- Beranda
- The Lounge
jenis-jenis sunat, dari yang jadul sampai teknologi canggih
...
TS
Jari.Bengkok
jenis-jenis sunat, dari yang jadul sampai teknologi canggih

Saat ini, sunat tidak hanya menjadi kewajiban agama, tapi sudah menjadi trend untuk kesehatan kelamin semua laki-laki. Coba kalau kita pernah nonton bokep, tuh titidnya pada disunat kan ya. ehehehe, jadi sunat itu udah jadi hal yang wajib buat semua laki-laki apapun itu suku, agama, ras, dan golongan manapun. biar baik kita sehat gitu dan mudah dibersihkan.
nah ane mau bahas jenis - jenis sunat dari yang jadul sampe yang teknologi canggih.
siapa tau bisa jadi referensi pilihan buat agan yang belum sunat atau buat anak cowo agan yang sudah ingin di sunat.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
nah itu tadi jenis-jenis sunat dari yang jadul sampe yang modern gan, udah tentuin pilihan belum? buruan deh sunat, soalnya, selain menjaga kebersihan, sunat juga menambah kenikmatan saat bercinta yang bisa dirasakan buat cowo dan cewenya juga. tentunya ini bisa dicoba dan dibuktikan kalau agan udah nikah ya.
bonus gan, video kocak boruto vs hinata!
sumber
Diubah oleh Jari.Bengkok 25-12-2020 10:48
sunshii32 dan 40 lainnya memberi reputasi
39
14.3K
621
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.1KAnggota
Tampilkan semua post
endang1990
#134
Pengalaman pertama kali
Aku jadi ingat pengalaman waktu pertama kali mengkhitan seorang diri. Bermula ketika dua sahabatku menghubungiku menanyakan kesediaan ku untuk membantu mereka mengkhitan 3 orang anak jalanan asuhan mereka. Mendengar permintaan itu aku juga jadi bimbang. Aku memang sudah pernah beberapa kali mengkhitan tapi belum pernah melakukannya seorang diri. Tapi, kebimbangan itu berhasil aku atasi, aku yakinkan diriku sendiri aku bisa melakukannnya.
Di hari “H” hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil, pertama kali seorang diri dan langsung 3 orang sekaligus. Aku memandang wajah anak-anak yang akan ku khitan, “ah kasihan memang sudah waktunya mereka harus dikhitan, dua orang berusia 15 thn dan satu orang 16 thn,” sambil terus berdoa memohon kepada Allah kemudahan dan keselamatan. Tanganku juga gemetar ketika akan memulai. Untungnya semua pasienku sudah besar dan tenang, aku merasa jauh lebih mudah ketimbang mengkhitan anak kecil yg biasanya mengamuk dan menendang-nendangkan karena ketakutan.
Pasien pertama dan kedua selesai dengan baik, kemudian giliran pasien terakhir yang usianya 16 thn. Dari saat pertama kali dia berbaring (selama aku melakukan proses anastesi dan membersihkan smegmanya) dia terus memandangi wajahku.. Sesaat aku sudah akan memotong foreskin-nya, dia menangis sambil menggigit bibirnya. Aku sempat berpikir “wah kok ketakutan juga ya.” Kemudian terlintas dalam hatiku “wah gawat kalau dia sampai ngamuk dan nendang-nendang, pasti lebih sulit dipegangin, apalagi hanya dengan tenaga dua orang perempuan sahabatku yg mendampinginya.”
Salah seorang sahabatku mencoba menenangkan dia dengan mengatakan “ga sakit kok, ga lama kok.” Sahabatku yang lain pun bertanya “takut ya, sakit ya?” anak itu menggelengkan kepalanya. Kemudian aku bertanya “kalo ga takut kok kamu nangis ?” Sambil masih nangis sesegukan anak itu menjawab “bu dokter mirip ibu saya, saya sedih inget almarhumah ibu.” Saya sungguh kaget dengan jawaban anak itu. Belum hilang rasa kaget saya anak itu berkata lagi “ma kasih ya bu dokter, sekarang saya bener-bener udah jadi muslim.”
Aku sungguh terharu dengan perkataan anak itu, dan bersyukur tentu saja karena telah Allah beri kesempatan membantu 3 orang anak laki-laki menambah kegenapan mereka sebagai seorang muslim. Aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan kebimbangan dalam hatiku. Andai saja aku memutuskan untuk tidak membantu sahabatku, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku juga semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja juga tumbuh kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan
Di hari “H” hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil, pertama kali seorang diri dan langsung 3 orang sekaligus. Aku memandang wajah anak-anak yang akan ku khitan, “ah kasihan memang sudah waktunya mereka harus dikhitan, dua orang berusia 15 thn dan satu orang 16 thn,” sambil terus berdoa memohon kepada Allah kemudahan dan keselamatan. Tanganku juga gemetar ketika akan memulai. Untungnya semua pasienku sudah besar dan tenang, aku merasa jauh lebih mudah ketimbang mengkhitan anak kecil yg biasanya mengamuk dan menendang-nendangkan karena ketakutan.
Pasien pertama dan kedua selesai dengan baik, kemudian giliran pasien terakhir yang usianya 16 thn. Dari saat pertama kali dia berbaring (selama aku melakukan proses anastesi dan membersihkan smegmanya) dia terus memandangi wajahku.. Sesaat aku sudah akan memotong foreskin-nya, dia menangis sambil menggigit bibirnya. Aku sempat berpikir “wah kok ketakutan juga ya.” Kemudian terlintas dalam hatiku “wah gawat kalau dia sampai ngamuk dan nendang-nendang, pasti lebih sulit dipegangin, apalagi hanya dengan tenaga dua orang perempuan sahabatku yg mendampinginya.”
Salah seorang sahabatku mencoba menenangkan dia dengan mengatakan “ga sakit kok, ga lama kok.” Sahabatku yang lain pun bertanya “takut ya, sakit ya?” anak itu menggelengkan kepalanya. Kemudian aku bertanya “kalo ga takut kok kamu nangis ?” Sambil masih nangis sesegukan anak itu menjawab “bu dokter mirip ibu saya, saya sedih inget almarhumah ibu.” Saya sungguh kaget dengan jawaban anak itu. Belum hilang rasa kaget saya anak itu berkata lagi “ma kasih ya bu dokter, sekarang saya bener-bener udah jadi muslim.”
Aku sungguh terharu dengan perkataan anak itu, dan bersyukur tentu saja karena telah Allah beri kesempatan membantu 3 orang anak laki-laki menambah kegenapan mereka sebagai seorang muslim. Aku telah memilih, aku juga telah berhasil mengalahkan kebimbangan dalam hatiku. Andai saja aku memutuskan untuk tidak membantu sahabatku, tentu aku akan kehilangan pengalaman berharga yang telah dihadirkan Allah kepadaku. Sejak saat ini, aku juga semakin percaya diri untuk mengkhitan. Dan tentu saja juga tumbuh kesadaran bahwa, hidup adalah sebuah pilihan
5samuel543 dan Jari.Bengkok memberi reputasi
2
Tutup




