- Beranda
- Stories from the Heart
It's My (Our) Life
...
TS
akmal162
It's My (Our) Life

Prolog
Life is a choice.
Hidup itu sebenarnya sangat sederhana, tinggal bagaimana kita memilih dan lalu menjalani pilihan tersebut, setidaknya begitulah makna yang ku tangkap dari kata-kata bijak berbahasa inggris yang entah dipopulerkan oleh siapa itu.
Tapi kesederhanaan itu akan sirna dalam sekejap mata ketika kita berhadapan dengan sebuah pilihan, pasalnya dibalik sebuah keputusan yang harus kita pilih, akan ada banyak pertimbangan-pertimbangan akan dampak lain yang akan bermunculan dibalik masing-masing pilihan.
Sederhanya, akan selalu ada resiko yang harus kita terima dari setiap pilihan yang kita ambil, dan tidak heran jika ada banyak sekali manusia yang berhasil dibuat ragu-ragu oleh sebuah resiko.
Dan itu yang terjadi pada ku saat ini, bimbang, ragu-ragu, takut, semua rasa itu benar-benar teraduk-aduk menjadi satu di dalam pikiran dan hati ku.
Tapi aku memiliki keyakinan, sebagai seorang laki-laki yang bertangung jawab, aku tidak akan membiarkan orang-orang disekitar ku terkena dampak dari resiko atas pilihan yang ku ambil, apalagi sampai ikut merasakan semua perasaan itu.
Biar aku saja yang merasakan kebimbangan itu, biar aku saja yang merasakan keraguan itu, biar aku saja yang merasakan ketakutan itu, biar aku saja yang menghadapi semuanya. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa keputusan yang sudah ku ambil adalah keputusan yang tepat, sudah, itu saja, TITIK!
Yap, intinya aku akan menyimpan semuanya sendiri, dan aku juga yang akan menyelesaikan semuanya seorang diri, karena aku ini seorang laki-laki.
Life is a choice.
Hidup itu sebenarnya sangat sederhana, tinggal bagaimana kita memilih dan lalu menjalani pilihan tersebut, setidaknya begitulah makna yang ku tangkap dari kata-kata bijak berbahasa inggris yang entah dipopulerkan oleh siapa itu.
Tapi kesederhanaan itu akan sirna dalam sekejap mata ketika kita berhadapan dengan sebuah pilihan, pasalnya dibalik sebuah keputusan yang harus kita pilih, akan ada banyak pertimbangan-pertimbangan akan dampak lain yang akan bermunculan dibalik masing-masing pilihan.
Sederhanya, akan selalu ada resiko yang harus kita terima dari setiap pilihan yang kita ambil, dan tidak heran jika ada banyak sekali manusia yang berhasil dibuat ragu-ragu oleh sebuah resiko.
Dan itu yang terjadi pada ku saat ini, bimbang, ragu-ragu, takut, semua rasa itu benar-benar teraduk-aduk menjadi satu di dalam pikiran dan hati ku.
Tapi aku memiliki keyakinan, sebagai seorang laki-laki yang bertangung jawab, aku tidak akan membiarkan orang-orang disekitar ku terkena dampak dari resiko atas pilihan yang ku ambil, apalagi sampai ikut merasakan semua perasaan itu.
Biar aku saja yang merasakan kebimbangan itu, biar aku saja yang merasakan keraguan itu, biar aku saja yang merasakan ketakutan itu, biar aku saja yang menghadapi semuanya. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa keputusan yang sudah ku ambil adalah keputusan yang tepat, sudah, itu saja, TITIK!
Yap, intinya aku akan menyimpan semuanya sendiri, dan aku juga yang akan menyelesaikan semuanya seorang diri, karena aku ini seorang laki-laki.
Spoiler for Part 1:
TRIPLE KILL
Jingganya sinar matahari mulai mengganggu perhatian ku terhadap kendaraan yang berseliweran di depan ku.
Sontak saja kelopak mataku berhasil dibuat agak sedikit menyipit olehnya, ditambah lagi asap yang bersumber dari rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk ku, yang juga membuat kedua mata ku semakin perih.
Oleh karena itu akupun mulai kembali tersadar dari lamunan ku, kini perhatian ku tertuju kepada sebatang rokok yang sudah hampir 5 menit tidak menyentuh bibir ku sama sekali. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku pun langsung menjatuhkan tumpukan abu yang masih bertengger dengan santainya di rokok ku.
Karena tidak ingin uang yang terbuang sia-sia semakin banyak, aku pun memutuskan untuk segera menghisapnya. Sambil menghembuskan asap rokok dengan santai, aku mengangkat sebelah tangan ku untuk melihat jam tangan yang melingkar di atasnya.
Jarum pendek yang sudah menunjuk ke arah angka 4 berhasil membuat ku menghembuskan nafas sekasar-kasarnya, aku pun kembali menghisap rokok ku sembari menekan touchpad laptop ku, dan pemandangan yang tersaji di laptop ku kali ini berhasil membuat ku berdecak kesal.
"Hadeeeh.... Dari jam 12 nongkrong disini cuman dapet 2 adegan" Batin ku sembari mengusap-usap rambut ku dengan kasar.
Stuck, entah kenapa semakin kesini ide-ide yang biasanya mengalir begitu saja dari kepala ku semakin sedikit. Padahal pada saat awal aku memulai tulisan ini semua cerita seolah-olah sudah benar-benar tergambar dengan jelas mulai awal hingga akhir.
Mungkin ini memang salah ku yang menganggap ide-ide itu akan terus menempel di kepala, ditambah lagi dengan mood ku yang sedang buruk karena harus datang ke pabrik hari sabtu kemaren, sehingga satu hari yang menjadi kesempatan ku untuk melanjutkan project pribadi ku ini hilang.
Memang sih aku mendapatkan bayaran untuk itu, tapi aku tetap merasa bahwa hari libur dan waktu luang ku lebih berharga jika dibandingkan dengan uang 450 ribu yang ku dapat.
Setelah menghembuskan nafas panjang, aku kembali menghisap rokok ku untuk meminimalisir perasaan kesal yang menyeruak di kepala ku saat ini. Setelah menghembuskan asap rokok, aku memgambil segelas kopi yang terletak di samping laptop ku, lalu meminum kopi yang tersisa sampai benar-benar habis bis bis.
Agar perasaan ku lebih tenang lagi, aku pun memutuskan untuk menyenderkan tubuh ku di dinding kursi sembari menghabiskan rokok ku yang filternya sudah hampir tersentuh oleh api sembari menikmati angin sore yang kini sudah mulai menerpa tubuh ku.
Ting
Baru saja beberapa menit, santai ku sudah terganggu lagi dengan suara notif WA yang berasal dari HP ku, karena ada sedikit rasa penasaran, tangan ku pun mulai bergerak meraih HP yang tergeletak di samping laptop untuk melihat siapa yang baru saja mengirim pesan kepada ku.
Dan ternyata aku baru saja mengambil keputusan yang salah.
"Adit, kirimin PPT perencanaan routine maintenence yang saya tugasin ke kamu minggu lalu"
Yap, double kill, hari minggu hampir berakhir, hari senin pun sudah menanti, perasaan kesal ini belum beberakhir, sudah datang masalah baru lagi.
Sontak saja pesan itu berhasil membuat ku geram segeram-geramnya, setelah menekan puntung rokok kencang-kencang ke dalam asbak, aku langsung berteriak kecil sembari menutupi wajah ku dengan kedua tangan, tidak lupa aku menggerakan kaki ku untuk menendang kaki meja yang berada di depan ku berkali-kali.
Suara nafas memburu yang masih memenuhi telinga ku membuat ku tidak lagi fokus dengan keadaan sekitar, aku pun mulai menurunkan kedua tangan ku dari wajah ku secara perlahan.
Deg....
Seketika saja aku langsung tersadar setelah mendapati pemandangan kendaraan yang sedang berlalu lalang di hadapan ku. Dengan gerakan yang agak sedikit hati-hati, mata ku mulai melirik ke arah kanan dan ke arah belakang.
Dan ternyata dugaan ku benar, kini seluruh pengunjung cafe mulai melemparkan tatapan aneh mereka ke arah ku.
"Ekhem.... Ekhem...."
Sontak saja aku langsung berdehem sekencang-kencangnya sembari memasang wajah sok cool untuk menyembunyikan perasaan malu yang mulai menguasai diri ku.
Karena masih penasaran dengan reaksi mereka, aku mulai kembali curi-curi pandang ke arah pengunjung cafe yang lain, aku perhatikan ke arah kanan, sekumpulan anak muda itu mulai kembali asyik dengan obrolannya, begitu juga dengan ciwi-ciwi yang duduk di belakang ku.
Dan saat bola mata ku mulai bergerak ke arah kiri, aku melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat ku. Karena aku sedang duduk, aku hanya bisa melihat kaki jenjangnya yang dilapisi oleh celana panjang hitam saja, sepertinya dia seorang perempuan. Bola mata ku pun mulai bergerak ke arah atas untuk mengetahui siapa orang itu dan apa maksud kehadirannya di dekat ku.
Saat bola mata ku bergerak semakin ke atas, pandangan ku mulai melihat kedua tangan putih mulus yang sedang memegang sebuah nampan. Dan, saat aku baru akan mendongakan lagi kepala ku ke atas....
"Kak adit...."
"Weh...."
"Aaaaaaaaaa...."
PRAAAAAAAANNNNNNNNGGGGGGG
Yap, triple kill
Sontak saja nampan yang dibawa oleh perempuan itu terjatuh ke lantai dan membuat gelas-gelas kaca yang ada di atasnya pecah berkeping-keping.
Bukannya bertambah baik, keadaan malah semakin terasa akward karena aku berhasil membuat perhatian seluruh pengunjung cafe tertuju kembali ke arah ku.
Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu, kini aku lebih fokus untuk membantu caca membereskan pecahan gelas-gelas yang dijatuhkannya ke atas nampan.
Perasaan tidak enak yang mulai muncul membuat mataku bergerak untuk mencuri pandang ke arah caca yang sedang mengambil serpihan-serpihan gelas pecah itu dengan wajah panik. Sesekali iya menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga untuk memudahkan pengerjaannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, serpihan gelas kaca tersebut sudah hampir seluruhnya terkumpul di atas nampan, karena tidak ingin membuang-buang waktu, caca mengangkat dan meletakan nampan tersebut ke atas meja dengan gerakan cepat.
"E e eh.... Ca...."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku, caca langsung berlalu dari hadapan ku untuk masuk ke dalam cafe. Tidak lama setelah caca masuk, dia kembali menghampiri ku dengan sebatang sapu dan sebuah serok yang berada di kedua tangannya.
Dengan gerakan cepat dia mulai menyapu serpihan-serpihan kaca yang masih tersisa ke daam serok.
"Ca.... Gua...."
Lagi-lagi, belum sempat aku mengucapkan permintaan maaf chacha kembali berlalu dengan langkah cepat menuju ke arah tong sampah yang berada di ujung ruangan, lalu menuangkan seluruh isi serok yang ada di tangannya ke dalam tong tersebut.
Setelah itu caca kembali memasuki ruangan cafe. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas dia kembali lagi ke arah meja ku dengan gerakan cepat.
Selama caca melangkah ke arah ku, entah kenapa dia sama sekali tidak mau membalas tatapan ku.
Hal itu membuat rasa bersalah ku semakin besar, apalagi setelah melihat bulir air yang mengumpul di kedua kelopak matanya.
Sadar dengan hal itu, dia langsung cepat-cepat mengusap kedua matanya dengan dengan punggung tangan sesampainya di meja ku, lalu mengmbil nampan yang berisi gelas-gelas pecah tersebut untuk masuk ke dalam cafe bersamanya.
Aku hanya bisa meneguk ludah setelah melihat kondisi caca tadi, apa lagi setelah aku melihat arman yang sudah siap-siap menyambut chcha dengan wajah gusar di balik meja kasir dari jendela cafe.
Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung mengikuti caca masuk ke dalam cafe dengan gerakan cepat. Caca yang sudah menyadari keberadaan Arman langsung memelankan langkah kakinya sembari menundukan wajahnya.
"Ca... Udah berapa kali...." Ucap arman dengan nada yang agak sedikit tinggi.
"Man, santai man santai" Sela ku sebelum arman melanjutkan kalimatnya.
"Eh.... Dit, sorry ya, padahal nih anak udah...."
"Enggak kok man, gua yang bikin caca jatohin gelas tadi, dia nggak salah kok"
"Tapi dit, dia udah berapa kali kayak...."
"Kagak man, serius, tadi emang salah gua, dia tadi kaget gara-gara gua"
"Tapi dit...."
"Udah lah man, santai, gua ganti kok, tenang aja"
"Bukan masalah itu dit, tapi...."
"Eeeee...., st st st st...." Aku kembali memotong kalimat arman untuk yang kesekian kalinya sembari merogoh dompet ku untuk mengambil 2 lembar uang 100 ribuan di dalamnya, lalu menarik tangan arman dan meletakan uang tersebut di atasnya.
"Eh...., enggak dit, gak usah, nyante aja kali, kayak sama siapa aja lu"
"Udah man.... Emang tadi itu yang salah gua man, biar gimana pun tetep wajib gua ganti lah"
"Yaelah dit.... Jadi gak enak gua"
"Yeeee.... Lu yang bilang kayak sama siapa aja tadi, lu sendiri juga, kayak sama siapa aja, udah, terima aja, hak lu itu"
"Iya dit iya, thank you ya, sorry banget nih, dari kemaren emang agak aneh...."
"Eh, shiftnya caca udah selesai kan man?" Untuk kesekian kalinya aku memotong kalimat yang keluar dari mulut arman sembari menunjukan jam tangan yang melingkar di tanagan ku.
"Iya sih dit...., itu si ayu juga udah dateng"
"Yaudah kalo gitu, ca.... Ambil tas sana, balik bareng gua aja"
Caca hanya mengangguk kecil dengan wajah yang sedari tadi belum terangkat sembari melangkah ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di belakang meja kasir.
Sambil menunggu caca kembali, aku langsung bergegas membereskan barang-barang yang masih berada di meja tempat aku duduk tadi, lalu kembali menghampiri arman untuk mengajaknya berbincang-bincang agar pikirannya dapat teralih dari kejadian tadi.
Tidak lama setelah itu, caca yang saat ini sudah melapisi seragamnya dengan cardigan hijau kembali menuju ke arah kami dengan langkah pelan dan kepala yang terus ditundukan.
"Nah.... Udah balik tuh anaknya, gua balik dulu ya man, minggu depan gua kesini lagi, kayak biasa"
Aku sengaja mengucapkan kalimat tersebut agar aku dapat segera membawa chcha segera keluar dari cafe ini dan terhindar dari amukan bosnya.
Bukan apa-apa, pasalnya beberapa minggu ini aku sering kali melihat caca melakukan berbagai macam kesalahan, lupa ngasih struk lah, lupa setel musik lah, salah bikin pesanan lah. Aku hanya khawatir akan terjadi apa-apa dengan pekerjaannya setelah kejadian tadi, kalau tidak bekerja di tempat ini, chacha pasti akan sangat kebingungan untuk membayar uang kuliahnya.
Sambil berjalan menuju ke arah motor ku, aku mulai mencuri-curi pandang ke arah caca yang masih saja diam sembari menundukan kepalanya, perasaan bersalah kembali menyeruak di kepala ku setelah melihat wajah sedihnya.
Entah lah, aku juga tidak tahu apa yang sedang dia alami saat ini sehingga membuat pekerjaannya agak berantakan.
"Eng.... Ca.... Sorry ya"
Dia langsung menarik nafas panjang setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut ku, lalu menghembuskannya secara perlahan sembari membalas tatapan ku. Seutas senyuman mulai menghiasi wajahnya.
"Yaudah kak, lupain aja, sorry juga buat yang tadi"
"Lah, kok jadi lu yang minta maaf cha?"
"Ehehe.... Enggak papa kok kak, udah lah, lupain aja" Balas nya sembari membuang pandangannya dari wajah ku tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya. Tapi masih dengan tatapan mata yang agak sedikit kosong.
"Btw lu kayaknya lagi banyak pikiran akhir-akhir ini ca, ada masalah apa sih?" Tanya ku yang masih penasaran dengan apa yang terjadi pada caca.
Caca kembali menoleh ke arah ku dengan gerakan cepat sembari melemparkan tatapan aneh.
"Dih... Gak kebalik kak? Harusnya gua yang nanya gitu ke kakak, kenapa coba tadi kakak marah-marah sendiri sampe nendang-nendang meja begitu? Udah kayak orang setress aja!" Ujar caca dengan nada yang agak sedikit nge-gas.
"Ehehehe.... Kalau masalah ku sih udah jelas ca, besok kan udah senin lagi"
"Yaelah.... Cuman begitu doang, kirain apaan" Ujar chacha sembari mengerling malas dan membuang pandangannya dari wajah ku.
Sementara itu aku hanya membalasnya dengan sebuah kekehan kecil. Tidak lama setelah itu aku dan caca sudah berada di dekat motor ku yang sedang terparkir.
Tanpa banyak bicara lagi aku langsung menunggangi motor ku, menyelipkan helm yang awalnya tergantung di kaca sepion ke bawah jok sepeda motor bagian depan ku, lalu memundurkan motor ku dengan kaki.
"Ayo naik ca" Perintah ku tanpa menoleh ke arahnya.
Tanpa basa-basi dia pun langsung naik ke atas jok motor ku. Setelah merasa caca sudah nyaman dengan posisi duduknya, aku pun langsung melajukan motor ku untuk pergi meninggalkan cafe ini.
Jingganya sinar matahari mulai mengganggu perhatian ku terhadap kendaraan yang berseliweran di depan ku.
Sontak saja kelopak mataku berhasil dibuat agak sedikit menyipit olehnya, ditambah lagi asap yang bersumber dari rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk ku, yang juga membuat kedua mata ku semakin perih.
Oleh karena itu akupun mulai kembali tersadar dari lamunan ku, kini perhatian ku tertuju kepada sebatang rokok yang sudah hampir 5 menit tidak menyentuh bibir ku sama sekali. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku pun langsung menjatuhkan tumpukan abu yang masih bertengger dengan santainya di rokok ku.
Karena tidak ingin uang yang terbuang sia-sia semakin banyak, aku pun memutuskan untuk segera menghisapnya. Sambil menghembuskan asap rokok dengan santai, aku mengangkat sebelah tangan ku untuk melihat jam tangan yang melingkar di atasnya.
Jarum pendek yang sudah menunjuk ke arah angka 4 berhasil membuat ku menghembuskan nafas sekasar-kasarnya, aku pun kembali menghisap rokok ku sembari menekan touchpad laptop ku, dan pemandangan yang tersaji di laptop ku kali ini berhasil membuat ku berdecak kesal.
"Hadeeeh.... Dari jam 12 nongkrong disini cuman dapet 2 adegan" Batin ku sembari mengusap-usap rambut ku dengan kasar.
Stuck, entah kenapa semakin kesini ide-ide yang biasanya mengalir begitu saja dari kepala ku semakin sedikit. Padahal pada saat awal aku memulai tulisan ini semua cerita seolah-olah sudah benar-benar tergambar dengan jelas mulai awal hingga akhir.
Mungkin ini memang salah ku yang menganggap ide-ide itu akan terus menempel di kepala, ditambah lagi dengan mood ku yang sedang buruk karena harus datang ke pabrik hari sabtu kemaren, sehingga satu hari yang menjadi kesempatan ku untuk melanjutkan project pribadi ku ini hilang.
Memang sih aku mendapatkan bayaran untuk itu, tapi aku tetap merasa bahwa hari libur dan waktu luang ku lebih berharga jika dibandingkan dengan uang 450 ribu yang ku dapat.
Setelah menghembuskan nafas panjang, aku kembali menghisap rokok ku untuk meminimalisir perasaan kesal yang menyeruak di kepala ku saat ini. Setelah menghembuskan asap rokok, aku memgambil segelas kopi yang terletak di samping laptop ku, lalu meminum kopi yang tersisa sampai benar-benar habis bis bis.
Agar perasaan ku lebih tenang lagi, aku pun memutuskan untuk menyenderkan tubuh ku di dinding kursi sembari menghabiskan rokok ku yang filternya sudah hampir tersentuh oleh api sembari menikmati angin sore yang kini sudah mulai menerpa tubuh ku.
Ting
Baru saja beberapa menit, santai ku sudah terganggu lagi dengan suara notif WA yang berasal dari HP ku, karena ada sedikit rasa penasaran, tangan ku pun mulai bergerak meraih HP yang tergeletak di samping laptop untuk melihat siapa yang baru saja mengirim pesan kepada ku.
Dan ternyata aku baru saja mengambil keputusan yang salah.
"Adit, kirimin PPT perencanaan routine maintenence yang saya tugasin ke kamu minggu lalu"
Yap, double kill, hari minggu hampir berakhir, hari senin pun sudah menanti, perasaan kesal ini belum beberakhir, sudah datang masalah baru lagi.
Sontak saja pesan itu berhasil membuat ku geram segeram-geramnya, setelah menekan puntung rokok kencang-kencang ke dalam asbak, aku langsung berteriak kecil sembari menutupi wajah ku dengan kedua tangan, tidak lupa aku menggerakan kaki ku untuk menendang kaki meja yang berada di depan ku berkali-kali.
Suara nafas memburu yang masih memenuhi telinga ku membuat ku tidak lagi fokus dengan keadaan sekitar, aku pun mulai menurunkan kedua tangan ku dari wajah ku secara perlahan.
Deg....
Seketika saja aku langsung tersadar setelah mendapati pemandangan kendaraan yang sedang berlalu lalang di hadapan ku. Dengan gerakan yang agak sedikit hati-hati, mata ku mulai melirik ke arah kanan dan ke arah belakang.
Dan ternyata dugaan ku benar, kini seluruh pengunjung cafe mulai melemparkan tatapan aneh mereka ke arah ku.
"Ekhem.... Ekhem...."
Sontak saja aku langsung berdehem sekencang-kencangnya sembari memasang wajah sok cool untuk menyembunyikan perasaan malu yang mulai menguasai diri ku.
Karena masih penasaran dengan reaksi mereka, aku mulai kembali curi-curi pandang ke arah pengunjung cafe yang lain, aku perhatikan ke arah kanan, sekumpulan anak muda itu mulai kembali asyik dengan obrolannya, begitu juga dengan ciwi-ciwi yang duduk di belakang ku.
Dan saat bola mata ku mulai bergerak ke arah kiri, aku melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat ku. Karena aku sedang duduk, aku hanya bisa melihat kaki jenjangnya yang dilapisi oleh celana panjang hitam saja, sepertinya dia seorang perempuan. Bola mata ku pun mulai bergerak ke arah atas untuk mengetahui siapa orang itu dan apa maksud kehadirannya di dekat ku.
Saat bola mata ku bergerak semakin ke atas, pandangan ku mulai melihat kedua tangan putih mulus yang sedang memegang sebuah nampan. Dan, saat aku baru akan mendongakan lagi kepala ku ke atas....
"Kak adit...."
"Weh...."
"Aaaaaaaaaa...."
PRAAAAAAAANNNNNNNNGGGGGGG
Yap, triple kill
Sontak saja nampan yang dibawa oleh perempuan itu terjatuh ke lantai dan membuat gelas-gelas kaca yang ada di atasnya pecah berkeping-keping.
Bukannya bertambah baik, keadaan malah semakin terasa akward karena aku berhasil membuat perhatian seluruh pengunjung cafe tertuju kembali ke arah ku.
Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu, kini aku lebih fokus untuk membantu caca membereskan pecahan gelas-gelas yang dijatuhkannya ke atas nampan.
Perasaan tidak enak yang mulai muncul membuat mataku bergerak untuk mencuri pandang ke arah caca yang sedang mengambil serpihan-serpihan gelas pecah itu dengan wajah panik. Sesekali iya menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga untuk memudahkan pengerjaannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, serpihan gelas kaca tersebut sudah hampir seluruhnya terkumpul di atas nampan, karena tidak ingin membuang-buang waktu, caca mengangkat dan meletakan nampan tersebut ke atas meja dengan gerakan cepat.
"E e eh.... Ca...."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku, caca langsung berlalu dari hadapan ku untuk masuk ke dalam cafe. Tidak lama setelah caca masuk, dia kembali menghampiri ku dengan sebatang sapu dan sebuah serok yang berada di kedua tangannya.
Dengan gerakan cepat dia mulai menyapu serpihan-serpihan kaca yang masih tersisa ke daam serok.
"Ca.... Gua...."
Lagi-lagi, belum sempat aku mengucapkan permintaan maaf chacha kembali berlalu dengan langkah cepat menuju ke arah tong sampah yang berada di ujung ruangan, lalu menuangkan seluruh isi serok yang ada di tangannya ke dalam tong tersebut.
Setelah itu caca kembali memasuki ruangan cafe. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas dia kembali lagi ke arah meja ku dengan gerakan cepat.
Selama caca melangkah ke arah ku, entah kenapa dia sama sekali tidak mau membalas tatapan ku.
Hal itu membuat rasa bersalah ku semakin besar, apalagi setelah melihat bulir air yang mengumpul di kedua kelopak matanya.
Sadar dengan hal itu, dia langsung cepat-cepat mengusap kedua matanya dengan dengan punggung tangan sesampainya di meja ku, lalu mengmbil nampan yang berisi gelas-gelas pecah tersebut untuk masuk ke dalam cafe bersamanya.
Aku hanya bisa meneguk ludah setelah melihat kondisi caca tadi, apa lagi setelah aku melihat arman yang sudah siap-siap menyambut chcha dengan wajah gusar di balik meja kasir dari jendela cafe.
Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung mengikuti caca masuk ke dalam cafe dengan gerakan cepat. Caca yang sudah menyadari keberadaan Arman langsung memelankan langkah kakinya sembari menundukan wajahnya.
"Ca... Udah berapa kali...." Ucap arman dengan nada yang agak sedikit tinggi.
"Man, santai man santai" Sela ku sebelum arman melanjutkan kalimatnya.
"Eh.... Dit, sorry ya, padahal nih anak udah...."
"Enggak kok man, gua yang bikin caca jatohin gelas tadi, dia nggak salah kok"
"Tapi dit, dia udah berapa kali kayak...."
"Kagak man, serius, tadi emang salah gua, dia tadi kaget gara-gara gua"
"Tapi dit...."
"Udah lah man, santai, gua ganti kok, tenang aja"
"Bukan masalah itu dit, tapi...."
"Eeeee...., st st st st...." Aku kembali memotong kalimat arman untuk yang kesekian kalinya sembari merogoh dompet ku untuk mengambil 2 lembar uang 100 ribuan di dalamnya, lalu menarik tangan arman dan meletakan uang tersebut di atasnya.
"Eh...., enggak dit, gak usah, nyante aja kali, kayak sama siapa aja lu"
"Udah man.... Emang tadi itu yang salah gua man, biar gimana pun tetep wajib gua ganti lah"
"Yaelah dit.... Jadi gak enak gua"
"Yeeee.... Lu yang bilang kayak sama siapa aja tadi, lu sendiri juga, kayak sama siapa aja, udah, terima aja, hak lu itu"
"Iya dit iya, thank you ya, sorry banget nih, dari kemaren emang agak aneh...."
"Eh, shiftnya caca udah selesai kan man?" Untuk kesekian kalinya aku memotong kalimat yang keluar dari mulut arman sembari menunjukan jam tangan yang melingkar di tanagan ku.
"Iya sih dit...., itu si ayu juga udah dateng"
"Yaudah kalo gitu, ca.... Ambil tas sana, balik bareng gua aja"
Caca hanya mengangguk kecil dengan wajah yang sedari tadi belum terangkat sembari melangkah ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di belakang meja kasir.
Sambil menunggu caca kembali, aku langsung bergegas membereskan barang-barang yang masih berada di meja tempat aku duduk tadi, lalu kembali menghampiri arman untuk mengajaknya berbincang-bincang agar pikirannya dapat teralih dari kejadian tadi.
Tidak lama setelah itu, caca yang saat ini sudah melapisi seragamnya dengan cardigan hijau kembali menuju ke arah kami dengan langkah pelan dan kepala yang terus ditundukan.
"Nah.... Udah balik tuh anaknya, gua balik dulu ya man, minggu depan gua kesini lagi, kayak biasa"
Aku sengaja mengucapkan kalimat tersebut agar aku dapat segera membawa chcha segera keluar dari cafe ini dan terhindar dari amukan bosnya.
Bukan apa-apa, pasalnya beberapa minggu ini aku sering kali melihat caca melakukan berbagai macam kesalahan, lupa ngasih struk lah, lupa setel musik lah, salah bikin pesanan lah. Aku hanya khawatir akan terjadi apa-apa dengan pekerjaannya setelah kejadian tadi, kalau tidak bekerja di tempat ini, chacha pasti akan sangat kebingungan untuk membayar uang kuliahnya.
Sambil berjalan menuju ke arah motor ku, aku mulai mencuri-curi pandang ke arah caca yang masih saja diam sembari menundukan kepalanya, perasaan bersalah kembali menyeruak di kepala ku setelah melihat wajah sedihnya.
Entah lah, aku juga tidak tahu apa yang sedang dia alami saat ini sehingga membuat pekerjaannya agak berantakan.
"Eng.... Ca.... Sorry ya"
Dia langsung menarik nafas panjang setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut ku, lalu menghembuskannya secara perlahan sembari membalas tatapan ku. Seutas senyuman mulai menghiasi wajahnya.
"Yaudah kak, lupain aja, sorry juga buat yang tadi"
"Lah, kok jadi lu yang minta maaf cha?"
"Ehehe.... Enggak papa kok kak, udah lah, lupain aja" Balas nya sembari membuang pandangannya dari wajah ku tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya. Tapi masih dengan tatapan mata yang agak sedikit kosong.
"Btw lu kayaknya lagi banyak pikiran akhir-akhir ini ca, ada masalah apa sih?" Tanya ku yang masih penasaran dengan apa yang terjadi pada caca.
Caca kembali menoleh ke arah ku dengan gerakan cepat sembari melemparkan tatapan aneh.
"Dih... Gak kebalik kak? Harusnya gua yang nanya gitu ke kakak, kenapa coba tadi kakak marah-marah sendiri sampe nendang-nendang meja begitu? Udah kayak orang setress aja!" Ujar caca dengan nada yang agak sedikit nge-gas.
"Ehehehe.... Kalau masalah ku sih udah jelas ca, besok kan udah senin lagi"
"Yaelah.... Cuman begitu doang, kirain apaan" Ujar chacha sembari mengerling malas dan membuang pandangannya dari wajah ku.
Sementara itu aku hanya membalasnya dengan sebuah kekehan kecil. Tidak lama setelah itu aku dan caca sudah berada di dekat motor ku yang sedang terparkir.
Tanpa banyak bicara lagi aku langsung menunggangi motor ku, menyelipkan helm yang awalnya tergantung di kaca sepion ke bawah jok sepeda motor bagian depan ku, lalu memundurkan motor ku dengan kaki.
"Ayo naik ca" Perintah ku tanpa menoleh ke arahnya.
Tanpa basa-basi dia pun langsung naik ke atas jok motor ku. Setelah merasa caca sudah nyaman dengan posisi duduknya, aku pun langsung melajukan motor ku untuk pergi meninggalkan cafe ini.
Spoiler for Index:
Diubah oleh akmal162 26-05-2021 17:11
khalidki dan 13 lainnya memberi reputasi
14
3.2K
Kutip
15
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#1
Spoiler for Part 2:
CURCOLAN CACA
"Ca, kita beli makan dulu ya, males keluar lagi gua kalau udah nyampe kos" Ujar ku sesaat setelah membelokan sepeda motor ku ke arah warung nasi uduk bang agus yang terletak tidak jauh dari kos ku dan caca.
Caca langsung turun dari boncengan ku, seolah-olah memberi isyarat kalau dia menyetujui ajakan ku.
Setelah mencabut kunci motor ku, aku pun langsung turun dan berjalan mendahului chacha ke arah bang agus yang sedang asyik dengan HPnya.
"Pake apa ca?" Tanya ku sembari menoleh ke arah caca yang sedang berdiri di belakang ku.
"Samaain aja deh kak"
"Bungkus aja ya?"
"Bebas kak"
"Bang...." Panggil ku kepada bang agus yang sampai saat ini belum menyadari kedatangan kami, mungkin karrna kedua telinganya yang sedang tersumpal headset.
"WOI BANG...."
"HEITS...." Sontak bang agus pun terkejut setelah aku memanggilnya dengan suara yang agak sedikit keras.
"Buset dah.... Gua kirain siapa dit dit.... Manggil orang tua yang baek-baek dikit napa"
"Ye.... Gua kan mau beli bang, elu nya malah asyik nonton bokep"
"Heh.... Ngasal aja lu kalo ngomong" Ujar bang agus sembari meletakan HPnya dan bersiap-siap untuk berdiri
Aku hanya menanggapi bang agus dengan sebuah kekehan kecil.
"Yah dit, kertas nya lagi abis nih, makan sini aja ya" Ujar bang agus sesaat setelah dia berdiri di depan gerobak nasi uduknya
"Yeeee.... Kok bisa abis sih, niat jualan gak sih lu bang? Yaudah cha, cari tempat lain aja yuk" Ujar ku sembari memasang gestur akan meninggalkan warung tersebut.
"Yaelah dit.... Gitu banget sih lu ama gua" Melas bang agus dengan wajah lesu.
"Ehehehe.... Canda bang, yaudah, 2 pake telur dadar ya" Ujar ku sembari berjalan ke arah salah satu meja yang ada di sana.
"Nah...."
Sontak saja wajah bang agus kembali terlihat sumeringah dan langsung bergegas untuk menyiapkan pesanan kami, begitu juga dengan chacha.
"Minum apaan lu dit?" Ujar mak inah yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang berada di ujung warung ini sesaat setelah aku dan chacha duduk.
"Es teh tawar aja mak"
"Kalo enengnya mau minum apa?" Lanjut mak inah.
"Es teh manis aja bu"
Sembari mengangguk kecil dengan wajah datar, mak inah langsung berlalu dari hadapan kami.
Setelah mak inah berlalu keadaan kembali hening, sekarang caca malah asyik sendiri dengan HPnya tanpa menghiraukan keberadaan ku.
Sementara itu aku langsung merogoh sling bag ku untuk mengambil sekotak rokok sekaligus dengan koreknya.
"Rokok gak ca?" Tawar ku sembari meletakan sekotak rokok dan korek di atas meja.
Sontak chacha langsung melirik kotak rokok yang aku letakan di atas meja.
"Skip dulu deh kak kalau yang ini" Ujar chacha sembari kembali mengalihkan pandangannya ke arah
Aku pun hanya mengangguk kecil sembari mengambil sebatang rokok dari kotaknya, lalu membakarnya.
"Besok kuliah ca?" Ujar ku yang mencoba kembali menarik perhatian chacha.
Caca hanya menaikan kedua alisnya tanpa membalas tatapan ku.
"Dih.... Jutek banget sih" Protes ku kesal.
Sontak caca langsung menarik nafas panjang sembari melempar tatapannya ke arah ku.
"Kenapa sih kak adit sayang?" Tanya caca dengan nada penuh penekanan.
"Loh loh loh.... Udah sayang-sayangan aja, pacaran lu bedua? Heh dit.... Si Risa lu kemanain? " Ujar mak inah sembari menaruh dua gelas berisi teh es di atas meja kami.
"Ye.... Sewot aja lu mak, emang kalo 2 kagak boleh? Iya gak bang?"
"Boleh dong...." Jawab bang agus yang masih fokus memindahkan lauk demi lauk ke atas piring kami.
"Tuh mak, bang agus aja bilang boleh, lu juga mau nambah 1 lagi kan bang?"
"Ya kalau ada yang mau ama gua mah ayo aja dit" Jawab bang agus sembari mengangkat dua buah piring, lalu membalikan badannya.
"Ngomong apa tadi? Ulangin lagi dong bang?" Ujar mak inah yang sudah berkacak pinggang dengan wajah murkanya.
"Astagfirullah...." Bang agus yang baru saja menyadari keberadaan mak inah pun langsung terkesiap, sehingga sendok dan garpu yang berada di atas piring yang dia bawa terjatuh ke lantai.
"A e a e.... Ehehehe.... Kagak mak, abang kan cuman becanda"
"Dasar lu ya.... Udah bau tanah masih aja mimpi mau nikah lagi" Bakas mak inah dengan nada penuh penekanan sembari meraih perut buncit mas agus untuk mencubitnya.
"Adah.... Aduh.... Aduh mak.... Jatoh entar ini.... Kagak jadi makan nih anak orang" Ujar mas agus sembari menghindari tangan mak inah.
"Tau ah...." Ujar mak inah dengan nada menyentak sembari berjalan cepat meninggalkan warung dan bang agus.
"Heleh.... Udah kayak ABG aja lu bang" Ejek ku kepada bang agus yang sedang berjalan ke arah meja kami.
"Hadeh.... Gara-gara elu nih dit" Ujar bang agus sembari meletakan dua piring nasi uduk yang ada di tangannya ke atas meja kami.
"Lah, kok jadi gua bang? Gua kan cuman nanya" Ujar ku sembari menahan tawa setelah melihat kejadian tadi.
"Ya elu kagak bilang dulu kalau ada si emak tadi, tau gitu kan gua bisa jawab dengan diplomatis"
"Ceileh, diplomatis.... Sok iye banget bahasa lu bang"
Bang agus kembali berjalan ke arah gerobak nasi uduknya, mengambil sepasang garpu dan sendok, lalu kembali berjalan ke arah meja kami untuk memberikan sesuatu yang tadi diambilnya kepada kami.
"Tapi jawaban lu tadi sesuai dengan kata hati lu kan bang?"
"Sssstttt...." Ujar bang agus sembari meletakan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Iya...." Ujar bang agus dengan suara yang agak sedikit berbisik.
Sontak saja kami langsung tertawa setelah mendengar jawaban bang agus.
"Ye.... Dasar lu bang, udah deh bang, mending lu bujukin dulu tuh bini lu"
"Yaelah.... Gampang kalau itu dit, entar malem aja"
"Buset.... Entar malem, emang mau ngapain bang?"
"Ye.... Soalnya cuman ular kobra peliharaan gua yang bisa bikin si mak berhenti ngambek"
Sontak kami kembali tertawa bersama setelah mendengar jawaban dari bang agus.
Sambil masih terus tertawa bang agus mulai berjalan untuk pergi dari hadapan kami.
"Mau kemana lu bang? Nyusul mak Inah?"
"Beli rokok"
Tanpa menanggapi jawaban mas agus aku kembali mengalihkan perhatian ku ke arah chacha yang masih tertawa kecil setelah kejadian tadi, sementara bang agus terus melanjutkan langkahnya meninggalkan warungnya.
"Emang gila tuh orang ca"
"Dih, emang dia doang kak? Semua cowok mah kayaknya sama aja, kakak juga iya paling" Jawab chacha sembari memasang wajah cemberutnya.
Sontak aku langsung menangkap keanehan dari jawaban yang terlontar dari mulut caca, entah kenapa otak ku berkata jawaban caca tadi ada hubungannya dengan masalah-masalah yang dia dapatkan di tempat kerjanya akhir-akhir ini.
Pikiran ku mulai melayang-layang untuk merangkai beberapa kejadian agar dapat menjadi justifikasi terhadap dugaan ku saat ini.
Dan....
"Ca.... Lu lagi ada masalah ya sama rayhan?"
"Sok tau banget sih" Jawab chacha datar.
"Terus, kenapa dia gak pernah jemput lu lagi? Dulu-dulu kan dia pasti anter jemput lu ke cafe"
Caca hanya sedikit memonyongkan bibirnya sembari mengangkat kedua alisnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP yang berada di tangannya.
"O o oke.... Mending kita makan dulu aja ca" Ujar ku sembari mematikan rokok yang ada di tangan ku setelah menyadari caca yang sepertinya tidak tertarik untuk bercerita lebih jauh tentang masalahnya.
Tanpa menjawab ajakan ku caca pun langsung mengambil sendok dan garpu yang terletak di atas makanan pesanannya.
***
Aku kembali menyalakan rokok ku setelah selesai menyantap sepiring nasi uduk yang berada di hadapan ku.
"Eh, kak, bagi rokoknya dong?"
"Dih.... Katanya tadi skip"
"Gak ada yang lain lagi soalnya"
"Nih...." Jawab ku sembari menyodorkan sekotak rokok yang terletak di atas meja ke arahnya.
Tanpa menunggu lama caca pun langsung mengambil sebatang rokok yang ada di dalamnya, lalu menyalakan rokok tersebut dengan korek yang dia ambil dari kantong kemejanya.
Saat pertama kali menghisap rokok yang ku berikan caca langsung memasang wajah kecut.
"Biasanya kakak sehari habis berapa batang"
"Biasanya sebungkus sih, bisa kurang, bisa juga lebih"
"Buset.... Gak sayang tuh kak ama paru-paru"
"Kalo gua mah sayangnya sama lu aja ca" Jawab ku dengan santai sembari menyunggingkan senyuman jahil ke arahnya.
"Dih.... Udah lah kak.... Basi tau" Balas caca sembari memasang wajah kesal.
Aku pun hanya bisa tertawa lepas setelah melihat reaksi caca.
Caca hanya menirukan tawa ku dengan nada mengolok-olok.
"Lucu banget kak!" Ujar caca dengan nada yang agak sedikit menyentak.
"Iya, kayak lu ca, lucu"
"Dih.... Makin-makin ya...." Sentak caca dengan wajah kesal bercampur malu.
Akupun hanya bisa tertawa kecil setelah melihat reaksi caca.
"Cih.... Kok bisa ya cewek kayak kak risa kemakan sama gombalan-gombalan receh begini.
"Ya bisa lah ca.... Kalo adit yang gombalin cewek mana aja bakal klepek-klepek" Jawab ku dengan bangganya.
"Sok cakep!" Sahut caca jutek sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Emang.... Cakepan gua kan daripada rayhan" Balas ku untuk memancing caca bercerita tentang masalahnya.
"Dih.... Gak usah bawa-bawa dia deh! Bikin males aja" Jawab caca sembari menyendarkan punggungnya di tembok dan mengerling kesal.
"Emang kenapa sih ca rayhan?" Ujar ku dengan nada lembut sembari mencondongkan badan ku ke arah chacha.
"Kepo banget sih kak dari tadi?!" Jawab caca sembari menghembuskan asap rokoknya dengan kasar.
"Ye.... Gua kan cuman nanya ca.... Lagian lu akhir-akhir ini jadi sering murung sama ngelamun gitu, gak kayak biasanya, mending lu cerita daripada dipendam sendiri begitu"
"Males ah.... Paling kakak cuman mau modus doang, kakak mau ngambil kesempatan di dalam kesempitan kan?!" Ujar caca sembari kembali menegakan tubuhnya.
"Lah, kok gitu?" Tanya ku dengan wajah heran setelah mendengar jawaban caca.
"Cowok kan emang gitu, giliran cewek lagi ada masalah langsung sok-sok an mau menjadi pendengar yang baik, sok-sok an ngasih solusi bijak, habis itu nanti pas udah tambah deket langsung deh ceweknya yang lama ditinggalin, sama tuh kayak si rayhan"
Nafasnya terdengar agak sedikit memburu saat melontarkan serangkaian kalimat tuduhan yang disirati dengan cerita tentang masalahnya saat ini.
Aku yang mulai menyadari itu pun hanya bisa terkekeh kecil.
"Yaelah ca ca.... Tadi sok-sok an gak mau cerita, eh.... Sekarang malah curcol"
"Emang kenapa?! Gak boleh?!"
"Ehehehe.... Boleh kok ca.... Boleh, siapa coba yang bilang gak boleh" Jawab ku yang masih saja terkekeh setelah melihat reaksi caca.
"Yaudah! Gak usah banyak komen!"
"Buset, galak banget sih ca"
"Emang kenapa?! Suka-suka gua dong?!" Sembari mengangkat tasnya yang seolah-olah akan dilemparkan ke arah ku.
"Eh.... Hehe.... Iya ca iya.... Ampun...."
"Makanya.... Bawel banget sih jadi cowok.... Udah diceritain juga" Ujar caca yang kembali bersandar di tembok warung sembari menghisap rokok yang ada di tangannya.
Bukannya merasa tidak enak, aku malah terkekeh-kekeh sendiri melihat caca meluapkan emosinya yang mungkin sudah ditahannya sejak lama.
"Gak usah ketawa!" Sentak caca yang menyadari bahwa aku masih menertawakannya.
Aku langsung menutup kedua mulut ku tanpa mengalihkan pandangan ku dari wajah chacha.
Sontak keadaan pun langsung menjadi hening, caca hanya memandang ke arah atas dengan tatapan kosong sembari sesekali menghisap rokok yang ada di tangannya.
"Sorry kak" Ujar caca memecah keheningan yang belum genap mencapai 1 menit sambil terus menatap ke arah atas.
"Iya ca.... Santai aja si.... Kayak sama siapa aja, lagian gak sekali dua kali lu marahin gua kayak gini"
"Dih.... Emang kakak siapa aku? Orang kita cuman ketemu seminggu sekali" Ujar caca yang kembali menatap ke arah ku dengan tatapan menggoda.
"Ya kan temen ca.... Gak usah ke PD-an deh lu.... Padahal kan gua cuman ngegombalin lu seminggu sekali, gimana kalau tiap hari coba?" Jawab ku dengan wajah sok cool.
Caca pun kembali tertawa setelah melihat gaya tengil ku.
"Dasar...."
Aku hanya menanggapi caca dengan sebuah kekehan kecil. Setelah itu pun kami mulai kembali asyik dengan HP dan rokok masing-masing.
Ting....
Saat aku sedang asyik berselancar di sosial media berlambang kamera berwarna-warni, terlihat sebuah notifikasi chat masuk yang berasal dari risa.
"Yang, udah di kos belum? Aku mau kesana"
Aku pun mulai mengetikan sebuah pesan untuk menjawab pertanyaan risa.
"Bentar lagi, masih makan ini, kalo mau kesana langsung masuk aja yang, gak aku kunci kok"
Ting....
"Kebiasaan"
"Hehehehe"
Setelah membalas pesan dari risa aku pun mulai men-scroll HP ku untuk nelihat pesan-pesan seblumnya. Semuanya terasa baik-baik saja sampai aku kembali melihat nama Pak Rizky MTC tepat di bawah nama risa.
"Ca, balik yuk...." Ujar ku dengan nada terburu-buru.
Caca pun langsung melempar tatapan aneh ke arah ku.
"Kenapa kak? Kok tiba-tiba panik gitu?"
Aku hanya fokus memasukan beberapa barang ku yang ada di atas meja tanpa menghiraukan caca yang kebingungan.
"Dicariin kak risa ya? Hayo...." Tanya caca dengan senyum menggoda.
"Aduh.... Nih si bang agus beli rokok apa umroh si.... Lama bener" Dumel ku tanpa menjawab pertanyaan caca.
Karena khawatir akan bang agus yang tidak kunjung datang, aku pun berjalan keluar sembari memperhatikan keadaan sekitar untuk mencari keberadaannya.
Perasaan ku mulai agak sedikit lega setelah mata ku menangkap sosok bang agus yang lagi bermain catur di warung yang terletak tidak jauh dari warung nasi uduknya.
"Woy bang.... Bayar bang...."
Sontak saja bang agus langsung menoleh ke arah ku. Untungnya bang agus tidak keberatan menghentikan permainan caturnya untuk menghampiri ku.
"Buset dit.... Kenapa sih lu? Panik banget kayak orang dikejar-kejar setan" Ujar bang agus sesampainya dia di hadapan ku.
"Nih bang"
Tanpa basa-basi aku langsung menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada bang agus.
Sesaat setelah itu aku langsung menoleh ke belakang untuk memanggil caca.
"Heh...."
Aku berhasil dibuat terkesiap oleh caca yang ternyata sudah berada tepat di belakang ku.
"Dih.... Kenapa sih kak? Kok tiba-tiba jadi aneh gitu? "
"Ayo ca" Ajak ku kepada caca, lagi-lagi tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Sementara itu bang agus sedang sibuk membongkar-bongkar kotak uangnya.
"Dit, kagak ada duit kecil apa, gak ada...."
"Kaga ada bang, udah, ambil aja kembaliannya" Potong ku sembari berjalan ke arah motor ku.
"Alhamdulillah.... Semoga tambah banyak duit lu dit" Ujar bang agus sembari memasang gestur berdoa dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Amin...." Ujar ku sembari menancapkan kunci motor ku ke tempaynya, lalu menekan tombol starter.
"Bukan cuman duitnya dah, moga-moga cewek lu juga makin banyak, 3 perawan 1 janda" Lanjut mas agus.
"Amin.... Ya Rabbal Alamin...." Sahut ku sembari menunggu chacha yang mulai naik ke atas boncengan ku.
"Balik dulu bang" Ujar ku sembari menarik gas tanpa menghiraukan bang agus yang tertawa-tawa sendiri setelah mendengar sahutan ku atas doa-doanya.
Sambil menyusuri jalanan senja kota cikarang aku mulai menjelaskan alasan ku yang saat ini sedang terburu-buru kepada caca.
"Ca, kita beli makan dulu ya, males keluar lagi gua kalau udah nyampe kos" Ujar ku sesaat setelah membelokan sepeda motor ku ke arah warung nasi uduk bang agus yang terletak tidak jauh dari kos ku dan caca.
Caca langsung turun dari boncengan ku, seolah-olah memberi isyarat kalau dia menyetujui ajakan ku.
Setelah mencabut kunci motor ku, aku pun langsung turun dan berjalan mendahului chacha ke arah bang agus yang sedang asyik dengan HPnya.
"Pake apa ca?" Tanya ku sembari menoleh ke arah caca yang sedang berdiri di belakang ku.
"Samaain aja deh kak"
"Bungkus aja ya?"
"Bebas kak"
"Bang...." Panggil ku kepada bang agus yang sampai saat ini belum menyadari kedatangan kami, mungkin karrna kedua telinganya yang sedang tersumpal headset.
"WOI BANG...."
"HEITS...." Sontak bang agus pun terkejut setelah aku memanggilnya dengan suara yang agak sedikit keras.
"Buset dah.... Gua kirain siapa dit dit.... Manggil orang tua yang baek-baek dikit napa"
"Ye.... Gua kan mau beli bang, elu nya malah asyik nonton bokep"
"Heh.... Ngasal aja lu kalo ngomong" Ujar bang agus sembari meletakan HPnya dan bersiap-siap untuk berdiri
Aku hanya menanggapi bang agus dengan sebuah kekehan kecil.
"Yah dit, kertas nya lagi abis nih, makan sini aja ya" Ujar bang agus sesaat setelah dia berdiri di depan gerobak nasi uduknya
"Yeeee.... Kok bisa abis sih, niat jualan gak sih lu bang? Yaudah cha, cari tempat lain aja yuk" Ujar ku sembari memasang gestur akan meninggalkan warung tersebut.
"Yaelah dit.... Gitu banget sih lu ama gua" Melas bang agus dengan wajah lesu.
"Ehehehe.... Canda bang, yaudah, 2 pake telur dadar ya" Ujar ku sembari berjalan ke arah salah satu meja yang ada di sana.
"Nah...."
Sontak saja wajah bang agus kembali terlihat sumeringah dan langsung bergegas untuk menyiapkan pesanan kami, begitu juga dengan chacha.
"Minum apaan lu dit?" Ujar mak inah yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang berada di ujung warung ini sesaat setelah aku dan chacha duduk.
"Es teh tawar aja mak"
"Kalo enengnya mau minum apa?" Lanjut mak inah.
"Es teh manis aja bu"
Sembari mengangguk kecil dengan wajah datar, mak inah langsung berlalu dari hadapan kami.
Setelah mak inah berlalu keadaan kembali hening, sekarang caca malah asyik sendiri dengan HPnya tanpa menghiraukan keberadaan ku.
Sementara itu aku langsung merogoh sling bag ku untuk mengambil sekotak rokok sekaligus dengan koreknya.
"Rokok gak ca?" Tawar ku sembari meletakan sekotak rokok dan korek di atas meja.
Sontak chacha langsung melirik kotak rokok yang aku letakan di atas meja.
"Skip dulu deh kak kalau yang ini" Ujar chacha sembari kembali mengalihkan pandangannya ke arah
Aku pun hanya mengangguk kecil sembari mengambil sebatang rokok dari kotaknya, lalu membakarnya.
"Besok kuliah ca?" Ujar ku yang mencoba kembali menarik perhatian chacha.
Caca hanya menaikan kedua alisnya tanpa membalas tatapan ku.
"Dih.... Jutek banget sih" Protes ku kesal.
Sontak caca langsung menarik nafas panjang sembari melempar tatapannya ke arah ku.
"Kenapa sih kak adit sayang?" Tanya caca dengan nada penuh penekanan.
"Loh loh loh.... Udah sayang-sayangan aja, pacaran lu bedua? Heh dit.... Si Risa lu kemanain? " Ujar mak inah sembari menaruh dua gelas berisi teh es di atas meja kami.
"Ye.... Sewot aja lu mak, emang kalo 2 kagak boleh? Iya gak bang?"
"Boleh dong...." Jawab bang agus yang masih fokus memindahkan lauk demi lauk ke atas piring kami.
"Tuh mak, bang agus aja bilang boleh, lu juga mau nambah 1 lagi kan bang?"
"Ya kalau ada yang mau ama gua mah ayo aja dit" Jawab bang agus sembari mengangkat dua buah piring, lalu membalikan badannya.
"Ngomong apa tadi? Ulangin lagi dong bang?" Ujar mak inah yang sudah berkacak pinggang dengan wajah murkanya.
"Astagfirullah...." Bang agus yang baru saja menyadari keberadaan mak inah pun langsung terkesiap, sehingga sendok dan garpu yang berada di atas piring yang dia bawa terjatuh ke lantai.
"A e a e.... Ehehehe.... Kagak mak, abang kan cuman becanda"
"Dasar lu ya.... Udah bau tanah masih aja mimpi mau nikah lagi" Bakas mak inah dengan nada penuh penekanan sembari meraih perut buncit mas agus untuk mencubitnya.
"Adah.... Aduh.... Aduh mak.... Jatoh entar ini.... Kagak jadi makan nih anak orang" Ujar mas agus sembari menghindari tangan mak inah.
"Tau ah...." Ujar mak inah dengan nada menyentak sembari berjalan cepat meninggalkan warung dan bang agus.
"Heleh.... Udah kayak ABG aja lu bang" Ejek ku kepada bang agus yang sedang berjalan ke arah meja kami.
"Hadeh.... Gara-gara elu nih dit" Ujar bang agus sembari meletakan dua piring nasi uduk yang ada di tangannya ke atas meja kami.
"Lah, kok jadi gua bang? Gua kan cuman nanya" Ujar ku sembari menahan tawa setelah melihat kejadian tadi.
"Ya elu kagak bilang dulu kalau ada si emak tadi, tau gitu kan gua bisa jawab dengan diplomatis"
"Ceileh, diplomatis.... Sok iye banget bahasa lu bang"
Bang agus kembali berjalan ke arah gerobak nasi uduknya, mengambil sepasang garpu dan sendok, lalu kembali berjalan ke arah meja kami untuk memberikan sesuatu yang tadi diambilnya kepada kami.
"Tapi jawaban lu tadi sesuai dengan kata hati lu kan bang?"
"Sssstttt...." Ujar bang agus sembari meletakan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Iya...." Ujar bang agus dengan suara yang agak sedikit berbisik.
Sontak saja kami langsung tertawa setelah mendengar jawaban bang agus.
"Ye.... Dasar lu bang, udah deh bang, mending lu bujukin dulu tuh bini lu"
"Yaelah.... Gampang kalau itu dit, entar malem aja"
"Buset.... Entar malem, emang mau ngapain bang?"
"Ye.... Soalnya cuman ular kobra peliharaan gua yang bisa bikin si mak berhenti ngambek"
Sontak kami kembali tertawa bersama setelah mendengar jawaban dari bang agus.
Sambil masih terus tertawa bang agus mulai berjalan untuk pergi dari hadapan kami.
"Mau kemana lu bang? Nyusul mak Inah?"
"Beli rokok"
Tanpa menanggapi jawaban mas agus aku kembali mengalihkan perhatian ku ke arah chacha yang masih tertawa kecil setelah kejadian tadi, sementara bang agus terus melanjutkan langkahnya meninggalkan warungnya.
"Emang gila tuh orang ca"
"Dih, emang dia doang kak? Semua cowok mah kayaknya sama aja, kakak juga iya paling" Jawab chacha sembari memasang wajah cemberutnya.
Sontak aku langsung menangkap keanehan dari jawaban yang terlontar dari mulut caca, entah kenapa otak ku berkata jawaban caca tadi ada hubungannya dengan masalah-masalah yang dia dapatkan di tempat kerjanya akhir-akhir ini.
Pikiran ku mulai melayang-layang untuk merangkai beberapa kejadian agar dapat menjadi justifikasi terhadap dugaan ku saat ini.
Dan....
"Ca.... Lu lagi ada masalah ya sama rayhan?"
"Sok tau banget sih" Jawab chacha datar.
"Terus, kenapa dia gak pernah jemput lu lagi? Dulu-dulu kan dia pasti anter jemput lu ke cafe"
Caca hanya sedikit memonyongkan bibirnya sembari mengangkat kedua alisnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP yang berada di tangannya.
"O o oke.... Mending kita makan dulu aja ca" Ujar ku sembari mematikan rokok yang ada di tangan ku setelah menyadari caca yang sepertinya tidak tertarik untuk bercerita lebih jauh tentang masalahnya.
Tanpa menjawab ajakan ku caca pun langsung mengambil sendok dan garpu yang terletak di atas makanan pesanannya.
***
Aku kembali menyalakan rokok ku setelah selesai menyantap sepiring nasi uduk yang berada di hadapan ku.
"Eh, kak, bagi rokoknya dong?"
"Dih.... Katanya tadi skip"
"Gak ada yang lain lagi soalnya"
"Nih...." Jawab ku sembari menyodorkan sekotak rokok yang terletak di atas meja ke arahnya.
Tanpa menunggu lama caca pun langsung mengambil sebatang rokok yang ada di dalamnya, lalu menyalakan rokok tersebut dengan korek yang dia ambil dari kantong kemejanya.
Saat pertama kali menghisap rokok yang ku berikan caca langsung memasang wajah kecut.
"Biasanya kakak sehari habis berapa batang"
"Biasanya sebungkus sih, bisa kurang, bisa juga lebih"
"Buset.... Gak sayang tuh kak ama paru-paru"
"Kalo gua mah sayangnya sama lu aja ca" Jawab ku dengan santai sembari menyunggingkan senyuman jahil ke arahnya.
"Dih.... Udah lah kak.... Basi tau" Balas caca sembari memasang wajah kesal.
Aku pun hanya bisa tertawa lepas setelah melihat reaksi caca.
Caca hanya menirukan tawa ku dengan nada mengolok-olok.
"Lucu banget kak!" Ujar caca dengan nada yang agak sedikit menyentak.
"Iya, kayak lu ca, lucu"
"Dih.... Makin-makin ya...." Sentak caca dengan wajah kesal bercampur malu.
Akupun hanya bisa tertawa kecil setelah melihat reaksi caca.
"Cih.... Kok bisa ya cewek kayak kak risa kemakan sama gombalan-gombalan receh begini.
"Ya bisa lah ca.... Kalo adit yang gombalin cewek mana aja bakal klepek-klepek" Jawab ku dengan bangganya.
"Sok cakep!" Sahut caca jutek sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Emang.... Cakepan gua kan daripada rayhan" Balas ku untuk memancing caca bercerita tentang masalahnya.
"Dih.... Gak usah bawa-bawa dia deh! Bikin males aja" Jawab caca sembari menyendarkan punggungnya di tembok dan mengerling kesal.
"Emang kenapa sih ca rayhan?" Ujar ku dengan nada lembut sembari mencondongkan badan ku ke arah chacha.
"Kepo banget sih kak dari tadi?!" Jawab caca sembari menghembuskan asap rokoknya dengan kasar.
"Ye.... Gua kan cuman nanya ca.... Lagian lu akhir-akhir ini jadi sering murung sama ngelamun gitu, gak kayak biasanya, mending lu cerita daripada dipendam sendiri begitu"
"Males ah.... Paling kakak cuman mau modus doang, kakak mau ngambil kesempatan di dalam kesempitan kan?!" Ujar caca sembari kembali menegakan tubuhnya.
"Lah, kok gitu?" Tanya ku dengan wajah heran setelah mendengar jawaban caca.
"Cowok kan emang gitu, giliran cewek lagi ada masalah langsung sok-sok an mau menjadi pendengar yang baik, sok-sok an ngasih solusi bijak, habis itu nanti pas udah tambah deket langsung deh ceweknya yang lama ditinggalin, sama tuh kayak si rayhan"
Nafasnya terdengar agak sedikit memburu saat melontarkan serangkaian kalimat tuduhan yang disirati dengan cerita tentang masalahnya saat ini.
Aku yang mulai menyadari itu pun hanya bisa terkekeh kecil.
"Yaelah ca ca.... Tadi sok-sok an gak mau cerita, eh.... Sekarang malah curcol"
"Emang kenapa?! Gak boleh?!"
"Ehehehe.... Boleh kok ca.... Boleh, siapa coba yang bilang gak boleh" Jawab ku yang masih saja terkekeh setelah melihat reaksi caca.
"Yaudah! Gak usah banyak komen!"
"Buset, galak banget sih ca"
"Emang kenapa?! Suka-suka gua dong?!" Sembari mengangkat tasnya yang seolah-olah akan dilemparkan ke arah ku.
"Eh.... Hehe.... Iya ca iya.... Ampun...."
"Makanya.... Bawel banget sih jadi cowok.... Udah diceritain juga" Ujar caca yang kembali bersandar di tembok warung sembari menghisap rokok yang ada di tangannya.
Bukannya merasa tidak enak, aku malah terkekeh-kekeh sendiri melihat caca meluapkan emosinya yang mungkin sudah ditahannya sejak lama.
"Gak usah ketawa!" Sentak caca yang menyadari bahwa aku masih menertawakannya.
Aku langsung menutup kedua mulut ku tanpa mengalihkan pandangan ku dari wajah chacha.
Sontak keadaan pun langsung menjadi hening, caca hanya memandang ke arah atas dengan tatapan kosong sembari sesekali menghisap rokok yang ada di tangannya.
"Sorry kak" Ujar caca memecah keheningan yang belum genap mencapai 1 menit sambil terus menatap ke arah atas.
"Iya ca.... Santai aja si.... Kayak sama siapa aja, lagian gak sekali dua kali lu marahin gua kayak gini"
"Dih.... Emang kakak siapa aku? Orang kita cuman ketemu seminggu sekali" Ujar caca yang kembali menatap ke arah ku dengan tatapan menggoda.
"Ya kan temen ca.... Gak usah ke PD-an deh lu.... Padahal kan gua cuman ngegombalin lu seminggu sekali, gimana kalau tiap hari coba?" Jawab ku dengan wajah sok cool.
Caca pun kembali tertawa setelah melihat gaya tengil ku.
"Dasar...."
Aku hanya menanggapi caca dengan sebuah kekehan kecil. Setelah itu pun kami mulai kembali asyik dengan HP dan rokok masing-masing.
Ting....
Saat aku sedang asyik berselancar di sosial media berlambang kamera berwarna-warni, terlihat sebuah notifikasi chat masuk yang berasal dari risa.
"Yang, udah di kos belum? Aku mau kesana"
Aku pun mulai mengetikan sebuah pesan untuk menjawab pertanyaan risa.
"Bentar lagi, masih makan ini, kalo mau kesana langsung masuk aja yang, gak aku kunci kok"
Ting....
"Kebiasaan"
"Hehehehe"
Setelah membalas pesan dari risa aku pun mulai men-scroll HP ku untuk nelihat pesan-pesan seblumnya. Semuanya terasa baik-baik saja sampai aku kembali melihat nama Pak Rizky MTC tepat di bawah nama risa.
"Ca, balik yuk...." Ujar ku dengan nada terburu-buru.
Caca pun langsung melempar tatapan aneh ke arah ku.
"Kenapa kak? Kok tiba-tiba panik gitu?"
Aku hanya fokus memasukan beberapa barang ku yang ada di atas meja tanpa menghiraukan caca yang kebingungan.
"Dicariin kak risa ya? Hayo...." Tanya caca dengan senyum menggoda.
"Aduh.... Nih si bang agus beli rokok apa umroh si.... Lama bener" Dumel ku tanpa menjawab pertanyaan caca.
Karena khawatir akan bang agus yang tidak kunjung datang, aku pun berjalan keluar sembari memperhatikan keadaan sekitar untuk mencari keberadaannya.
Perasaan ku mulai agak sedikit lega setelah mata ku menangkap sosok bang agus yang lagi bermain catur di warung yang terletak tidak jauh dari warung nasi uduknya.
"Woy bang.... Bayar bang...."
Sontak saja bang agus langsung menoleh ke arah ku. Untungnya bang agus tidak keberatan menghentikan permainan caturnya untuk menghampiri ku.
"Buset dit.... Kenapa sih lu? Panik banget kayak orang dikejar-kejar setan" Ujar bang agus sesampainya dia di hadapan ku.
"Nih bang"
Tanpa basa-basi aku langsung menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada bang agus.
Sesaat setelah itu aku langsung menoleh ke belakang untuk memanggil caca.
"Heh...."
Aku berhasil dibuat terkesiap oleh caca yang ternyata sudah berada tepat di belakang ku.
"Dih.... Kenapa sih kak? Kok tiba-tiba jadi aneh gitu? "
"Ayo ca" Ajak ku kepada caca, lagi-lagi tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Sementara itu bang agus sedang sibuk membongkar-bongkar kotak uangnya.
"Dit, kagak ada duit kecil apa, gak ada...."
"Kaga ada bang, udah, ambil aja kembaliannya" Potong ku sembari berjalan ke arah motor ku.
"Alhamdulillah.... Semoga tambah banyak duit lu dit" Ujar bang agus sembari memasang gestur berdoa dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Amin...." Ujar ku sembari menancapkan kunci motor ku ke tempaynya, lalu menekan tombol starter.
"Bukan cuman duitnya dah, moga-moga cewek lu juga makin banyak, 3 perawan 1 janda" Lanjut mas agus.
"Amin.... Ya Rabbal Alamin...." Sahut ku sembari menunggu chacha yang mulai naik ke atas boncengan ku.
"Balik dulu bang" Ujar ku sembari menarik gas tanpa menghiraukan bang agus yang tertawa-tawa sendiri setelah mendengar sahutan ku atas doa-doanya.
Sambil menyusuri jalanan senja kota cikarang aku mulai menjelaskan alasan ku yang saat ini sedang terburu-buru kepada caca.
Diubah oleh akmal162 12-05-2021 03:34
phiedut dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas