- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#131
Petunjuk
Sayup-sayup aku masih mendengar suara teriakan dari Nova.
Mendengar teriakannya itu, sepertinya Nova berlari memutar villa. Dan ia sekarang mengarah kedepan villa lagi.
Saat kami berjalan menyusul Nova itulah, kami berlima berpapasan dengan Gatot!
Dia sendirian!
Kemana Wulan dan Sofi?
*
"Indraaa!"Teriaknya histeris saat ia melihat kami berlima.
"Gatot!" Seru kami pula saat melihatnya datang mendekati kami.
Tangisnya seketika pecah saat ia berada ditengah-tengah kami. Ia sepertinya ingin menumpahkan segala emosi yang bercampur aduk itu.
Sri dan Inas berusaha untuk menenangkannya dengan cara mengelus-elus pundaknya.
"Huhuhuhu...," Gatot masih terisak-isak saat aku, dengan terpaksa harus melanjutkan langkah kaki ini. Berusaha untuk tidak sampai kehilangan jejak Nova yang berlari kian menjauh.
Kami berenam saling terdiam saat berjalan. Hanya suara binatang malam dan suara isakan Gatot yang terdengar. Hujan sudah berhenti total. Meninggalkan tanah berlumpur yang untungnya membantu kami, karena disana aku bisa melihat jejak-jejak kaki Nova.
Aku yang berjalan paling depan sesekali harus berhenti dan menoleh kebelakang. Berusaha untuk tetap menjaga jarak agar kami tak terlalu berjauhan. Rombongan yang berjalan dibelakangku sedikit tersendat karena harus menopang Gatot yang entah kenapa seperti orang yang tidak memiliki tenaga untuk sekedar melangkah.
Di situasi seperti ini, banyak hal yang bisa saja terjadi tanpa kami sadari. Terutama gangguan dari alam gaib.
"Jiwasraya...," Bisiku pelan.
"REKSODONO!" Teriak siluman harimau itu marah.
"Oh iya, hehehe...maaf," kataku tertawa tertahan karena menggodanya dengan salah menyebutkan namanya.


"Kyai rekso...," Ucapku pelan. Sengaja kugantung kalimat itu untuk sekedar melihat apakah ia akan protes lagi atau tidak.
".....,"
Hening.
Sepertinya ia berkenan dengan sebutan ku tadi. Maka akupun mengulangi perkataan ku tadi.
"Kyai, aku minta tolong padamu. Agar kyai sudi untuk melindungi keselamatan teman-temanku juga," kataku pelan, hampir berbisik.
"....,"
"Kyai...,"
"Hemm...,"
"Anjir...ngambekan," kataku dalam hati sambil menahan tawa.

"APA KAMU BILANG MANUSIA?!"
"Hehehe...gak papa. Maaf maaf kyai," ujarku dalam hati.
"Jadi bagaimana, maukan kyai ikut menjaga keselamatan teman-temanku?"
"Tidak," jawabnya cepat.
"Lho, kenapa?"
"....,"
Ah ya sudahlah, mungkin ia memang makhluk yang keras kepala. Akupun lalu tak membicarakan tentang itu lagi. Karena aku tak mau bilamana ia akan marah lagi. Repot kalau kyai rekso udah ngedumel. Bikin gak fokus.

Kini aku berjalan dengan fokus mengikuti jejak kaki Nova yang tertinggal ditanah becek itu. Suara teriakan Nova sudah tidak terdengar lagi. Entah apa yang terjadi dengan orang itu. Yang pasti, aku bertekad untuk secepat mungkin menemukannya kembali. Dalam keadaan selamat tentunya.
Selama aku berjalan menyusuri jejak kaki Nova, telingaku kanan dan kiri seperti banyak sekali mendengar suara-suara halus. Baik berupa perkataan, maupun geraman.

"Sepertinya memang banyak sekali makhluk gaib disekitar sini. Kemungkinan, mereka juga mengikuti kami sekarang," kataku dalam hati sambil berupaya untuk tetap fokus mengikuti jejak kaki Nova.
"Mudah-mudahan dengan adanya kyai rekso, kami terhindar dari segala ancaman yang membahayakan," ujarku lagi didalam hati.
Setelah cukup lama, karena rombongan kami juga harus menahan beban Gatot yang lemas itu, kami semua akhirnya tiba diparkiran mobil kawasan villa ini.
Namun...
"Jejak Nova hilang," kataku kepada teman-temanku.
Mereka semua saling pandang.
Beberapa orang segera ikut mencari-cari disekitar area parkiran. Berusaha menemukan apakah ada jejak kaki Nova disekitar sana.
Namun, setelah beberapa saat mencari, hasilnya nihil. Jejak kakinya menghilang disini.
"Aduh, gimana ini, ndra. Nova juga sekarang ikutan hilang," ucap Sri mulai panik.
Aku segera memutar otak, berusaha menemukan jawaban.
Tiba-tiba sebuah suara membantuku.
"Temanmu itu pergi keluar kawasan villa ini. Dia lari kearah desa. Padahal dia tak tahu, berapa jarak dari sini ke desa terdekat, hahahaha!"
Ya, itu adalah suara Kocheng Oren sombong, Reksodono.
Aku segera berdiri dihadapan teman-temanku. Dengan suara yang jelas, aku lalu mengatakan apa yang aku dengar tadi.
"Teman-teman, menurutku, Nova suda keluar dari kawasan villa ini. Dilihat dari jejaknya yang hilang, dia memang berlari kearah sana," kataku sambil menunjuk jalan keluar yang menuju kedesa terdekat.
Sri dan yang lainnya mengikuti arah telunjuk tanganku.
"Memang, jalan masuk kearea villa sudah di aspal. Mungkin karena itulah jejak kaki Nova terputus sampai disini," kata Slamet yang berdiri disamping Gatot. Gatot sendiri berdiri sambil bersandar disebuah pohon yang tumbuh disamping area parkiran.
"Cerdas," kataku dalam hati.

Dengan Slamet berkata seperti itu, membuat teman-temanku yang lainnya paham. Ya... meskipun itu tidak 100% benar. Kerena bagaimanapun, kita jangan sampai 100% yakin dengan omongan para jin. Tapi untuk saat ini, aku harus mengatakan hal itu. Setidaknya untuk meredam segala pertanyaan yang nantinya mereka ajukan. Mending kalau nanti mereka enggak panik. Nah kalau panik? Bisa pusing nantinya.
Setelah suasana terbilang cukup kondusif, aku lalu meminta mereka untuk berkumpul. Aku takut bilamana terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan kembali terjadi.
"Ayo, kumpul semua," kataku sambil berjalan ketengah-tengah area parkiran.

sumber : kaskus
Aku memilih tempat itu, karena tempatnya yang agak terang dan lapang. Sehingga bila terjadi sesuatu, kami akan bisa saling mengawasi satu sama lainnya.
Kami lalu duduk melingkar. Dan seperti biasa, Inas duduk disamping kananku. Sedangkan Gatot disisi kiriku.
Kulihat inas sedikit menggigil.
"Astaga...,"Aku baru ngeh, kalau inas hanya memakai kaos dalaman saja.
Mataku segera melihat kearah Slamet, yang mengenakan sweater.
"Met, kamu pakai baju dobelkan?" Tanyaku.
Slamet mengangguk.
Dan sedetik kemudian, ia tampak paham dengan pertanyaanku. Ia langsung melepas sweater rajutan itu ( yang katanya beli saat dia jadi TKI ) dan menyerahkannya pada Inas.
Aku segera membantu Inas mengenakan sweater itu.
"Gimana, hangat?" Tanyaku sambil membetulkan posisi sweaternya yang belum rapi.
Inas mengangguk.
"Iya, ndra," jawabnya tersenyum manis.
Inas lalu menoleh kearah Slamet, si pemilik sweater.
"Maaf ya, met. Aku pakai dulu sweater kamu," katanya.
"Iya, pakai aja dulu," jawab Slamet.
Aku bersyukur didalam hati melihat suasana yang mulai normal ini. Raut wajah mereka juga kulihat sudah tidak tegang lagi.
Aku lalu terus berusaha mengajak mereka mengobrol santai. Dengan sesekali mengajak mereka bercanda. Meskipun tidak 100% berhasil, tapi setidaknya aku berusaha untuk mengurangi ketegangan yang mereka rasakan.
Beberapa saat kemudian, aku kembali ke topik utama.
"Tot,"
"Iya,"
"Tolong sekarang kamu telpon si bapak penjaga villa. Bilang jemput kita sekarang. Jangan lupa, minta sama dia, buat bawa orang lain juga," kataku sambil menyerahkan hp miliknya.
Gatot menerima hp itu dengan senang. Ia lalu bertanya.
"Orang lain buat?"
"Buat bantu kita cari teman-teman kita," kataku.
"Oke,"
Gatot lalu menghubungi nomor si bapak penjaga villa.
"Tuut...tuut...tuut...,"
Kami semua memandang Gatot dengan jantung berdebaran. Berharap agar si bapak penjaga villa cepat-cepat mengangkat teleponnya.
Tak selang berapa, telpon Gatot diangkat. Lalu terjadilah percakapan diantara keduanya. Inti dari percakapan itu adalah, Gatot meminta si bapak penjaga villa agar segera datang ke villa bersama beberapa orang temannya, untuk mengevakuasi kami, juga membantu kami mencari teman-teman kami yang hilang.
Si bapak penjaga villa menyanggupi permintaan kami.
"Tapi tunggu sebentar ya, mas. Saya harus mengajak orang-orang dulu," ujarnya diakhir pembicaraan.
Lalu telponpun terputus.
Aku menarik nafas lega.
Bantuan akan segera tiba. Dan penderitaan kami akan segera berakhir.
Seharusnya...
Karena sudah ada kepastian. Beban dan seluruh ketegangan yang kurasakan sejak awal tadi tak kuperdulikan, tiba-tiba saja menyergapku. Membuat tubuhku menginginkan untuk beristirahat. Meskipun barang sejenak.
Maka, aku langsung membaringkan diriku hanya dengan beralaskan baju. Sebelum memejamkan mata, aku berpesan kepada teman-temanku.
"Aku ingin beristirahat dulu, tolong kalian jangan ada yang berpisah-pisah lagi. Kalaupun nanti ada yang ingin buang air kecil, ajak teman dan jangan terlalu jauh. Kalau ada apa-apa, bangunkan aku,"
"Siap," jawab mereka.
Aku lalu menghirup udara segar pegunungan yang dingin itu. Meskipun hujan sudah reda, tapi kabut tipis masih menyelimuti hampir semua area villa.
Sebelum aku memejamkan mata, aku sempatkan diri untuk sekedar melihat wajah temanku satu persatu.
Inas dan Gatot yang berada paling dekat denganku bisa kulihat dengan jelas wajahnya. Lalu ada Sri, diapit oleh Ikhwan dan Slamet duduk dengan tenang.
Aku sedikit tersenyum saat melihat Sri. Kenangan singkat di hutan sana menyeruak singkat dengan begitu saja.

Lalu ada satu wajah lagi...

"Tunggu, siapa itu?" Kataku dalam hati tapi masih tetap dalam posisi berbaring.
Ada sebuah wajah asing yang duduk disamping Ikhwan.
Wajahnya yang sedikit tersembunyi, karena tertutup oleh rambutnya yang panjang, masih bisa kukenali.
Ya, meskipun awalnya agak sulit, tapi aku bisa mengenali sosok itu. Dia adalah kuntilanak yang menginginkan darah menstruasi milik Sri.

Jantungku kembali berdegup kencang, takut bila akan terjadi hal-hal yang berbau horor disini.
"Bisa gawat kalau teman-temanku ketakutan lagi," kataku dalam hati.
Kulihat wajahnya yang tersembunyi sedikit terangkat. Membuatku tambah yakin, kalau kuntilanak itu, adalah kuntilanak yang sempat ku usir didalam hutan.
Mataku melirik kekiri dan kanan. Mencoba melihat apakah teman-temanku ada yang melihat kehadirannya.
Tapi, kulihat semua wajah mereka tampak adem ayem saja. Tak ada tanda-tanda yang mengatakan bahwa salah satu dari mereka melihat sosok kuntilanak itu.
Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar.
"Makhluk rendahan itu ingin memberikan petunjuk kepadamu tentang keberadaan teman-temanmu. Tapi dia tidak bisa mengatakannya di alam manusia ini. Dia akan mengatakannya saat kamu berada diantara dua dunia. Alam nyata dan alam bawah sadar,"
Itu suara kyai Rekso.
"Maksudnya?" Tanyaku sedikit bingung.
"Kamu tidur saja. Nanti dia akan datang di mimpimu. Dia akan bercerita disana. Kamu tidak usah khawatir manusia. Ada aku disini yang akan menjaga ragamu, hahaha,"
"Oh begitu, baiklah. Mohon bantuannya kyai," kataku dalam hati.
Setelah aku yakin bahwa kuntilanak itu tidak akan mengganggu kami, aku mulai menata kembali jantungku yang tadi berdetak kencang karena kemunculan sosok itu.
Dengan perasaan agak tenang, aku mulai memejamkan mataku.
"Bissmika allahuama akhya wabismika ammuut,"
Karena kondisiku yang sangat lelah, maka tak butuh waktu lama bagiku untuk menyentuh alam mimpi.
***
Diubah oleh papahmuda099 23-05-2021 07:16
sulkhan1981 dan 33 lainnya memberi reputasi
34
Tutup