakah hubungan gue dan Putri kembali seperti dulu waktu kita masih kelas sepuluh, kayaknya engga juga. Waktu kelas sepuluh dulu, Mungkin singkatnya gue dan Putri hanya sekedar temen sekelas yang jadi deket karena karena kebetulan rumah kita satu arah dan tiba-tiba timbul perasaan suka, paling engga buat gue.
Tapi sekarang disebut ‘lebih dari sekedar teman,’ eeemmm, bisa iya, bisa juga engga. Tergantung dari sudut pandang mana kita ngeliatnya. Dibilang pacaran statusnya belum ada, dibilang temen, kita berdua ngabisin waktu berdua lebih dari selayaknya seorang teman beda kelamin. Dibilang friendzone, mungkin, tapi gue lagi berusaha buat ga masuk jurang itu lagi.
Kalau bisa digambarkan secara singkat, bagi gue, kita bukan sekedar teman lagi. Gue sendiri ngerasa hubungan ‘teman’ udah jadi sebuah bentuk yang berubah. Gue menjadi seseorang yang berusaha PDKT dengan perempuan yang gue suka, dan kebetulan perempuan itu adalah orang yang gue atau orang lain bisa anggap sebagai seorang ‘teman’.
Untungnya ‘usaha’ itu disambut baik oleh perempuan yang sedang gue ajak PDKT, setidaknya itu yang bisa gue rasakan. Ga ada penolakan yang terlalu gimana-gimana dari Putri seperti ketika gue ajak jalan atau sekedar chatting, tentunya setelah hubungan kita jadi jauh lebih baik. Kalau dibandingin mantannya yang masih berusaha buat baikan sama dia atau temen cowok bimbelnya yang berusaha ngedeketin dia, setidaknya gue bisa menganggap diri gue berada satu langkah di depan mereka.
Sayangnya sampai sekarang gue belum menemukan alasan yang pas buat menyatakan perasaan gue kepada Putri. Bukan cuman alasan sih, tapi kapan, bagaimana, dan segala pertanyaan 5w1h yang bisa dijabarin gue belum alasan dan kenapanya.
Kalau udah mikirin hal kaya begitu, gue ngerasa kalau gue masih menjadi diri gue yang dulu. Ga ada perubahan yang gue alami. Masih menjadi Treya yang terjebak di dalam posisi zona nyaman yang entah bisa bertahan sampai kapan, entah sampai kapan semua bisa berjalan sesuai yang gue inginkan, sampai akhirnya terjadi sesuatu yang tidak bisa gue perkirakan dan akhirnya gue ga bisa ngapa-ngapain.
*****
Di suatu hari yang biasa di pertengahan semester menjelang pergantian tahun. Hari itu berjalan seperti biasanya, gue jalan dari rumah tepat waktu, jemput Putri tepat waktu, dan sampai sekolah juga tepat waktu. Ga ada hujan yang turun, dan cuaca hari itu terik seperti biasa pas siang. Guru-guru yang ngajar juga tumbel lagi ga ada yang nyebelin dan ngasih banyak PR.
Gue lagi ngelamun di kelas pas jam pelajaran setelah istirahat kedua, sambil berpura-pura ngeliatin papan tulis, padahal otak gue lagi mikirin seberapa lama wajarnya seorang laki-laki menyatakan perasaan ke perempuan yang dia suka setelah menjalani proses PDKT.
Kalau dipikir-pikir, udah jalan beberapa bulan gue deket lagi sama Putri sejak awal semester kelas tiga sebelum bulan puasa. Untuk beberapa orang, atau bahkan kebanyakan, waktu segitu cukup untuk melakukan proses PDKT sebelum akhirnya si cowok menyatakan perasaannya ke si cewek. Paling engga dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat. Enggak gak gitu, maksudnya cerita-cerita anak sekolah seangkatan gue.
Kalau gue menerapkan apa yang gue rasakan sekarang, harusnya gue juga udah nembak Putri. Bahkan kalau pake skenario gue di kelas sepuluh, itu artinya gue PDKT satu tahun lebih. Tapi sayangnya gue ga bertindak apa-apa. Bukannya gak mau, tapi gue juga ga tau. Gue bingung sama diri gue sendiri.
Lagi asik-asik ngelamun tiba-tiba gue kebelet kencing. Emang kursi gue rada di depan ac sih, tapi tumben-tumbenan gue kebelet kencing. Tapi masa kebelet kencing tumben sih. Au amat dah, intinya saat itu juga gue izin ke guru buat ke toilet.
Gue segera keluar dari dalem kelas menuju toilet yang ada di sebelah kantin atas, melewati lorong-lorong sepi tapi terdengar suara guru menjelaskan dari setiap kelas yang gue lewatin.
Kondisi toilet siang itu lagi kosong, begitu juga dengan kantin yang gue lewatin. Gue segera menuju bilik toilet tanpa harus males sebelahan sama orang untuk segera menuntaskan hajat gue, kemudian gue beranjak ke wastafel untuk cuci tangan.
Baru aja gue berdiri di depan cermin di wastafel, belom sempet ngebuka kerannya, tiba-tiba salah satu pintu toilet terbuka seseorang keluar dari sana. Kayaknya abis berak. Ketika gue memperhatikan siapa yang keluar dari pintu toilet dari cermin, ternyata orang itu adalah si Andra. Dia juga menangkap kalau gue memperhatikan dia dari cermin, sesaat kita berdua bertatap-tatapan secara tidak langsung melalui cermin. Sungguh sebuah momen yang awkward.
Andra kemudian berdiri di sebelah gue, kemudian menyalakan kran wastafel buat cuci tangan, dan gue mau tidak mau juga melakukannya karena ga mau berlama-lama dalam situasi ini. Tiba-tiba gue mendengar sebuah suara dari sebelah gue, yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaranya Andra.
“Lo masih berusaha deketin Putri?” Tanya Andra dengan nada suaranya yang khas. Dibanding khas, lebih cocok dibilang songong.
“Maksudnya gimana ya?” Ucap gue ga mengerti maksudnya si tenyom.
“Gue kasih tau aja, gue belum nyerah buat ngerebut apa yang seharusnya milik gue.”
Buset dah, sengaknya bukan main. Gue kira percakapan kaya gini cuman terjadi di film-film. “Sorry, tapi Putri bukan barang yang yang bisa direbut atau dimilikin sama siapa aja.” Entah apa yang membuat gue bisa ngomong kaya gitu, tapi gue ngerasa kesel aja sama omongannya Andra.
Andra kemudian mematikan keran wastafelnya, kemudian berbalik arah. “Lo pegang omongan gue barusan.” Kata dia sebelum pergi meninggalkan gue. Dari cara dia ngomong sih kayaknya serius.
Gue mulai memikirkan apa yang akan terjadi kalau apa yang si Andra omongin beneran kejadian, dan bagaimana kalau itu beneran terjadi. Tapi, lebih dari itu gue merasakan sesuatu yang aneh, tapi apa yaaaa. Anjing, dia abis boker kaga sabunan. Padahal di wastafel ada sabun.
Gue segera kembali ke kelas karena gue udah memakan waktu cukup lama di kamar mandi. Gue berusaha ga memperdulikan apa yang si Andra omongin barusan. Tapi, semakin gue mencoba buat ga peduli, semakin gue mikirin.
Jam terus berlalu sampai akhirnya pulang sekolah. Setelah gue melakukan rutinitas gue, yaitu nganterin Putri ke tempat bimbelnya, gue balik lagi ke rumah Bobby buat nongkrong. Tapi disaat-saat nongkrong pun gue masih terus memikirkan apa yang diomongin sama Andra barusan di kamar mandi.
"Kenapa lo nyet?" Tanya Rico yang lagi ngerokok, kayaknya dia tau gue lagi mikirin sesuatu. Akhirnya gue menceritakan kejadian barusan, dan seketika temen-temen gue yang lain berubah menjadi pendengar setia.
"Seriusan lo Tre?", "Sumpah norak banget anjing.", "Lebay anjing tuh orang." Kira-kira begitulah komentar dari teman-teman gue.
"Terus lo sendiri maunya gimana Tre?" Tanya Rico. Berdeba dengan temen-temen gue yang lain, Rico langsung nanya to the point. Kayaknya dia kesel juga ngeliat gue kaga ada kemajuan.
"Yaaa gue harus gimana nyet?"
"Yaaa lo tembak lah, emang lo nunggu apaan lagi si?"
Mendengar pertanyaan Rico gue langsung terdiam. Gue sama sekali ga tau dari jawaban tersebut, atau mungkin sebenernya jawabannya udah ada, cuman gue ragu untuk mengambil jawaban tersebut.
"Nanti dah gue pikirin lagi." Kata gue akhirnya.
"Serah lo gue mah."
Dan saat malam harinya gue terus berpikir, 'gue harus ngapain.'
efti108 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup