- Beranda
- Stories from the Heart
It's My (Our) Life
...
TS
akmal162
It's My (Our) Life

Prolog
Life is a choice.
Hidup itu sebenarnya sangat sederhana, tinggal bagaimana kita memilih dan lalu menjalani pilihan tersebut, setidaknya begitulah makna yang ku tangkap dari kata-kata bijak berbahasa inggris yang entah dipopulerkan oleh siapa itu.
Tapi kesederhanaan itu akan sirna dalam sekejap mata ketika kita berhadapan dengan sebuah pilihan, pasalnya dibalik sebuah keputusan yang harus kita pilih, akan ada banyak pertimbangan-pertimbangan akan dampak lain yang akan bermunculan dibalik masing-masing pilihan.
Sederhanya, akan selalu ada resiko yang harus kita terima dari setiap pilihan yang kita ambil, dan tidak heran jika ada banyak sekali manusia yang berhasil dibuat ragu-ragu oleh sebuah resiko.
Dan itu yang terjadi pada ku saat ini, bimbang, ragu-ragu, takut, semua rasa itu benar-benar teraduk-aduk menjadi satu di dalam pikiran dan hati ku.
Tapi aku memiliki keyakinan, sebagai seorang laki-laki yang bertangung jawab, aku tidak akan membiarkan orang-orang disekitar ku terkena dampak dari resiko atas pilihan yang ku ambil, apalagi sampai ikut merasakan semua perasaan itu.
Biar aku saja yang merasakan kebimbangan itu, biar aku saja yang merasakan keraguan itu, biar aku saja yang merasakan ketakutan itu, biar aku saja yang menghadapi semuanya. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa keputusan yang sudah ku ambil adalah keputusan yang tepat, sudah, itu saja, TITIK!
Yap, intinya aku akan menyimpan semuanya sendiri, dan aku juga yang akan menyelesaikan semuanya seorang diri, karena aku ini seorang laki-laki.
Life is a choice.
Hidup itu sebenarnya sangat sederhana, tinggal bagaimana kita memilih dan lalu menjalani pilihan tersebut, setidaknya begitulah makna yang ku tangkap dari kata-kata bijak berbahasa inggris yang entah dipopulerkan oleh siapa itu.
Tapi kesederhanaan itu akan sirna dalam sekejap mata ketika kita berhadapan dengan sebuah pilihan, pasalnya dibalik sebuah keputusan yang harus kita pilih, akan ada banyak pertimbangan-pertimbangan akan dampak lain yang akan bermunculan dibalik masing-masing pilihan.
Sederhanya, akan selalu ada resiko yang harus kita terima dari setiap pilihan yang kita ambil, dan tidak heran jika ada banyak sekali manusia yang berhasil dibuat ragu-ragu oleh sebuah resiko.
Dan itu yang terjadi pada ku saat ini, bimbang, ragu-ragu, takut, semua rasa itu benar-benar teraduk-aduk menjadi satu di dalam pikiran dan hati ku.
Tapi aku memiliki keyakinan, sebagai seorang laki-laki yang bertangung jawab, aku tidak akan membiarkan orang-orang disekitar ku terkena dampak dari resiko atas pilihan yang ku ambil, apalagi sampai ikut merasakan semua perasaan itu.
Biar aku saja yang merasakan kebimbangan itu, biar aku saja yang merasakan keraguan itu, biar aku saja yang merasakan ketakutan itu, biar aku saja yang menghadapi semuanya. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa keputusan yang sudah ku ambil adalah keputusan yang tepat, sudah, itu saja, TITIK!
Yap, intinya aku akan menyimpan semuanya sendiri, dan aku juga yang akan menyelesaikan semuanya seorang diri, karena aku ini seorang laki-laki.
Spoiler for Part 1:
TRIPLE KILL
Jingganya sinar matahari mulai mengganggu perhatian ku terhadap kendaraan yang berseliweran di depan ku.
Sontak saja kelopak mataku berhasil dibuat agak sedikit menyipit olehnya, ditambah lagi asap yang bersumber dari rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk ku, yang juga membuat kedua mata ku semakin perih.
Oleh karena itu akupun mulai kembali tersadar dari lamunan ku, kini perhatian ku tertuju kepada sebatang rokok yang sudah hampir 5 menit tidak menyentuh bibir ku sama sekali. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku pun langsung menjatuhkan tumpukan abu yang masih bertengger dengan santainya di rokok ku.
Karena tidak ingin uang yang terbuang sia-sia semakin banyak, aku pun memutuskan untuk segera menghisapnya. Sambil menghembuskan asap rokok dengan santai, aku mengangkat sebelah tangan ku untuk melihat jam tangan yang melingkar di atasnya.
Jarum pendek yang sudah menunjuk ke arah angka 4 berhasil membuat ku menghembuskan nafas sekasar-kasarnya, aku pun kembali menghisap rokok ku sembari menekan touchpad laptop ku, dan pemandangan yang tersaji di laptop ku kali ini berhasil membuat ku berdecak kesal.
"Hadeeeh.... Dari jam 12 nongkrong disini cuman dapet 2 adegan" Batin ku sembari mengusap-usap rambut ku dengan kasar.
Stuck, entah kenapa semakin kesini ide-ide yang biasanya mengalir begitu saja dari kepala ku semakin sedikit. Padahal pada saat awal aku memulai tulisan ini semua cerita seolah-olah sudah benar-benar tergambar dengan jelas mulai awal hingga akhir.
Mungkin ini memang salah ku yang menganggap ide-ide itu akan terus menempel di kepala, ditambah lagi dengan mood ku yang sedang buruk karena harus datang ke pabrik hari sabtu kemaren, sehingga satu hari yang menjadi kesempatan ku untuk melanjutkan project pribadi ku ini hilang.
Memang sih aku mendapatkan bayaran untuk itu, tapi aku tetap merasa bahwa hari libur dan waktu luang ku lebih berharga jika dibandingkan dengan uang 450 ribu yang ku dapat.
Setelah menghembuskan nafas panjang, aku kembali menghisap rokok ku untuk meminimalisir perasaan kesal yang menyeruak di kepala ku saat ini. Setelah menghembuskan asap rokok, aku memgambil segelas kopi yang terletak di samping laptop ku, lalu meminum kopi yang tersisa sampai benar-benar habis bis bis.
Agar perasaan ku lebih tenang lagi, aku pun memutuskan untuk menyenderkan tubuh ku di dinding kursi sembari menghabiskan rokok ku yang filternya sudah hampir tersentuh oleh api sembari menikmati angin sore yang kini sudah mulai menerpa tubuh ku.
Ting
Baru saja beberapa menit, santai ku sudah terganggu lagi dengan suara notif WA yang berasal dari HP ku, karena ada sedikit rasa penasaran, tangan ku pun mulai bergerak meraih HP yang tergeletak di samping laptop untuk melihat siapa yang baru saja mengirim pesan kepada ku.
Dan ternyata aku baru saja mengambil keputusan yang salah.
"Adit, kirimin PPT perencanaan routine maintenence yang saya tugasin ke kamu minggu lalu"
Yap, double kill, hari minggu hampir berakhir, hari senin pun sudah menanti, perasaan kesal ini belum beberakhir, sudah datang masalah baru lagi.
Sontak saja pesan itu berhasil membuat ku geram segeram-geramnya, setelah menekan puntung rokok kencang-kencang ke dalam asbak, aku langsung berteriak kecil sembari menutupi wajah ku dengan kedua tangan, tidak lupa aku menggerakan kaki ku untuk menendang kaki meja yang berada di depan ku berkali-kali.
Suara nafas memburu yang masih memenuhi telinga ku membuat ku tidak lagi fokus dengan keadaan sekitar, aku pun mulai menurunkan kedua tangan ku dari wajah ku secara perlahan.
Deg....
Seketika saja aku langsung tersadar setelah mendapati pemandangan kendaraan yang sedang berlalu lalang di hadapan ku. Dengan gerakan yang agak sedikit hati-hati, mata ku mulai melirik ke arah kanan dan ke arah belakang.
Dan ternyata dugaan ku benar, kini seluruh pengunjung cafe mulai melemparkan tatapan aneh mereka ke arah ku.
"Ekhem.... Ekhem...."
Sontak saja aku langsung berdehem sekencang-kencangnya sembari memasang wajah sok cool untuk menyembunyikan perasaan malu yang mulai menguasai diri ku.
Karena masih penasaran dengan reaksi mereka, aku mulai kembali curi-curi pandang ke arah pengunjung cafe yang lain, aku perhatikan ke arah kanan, sekumpulan anak muda itu mulai kembali asyik dengan obrolannya, begitu juga dengan ciwi-ciwi yang duduk di belakang ku.
Dan saat bola mata ku mulai bergerak ke arah kiri, aku melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat ku. Karena aku sedang duduk, aku hanya bisa melihat kaki jenjangnya yang dilapisi oleh celana panjang hitam saja, sepertinya dia seorang perempuan. Bola mata ku pun mulai bergerak ke arah atas untuk mengetahui siapa orang itu dan apa maksud kehadirannya di dekat ku.
Saat bola mata ku bergerak semakin ke atas, pandangan ku mulai melihat kedua tangan putih mulus yang sedang memegang sebuah nampan. Dan, saat aku baru akan mendongakan lagi kepala ku ke atas....
"Kak adit...."
"Weh...."
"Aaaaaaaaaa...."
PRAAAAAAAANNNNNNNNGGGGGGG
Yap, triple kill
Sontak saja nampan yang dibawa oleh perempuan itu terjatuh ke lantai dan membuat gelas-gelas kaca yang ada di atasnya pecah berkeping-keping.
Bukannya bertambah baik, keadaan malah semakin terasa akward karena aku berhasil membuat perhatian seluruh pengunjung cafe tertuju kembali ke arah ku.
Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu, kini aku lebih fokus untuk membantu caca membereskan pecahan gelas-gelas yang dijatuhkannya ke atas nampan.
Perasaan tidak enak yang mulai muncul membuat mataku bergerak untuk mencuri pandang ke arah caca yang sedang mengambil serpihan-serpihan gelas pecah itu dengan wajah panik. Sesekali iya menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga untuk memudahkan pengerjaannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, serpihan gelas kaca tersebut sudah hampir seluruhnya terkumpul di atas nampan, karena tidak ingin membuang-buang waktu, caca mengangkat dan meletakan nampan tersebut ke atas meja dengan gerakan cepat.
"E e eh.... Ca...."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku, caca langsung berlalu dari hadapan ku untuk masuk ke dalam cafe. Tidak lama setelah caca masuk, dia kembali menghampiri ku dengan sebatang sapu dan sebuah serok yang berada di kedua tangannya.
Dengan gerakan cepat dia mulai menyapu serpihan-serpihan kaca yang masih tersisa ke daam serok.
"Ca.... Gua...."
Lagi-lagi, belum sempat aku mengucapkan permintaan maaf chacha kembali berlalu dengan langkah cepat menuju ke arah tong sampah yang berada di ujung ruangan, lalu menuangkan seluruh isi serok yang ada di tangannya ke dalam tong tersebut.
Setelah itu caca kembali memasuki ruangan cafe. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas dia kembali lagi ke arah meja ku dengan gerakan cepat.
Selama caca melangkah ke arah ku, entah kenapa dia sama sekali tidak mau membalas tatapan ku.
Hal itu membuat rasa bersalah ku semakin besar, apalagi setelah melihat bulir air yang mengumpul di kedua kelopak matanya.
Sadar dengan hal itu, dia langsung cepat-cepat mengusap kedua matanya dengan dengan punggung tangan sesampainya di meja ku, lalu mengmbil nampan yang berisi gelas-gelas pecah tersebut untuk masuk ke dalam cafe bersamanya.
Aku hanya bisa meneguk ludah setelah melihat kondisi caca tadi, apa lagi setelah aku melihat arman yang sudah siap-siap menyambut chcha dengan wajah gusar di balik meja kasir dari jendela cafe.
Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung mengikuti caca masuk ke dalam cafe dengan gerakan cepat. Caca yang sudah menyadari keberadaan Arman langsung memelankan langkah kakinya sembari menundukan wajahnya.
"Ca... Udah berapa kali...." Ucap arman dengan nada yang agak sedikit tinggi.
"Man, santai man santai" Sela ku sebelum arman melanjutkan kalimatnya.
"Eh.... Dit, sorry ya, padahal nih anak udah...."
"Enggak kok man, gua yang bikin caca jatohin gelas tadi, dia nggak salah kok"
"Tapi dit, dia udah berapa kali kayak...."
"Kagak man, serius, tadi emang salah gua, dia tadi kaget gara-gara gua"
"Tapi dit...."
"Udah lah man, santai, gua ganti kok, tenang aja"
"Bukan masalah itu dit, tapi...."
"Eeeee...., st st st st...." Aku kembali memotong kalimat arman untuk yang kesekian kalinya sembari merogoh dompet ku untuk mengambil 2 lembar uang 100 ribuan di dalamnya, lalu menarik tangan arman dan meletakan uang tersebut di atasnya.
"Eh...., enggak dit, gak usah, nyante aja kali, kayak sama siapa aja lu"
"Udah man.... Emang tadi itu yang salah gua man, biar gimana pun tetep wajib gua ganti lah"
"Yaelah dit.... Jadi gak enak gua"
"Yeeee.... Lu yang bilang kayak sama siapa aja tadi, lu sendiri juga, kayak sama siapa aja, udah, terima aja, hak lu itu"
"Iya dit iya, thank you ya, sorry banget nih, dari kemaren emang agak aneh...."
"Eh, shiftnya caca udah selesai kan man?" Untuk kesekian kalinya aku memotong kalimat yang keluar dari mulut arman sembari menunjukan jam tangan yang melingkar di tanagan ku.
"Iya sih dit...., itu si ayu juga udah dateng"
"Yaudah kalo gitu, ca.... Ambil tas sana, balik bareng gua aja"
Caca hanya mengangguk kecil dengan wajah yang sedari tadi belum terangkat sembari melangkah ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di belakang meja kasir.
Sambil menunggu caca kembali, aku langsung bergegas membereskan barang-barang yang masih berada di meja tempat aku duduk tadi, lalu kembali menghampiri arman untuk mengajaknya berbincang-bincang agar pikirannya dapat teralih dari kejadian tadi.
Tidak lama setelah itu, caca yang saat ini sudah melapisi seragamnya dengan cardigan hijau kembali menuju ke arah kami dengan langkah pelan dan kepala yang terus ditundukan.
"Nah.... Udah balik tuh anaknya, gua balik dulu ya man, minggu depan gua kesini lagi, kayak biasa"
Aku sengaja mengucapkan kalimat tersebut agar aku dapat segera membawa chcha segera keluar dari cafe ini dan terhindar dari amukan bosnya.
Bukan apa-apa, pasalnya beberapa minggu ini aku sering kali melihat caca melakukan berbagai macam kesalahan, lupa ngasih struk lah, lupa setel musik lah, salah bikin pesanan lah. Aku hanya khawatir akan terjadi apa-apa dengan pekerjaannya setelah kejadian tadi, kalau tidak bekerja di tempat ini, chacha pasti akan sangat kebingungan untuk membayar uang kuliahnya.
Sambil berjalan menuju ke arah motor ku, aku mulai mencuri-curi pandang ke arah caca yang masih saja diam sembari menundukan kepalanya, perasaan bersalah kembali menyeruak di kepala ku setelah melihat wajah sedihnya.
Entah lah, aku juga tidak tahu apa yang sedang dia alami saat ini sehingga membuat pekerjaannya agak berantakan.
"Eng.... Ca.... Sorry ya"
Dia langsung menarik nafas panjang setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut ku, lalu menghembuskannya secara perlahan sembari membalas tatapan ku. Seutas senyuman mulai menghiasi wajahnya.
"Yaudah kak, lupain aja, sorry juga buat yang tadi"
"Lah, kok jadi lu yang minta maaf cha?"
"Ehehe.... Enggak papa kok kak, udah lah, lupain aja" Balas nya sembari membuang pandangannya dari wajah ku tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya. Tapi masih dengan tatapan mata yang agak sedikit kosong.
"Btw lu kayaknya lagi banyak pikiran akhir-akhir ini ca, ada masalah apa sih?" Tanya ku yang masih penasaran dengan apa yang terjadi pada caca.
Caca kembali menoleh ke arah ku dengan gerakan cepat sembari melemparkan tatapan aneh.
"Dih... Gak kebalik kak? Harusnya gua yang nanya gitu ke kakak, kenapa coba tadi kakak marah-marah sendiri sampe nendang-nendang meja begitu? Udah kayak orang setress aja!" Ujar caca dengan nada yang agak sedikit nge-gas.
"Ehehehe.... Kalau masalah ku sih udah jelas ca, besok kan udah senin lagi"
"Yaelah.... Cuman begitu doang, kirain apaan" Ujar chacha sembari mengerling malas dan membuang pandangannya dari wajah ku.
Sementara itu aku hanya membalasnya dengan sebuah kekehan kecil. Tidak lama setelah itu aku dan caca sudah berada di dekat motor ku yang sedang terparkir.
Tanpa banyak bicara lagi aku langsung menunggangi motor ku, menyelipkan helm yang awalnya tergantung di kaca sepion ke bawah jok sepeda motor bagian depan ku, lalu memundurkan motor ku dengan kaki.
"Ayo naik ca" Perintah ku tanpa menoleh ke arahnya.
Tanpa basa-basi dia pun langsung naik ke atas jok motor ku. Setelah merasa caca sudah nyaman dengan posisi duduknya, aku pun langsung melajukan motor ku untuk pergi meninggalkan cafe ini.
Jingganya sinar matahari mulai mengganggu perhatian ku terhadap kendaraan yang berseliweran di depan ku.
Sontak saja kelopak mataku berhasil dibuat agak sedikit menyipit olehnya, ditambah lagi asap yang bersumber dari rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk ku, yang juga membuat kedua mata ku semakin perih.
Oleh karena itu akupun mulai kembali tersadar dari lamunan ku, kini perhatian ku tertuju kepada sebatang rokok yang sudah hampir 5 menit tidak menyentuh bibir ku sama sekali. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku pun langsung menjatuhkan tumpukan abu yang masih bertengger dengan santainya di rokok ku.
Karena tidak ingin uang yang terbuang sia-sia semakin banyak, aku pun memutuskan untuk segera menghisapnya. Sambil menghembuskan asap rokok dengan santai, aku mengangkat sebelah tangan ku untuk melihat jam tangan yang melingkar di atasnya.
Jarum pendek yang sudah menunjuk ke arah angka 4 berhasil membuat ku menghembuskan nafas sekasar-kasarnya, aku pun kembali menghisap rokok ku sembari menekan touchpad laptop ku, dan pemandangan yang tersaji di laptop ku kali ini berhasil membuat ku berdecak kesal.
"Hadeeeh.... Dari jam 12 nongkrong disini cuman dapet 2 adegan" Batin ku sembari mengusap-usap rambut ku dengan kasar.
Stuck, entah kenapa semakin kesini ide-ide yang biasanya mengalir begitu saja dari kepala ku semakin sedikit. Padahal pada saat awal aku memulai tulisan ini semua cerita seolah-olah sudah benar-benar tergambar dengan jelas mulai awal hingga akhir.
Mungkin ini memang salah ku yang menganggap ide-ide itu akan terus menempel di kepala, ditambah lagi dengan mood ku yang sedang buruk karena harus datang ke pabrik hari sabtu kemaren, sehingga satu hari yang menjadi kesempatan ku untuk melanjutkan project pribadi ku ini hilang.
Memang sih aku mendapatkan bayaran untuk itu, tapi aku tetap merasa bahwa hari libur dan waktu luang ku lebih berharga jika dibandingkan dengan uang 450 ribu yang ku dapat.
Setelah menghembuskan nafas panjang, aku kembali menghisap rokok ku untuk meminimalisir perasaan kesal yang menyeruak di kepala ku saat ini. Setelah menghembuskan asap rokok, aku memgambil segelas kopi yang terletak di samping laptop ku, lalu meminum kopi yang tersisa sampai benar-benar habis bis bis.
Agar perasaan ku lebih tenang lagi, aku pun memutuskan untuk menyenderkan tubuh ku di dinding kursi sembari menghabiskan rokok ku yang filternya sudah hampir tersentuh oleh api sembari menikmati angin sore yang kini sudah mulai menerpa tubuh ku.
Ting
Baru saja beberapa menit, santai ku sudah terganggu lagi dengan suara notif WA yang berasal dari HP ku, karena ada sedikit rasa penasaran, tangan ku pun mulai bergerak meraih HP yang tergeletak di samping laptop untuk melihat siapa yang baru saja mengirim pesan kepada ku.
Dan ternyata aku baru saja mengambil keputusan yang salah.
"Adit, kirimin PPT perencanaan routine maintenence yang saya tugasin ke kamu minggu lalu"
Yap, double kill, hari minggu hampir berakhir, hari senin pun sudah menanti, perasaan kesal ini belum beberakhir, sudah datang masalah baru lagi.
Sontak saja pesan itu berhasil membuat ku geram segeram-geramnya, setelah menekan puntung rokok kencang-kencang ke dalam asbak, aku langsung berteriak kecil sembari menutupi wajah ku dengan kedua tangan, tidak lupa aku menggerakan kaki ku untuk menendang kaki meja yang berada di depan ku berkali-kali.
Suara nafas memburu yang masih memenuhi telinga ku membuat ku tidak lagi fokus dengan keadaan sekitar, aku pun mulai menurunkan kedua tangan ku dari wajah ku secara perlahan.
Deg....
Seketika saja aku langsung tersadar setelah mendapati pemandangan kendaraan yang sedang berlalu lalang di hadapan ku. Dengan gerakan yang agak sedikit hati-hati, mata ku mulai melirik ke arah kanan dan ke arah belakang.
Dan ternyata dugaan ku benar, kini seluruh pengunjung cafe mulai melemparkan tatapan aneh mereka ke arah ku.
"Ekhem.... Ekhem...."
Sontak saja aku langsung berdehem sekencang-kencangnya sembari memasang wajah sok cool untuk menyembunyikan perasaan malu yang mulai menguasai diri ku.
Karena masih penasaran dengan reaksi mereka, aku mulai kembali curi-curi pandang ke arah pengunjung cafe yang lain, aku perhatikan ke arah kanan, sekumpulan anak muda itu mulai kembali asyik dengan obrolannya, begitu juga dengan ciwi-ciwi yang duduk di belakang ku.
Dan saat bola mata ku mulai bergerak ke arah kiri, aku melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat ku. Karena aku sedang duduk, aku hanya bisa melihat kaki jenjangnya yang dilapisi oleh celana panjang hitam saja, sepertinya dia seorang perempuan. Bola mata ku pun mulai bergerak ke arah atas untuk mengetahui siapa orang itu dan apa maksud kehadirannya di dekat ku.
Saat bola mata ku bergerak semakin ke atas, pandangan ku mulai melihat kedua tangan putih mulus yang sedang memegang sebuah nampan. Dan, saat aku baru akan mendongakan lagi kepala ku ke atas....
"Kak adit...."
"Weh...."
"Aaaaaaaaaa...."
PRAAAAAAAANNNNNNNNGGGGGGG
Yap, triple kill
Sontak saja nampan yang dibawa oleh perempuan itu terjatuh ke lantai dan membuat gelas-gelas kaca yang ada di atasnya pecah berkeping-keping.
Bukannya bertambah baik, keadaan malah semakin terasa akward karena aku berhasil membuat perhatian seluruh pengunjung cafe tertuju kembali ke arah ku.
Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu, kini aku lebih fokus untuk membantu caca membereskan pecahan gelas-gelas yang dijatuhkannya ke atas nampan.
Perasaan tidak enak yang mulai muncul membuat mataku bergerak untuk mencuri pandang ke arah caca yang sedang mengambil serpihan-serpihan gelas pecah itu dengan wajah panik. Sesekali iya menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga untuk memudahkan pengerjaannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, serpihan gelas kaca tersebut sudah hampir seluruhnya terkumpul di atas nampan, karena tidak ingin membuang-buang waktu, caca mengangkat dan meletakan nampan tersebut ke atas meja dengan gerakan cepat.
"E e eh.... Ca...."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku, caca langsung berlalu dari hadapan ku untuk masuk ke dalam cafe. Tidak lama setelah caca masuk, dia kembali menghampiri ku dengan sebatang sapu dan sebuah serok yang berada di kedua tangannya.
Dengan gerakan cepat dia mulai menyapu serpihan-serpihan kaca yang masih tersisa ke daam serok.
"Ca.... Gua...."
Lagi-lagi, belum sempat aku mengucapkan permintaan maaf chacha kembali berlalu dengan langkah cepat menuju ke arah tong sampah yang berada di ujung ruangan, lalu menuangkan seluruh isi serok yang ada di tangannya ke dalam tong tersebut.
Setelah itu caca kembali memasuki ruangan cafe. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas dia kembali lagi ke arah meja ku dengan gerakan cepat.
Selama caca melangkah ke arah ku, entah kenapa dia sama sekali tidak mau membalas tatapan ku.
Hal itu membuat rasa bersalah ku semakin besar, apalagi setelah melihat bulir air yang mengumpul di kedua kelopak matanya.
Sadar dengan hal itu, dia langsung cepat-cepat mengusap kedua matanya dengan dengan punggung tangan sesampainya di meja ku, lalu mengmbil nampan yang berisi gelas-gelas pecah tersebut untuk masuk ke dalam cafe bersamanya.
Aku hanya bisa meneguk ludah setelah melihat kondisi caca tadi, apa lagi setelah aku melihat arman yang sudah siap-siap menyambut chcha dengan wajah gusar di balik meja kasir dari jendela cafe.
Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung mengikuti caca masuk ke dalam cafe dengan gerakan cepat. Caca yang sudah menyadari keberadaan Arman langsung memelankan langkah kakinya sembari menundukan wajahnya.
"Ca... Udah berapa kali...." Ucap arman dengan nada yang agak sedikit tinggi.
"Man, santai man santai" Sela ku sebelum arman melanjutkan kalimatnya.
"Eh.... Dit, sorry ya, padahal nih anak udah...."
"Enggak kok man, gua yang bikin caca jatohin gelas tadi, dia nggak salah kok"
"Tapi dit, dia udah berapa kali kayak...."
"Kagak man, serius, tadi emang salah gua, dia tadi kaget gara-gara gua"
"Tapi dit...."
"Udah lah man, santai, gua ganti kok, tenang aja"
"Bukan masalah itu dit, tapi...."
"Eeeee...., st st st st...." Aku kembali memotong kalimat arman untuk yang kesekian kalinya sembari merogoh dompet ku untuk mengambil 2 lembar uang 100 ribuan di dalamnya, lalu menarik tangan arman dan meletakan uang tersebut di atasnya.
"Eh...., enggak dit, gak usah, nyante aja kali, kayak sama siapa aja lu"
"Udah man.... Emang tadi itu yang salah gua man, biar gimana pun tetep wajib gua ganti lah"
"Yaelah dit.... Jadi gak enak gua"
"Yeeee.... Lu yang bilang kayak sama siapa aja tadi, lu sendiri juga, kayak sama siapa aja, udah, terima aja, hak lu itu"
"Iya dit iya, thank you ya, sorry banget nih, dari kemaren emang agak aneh...."
"Eh, shiftnya caca udah selesai kan man?" Untuk kesekian kalinya aku memotong kalimat yang keluar dari mulut arman sembari menunjukan jam tangan yang melingkar di tanagan ku.
"Iya sih dit...., itu si ayu juga udah dateng"
"Yaudah kalo gitu, ca.... Ambil tas sana, balik bareng gua aja"
Caca hanya mengangguk kecil dengan wajah yang sedari tadi belum terangkat sembari melangkah ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di belakang meja kasir.
Sambil menunggu caca kembali, aku langsung bergegas membereskan barang-barang yang masih berada di meja tempat aku duduk tadi, lalu kembali menghampiri arman untuk mengajaknya berbincang-bincang agar pikirannya dapat teralih dari kejadian tadi.
Tidak lama setelah itu, caca yang saat ini sudah melapisi seragamnya dengan cardigan hijau kembali menuju ke arah kami dengan langkah pelan dan kepala yang terus ditundukan.
"Nah.... Udah balik tuh anaknya, gua balik dulu ya man, minggu depan gua kesini lagi, kayak biasa"
Aku sengaja mengucapkan kalimat tersebut agar aku dapat segera membawa chcha segera keluar dari cafe ini dan terhindar dari amukan bosnya.
Bukan apa-apa, pasalnya beberapa minggu ini aku sering kali melihat caca melakukan berbagai macam kesalahan, lupa ngasih struk lah, lupa setel musik lah, salah bikin pesanan lah. Aku hanya khawatir akan terjadi apa-apa dengan pekerjaannya setelah kejadian tadi, kalau tidak bekerja di tempat ini, chacha pasti akan sangat kebingungan untuk membayar uang kuliahnya.
Sambil berjalan menuju ke arah motor ku, aku mulai mencuri-curi pandang ke arah caca yang masih saja diam sembari menundukan kepalanya, perasaan bersalah kembali menyeruak di kepala ku setelah melihat wajah sedihnya.
Entah lah, aku juga tidak tahu apa yang sedang dia alami saat ini sehingga membuat pekerjaannya agak berantakan.
"Eng.... Ca.... Sorry ya"
Dia langsung menarik nafas panjang setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut ku, lalu menghembuskannya secara perlahan sembari membalas tatapan ku. Seutas senyuman mulai menghiasi wajahnya.
"Yaudah kak, lupain aja, sorry juga buat yang tadi"
"Lah, kok jadi lu yang minta maaf cha?"
"Ehehe.... Enggak papa kok kak, udah lah, lupain aja" Balas nya sembari membuang pandangannya dari wajah ku tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya. Tapi masih dengan tatapan mata yang agak sedikit kosong.
"Btw lu kayaknya lagi banyak pikiran akhir-akhir ini ca, ada masalah apa sih?" Tanya ku yang masih penasaran dengan apa yang terjadi pada caca.
Caca kembali menoleh ke arah ku dengan gerakan cepat sembari melemparkan tatapan aneh.
"Dih... Gak kebalik kak? Harusnya gua yang nanya gitu ke kakak, kenapa coba tadi kakak marah-marah sendiri sampe nendang-nendang meja begitu? Udah kayak orang setress aja!" Ujar caca dengan nada yang agak sedikit nge-gas.
"Ehehehe.... Kalau masalah ku sih udah jelas ca, besok kan udah senin lagi"
"Yaelah.... Cuman begitu doang, kirain apaan" Ujar chacha sembari mengerling malas dan membuang pandangannya dari wajah ku.
Sementara itu aku hanya membalasnya dengan sebuah kekehan kecil. Tidak lama setelah itu aku dan caca sudah berada di dekat motor ku yang sedang terparkir.
Tanpa banyak bicara lagi aku langsung menunggangi motor ku, menyelipkan helm yang awalnya tergantung di kaca sepion ke bawah jok sepeda motor bagian depan ku, lalu memundurkan motor ku dengan kaki.
"Ayo naik ca" Perintah ku tanpa menoleh ke arahnya.
Tanpa basa-basi dia pun langsung naik ke atas jok motor ku. Setelah merasa caca sudah nyaman dengan posisi duduknya, aku pun langsung melajukan motor ku untuk pergi meninggalkan cafe ini.
Spoiler for Index:
Diubah oleh akmal162 26-05-2021 17:11
khalidki dan 13 lainnya memberi reputasi
14
3.2K
Kutip
15
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#8
Spoiler for PART 9:
SUUDZON
Ting....
"Dah bangun yang? Lagi dimana?"
"Lagi diluar yang"
Ting....
"Ngapain?"
"Biasa yang, jadwal ngelamun ku tiap sabtu minggu"
Ting....
"Di cafenya arman ya?"
Aku pun segera mengirimkan lokasi ku kepada risa setelah membaca chat yang baru saja dikirimnya.
"Enggak kok yang, aku di cafe lain, kamu cek aja sendiri"
Ting....
"Fake location paling tuh
"
Aku langsung mengambil foto keadaan sekitar tepat di bagian diding yang bertuliskan nama dari cafe tempat ku menulis siang ini dan mengirimkannya kepada risa untuk membuktikan ucapan ku.
"Stock foto lama kali tuh 🤔"
Aku hanya bisa menghela nafas panjang setelah melihat respon risa dari bukti-bukti yang ku berikan. Karena tidak ingin memperpanjang masalah kemaren malam aku memilih untuk melakukan panggilan video dengan risa.
Ting tung ting tung ting tung....
Tut....
Pada saat aku akan memberikan bukti yang valid risa malah menolak panggilan video dari ku.
Ting....
"Hehe, becanda yang, aku percaya kok, yang penting jangan lupa sama acara kita besok ya"
Ting....
"Enjoy your time honey🥰"
Aku langsung tersenyum lega setelah melihat pesan yang baru saja dikirimkan oleh risa.
"Okey 😘"
Karena tidak ingin waktu yang terbuang semakin banyak aku memilih untuk melanjutkan kembali pekerjaan ku. Karena mungkin hari ini mood ku sedang lumayan bagus, progres yang berhasil ku selesaikan untuk projek pribadi ku ini lumayan banyak, ide-ide mengalir begitu saja dari kepala ku, tangan ku terus menerus menari tanpa henti di atas keyboard laptop.
Saking asyiknya aku sampai benar-benar lupa waktu. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, karena merasa sudah cukup untuk hari ini aku memilih untuk bersantai sembari merokok dan memperhatikan keadaan sekitar cafe sore ini. Mungkin saja ada sesuatu yang menarik seperti kemaren bukan?
Ting....
Aku langsung menyalakan HP ku untuk melihat siapa yang baru saja mengirimkan ku sebuah pesan. Sembari memasukan kode password HP ku, aku juga mulai menerka-nerka siapa si pengirim pesan barusan, risa menjadi salah satu nama yang terlintas di pikiran ku saat ini.
"Kak, hari ini lembur ya?"
Ternyata dugaan ku salah, yang baru saja mengirim pesan kepada ku adalah caca, tentu hal itu membuat ku merasa agak sedikit aneh, apa gara-gara hari ini aku tidak berkunjung kesana ya? Ah, tidak juga, biasanya meskipun aku tidak berkunjung ke cafe arman di hari sabtu atau minggu karena dapat jadwal lembur, caca tidak pernah mencari ku. Walau pun kami baru saja bertukar nomor HP selasa kemaren, bisa saja kan dia menghubungi ku lewat IG.
"Enggak ca, kenapa?"
Ting....
"Kok gak ke cafe kak?"
"Ya lagi gak pengen aja sih ca"
"Cie, ada yang kangen nih ye
"
Ting....
"Kalau besok lu ke cafe gak kak?"
Sambil terus menerka-nerka kenapa caca mencari ku hari ini, aku memilih untuk mengirimkan pesan balasan kepadanya.
"Minggu ini kayaknya enggak dulu ca, ada acara sama risa kalo besok"
Ting....
"Kalau sekarang lu lagi sibuk gak kak?"
"Enggak kok ca? Kenapa?"
Ting....
"Lu sekarang dimana kak? Ada yang perlu gue omongin" Balas caca selang beberapa detik setelah aku mengirimkan pesan balasan kepadanya.
Sontak saja aku semakin merasa heran dengan caca yang tiba-tiba menanyakan keberadaan ku, apalagi setelah aku tahu kalau ada sesuatu yang ingin caca bicarakan dengan ku. Perasaan aku dan caca tidak punya urusan penting sama sekali
"Gue di kopi xxxx ca"
Ting....
"Dimana tuh kak?"
"Seberang perempatan mall xxxxx, samping bank xxx ca"
"Emang kenapa ca? Kangen ya?"
Sambil terus bertanya-tanya dalam hati aku kembali membalas pesan dari caca.
Ting....
"Otw kak"
Perasaan heran ku semakin menjadi-jadi setelah caca berkata bahwa dia benar-benar akan menemui ku sore ini.
"Serius ca?"
"Naik apaan lu?"
"Ca"
"P"
"P"
Begitu lah kira-kira isi pesan-pesan ku yang sudah tidak dibaca atau pun dibalas lagi oleh caca, mungkin caca benar-benar serius dengan apa yang dia ucapkan tadi dan sedang menempuh perjalanan untuk menuju ke tempat ku saat ini. Sempat muncul sedikit perasaan GR di dalam pikiran ku.
"Apa mungkin caca mulai suka sama gua ya?" Gumam ku dalam hati.
Tapi tentu saja aku langsung menepis pikiran konyol itu jauh-jauh karena merasa risih dengan perasaan GR ku.
Karena merasa pikiran ku sudah buntu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sedang berputar di kepala ku dengan logis, aku pun memilih untuk menunggu caca datang agar aku dapat mengetahui jawaban pastinya sembari melanjutkan kegiatan ku sebelumnya.
Tidak sampai 15 menit aku menunggu, aku sudah melihat seorang wanita berambut hitam dengan cardigan hijau yang menutupi seragam hitamnya sedang celingukan kesana kemari untuk mencari seseorang.
Tiba-tiba di kepala ku muncul ide usil untuk menutupi wajah ku agar caca semakin kebingungan mencari keberadaan ku. Aku pun segera melipat kedua tangan ku di atas meja, lalu menelungkupkan wajah ku di atasnya sambil terkekeh-kekeh kecil.
"Heh.... Kak"
Belum sampai 1 menit aku menutupi wajah ku, caca memanggil ku seraya menepuk bahu ku dengan agak sedikit kasar setelah berhasil menemukan ku. Sontak aku pun langsung mengangkat kepala ku sembari melemparkan senyuman konyol ke arahnya yang saat ini sudah berdiri di samping ku.
"Lu kalau mau iseng yang pinteran dikit dong, kayak gua gak kenal laptop sama tas lu aja kak" Ujar caca sembari mengambil tempat untuk duduk di atas kursi yang berada di seberang ku.
Aku menanggapi caca dengan sebuah kekehan kecil.
"Kenapa sih ca? Kangen berat ya lu sama gua? Ampe bela-belain kesini segala"
Caca hanya berdecak kesal sembari memasang wajah sinis.
"Kak kak.... Kapan sih lu gak nanya gitu setiap kali kita ketemu?" Jawab caca sembari mengerling malas.
"Kapan-kapan" Jawab ku sembari tertawa-tawa sendiri.
"Gila!" Protes caca sembari melempar tatapan kesal ke arah ku.
"Emang, kan lu yang bikin gua jadi gila gini ca" Jawab ku sembari mencondongkan tubuh ke arahnya.
Sontak caca langsung menahan tawa setelah mendengar jawaban ku.
"Anjir lah.... Kok mesti ada terus sih kak jawabannya" Balas caca dengan suara yang agak sedikit bergetar karena masih berusaha menahan tawanya.
"Apa sih ca yang gak ada kalau buat lu, jangankan jawaban gua, hati gua aja bakal gua kasih kok kalo lu minta ca"
Sontak jawaban ngawur baru saja ku lontarkan berhasil membuat tawa caca benar-benar pecah.
"Boleh boleh.... Bener-bener emang nih orang" Ujar caca di sela-sela tawanya.
Aku pun juga ikut tertawa kecil karena melihat caca yang sedang tertawa ngakak.
"Haduh.... Udah lah kak, serius dikit napa?" Protes caca sembari mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Oh.... Kamu pengen aku seriusin ca?"
Caca kembali menghela nafas panjang setelah mendengar tanggapan ku sembari berusaha meredam senyum yang akan krmbali merekah di wajahnya.
"Kak.... Udah dong ih.... Nyebelin banget sih!"
Aku yang sudah merasa puas menggoda caca pun hanya dapat terkekeh kecil saat melihat wajah kesal caca. Setelah aku tidak membalas kalimatnya lagi, caca memilih untuk menguncir rambutnya dengan ikat rambut yang baru saja dia ambil dari dalam tas.
Deg....
Ternyata memang benar kata orang-orang, kecantikan perempuan akan meningkat 1000% pada saat sedang menguncir rambutnya. Terbukti dengan pemandangan yang sekarang sedang tersaji di depan ku.
Bahkan beberapa kali aku sempat dibuat menelan ludah saat melihat kedua lengan putihnya terangkat ke atas, beberapa bulir keringat yang membasahi ujung jidatnya, beberapa helai rambut bagian depannya yang disisakan untuk membentuk ikatan rambut pony tail, ditambah lagi dengan raut wajah caca yang terlihat serius semakin menambah panas keadaan di cafe ini.
"Kak!"
Sontak saja aku berhasil dibuat terkejut oleh caca yang baru saja memanggil ku.
"Ngeliatin apa sih kak? Kok sampe mupeng gitu?" Tanya caca sembari melempar tatapan sekaligus senyuman menggoda ke arah ku.
Aku pun langsung panik karena caca berhasil menangkap basah mata ku yang sedang memandanginya dengan tatapan yang ah sudah lah....
"A e a e.... A a a apaan sih ca? G g gua gak...."
"Yaudah sih kak, gak usah salting gitu, gua kan cuman nanya" Potong caca sembari mencondongkan tubuhnya ke arah ku.
"Eh.... Apaan sih ca? Gua biasa aja kok, siapa yang salting sih?" Kilah ku sembari mengangkat kepala ku dengan gerakan cepat.
"Cih.... Ngaku aja sih kak, gua paham udah banget kok gimana isi otak cowok-cowok kayak kakak" Jawab caca sembari terkekeh kecil setelah melihat tingkah ku yang semakin salah.
"Bener kan kak?" Lanjut caca sembari menggigit bibir bawahnya sembari menaikan kedua alisnya.
Aku langsung kembali menundukan kepala ku dengan gerakan cepat. Tapi insting mesum ku yang sangat sulit menolak pemandangan mantap yang saat ini sedang tersaji memaksa mata kun untuk sesekali melirik ke arah caca.
"Dih.... Sok-sokan nunduk lu kak, tapi masih lirik-lirik" Ejek chika sembari tertawa sinis.
"Kalo mau liat mah tinggal liat aja kak" Ujar cika lembut sembari mengangkat dagu ku agar aku membalas tatapannya.
Glek....
Kali aku tidak bisa berkutik, bagaimana tidak? Menundukan kepala ku saja aku tidak bisa, aku benar-benar dipaksa nelihat pemandangan mantap itu kembali, tapi bedanya kali ini aku tidak hanya melihatnya setengah-setengah.
Sontak saja caca langsung tertawa terbahak-bahak setelah melihat raut wajah ku yang entah bagaimana bentuknya. Sementara aku hanya bisa membuang tatapan ku ke arah lain sembari berdecak kesal karena merasa kalah telak oleh caca.
"Gimana kak? Gak enak kan dibikin salting?" Tanya caca setelah tawanya berakhir sembari kembali menyenderkan tubuhnya di atas dinding kursi.
"Iya iya.... Maap deh ca...." Ujar ku sembari mengusap-usap kepala ku dengan kasar.
Caca pun tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar jawaban ku.
"Eh.... Btw lu tadi kesini naik apaan ca?" Tanya ku untuk mengalihkan pembicaraan kami.
Sontak saja caca langsung terkekeh kecil setelah mendengar pertanyaan ku, mungkin dia paham kalau aku sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Naik ojol tadi kak"
"Lah.... Emang shift lu udah kelar ya ca? Kok bisa cabut sih lu jam segini?"
"Udah izin bang arman gua kak, lagian kan shift gua udah mau selesai tadi"
Aku pun langsung melempar tatapan heran ke arah caca.
"Emang lu mau ngomongin apa sih ca? Penting banget kayaknya, sampa pake izin segala"
"Oh iya.... Abis ini ya kak, gua mau pesen dulu" Ujar caca sembari beranjak dari duduknya.
"Oh.... Yaudah, pesen dulu aja ca, nih...." Ujar ku sembari memberi selembar uang lima puluh ribuan ke arah caca.
Caca pun langsung tersenyum kecil sembari mengambil uang lima puluh ribuan yang sedang ku sodorkan.
"Makasih ya kak" Ujar caca sembari melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju tempat pemesanan.
Sementara itu aku memilih untuk menutup file-file projek pribadi ku sambil menunggu caca kembali ke meja ku dengan perasaan heran yang mulai kembali berputar-putar di dalam kepala ku.
"Loh.... Kok udah beres-beres aja kak? Masa udah mau pulang sih? Kan gua baru dateng" Protes caca yang baru saja kembali ke meja ku dengan segelas matcha dan beberapa lembar uang kembalian yang ada di tangannya.
"Enggak kok, cuman beres-beres doang, kan udah gak dipake lagi laptopnya" Jawab ku sembari menutup lalptop ku, lalu memasukannya ke dalam tas.
Caca pun kembali duduk di kursinya sembari meletakan segelas matcha dan uang kembalian yang ada di tangannya ke atas meja kami.
"Emang tadi laptopnya dipake buat ngerjain apa kak?" Tanya caca dengan wajah yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sangat excited.
"Ya ada lah ca" Jawab ku sembari menyulut rokok yang tadi ku ambil dari dalam kotak.
"Ya apa kak?"
"Kenapa sih ca, kepo banget" Jawab ku dengan kekehan kecil di ujung kalimat.
"Ya abis dari dulu kalau aku tanya apa yang biasanya kakak kerjain kalau lagi di cafe jawabannya ada lah mulu, pelit banget sih, tinggal kasih tau doang padahal" Ujar caca dnegan rajt wajah dan nada bicara yang berubah menjadi kesal.
Aku hanya menanggapi protes caca dengan sebuah kekehan kecil.
"Udah tau jawabannya gak gitu-gitu aja kenapa masih lu tanyain ca?"
"Udah lah ca.... Lu gak usah tau, susah jelasinnya, lu gak bakal ngerti" Lanjut ku dengan nada malas sembari menghembuskan asap rokok ke arah atas
"Dih.... Kata siapa kak? Aku ngerti kok" Tanya caca yang mulai menyunggingkan senyuman penuh arti ke arah ku.
Deg....
Saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan caca, aku langsung berprasangka buruk kepadanya, jangan-jangan caca sudah membongkar-bongkar file yang ada di laptop ku saat dia meminjamnya beberapa hari yang lalu.
"Jangan ngarang lu ca, ya kalo lu ngerti ngapin lu nanya? Gak usah mancing-mancing gua buat ngasih tau deh" Jawab ku dengan nada santai untuk menepis prasangka buruk ku kepada caca sembari kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku.
"Kakak nulis script film kan?" Tembak caca tanpa mau basa-basi lagi.
Sontak saja aku berhasil dibuat terkejut karena caca yang ternyata benar-benar melakukan hal yang sudah kuduga sebelumnya.
"Lu bongkar-bongkar file gua ya ca?" Tanya ku dengan raut wajah dan nada bicara yang mulai berubah menjadi serius.
"Y y ya enggak kak, kebetulan aja kemaren pas aku minjem laptop kakak file script film kakak kebuka" Jawab caca yang sepertinya agak sedikit terkejut dengan perubahan sikap ku yang tiba-tiba
"Kebetulan gimana ya ca? Orang itu file bener-bener gua sembunyiin kok, kayaknya gak mungkin ada orang yang nemu file itu kalau dia emang gak bener-bener niat buat nyari"
"Tapi kak, aku beneran...."
"Kan udah gua bilang ca kemaren, jangan bongkar-bongkar file gua, lu kira gua becanda apa?" Potong ku sembari menekan rokok ku yang masih tersisa setengah batang ke atas lantai asbak.
"Lu juga tau kan ca, dari dulu gua gak pernah mau ngasih tau apa yang gua kerjain tiap kali lu nanya?"
Kepala caca perlahan-lahan mulai tertunduk setelah mendengar pertanyaan yang baru saja ku lontarkan. Caca juga menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi dia lipat di atas meja.
"Itu emang karena gua gak mau lu tau privasi gua yang satu ini ca! Dan harusnya lu paham itu!"
Sekarang kepala caca sudah benar-benar tertunduk setelah aku kembali melanjutkan kalimat ku dengan nada bicara yang agak sedikit lebih tegas.
Suasana di meja kami pun seketika menjadi benar-benar hening, caca sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ku, sementara aku memilih untuk memasukan barang-barang ku yang masih tersisa di atas meja ke dalam tas dan saku celana ku.
"Udah ca? Lu kesini cuman mau ngomong kalo lu berhasil nyari tau tentang itu? Terus kalau udah ngerti lu mau apa?"
Karena masih belum ada jawaban yang keluar dari mulut caca, aku pun memutuskan untuk bangkit dari duduk ku sembari menggendong tas ku dengan sebelah tangan.
"Gak penting banget ca!" Ujar ku sembari bersiap-siap berjalan ke arah pintu keluar.
Namun, saat aku baru saja akan memulai langkah ku untuk berjalan menuju pintu keluar, suara isakan-isakan kecil mulai terdengar dari mulut caca.
"Halah.... Langsung keluar deh senjatanya" Batin ku dalam hati.
aku pun langsung menghela nafas panjang sembari kembali meletakan tas ku di atas lantai dan mengambil tempat untuk duduk di kursi ku tadi. Sejujurnya aku sangat ingin pergi meninggalkan caca sendirian karena perasaan kesal ku yang sedang meluap-luap, tapi aku juga merasa tidak tega jika harus meninggalkan caca yang sudah bersusah payah mengunjungi ku dengan transportasi online.
Caca mulai menghapus air mata yang jatuh dengan kedua tangannya sambil terus terisak. Meskipun caca sedang menangis, aku sama sekali tidak berusaha membujuknya, aku lebih memilih untuk kembali menyalakan rokok ku yang sudah ku matikan tadi sembari mengotak-atik HP ku. Yang ingin ku lakukan sekarang hanya lah menunggu caca menyelesaikan tangisnya dan segera mengantarnya pulang.
"Kak...."
"Aku Minta Maaf" Ujar caca di sela-sela isakannya dengan nada lirih.
"Udah lah ca, kalo emang sekarang lu mau minta maaf, tolong cepet selesain nangisnya, abis itu gua entar lu balik" Jawab ku dengan nada datar tanpa sama ada niat untuk mengalihkan pandangan dari layar HP ku.
Caca pun langsung menarik nafas dalam untuk membantunya menghentikan isakannya, tidak lupa dia juga kembali berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajahnya. Tidak lama setelah itu caca langsung berdiri, lalu memasukan HPnya ke dalam saku celana.
"Ayo kak" Ujar caca sembari membalikan badannya, lalu berjalan cepat meninggalkan ku dan matchanya yang sama sekali belum sempat dia sentuh ke arah pintu keluar.
***
Caca langsung turun dari atas boncengan ku sesaat setelah kami berdua sampai di depan pintu gerbang Kos-kosannya tanpa sepatah kata pun. Aku yang masih kesal juga tidak berusaha untuk memulai pembicaraan dan membiarkan caca berlalu begitu saja masuk ke dalam kos-kosannya. Dan hal itu tidak hanya terjadi saat ini, sepanjang jalan pulang tadi kami juga tidak berbicara sama sekali.
Ting....
Suara notifikasi chat yang berasal dari HP yang berada di dalam kantong celana ku berhasil menunda niat ku untuk segera pulang.
"08XXXXXXXX"
Jidat ku agak sedikit mengkerut setelah melihat pesan berisi sebuah nomor HP yang baru saja dikirimkan oleh caca.
Ting....
"Itu nomor om ku yang di jakarta kak, dia punya production house kecil-kecilan buat film pendek, siapa tau nomor itu berguna buat kakak"
Ting....
"Dah bangun yang? Lagi dimana?"
"Lagi diluar yang"
Ting....
"Ngapain?"
"Biasa yang, jadwal ngelamun ku tiap sabtu minggu"
Ting....
"Di cafenya arman ya?"
Aku pun segera mengirimkan lokasi ku kepada risa setelah membaca chat yang baru saja dikirimnya.
"Enggak kok yang, aku di cafe lain, kamu cek aja sendiri"
Ting....
"Fake location paling tuh
"Aku langsung mengambil foto keadaan sekitar tepat di bagian diding yang bertuliskan nama dari cafe tempat ku menulis siang ini dan mengirimkannya kepada risa untuk membuktikan ucapan ku.
"Stock foto lama kali tuh 🤔"
Aku hanya bisa menghela nafas panjang setelah melihat respon risa dari bukti-bukti yang ku berikan. Karena tidak ingin memperpanjang masalah kemaren malam aku memilih untuk melakukan panggilan video dengan risa.
Ting tung ting tung ting tung....
Tut....
Pada saat aku akan memberikan bukti yang valid risa malah menolak panggilan video dari ku.
Ting....
"Hehe, becanda yang, aku percaya kok, yang penting jangan lupa sama acara kita besok ya"
Ting....
"Enjoy your time honey🥰"
Aku langsung tersenyum lega setelah melihat pesan yang baru saja dikirimkan oleh risa.
"Okey 😘"
Karena tidak ingin waktu yang terbuang semakin banyak aku memilih untuk melanjutkan kembali pekerjaan ku. Karena mungkin hari ini mood ku sedang lumayan bagus, progres yang berhasil ku selesaikan untuk projek pribadi ku ini lumayan banyak, ide-ide mengalir begitu saja dari kepala ku, tangan ku terus menerus menari tanpa henti di atas keyboard laptop.
Saking asyiknya aku sampai benar-benar lupa waktu. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, karena merasa sudah cukup untuk hari ini aku memilih untuk bersantai sembari merokok dan memperhatikan keadaan sekitar cafe sore ini. Mungkin saja ada sesuatu yang menarik seperti kemaren bukan?
Ting....
Aku langsung menyalakan HP ku untuk melihat siapa yang baru saja mengirimkan ku sebuah pesan. Sembari memasukan kode password HP ku, aku juga mulai menerka-nerka siapa si pengirim pesan barusan, risa menjadi salah satu nama yang terlintas di pikiran ku saat ini.
"Kak, hari ini lembur ya?"
Ternyata dugaan ku salah, yang baru saja mengirim pesan kepada ku adalah caca, tentu hal itu membuat ku merasa agak sedikit aneh, apa gara-gara hari ini aku tidak berkunjung kesana ya? Ah, tidak juga, biasanya meskipun aku tidak berkunjung ke cafe arman di hari sabtu atau minggu karena dapat jadwal lembur, caca tidak pernah mencari ku. Walau pun kami baru saja bertukar nomor HP selasa kemaren, bisa saja kan dia menghubungi ku lewat IG.
"Enggak ca, kenapa?"
Ting....
"Kok gak ke cafe kak?"
"Ya lagi gak pengen aja sih ca"
"Cie, ada yang kangen nih ye
"Ting....
"Kalau besok lu ke cafe gak kak?"
Sambil terus menerka-nerka kenapa caca mencari ku hari ini, aku memilih untuk mengirimkan pesan balasan kepadanya.
"Minggu ini kayaknya enggak dulu ca, ada acara sama risa kalo besok"
Ting....
"Kalau sekarang lu lagi sibuk gak kak?"
"Enggak kok ca? Kenapa?"
Ting....
"Lu sekarang dimana kak? Ada yang perlu gue omongin" Balas caca selang beberapa detik setelah aku mengirimkan pesan balasan kepadanya.
Sontak saja aku semakin merasa heran dengan caca yang tiba-tiba menanyakan keberadaan ku, apalagi setelah aku tahu kalau ada sesuatu yang ingin caca bicarakan dengan ku. Perasaan aku dan caca tidak punya urusan penting sama sekali
"Gue di kopi xxxx ca"
Ting....
"Dimana tuh kak?"
"Seberang perempatan mall xxxxx, samping bank xxx ca"
"Emang kenapa ca? Kangen ya?"
Sambil terus bertanya-tanya dalam hati aku kembali membalas pesan dari caca.
Ting....
"Otw kak"
Perasaan heran ku semakin menjadi-jadi setelah caca berkata bahwa dia benar-benar akan menemui ku sore ini.
"Serius ca?"
"Naik apaan lu?"
"Ca"
"P"
"P"
Begitu lah kira-kira isi pesan-pesan ku yang sudah tidak dibaca atau pun dibalas lagi oleh caca, mungkin caca benar-benar serius dengan apa yang dia ucapkan tadi dan sedang menempuh perjalanan untuk menuju ke tempat ku saat ini. Sempat muncul sedikit perasaan GR di dalam pikiran ku.
"Apa mungkin caca mulai suka sama gua ya?" Gumam ku dalam hati.
Tapi tentu saja aku langsung menepis pikiran konyol itu jauh-jauh karena merasa risih dengan perasaan GR ku.
Karena merasa pikiran ku sudah buntu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sedang berputar di kepala ku dengan logis, aku pun memilih untuk menunggu caca datang agar aku dapat mengetahui jawaban pastinya sembari melanjutkan kegiatan ku sebelumnya.
Tidak sampai 15 menit aku menunggu, aku sudah melihat seorang wanita berambut hitam dengan cardigan hijau yang menutupi seragam hitamnya sedang celingukan kesana kemari untuk mencari seseorang.
Tiba-tiba di kepala ku muncul ide usil untuk menutupi wajah ku agar caca semakin kebingungan mencari keberadaan ku. Aku pun segera melipat kedua tangan ku di atas meja, lalu menelungkupkan wajah ku di atasnya sambil terkekeh-kekeh kecil.
"Heh.... Kak"
Belum sampai 1 menit aku menutupi wajah ku, caca memanggil ku seraya menepuk bahu ku dengan agak sedikit kasar setelah berhasil menemukan ku. Sontak aku pun langsung mengangkat kepala ku sembari melemparkan senyuman konyol ke arahnya yang saat ini sudah berdiri di samping ku.
"Lu kalau mau iseng yang pinteran dikit dong, kayak gua gak kenal laptop sama tas lu aja kak" Ujar caca sembari mengambil tempat untuk duduk di atas kursi yang berada di seberang ku.
Aku menanggapi caca dengan sebuah kekehan kecil.
"Kenapa sih ca? Kangen berat ya lu sama gua? Ampe bela-belain kesini segala"
Caca hanya berdecak kesal sembari memasang wajah sinis.
"Kak kak.... Kapan sih lu gak nanya gitu setiap kali kita ketemu?" Jawab caca sembari mengerling malas.
"Kapan-kapan" Jawab ku sembari tertawa-tawa sendiri.
"Gila!" Protes caca sembari melempar tatapan kesal ke arah ku.
"Emang, kan lu yang bikin gua jadi gila gini ca" Jawab ku sembari mencondongkan tubuh ke arahnya.
Sontak caca langsung menahan tawa setelah mendengar jawaban ku.
"Anjir lah.... Kok mesti ada terus sih kak jawabannya" Balas caca dengan suara yang agak sedikit bergetar karena masih berusaha menahan tawanya.
"Apa sih ca yang gak ada kalau buat lu, jangankan jawaban gua, hati gua aja bakal gua kasih kok kalo lu minta ca"
Sontak jawaban ngawur baru saja ku lontarkan berhasil membuat tawa caca benar-benar pecah.
"Boleh boleh.... Bener-bener emang nih orang" Ujar caca di sela-sela tawanya.
Aku pun juga ikut tertawa kecil karena melihat caca yang sedang tertawa ngakak.
"Haduh.... Udah lah kak, serius dikit napa?" Protes caca sembari mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Oh.... Kamu pengen aku seriusin ca?"
Caca kembali menghela nafas panjang setelah mendengar tanggapan ku sembari berusaha meredam senyum yang akan krmbali merekah di wajahnya.
"Kak.... Udah dong ih.... Nyebelin banget sih!"
Aku yang sudah merasa puas menggoda caca pun hanya dapat terkekeh kecil saat melihat wajah kesal caca. Setelah aku tidak membalas kalimatnya lagi, caca memilih untuk menguncir rambutnya dengan ikat rambut yang baru saja dia ambil dari dalam tas.
Deg....
Ternyata memang benar kata orang-orang, kecantikan perempuan akan meningkat 1000% pada saat sedang menguncir rambutnya. Terbukti dengan pemandangan yang sekarang sedang tersaji di depan ku.
Bahkan beberapa kali aku sempat dibuat menelan ludah saat melihat kedua lengan putihnya terangkat ke atas, beberapa bulir keringat yang membasahi ujung jidatnya, beberapa helai rambut bagian depannya yang disisakan untuk membentuk ikatan rambut pony tail, ditambah lagi dengan raut wajah caca yang terlihat serius semakin menambah panas keadaan di cafe ini.
"Kak!"
Sontak saja aku berhasil dibuat terkejut oleh caca yang baru saja memanggil ku.
"Ngeliatin apa sih kak? Kok sampe mupeng gitu?" Tanya caca sembari melempar tatapan sekaligus senyuman menggoda ke arah ku.
Aku pun langsung panik karena caca berhasil menangkap basah mata ku yang sedang memandanginya dengan tatapan yang ah sudah lah....
"A e a e.... A a a apaan sih ca? G g gua gak...."
"Yaudah sih kak, gak usah salting gitu, gua kan cuman nanya" Potong caca sembari mencondongkan tubuhnya ke arah ku.
"Eh.... Apaan sih ca? Gua biasa aja kok, siapa yang salting sih?" Kilah ku sembari mengangkat kepala ku dengan gerakan cepat.
"Cih.... Ngaku aja sih kak, gua paham udah banget kok gimana isi otak cowok-cowok kayak kakak" Jawab caca sembari terkekeh kecil setelah melihat tingkah ku yang semakin salah.
"Bener kan kak?" Lanjut caca sembari menggigit bibir bawahnya sembari menaikan kedua alisnya.
Aku langsung kembali menundukan kepala ku dengan gerakan cepat. Tapi insting mesum ku yang sangat sulit menolak pemandangan mantap yang saat ini sedang tersaji memaksa mata kun untuk sesekali melirik ke arah caca.
"Dih.... Sok-sokan nunduk lu kak, tapi masih lirik-lirik" Ejek chika sembari tertawa sinis.
"Kalo mau liat mah tinggal liat aja kak" Ujar cika lembut sembari mengangkat dagu ku agar aku membalas tatapannya.
Glek....
Kali aku tidak bisa berkutik, bagaimana tidak? Menundukan kepala ku saja aku tidak bisa, aku benar-benar dipaksa nelihat pemandangan mantap itu kembali, tapi bedanya kali ini aku tidak hanya melihatnya setengah-setengah.
Sontak saja caca langsung tertawa terbahak-bahak setelah melihat raut wajah ku yang entah bagaimana bentuknya. Sementara aku hanya bisa membuang tatapan ku ke arah lain sembari berdecak kesal karena merasa kalah telak oleh caca.
"Gimana kak? Gak enak kan dibikin salting?" Tanya caca setelah tawanya berakhir sembari kembali menyenderkan tubuhnya di atas dinding kursi.
"Iya iya.... Maap deh ca...." Ujar ku sembari mengusap-usap kepala ku dengan kasar.
Caca pun tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar jawaban ku.
"Eh.... Btw lu tadi kesini naik apaan ca?" Tanya ku untuk mengalihkan pembicaraan kami.
Sontak saja caca langsung terkekeh kecil setelah mendengar pertanyaan ku, mungkin dia paham kalau aku sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Naik ojol tadi kak"
"Lah.... Emang shift lu udah kelar ya ca? Kok bisa cabut sih lu jam segini?"
"Udah izin bang arman gua kak, lagian kan shift gua udah mau selesai tadi"
Aku pun langsung melempar tatapan heran ke arah caca.
"Emang lu mau ngomongin apa sih ca? Penting banget kayaknya, sampa pake izin segala"
"Oh iya.... Abis ini ya kak, gua mau pesen dulu" Ujar caca sembari beranjak dari duduknya.
"Oh.... Yaudah, pesen dulu aja ca, nih...." Ujar ku sembari memberi selembar uang lima puluh ribuan ke arah caca.
Caca pun langsung tersenyum kecil sembari mengambil uang lima puluh ribuan yang sedang ku sodorkan.
"Makasih ya kak" Ujar caca sembari melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju tempat pemesanan.
Sementara itu aku memilih untuk menutup file-file projek pribadi ku sambil menunggu caca kembali ke meja ku dengan perasaan heran yang mulai kembali berputar-putar di dalam kepala ku.
"Loh.... Kok udah beres-beres aja kak? Masa udah mau pulang sih? Kan gua baru dateng" Protes caca yang baru saja kembali ke meja ku dengan segelas matcha dan beberapa lembar uang kembalian yang ada di tangannya.
"Enggak kok, cuman beres-beres doang, kan udah gak dipake lagi laptopnya" Jawab ku sembari menutup lalptop ku, lalu memasukannya ke dalam tas.
Caca pun kembali duduk di kursinya sembari meletakan segelas matcha dan uang kembalian yang ada di tangannya ke atas meja kami.
"Emang tadi laptopnya dipake buat ngerjain apa kak?" Tanya caca dengan wajah yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sangat excited.
"Ya ada lah ca" Jawab ku sembari menyulut rokok yang tadi ku ambil dari dalam kotak.
"Ya apa kak?"
"Kenapa sih ca, kepo banget" Jawab ku dengan kekehan kecil di ujung kalimat.
"Ya abis dari dulu kalau aku tanya apa yang biasanya kakak kerjain kalau lagi di cafe jawabannya ada lah mulu, pelit banget sih, tinggal kasih tau doang padahal" Ujar caca dnegan rajt wajah dan nada bicara yang berubah menjadi kesal.
Aku hanya menanggapi protes caca dengan sebuah kekehan kecil.
"Udah tau jawabannya gak gitu-gitu aja kenapa masih lu tanyain ca?"
"Udah lah ca.... Lu gak usah tau, susah jelasinnya, lu gak bakal ngerti" Lanjut ku dengan nada malas sembari menghembuskan asap rokok ke arah atas
"Dih.... Kata siapa kak? Aku ngerti kok" Tanya caca yang mulai menyunggingkan senyuman penuh arti ke arah ku.
Deg....
Saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan caca, aku langsung berprasangka buruk kepadanya, jangan-jangan caca sudah membongkar-bongkar file yang ada di laptop ku saat dia meminjamnya beberapa hari yang lalu.
"Jangan ngarang lu ca, ya kalo lu ngerti ngapin lu nanya? Gak usah mancing-mancing gua buat ngasih tau deh" Jawab ku dengan nada santai untuk menepis prasangka buruk ku kepada caca sembari kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku.
"Kakak nulis script film kan?" Tembak caca tanpa mau basa-basi lagi.
Sontak saja aku berhasil dibuat terkejut karena caca yang ternyata benar-benar melakukan hal yang sudah kuduga sebelumnya.
"Lu bongkar-bongkar file gua ya ca?" Tanya ku dengan raut wajah dan nada bicara yang mulai berubah menjadi serius.
"Y y ya enggak kak, kebetulan aja kemaren pas aku minjem laptop kakak file script film kakak kebuka" Jawab caca yang sepertinya agak sedikit terkejut dengan perubahan sikap ku yang tiba-tiba
"Kebetulan gimana ya ca? Orang itu file bener-bener gua sembunyiin kok, kayaknya gak mungkin ada orang yang nemu file itu kalau dia emang gak bener-bener niat buat nyari"
"Tapi kak, aku beneran...."
"Kan udah gua bilang ca kemaren, jangan bongkar-bongkar file gua, lu kira gua becanda apa?" Potong ku sembari menekan rokok ku yang masih tersisa setengah batang ke atas lantai asbak.
"Lu juga tau kan ca, dari dulu gua gak pernah mau ngasih tau apa yang gua kerjain tiap kali lu nanya?"
Kepala caca perlahan-lahan mulai tertunduk setelah mendengar pertanyaan yang baru saja ku lontarkan. Caca juga menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi dia lipat di atas meja.
"Itu emang karena gua gak mau lu tau privasi gua yang satu ini ca! Dan harusnya lu paham itu!"
Sekarang kepala caca sudah benar-benar tertunduk setelah aku kembali melanjutkan kalimat ku dengan nada bicara yang agak sedikit lebih tegas.
Suasana di meja kami pun seketika menjadi benar-benar hening, caca sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ku, sementara aku memilih untuk memasukan barang-barang ku yang masih tersisa di atas meja ke dalam tas dan saku celana ku.
"Udah ca? Lu kesini cuman mau ngomong kalo lu berhasil nyari tau tentang itu? Terus kalau udah ngerti lu mau apa?"
Karena masih belum ada jawaban yang keluar dari mulut caca, aku pun memutuskan untuk bangkit dari duduk ku sembari menggendong tas ku dengan sebelah tangan.
"Gak penting banget ca!" Ujar ku sembari bersiap-siap berjalan ke arah pintu keluar.
Namun, saat aku baru saja akan memulai langkah ku untuk berjalan menuju pintu keluar, suara isakan-isakan kecil mulai terdengar dari mulut caca.
"Halah.... Langsung keluar deh senjatanya" Batin ku dalam hati.
aku pun langsung menghela nafas panjang sembari kembali meletakan tas ku di atas lantai dan mengambil tempat untuk duduk di kursi ku tadi. Sejujurnya aku sangat ingin pergi meninggalkan caca sendirian karena perasaan kesal ku yang sedang meluap-luap, tapi aku juga merasa tidak tega jika harus meninggalkan caca yang sudah bersusah payah mengunjungi ku dengan transportasi online.
Caca mulai menghapus air mata yang jatuh dengan kedua tangannya sambil terus terisak. Meskipun caca sedang menangis, aku sama sekali tidak berusaha membujuknya, aku lebih memilih untuk kembali menyalakan rokok ku yang sudah ku matikan tadi sembari mengotak-atik HP ku. Yang ingin ku lakukan sekarang hanya lah menunggu caca menyelesaikan tangisnya dan segera mengantarnya pulang.
"Kak...."
"Aku Minta Maaf" Ujar caca di sela-sela isakannya dengan nada lirih.
"Udah lah ca, kalo emang sekarang lu mau minta maaf, tolong cepet selesain nangisnya, abis itu gua entar lu balik" Jawab ku dengan nada datar tanpa sama ada niat untuk mengalihkan pandangan dari layar HP ku.
Caca pun langsung menarik nafas dalam untuk membantunya menghentikan isakannya, tidak lupa dia juga kembali berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajahnya. Tidak lama setelah itu caca langsung berdiri, lalu memasukan HPnya ke dalam saku celana.
"Ayo kak" Ujar caca sembari membalikan badannya, lalu berjalan cepat meninggalkan ku dan matchanya yang sama sekali belum sempat dia sentuh ke arah pintu keluar.
***
Caca langsung turun dari atas boncengan ku sesaat setelah kami berdua sampai di depan pintu gerbang Kos-kosannya tanpa sepatah kata pun. Aku yang masih kesal juga tidak berusaha untuk memulai pembicaraan dan membiarkan caca berlalu begitu saja masuk ke dalam kos-kosannya. Dan hal itu tidak hanya terjadi saat ini, sepanjang jalan pulang tadi kami juga tidak berbicara sama sekali.
Ting....
Suara notifikasi chat yang berasal dari HP yang berada di dalam kantong celana ku berhasil menunda niat ku untuk segera pulang.
"08XXXXXXXX"
Jidat ku agak sedikit mengkerut setelah melihat pesan berisi sebuah nomor HP yang baru saja dikirimkan oleh caca.
Ting....
"Itu nomor om ku yang di jakarta kak, dia punya production house kecil-kecilan buat film pendek, siapa tau nomor itu berguna buat kakak"
phiedut dan mmuji1575 memberi reputasi
2
Kutip
Balas